Indonesia in Five Colours

Capture the Colour photo blogging competition by TravelSupermarket.com is back! Again, the competition is to choose five original shots from your travel experiences, and each shot representing the colors : blue, green, yellow, white and red. Last year I also participated in this photo blogging challenge and it’s been really fun! So of course  I want to participate again this year. This time I will share five colours that represent my home country, Indonesia.

Blue : Amirul Mukminin Floating Mosque, Makassar, South Sulawesi

The tranquil Amirul Mukminin, the first floating Mosque in Indonesia

The tranquil Amirul Mukminin, the first floating Mosque in Indonesia

Built in 2009, the first floating Mosque in Indonesia, Amirul Mukminin Mosque, has been a highlight to many visitors who comes to Makassar, South Sulawesi. Located at Losari Beach, only few meters from the Fort Rotterdam and La Galigo Museum, this Mosque offers charming and tranquil beauty of its own. The picturesque blue sky as a background and sea below, matched with the ornamental light blue dome, this mosque has attracted a lot of photographers to capture the magnificent scene. Amirul Mukminin Mosque also named 99 Al Makazzary Mosque, that name symbolized one of the High Priest of Masjidil Haram, Syech Yusuf.

White : Hanoman, The King of Monkey, at Kecak Dance, Uluwatu, Bali

Hanoman, the King of Monkey in Ramayana epic

Hanoman, the King of Monkey in Ramayana epic

Hanoman, considered as the central character in Ramayana epic, which he participated in the war between Rama and the demon king Rahwana to rescue Rama’s wife, Shinta. The story has been passed from generation to generation and being as old as the Hindu itself. Now Ramayana story is commonly played in Kecak Dance, Bali. Kecak Dance, which is well-known for its mystical sense, since there’s no music played but instead use the rhytmic sound “cak-cak-cak” sung by dozens male dancers. Hanoman himself played an essential character, like a real monkey, which is fast-moving, intelligent, playful but also humble and fearless. Watching Kecak Dance itself at Pura Uluwatu, with colorful Balinese dancer wearing colorful dancing costumes, the humming sound of “cak-cak-cak”, clear blue sky above, and accompanied by the light of golden sunset, is one of the unforgettable experience in life.

Green : One Day at Rantepao, Tana Toraja, South Sulawesi

A mosque in the middle of Land of Thousand Churches, Tana Toraja

A mosque in the middle of Land of Thousand Churches, Tana Toraja

Tana Toraja is a region in the highland of South Sulawesi, also called “Land of The Dead” and “Land of Thousand Churches”. The first name is given because of the famous ritual of Torajan Funeral Ceremony, “Rambu Solok”, where they held a big feast to celebrate the death, include sacrifice dozens of buffalos and hundreds of pigs, also the tradition to “keep” the dead one mummified from days to years inside the house called “tongkonan” before the feast is held. The last is called because of the massive numbers of churches built in Tana Toraja, since most of the people are Christians. But in the middle of my random-walking through Rantepao, the capital city of Tana Toraja, I found this mosque, covered with beautiful green-coloured-dome, can’t be more serene and free as it seem. The beauty of diversity. (Also seen at Turnamen Foto Perjalanan)

Red : Toraja Traditional Woven Cloth, Sa’dan Village, North Toraja

Natural-dyed traditional cloth, handmade by women in Sa'dan Village, North Toraja

Natural-dyed traditional cloth, handmade by women in Sa’dan Village, North Toraja

This traditional cloth made by handmade-yarn from cotton that grew in local garden at Sa’dan Village, North Toraja. When I was stumbled upon this colorful clothes and motives, I hardly believe that all of this made and colored by natural sources, with only hand and weaving tools, but the fact is, it’s true. Nowadays, only small amount of women do weaving in Sa’dan Village. With the coming of massive industrialization, traditional woven fabric become threatened and leading to its extinction. Only one 83-years old lady left that still do the traditional yarn-spinning. Whereas, Torajan traditional woven fabric is considered as a high value art that should be well-preserved. The question is : Would we?

Yellow : Welcoming a New Day at Sanur, Bali

Sunrise at Sanur Beach, Bali

Sunrise at Sanur Beach, Bali

A new day, a new beginning. As the yellow flag waved freely in the middle of tranquil morning at Sanur Beach, a new excitement inside me began to rise. New day! New hope! New spirit! As the gentle wind stroked my hair, then a new me was born again. Nothing can compared the serenity of a calm sunrise in the morning, moreover the sunrise in Sanur Beach, which is considered as the most hunted place to welcoming the born of the sun once again. Boats waited to be sailed once again. Women awaked to pray and give offering to Gods once again. Children opened their black-browned eyes like a new baby born. Yellow flag waved…

And now here are my five nominees :

1. Danan Wahyu from Danan Wahyu Sumirat

2. Wira from Wira Nurmansyah

3. Halim from Jejak Bocah Ilang

4. Angga from Catatan Ransel

5. Efenerr from Efenerr

Good luck to all! ^^

~happy traveling, happy life~

Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

Ubud. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali ini terkenal sebagai cultural center of Bali. Disebut juga kampung senimannya Bali, karena banyaknya karya seni yang dihasilkan di sini. Paintings, wooden craft, glass craft, leaves craft, stone craft, bamboo craft, paper craft, semuanya ada di sini. Di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, mata seakan dimanjakan dengan keindahan karya seni buatan tangan para seniman Bali. Lukisan pemandangan, penari Bali, dewa-dewi Hindu, Sang Buddha, pura, abstrak, berbagai motif, sampai lukisan wanita telanjang pun ada. Semuanya berjejer rapi menghiasi art shop di sepanjang jalanan tersebut. Dan jangan lupa, ada juga Pasar Seni Ubud, di mana ada berpuluh-puluh toko yang menjual barang-barang seni sampai souvenir tumplek jadi satu di sini. Pecinta barang-barang nyeni dijamin kalap di sini. Untungnya saya travelling dengan budget terbatas sehingga tidak tergoda membeli koleksi barang-barang unik khas Bali tersebut. Padahal sih ngiler abis.

Solo backpacking di Ubud sangat mudah, aman, dan tentunya menyenangkan. Beda dengan suasana tempat-tempat touristy di Bali seperti Kuta atau Sanur, Ubud lebih cocok untuk menyepi, menenangkan diri, dan memperkaya jiwa. Nggak ada tuh abang-abang yang berbaris sepanjang jalan menawarkan tur atau barang ini itu atau berkomentar nakal seperti yang sering ditemui di Kuta. Suasananya yang “lebih Bali” dan masih belum banyak dikuasai toko-toko dan brand-brand asing membuat Ubud lebih terasa asli dan nyaman. Penginapan di Ubud pun rata-rata bernuansa tradisional, dengan  bungalow-bungalow kecil yang bernuansa Bali dan menghadap ke sawah. Harganya memang sedikit lebih mahal dibanding penginapan di kawasan Poppies Lane, tetapi suasana, keindahan, dan servis yang didapat pun jauh lebih oke. Saya menginap di Penginapan Danasari, Jalan Hanoman. Untuk review penginapannya, bisa dilihat di sini. Overall sih saya sangat puas dengan penginapan ini.

Mengeksplor Ubud, cara terbaik menurut saya adalah dengan menggunakan sepeda. Sepeda bisa disewa melalui penginapan atau di rental-rental yang tersedia di sepanjang jalan. Harganya sekitar 15rb-20rb/hari. Menyusuri jalanan di Ubud sangat menyenangkan, karena selain udaranya yang cenderung sejuk,jalanannya tidak terlalu padat, dan bisa menikmati art shop yang ada di sepanjang jalanan Ubud. Kesannya lebih selow aja sih, jika dibanding naik motor. Naik mobil sih nggak disarankan, mana seru…hehe. Dua hari di Ubud, inilah tempat-tempat yang worth to visit di Ubud :

1. Museum Puri Lukisan

Lokasinya di Jalan Raya Ubud, buka dari jam 08.00 – 16.00. Tiket masuknya Rp.50.000. Awalnya, gw merasa harga tiketnya overprice banget, maklum jarang maen ke museum berbayar. Rata-rata di Bandung sih masuk museum gratis, hehe. Eh ternyata…setelah masuk, gw merasa 50rb itu worth it banget. Jangan bayangin bentuk museumnya gedung tua dan kusam yang di dalamnya gelap dan berdebu ya. Museum Puri Lukisan ini gedeeeeee luassssss dan hijaaauuuu banget. Pintu gerbangnya berbentuk gapura besar gitu, dan setelah melewati gapura, gw disambut dengan pemandangan taman yang luas, hijau, banyak bunganya, plus ada kolam teratai dan pendopo Bali gitu. Wih. Spekta lah pokoknya. Asri banget! Tampak beberapa anak bule yang ganteng, cantik, dan mungil-mungil itu lagi lari-larian di taman. Beberapa pengunjung sedang asik minum welcome drink di sebuah cafe kecil di samping museum. Beberapa sedang memperhatikan pertunjukan live cara melukis di daun palem. Beberapa sedang menonton seorang wanita yang sedang duduk menenun kain tradisional, lengkap dengan alat tenun yang terbuat dari bambu.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Nah itu baru pemandangan pembuka. Gedung utama museum ini terdiri dari 3 bangunan yang masing-masing menampilkan karya lukisan dan seni dari 3 masa yang berbeda, yaitu tema Wayang Bali, Bali Pertengahan, dan Bali Modern (ada pengaruh budaya Barat di sini). Paling keren adalah gedung Wayang Art. Di sini lo bisa liat lukisan dari kisah Ramayana, Mahabharata, dan tokoh-tokoh wayang, kumplit! Lukisannya pun nggak main-main, ada yang dilukis di kain dan usianya udah tuwir banget, dari jaman masih penjajahan Belanda, dan masih bertahan sampe sekarang dong. Indah banget deh, apalagi kalo lo penyuka tokoh-tokoh Hindu, betah rasanya di dalem. Kudu banget lah tempat ini lo datengin. Terharu dan bangga rasanya liat karya seni Indonesia yang indah banget. Agak miris juga tapi setelah liat daftar buku tamu yang tebelnya kayak kamus, dan udah gw bolak-balik pun pengunjung dari Indonesia  bisa dihitung dengan tangan. Miris! O ya selain lukisan, ada juga wooden crafts yang keren-keren di sini. Yang paling gw inget adalah patung berjudul “Senggama”. Nice banget pokoknya patungnya :D Btw, di dalam gedung museum nggak boleh memotret ya, jadi kalo penasaran silakan kunjungi museum ini ^^

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

2. Museum Renaissance Antonio Blanco

Puas menikmati karya seni asli seniman Bali, sekarang saatnya menikmati karya seni seniman luar negeri yang akhirnya tinggal menetap di Ubud. Don Antonio Blanco adalah seniman asal Spanyol yang menikah dengan penari Bali, akhirnya banyak menghasilkan karya seni aliran Renaissance yang kebanyakan bertema Bali (ehm, lebih tepatnya lagi wanita Bali). Lokasinya  di Jalan Campuhan, lumayan juga sih jauh dan naik turun bukit gitu. Tapi pemandangan menuju ke sananya edan keren abis…pohon-pohon rindang sepanjang jalan, udara yang sejuk dan bersih…ihik…kaki pun nggak kerasa pegel meski harus gowes di jalanan yang naik turun. Sama seperti Museum Puri Lukisan, Museum Antonio Blanco ini pun sangat asri, meski luas tamannya tidak sebesar Museum Puri Lukisan, tapi yang mencengangkan di sini adalah bangunan museumnya itu sendiri. Arsitekturnya luarnya bergaya Bali, tapi pas masuk interiornya ala-ala Spanyol gitu. Yaa…kaya rumah-rumah Eropa gitu yang ada kubahnya mewah, pilar marmer, plus sofa-sofa nyeni yang empuk. Lukisannya mayoritas wanita nude. Yes,bugil, naked, tak berbusana. Tapi meskipun nude, sama sekali nggak vulgar, meskipun erotis tapi berkesan nyeni. Bahkan ada lukisan wanita masturbasi segala loh, sampe shock gw -______-  Uniknya lagi, tiap lukisannya dipigura dengan pigura yang dibuat khusus untuk lukisan itu, misalnya lukisan wanita nude dengan highheel biru, di piguranya ada dong patung highheel biru. Ya, custom made gitu deh masing-masing piguranya, plus ada ukiran “Blanco” di piguranya. Keren banget deh. Nggak kebayang lukisan Renaissance itu kayak apa? Kira-kira gini deh salah satu karya beliau :

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan?

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan? (taken from this site.) 

Selain menikmati lukisan, di tamannya juga ada burung-burung yang jinak dan lucu-lucu, salah satunya kakaktua yang putih berjambul kuning dan kakaktua warna-warni kayak di Faber Castle itu loh (ups, nyebut merk). Bisa foto juga sama burung-burung itu.

Parrot "Faber Castel" warna-warni lagi akrobat ^^

Parrot “Faber Castel” warna-warni lagi akrobat ^^. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Plus, ada juga gallery di mana kita bisa berfoto pura-pura lagi melukis, lengkap dengan palet cat nya. Hehe…asyik kan? Tiket masuknya untuk Indonesian sih Rp 30.000, untuk foreigner Rp 50.000. Worth it banget! Dapet welcome drink pula… ^^

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

3) Watching Balinese Dancing

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Ke Bali masa sih nggak lihat pertunjukan tari Bali? Nah di Ubud ini, ada banyak sekali tempat yang menampilkan pertunjukan tari Bali setiap harinya. Yang paling terkenal yaitu di Ubud Palace (Pura Saren Ubud). Tapi saat itu sudah tampak turis yang berjejalan di sana, sehingga saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Tari Barong di Pura Saraswati (Lotus Pond) saja. Lokasinya nggak jauh dari Ubud Palace. Harga tiketnya Rp 80.000, pertunjukan dimulai pukul 20.00, berlangsung selama 1 jam. Lumayan mahal memang, tapi pertunjukannya cukup menarik, tari yang ditampilkan terdiri dari beberapa jenis, yaitu diawali tari pembukaan, Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Nelayan, Orkestra Musik Gamelan, Tari Baris Tunggal, Tari Nyamar, dan diakhiri dengan Tari Barong Macan. Kapasitas penontonnya nggak banyak, hanya sekitar 30-an, dan saat itu SEMUAnya foreigner. Gw celingak celinguk ke segala arah dan hampir semua bule, dengan berbagai bahasa dari Inggris, Jerman, Perancis, Italia. Penonton Asia hanya gw seorang dan sepasang couple yang berbahasa Cina entah dari mana. Penonton di sebelah gw seorang Amerika yang pindah dan menetap ke Ubud sejak dikeluarkan dari pekerjaannya, 20 tahun yang lalu, dan sampai sekarang pun dia masih senang menonton pertunjukan tari Bali. Ups, gw aja br pertama ke Ubud dan kedua kalinya melihat tari Bali. Heuh. Malu deh sama bule.

Beautiful Balinese Dancer

Beautiful Balinese Dancer

Tari Kebyar Duduk

Tari Kebyar Duduk

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

4) Biking ke Tegalalang

Si biru teman suka dan duka ^^

Si biru teman suka dan duka ^^

Well, jangan bayangin adegan bersepeda cantik ala Julia Robert. Karena ternyata track biking ke Tegalalang ini lumayan melelahkan, naik turun bukit, apalagi ditambah dengan terik matahari, wih, lupain deh adegan bersepeda pake rok unyu-unyu kaya Miss Julia Robert :D Gw sendiri nggak tau pasti seberapa jauh perjalanan dari Jalan Hanoman ke Tegalalang, tapi yang jelas gw menempuhnya dalam waktu sekitar 2 jam bersepeda. Meskipun berpeluh keringat plus nafas tersengal-sengal, but, again, it was worth it. Pemandangan Tegalalang dengan sawah-sawahnya yang cantik memang indah. Meskipun, jujur, karena dulu gw sering main ke Baturaden dan daerah Gunung Slamet sana, sawah sih buat gw sudah jadi pemandangan biasa. Atau mungkin gw udah tepar dulu dengan perjalanannya makanya jadi nggak begitu excited, hahaha…But the feeling “Hey, I did it!” itu yang bikin worth it. Yang bikin gw terkesan sampai sekarang yaitu saat melewati jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan, dan ada semacam kanopi yang melintasi jalan, yang terbuat dari dahan-dan dan daun dari pohon itu, wogh, beautiful! Sawahnya? Bagus sih, tapi karena gw datang saat musim panen jadi buka lautan hijau sawah tapi lautan kuning kecoklatan, hehe…but still, you should try biking to Tegalalang, at least once. Lelah melewati bukit-bukit,saat perjalanan meninggalkan Tegalalang gw menyerah, menggunakan jalan raya. Gw melewati Jalan Raya Tegalalang, desa Petulu, desa Peliatan, Jalan Raya Goa Gajah, sampai akhirnya berlabuh ke Bebek Tepi Sawah. What a beautiful ending.

One of unique place at Tegalalang

One of unique place at Tegalalang

5) Bebek Tepi Sawah

Crispy Duck, nom nom nom...

Crispy Duck, nom nom nom…

Yeap, selain Bebek Bengil, masakan bebek yang harus dicoba di Ubud adalah Bebek Tepi Sawah. Di Ubud, lokasinya bener-bener di tepi sawah, suasananya oke banget. Gw milih makan di lesehan gitu, semacam pendopo yang diisi beberapa meja, dengan alas bantal-bantal duduk yang empuk, hihi, nikmat banget deh, apalagi abis berpeluh keringat setelah biking ke Tegalalang. Sayang setelah lihat daftar menu, keringat itu malah makin deras mengucur. Crispy duck yang gw incer itu ternyata dibandrol Rp 80.000. Ampun deh. Kalo nggak inget misi ke Ubud adalah untuk memuaskan hati, jiwa, dan perut, mungkin saya bakal pesen air putih aja deh. Meskipun sedikit nggak rela, akhirnya gw pesen juga Crispy Duck yang tersohor itu, sambil menikmati suasana sawah hijau (karena sawah buatan jadinya masih hijau kali ya, beda sama yang di Tegalalang :D ) di depan mata. Nggak lama, datenglah bebek seharga 80rb itu. Hmmmm…ternyata harga emang nggak bohong! (sambil menangis terharu dalem hati) Ini bebek terenak yang pernah gw makan. Bebek Asap Kuningan lewat! Bebek Duck King lewat! Rasa gurih dan crispynya itu maknyus banget. Dan juaranya adalah sambel-sambelnya! Ada 3 macem sambel yang disediakan, 2 di antaranya, yang pake bawang putih dan yang  mirip sambel matah, itu e-nak-ba-nget! ^^ Menikmati makanan enak setelah perjalanan yang melelahkan itu emang nampol!

Sambel dewa!

Sambel dewa!

6) Monkey Forest

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Lokasinya tentu aja di Jalan Monkey Forest ya. Tiket masuknya Rp 20.000. Monyet-monyet di sini jauh lebih jinak dibanding monyet-monyet di Sangeh. Ukurannya juga lebih kecil-kecil. Tapi hutannya sangat menarik di sini, meskipun nggak terlalu luas, tapi masih alami dan tertata rapi. Gw suka banget sama pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar sampai ke mana-mana. Aaakkhh berasa pengen gelantungan gitu (apa gw dulunya Tarzan apa gimana sih!). Cakep banget kaya gini nih :

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Gw suka banget jalan-jalan di dalem hutan ini, malah lebih seneng kalo nggak ada monyetnya, hihi…abis takut sih. :P

7) Adi Bookshops

Buku-buku second berbahasa Rusia

Buku-buku second berbahasa Rusia

Nah ini khusus buat pecinta used-books kaya gw, coba mampir deh ke toko buku kecil yang berlokasi di Jalan Hanoman deket Pasar Seni Ubud. Tempatnya ada di sudut pertigaan. Di sini, ada banyak banget buku-buku bekas dari berbagai bahasa. Yang paling banyak tentu aja yang berbahasa Inggris. Tapi selain itu, banyak juga buku berbahasa Jerman, Belanda, Russia, dan juga Prancis. Karena gw lagi belajar bahasa Jerman, toko buku ini berasa surga deh. Bayangin, novel-novel berbahasa Jerman dijual hanya dengan harga Rp 20 – 30.000an aja. Belum lagi koleksinya yang sangat lengkap dari buku ilmu pengetahuan, fiksi, sampai buku anak-anak. Ba-ha-gi-a. Borong deh gw 3 buku. Ba-ha-gi-a! Lucunya, karena gw beli buku berbahasa Jerman dan Inggris, eh si mbak kasirnya ngajak gw ngomong pake bahasa Inggris dan nunjukin harga pake kalkulator. Ya elah masa gw dikira orang asing sih mbak, jelas-jelas muka eksotik ala Farah Quinn gagal gini, hahaha… :D

8) Babi Guling Ibu Oka

Nah kalau ini, baca di postingan gw sebelumnya aja ya…saking istimewanya sampe dibikin 1 postingan sendiri lho, hehehew…

Gimana? Masih ragu untuk travelling ke Ubud?

Happy travelling, happy life! ^^

Watching Balinese Dance at Ubud : Baris Tunggal Dance

Berkunjung ke Ubud, tentunya wajib dong melihat pertunjukan tari Bali. Di seluruh Bali setiap harinya pasti ada pertunjukan tari, tinggal pilih, ada Tari Kecak, Barong, Legong, Calonarang, dll. Termasuk juga di Ubud, the truly Bali.

Bosan dengan hingar bingar Kuta yang sudah ter-westernized, bosan dengan “gangguan” tawaran tur ini itu yang tak habis-habisnya di sepanjang jalan Legian, bosan dengan panasnya udara tepi pantai atau kemacetan Denpasar, maka cobalah melipir ke Ubud. Ubud, sebuah kota kecil di tengah-tengah Bali, yang terdiri dari 14 desa atau banjar. Ubud, the cultural center of Bali. Where you can find hundreds of art shop, beautiful Balinese painting, craft : wooden craft, stone craft, leaves craft, glass craft, just name it, they have it all. And yes, Ubud, which is suddenly becomes a highlight since Julia Robert came for the movie Eat Pray Love. Yes, Ubud, where you can explore and biking in the middle of beautiful rice fields

Well, tapi sekarang gw nggak akan panjang lebar cerita tentang Ubud, maybe in the next posts, supaya kalian penasaran, hihihi… #sweetdevilsmile. Kali ini gw mau cerita tentang tarian. Yak, sejak memutuskan mau ke Ubud, gw sudah memasukkan “NONTON PERTUNJUKAN TARI BALI” ke dalem itinerary. Gw nggak mau nonton Tari Kecak lagi, karena gw udah pernah nonton di Uluwatu (bisa baca di postingan ini), kali ini gw memutuskan nonton Tari Barong. Yak, Tari Barong. Barong berasal dari kata bahruang, yang berarti binatang beruang, merupakan binatang mitologi Bali yang dianggap memiliki kekuatan gaib, dianggap sebagai makhluk pelindung. Ada banyak jenis tari Barong, salah satunya yang saya lihat saat itu, yaitu Tari Barong Macan. Tari Barong sendiri menggambarkan kebaikan melawan kejahatan. Diperankan oleh 2 orang penari di dalam kostum, mirip seperti Barongsay di kebudayaan Chinese. Barongnya sendiri muncul di akhir pertunjukan. Sementara sebelum Barong muncul, didahului beberapa pertunjukan, yaitu Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Baris Tunggal, Tari Nelayan, Orkestra Gamelan, dan Tari Nyamar.

Khusus postingan kali ini gw mau membahas tentang Tari Baris Tunggal. Menurut gw, dari seluruh pertunjukan, selain Sang Barong tentunya, Tari Baris Tunggal inilah yang paling menarik, karena gerakannya yang lugas, lincah, dan sulit diduga. Ritmenya sangat dinamis, tidak membosankan, membuat mata ini terpaku tak mau berkedip, karena berkedip sedikit saja sudah bisa kehilangan momen menarik yang disajikan oleh si penari. Berkedip sebentar, dia sudah bergerak meloncat, atau sudah berubah ekspresi dari tersenyum tiba-tiba menjadi ekspresi garang, atau jari-jemarinya sudah tiba-tiba menjadi gerakan patah-patah yang sulit diikuti saking cepatnya. Yap! Fast and dynamic.

Tari Baris, the dynamic and fast moving Balinese war dance

Tari Baris, the dynamic and fast moving Balinese war dance (ditampilkan juga di Turnamen Perjalanan)

Tari Baris merupakan jenis tarian perang tradisional, yang biasanya dibawakan oleh beberapa penari laki-laki, bisa belasan sampai puluhan penari, umumnya dengan membawa senjata. Tari Baris sebenarnya berfungsi sebagai tari ritual agama Hindhu, namun menariknya, untuk menjaga keaslian dari Tari Baris yang sakral ini, diciptakanlah Tari Baris Tunggal, yang fungsinya sebagai hiburan. Tari Baris Tunggal baru diciptakan oleh masyarakat Bali sekitar tahun 1932-an, sesuai namanya, hanya ditarikan oleh seorang penari laki-laki saja. Menarik yah bagaimana masyarakat Bali sadar betul bagaimana melindungi keaslian budaya sambil juga memikirkan bagaimana caranya untuk dapat membaginya dengan turis-turis yang sudah mulai berdatangan ke Bali saat itu. Jadi Tari Baris yang asli, hanya dibawakan pada ritual sakral saja, misalnya saat upacara di pura atau prosesi pengantaran jenasah.

Berbagai emosi disampaikan dalam tarian ini : courage, fear, excitement, doubt, pride, humility. Kesemuanya menggambarkan perasaan seorang pria yang akan maju ke medan perang. Nggak heran, gerakannya begitu dinamis, menghentak-hentak, gerakan jari-jemari yang begitu  lincah, lirikan mata ke kanan dan ke kiri, terkadang mengedip, terkadang membelalak. Membawa emosi menjadi tercampur aduk, meskipun tanpa dialog. Dan jangan lupa, kemegahan kostum yang digunakan. DEMI TU-HAAANNN…indahnya!! *sambil nggebrak meja ala Arya Wiguna* ;p Dimulai dari kepala, mahkota besar berwarna emas yang dihiasi ornamen seperti daun-daunan berwarna emas, bergoyang-goyang tak henti mengikuti gerakan lincah sang penari. Kostum tari dengan dominasi warna kuning emas, merah dan hitam membungkus dengan apik, pula bergerak ke sana ke mari dengan leluasa, semacam jubah saja. Gw selalu suka dengan warna-warni Bali, Hindhu, atau Buddha, yang didominasi warna-warna cerah dan bold, memberi kesan megah and beautiful.

Sebagai orang Indonesia, lagi-lagi terbangga-bangga dengan budaya Indonesia. Lucunya, di pertunjukan tari ini, yang berlokasi di Pura Saraswati, seluruh penontonnya saat itu kok ya orang asing semua. Bule dari USA, Perancis, Jerman, dst. Orang Asia hanya gw seorang diri dan beberapa Chinese people. Bule di sebelah gw dari USA bahkan udah tinggal di Ubud selama 40 tahun dan masih nggak bosen nonton tari Bali. Man…sedih yak. Emang bukan lagi musim libur sih. Weekday pula. Tapi masa ya sampe segitunya…only me gitu penonton domestiknya. Makin gw liat pertunjukan tari tradisional Indonesia, makin ketagihan dan makin suka. Tari tradisional itu indah dan tampaknya sangat sulit pemirsah! Gw nggak habis pikir kok bisa yah mereka menarikan gerakan-gerakan sesulit itu, beuh…love it pokoknyah! Proud to be Indonesian!  

PS : lebih jelas tentang Tari Barong di sini, dan Tari Baris Tunggal di sini, sini, dan sini. Hehe. Happy reading and happy travelling~

Tari Kecak dan Sunset Uluwatu : Ketika Jiwa dan Kelima Panca Indera Terpuaskan.

Tari Kecak. Ya, siapa yang tidak mengenal tari tersohor asal Bali ini? Malunya saya, sebagai orang Indonesia, baru kali ini saya melihat langsung Tari Kecak, padahal Jawa-Bali begitu dekat. Salah satu lokasi favorit untuk melihat Tari Kecak di Bali adalah di Pura Uluwatu. Pertunjukan dimulai sore hari sekitar pukul 17.00. Saat itu tempat duduk yang berbentuk melingkar sudah dipenuhi oleh penonton, yang mayoritas bule. Saya pun berusaha nyempil-nyempil mencari tempat, untung masih ada tempat kosong, meskipun tidak menghadap ke arah sunset.

Pertunjukan dimulai. Suasana menjadi agak mistis dengan dinyalakannya api dan doa-doa dibacakan. Puluhan laki-laki, tua, muda, memulai “musik” yang menjadi ke-khas-an Tari Kecak, yaitu suara “cak cak cak” berulang-ulang dengan irama dan tempo yang bervariasi. Saya hanya bisa terpana. Meskipun tanpa musik, suara mereka mampu membius dan mengiringi tarian yang  berkisah tentang Rama dan Shinta itu. Mirip seperti “chanting”, yang berasal dari ritual Bali kuno, sanghyang, yaitu salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan leluhur atau para dewa. Tak heran, meskipun tujuannya untuk hiburan, masih ada aura magis yang terasa, hanya dengan mendengarkan “musik”nya saja.

Tarian Rama dan Shinta dibawakan dengan apik, meskipun tanpa dialog, tapi dapat dengan mudah mengerti kisah ceritanya dengan mengamati gerakan tarian dan ekspresi penarinya. Kisah Rama dan Shinta merupakan kisah yang sudah tak asing lagi buat saya, dari jaman saya SD saya sudah hafal betul berbagai kisah Ramayana dan Mahabharata, kisah Pandawa dan Kurawa, kisah Hanoman dan Rahwana. Untunglah ada pelajaran Muatan Lokal (Mulok) di sekolah saya, hehe… Kisah Ramayana dalam tari Kecak dapat dibaca di sini.

Yang menjadi spotlight dalam pertunjukan ini adalah Hanoman, si monyet putih baik hati tapi “nakal”. Dengan kelincahannya bergerak meloncat kesana kemari, si Hanoman ini sulit sekali diambil gambarnya. Sulit pula diprediksi gerak-geriknya. Detik ini dia meloncat dari balik tembok, detik berikutnya dia sudah sedang “mencopet” topi salah satu pengunjung. Sebentar di tengah arena tari, sebentar lagi sudah ada di tempat duduk teratas, menjaili penonton. Kalau dalam bahasa Jawa,  Hanoman ini cukat trengginas, alias gesit. Wajahnya yang garang tidak membuatnya menjadi seram, karena tingkah lakunya yang malah terus mengundang gelak tawa.

Image

Sulitnya mengabadikan Hanoman yang cukat trengginas (ditampilkan juga di Turnamen Perjalanan)

Saat-saat paling mendebarkan dari tarian ini yaitu saat Hanoman tertangkap oleh Rahwana dan hendak dibakar oleh api. Wooossshhhh!! Tiba-tiba api yang besar dan panas memancar di tengah arena tari. Dengan si Hanoman berada di tengah-tengahnya. Dikisahkan, dengan kekuatan magisnya, Hanoman berhasil lolos dari kematian. Memang begitulah adanya. Si Hanoman ini melompat-lompat, menginjak, dan menghindar dari api yang menghadangnya. Epiknya lagi, adegan fire dance ini hampir bersamaan dengan turunnya sunset di Uluwatu.  Warna keemasan pelan-pelan menghiasi langit, menemani detik-detik saat Sang Surya kembali ke ufuk barat. Salah satu detik-detik terindah dalam hidup saya. Sepotong sunset di Uluwatu, langit yang berwarna jingga kemerahan, suara dendang chanting penari Kecak, sekelebat hawa hangat dari api yang menampar wajah, ditambah semilir hembusan angin yang diiringi aroma bunga sesajen…tanpa sadar saya menitikkan air mata.

Sungguh saya sangat bangga menjadi orang Indonesia, dengan alam dan kebudayaannya yang indah.