Thai Massage at Phuket – it should be on your Itinerary right away!

Thai Massage. Ya, selain pantai, gajah, street food, nightlife, apalagi yang menarik dari Thailand? Thai Massage. Sangat mudah menemukan tempat pijat atau spa yang menyediakan Thai Massage di Bandung. Salah satunya di Healthy Land di jalan Dago. Tapi pernahkah Anda mencoba Thai Massage asli di negaranya sendiri? Yap! Kalau belum, maka masukkanlah agenda untuk ber-Thai Massage ria apabila Anda memang berencana mengunjungi negara Gajah Putih ini.

Apa sih Thai Massage?

Thai Massage sendiri sudah berusia lebih dari 2500 tahun yang lalu, diperkenalkan oleh biksu Buddha di Thailand sebagai salah satu metode terapi. Perbedaan Thai Massage dari jenis pijat lainnya seperti pijat tradisional Jawa atau Tuina misalnya, adalah pada tekniknya. Thai Massage menggunakan teknik passive stretching dan gentle pressure pada tubuh di titik-titik tertentu. Maksudnya? Bahasa gampangnya sih badan kita “ditarik” dan “ditekan”. Beda dengan pijat akupressur Tuina misalnya, yang hanya menggunakan teknik penekanan, pada Thai Massage ini selain penekanan, juga dilakukan stretching. Manfaatnya untuk melepaskan tegangan otot dan menjadikannya lebih fleksibel, dan tentunya, lebih sehat. Perbedaan lainnya dengan pijat tradisional, pada Thai Massage kita tidak perlu melepas pakaian, cukup menggunakan baju dan celana panjang yang longgar. Dan tidak menggunakan minyak. Terapis akan menekan dan menarik bagian-bagian tubuh kita, mirip stretching saat senam lantai. Bahkan badan kita pun akan diinjak-injak. Hihi…

Salah satu gerakan Thai Massage


Ditarik-tarik seperti ini, dijamin rileks…

Sekian deh info singkat tentang Thai Massage. Next gw mau share pengalaman gw Thai Massage di Phuket. Yap! Thai Massage di origin country-nya. How fascinating it can be? :D Jauh-jauh hari sebelum gw berangkat, agenda Thai Massage ini sudah langsung masuk ke Itinerary tanpa ba bi bu. Bahkan gw serius banget browsing tempat massage yang enak di Phuket, membaca belasan blog sampai Trip Advisor juga nggak ketinggalan. Tentunya rugi dong udah jauh-jauh ke Thailand kalau ngalamin Thai Massage yang abal-abal? Hehe…so…hasil pencarian gw pun berakhir pada…Sovrana Spa. Gw dapet info tentang Sovrana Spa ini dari salah satu blog. Menurut penulisnya, Thai Massage di sini sangat memuaskan dan bikin dia pengen balik terus. Plus, Sovrana Spa ini punya review yang bagus di Trip Advisor. So, worth trying right? ;)

Lokasi Sovrana Spa sendiri sangat gampang ditemukan, berada persis di depan Jungceylon Mall. Dari depan plangnya sangat kecil, gw nemu tempat itu juga secara nggak sengaja pas lagi jalan-jalan di depan Jungceylon…hehe. Dari depan sih tampak kecil, tapi pas masuk ke dalam, wow, ternyata luas dan bersih. Tempat massage dibagi 2, untuk pijat refleksi kaki di lantai 1, sedangkan Thai Massage di lantai 2. Saat itu gw ambil Traditional Thai Massage. Selain itu, ada juga After Burn Massage lho! Gw sangat curious pengen nyoba tapi gw pikir yah itu cocoknya untuk bule kali ya, biasanya kan kalo bule sunbathing kulitnya bisa sampe parah merah membara gitu, hehehe…Katanya sih After Sun Massage ini pakai lotion Aloe Vera. Next time kali yah. So…back to Thai Massage. Ruangan di tempat pijat ini sangat nyaman, remang-remang, tapi remang-remang elegan loh bukan remang-remang xxx hehe. Antara 1 bed dengan bed lainnya dibatasi oleh tirai. Terapisnya pun sangat ramah meskipun tidak banyak berbicara. Ya iyalah, lu kira gw mau pijet apa mau curhat? Hehe. Gw berganti pakaian yang diberi si terapis, berupa kaos dan celana panjang longgar. Gw berbaring rileks ditemani musik-musik berirama slow ala Thailand. Pijatan dimulai, dengan tekanan-tekanan ringan, dan disertai stretching, tarikan-tarikan yang aduhai, membuai, beneran gw sampai terkantuk-kantuk tapi sangat puas, apalagi badan gw ditekuk sedemikian rupa sampai bunyi “kretek-kretek”. Ow…that was a great feeling! Rasanya lelah sehabis berkano dan berenang lenyap sudah.

Thai Massage juga disebut sebagai Passive Yoga.

Meskipun travelling ala backpacker sekalipun, menurut gw tetep kudu lah nyoba Thai Massage, dan gw rekomend sih ambillah Thai Massage di hari-hari terakhir trip, pijat ala Thai akan menjadi penutup trip yang indah… Well, seselesainya massage gw bener-bener merasakan segar bugar seakan tubuh baru dicharge. Sovrana Spa ini recommended banget lah buat yang mau menikmati Thai Massage yang “private”. Banyak juga sih tempat pijat di Phuket yang menawarkan Thai Massage, ada yang terbuka, ada yang nampak dari luar, ada juga yang di pinggir pantai. Mana yang Anda suka? Tinggal pilih :D

~happy travelling, happy soul, happy mind, happy body~

Thai’s and Malaysian Food : Which one do you like?

Tiga hal yang gw nikmati selama perjalanan : 1. View 2. Culinair 3. Culture

Selama seminggu di Malaysia dan Thailand, gw menemukan banyak makanan baru yang tasty, unique, yang jelas rasanya quite different from Indonesian food…just wanna share it anyway:D

Thai’s food.

Khao Niao (Sticky rice/ketan manis dengan semacam topping dari gula aren). Deliciously sweet!

Banana Chocolate Pancake. Bisa ditemui di sepanjang tepi jalan Patong.

Mango Sticky Rice. Cemilan khas Thailand.

Tom Yum Goong Nam Khon (Creamy Tom Yum Kung).

This one is creamy, sour and spicy. The best!

Pineapple Fried Rice. Beware : kulitnya nggak bisa dimakan XD

Pad Thai. Mirip kwetiaw di Indo. Spicy.

Buggar. I forget the name of it. Mirip lodeh.

Mix Seafood Pad Thai. Masakan Thailand sering menggunakan bubuk kacang.

Telur Pitan. Thousand years Egg. My favourite egg.

Pork Noodle. The best pork noodle ever.

Prawn Fried Rice. Spicy. Large portion. Halal.

Street food. Fried Dumplings. Cheap and yummy. Nagih!

Bakpia raksasa isi kacang ijo+potongan kecil timun. Unique. Krenyes-krenyes.

Kungfu Chef in action. Sreng osreng osreng!!

Aneka gerobak Street Food

Malaysian’s food.

Ordinary Kopitiam, similar with Indonesian.

 Penang Kwetiau. Nothing special.

Pork. Small portion :(

Sesame Pork. Nah ini uenak banget…. :D

Roti Cane Asin. Pake celupan kuah kari. Karinya strong banget. Kaya kuah rendang.

Roti Cane Manis. Pake susu. Manisnya pas…makannya disobek-sobek pake tangan. Enyaaakkk!

Kesimpulannya, lidah gw sih lebih cocok ke masakan Thailand. Spicy, tasty, soury. Masakan Malaysia rata-rata hampir mirip masakan Indonesia, hanya saja lebih berbumbu kari. No surprise…Hehe…well, semoga saja gw bisa berkeliling icip-icip lagi next time. My taste bud always craving for more and more unique food! :D

PS : untuk para pecinta travelling dan kuliner, coba buka link Turnamen Foto Perjalanan ini deh, banyak banget foto-foto kuliner dari berbagai daerah yang pastinya unique dan hmmm…slurpy!

Day 7 – Last Day at Phuket

Hari terakhir di Phuket. Pagi itu gw terbangun dengan hati berat. Nggak rela rasanya meninggalkan Phuket yang indah ini. Masih ingin rasanya berbaring-baring santai di pantai. Masih belum puas rasanya mencicipi gemerlapnya Bangla Road. Masih banyak tempat yang ingin gw kunjungi. Sayang liburan singkat ini harus berakhir. Sebelum check out, gw menyempatkan diri berenang di lantai 5 hotel. Nggak mau rugi. Hehe. Kolam renang di Santi White Hotel ini sangat bersih, meskipun sayang ukuran kolam yang tidak terlalu luas. Tapi cukuplah untuk pemanasan di pagi hari.

Di hari terakhir ini jadwal kami yaitu mengunjungi Jungceylon Mall. Berburu oleh-oleh tentunya. Katanya sih di mall ini malah lebih murah daripada toko-toko yang berjajar di Patong. Gw sempat membandingkan harga kain Thailand…hemmm…memang lebih murah di Jungceylon sih. Dan lagi…toko-tokonya buanyaaakkk banget sampe pusing deh, mana budget terbatas. Bahkan gw sempet nuker 200.000 rupiah gw ke Baht. Which is…rugi 50.000 perak! Dan nuker 50 RM gw yang tersisa. Sial. Haha… sial banget di saat kritis kehabisan uang untuk oleh-oleh, malah uang Dollar cadangan yang gw siapin malah ketinggalan di hotel. Argh! Ya udah deh ngerelain rupiah gw. Kurs nya di sana 1 THB = 200 Rp aja. Fiuh…sayang ya. Hati-hati aja kalau shopping di Jungceylon. Barang-barangnya lucu-lucu bangeeeetttt….gw dapet gantungan kunci gajah-gajahan dari kain yang lucu banget, kaos “I love Phuket”, kaos bergambar gajah Thailand dengan motif timbul, dan…yang paling gw suka…kain sarung bermotif gajah-gajah Thailand yang unik banget, Thailand banget. Hehe…nice. Oh iya. Dapet tas kain motif gajah juga. :D Hedeuh…niatnya mau beli oleh-oleh malah akhirnya lebih banyak beli buat diri sendiri, hahaha…gak nahan sih lucu-lucunya… *blush*

Pose di depan Jungceylon Mall

O ya kami sempat makan di foodcourt mall ini. Sistemnya pake cash card kaya di BSM gitu. Jadi uang kita ditukarkan dengan kartu yang diisi saldo sejumlah uang yang kita berikan, nanti beli-beli makanan tinggal nyerahin kartu itu ke penjualnya, dan sisa saldonya nanti bisa diuangkan lagi cash kok kalau kita mau keluar foodcourt. Di sini gw akhirnya nemu Mango Sticky Rice yang diidam-idamkan sejak sebelum berangkat. Yummy banget…gak nyangka mangga dan ketan ternyata berjodoh…nom nom…rasanya manis-manis seger. Si mangganya bikin sticky rice jadi ngga eneg…

The Famous Mango Sticky Rice

Ini Prawn Fried Rice yang gw pesen. Uenakkkk tenan! Nom nom…happy tummy

Beres makan dan borong oleh-oleh, kami bergegas balik ke hotel, karena harus packing dan ngejar flight jam 19.20. Ternyata packing kepulangan jauh lebih ribet. Maklum, barang-barang bertambah satu gembolan. Hehehe… mana untuk kepulangan kami hanya memesan 1 bagasi untuk bertiga hihi…maklum, pake Air Asia…

Untuk airport transfer kami memesan mini van melalui hotel. Harganya 150 THB perorang. Bandaranya ada di Phuket Town. Not bad lah ya…pretty cheap. Bisa juga naik bus dengan 20 THB saja menuju Phuket Town, tapi quite risky sih hehe…takut telat. Btw, kami dijemput mini van pukul 16.30, dan udah dag dig dug der aja takut telat, hehe…tapi ternyata sampai bandara kami masih punya banyak waktu untuk makan, luntang lantung dan keliling-keliling toko-toko di dalam bandara. Aje gile mahal-mahal makanan di sana. Saran gw, makanlah sekenyang-kenyangnya sebelum ke bandara, di sana kami kelaparan, dan segelas mi instan dihargai 100 THB, sori aja, hahaha…akhirnya kami makan paket hotdog Dairy Queen, sekitar 150 THB. Swt…tapi nggak nyesel sih, karena ngenyangin banget. But still…nyesek juga sih. Bisa dapet Prawn Fried Rice lagi tuh dengan harga nggak nyampe segitu. Dan dan…akhirnya duit udah ludes des, tinggal 30 THB saja, horrreee…

Suasana di dalam Phuket Airport

Drooling around Duty Free shops

Pesawat kami didelay 30 menit, yeah, no complain…namanya juga low cost carrier. Anyway…flight selama 3 jam berjalan mulus…gw pun turun di Soetta…dengan perasaan masgyul. Back to ordinary life again. But with lot of unforgettable memories…Yang jelas…perjalanan ini bikin gw ketagihaaaannnn…..! Hehe. Sampai tulisan ini ditulis pun gw udah megang 2 tiket promo ke Singapura bulan Januari dan Mei 2013, plus 1 tiket promo ke Bali bulan Januari 2013. Thanks to Air Asia, gw dapet tiket pp Bdg-Singapura cuma 600rb untuk bulan Januari dan 300rb untuk bulan Mei. Ke Bali? Pp 400rb saja! Yipeee…can’t wait for those trips next year.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Well,

Working, Saving, Eating, Travelling, Writing.

And my life turns out to be more and more colorful…

 

~end of my first trip abroad~

Day 5&6 – Nightlife @Bangla Road

Dancer lokal @Bangla Road

Good guys go to Pattaya, bad guys go to Patong. Yap! Patong memang “surga”. Pantai, bar, alkohol, dugem, dan ”ayam-ayam” cantik. Inilah “surga dunia”, yang berpusat di Bangla Road. Di sepanjang Bangla Road ini berjajar bar-bar, diskotek, dan bermacam-macam “show”, termasuk Agogo Show dan PingPong Show. Suasana di jalan ini sangat crowded, semakin malam semakin “panas”. Datanglah sekitar jam 10 atau 11 malam untuk mendapatkan “feel” yang tepat. Di mana bar-bar sudah mulai “bergoyang” dan sibuk menjajakan show dan minumannya. Di beberapa bar terdapat tiang-tiang yang sudah dipenuhi “ayam-ayam” berpakaian minim, berlenggak lenggok sesuka hati. Yang lebih menarik perhatian adalah “ayam” yang berjoget di balik kaca yang terletak di lantai 2 bar, tentunya di tiang juga.  Gw perhatiin kalau “ayam” yang ditampilkan di balik kaca ini kebanyakan bule. Mungkin nilainya lebih tinggi dibandingkan “ayam” lokal yang ditampilkan rame-rame di lantai bawah. Selain cewek-cewek “ayam” tadi, di tiap bar juga memajang cewek-cewek yang tugasnya menjajakan barnya masing-masing. Mereka sibuk menawarkan minuman dan show-show ke turis-turis yang lewat.

Suasana Bangla Road yang very crowded

Shownya sendiri bermacam-macam dan buanyak banget namanya, saya sih Cuma nangkep “pingpong show” dan “banana show”, yang lainnya nggak gitu merhatiin deh, secara list-nya aja 1 halaman HVS sendiri dengan tulisan kecil-kecil, hehe, nggak kebayang deh rincian tiap-tiap shownya gimana. Kami sempet masuk ke salah satu show. Ini juga karena nggak mau rugi, udah sampai ke Patong masa nggak nonton show-show nya yang terkenal itu? Hehe…Sempet bingung banget mau masuk ke show yang mana, karena gw sama sekali nggak browsing sebelumnya tentang harga-harga show ini (sebelum pergi sih sama sekali nggak niat nonton setelah baca rincian tentang PingPong show yang katanya mempertunjukkan cewek-cewek yang mengeluarkan benda-benda aneh termasuk silet dari vaginanya *yaiksss!*). Apalagi kami bertiga cewek semua. Rasanya rada awkward aja gitu, nonton show yang isinya cewek juga…zzz…ngapain juga gitu yah jeruk nonton jeruk, hahaha…Tapi  setelah di sana, penasaran juga! Setelah celingak celinguk nggak jelas, akhirnya kami ditawarin masuk ke salah satu show, dengan embel-embel “free show, see first, if you don’t like it don’t pay”…kalau suka pun tinggal nongkrong di dalam dan beli minuman saja. Yeah! Cocok nih buat gw yang nggak mau rugi, hehe. Dianter si abang-abang yang menawarkan tadi ke lantai 2 tempat show berlangsung. Gw nggak tau nama shownya apa. Nekat aja. Modal penasaran. Mumpung free. Ternyata di dalam ruangan yang gelap itu udah ada banyak orang. Hampir semua cowok. Apa semua cowok ya? Nggak jelas juga, wong gelap. Dan…di depan ruangan ada sebuah panggung dengan cahaya remang-remang. Seorang cewek bugil berdiri di atas panggung, dengan wajah mematung dan sedang dilukis payudaranya oleh seorang cewek lainnya. Heh??!! Cuma gini doang? Batin gw. Gw melirik ke sekitar ruangan. Cowok-cowok yang lagi menonton pun menujukkan ekspresi sama. Mematung menatap cewek bugil itu. Sambil minum Chang (beer Thailand). Eh??!! Kok gini doang sih? Kecewa gw. Hahaha…Gw kira shownya semacam tari striptease atau apa gitu (meskipun gw berharap bukan show yang mengeluarkan benda-benda aneh dari vagina sih…). Yah ternyata cuma gitu doang. Nggak sampai 5 menit kami memutuskan untuk keluar. Hahaha…apes deh. Shownya pas yang nggak mutu. Apa karena gw cewek ya, makanya nggak tertarik? Hehe… Lain kali harus bawa cowok nih kalau mau nonton show beginian. Kalau cewek-cewek semua rasanya awkward banget sih, hihihi…mungkin karena kami semua cewek baik-baik kali yah *wink*, hihihi…

Salah satu Agogo Show di Bangla Road

Russian Dancer @L’Amour

Penari tiang di salah satu bar

Suasana di Bangla Road sendiri, pas banget buat cuci mata. Bule semua cing! Turis Asia kebanyakan juga Korea. Khas dengan baju couplenya, hahaha…Lampu neon bar yang berwarna-warni diiringi musik ajeb-ajeb, suara keramaian orang dan alkohol yang melimpah di sana sini memang membuat euforia yang memabukkan. Sampai sekarang pun gw selalu merindukan suasana Bangla Road yang hingar bingar itu. Di sana, untuk sesaat, hidup terasa lebih  bebas dan lebih mudah. Untuk sesaat, alkohol dan musik hingar bingar memang bisa menjadi pelarian yang  indah.

Salah satu sudut Bangla Road yang dipenuhi Agogo Show Bar

Harga minuman di bar-bar yang ada di Bangla Road sangatlah murah. Bayangkan, untuk segelas cocktail Sex On The Beach, Pina Colada, Broken Heart, Chivas with Coke dan sebotol beer Chang, hanya merogoh kocek kira-kira 500 THB saja. Bandingkan dengan di Indonesia, dengan harga segitu paling cuma dapet 2 atau 3 jenis minuman maksimal. So, seperti yang gw bilang, what a “heaven”, right?

Look at the price! Plus all cocktail buy 1 get 1 !

Note the pricelist! Pretty cheap. Plus all cocktail buy 1 get 1 too.

Sex On The Beach

Chivas with Coke

Masing-masing bar pun berlomba-lomba menawarkan hiburan untuk tamunya. Ada yang menyediakan berbagai permainan, karaoke, dancer, dan tentunya waiter-waiternya yang juga berfungsi sebagai “host” dan ikut menghibur para tamu dengan mengobrol atau ikut serta dalam permainan. Permainan yang gw sempat lihat yaitu memukul paku yang tertancap di atas piringan kayu dengan palu. I just don’t get it. What’s the point? Hahaha…Entahlah. Karena  gw nggak ikut main jadinya ya gw nggak ngerti :p Selain itu ada juga games saling memecut tubuh dengan sebuah karet panjang yang cukup tebal. Bisa di bagian punggung, perut, bahkan wajah.  Mungkin ini dimaksudkan sebagai “hukuman” kali ya. Eeww…jadi rada sadomasokis gitu, hihihi… :D

Dua hari berturut-turut kami nongkrong di bar yang ada di Bangla Road. Bar pertama L’Amour, pretty cheap, minumannya oke (all cocktail buy 1 get 1), dan kami dapat spot tepat di tepi jalan. Yang nggak terlupakan, kira-kira jam 12 malam hujan mengguyur Bangla Road. Jadilah kami menyaksikan turis-turis yang berlari-larian di tengah hujan, berteduh ke bar-bar  terdekat. Jalanan langsung kosong seketika. Itulah kedua kalinya gw melihat jalanan Bangla Road dalam keadaan kosong. Yang pertama kali saat pagi hari saat hari pertama kami di Patong. Luckily, hujan deras menahan kami di L’Amour lebih lama, yang berarti memungkinkan gw untuk mencoba minuman lebih banyak, fufufu…*tertawa licik*. Bar kedua Absolut Vodka lebih comfy, di sini gw nemu cocktail Broken Heart yang uenak banget, the best cocktail so far, hehe…cocok banget buat yang patah hati nih…saat nongkrong di bar kedua ini kami “diusik” terus oleh seorang bule ganteng, sampai akhirnya Vivi yang beruntung diajak berfoto dengan si bule, hihihi…lucky you! :D

Broken Heart : menghibur hati yang patah. Xixixi…

Chang Beer khas Thailand, kudu nyoba!

Begitu diguyur hujan baru kosong! XD

Nongkrong di Bangla Road sendiri pretty safe buat cewek-cewek, tapi sebaiknya sih emang jangan sendirian ya, gw sempet baca di salah satu blog, ada solo backpacker dari Indonesia yang “ditawar” sama bule di sana, hihi, dikira orang lokal kali ya. Selain dunia gemerlap yang ditampilkan Bangla Road, gw menemukan beberapa fenomena menyedihkan. Di antara tawa dan minuman keras, ada anak-anak kecil dan nenek-nenek yang hilir mudik di jalanan Bangla Road untuk menawarkan barang jualannya. Mostly souvenir. Ada juga yang berupa kalung rangkaian bunga. Jangan terkecoh dengan penjual kalung rangkaian bunga ini, karena mereka tampaknya seperti akan memberi Anda rangkaian bunga ini for free dengan langsung mengalungkannya di leher Anda. Tapi jika Anda menerimanya, maka dia akan langsung meminta bayaran. Hahaha…tricky banget ya. Begitulah. Gw nggak habis pikir ada anak-anak kecil yang tengah malah ngider berjualan di Bangla Road. Hey! Pemandangan yang ada di sini 17++ lho! Somehow gw ngerasa miris aja ngeliat realita betapa dekatnya anak-anak itu dengan kehidupan malam, demi menyambung hidup…lebih miris lagi liat nenek-nenek yang jualan. Gile, tengah malam gini nenek-nenek itu harus berkeliaran di Bangla Road dari bar satu ke bar lain…miris gila…Di saat gw duduk menikmati kesenangan dan menghabiskan 500 THB, anak-anak kecil dan nenek-nenek itu harus bekerja keras dengan penghasilan yang mungkin tak seberapa. Mungkin ini salah satu cara Tuhan mengingatkan gw untuk menghargai hidup yang gw punya…

Selain “ayam-ayam” biasa, tentunya di Bangla juga bertebaran ladyboy alias Katoey. Kebanyakan berpakaian cewek biasa, tetapi ada juga yang berkostum dan menawarkan dirinya untuk foto bersama. Entah berapa tarifnya, gw nggak berani karena mereka tampak lebih agresif daripada ladyboy Simon Cabaret. Yang jelas sih jauh lebih cantik-cantik yang di Simon ya, tapi kalau mulus sih oke lah…gw masih kalah, huks. Hahaha… Yang menarik, gw menemukan seorang ladyboy yang sudah berumur loh, lengkap dengan full costume dan full make up. Wajahnya percampuran Tessy dan Didi Kempot, hehe…plus seluruh wajahnya bopeng-bopeng bekas scar jerawat. Hmmm…kalau yang ini sih modal dandanan sama kostum doang ya, kalau tampang sih udah waktunya pensiun, hihi…Tapi tetep aja banyak turis yang berminat foto bareng dia kok. Kostumnya catchy abis! Buat cowok-cowok yang mau mencicipi “ayam-ayam”, hati-hati aja soalnya kadang susah bedain ladyboy sama cewek biasa, hihihi… :P

Pameran full-costume “tante” ladyboy

Ini dia tante ladyboy yang mirip “Tessy+Didi Kempot” XD

Weits! Kalau yang ini bukan ladyboy lho! :D

Belum ke Phuket kalau belum merambah Bangla Road. Someday, gw berharap bisa kembali ke Phuket dan mencicipi kembali hingar bingar Bangla Road yang memabukkan…and…maybe next time i should really watch the pingpong show (note : bring guys next time!).

PS :

-   Untuk yang nggak suka nongkrong di bar, di Bangla ada Starbuck dan Subway juga kok.

-   Sempet kelaperan dan beli Kebab (lagi-lagi 1 untuk bertiga) di pinggir jalan Bangla. Pesen yang chicken aja coz yang kambing  menyengat banget baunya!

-   Tiap malam ada pertunjukkan sulap di tengah jalan, dibawakan oleh seorang bapak-bapak, yang pertunjukannya sama persis selama 2 hari berturut-turut gw lihat.

-   Rata-rata tiap bar menawarkan promo buy 1 get 1, sayangnya hanya bisa untuk jenis yang sama.

-   Ada 1 bar yang memutar lagu Westlife dong! Di antara lagu ajeb-ajeb. Can u imagine? LOL!

-   Banyak pasangan suami istri bule yang membawa anak-anaknya yang masih kecil jalan melewati Bangla Road. Hehe. Bisa bayangin di Indonesia bawa anak-anak jalan-jalan ke Saritem atau Dolly? XD

Day 4 – Patong Beach

Selasa, 17 April 2012. Finally, woke up in the morning at Patong, Phuket! :D Kami bangun jam 6 pagi, dan langsung menuju Pantai Patong , yang menjadi main beach di Phuket. Kalau di Bali sih seperti Kuta-nya. Dari hotel kami berjalan sekitar 10 menit ke pantai, dan surprisingly, ternyata pantainya sepi abis. Paling hanya ada satu dua bule yang jogging di sepanjang tepi pantai (rajin amat ya, hehe)…niatnya sih kita pengen liat sunrise, eh tapi kok udah agak terang ya, dasar wanita-wanita pemalas semua, hihi… Pantai Patongnya sendiri nggak terlalu bagus, biasa aja, mirip Kuta tapi jauh lebih bersih. Jarang terlihat sampah, paling-paling cuma batok kelapa aja. Sedangkan terakhir kali saya ke Kuta tahun 2006 aja udah lumayan kotor banyak sampahnya. Di Patong ini pasir pantainya agak coklat, biasa banget sih, hehe…ombaknya juga nggak terlalu besar. Di kejauhan tampak beberapa kapal. Langit masih malu-malu, menunjukkan wajahnya yang biru muda….tssaaahhh…damai sekali rasanya hati ini.

Patong Beach in the morning

Patong Beach with a local boat

Kami berjalan pelan menyusuri tepi pantai sambil berfoto-foto narsis dan melakukan ritual wajib “alay” yang biasa orang Indonesia lakukan kalau ke pantai (I’m not sure the “bule” do this), yaitu menorehkan nama masing-masing di pasir. Hahaha…

Gini deh kelakuan alay turis Indonesia mah, hihihi.

Puas berjalan dan “keceh” di pantai, kami berjalan menyusuri main road di sepanjang pantai Patong, yang ternyata juga sangaaaattt sepi. Toko maupun restoran ternyata baru dibuka jam 10, hehe…kami kesiangan untuk sunrise tapi kepagian untuk jalan-jalan, hehe…Kelaparan, kami nemu pedagang makanan keliling yang unik, kami jajan Bacang, Cakweh (di sana juga ada ternyata), dan satu lagi jajanan khas Thailand yang dinamakan “Kao Niau” (i’m not quite sure how to write it), ini semacam sticky rice yang ada Honeymoon Dessert. Sepertinya pake beras ketan dan gula, manis gitu, topping di atasnya manis seperti rasa gula aren. Yummy, i like it! Hard to describe it, liat aja fotonya di bawah ya, hehe…Harga jajanan-jajananynya murah meriah, sekitar 10-20 THB saja. Lumayan untuk ganjel perut di pagi hari.

Street food sarapan kami di Patong

“Kao Niau” *sorry if i write it wrong*

Finally, touch down Patong! XD

Jalanan sepanjang Pantai Patong juga persis seperti di Kuta, berjajar cafe-cafe dan bar, yang masih tutup pagi itu, hahaha…dari main road, kami berbelok ke kanan, yang ternyata Bangla Road yang terkenal dengan nightlifenya itu. Berjejer bar-bar yang menarik, ada yang disertai tiang-tiang untuk dance, agogo show, etc…nggak sabar rasanya pengen ke sini malam hari nanti XD Pagi ini sih cuma bisa gigit jari aja…ya iyalah, dancer-dancernya aja kali baru mulai molor pagi ini, hahaha…Bangla Road ini  ternyata sangat pendek, paling sepanjang Jalan Braga kalau di Bandung.

Salah satu bar-resto di main street Patong

Salah satu bar @Bangla Road, pagi-pagi mah msh tutup, hihi.

Belok kanan dari Bangla Road yaitu Rat-U-Thit Road, pusat kuliner di Patong. Berjajar restoran-restoran, yang tampaknya sih pricey. Lagi jalan santai tiba-tiba si Irene kebelet boker, plus pasang tampang meringis campur semi-ngeden gitu, akhirnya mampir dulu deh ke McD setempat. Hehe…boker termahal tuh, seharga McD, hahaha…gw lupa di sini makan apa, yang jelas nggak  ada di McD Indo dan rasanya enak, hehe. Gak lupa foto sama si Ronald McD yang unik, posenya ala-ala salam Thailand gitu, ternyata si Ronald jago beradaptasi juga ya, hehe…

Sawaddee kha Ronald McDonald! :)

Setelah beres urusan boker di McD ini, kita lanjut berjalan menuju hotel, nglewatin Hard Rock Cafe juga, ih pengen deh ke sana…sayang gak kesampean…

Hard Rock Cafe @Rat-U-Thit Road

Untung sampe hotel dengan selamat, setelah agak lost gara-gara buta arah dan lupa bawa peta. Setelah mandi-mandi cantik di hotel, kami melanjutkan petualangan kami selanjutnya, yaitu ke Phuket Town. Berdasar info dari mbak resepsionis yang ramah, ternyata ada bus yang nongkrong tepat di main road Patong menuju ke Phuket Town. Bener aja, hehe…ada 2 jenis bus. Yang pertama bagus, kaya bus pariwisata mini gitu, yang kedua busnya kaya angkot raksasa, hehe…Kita naik yang kedua. Tarifnya 20 THB saja menuju Phuket Town. Kita penumpang pertama. Masih pagi soalnya…nunggu rada lama sampe bus penuh, baru deh berangkat. O ya sempet beli Chicken Kebab yang enak banget di pinggir jalan, tapi harganya 100 THB ( Damn!), akhirnya Cuma beli 1 buat bertiga. Hahaha…dasar semi-backpacker kere :P Penumpang bus hampir semuanya bule. Perjalanan ke Phuket Town ga jauh, sekitar 15 menit dari Patong (eh nyesek juga yah kmrn naik van 500 THB bertiga, naik bus Cuma 60 THB bertiga. Swt.).

Our bus to Phuket Town, 20 THB only!

And the journey to Phuket Town begins…