medischfun

my footprints in this unexpectable-gorgeous-life

Watching Balinese Dance at Ubud : Baris Tunggal Dance

Berkunjung ke Ubud, tentunya wajib dong melihat pertunjukan tari Bali. Di seluruh Bali setiap harinya pasti ada pertunjukan tari, tinggal pilih, ada Tari Kecak, Barong, Legong, Calonarang, dll. Termasuk juga di Ubud, the truly Bali.

Bosan dengan hingar bingar Kuta yang sudah ter-westernized, bosan dengan “gangguan” tawaran tur ini itu yang tak habis-habisnya di sepanjang jalan Legian, bosan dengan panasnya udara tepi pantai atau kemacetan Denpasar, maka cobalah melipir ke Ubud. Ubud, sebuah kota kecil di tengah-tengah Bali, yang terdiri dari 14 desa atau banjar. Ubud, the cultural center of Bali. Where you can find hundreds of art shop, beautiful Balinese painting, craft : wooden craft, stone craft, leaves craft, glass craft, just name it, they have it all. And yes, Ubud, which is suddenly becomes a highlight since Julia Robert came for the movie Eat Pray Love. Yes, Ubud, where you can explore and biking in the middle of beautiful rice fields

Well, tapi sekarang gw nggak akan panjang lebar cerita tentang Ubud, maybe in the next posts, supaya kalian penasaran, hihihi… #sweetdevilsmile. Kali ini gw mau cerita tentang tarian. Yak, sejak memutuskan mau ke Ubud, gw sudah memasukkan “NONTON PERTUNJUKAN TARI BALI” ke dalem itinerary. Gw nggak mau nonton Tari Kecak lagi, karena gw udah pernah nonton di Uluwatu (bisa baca di postingan ini), kali ini gw memutuskan nonton Tari Barong. Yak, Tari Barong. Barong berasal dari kata bahruang, yang berarti binatang beruang, merupakan binatang mitologi Bali yang dianggap memiliki kekuatan gaib, dianggap sebagai makhluk pelindung. Ada banyak jenis tari Barong, salah satunya yang saya lihat saat itu, yaitu Tari Barong Macan. Tari Barong sendiri menggambarkan kebaikan melawan kejahatan. Diperankan oleh 2 orang penari di dalam kostum, mirip seperti Barongsay di kebudayaan Chinese. Barongnya sendiri muncul di akhir pertunjukan. Sementara sebelum Barong muncul, didahului beberapa pertunjukan, yaitu Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Baris Tunggal, Tari Nelayan, Orkestra Gamelan, dan Tari Nyamar.

Khusus postingan kali ini gw mau membahas tentang Tari Baris Tunggal. Menurut gw, dari seluruh pertunjukan, selain Sang Barong tentunya, Tari Baris Tunggal inilah yang paling menarik, karena gerakannya yang lugas, lincah, dan sulit diduga. Ritmenya sangat dinamis, tidak membosankan, membuat mata ini terpaku tak mau berkedip, karena berkedip sedikit saja sudah bisa kehilangan momen menarik yang disajikan oleh si penari. Berkedip sebentar, dia sudah bergerak meloncat, atau sudah berubah ekspresi dari tersenyum tiba-tiba menjadi ekspresi garang, atau jari-jemarinya sudah tiba-tiba menjadi gerakan patah-patah yang sulit diikuti saking cepatnya. Yap! Fast and dynamic.

Tari Baris, the dynamic and fast moving Balinese war dance

Tari Baris, the dynamic and fast moving Balinese war dance (ditampilkan juga di Turnamen Perjalanan)

Tari Baris merupakan jenis tarian perang tradisional, yang biasanya dibawakan oleh beberapa penari laki-laki, bisa belasan sampai puluhan penari, umumnya dengan membawa senjata. Tari Baris sebenarnya berfungsi sebagai tari ritual agama Hindhu, namun menariknya, untuk menjaga keaslian dari Tari Baris yang sakral ini, diciptakanlah Tari Baris Tunggal, yang fungsinya sebagai hiburan. Tari Baris Tunggal baru diciptakan oleh masyarakat Bali sekitar tahun 1932-an, sesuai namanya, hanya ditarikan oleh seorang penari laki-laki saja. Menarik yah bagaimana masyarakat Bali sadar betul bagaimana melindungi keaslian budaya sambil juga memikirkan bagaimana caranya untuk dapat membaginya dengan turis-turis yang sudah mulai berdatangan ke Bali saat itu. Jadi Tari Baris yang asli, hanya dibawakan pada ritual sakral saja, misalnya saat upacara di pura atau prosesi pengantaran jenasah.

Berbagai emosi disampaikan dalam tarian ini : courage, fear, excitement, doubt, pride, humility. Kesemuanya menggambarkan perasaan seorang pria yang akan maju ke medan perang. Nggak heran, gerakannya begitu dinamis, menghentak-hentak, gerakan jari-jemari yang begitu  lincah, lirikan mata ke kanan dan ke kiri, terkadang mengedip, terkadang membelalak. Membawa emosi menjadi tercampur aduk, meskipun tanpa dialog. Dan jangan lupa, kemegahan kostum yang digunakan. DEMI TU-HAAANNN…indahnya!! *sambil nggebrak meja ala Arya Wiguna* ;p Dimulai dari kepala, mahkota besar berwarna emas yang dihiasi ornamen seperti daun-daunan berwarna emas, bergoyang-goyang tak henti mengikuti gerakan lincah sang penari. Kostum tari dengan dominasi warna kuning emas, merah dan hitam membungkus dengan apik, pula bergerak ke sana ke mari dengan leluasa, semacam jubah saja. Gw selalu suka dengan warna-warni Bali, Hindhu, atau Buddha, yang didominasi warna-warna cerah dan bold, memberi kesan megah and beautiful.

Sebagai orang Indonesia, lagi-lagi terbangga-bangga dengan budaya Indonesia. Lucunya, di pertunjukan tari ini, yang berlokasi di Pura Saraswati, seluruh penontonnya saat itu kok ya orang asing semua. Bule dari USA, Perancis, Jerman, dst. Orang Asia hanya gw seorang diri dan beberapa Chinese people. Bule di sebelah gw dari USA bahkan udah tinggal di Ubud selama 40 tahun dan masih nggak bosen nonton tari Bali. Man…sedih yak. Emang bukan lagi musim libur sih. Weekday pula. Tapi masa ya sampe segitunya…only me gitu penonton domestiknya. Makin gw liat pertunjukan tari tradisional Indonesia, makin ketagihan dan makin suka. Tari tradisional itu indah dan tampaknya sangat sulit pemirsah! Gw nggak habis pikir kok bisa yah mereka menarikan gerakan-gerakan sesulit itu, beuh…love it pokoknyah! Proud to be Indonesian!  

PS : lebih jelas tentang Tari Barong di sini, dan Tari Baris Tunggal di sini, sini, dan sini. Hehe. Happy reading and happy travelling~

1 Comment »

Tari Kecak dan Sunset Uluwatu : Ketika Jiwa dan Kelima Panca Indera Terpuaskan.

Tari Kecak. Ya, siapa yang tidak mengenal tari tersohor asal Bali ini? Malunya saya, sebagai orang Indonesia, baru kali ini saya melihat langsung Tari Kecak, padahal Jawa-Bali begitu dekat. Salah satu lokasi favorit untuk melihat Tari Kecak di Bali adalah di Pura Uluwatu. Pertunjukan dimulai sore hari sekitar pukul 17.00. Saat itu tempat duduk yang berbentuk melingkar sudah dipenuhi oleh penonton, yang mayoritas bule. Saya pun berusaha nyempil-nyempil mencari tempat, untung masih ada tempat kosong, meskipun tidak menghadap ke arah sunset.

Pertunjukan dimulai. Suasana menjadi agak mistis dengan dinyalakannya api dan doa-doa dibacakan. Puluhan laki-laki, tua, muda, memulai “musik” yang menjadi ke-khas-an Tari Kecak, yaitu suara “cak cak cak” berulang-ulang dengan irama dan tempo yang bervariasi. Saya hanya bisa terpana. Meskipun tanpa musik, suara mereka mampu membius dan mengiringi tarian yang  berkisah tentang Rama dan Shinta itu. Mirip seperti “chanting”, yang berasal dari ritual Bali kuno, sanghyang, yaitu salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan leluhur atau para dewa. Tak heran, meskipun tujuannya untuk hiburan, masih ada aura magis yang terasa, hanya dengan mendengarkan “musik”nya saja.

Tarian Rama dan Shinta dibawakan dengan apik, meskipun tanpa dialog, tapi dapat dengan mudah mengerti kisah ceritanya dengan mengamati gerakan tarian dan ekspresi penarinya. Kisah Rama dan Shinta merupakan kisah yang sudah tak asing lagi buat saya, dari jaman saya SD saya sudah hafal betul berbagai kisah Ramayana dan Mahabharata, kisah Pandawa dan Kurawa, kisah Hanoman dan Rahwana. Untunglah ada pelajaran Muatan Lokal (Mulok) di sekolah saya, hehe… Kisah Ramayana dalam tari Kecak dapat dibaca di sini.

Yang menjadi spotlight dalam pertunjukan ini adalah Hanoman, si monyet putih baik hati tapi “nakal”. Dengan kelincahannya bergerak meloncat kesana kemari, si Hanoman ini sulit sekali diambil gambarnya. Sulit pula diprediksi gerak-geriknya. Detik ini dia meloncat dari balik tembok, detik berikutnya dia sudah sedang “mencopet” topi salah satu pengunjung. Sebentar di tengah arena tari, sebentar lagi sudah ada di tempat duduk teratas, menjaili penonton. Kalau dalam bahasa Jawa,  Hanoman ini cukat trengginas, alias gesit. Wajahnya yang garang tidak membuatnya menjadi seram, karena tingkah lakunya yang malah terus mengundang gelak tawa.

Image

Sulitnya mengabadikan Hanoman yang cukat trengginas (ditampilkan juga di Turnamen Perjalanan)

Saat-saat paling mendebarkan dari tarian ini yaitu saat Hanoman tertangkap oleh Rahwana dan hendak dibakar oleh api. Wooossshhhh!! Tiba-tiba api yang besar dan panas memancar di tengah arena tari. Dengan si Hanoman berada di tengah-tengahnya. Dikisahkan, dengan kekuatan magisnya, Hanoman berhasil lolos dari kematian. Memang begitulah adanya. Si Hanoman ini melompat-lompat, menginjak, dan menghindar dari api yang menghadangnya. Epiknya lagi, adegan fire dance ini hampir bersamaan dengan turunnya sunset di Uluwatu.  Warna keemasan pelan-pelan menghiasi langit, menemani detik-detik saat Sang Surya kembali ke ufuk barat. Salah satu detik-detik terindah dalam hidup saya. Sepotong sunset di Uluwatu, langit yang berwarna jingga kemerahan, suara dendang chanting penari Kecak, sekelebat hawa hangat dari api yang menampar wajah, ditambah semilir hembusan angin yang diiringi aroma bunga sesajen…tanpa sadar saya menitikkan air mata.

Sungguh saya sangat bangga menjadi orang Indonesia, dengan alam dan kebudayaannya yang indah.

3 Comments »

Singaporean Food (at Singaporean foodcourt, actually) : my short yet unsatisfying experiences

 

Di luar dugaan, pengalaman kuliner saya di Singapura ternyata mengecewakan. Entah lidah saya yang tidak cocok, atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi, atau mungkin saya belum menemukan tempat makan yang klop. Well, it turns out that Singaporean food is overrated, at least for me

Well, let’s check out my Singapore food experience!

First day, gw menyusuri daerah Arab Street dan Little India, sambil nyasar-nyasar dan bingung mau makan di mana karena budget terbatas, sehingga satu-satunya pilihan hanya foodcourt. Fortunately, there’s a lot of foodcourt in this area, eh tapi malah bikin makin bingung saking banyaknya. Akhirnya gw memutuskan mampir ke Berseh Foodmarket, lokasinya di Jalan Berseh, sekitaran Little India – Arab Street gitu deh, deket sama hostel gw juga. Berseh Foodmarket ini bentuknya sama seperti foodcourt di mall pada umumnya, cuma lebih padat dan agak kumuh. Menu pertama yang terbaca oleh saya adalah : Pig’s Visceral Soup. What! Err…okay I think that’s a bit creepy. And the next menu I read is : Crocodile Soup, Turtle Soup, and Pig’s Intestinal Soup… Argh! Kenapa menunya horror-horror gini seh? Padahal kalau di Indo biasa aja sih makan daging babi, mau itu CharSiu, SamChan, lidah, kuping, well, I don’t mind. Tapi kenapa kata-kata “pig’s visceral soup dan intestinal soup” itu bikin gw merinding yah. And crocodile soupugh a big no no I think. :/

Well, akhirnya gw memilih makan Nasi Babi Campur biasa (Charsiu Rice), yang penampakannya seperti ini :

Charsiu Rice, 3 SGD.

Charsiu Rice, 3 SGD.

Rasanya…well, harus gw akui daging babinya lebih tasty dan berasa dibanding rata-rata nasi campur babi di Bandung. Porsinya pun cukup banyak. Cumaaaaa…sambelnya sedikit dan nggak pedas. Huhu…

Gw nyicip Fish Meatball Noodle yang dipesan adik gw, hmm…baksonya dong, bakso ikan, uenak betul! Asli, enak banget bakso ikannya, ngga amis, tasty, yummy. Sayang cuma tiga biji. Mau ngabisin nggak tega sama adek sendiri hihi. Mie nya sih so-so ya…nothing special. And…nggak ada rasa pedes juga sih, emang suka ngelunjak nih lidah. Maunya yang pedes-pedes aja.

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Segitu aja? Belum dong, masih ada nih dessert nya, Almond Pudding. Rasanya lumayan, nggak terlalu manis tapi menyegarkan, cocok dimakan di tengah panasnya Singapura, apalagi setelah berjalan jauh. Sayang, agak overprice sih menurut gw.

Almond Pudding, 2 SGD

Almond Pudding, 2 SGD

Malamnya, gw makan di Maxwell Food Center, Chinatown, yang konon sangat sohor. Di berbagai blog backpacker pun tempat ini selalu direkomendasikan. Memang, foodcourt ini sangat amat luas, sampe capek gw berjalan dari ujung ke ujungnya saja, dan makin bingung milih makanannya. Akhirnya gw memutuskan mencoba TianTian Hainamese Chicken Rice yang terkenal itu. Katanya sih direkomendasiin sama the famous Anthony Bourdain himself.

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Well, menurut gw sih…biasa aja. Malah cenderung hambar ya. Entahlah, mungkin lidah Indonesia gw sudah terbiasa sama berbagai rasa rempah-rempah dan udah addict sama yang namanya rasa spicy, so ngerasain yang mungkin originalnya begini, lidah gw semacam diPHP-in. :P

Selain itu, gw sempet “jajan” Fish Cake yang ternyata adalah bakwan udang sodara-sodara! Kenapa “jajan”? Karena harganya 2 SGD. Argh, bakwan udang termahal yang pernah gw makan dan penampakannya pun rada ajaib gini :

Fish Cake, 2 SGD

Fish Cake, 2 SGD

Kalo bakwan udangnya aja 2 SGD, uang jajan anak-anak sekolah di sana berapa yah? #random #kepo. Rasanya kaya bakwan. Pake udang. Okay nggak menolong ya keterangannya. Hahaha. Yah gitu deh, nothing special sih. Cuma ukurannya emang agak gede dan isiannya banyak jadi cukup ngenyangin.

Pengalaman tak terlupakan adalah saat makan di Market Foodcourt. Lokasinya di Market Street. Lokasinya memang di daerah perkantoran, di jam makan siang, karyawan-karyawan memenuhi foodcourt ini. Literally, memenuhi. Itu foodcourt udah kaya pasar saking penuhnya. Jalan pun susah. Meskipun gitu, saat memesan mereka semua antri berbaris dengan tertib loh. Yang bikin shock adalah…tempat duduknya di-“take” loh. Ngerti nggak maksudnya? Jadi mereka naruh barang-barang di atas meja yang akan mereka dudukin selama mereka ngantri, untuk mereka dan juga teman-temannya yang nanti akan duduk semeja. Anehnya, barang-barang itu berupa : tissue, koran, pensil, atau bahkan selebaran iklan. Hadoh…hampir semua meja sudah terisi oleh barang-barang ini. Gw hoki bisa dapet tempat duduk, itu aja sharing dengan orang lain. Dan nyebelinnya lagi di Singapura itu, petugas kebersihannya yang kebanyakan para lansia itu kelewat rajin, begitu makanan kita habis, langsung deh dy nyamperin dan membereskan semuanya. Berasa diusir gitu deh. Boro-boro mau ngobrol, bener-bener HMP. Habis Makan Pulang. Di Market Foodcourt ini gw makan Dumpling Noodle 3.5 SGD dan nyicip HorFun (sejenis kwetiaw gtu) 2.8 SGD, yang keduanya rasanya nggak enak. Plus gw sampai nggak sempet foto saking hecticnya suasana makan di sana. Hahaha…

Di seberang hostel gw, Bunc Hostel, ada foodcourt kecil yang suasananya lumayan comfy, dan buka 24 jam. Gw nyicip Pork Rib Noodle yang enak banget, worth it banget for 5 SGD. Dagingnya besar, empuk, kuahnya coklat jernih, gurih dan berasa. So far ini makanan Singapura yang paling gw suka. Yummy! *gulp* *sambil ngetik sambil ngiler*

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Masih bertema Pork Rib, keesokan harinya gw berburu Ba Kut Teh di Chinatown. Pengalaman lucu memesan makanan di sini, si penjual yang merangkap kokinya sama sekali tidak mengeluarkan suara, asli jutek abis. Saat gw pesen, dy cuma diem, masak-masak-masak, trus pas udah jadi, dia menunjuk makanan gw dengan kepalanya dong (menunjuk dengan kepala, ngerti nggak maksud gw?), yah, cuma kaya mengendikkan kepala gitu deh, ngerti kan? Hehe. Asli jutek abis. Abis itu gw bayar deh. Dan dy masih diem. Ebuset…sampe speechless. Maklum gw biasa dilayanin…di warteg. Hehehe… :D

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh atau Pork Rib Tea ini simple aja sebenernya, Cuma pork rib pake kuah dengan bumbu rahasia *biar sok eksotis* (yang mau tau resepnya bisa buka : http://lifestyle.inquirer.net/61081/bak-kut-teh-singaporean-comfort-soup.) Pork ribnya sih enak banget, empuk, sampai tulang-tulang-tulangnya juga empuk dan bisa digerogotin *ups!*. Porsinya juga lumayan besar. Tapi lagi – lagi…kuahnya kurang tasty dan kurang spicy.

Sempet juga nyicip Carrot Cake, atau “chai tao kway”, ini salah satu makanan khas di Singapura, biasa dimakan untuk breakfast atau supper. Resepnya : Tepung beras dan lobak digoreng dengan telur, digarnish dengan daun bawang dan daun ketumbar. Bentuknya unik juga sih, kaya kwetiaw yang dipotong dadu tapi lebih tebal. Still wondering…where’s the carrot? :/

Carrot Cake, 4 SGD

Carrot Cake, 4 SGD

Last day in Singapore, bosan dengan Chinese Food dan merasa sudah intoksikasi babi, maka hari ini pun waktunya mencicipi kuliner India, tentunya di kawasan Little India. Saya mencoba Nasi Briyani dan Roti Prata.

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Agak heran juga kenapa makanan India kok malah lebih murah daripada makanan Chinese yang terbuat dari babi. Biasanya di Indonesia kan masakan babi justru lebih mahal dibanding ayam atau sapi. Eh keheranan terjawab setelah nasi pesanan saya datang. Porsinya bok! Porsi tukang becak! Hahaha…di bawah nasi tersembunyi ayam yang besarnya aduhai, rasanya spicy banget. Kental dengan bumbu-bumbu ala India yang berbau kari. Sayangnya saya kurang suka dengan nasinya, agak beda dengan nasi Indonesia, lebih panjang dan lebih ramping, aroma-aromanya seperti nasi uduk tapi lebih kering. Yah kurang lebih begitulah hehe harus dirasakan sendiri.

Orang-orang India di sekitar kami makan Nasi Briyani dengan lahapnya dan pake tangan. Woooo…sepiring tandas. Gw sih seporsi berdua aja udah kekenyangan mampus. Roti pratanya lumayan, sama saja dengan roti canai di Malaysia, hanya saja lebih tebal, dan kuah karinya sangat kental, beda dengan kuah roti canai di Malaysia yang saya pernah coba agak lebih encer dan kuahnya semangkuk sendiri.

That’s my food adventure in Singapore. Quite dissapointing, for now I think Malaysian Chinese Food is better than Singaporean. Thai’s food is much better, but of course it’s different, and Indonesian food is still numero uno. Hehehe…damn I love Indonesian food so much! <3

PS : don’t forget to try Uncle Ice Cream at Merlion Park, but honestly, Indonesian Es Tong Tong or Es Puter is far more delicious!!

 

singapore food eating

 

 

 

~Happy travelling, happy eating, have a happy life!~

 

No Comments »

Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic!

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Berwisata ke Singapura tak melulu hanya melihat kemegahan arsitektur modern gedung-gedung pencakar langitnya. Bangunan-bangunan bombastis seperti Marina Bay, Esplanade, atau Helix Bridge memang mengesankan, namun entah kenapa saya tak terlalu menikmatinya. Saya memang bukan pecinta arsitektur modern. I prefer old historical building, temple, cultural museum, dan sejenisnya. Hal ini terasa saat backpackeran ke Singapura di bulan Januari yang lalu, yang membuat saya sangat antusias bukannya kemegahan gedung-gedung pencakar langit atau ikon-ikon Singapura, tetapi justru Chinatown. Why?

Well, in the middle of this super-modern city, Chinatown lah yang tampaknya memiliki aura “hidup”. Mungkin juga karena latar belakang saya yang berasal dari etnis Chinese, sehingga langsung merasa familiar dengan suasana dan hiruk pikuk Chinatown. Lagu-lagu berbahasa Cina yang diputar (meskipun saya tidak mengerti sama sekali artinya), warna-warna merah dan kuning emas yang mendominasi jalanan, bau dendeng babi yang menyeruak tajam, sampai pernak pernik hiasan Imlek yang didominasi oleh lambang Ular (tahun ini Tahun Ular dalam kalender Cina). Ah…that ”homey” feeling.

Salah satu tempat yang saya kunjungi di Chinatown ini adalah The Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Mencarinya lumayan sulit saat itu, karena saya yang memang agak buta arah, dan jalanan-jalanan di Chinatown yang semua tampak mirip. Lokasinya di South Bridge Road, tidak begitu jauh dari pintu keluar MRT Chinatown.

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Saat itu saya sampai di sana sudah menjelang sore hari. Masih ada beberapa pengunjung yang sedang berkeliling di dalam kuil. Saya disambut oleh pintu kuil yang megah dan tentunya berwarna merah. Memasuki kuil sebaiknya tidak memakai baju terbuka. Tapi tenang saja, ada kain yang dipinjamkan di pintu masuk, gratis kok. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut biaya, free!  Memasuki ruangan, saya hanya bisa tercengang dengan kemegahan dekorasi kuil, yang tentunya didominasi warna emas dari patung-patung Buddha. Di dinding-dinding, terdapat ratusan patung Buddha, dengan pose yang berbeda-beda. Meskipun bukan beragama Buddha, saya selalu tertarik dengan wajah Sang Buddha, I always thought, “I wish I have that peaceful face all the time”.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Ada juga patung-patung Bodhisattva pelindung untuk masing-masing Shio. Misalnya, saya yang bershio Naga, pelindung saya adalah Samantabhadra Bodhisattva. Adik saya yang bershio Monyet, pelindungnya adalah Vairocana. Lalu ada juga patung-patung lainnya seperti Kulikah, Dewa Kematian, dan lain-lainnya, lengkap dengan penjelasan di papan namanya. Harus saya akui Singapura ini sangat hebat dalam wisata edukasinya. Di Garden by the Bay, di SEA Aquarium, di Fort Canning, sampai di Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini pun, rasanya saya benar-benar dijejali berbagai informasi yang mengedukasi. Andai saja otak saya bisa mengingat semuanya, hehe…

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating...

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating…

 

Saya mengelilingi Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini hanya sekitar 45 menit. Perut yang keroncongan minta diisi makan memanggil-manggil. Sesampainya saya di foodcourt Maxwell, tiba-tiba terlintas, “Loh kok saya tadi tidak melihat relik gigi Buddha-nya ya?”. Tapi  karena otak yang sudah selow karena kelaparan, akhirnya pikiran itu terlupakan begitu saja. Sepulangnya saya dari Singapura, saat browsing-browsing iseng, barulah saya tahu kalau Buddha Tooth Relic Temple and Museum itu ada 4 lantai! Dan relik gigi Sang Buddha itu disimpan di dalam stupa yang terbuat dari 320 kg emas di lantai 4! Bodohnya saya, hanya mengunjungi lantai 1 saja. Aduh! Lagian, saya kok ya nggak mellihat tangga ya waktu itu? Selabur itu kah mata saya? Alhasil judulnya : Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic. Gosh! Maybe next time? :D

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

It’s always nice to see a bit of cultural things in the middle of big and modern city. Kadang hal-hal yang modern itu bisa jadi sangat membosankan. Kultur, ritual agama dan kepercayaan, dewa-dewi, sejarah, peninggalan dan cerita masa lalu dapat menambah kekayaan jiwa, mengingatkan bahwa manusia, meskipun harus bergerak maju, tetapi jangan sampai melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, sejarah dan agama yang sedikit banyak membentuk dirinya sampai pada saat ini. Singapura, dengan seluruh kecanggihan kotanya, tidak lantas melupakan kekayaan kulturnya. Salah satunnya disinilah, sedikit oase jiwa dapat dicicipi. Di Buddha Tooth Relic Temple, di tengah Chinatown, di antara megahnya gedung-gedung pencakar langit…

2 Comments »

New Year Eve at Pulau Tidung : In the Middle of the Rain and Massive Fireworks

Image

New Year ke mana? Villa? Barbeque-an? Konvoi keliling kota? Liat fireworks di alun-alun? Nunggu detik-detik pergantian tahun baru di cafe? Atau…di rumah aja???

Hehe…NYE 2012 ini gw memutuskan untuk mencari suasana baru. Bosen di kota. Bosen di cafe. Apalagi di rumah. So…gw ngetrip ke…TIDUNG. Yeay!

Sebenernya dari dulu gw nggak terlalu minat ke Tidung, terutama sih gara-gara baca blog orang-orang yang nyebutin kalo Tidung itu kotor, penuh sampah, coralnya udah ancur,  etc etc. Which is, sayangnya…mereka bener. Hiks. Yah kita bahas itu later. Yang jelas karena kesuntukan gw NYE-an di kota dan nggak tau mau ngapain, akhirnya gw meracuni sahabat gw Irene untuk kabur ke Tidung. Kali ini gw ikut tripnya @TukangJalan, murce murce aja…335rb buat 2 hari. Sifat tripnya Open Trip, jadi sama kaya pas gw di Karimunjawa kemaren, nantinya bakal digabungin sama rombongan-rombongan lain…

So, 31 Januari 2012. Pagi-pagi buta gw udah dijemput sama tukang bajaj hasil kenalan di malam sebelumnya (gokil, ngajak kenalan tukang bajaj demi minta dijemput subuh-subuh besoknya). Baik pisanlah si tukang bajaj ini hehe nganter dari Tanjung Duren ke depan CL, trus abis itu kita naik angkot merah M01 jurusan Grogol-Muara Angke. Sempet miskom n malah diturunin di Pom Bensin sebelah Mega Mall Pluit. Padahal maksud gw Pom Bensin Muara Angke. Yang ternyata Pom Bensinnya ada di dalem pasar yah, catet. Angkotnya nggak lewat situ. Hehe… Nggak pake panjang lebar akhirnya kita naek becak 10rb perak ke dalem Pom Bensin Angke. Di sana kita ketemuan sama CP dari @TukangJalan, trus dikasih tiket kapal (yang cuma berbentuk lembaran kertas karton ditulisin spidol item à tau gitu bikin sendiri, hehe emang bisa).

Ini pertama kalinya gw naek kapal kayu ke Kep.Seribu. Sebelumnya gw kan naek KM Lumba-Lumba yang rada bagusan (eh jauh ding bagusnya) hihi. Ternyata…lebih seru pake kapal kayu! Emang sih desek-desekan kaya ikan sarden, kotor, duduk kelipet-lipet, tapi sensasinya lebih seru, dan yang penting…nggak mabok! Justru pas naek KM Lumba-Lumba, karena ruangannya tertutup, berasa naek bis tapi di laut, ugh…bersih sih, tapi gw muntah 2 kali. Cial. Kembali ke kapal kayu. Lucky me, gw duduk di depan sekumpulan cowo-cowo ganteng putih berotot dan bertato (sampe gw mikir apa mereka nggak salah kapal ya?), so…3 jam terasa berlalu dengan cepat, hahaha…sempet ngalamin tuh ombak yang lagi ganas-ganasnya sampe beberapa kali kapalnya harus matiin mesin dan Cuma ngikutin ombak. Aish, seru abis, apalagi pas mulai ujan deres, hahaha…berasa si Pi di Life of Pi. Tanpa harimau Benggala tapinya.

Image

Gini deh suasana di dalem kapal. Seru kan? :D

Sesampenya di Tidung, gw rada kaget juga. Ini pulau rame bener kaya pasar. Sepanjang mata memandang tampak kalo nggak gerobak makanan, lapak jualan baju, kalo nggak ya tempat sewa sepeda. Zzzz buyar sudah impian NYE merenung dalam ketenangan pulau yang sepi impian gw. Eh ternyata di Tidungnya sendiri ada even khusus untuk menyambut NYE ini. Ada band, firework, sampe fire dancer segala. Sama aja kayak di Jakarta ini mah. Cuma lokasinya aja di pulau, di pinggir pantai, which is obviously makes it more interesting ^^

Di sana gw dianter ke penginapan, dan berkenalan dengan 4 orang yang sudah sampai di sana duluan. Ada yang dari Jakarta dan Makassar (edun jauh bo dari Makassar!). Sayangnya mereka semua couple. Yah pupus deh niat terselubung gw nyari gebetan di Tidung, xixixi… ;p

Menjelang siang kami snorkeling di sekitar Pulau Payung. Nothing special sih. Underwaternya udah ancur. Ikannya sedikit, tapi gw sempet liat school of butterfly fish segede gaban yang cukup menghibur, plus nemu hewan aneh kaya keong gitu nempel di coral, warnanya cerah banget, mentereng, ada yang merah, biru, oranye, wah pokoknya gaul deh. Ukurannya paling segede setengah jempol. Bermata dan berantene. Lucu! Apa namanya yah itu hewan? Masa keong laut… Excited juga nemu hewan yang baru, rasa kecewa liat coral-coral yang udah terabuse agak terobati. Tapi kalau airnya sih masih agak jernih ya, bahkan dibandingkan pas di PhiPhi Thailand aja masih lebih jernih di Tidung… Sayangnya, laut saat itu mulai berombak, awan di langit pun sudah menghitam. Guide kami buru-buru mengajak kami naik ke kapal dan dengan terpaksa snorkeling babak 2 di Tidung Kecil dibatalkan karena cuaca yang nggak bersahabat. Malah hujan deras lho! Yah namanya juga akhir tahun… *hiks* *sobs*.

Image

Awan gelap yang menemani snorkeling. :(

Nggak disangka, hujan turun sepanjang hari, bahkan sampai malam. Akhirnya kami pun terjebak di penginapan dan memilih untuk tidur. Berharap menjelang pergantian tahun hujan sudah mereda. Acara barbeque-an pun batal. Ya iyalah gimana caranya barbeque-an di pantai hujan-hujan. *hiks* *sobs*. Sampe udah tidur 3 babak, masih awet aja itu hujan, aje gile, kesel gw, akhirnya bermodalkan payung gw dan Irene nekat jalan kaki ke Jembatan Cinta, tempat even NYE diadakan. Saat itu jam 10 malam, so masih banyak waktu untuk menikmati detik-detik pergantian tahun. Jalan kaki ke Jembatan Cinta seru banget loh! Malem-malem hujan gerimis, dan yang bikin seru yaitu karena banyak banget orang-orang yang juga menuju ke sana. Berasa kaya mau konvoi jadinya hehe…Lumayan jauh juga perjalanannya kira-kira setengah jam. Sampe di tempat even tersebut, gw terkagum-kagum. Banyak banget dong orangnya. Bener-bener rame kaya di pasar malam. Gw langsung menghampiri keramaian yang sedang menonton fire dance. Lumayan sih cukup menghibur. Selain itu ada live music dari band, dan banyak yang main kembang api yang bentuknya stik itu lho, seru! Dan karena lokasinya bener-bener di pinggir pantai, dengan langit terbuka sebagai atapnya, feel nya dapet banget, hihi…pokoknya nggak nyesel deh NYEan di Tidung kali ini.

Image

Fire dance ala Tidung.

Momen-momen paling berkesan tentunya saat detik-detik pergantian tahun. Saat itu gw cuma bisa terkagum-kagum dengan massivenya kembang api yang diluncurkan. Totally awesome! Selain dari pihak panitia acara, tampaknya orang-orang yang hadir juga bawa perbekalan kembang api sendiri-sendiri, dan seakan nggak ada habisnya, bener-bener nonstop itu kembang api bledag bledug byar byar di langit. Totally awesome. Firework NYE 2011 di PVJ mah…nggak ada apa-apanya. Firework di sini bener-bener gila, gokil abis! Bahkan sampai ada kembang api yang nyasar, bukannya meluncur ke atas eh malah meluncur ke samping, menuju ke arah orang-orang yang ada di tepi pantai. Sontak semua orang lari pontang-panting berhamburan menjauhi kembang api nyasar tersebut, termasuk gw. Hahaha! Bahaya juga kalo dipikir-pikir. Tapi seru-seru aja sih pas ngalaminnya ^^ Gw sampe udah speechless nikmatin firework party nya sampai udah nggak sanggup buat take a picture atau video. Bener-bener nikmatin keindahan warna warni kembang api di langit malam yang luas tanpa ada satu bangunan pun yang menghalangi.

Image

Salah satu keseruan perayaan menyambut NYE.

Sampai jam 2an pesta kembang api masih berlangsung loh, edan kebayang tuh berapa puluh juta uang yang terbakar untuk menyambut 2013? Makanya tahun 2013 ini harus jadi lebih better ^^. *apa hubungannya coba?* Pokoknya malem itu totally awesome deh, hehe…mana

subuh-subuh itu gw sempet makan Indomie dan nyeruput kelapa muda sebagai makanan pembuka di tahun 2013, so  perfect! Kapan lagi NYEan di pinggir pantai?

Perjalanan pulang ke penginapan dilalui dengan kantuk, lelah. Sesampainya di kamar, langsung deh nyungsep dengan sukses.

Hari ke-2 dan terakhir di Tidung. Pagi ini gw langsung menuju ke Jembatan Cinta (kali ini naik sepeda), yang menjadi ikon Pulau Tidung. Istimewanya jembatan ini yaitu menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Kebayang kan. Hehe. Sayangnya ternyata jembatannya agak di bawah ekspektasi gw, karena ternyata sudah banyak kerusakan, bolong-bolong di sana sini, dan di tengah-tengah sedang diperbaiki sehingga tidak bisa dilewati. Bisa sih…kalau maksa merayap lewat pinggir-pinggirnya. Tapi gw mengurungkan niat. Alhasil gw nggak mampir ke Tidung Kecil deh. Di atas jembatan, banyak orang-orang yang melompat ke bawah. Semacam uji adrenalin kali yah. Sayangnya gw udah kehabisan baju ganti dan emang nggak niat basah-basahan lagi karena 2 jam lagi kudu udah standby di kapal. Jadi deh gw nggak loncat dari jembatan. Penasaran juga sih gimana rasanya. Next time maybe ;D

Image

This cute boy is gonna jump.

Image

Yeayyy he jump!! Beautiful posture.

Pantai sekitar pulau Tidung ini sayangnya sangat kotor. Yah pokoknya nggak bisa deh main air di situ. Heran juga gw kenapa pengelolaan sampahnya jelek banget, sampai sampahnya menumpuk di bibir pantai, ada kali beberapa meter jauhnya tuh sampah :( So sad. Kalau spot foto-fotonya sih sebenernya lumayan menarik, Cuma ya itu…pantainya yang kotor bikin ilfeel. Nggak heran gw sering baca ada Operasi Semut di Tidung. Yah, semoga aja ke depannya Tidung bisa lebih bersih…sayang banget diabuse gitu.

Kesan gw tentang Tidung bisa dirangkum dengan 4 kata : Jembatan. Ramai. Sampah. Sepeda.

Well, ternyata apa yang gw baca dari blog-blog para traveler emang bener. Unfortunately :( Tapi bagaimanapun, NYE di Tidung is way much better than previous NYE I ever had. Hopefully next NYE will be more fun. Going abroad maybe? ^^ Amin.

Image

Okay yang ini foto narsis :D . Happy travelling! ^^

4 Comments »

Day 4 – How to have fun at Karimunjawa : snorkel, jump, and play with sharks

Day 4. Still at Karimunjawa. Yeay! Pagi ini terbangun dengan masih mengantuk. Why? Negara api menyerang! Oke garing. Yang bener semaleman gw diserang nyamuk-nyamuk. Nyamuk Karimunjawa ganas cuy! Berbagai pose garuk-garuk udah gw jabanin, kain pantai yang gw fungsikan sebagai selimut pun nggak mempan. Tips : Pakai baju dan celana panjang, bawa kain untuk selimut, pakai lotion anti nyamuk.

Meskipun mata mengantuk, semangat tetap membara dong yah! Setelah kemarin gw menjelajahi sisi Barat (Pulau Cemara Kecil) dan sisi Selatan (Ujung Gelam), hari ini gw akan menelusuri sisi Timur Karimunjawa, yaitu Pulau Cilik, Pulau Tengah, Gosong Seloka, dan berenang bersama hiu di Pulau Menjangan Kecil. Uyeaahhh! Pagi-pagi gw udah nongkrong sarapan di Warung Bu Esther. Nikmat, murah meriah. Setelah rombongan berkumpul di dermaga, kami pun berlayar…capcussss! Kali ini rombongan kami ketambahan sepasang suami istri, si suami Bule, si istri Jawa Yogya asli. Makin seru deh! ^^ Ombak laut hari ini lebih ganas dibanding hari sebelumnya. Gw sih fun-fun aja. Kenapa harus takut tenggelam kalau bisa berenang? #pedeabis. Kenapa harus takut mati kalau semua jiwa akan berpulang pada Sang Pencipta? *oke yang ini terlalu berat* *skip*.
Spot snorkeling pertama di sekitar Pulau Cilik. Kali ini gw lebih banyak mengeksplor coral dan nggak terlalu antusias berfoto underwater. Yeah, still with that guilty feeling :( (baca postingan sebelumnya). Coral di Pulau Cilik ini keren banget, masih lebih terawat dibanding spot-spot sebelumnya. Daaannn….yang bikin gw terheran-heran, ikan-ikan di Karimunjawa itu kok guendhut-guendhut banget yah? Subur makmur kayaknya :D Emang sih jenis-jenisnya rata-rata sama dengan ikan-ikan di Kepulauan Seribu, tapi di sini lebih subur-subur, seneng deh liatnya! Makin semangat ngasih roti deh. Jangan-jangan karena overdosis roti dari turis-turis. Eh, mungkin nggak sih? Nyahahaha~ Btw pernah denger juga tentang ngasih makan roti pas snorkeling ini. Katanya nggak boleh ya? And why is that? Ada yang tahu alasan ilmiahnya? Ditunggu sharingnya ya hehe… Sehabis snorkeling kami nggak mampir ke Pulau Cilik, yang tampaknya memang bener-bener cilik, paling setengahnya Cemara Kecil. Kami langsung menuju ke destinasi selanjutnya, Pulau Tengah…
Well, what can I say? Pulau Tengah is really…really…amazing! Sungguh. Airnya…bener-bener jernih. Gw bahkan sempet berguling-guling di dalamnya, berenang gaya pesut terdampar sampai meniru pose dugong lagi akrobat sampai pose melahirkan. Hahaha…pokoknya…TOP abis! Rasanya nggak pengen keluar dari air!

pulau tengah karimunjawa

Sejernih ini, siapa yang tahan?

O ya, ternyata di Pulau Tengah ini, diternakkan ikan hiu juga lho (bener gak sih bahasanya? Hiu diternakkan?). Sama seperti di Pulau Menjangan Kecil, hiu-hiu kecil yang tertangkap di laut kemudian dirawat di konservasi ini, kemudian setelah dewasa nantinya akan dilepas kembali ke alamnya. Lumayan serem juga jalan di atas hiu-hiu ini, takut kepleset trus plung! Jadi makanan hiu dah hahaha… (padahal perasaan baru aja nulis kenapa harus takut mati ;p ).
Menjelang siang, makanan sudah siap di tepi pantai. Aaahhh lagi-lagi makan ikan di pinggir pantai, di atas pasir putih yang empuk dan ditemani angin semilir. Surga. Ikannya pun terasa berjuta-juta kali lipat lebih enak daripada makan ikan di restoran mahal. Apalagi kali ini ada sayur dan sambal juga. Juara! Nggak nyesel ikutan tripnya Mas Farid n Pak Manto, hwehehehe… Puas dan kekenyangan, gw berjalan-jalan sejenak mengeksplor pulau ini, yang ternyata nggak terlalu besar, hanya ada satu rumah yang berjualan aneka gorengan (pisang gorengnya nikmat!!). That’s it. Pulau ini nggak berpenghuni. Asiknya…Gw sempet bergoler-goler cantik dengan mata berat hampir ketiduran, sampai akhirnya Pak Manto memanggil-manggil dan dengan berat hati terpaksa kami semua kembali ke kapal…

Romantisnya pasangan Indo-Bule ini, bikin ngiri eke aja yey berdua... ;D

Romantisnya pasangan Indo-Bule ini, bikin ngiri eke aja yey berdua… ;D

Salah satu sudut Pulau Tengah

Salah satu sudut Pulau Tengah

Gosong Seloka merupakan gusung pasir, hampir sama seperti Pulau Air Kecil di Kepulauan Seribu, yaitu hanya pulau kecil yang terdiri dari gundukan pasir. Bener-bener pasir doang. Di tengah laut. Eaaa keceh kan. Menariknya, waktu ke Gosong Seloka, dari jauh tampak puluhan burung yang memenuhi Gosong ini. Aaaa keren deh berasa kaya pulau di luar negri (padahal sih belum pernah lliat langsung, cuma di tipi aja ;p). Dua hal terlintas : Satu : burung itu bakal terbang nggak ya pas kita mendekat? Dua : Banyak tai burung nggak ya di sana? Hehehe…pertanyaan pertama terjawab langsung beberapa menit kemudian, saat Gosong Seloka itu tiba-tiba saja menjadi kosong. Ya elah…gak bisa foto dengan burung-burung putih keceh beterbangan di samping kita dong :( *imajinasi foto terlalu tinggi*. Pertanyaan kedua terjawab beberapa menit selanjutnya setelah kami touch down di pasir gusung yang sangat putih, nggak begitu empuk karena masih banyak pecahan kerang-kerang kecil yang kasar, tapi bersih banget. Boro-boro tai, sampah segede bungkus permen aja kagak ada di sana. Yang bikin spesial dari Gosong ini ya tentu aja, ujung-ujungnya yang langsung air laut. Justru sejengkal daratan pasir tanpa keberadaan apapun di atasnya, itulah yang menarik. Nggak heran, mau di Kepulauan Seribu, di Karimunjawa, bahkan tampaknya di Derawan pun gw lihat gusung pasir selalu menjadi spot yang ditunggu-tunggu. Buat foto lah, apa lagi coba, hehehe… Gw berpikir…mungkinkah…Gosong ini masih ada…katakanlah 5 atau 10 tahun ke depan? Kalau air laut makin tinggi…keberadaan Gosong kaya gini bener-bener terancam. So sad. Semoga aja enggak. Makanya harus mulai Go Green nih. Gw baru mulai ngurangin kantong plastik, say no to spray, cabut kabel elektronik kalau lagi nggak dipakai. Belum seekstrim nge-recycle kertas sendiri sih, hehe, start from little things first dulu deh… ^^

Beginilah penampakan Gosong Seloka. Without birds.

Beginilah penampakan Gosong Seloka. Without birds.

Salah satu foto favorit gw. Kenalan-kenalan baru di Karimunjawa :D

Salah satu foto favorit gw. Kenalan-kenalan baru di Karimunjawa :D

Hanya sebentar di Gosong Seloka, hari sudah menjelang sore, kami pun menuju ke spot terakhir yang ditunggu-tunggu dari pagi. Bahkan dari sebelum berangkat ke Karimunjawa. Berenang dengan HIU! Yeay! Yeay! Tau nggak sih gw awalnya sempet ragu-ragu. Takut. Itu sejak dari sebelum gw berangkat ke Karimun. Gw pikir, ah, what the heck, mikirnya nanti aja deh kalo udah sampe di sana. Eh, pas udah sampe Karimun masih aja ragu. Hahaha…dan finally baru bener-bener ngambil keputusan “oke gw mau turun berenang sama hiu itu” malah pas udah sampe di pinggir kolamnya. Hahaha! Emang gw nih ya…suk plin-plan sekaligus impulsif.
Btw, jadi di Pulau Menjangan Kecil ini ada beberapa kolam, lumayan gede sih, isinya hiu-hiu yang “jinak”. Jangan kira hiunya kecil-kecil kaya yang ada di kolam di Seaworld. Itu sih baby shark. Ini beneran hiu dewasa, besar, karnivora, dan pejantan tangguh (okay yang ini agak ngarang sih, hehe). Gw masuk ke kolam Blacktip Shark (ada kolam Whitetip Shark juga cuma gw ga nyemplung ke sana). Warnanya hitam. Awalnya…rada serem. Sempet parno abis. Sempet hampir panic attack. Lama-lama…jadi agak biasa aja sih, meski tetep serem. Apalagi pas hiunya mondar-mandir di sebelah gw. Edannn…dag dig dug seerrrr…berasa lagi dikorbankan. Finally at one point, as human, gw ngerasa nggak berdaya di depan binatang. Yah kan biasanya kita makan binatang (ya bukan hiu juga sih). Kali itu gw ngerasa kaya jadi makanan binatang. #pentingnggaksih
Emang sih hiu-hiu ini jinak. Do you know why? Ternyata…menurut Pak Manto…hiu-hiu ini tiap harinya selalu dikasih makan banyak. Berkilo-kilo. Sampai akhirnya mereka kekenyangan dan malas berburu. Hahaha…jadi mikir sama aja nih hiu kaya manusia. Kalo kekenyangan jadi males. Bawaannya pengen molor terus (itu sih gw yak. Ups.) Trus karena “disuapin” terus mereka juga jadi kehilangan semangat memangsa. Sama aja kaya manusia. Kalo “disuapin” terus kapan majunya… *sok berfilosofis*. Eh tapi yang masuk kolam nggak boleh lagi menstruasi atau lagi mengalami perdarahan ya, luka-luka lecet yang banyak dan berdarah juga nggak boleh. Kalo nyium darah sih teteup aja yak hiu mah doyan… :D

Ini hiunya. Lagi pada ngetem ;p

Ini hiunya. Lagi pada ngetem ;p

Buat menikmati sensasi “jadi makanan hiu” ini cukup merogoh kocek 5rb rupiah saja. Yah cukup murah lah untuk pengalaman once in a life time (or maybe jadi ketagihan, siapa yang tau?).

Ini gw dan hiu. *dalem hati kaya mau mati*

Ini gw dan hiu. *dalem hati kaya mau mati*

Sekitar jam 5 sore kami pun kembali ke penginapan. Malamnya rombongan kami ngumpul makan ikan bakar dan es kelapa bakar (unik lho! Air kelapa dicampur jahe, trus batoknya dibakar. Yummy, anget2 cocok untuk minuman malam hari) di alun-alun. Seru, apalagi gw ditraktir, hihi… ^^
Malam terakhir di Karimunjawa pun berakhir sangat menyenangkan.
Keesokan paginya kami pulang naik Express Bahari pagi-pagi…Au Revoir Karimunjawa...Really want to and must come back someday… <3
So, hari gini belum pernah ke Karimunjawa ??? Plan your trip now! Happy travelling! ^^

4 Comments »

That Oh So-Guilty-Feeling at Karimunjawa

cemara kecil5

It takes so long for me to write this story. Story about the beauty of Karimunjawa. The sea, the islands, the underwater view. Why so long? Bukan karena trip yang nggak menarik. Bukan. Bukan karena view yang nggak bagus. Bukan. Justru sebaliknya. It’s a oh-so-amazing-trip. Dan view Karimunjawa masih yang terindah di hati saya sampai saat ini. It takes so long because…I did some mistakes there, and I feel ashamed, and most, guilty. Why? This is my story
Pagi yang cerah di bulan September, hari ke-3 gw di atas tanah Karimunjawa. Hari ini gw dan temen seperjalanan gw Vivi akan mengikuti tur laut selama sehari penuh, setelah sebelumnya sudah cukup puas mengeksplore daratan Karimunjawa (baca di postingan sebelumnya), kali ini tentu sudah saatnya gw mengeksplore keindahan pulau-pulau dan underwater view-nya. Excited? Tentu! Penasaran apakah bawah laut Karimunjawa lebih bagus dari bawah laut Pulau Air di Kepulauan Seribu yang seperti aquarium. Penasaran dengan teman-teman baru yang akan kami temui hari ini. Penasaran dengan pulau-pulau yang katanya masih perawan dan sepi.
Untuk tur laut hari ini kami ikut daily tour, sifatnya open trip, yaitu digabung-gabung dengan rombongan lain. Untuk tur ke Pulau Cemara Kecil dan Pulau Tanjung/Ujung Gelam, dengan 2 kali snorkeling, sudah termasuk makan siang, alat snorkeling, dan foto underwater, gw hanya merogoh kocek 100rb. Syukurlah di hari sebelumnya kami bertemu Pak Rivai yang menawarkan daily tour ini pada kami. Rombongan hari ini total berjumlah 6 orang, ditemani seorang guide yang baik hati Mas Farid, dan seorang nahkoda kapal Pak Manto (ejiee nahkoda…hahaha!).
Sekitar jam 07.30 kami sudah standby di dermaga, tapi karena masih belum ada orang, kami sarapan dulu di Warung Bu Esther, nasi rames plus susu, seharga 11ribu. Lumayan murah kenyang dan enak. Hoho…saat itu kami sempat bertemu seorang penduduk Karimunjawa yang tinggal di Pulau Nyamuk. Doi semangat banget mempromosikan Pulau Nyamuk ini. Katanya yang paling perawan di Karimunjawa. Memang sih agak jauh, karena lokasinya paling ujung luar, kalau naik perahu sekitar 2 jam dari Karimunjawa. Hmm…boleh juga nih next time. Wondering…banyak nyamuknya nggak yah…hehe…
Setelah sarapan dan seluruh rombongan berkumpul, kami pun berangkat…eng ing eng…cuaca cerah, sinar matahari yang hangat, light blue sky, and white fluffy clouds…boost my mood to the top level. Laut, pasir, ikan, aku dataaaaaannngggg!

Spot snorkeling pertama, di sekitar Pulau Menjangan Kecil. Ceburrrr!!!
Airnya jernih, visibility clear. Ikan-ikannya…wow, banyak banget! Dibanding Kepulauan Seribu, ikan-ikan yang saya lihat di sini jauh lebih gemuk-gemuk, hihi…kalau jenisnya hampir sama, dari mulai Nemo sampai butterfly fish (nggak tahu namanya satu-satu, hiks). Coralnya juga bervariasi, dari table top sampai brain coral. Ukurannya pun massive. Sayangnya, tampak beberapa coral bagian atasnya “gundul”. Kenapa? Oh. Ternyata…coral-coral itu sering digunakan untuk spot foto underwater. Yap. Bener. Jadi tukang foto maupun model foto berdiri di atas coral yang besar, lalu sedikit menyelam ke bawah dan berpegangan pada coral lalu berpose. Dari mulai pose duduk sampai cherrybelle.

underwater karimunjawa

Okay. I know. That’s so wrong. I know that’s wrong from the very first time. Coral shouldn’t be touched. Apalagi diinjak. Apalagi jadi tempat gelantungan. Honestly, gw kira foto underwater itu diambil saat kita sedang berenang atau menyelam atau candid, TANPA harus bergelantungan di coral. Ternyata perkiraan gw salah. Gw tau I shouldn’t do it. Tapi saat itu juru kamera kami sudah dengan semangat menyuruh kami berpose, dengan memberi contoh-contoh pose, memberi tahu bagian coral mana yang harus diraih dan dijadikan pegangan saat berfoto, dan langsung menyuruh kami antri untuk difoto. Saat itu, sort of guilty feeling merasuki dada. It’s like cheating in exam you know. Do it. Don’t do it. Do it. Don’t do it. Yah…saat itu…the devil side won. Pikiran “kapan lagi” dan “pasti keren” mengalahkan kesadaran Coral Shouldn’t Be Touched. Mereka bisa mati, dan bahkan you know how long does it take to grow even one inch of them. But still, … I did. I touched them. And even worse, I broke one of them. Damn.
From that time, snorkeling time there didn’t feel so fun anymore. Yes, the view was amazing, but that big guilty feeling made the whole things just felt wrong.
But, still, the view is really amazing.
Setelah snorkeling kami menuju ke Pulau Cemara Kecil. Pulau ini…sangat indah. Pantainya landai, airnya jernih tanpa sampah sedikitpun, pasirnya halus seperti bedak. Benar-benar fotogenik! Ini salah satu pulau favorit saya di Karimunjawa. Ini tempat yang cocok untuk menyepi dan bergoler-goler ria di pasir sepanjang hari (jangan takut hitam ya tentunya!).

cemara kecil karimunjawa

Sambil menunggu Mas Farid dan Pak Manto membakar ikan, gw berkeliling pulau yang ternyata meskipun kecil tapi ngelilinginnya lumayan cape juga loh, hehe…Karena laper kali ye! ;p

pulau cemara kecil ksrimunjawa

Menjelang siang, makanan pun siaaapppp! Ini dia ikan-ikan yang siang ini “dikorbankan”, hihihi…

ikan bakar karimunjawa

Makan ikan bakar rame-rame di tepi pantai, hanya diiringi sayup ombak dan ditemani hangatnya matahari…jauh lebih nikmat dibanding makan steak mahal di cafe buatan manusia. Sungguh ciptaan Tuhan tak akan ada yang menandingi. Bukan masalah rasa, cara mengolah, atau harga makanannya, tetapi suasananya. That’s the most important, I think.
Setelah perut kenyang, rasanya berat banget pergi meninggalkan pulau ini. Tapi snorkeling sesi selanjutnya masih menunggu. Yuhuuu! (meskipun masih disertai guilty feeling)
Snorkeling sesi kedua berlangsung hampir sama seperti sesi satu, and my guilty feeling get bigger and bigger…gw menyayangkan coral-coral yang diabuse, gw menyayangkan cara foto underwater yang harus mengabuse coral, gw menyayangkan guide kami yang tampak biasa saja mengabuse coral, and most of all, gw menyayangkan diri gw sendiri yang ikut mengabuse coral-coral itu :( Okay, I know it’s too late. And I know gw pantas dicela :(

Tujuan terakhir kami hari itu adalah Ujung Gelam. Ada juga yang menyebutnya Tanjung Gelam. Katanya di sini lah tempat yang paling tepat untuk menikmati sunset Karimunjawa. Lokasinya ada di ujung selatan Karimunjawa, jadi bukan pulau yang terpisah, melainkan bagian dari Pulau Karimunjawa itu sendiri. Buat para pecinta fotografi, pasti suka deh di sini. Bener-bener fotogenik. Pantainya bersih, jernih, pasirnya putih dan lembut, ditambah lagi batu-batuan besar dan pohon kelapa yang ada di tepi pantai, sungguh keceh!

Okay yang ini foto narsis, hihihi... ^^

Okay yang ini foto narsis, hihihi… ^^

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

ujung gelam karimunjawa

Karena berada di Pulau Karimunjawanya, di pantai ini sudah banyak lapak-lapak yang menjual makanan dan minuman. Gw akhirnya terbawa suasana dan memesan kelapa muda deh…satu berdua aja. Kere. Hehehe… Sekitar jam 5 sore kami kembali ke dermaga, masih ada waktu untuk menangkap sunset yang keceh dari dermaga… Sungguh Karimunjawa memang indah…
Eits! Masih ada tur laut hari kedua loh! Sabar ya Cyinn… :D Next : Pulau Tengah, Gosong Seloka, Pulau Cilik, dan berenang bersama HIU di Pulau Menjangan Kecil! Kamu berani?

No Comments »

Pulau Tengah, Karimunjawa, Indonesia

Pulau Tengah Karimunjawa

Pulau Tengah. Karimunjawa. Indonesia. I believe that God must be in very happy mood when He created this place.

10 Comments »

Day 2 – Sekali Biking Tiga Pantai Karimunjawa Terlalui

Sea, sun, sand, sky, and palms…

Pantai Anonim. Ya, perhentian pertama biking (+walking+nuntun sepeda) di Karimunjawa adalah pantai anonim ini. Untuk menuju ke pantai ini pun tidak ada path jalan yang khusus, melainkan harus menembus rumput, semak, dan ilalang terlebih dahulu. Butiran pasirnya yang bersih dan lembut mengintip dari tepi jalan, sontak kami meninggalkan sepeda kami di pinggir jalan begitu saja. Menembus ilalang, menuruni bebatuan yang lumayan curam, akhirnya di pantai kecil inilah kami melepas penat. Berbaring dialasi pasir putih dan beratapkan daun palem, rasanya perjalanan yang sudah dilalui tak sia-sia…

Melepas lelah selama kira-kira setengah jam, khawatir dengan sepeda yang kami tinggalkan begitu saja di pinggir jalan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, karena masih berkeyakinan bahwa pantai ini bukanlah Pantai Nirwana yang kami cari.

Melanjutkan perjalanan naik turun bukit, tak berapa lama kemudian kami disambut oleh pemandangan pantai yang luar biasa indah di sebelah kanan…lagi-lagi…terpisah oleh semak dan ilalang. Dan lagi-lagi, kami menjatuhkan sepeda dan segera menembus semak belukar tersebut…dan Puji Tuhan…inilah pantai yang terhampar di hadapan kami…

Pantai Legon Lele dengan gusung pasir yang menuju ke Pulau Batu

Pantai Legon Lele. Darimana gw bisa tahu namanya? Ceritanya menyusul ya, hehe. Kenapa dinamai Legon Lele? Baca nih di sini. Sungguh, pantai ini keren banget, airnya jernih, pasirnya putih, terdapat beberapa gundukan gosong pasir yang timbul karena air surut, tepi pantai ditumbuhi pohon-pohon palem, sedangkan di sebelah timur pantai lebih didominasi bebatuan dan karang yang besar-besar, bahkan gw sempat gelar lapak dan tidur-tiduran di atas batunya, hehehe…superb! Pulau yang tampak sangat dekat dari pantai adalah Pulau Batu. Pulau ini terasa sangat dekat sampai gw berpikir apakah bisa gw berenang ke sana…soalnya gosong pasirnya sendiri cukup panjang lho…seakan menuju ke Pulau Batu. Hehe tapi tentu saja gw nggak bener-bener berenang ke sana… :P

Tidak ada papan petunjuk ataupun plang nama pantai di sini. Saat itu gw masih berkeyakinan inilah Pantai Nirwana. Lha uapike kayak gini, apa lagi kalau bukan Nirwana namanya? *kekeuh*. Cukup lama kami stay di sini, mengira pantai ini adalah destinasi terakhir kami. Meskipun dalam hati masih ragu juga apa bener ini Pantai Nirwana, jangan-jangan masih di depan lagi…ah, tapi badan sudah lelah, sudah luka (yang penting hati nggak luka kakak… *aposih*), dan hari sudah mulai sore. Akhirnya kami memutuskan berjalan pulang. Ya, berjalan. Dan menuntun sepeda. Hiks. Sungguh perjalanan yang berat untuk dua gadis kece yang jarang jogging apalagi fitness ini, hahaha…

Mengintip Pantai Legon Lele

Yah, tidak perlu diceritakan kisah keluh kesahnya, hehe…pokoknya tau-tau kami sudah sampai di daerah peradaban. Maksudnya peradaban yaitu sudah tampak rumah-rumah warga lagi. Pas ngelewatin salah satu rumah warga, ada seorang ibu-ibu yang menyapa dan mengajak ngobrol. Akhirnya kami iseng bertanya di manakah Pantai Nirwana. Dan jawaban si ibu ini sangat membuat shock. Ternyata…oh ternyata…Pantai Nirwana itu ada DI DALAM Nirwana Resort. Oh. My. God. *krik* *krik* *koakkk* *koakkk*…So…dari si ibu itu jugalah gw tahu kalau pantai yang tadi kami singgahi itu ternyata…

…Pantai Legon Lele…*krik* *krik* *koakkk* *koakkk*.

Okay. Geli juga jadinya. Lagian…mana nyangka kalau ada pantai DI DALAM resort? *secara gw belum pernah masuk ke yang namanya resort?!*. Setelah ngecharge perut dengan Pocari Sweat dan aneka gorengan dari warung setempat, plus ninggal sepeda di tambal ban yang ada di depan Nirwana Resort, akhirnya kami memasuki resort itu juga Saudara-Saudara! Sungguh…rasanya plong…akhirnya…kami kesampaian juga ke Pantai Nirwana. Yang ternyata harus bayar tiket masuk Rp 12.500,-. Yang ternyata viewnya below expectation. Pantai Nirwana ini tampaknya memang cocok untuk bersantai, tapi kesan touristy-nya sudah kental banget, dengan kursi-kursi malas di tepi pantai, lengkap dengan hotel berarsitektur eksotis, pepohonan palem yang berjajar merata…hm…I’d prefer Pantai Legon Lele sih…. Tapi selera orang kan beda-beda yak… :D

Pantai Nirwana, cocok untuk relax dan menyepi…

Well, senangnya, dari hasil nyasar hari ini gw menemukan pantai Legon Lele yang cantik banget…sedihnya, ternyata ban sepeda gw yang kempes tidak bisa diselamatkan. O ya yang belum tahu kenapa, bisa baca di postingan gw sebelumnya.

“Si Merah” masuk bengkel…

Setelah berusaha berulang kali, penyelamatan ban pun dinyatakan gagal *aposih*. Asiknya, bapak-bapak pemilik tambal ban ini baik banget…dia menyuruh 2 orang anaknya mengantar kami pulang naik motor. Yeay! Terharu…baik banget ya warga di desa itu…Akhirnya acara biking Karimunjawa pun berakhir dengan pulang dibonceng motor sampai homestay dengan selamat. Hahaha~ I will never ever forget this journey. Sepedaannya, rute hardcorenya, nyusruk di pohonnya, kacang mete bakarnya, view pantainya, kisah nyasarnya, friendship storynya, kebaikan hati warganya…Thanks God You give me such a good life :)

Nongkrongin sunset udah, biking sampe nyusruk udah, makan seafood udah, nyepi di pantai udah, ngapain lagi dong di Karimunjawa? Oooo so pasti dong : island hopping and snorkeling! Yeay! Next posting yah :)

16 Comments »

Day 2 – Biking Karimunjawa : dari mete bakar sampai nyusruk di pepohonan

Si Merah yang “tidak setia”

Biking di Karimunjawa! Yap, itu tema trip hari ini. Siapa bilang Karimunjawa cuma melulu wisata laut? Hehe…Pagi ini kami menyewa sepeda gunung (ingat, kalo mau biking, jangan sewa sepeda onthel. Apalagi sepeda sayur yang ada keranjangnya. *anak SD juga tau kali*) seharga 30rb untuk 12 jam. Bisa juga sih 20rb untuk 6 jam. Tapi kami berencana biking sampe malem keliling pulau gitu… ;p *yang ternyata nggak kesampean*.

Kami mulai mengayuh sepeda ke arah timur. Masih di daerah perkampungan penduduk, jalannya lumayan bagus, lurus dan nggak menanjak. Asik juga bersepeda di pagi hari, matahari masih hangat-hangat tai ayam, udara bersih segar tanpa polusi, dan burung-burung yang bercicit-cuit…jadi…mengantuk *lhoh* wkwk… Sempet beristirahat di emperan rumah warga, dan menemukan anak cantik nan unyu-unyu, oh I’m falling in love~

Bocah unyu asli Karimun~ (lihat foto bocah2 unyu lainnya di sini)

Beberapa kali bertanya pada warga sekitar, semuanya menyebut Pantai Nirwana yang menjadi tujuan kami itu dekat. Tapi kok…nggak sampe-sampe yah…kami sudah melewati Nirwana Resort, tapi masih belum muncul juga penampakan pantai, sementara jalan makin berbukit-bukit, lumayan menguras tenaga ditambah lagi dengan sinar matahari yang mulai menyengat kulit, akhirnya kami menyerah dan beristirahat di pinggir jalan di depan ibu-ibu yang sedang memecah batu.

Nggak lama, datang sekelompok pemuda Karimun dalam mobil pick up yang akan mengambil batu-batu hasil keringat si ibu tadi. Mas-mas ini sangat ramah, dan mereka menawarkan seplastik buah mete yang sebelumnya mereka kumpulkan. Lho kok mete guedhe banget? Ternyata mete itu masih di dalam “cangkang”nya. Cara makannya gimana dong? Dibakar dulu ternyata. Seorang mas-mas dengan cekatan mengumpulkan daun-daun kering dan ranting dari sekitar, kemudian menyalakan api. Mete-mete itu ditumpuk begitu saja di atasnya. Mereka melarang kami pergi sebelum mencicipi mete bakar tersebut. Penasaran, kami pun memperhatikan dengan seksama. Eh, bener aja, buah mete yang awalnya berwarna coklat itu akhirnya jadi gosong. Lalu cara makannya? Ditumbuk dulu pake batu sampai “cangkang”nya pecah! Voila! Tampaklah mete panggang dengan warna coklat keemasan! Aromanya? Jangan ditanya…harum banget! Aaa…sungguh mete terenak yang pernah gw makan…*gratis pula ;p* Lucunya lagi, setelah selesai membakar  mete untuk kita, mereka malah pergi mengangkut batu, dan meninggalkan kami dengan mete-mete ini, hihi…jadi dimasakkin nih ceritanya :D

Ladies and gentleman, please welcome…Mete Bakar asli Karimunjawa!

Puas ngemil mete di pinggir jalan, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah tragedi berdarah terjadi. Gw dengan pedenya meluncur di jalan yang curamnya kira-kira 60 derajat. Awalnya asik, kaya naek roller coaster gitu…pake tereak-tereak kegirangan…lama-lama…loh kok ngebut banget kaya terbang?! Loh kok nggak mungkin bisa ngerem?! Loh kok ujung jalannya belokan ke kanan?! Loh kok nggak mungkin bisa belok ke kanan?! Mampus Mak!! Mengikuti insting, sontak gw banting setir ke kiri (karena kanan jurang), menabrak pepohonan…widih…nerobos pohon deh gw, brak bruk brak bruk krosak krosak…serasa kaya di game gitu…dan berakhir dengan nyusruk muka mencium tanah. Hore! Sepeda njumpalit, pergelangan tangan kiri keseleo, muka, lengan dan kaki memar dan lecet-lecet. Siapa bilang dokter ngga bisa luka-luka? Dokter juga manusiaaaaa~

Udah nyusruk pun teteup eksis!

Okay. Udah luka-luka. Terus? (Gw musti bilang WOW?) Pulang? Nangis sama mama? Minta dijemput ambulans? Ya nggak lah yauw…hahaha…the show must go on, pokoknya harus nemu yang namanya Pantai Nirwana! Eh…bikernya udah semangat ’45 berkobar-kobar gini, malah sepedanya yang loyo. Bannya kempes dong, zzz…Dasar sepeda manja *tunjuk tunjuk* *tuding tuding*! Akhirnya perjalanan biking berubah menjadi walking…plus nuntun sepeda…Setelah melalui bukit-bukit dan lembah-lembah layaknya Ninja Hatori, sebuah view cantik menyambut kami…

Amazing view…nggak nyesel biking sampe nyusruk! :)

Uuuuuuu…….~ Pergelangan tangan yang mulai membengkak cenat cenut layaknya anak ABG ditembak anak SM*SH pun jadi nggak begitu terasa nyeri…

Terus berjalan…berjalan…dan berjalan…

sampai akhirnya…kita disambut oleh pantai perawan yang…sungguh…sungguh…indah…

…yang ternyata BUKAN Pantai Nirwana. *gubrak*

Lha, terus pantai apa dong? Pantai yang lebih bagus dari Pantai Nirwana so pasti!

Penasaran penasaran? Ih kepo deh…Hehe. Nggak papa, pantai yang satu ini emang pantas dikepoin…Why? Cekidot di posting selanjutnya tentang pantai perawan di Karimunjawa…Pantai Legon Lele.

2 Comments »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 320 other followers