Day 5&6 – Nightlife @Bangla Road

Dancer lokal @Bangla Road

Good guys go to Pattaya, bad guys go to Patong. Yap! Patong memang “surga”. Pantai, bar, alkohol, dugem, dan ”ayam-ayam” cantik. Inilah “surga dunia”, yang berpusat di Bangla Road. Di sepanjang Bangla Road ini berjajar bar-bar, diskotek, dan bermacam-macam “show”, termasuk Agogo Show dan PingPong Show. Suasana di jalan ini sangat crowded, semakin malam semakin “panas”. Datanglah sekitar jam 10 atau 11 malam untuk mendapatkan “feel” yang tepat. Di mana bar-bar sudah mulai “bergoyang” dan sibuk menjajakan show dan minumannya. Di beberapa bar terdapat tiang-tiang yang sudah dipenuhi “ayam-ayam” berpakaian minim, berlenggak lenggok sesuka hati. Yang lebih menarik perhatian adalah “ayam” yang berjoget di balik kaca yang terletak di lantai 2 bar, tentunya di tiang juga.  Gw perhatiin kalau “ayam” yang ditampilkan di balik kaca ini kebanyakan bule. Mungkin nilainya lebih tinggi dibandingkan “ayam” lokal yang ditampilkan rame-rame di lantai bawah. Selain cewek-cewek “ayam” tadi, di tiap bar juga memajang cewek-cewek yang tugasnya menjajakan barnya masing-masing. Mereka sibuk menawarkan minuman dan show-show ke turis-turis yang lewat.

Suasana Bangla Road yang very crowded

Shownya sendiri bermacam-macam dan buanyak banget namanya, saya sih Cuma nangkep “pingpong show” dan “banana show”, yang lainnya nggak gitu merhatiin deh, secara list-nya aja 1 halaman HVS sendiri dengan tulisan kecil-kecil, hehe, nggak kebayang deh rincian tiap-tiap shownya gimana. Kami sempet masuk ke salah satu show. Ini juga karena nggak mau rugi, udah sampai ke Patong masa nggak nonton show-show nya yang terkenal itu? Hehe…Sempet bingung banget mau masuk ke show yang mana, karena gw sama sekali nggak browsing sebelumnya tentang harga-harga show ini (sebelum pergi sih sama sekali nggak niat nonton setelah baca rincian tentang PingPong show yang katanya mempertunjukkan cewek-cewek yang mengeluarkan benda-benda aneh termasuk silet dari vaginanya *yaiksss!*). Apalagi kami bertiga cewek semua. Rasanya rada awkward aja gitu, nonton show yang isinya cewek juga…zzz…ngapain juga gitu yah jeruk nonton jeruk, hahaha…Tapi  setelah di sana, penasaran juga! Setelah celingak celinguk nggak jelas, akhirnya kami ditawarin masuk ke salah satu show, dengan embel-embel “free show, see first, if you don’t like it don’t pay”…kalau suka pun tinggal nongkrong di dalam dan beli minuman saja. Yeah! Cocok nih buat gw yang nggak mau rugi, hehe. Dianter si abang-abang yang menawarkan tadi ke lantai 2 tempat show berlangsung. Gw nggak tau nama shownya apa. Nekat aja. Modal penasaran. Mumpung free. Ternyata di dalam ruangan yang gelap itu udah ada banyak orang. Hampir semua cowok. Apa semua cowok ya? Nggak jelas juga, wong gelap. Dan…di depan ruangan ada sebuah panggung dengan cahaya remang-remang. Seorang cewek bugil berdiri di atas panggung, dengan wajah mematung dan sedang dilukis payudaranya oleh seorang cewek lainnya. Heh??!! Cuma gini doang? Batin gw. Gw melirik ke sekitar ruangan. Cowok-cowok yang lagi menonton pun menujukkan ekspresi sama. Mematung menatap cewek bugil itu. Sambil minum Chang (beer Thailand). Eh??!! Kok gini doang sih? Kecewa gw. Hahaha…Gw kira shownya semacam tari striptease atau apa gitu (meskipun gw berharap bukan show yang mengeluarkan benda-benda aneh dari vagina sih…). Yah ternyata cuma gitu doang. Nggak sampai 5 menit kami memutuskan untuk keluar. Hahaha…apes deh. Shownya pas yang nggak mutu. Apa karena gw cewek ya, makanya nggak tertarik? Hehe… Lain kali harus bawa cowok nih kalau mau nonton show beginian. Kalau cewek-cewek semua rasanya awkward banget sih, hihihi…mungkin karena kami semua cewek baik-baik kali yah *wink*, hihihi…

Salah satu Agogo Show di Bangla Road

Russian Dancer @L’Amour

Penari tiang di salah satu bar

Suasana di Bangla Road sendiri, pas banget buat cuci mata. Bule semua cing! Turis Asia kebanyakan juga Korea. Khas dengan baju couplenya, hahaha…Lampu neon bar yang berwarna-warni diiringi musik ajeb-ajeb, suara keramaian orang dan alkohol yang melimpah di sana sini memang membuat euforia yang memabukkan. Sampai sekarang pun gw selalu merindukan suasana Bangla Road yang hingar bingar itu. Di sana, untuk sesaat, hidup terasa lebih  bebas dan lebih mudah. Untuk sesaat, alkohol dan musik hingar bingar memang bisa menjadi pelarian yang  indah.

Salah satu sudut Bangla Road yang dipenuhi Agogo Show Bar

Harga minuman di bar-bar yang ada di Bangla Road sangatlah murah. Bayangkan, untuk segelas cocktail Sex On The Beach, Pina Colada, Broken Heart, Chivas with Coke dan sebotol beer Chang, hanya merogoh kocek kira-kira 500 THB saja. Bandingkan dengan di Indonesia, dengan harga segitu paling cuma dapet 2 atau 3 jenis minuman maksimal. So, seperti yang gw bilang, what a “heaven”, right?

Look at the price! Plus all cocktail buy 1 get 1 !

Note the pricelist! Pretty cheap. Plus all cocktail buy 1 get 1 too.

Sex On The Beach

Chivas with Coke

Masing-masing bar pun berlomba-lomba menawarkan hiburan untuk tamunya. Ada yang menyediakan berbagai permainan, karaoke, dancer, dan tentunya waiter-waiternya yang juga berfungsi sebagai “host” dan ikut menghibur para tamu dengan mengobrol atau ikut serta dalam permainan. Permainan yang gw sempat lihat yaitu memukul paku yang tertancap di atas piringan kayu dengan palu. I just don’t get it. What’s the point? Hahaha…Entahlah. Karena  gw nggak ikut main jadinya ya gw nggak ngerti :p Selain itu ada juga games saling memecut tubuh dengan sebuah karet panjang yang cukup tebal. Bisa di bagian punggung, perut, bahkan wajah.  Mungkin ini dimaksudkan sebagai “hukuman” kali ya. Eeww…jadi rada sadomasokis gitu, hihihi… 😀

Dua hari berturut-turut kami nongkrong di bar yang ada di Bangla Road. Bar pertama L’Amour, pretty cheap, minumannya oke (all cocktail buy 1 get 1), dan kami dapat spot tepat di tepi jalan. Yang nggak terlupakan, kira-kira jam 12 malam hujan mengguyur Bangla Road. Jadilah kami menyaksikan turis-turis yang berlari-larian di tengah hujan, berteduh ke bar-bar  terdekat. Jalanan langsung kosong seketika. Itulah kedua kalinya gw melihat jalanan Bangla Road dalam keadaan kosong. Yang pertama kali saat pagi hari saat hari pertama kami di Patong. Luckily, hujan deras menahan kami di L’Amour lebih lama, yang berarti memungkinkan gw untuk mencoba minuman lebih banyak, fufufu…*tertawa licik*. Bar kedua Absolut Vodka lebih comfy, di sini gw nemu cocktail Broken Heart yang uenak banget, the best cocktail so far, hehe…cocok banget buat yang patah hati nih…saat nongkrong di bar kedua ini kami “diusik” terus oleh seorang bule ganteng, sampai akhirnya Vivi yang beruntung diajak berfoto dengan si bule, hihihi…lucky you! 😀

Broken Heart : menghibur hati yang patah. Xixixi…

Chang Beer khas Thailand, kudu nyoba!

Begitu diguyur hujan baru kosong! XD

Nongkrong di Bangla Road sendiri pretty safe buat cewek-cewek, tapi sebaiknya sih emang jangan sendirian ya, gw sempet baca di salah satu blog, ada solo backpacker dari Indonesia yang “ditawar” sama bule di sana, hihi, dikira orang lokal kali ya. Selain dunia gemerlap yang ditampilkan Bangla Road, gw menemukan beberapa fenomena menyedihkan. Di antara tawa dan minuman keras, ada anak-anak kecil dan nenek-nenek yang hilir mudik di jalanan Bangla Road untuk menawarkan barang jualannya. Mostly souvenir. Ada juga yang berupa kalung rangkaian bunga. Jangan terkecoh dengan penjual kalung rangkaian bunga ini, karena mereka tampaknya seperti akan memberi Anda rangkaian bunga ini for free dengan langsung mengalungkannya di leher Anda. Tapi jika Anda menerimanya, maka dia akan langsung meminta bayaran. Hahaha…tricky banget ya. Begitulah. Gw nggak habis pikir ada anak-anak kecil yang tengah malah ngider berjualan di Bangla Road. Hey! Pemandangan yang ada di sini 17++ lho! Somehow gw ngerasa miris aja ngeliat realita betapa dekatnya anak-anak itu dengan kehidupan malam, demi menyambung hidup…lebih miris lagi liat nenek-nenek yang jualan. Gile, tengah malam gini nenek-nenek itu harus berkeliaran di Bangla Road dari bar satu ke bar lain…miris gila…Di saat gw duduk menikmati kesenangan dan menghabiskan 500 THB, anak-anak kecil dan nenek-nenek itu harus bekerja keras dengan penghasilan yang mungkin tak seberapa. Mungkin ini salah satu cara Tuhan mengingatkan gw untuk menghargai hidup yang gw punya…

Selain “ayam-ayam” biasa, tentunya di Bangla juga bertebaran ladyboy alias Katoey. Kebanyakan berpakaian cewek biasa, tetapi ada juga yang berkostum dan menawarkan dirinya untuk foto bersama. Entah berapa tarifnya, gw nggak berani karena mereka tampak lebih agresif daripada ladyboy Simon Cabaret. Yang jelas sih jauh lebih cantik-cantik yang di Simon ya, tapi kalau mulus sih oke lah…gw masih kalah, huks. Hahaha… Yang menarik, gw menemukan seorang ladyboy yang sudah berumur loh, lengkap dengan full costume dan full make up. Wajahnya percampuran Tessy dan Didi Kempot, hehe…plus seluruh wajahnya bopeng-bopeng bekas scar jerawat. Hmmm…kalau yang ini sih modal dandanan sama kostum doang ya, kalau tampang sih udah waktunya pensiun, hihi…Tapi tetep aja banyak turis yang berminat foto bareng dia kok. Kostumnya catchy abis! Buat cowok-cowok yang mau mencicipi “ayam-ayam”, hati-hati aja soalnya kadang susah bedain ladyboy sama cewek biasa, hihihi… 😛

Pameran full-costume “tante” ladyboy

Ini dia tante ladyboy yang mirip “Tessy+Didi Kempot” XD

Weits! Kalau yang ini bukan ladyboy lho! 😀

Belum ke Phuket kalau belum merambah Bangla Road. Someday, gw berharap bisa kembali ke Phuket dan mencicipi kembali hingar bingar Bangla Road yang memabukkan…and…maybe next time i should really watch the pingpong show (note : bring guys next time!).

PS :

–   Untuk yang nggak suka nongkrong di bar, di Bangla ada Starbuck dan Subway juga kok.

–   Sempet kelaperan dan beli Kebab (lagi-lagi 1 untuk bertiga) di pinggir jalan Bangla. Pesen yang chicken aja coz yang kambing  menyengat banget baunya!

–   Tiap malam ada pertunjukkan sulap di tengah jalan, dibawakan oleh seorang bapak-bapak, yang pertunjukannya sama persis selama 2 hari berturut-turut gw lihat.

–   Rata-rata tiap bar menawarkan promo buy 1 get 1, sayangnya hanya bisa untuk jenis yang sama.

–   Ada 1 bar yang memutar lagu Westlife dong! Di antara lagu ajeb-ajeb. Can u imagine? LOL!

–   Banyak pasangan suami istri bule yang membawa anak-anaknya yang masih kecil jalan melewati Bangla Road. Hehe. Bisa bayangin di Indonesia bawa anak-anak jalan-jalan ke Saritem atau Dolly? XD

Day 5 – Simon Cabaret Ladyboy Show

Thailand. Apa saja yang telintas di benak Anda saat mendengar nama negara ini? Kalau gw, Thailand itu identik dengan : Gajah. Pantai. Film The Beach. And of course…ladyboy. Sejarah boomingnya ladyboy di Thailand gw sendiri kurang tahu, yang jelas dari jaman gw masih remaja (caileh!), Thailand sudah terkenal dengan ladyboynya. Konon katanya mereka  sangat cantik dan melebihi wanita tulen. Bodynya sangat sexy dan memang banyak yang sudah menjalani operasi kelamin (ouch!). Bahkan banyak cerita yang beredar kalau banyak pria-pria yang terkecoh. Karena ternyata jeruk makan jeruk…hihihi…Rasa penasaran gw pun terjawab malam itu.

Malam itu sesampainya di hotel sekitar jam 5 sore setelah tur PhaNga Bay yang sangat mengesankan, kami bergegas mandi-mandi cantik, karena show Simon Cabaret akan dimulai jam 7.30 pm. Sebelumnya kami sempet beli 2 porsi PadThai dari abang-abang yang nangkring depan hotel. Jualannya di atas motor, kalau di Indo kan biasa pake gerobak tuh, di sana lebih maju sedikit, rata-rata street food dijual di atas motor atau sepeda. Unik juga…Rasanya yummy! Kayanya sih hampir semua masakan Thailand cocok di lidah gw…hehehe. Bumbunya spicy dan banyak menggunakan kacang di dalam makanannya. Sekitar jam 7 kami dijemput mini van, dan…ternyata lokasi Simon Cabaret deket banget dari hotel kami. Paling selemparan batu doang, hahaha…ah tapi nggak rugi sih pesen tiket show lewat agen tur, karena kalau antri belum tentu kebagian, karena ternyata penuh banget, plus kami bisa dapet seat VIP, hooraay! Gedung pertunjukannya sendiri mirip gedung teater biasa, tempat duduknya sama seperti sofa di XXI, di dalam ruangan adem meskipun penontonnya sangat banyak dan tampaknya hampir seluruh kursi terisi malam ini. Di samping kursi sudah disediakan sebotol air mineral. Free. Sayang sekali selama pertunjukan dilarang memotret dan merekam. Dendanya banyak. Saking banyaknya gw lupa berapa. Yang jelas sih gw ngga mau ambil resiko. Takut juga kalo ketauan trus ntar dieksekusi sama ladyboy-ladyboy di situ, hiiiiyyy…ngebayanginnya aja udah serem. Mereka kan ga suka cewek. Hehe.

Bagian dalam gedung Simon Cabaret

Sayang cuma bisa motret panggungnya aja…

Pertunjukan pun dimulai. Gw cuma bisa melongo abis-abisan. Ternyata yang namanya ladyboy itu yah…sumpah cantik dan mulus banget! Bodynya aja…busetttt…kaya model! Putih mulus nggak bercela dan postur mereka tinggi jenjang gitu…aish…sepanjang pertunjukan gw cuma bisa melongo. Hahaha…sial, gw kalah dari cowo!!! 😀 Di Simon Cabaret ini, namanya aja cabaret yah, pertunjukannya berupa tarian musikal. Jadi mereka nyanyi lipsync sambil nari-nari. Lagu yang dibawakan banyak banget. Konsepnya malam itu sih menampilkan kebudayaan berbagai negara. Dari Barat, Korea, Jepang, Cina, India, Thailand, sampai Mesir pun ada. Setiap tema dibawakan oleh 1 grup, ada penyanyi utama yang menjadi main characternya, dan sekelompok penari. Gw kira show ini murni dibawakan ladyboy doang. Ternyata ada juga penari cowoknya lho! Tapi mereka ya rada-rada…ehm…melambai juga. Gw mikir…apa mereka yang masih dalam proses menuju ladyboy kali yah? Hehe…ada 1 penari cowok yang cakep loh! Tapi entah deh straight atau enggak yah? Hahaha…masih misteri. Yang menarik dari show ini, selain ladyboynya sendiri tentunya, adalah kostum dan dekorasinya. Kostumnya bagus-bagus, dari mulai yang sexy banget ala Burlesque, glamour bling-bling ala Miss Universe, kostum pakaian adat Korea dan Jepang sampe kostum Cleopatra dan ala India pun ada. Glamour abis lah, mata ini rasanya sungguh silau, hehe…kebayang harga kostumnya mahal-mahal banget tuh pasti, ada yang bersayap-sayap segala, ah, keren banget lah pokoknya…dan tentunya ya sexy abis donk! Selain itu dekorasinya pun nggak murahan. Gw belum pernah nonton show ladyboy lain sih, katanya Tiffany yang paling oke, tapi show di Simon Cabaret ini udah keren banget dekorasi panggungnya. Sampe ada setting piramida Mesir segala…ah pokoknya benar-benar memanjakan mata deh. Errr…selain tampilan body-body sexy tapi “aspal” itu tentunya yah, hehe…

Dari pengamatan mata elang gw, sebetulnya dari semua ladyboy yang tampil, hanya beberapa saja yang bener-bener berwajah cantik. Ada salah satunya yang mirip model Paula Verhoven (ups, maaf ya Paula ;p ). Ladyboy yang cantik-cantik ini selalu jadi main character. Sedangkan yang lain-lainnya sih jadi penari figuran aja, kebanyakan tampangnya nggak cantik-cantik amat, bahkan ada yang kaya “mbok jamu” banget. Ada yang muka cowoknya masih kental banget. Yang jadi andalan sih sebetulnya beberapa orang aja yang emang bener-bener cantik. Kebayang dong  mereka ganti-ganti kostum berapa kali yah, ada 10 kali sepertinya. Dan saat tampil, meskipun lipsync, tapi mereka rata-rata gerakan bibirnya sesuai dengan nyanyian yang ditampilkan. Padahal ada bahasa Cina dan Jepang juga loh. Dipikir-pikir sih pekerjaan mereka berat juga yah. Salah. Berat banget. Mana pake high heels. Dan harus menghapal koreografi tarian yang banyak banget. Gw sih salut sama mereka. Mereka tampak total. Dan ekspresi wajahnya menghayati peran. Padahal nggak gampang kan, apalagi dengan setting show yang berganti-ganti dengan sangat cepat. Kebayang tuh di belakang panggungnya gimana yah, pasti ribet banget.

Mungkin banyak orang yang masih ngeremehin, sorry, banci. Teori tentang kenapa dan gimana seseorang bisa jadi seorang banci pun banyak dan bermacam-macam. Ada yang menyebutkan itu merupakan pilihan, ada yang bilang dipengaruhi faktor genetik, faktor trauma masa kecil, faktor pola asuh, wah, macem-macem deh, nggak tahu juga mana yang bener. Kalau menurut gw sih, penjelasannya untuk kasus per kasus pasti berbeda-beda, nggak bisa disamaratakan untuk semua banci. Begitu juga jalan hidup yang mereka ambil. Ladyboy yang tampil di Simon Cabaret ini menurut gw hebat. Gw salut. Mereka bener-bener total dalam pertunjukkannya. Dengan kemampuan yang mereka miliki, no matter who they are or who they were, mereka sudah berhasil membuat dunia kagum pada mereka. Mungkin banyak banci-banci yang ngamen atau mangkal di jalanan dan mengganggu kenyamanan publik, tapi kalau untuk ladyboy Thailand ini…juara deh. Sekali lagi gw belajar tentang pilihan hidup. Tiap orang punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tapi hidup dengan mengikuti passion itulah yang akan berbuah dan memberi makna pada kehidupan orang lain. Termasuk menjadi seorang ladyboy.

O ya, selain penampilan sexy dari mereka, ada juga loh penampilan dari ladyboy yang tidak sexy, hehe…Dua orang ladyboy yang tidak sexy ini tampil one (wo)man show, dengan kostum nyeleneh, mengekspos postur badan mereka yang tambun. Dandanannya pun dibuat menor. Memang tujuan penampilan mereka bukan untuk “memanjakan” mata tapi untuk menghibur penonton. Atraksi mereka cukup heboh, sampai turun ke bangku penonton dan “mengeksekusi” penonton tersebut (yang tentunya cowok ya) dengan pelukan dan ciuman (hiiiyyy…hahaha!). Kontan saja semua penonton heboh dan hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat atraksi konyol mereka. Setengah takut juga kali ya, takut bakal jadi korban, hehehe…

Show yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu terasa sangat cepat! Meskipun ada 1 scene yang sangat membosankan, yaitu saat menampilkan lagu Cina jaman baheula, hahaha…garing banget. Tapi secara keseluruhan show Simon Cabaret ini sangat menarik, wajib tonton apabila mampir ke Phuket 😀 Dengan tiket 600 THB untuk kursi VIP sih pertunjukan ini worth it banget. Apalagi setelahnya kami bisa berfoto-foto dengan para ladyboy yang nampang di sepanjang jalan keluar gedung. Jangan lupa bawa 50 THB untuk bayaran setiap kali berfoto dengan mereka. Satu orang berfoto dengan satu ladyboy = 50 THB lho! Tiga orang berfoto dengan satu ladyboy = 150 THB. Rugi kan? Saran gw sih fotonya sendiri-sendiri aja. Sayangnya suasana sangat crowded, jadi untuk berfoto pun harus extra cepat dan tepat. Ambil saja beberapa jepretan sekaligus untuk menghindari blur. Kami sempat sial banget karena minta tolong difotokan oleh bapak-bapak yang ada di situ,  eh ternyata blur dan nggak bisa diulang karena sudah telanjur bayar. Hiks!!! Jangan salah, para ladyboy ini lumayan agresif loh, mereka semacam “menjajakan” diri untuk difoto bersama, hehe…agak pusing juga tuh milih-milih ladyboy mana yang mau kita ajak foto bersama. Soalnya cantik-cantik, kostumnya unik-unik, tapi sayang kocek terbatas jadi harus bener-bener selektif. Gw sih foto 2 kali dengan 2 ladyboy yang berbeda, dan 1 kali foto blur yang gagal. Hiks!

Btw, berdiri di sebelah ladyboy-ladyboy itu gw makin tampak abstrak dan buntet. Sial. Hahaha! Tapi seengganya gw wanita tulen Bo! So, pilih yang kanan sexy tapi aspal atau yang  kiri abstrak tapi wanita tulen? Hahaha!!!!

Hayo….pilih yang asli atau yang palsu… XD

Sebagai wanita tertohok banget dah!

Para ladyboy Simon lagi “menjajakan” foto bareng

Kostumnya sexy sampai extreme! 😀

Info tentang Simon Cabaret bisa buka di sini : http://www.phuket-simoncabaret.com/

Day 5 – PhaNga Bay & James Bond Island Tour

James Bond Island Trip! Yeay! Pagi ini kami dijemput jam 08.00 oleh agen tur. Supirnya agak jutek. Dia memberi kami tali berwarna merah untuk diikatkan di pergelangan tangan, yang menjadi tanda pengenal kami. Mobil yang digunakan yaitu semacam mini van kecil, memuat kira-kira 9 orang. Ada sepasang suami istri India dan beberapa bule. Perjalanan menuju pelabuhan Ao Poh ditempuh dalam waktu kira-kira 30 menit,  melalui jalan yang menanjak dan berliku-liku. Sesampainya di pelabuhan kami masih menunggu rombongan peserta tur lainnya. Hampir semua bule. Hehe. Kami naik semacam bus kecil untuk mencapai kapal, yang jaraknya hanya selemparan batu saja, hahaha. Di sini peserta berjejal-jejal dan berebut masuk. Ah ternyata bule bisa ndeso juga, batin saya. Hehe. Kami naik bus kloter kedua. Kapalnya sendiri berupa long tail boat yang berukuran besar, memuat kira-kira 40 orang. Tampak bersih dan kokoh. Kami naik ke lantai 2, dan setelah semua peserta berkumpul, kami diberi pengarahan singkat oleh kru kapal. Yang lumayan bikin gw kaget sih, ternyata kru kapalnya semuanya abang-abang. Hehe. Ya bukannya mengharapkan bapak-bapak atau ibu-ibu sih, cuma mereka ini keliatan masih muda, gaya berpakaiannya kaya rapper, dan nyantei banget, hehe… Mereka menjelaskan sambil disertai candaan-candaan yang bikin suasana jadi nggak kaku. Lucunya, ada sekelompok peserta yang berasal dari Yunani, yang nggak bisa Bahasa Inggris. Dan kelompok Yunani ini hanya bisa terbengong-bengong aja, sampai akhirnya para kru memberikan pengarahan privat kepada mereka dengan bahasa Yunani campur sedikit bahasa Tarzan. Gw salut banget sama orang travel kaya mereka. Bayangin, bahasa Yunani loh. Siapa juga yang mau repot-repot belajar bahasa Yunani yang bentuknya kaya simbol matematika itu? Hihihi…tapi mereka bisa loh…waw. Kalah sama abang-abang 😦

Gugusan pulau di PhaNga Bay

Air laut berwarna hijau ruby

Perahu lokal

Di kapal itu disediakan minuman aqua, cola, dan kopi gratis. Ada juga biskuit nanas (yang gw gak doyan) dan pisang (gw juga ga doyan), all free. Ada juga bermacam-macam beer termasuk beer Thailand yang disebut Chang. Kalo ini sih nggak free. Perjalanan pun dimulai…i’m very excited. Ini pertama kalinya buat gw naik kapal besar dan island hopping kaya gini. Beruntung cuaca dan langit hari itu sangat cerah, angin bertiup sepoi-sepoi…what a perfect day for islands tour! Sejauh mata memandang terhampar langit biru yang luas, air laut yang berwarna hijau ruby, dan pulau-pulau kecil kehijauan dalam beraneka ukuran. Beberapa kali mata gw menangkap kehadiran ubur-ubur berwarna oranye transparan yang sedang berenang tepat di bawah permukaan laut. Sempat pula menangkap view seekor elang terbang di antara tebing-tebing pulau yang menjulang tinggi. Para penumpang lain pun tampak asik dengan pemandangan PhaNga Bay. Ada yang melamun, mengobrol, ada yang tidur (eh???), dan ada juga segerombolan cowok dari Timur Tengah yang heboh foto-foto narsis sambil bercanda satu sama lain dengan penuh keributan. Hahaha…noisy boys. Ah…udah nggak sabar rasanya menuju James Bond Island.

@James Bond Island

Sesampainya di James Bond Island, yang ternyata hanya berupa pulau yang sangat kecil, dengan penjual cenderamata di tepi pulau dan gua yang cukup besar, dan tentu saja dong main attraction di sini yaitu James Bond Island nya sendiri yang berupa sebuah pulau kecil menjulang dari bawah air yang pernah menjadi lokasi syuting James Bond “The Man with the Golden Gun” (yang gw sendiri belum nonton :D). Pasirnya putih bersih dan agak kasar, airnya berwarna hijau ruby. Tentu saja kita langsung foto-foto narsis ala model amatir dong, hehe… Menurut gw sih, sebetulnya nggak ada yang istimewa-istimewa banget dari pulau ini, mungkin hanya karena masuk ke dalam film James Bond itu aja, makanya jadi nge-hits. Salut juga sih sama pariwisata Thailand. Maksud gw, itu cuma sebonggol pulau kan, dari sekian banyak pulau yang ada di Phanga Bay ini…hehe…tapi bener-bener di-blow up besar-besaran. Kita didrop di sini sekitar 30 menit, emang hanya ditujukan buat foto-foto dan belanja cenderamata aja, nggak untuk berenang. Tapi tetep aja tuh ada bule-bule yang ngotot berenang, padahal airnya nggak menarik sama sekali. Cenderamatanya pun biasa aja,kaya model-model di Pangandaran gitu, kulit kerang dsb… Buat gw, James Bond Island ini biasa banget, justru main point dari tur PhaNga ini kalau buat gw sih bukan James Bond Island nya, tapi Canoeingnya.

Pose dpn James Bond Island ala model karbitan… 😀

Setelah dari PhaNga, perjalanan dilanjutkan untuk Canoeing. Gw excited banget! Baru pertama kali ini gw ngerasain naik canoe. Perahunya perahu karet kecil bermuatan 4 orang. Kami bertiga ditambah Johnny, driver canoe kami. And the journey begin…air laut tepat berada di bawah gw. Canoe berjalan dengan pelan dan santai…memasuki semacam pintu gua yang di baliknya ternyata adalah…Praise God Almighty…semacam laguna tersembunyi dengan air berwarna hijau ruby…yang dikelilingi tebing-tebing pulau yang berwarna hijau oleh pepohonan. Sangat indah. Sangat damai. Sinar matahari yang cerah bagai menghangatkan jiwa. Tak hanya itu saja, di ujung laguna kami memasuki gua kecil, yang di dalamnya benar-benar gelap tak ada cahaya, bagian atas dan sisi gua dipenuhi stalagtit dan stalagmit alami buatan alam. Cahaya yang menerangi hanya senter yang dibawa oleh driver canoe lain (driver kami si Johnny cuma modal “mata kucing” sepertinya). Kami harus merunduk dan rebah beberapa kali untuk menghindari atap gua yang sangat rendah. Trully awesome experience. Sayang sekali sulit untuk mengambil gambar di dalam gua ini, but i did it, hehe…teteup ngga mau kehilangan momen-momen terbaik dalam hidup gw. Dan lagi-lagi…at the end of the mini-cave, ada laguna lain yang menyambut kami. Gw ngerasa kaya Alice in Wonderland aja 😀 Memasuki pintu demi pintu menuju dunia lain.

Saat itu yang ada di pikiran gw cuma bersyukur, bersyukur, dan bersyukur…yang berulang kali terlintas di kepala gw, siapa sih gw ini, gw cuma ciptaanNya yang kecil…gw merasa beruntung banget bisa menikmati keindahan ini, merasa amazed, nggak percaya, dan sekali lagi merasa beruntung. Berada di sebuah laguna kecil di negara lain…kadang gw masih nggak percaya dengan apa yang gw alami. At that moment, gw bertekad, someday gw akan menjelajahi dunia ini. Mencari keindahan-keindahan alam yang sayang kalau gw lewatkan begitu saja. Can you imagine only live and stuck in one city for a whole life? Sedangkan dunia ini sebegitu luasnya. Come on, move around, travel a lot, see the world! Itulah “wangsit” yang memenuhi jiwa saya saat itu.

Memasuki mulut gua…yeay!

Inside the cave…

Di dalam gua…gelap banget!

Hidden Lagoon…


Hasil jepretan Johnny. Penasaran bingkainya terbuat dari apa? *wink*

Di tengah-tengah perjalanan canoe, kami difoto oleh seorang bapak yang duduk di atas laguna (ya, duduk!). Hehe…gimana caranya? Ternyata si  bapak itu duduk di atas kursi yang bawahnya mungkin dibuat panjang banget sampe menyentuh dasar laguna. Aih, nggak kebayang deh dia duduk di situ sesiangan mengambil foto semua turis yang lewat, hehe. Ternyata sih foto-foto ini nantinya dicetak dan “disodorkan” ke kita saat di pelabuhan. Harganya kl ga salah 500 THB untuk 3 foto yang sudah dipigura. Hebat juga yah kreatifitas mereka. Lumayan sih kenang-kenangan, foto dengan canoe. Yah, meskipun koleksi foto kami juga sudah melimpah berkat si Johnny driver yang merangkap fotografer dadakan. Si Johnny ini sangat ramah. Dia mengajak kami mengobrol, bahasa Inggrisnya bahkan lebih lancar dari kami (ouch!), dan dia sering banget tersenyum dan tertawa. Umurnya masih 22 tahun. Dia bercerita macam-macam dari mulai riwayat hidupnya, pengalamannya di angkatan bersenjata (ternyata Thailand ada wajib militer sepertinya), diskotek yang hip di Patong, sampai curcol tentang kisah cintanya. Hahaha…teteup deh udah sampai ke negara orang juga masih aja yang didenger masalah cinta lagi, cinta lagi…hehe…ternyata Johnny ini adalah seorang pemuda galau… 😀

Sayang sekali karena air laut sedang surut dan muatan canoe kami berat (upss!!), kami tidak sempat memasuki laguna terakhir karena harus melewati karang-karang yang ada di mulut gua. Wah kalo canoe nya jebol bubar deh 😛 Akhirnya kami putar balik dan kembali ke kapal melalui rute  yang sama seperti saat kami berangkat. O ya, gw juga sempet nyobain ngedayung canoe loh! Edun lebih susah dari rafting, mungkin karena yang ngedayung cuma 1 orang dan…muatannya berat. Dan gw susah menyesuaikan arah kanan-kirinya. Hahaha…akhirnya di bawah pimpinan kemudi gw, canoe kami berhasil muter-muter dengan sukses…tapi di tempat. Hehe… 😀 Nyerah ah. Kudu banyak latian in mah. Mana biseps dan triseps gw tiap hari cuma dipake buat mompa tensi doang, suruh ngayuh dayung ya KO deh! XD

Jadi driver canoe?? Susah Bo! XD

Another unforgettable experience yaitu saat gw disengat…err…tersengat ubur-ubur. Kok bisa? Kan di dalam canoe? Yah, namanya juga norak, so gw ceritanya sok-sokan duduk pake pose “cantik” gitu, hehe…duduk bersandar menyamping dengan kaki masuk ke dalam air. Nggak disangka-sangka, tiba-tiba timbul rasa perih panas menyengat di antara jari-jari kaki gw. Gw sempet ngeliat sesosok makhluk lunak transparan itu berenang menjauhi gw dengan sulur-sukurnya yang panjang. Wah sial…gw dikerjain ubur-ubur, hehehe…Untungnya sih nggak kenapa-kenapa. Si Johnny awalnya keliatan rada panik, tapi setelah gw bilang just a little bit pain dia rada tenang. Dia bilang sih kalau yang gawat bisa sampai dirawat di RS tuh. Ya iyalah gw juga tau hehe kalau syok anafilaktik gitu malah bisa sampe RIP. Thanks God gw kebal, hohoho…atau mungkin si ubur-ubur cuma mau “salam tempel” doang sama gw. Dia belum mengeluarkan “ilmu” yang sebenarnya, hehehe. Jadi inget waktu dulu gw disengat lebah. Hahaha…itu malah lebih parah. Pergelangan kaki gw sampe bengkak merah segede bola pingpong dan nyeri banget. Sengatan ubur-ubur ini sih cuma geli-geli doang dibanding “ciuman” lebah yang pernah gw alamin. Yang menarik, katanya untuk mengatasi sengatan ubur-ubur ini bisa dengan cara mengguyurnya dengan urine (yaiks!). Gw sempet browsing sih, nemu beberapa pendapat yang berbeda, ada yang menganjurkan pake urine ada yang nulis kalau itu ngga bermanfaat dan cukup pake penanganan insect bite biasa aja. Gw sih berpegangan sama yang terakhir, soalnya jelas sumbernya, dari Red Cross, hehe. Info lain yang gw temukan yaitu ternyata dalam keadaan darurat justru bukan urine yang dianjurkan, tapi cuka. Iye, cuka buat bakso itu… Cuka ini selain berguna untuk menangani sengatan ubur-ubur juga berguna untuk luka tusukan landak laut alias sea urchin. Tapi setelah dipikir-pikir…siapa juga traveller yang bawa-bawa botol cuka coba? Apalagi ke laut? Yeah…mungkin info ini penting buat tim medis aja kali ya 😀 Nggak tau sih kalo untuk para diver, mungkin aja mereka “sangu” cuka di ranselnya :).

Lah cerita disengat ubur-uburnya jadi panjang gini. Hehe. Kembali lagi ke tur kami di PhaNga Bay. Sebelum sesi canoe babak 1 selesai, kami sempat janjian dulu dengan si Johnny ini kalau kami akan “pake” dia lagi di sesi canoe babak 2. Hehe…Sebelum acara canoe babak 2, kami makan siang dulu di atas kapal, dengan menu prasmanan Thai food. Gw lupa persis lauknya apa, yang jelas sih nggak mengecewakan dan gw makan banyak banget, hehehe… kasian si Johnny, bebannya bertambah di canoe sesi 2. Hahaha… 😀 Canoe sesi 2 ini jauh lebih menyenangkan karena suasananya jauh lebih tenang. Gw sempet berbaring di atas canoe and that moment was so beautiful, sort of simple but wonderful little moment. Berbaring sesaat di atas canoe memandang langit biru cerah dan tebing-tebing hijau, serta suara kecipak air yang bersentuhan dengan dayung…ahhh…i wish the time can just stop right now… Sepanjang ber-canoe kami ditemani oleh sesi curcol si Johnny. Ada satu pendapatnya yang sangat gw ingat. Dia ingin hidup santai dan menikmati hidup. Bukankah itu impian semua orang? Dan dia berhasil mewujudkannya. At least, itulah jalan hidup yang dia pilih. Menikmati menjadi guide tur, mengobrol dan bercanda dengan turis-turis, kalau moodnya lagi bagus kadang merangkap driver canoe, kadang menyepi dan berenang di laut (sampai diserbu ubur-ubur XD), di malam hari dugem dan minum-minum sepuasnya di Patong…Well, gw ngga tau apakah di balik itu semua dia menyimpan rasa kesepian, tapi gw rasa setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing dan menerima konsekwensinya. Hidup tanpa beban, itulah yang dipilih Johnny sang pemuda galau…Perkenalan gw dengan Johnny meyakinkan gw bahwa indeed, life is a choice. Bagaimana kita  ingin menjalani hidup kita? Pilihannya ada di tangan kita sendiri. Enjoy it? Or burdened by it? Thanks Johnny…for share your thought with us.

Johnny, thanks for such a memorable journey…

Anyway, surprisingly, kami mendapat tawaran menggiurkan dari Johnny. Dia bersedia membawa kami ber-canoe lebih lama. Jadi saat sesi canoe seharusnya selesai dan semua peserta naik ke atas kapal, kami “dibawa kabur” oleh Johnny, hihi…sementara peserta lain pergi menuju pantai di Ko Pha Nak dengan kapal, kami masih dibawa Johnny ber-canoe. Tentu saja perjalananya tidak dekat. Jauh malah. Bayangkan saja, dia harus membawa canoe menyusuri laut selama kira-kira 20-30 menit. Sebenernya gw nggak ngitung sih berapa menit, because i really don’t care about the time at that moment. Tapi yang jelas sih cukup jauh, dia tampak berkeringat, ngos-ngosan, tapi tetap ceria lho, bahkan tetep aja curcol, hihihi…Perjalanan “extra” ini tentu sangat membuat kami puas. Bayangkan, peserta lain sudah kembali ke kapal tapi kami masih ber-canoe…dan bukan hanya di laguna kali ini, tapi benar-benar menyusuri lautan. Ya, lautan dengan air berwarna hijau ruby. View yang kami lihat pun lebih beraneka ragam, sempat melihat dari dekat gugusan karang yang dihuni oleh banyak kepiting, sempat melewati tonjolan gua yang ehm…bentuknya seperti penis (kata si Johnny lho!), dan akhirnya kami berlabuh di sebuah pantai kecil di pinggir pulau. Di pantai ini tidak ada orang sama sekali. Sedangkan kapal kami dan peserta lain berlabuh di pantai lain yang lebih besar dan crowded tidak jauh dari kami. So, here we are, in a private beach, only 3, ups, 4 of us. Tentunya momen ini sangat langka. Pantai itu sangat kecil, panjangnya paling hanya 30meter, langsung berhadapan dengan laut. Pasirnya masih sangat kasar, batu-batuan dan kerang yang ada di pantai pun masih berbentuk utuh, jadi bukan pecahan-pecahan kecil yang ada di pantai pada umumnya, tapi benar-benar bongkahan cangkang kerang yang masih utuh. Duh, senangnya… Di sini kami berfoto-foto ceria, sampai akhirnya tiba saatnya kami harus kembali ke kapal. So sad…

Kapal kami. Saat yang lain kembali ke kapal, kami “dibawa kabur” Johnny 😛

Salah satu hasil “tangkapan” dari atas canoe

Small private beach…

Benar-benar pantai pribadi bukan? 😀

Perjalanan kembali ke Phuket terasa sangat cepat, dan rasanya belum puas mengelilingi PhaNga Bay ini hanya dalam beberapa jam saja. Tapi esok masih ada tur PhiPhi Island yang menanti kami… 🙂

PS : Total expenses dari tur ini : 1250 THB untuk tur, tips 500 THB (bertiga) untuk Johnny, foto saat berkano yang sudah dipigura 500 THB (tiga buah foto).

PSS : Masih ada cerita tentang nightlife kami di Bangla Road sepulang dari tur ini, penasaran? Hehe…have a nice reading! *wink*

PSSS : Mau lihat kumpulan photoblog bertema “Laut” ? Buka deh Turnamen Foto Perjalanan , banyak banget foto laut yang keren lho!

Day 4 – Karon Beach

Sekitar 20 menit perjalanan, kami akhirnya diturunkan tepat di pinggir Karon beach. Ngga langsung ke pantai, nyari-nyari dulu toilet lamaaaaa…….akhirnya numpang ke toilet salah satu resor di sana, hehehe…

Main area Karon Beach ini beda banget sama Patong. Di Karon ini suasananya sangat tenang, lebih sepi, dan dipenuhi resor-resor mahal, jauh lebih elit daripada Patong. Bahkan bule-bule yang ada di sini pun penampilannya elit, mengesankan banget kalo mereka rich, hehe, beda banget sama bule-bule yang memenuhi Patong. Bukannya bilang yang di Patong miskin, tapi yang jelas sih bule-bule di Karon ini golongan “the-have” banget, fufufu…Pantainya sendiri sangat bersih, pasirnya unik, berupa hamparan butiran halus keemasan…empuk dan tebal. Enak banget buat sunbathing. Dan emang semua bule yang ada di situ (ehm, sebenernya semua orang yang ada di pantai itu bule. We’re the only Asian there!) rata-rata sunbathing semua. Ada juga beberapa yang renang dan main voli pantai. Ga mau kalah, kita juga akhirnya gelar lapak, eh, gelar kain. Hehe…Ngejogrok pewe di pasir pantai Karon…dengan suasana senja yang sangat quiet and peacefull…damn inikah kedamaian yang sebenarnya…hehehe… Rasanya indah aja gitu berbaring di pantai and doing nothing. This is the art of doing nothing. With bestfriends. Isn’t that perfect? Thanks my friends 🙂

Karon Beach menjelang Sunset

Pasir Karon beach yang empuk dan berwarna keemasan

Sunset @Karon

Kami menanti sunset datang sambil leyeh-leyeh, keceh, dan foto-foto narsis tak lupa. Setelah langit mulai agak gelap, jam 7, barulah kami beranjak. Untuk kembali ke Patong kami naik tuktuk seharga 300 THB bertiga. Mahal hiks…tapi ngga ada alternatif lain, itu aja udah nawar-nawar pake muka memelas mampus…kami turun di Jungceylon Mall, mall terbesar (eh, atau satu-satunya mall?) di Patong.

Jungceylon Mall

Kami nemu salah satu kantor agen tur yang agak bagus di main road Patong. Di dalam kami disambut seorang ibu-ibu yang sangat ramah. Dia menawarkan tur PhiPhi Island dan JamesBond masing-masing Island seharga 1500 THB. Jiah. Kami menawar 1000 THB tapi dia nggak kasih. Akhirnya harga terakhir yang kami dapat 2500 THB untuk kedua tur itu. Di sinilah kami mulai berkeringat, karena ternyata uang kami nggak cukup, hehe…dengan sangat amat malu tapi mencoba bermuka tebal, kami meminta keringanan untuk membayar setengah dahulu dan membayar sisanya malam itu juga. Kami harus ambil uang dulu di hotel. Eh nggak disangka, si ibu yang baik hati ini malah memperbolehkan kami untuk membayar separuh dulu dan membayar sisanya besok langsung sebelum berangkat ke pemandu tur. Aishhh…ngutang nih jadinya, malu-maluin ya…hihi…dan nggak cukup sampe di situ, dia juga menawarkan untuk memesankan tiket Simon Cabaret, VIP, seharga 600 THB perorang. Deal deh. Hehe…dan hebatnya lagi dia bahkan nggak minta tanda pengenal kami sama sekali. Bener-bener based on trust. Hahaha…baik-baik banget sih orang Thailand ini… 🙂 Kami pun balik ke hotel, sebelumnya sempet ngelewatin Bangla Road yang udah mulai rame, tapi masih jam 9, dancer-dancernya belum kelihatan. Gw udah semangat banget pengen nongkrong di sana, tapi badan udah remuk banget, akhirnya malem itu kita cari makan di sekitar hotel, dan nemu Thai resto yang lezat banget, TomYum nya juara! Rasanya asem tapi agak creamy, seafoodnya ada udang, cumi, baso ikan, semuanya seger ga amis sama sekali… I like this very much XD Nasi Goreng Nanas dan Nasi Babi nya juga lumayan. Eh sebelumnya juga sempet jajan Chocolate Pancake di gerobak abang-abang pinggir jalan, yummy, mirip crepes gitu, tapi sayang mahal 40 THB 1 porsi. Hehe…puas deh malam itu kita tidur dengan hati senang dan perut kekenyangan, dan excited banget untuk tur James Bond Island besok…

Vivi pose di depan Pancake stall

Yummiest TomYum @Phuket

Pineapple Fried Rice

Day 4 – Phuket Town (OldTown-SittingBuddha-ButterflyGarden-WatChalong)

Kita semua diturunkan di pinggir jalan, kalau ngga salah inget sih di Ranong Road. Pas turun dari bus, si kenek bus ini ngajak ngobrol kita. Nanya kita berasal dari mana, dan tiba-tiba aja dia nawarin tuktuk untuk keliling kota dengan harga 100 THB saja untuk kami bertiga. Gila, murah banget! Dari hasil browsing sih katanya untuk City Tour itu tarifnya bisa 800-1500 THB untuk 6 jam. Ibarat anjing ketemu tulang, langsung aja kami sambut tawaran si abang baik hati ini. Dia bahkan sudah siap dengan peta Phuket Town di tangannya (curiga emang side job nya dia nih, hehe). Nggak sampai 5 menit, si abang datang dengan tuktuk dan supirnya yang udah engkong-engkong, hihi…jangan-jangan engkongnya sendiri nih dipekerjakan 😀

Irene di dalam tuktuk tercinta…

Destinasi pertama yaitu Phuket Old Town. Menurut si abang, di sini adalah kawasan Chinese people. Mereka tinggal di rumah-rumah tua yang disebut Sino Portuguese. Kami didrop di situ. Kalau ngga salah sih di sekitar Dibuk Road. Si abang ini bilang “take your time, i’ll wait here”. Waw…asik gini, hehe… Karena lapar, kami mampir di salah satu kedai Mie Cina di situ. Ternyata…di kedai itu ngga ada yang bisa bahasa Inggris dong, tampaknya Thai and Chinese only. Mati dah. Hahaha…sempet ditanya bisa bahasa Cina ga, kami hanya menggeleng malu, hihihi…akhirnya kita berbahasa Tarzan sama engkoh-engkoh yang jualan Mie. Wkwkwkw…. Beruntung banget mampir ke tempat ini. Mie nya sumpah super enak banggeud! Pork is always the yummiest meat! Kayanya ini mie Cina terenak yang pernah gw makan. Arghh….mengingatnya aja udah bikin ngacay (*ngiler*)…huhuhu…

Mie Babi terenak sejagad! Yummy yummy…

Gw rada lupa harga mie nya brp, saking udah teler kekenyangan dan keenakan. Hehe. Kalo nggak salah sih…50 THB. Murah kok untuk mie babi seenak itu, huhuhu. Beres makan kita foto-foto di salah satu rumah tua, si abang tuktuk bahkan dengan baik hati mau memfotokan kita bertiga 😀 Menurut gw, rumah-rumah di situ unik dan vintage banget, sayang karena udah banyak mobil lalu lalang jadi kesannya agak biasa dan susah juga cari spot foto yang ngga kehalang mobil yang parkir.

Chinese House @Phuket Old Town

Old Portugiese House @Phuket Old Town

Tujuan selanjutnya yaitu Big Buddha. Ada salah pengertian di sini. Maksud gw Big Buddha adalah Big Buddha yang ada di Promthep Cape. Yang warnanya putih itu. Ternyata si abang membawa kami ke Sitting Buddha yang ada di Wat Khao Rang, Khao Rang Hill. Saat itu sih gw nggak nyadar. Baru nyadar setelahnya kami ke Wat Chalong dan dari sana terlihatlah nun jauh di sana patung Big Buddha di Promthep Cape yang ada di atas bukit. Oh ternyata Promthep Cape begitu jauh! Batal deh ke Big Buddha, hehe, ngga apa-apa deh, Sitting Buddha di wat Khao Rang ini juga supeeerrr sekali kalo kata Mario Teguh mah. Sitting Buddha ini merupakan patung Sitting Buddha terbesar di Phuket. Wat Khao Rang nya sendiri sangat megah, tangganya banyak, capek juga naik ke atasnya, tapi setelah sampai di atas, bener-bener worth it, bagus banget dan artistik banget. Tempat ini masih sepi, pengunjung pun hanya kami bertiga dan 1 rombongan lain yang ternyata berasal dari Bandung juga (ih dunia sempit!). Kami menghabiskan banyak waktu berfoto-foto di sana dengan berbagai pose, hehe…sumpah keren banget…Sempet ketemu Bikkhu yang ada di sana, eh ramah banget, padahal asalnya rada ga enak ke dia krn gw foto-foto ala turis di Wat tempat ibadahnya. Hehe. Masuk ke Wat ini free. Buat yang mau tau kisah tentang asal muasal Wat Khao Rang, bisa baca di sini. Nice banget, thanks to abang tuktuk yang telah membawa kami ke sini… 😀

Memasuki Wat Khao Rang disambut patung-patung ini

Sitting Buddha @Wat Khao Rang

Wat Khao Rang

Ngambil foto ini sampe rebah-rebah di lantai lho…

Setelah puas menikmati Wat Khao Rang, si abang menawari kami untuk berkunjung ke Phuket Butterfy Garden. Sebetulnya gw udah pernah browsing dan katanya sih ga menarik. Tapi berhubung udah nyampe di Phuket, sayang juga sih kalo tawaran ini ditolak, mana bayar tuktuknya murah pula, ya udah deh kami nurut, hehe. Eeh, bener aja. Ternyata jelek dong. Huhu…Untuk masuk ke Phuket Butterfly Garden ini tiketnya seharga 300 THB (argh! Mahal!), kita juga dibekali cairan makanan untuk kupu-kupu, kali aja ada kupu-kupu yang mau nemplok gitu, hehe. Ternyata tmn gw Irene yang beruntung bisa berpose dengan kupu-kupu yang makan di tangannya. Girang banget dia, hehe… Overall Butterfly Garden ini biasa aja. Isinya ada berbagai serangga dari kupu-kupu, laba-laba, sampai scorpion dan tarantula, tapi di kandang kok, hehe. Tamannya sendiri nggak begitu luas tapi bersih, ada kolam ikan di tengahnya. Kupu-kupunya ada banyak tapi ngga ada yang mau hinggap di tangan saya, sebel, saya kurang manis kah? Hehe. Ada juga ruangan khusus tempat penangkaran, tempat kupu-kupu kawin, tempat kepompong, dst…saya sih ngga terlalu excited. Hehe. Kami berada di situ hanya sebentar aja. Rugi deh….huuuuu….soalnya mahal…yah tapi itung-itung pengalaman sih. Keluar dari situ, kami ngobrol dulu sama si abang tuktuk sambil nunggu supirnya makan siang. Si abang tuktuk ini sangat ramah dan pinter ngambil hati wanita (tsaaahhh…). Dia bilang kami tampak seperti berumur 18 tahun dan terkaget-kaget saat tahu umur kami sebenarnya, hihi…we had a nice conversation with him. He was the second Thai people that amazed me for the kindness and hospitality. The first is the van driver before, remember?

Inside Phuket Butterfly Garden

Irene berpose dengan kupu-kupu hasil “jeratan”nya

Perjalanan dilanjutkan menuju Wat Chalong. Ini adalah kompleks kuil terbesar di Phuket. Terdiri dari Wat Chalong sendiri yang terbesar dan beberapa kuil kecil di sekitarnyaa. Untuk masuk ke dalam Wat Chalong sebaiknya tidak memakai tank top atau celana pendek. Tapi di depan pintu masuk disediakan kain penutup kok, bisa dipakai free. Saya sendiri memakai cardigan tapi tetap bercelana pendek sih, hehe…maaf ya saya cuek 😛 Di dalam Wat Chalong sendiri ada beberapa patung Buddha dan di dindingnya terdapat lukisan-lukisan yang bercerita tentang perjalanan hidup sang Buddha. Saya naik sampai ke lantai paling atas. View-nya cukup mengesankan  dari atas Wat Chalong. Tapi sejujurnya karena tidak begitu memahami cerita Buddha sendiri dan patung-patung yang ada, saya hanya mengagumi keindahan arsitekturalnya saja…

Megahnya Wat Chalong

Puncak Wat Chalong

Patung Buddha inside Wat Chalong

Salah satu lukisan perjalanan hidup Sang Buddha

Salah satu kuil di kompleks Wat Chalong

A Bikkhu walking in front of the temple

Yang menarik saat mengunjungi Wat Chalong, yaitu adanya suara-suara keras dari rentengan mercon yang dibakar di seberang Wat Chalong, yaitu di dalam semacam bangunan dari batu bata yang berbentuk kerucut, di mana rentengan mercon dibakar dan diletakkan di dalamnya sehingga muncul suara-suara yang sangat keras dan asap yang lumayan tebal keluar dari bagian atas bangunan kerucut tersebut. Waktu itu gw ngga ngerti maksud dari ritual ini. Setelah browsing di rumah, ternyata pembakaran mercon ini dimaksudkan untuk mengucap syukur pada Sang Buddha. Semakin banyak berkat yang didapatkan, maka rentengan mercon yang dibakar sebagai tanda rasa syukur akan semakin banyak. Menarik juga 🙂

Tempat memanjatkan rasa syukur dengan membakar mercon. Bunyinya keras banget Bo!

Kunjungan ke Wat Chalong mengakhiri Phuket city tour kami. Oya, yang belum gw ceritakan, selain ke tempat-tempat tadi, kami juga “dimampirkan” di beberapa toko oleh si abang tuktuk. Ada toko souvenir khas Thailand, toko produk-produk kecantikan, toko perhiasan dan mutiara, sampai ke toko madu. Hahaha… Jadi ternyata si abang tuktuk ini punya kesepakatan dengan pihak toko-toko tersebut, yaitu apabila membawa pengunjung ke toko mereka, maka si abang ini akan diberi satu stempel tanda kunjungan. Si abang ini akan mengumpulkan stempel (entah sampai berjumlah berapa) dan kemudian akan mendapat reward sebagai balasannya, inilah yang masih menjadi misteri, entah berupa uang atau barang atau apa, hehe…yang jelas penting banget kayanya buat si abang tuktuk ini.

Awalnya sih gw seneng, karena dibawa ke toko souvenir, tapi harganya mahal-mahal, sialnya saya kepincut sama mbak-mbak pelayan di sana yang lagi-lagi memakai modus memuji-muji costumer untuk membuat hati gw seneng dan akhirnya…takluk pada bujuk rayunya. Hahaha…akhirnya saya keluar dari toko membawa satu set anting, kalung, dan gelang “mutiara-mutiaraan” yang setelah gw pikir sekarang, buat apa juga coba, hehe…eh tp bisa buat ke pesta undangan sih, gpp lah ya, hihi…dasar wanita. Sempet beli beberapa gantungan kunci gajah dengan harga murah juga di sana. Setelah toko souvenir ini, kami “dimampirkan” ke toko produk kecantikan seperti sabun, body scrub, body mist, aromatherapy, sampai balsem juga ada. Tapi (lagi-lagi) mahal Bo! Ga beli apa-apa. Yang mulai ga masuk akal, yaitu saat mampir ke toko perhiasan dan mutiara. Nadzubillah, mahalnyo!!! Jutaan kali, gw ga sempet ngitung-ngitung lagi soalnya langsung pusing liat perhiasan yang bling-bling itu. Haha…Lalu ke toko madu, di mana gw cukup terkesan karena kami ditanya berasal dari mana dan setelah tahu dari Indonesia, kami langsung “dioper” ke mbak-mbak orang Indonesia, dan kita “digiring” ke satu ruangan untuk mendengarkan ceramah mbak-mbak itu tentang madu. Hahaha…serasa kaya di MLM nih, hihi…jelas aja kami ngga belli madunya, lha wong mahal banget sampe ratusan ribu rupiah. Akhirnya kami Cuma numpang beli es krim di sana, hihi. Untungnya, semua pelayan toko-toko itu sangat profesional, kami disambut dengan baik, memang setiap tamu yang datang akan disambut,  diberi pengarahan mengenai produk mereka, membiarkan kami melihat-lihat, dan sama sekali tidak memaksa kami untuk membeli. Menyenangkan. Semua pelayan tersenyum, ramah dan profesional. Looks like they love their jobs.

Hari yang indah di Phuket Town pun berakhir meninggalkan rasa senang dan puas. Sedih juga berpisah dengan si abang tuktuk nan ramah dan baik hati. Saat kami akan membayar, kami bertanya berapa yang harus kami bayarkan, eh, dia tetap bersikeras 100 THB dong. Padahal kami muter-muter ada sekitar 6 jam. Akhirnya kami membayar si abang 600 THB. Gw rasa sih sepadan banget dengan nice trip yang udah dia berikan ke kita… 😀

Kami diturunkan tepat di belakang bus yang akan membawa kami ke Karon Beach. Tarifnya 35 THB perorang. Karena si bus ini masih ngetem dulu, kami jajan cemilan sosis babi goreng dan pangsit goreng yang enak banget…*ngiler babak 2* Gw sempet beli bakpia juga di salah satu toko Cina. Awalnya mau beli pembalut di apotek, malah jadinya beli bakpia. Ada cerita lucu tentang pembalut, berhubung gw ga tau bahasa Inggrisnya pembalut, gw tanya ke Vivi. Kata dia nahasa Inggrisnya pembalut adalah Sanitary Napkin. Wah keren gitu namanya, eke aja baru tau, hehe. Pas di apotek, dengan pedenya gw nanya ada Sanitary Napkin apa kaga, eh para ibu-ibu yang jaga apotek malah bengong semua. Putus asa gw, akhirnya gw bilang…that’s one for menstruation. Eh mereka ngerti dong, dan langsung ber-ooo ria. Ternyata ngga ada di apotek itu. Huuu…malu deh. Mana bahasanya vulgar gitu. Haha…back to bakpia. Bakpianya unik loh, ukurannya raksasa, kira-kira berdiameter 8-10 cm, dan selain kacang hijau, ada potongan timun kecil-kecil, enak, jadi “krenyes-krenyes”. Bakpia ini sukses jadi cadangan pengganjel perut selama beberapa hari ke depan. Hahaha! Harganya 100 THB isi 3 biji. FYI, tante-tante penjual bakpia pun ramah banget dan baik hati, sempet ngajak ngobrol juga dan bilang “have a nice trip”. Wiw…oya dia sempet mengklaim bakpia bikinannya is number one. Hihi. Number one di mana Tan, tingkat RT, RW, Kota, atau dunia? 😀

Delicious street food!

Bakpia raksasa number one 😀

Tak lama, bus pun berangkat. Rupanya perjalanan ke Karon lumayan jauh. Jalannya berbukit-bukit. Jadi bingung, ini mau ke pantai atau ke gunung nih? Hehe. Penasaran? Read it in the next post!

Day 4 – Patong Beach

Selasa, 17 April 2012. Finally, woke up in the morning at Patong, Phuket! 😀 Kami bangun jam 6 pagi, dan langsung menuju Pantai Patong , yang menjadi main beach di Phuket. Kalau di Bali sih seperti Kuta-nya. Dari hotel kami berjalan sekitar 10 menit ke pantai, dan surprisingly, ternyata pantainya sepi abis. Paling hanya ada satu dua bule yang jogging di sepanjang tepi pantai (rajin amat ya, hehe)…niatnya sih kita pengen liat sunrise, eh tapi kok udah agak terang ya, dasar wanita-wanita pemalas semua, hihi… Pantai Patongnya sendiri nggak terlalu bagus, biasa aja, mirip Kuta tapi jauh lebih bersih. Jarang terlihat sampah, paling-paling cuma batok kelapa aja. Sedangkan terakhir kali saya ke Kuta tahun 2006 aja udah lumayan kotor banyak sampahnya. Di Patong ini pasir pantainya agak coklat, biasa banget sih, hehe…ombaknya juga nggak terlalu besar. Di kejauhan tampak beberapa kapal. Langit masih malu-malu, menunjukkan wajahnya yang biru muda….tssaaahhh…damai sekali rasanya hati ini.

Patong Beach in the morning

Patong Beach with a local boat

Kami berjalan pelan menyusuri tepi pantai sambil berfoto-foto narsis dan melakukan ritual wajib “alay” yang biasa orang Indonesia lakukan kalau ke pantai (I’m not sure the “bule” do this), yaitu menorehkan nama masing-masing di pasir. Hahaha…

Gini deh kelakuan alay turis Indonesia mah, hihihi.

Puas berjalan dan “keceh” di pantai, kami berjalan menyusuri main road di sepanjang pantai Patong, yang ternyata juga sangaaaattt sepi. Toko maupun restoran ternyata baru dibuka jam 10, hehe…kami kesiangan untuk sunrise tapi kepagian untuk jalan-jalan, hehe…Kelaparan, kami nemu pedagang makanan keliling yang unik, kami jajan Bacang, Cakweh (di sana juga ada ternyata), dan satu lagi jajanan khas Thailand yang dinamakan “Kao Niau” (i’m not quite sure how to write it), ini semacam sticky rice yang ada Honeymoon Dessert. Sepertinya pake beras ketan dan gula, manis gitu, topping di atasnya manis seperti rasa gula aren. Yummy, i like it! Hard to describe it, liat aja fotonya di bawah ya, hehe…Harga jajanan-jajananynya murah meriah, sekitar 10-20 THB saja. Lumayan untuk ganjel perut di pagi hari.

Street food sarapan kami di Patong

“Kao Niau” *sorry if i write it wrong*

Finally, touch down Patong! XD

Jalanan sepanjang Pantai Patong juga persis seperti di Kuta, berjajar cafe-cafe dan bar, yang masih tutup pagi itu, hahaha…dari main road, kami berbelok ke kanan, yang ternyata Bangla Road yang terkenal dengan nightlifenya itu. Berjejer bar-bar yang menarik, ada yang disertai tiang-tiang untuk dance, agogo show, etc…nggak sabar rasanya pengen ke sini malam hari nanti XD Pagi ini sih cuma bisa gigit jari aja…ya iyalah, dancer-dancernya aja kali baru mulai molor pagi ini, hahaha…Bangla Road ini  ternyata sangat pendek, paling sepanjang Jalan Braga kalau di Bandung.

Salah satu bar-resto di main street Patong

Salah satu bar @Bangla Road, pagi-pagi mah msh tutup, hihi.

Belok kanan dari Bangla Road yaitu Rat-U-Thit Road, pusat kuliner di Patong. Berjajar restoran-restoran, yang tampaknya sih pricey. Lagi jalan santai tiba-tiba si Irene kebelet boker, plus pasang tampang meringis campur semi-ngeden gitu, akhirnya mampir dulu deh ke McD setempat. Hehe…boker termahal tuh, seharga McD, hahaha…gw lupa di sini makan apa, yang jelas nggak  ada di McD Indo dan rasanya enak, hehe. Gak lupa foto sama si Ronald McD yang unik, posenya ala-ala salam Thailand gitu, ternyata si Ronald jago beradaptasi juga ya, hehe…

Sawaddee kha Ronald McDonald! 🙂

Setelah beres urusan boker di McD ini, kita lanjut berjalan menuju hotel, nglewatin Hard Rock Cafe juga, ih pengen deh ke sana…sayang gak kesampean…

Hard Rock Cafe @Rat-U-Thit Road

Untung sampe hotel dengan selamat, setelah agak lost gara-gara buta arah dan lupa bawa peta. Setelah mandi-mandi cantik di hotel, kami melanjutkan petualangan kami selanjutnya, yaitu ke Phuket Town. Berdasar info dari mbak resepsionis yang ramah, ternyata ada bus yang nongkrong tepat di main road Patong menuju ke Phuket Town. Bener aja, hehe…ada 2 jenis bus. Yang pertama bagus, kaya bus pariwisata mini gitu, yang kedua busnya kaya angkot raksasa, hehe…Kita naik yang kedua. Tarifnya 20 THB saja menuju Phuket Town. Kita penumpang pertama. Masih pagi soalnya…nunggu rada lama sampe bus penuh, baru deh berangkat. O ya sempet beli Chicken Kebab yang enak banget di pinggir jalan, tapi harganya 100 THB ( Damn!), akhirnya Cuma beli 1 buat bertiga. Hahaha…dasar semi-backpacker kere 😛 Penumpang bus hampir semuanya bule. Perjalanan ke Phuket Town ga jauh, sekitar 15 menit dari Patong (eh nyesek juga yah kmrn naik van 500 THB bertiga, naik bus Cuma 60 THB bertiga. Swt.).

Our bus to Phuket Town, 20 THB only!

And the journey to Phuket Town begins…

Day 3 – Cross Malaysia-Thailand Border (Padang Besar-Hatyai-Phuket)

Hari ketiga, Senin 16 April 2012. Still on sleeper train. Tidur di kereta ini agak awkward at first, karena space-nya yang nggak terlalu luas plus ada goncangan-goncangan kereta yang bikin badan agan “ajluk-ajlukan”. Plus sialnya buat gw, 3 orang tetangga yang very-very noisy… 😦 Tapi toh tidur gw nyenyak-nyenyak aja, meski sempet bingung karena kebelet pipis, hehe…gw bingung apa ada toilet ga yah di kereta ini…ternyata subuh-subuh banyak penumpang yang mondar mandir bawa sikat gigi dan handuk. Dan ternyata…toiletnya tepat di sebelah bed gw (bed gw no 1). Hahaha… Sekitar jam 10 pagi, kereta berhenti di Stasiun Padang Besar, yaitu perbatasan negara Malaysia-Thailand.

Tiket Sleeper Train KL-Hatyai

View from train’s window

Padang Besar Station

Di sini penumpang diminta turun dan membawa seluruh bawaan. Kami mengantri di imigrasi. Ternyata di sini harus mengisi kartu imigrasi. Petugas-petugasnya agak menyeramkan karena berseragam dan tampangnya serius-serius plus nggak ramah sama sekali. Di kartu imigrasi kita hanya diiminta menuliskan nama, tanggal lahir, asal negara, nomor paspor, kota yang akan dituju, dan tempat tinggal selama di Thailand nantinya. Proses imigrasi berjalan lancar, setelah mendapat cap, kami menunggu di peron. Ternyata kereta kami yang tadi sudah pergi. Entah ke mana? So…kami menunggu…agak lama juga sih sekitar setengah jam. Sempat ke WCnya…buset parah…*sick* Nggak ada tokai atau apa sih, tapi kotor dan bau…zzz… Kereta pun datang dan kami semua masuk. Ternyata keretanya masih sama seperti yang tadi, tapi sudah dibersihkan oleh petugasnya. Kami kira kereta akan langsung berangkat. But you know what? Delay sampai 3 jam dong! Worst moment ever! Di mana gw udah tidur sampai 4 babak dan keretanya masih di tempat. Argh! Padahal dari hasil browsing sebelum berangkat, dibilang keretanya tepat waktu. Gw nggak gitu ngerti apa yang menyebabkan delay, tapi dari hasil nguping sana sini, sepertinya kereta yang membawa mesinnya terhambat di jalan. Jadi saat itu keretanya belum gabung sama mesinnya. Entah bener atau enggak ya, whatever lah…haha…

Nunggu sampe jamuran

Dari hasil pengamatan gw saat itu, ternyata turis bule lebih nggak sabaran dibanding turis Asia. Dari urut-urutannya yang pertama kali komplain adalah bule. Disusul bapak-bapak berbahasa Cina yang entah berasal dari mana, lalu baru disusul orang Thailand. Sedangkan kami sendiri? Nggak komplain sama sekali malah tidur pules sampe beberapa babak. Hahahahaha…..!!! Beberapa turis bule bahkan ada yang langsung keluar membawa semua barangnya dan nggak balik lagi. Mungkin mereka mencari kendaraan alternatif. Hehe. Kita bertiga sih pasrah aja. Meskipun yang bikin kesel, gara-gara berangkat jam 1 itu, sudah dipastikan kita akan sampai ke Phuket tengah malam…ngga bisa jalan-jalan deh malam ini 😦 Yah, meskipun mengalami delay, tapi pengalaman naik sleeper train ini sangat berharga dan asik. Kalau punya banyak waktu dan ingin merasakan sensasi liburan yang berbeda, boleh dicoba nih naik sleeper train Malaysia-Thailand 😀 Pretty cheap, comfortable and safe kok.

Hatyai Station

Sesaat sebelum sampai di Hatyai, kami sempet “diteror” seorang bapak-bapak dari agen minivan. Dia menawarkan jasa minivan dari Hatyai ke Phuket dengan tarif 55 RM. Kami tolak. Dengan harapan mendapatkan tarif yang lebih murah di luar. Bapak itu sempat bilang kalau keadaan di Hatyai nanti sangat hectic. Eh bener aja. Baru turun dari kereta kami sudah dikuntit beberapa penawar jasa minivan. Abang-abang gitu…agak maksa pula, males  deh 😦 Kami mengikuti salah satu abang ke kantor agen minivan yang ada di seberang stasiun Hatyai, dan jegeeerrr…bad  news. Van baru tersedia jam 5 sore. Sekarang baru jam 2. Oya dia sempat ngasih harga 800 THB. Gila aja! Untung kami udah sempet browsing sebelumnya. Kami  menawar 400 THB, si bapak langsung oke…eeehh…kurang murah kali ya gw nawarnya, haha. Tapi karena van dia adanya jam 5, kami tolak. Setelah ditolak pun si abang-abang masih menguntit terus…grrrr…kami kabur ke warung makan di sebelahnya, pesen Pork Rice yang enak banget dan murmer hanya 50 THB saja, udah termasuk Ice tea. Hehe. Perut kenyang, kami mencoba peruntungan ke agen van lain, ternyata sama saja, van baru tersedia jam 4.30. Katanya sih penuh karena musim liburan. Hiks. Akhirnya deal deh dengan harga 450 THB. Masih 2 jam menunggu, kami berjalan-jalan dulu dan menemukan cafe yang lumayan lucu di depan Mall Robinson, nongkrong deh 🙂 FYI, Hatyai ini ternyata termasuk salah satu kota terbesar di Thailand. Tapi…menurut gw sih suasana Hatyai ini lebih mirip kota Tegal atau Tasikmalaya, hihihi…

Suasana kota Hatyai

Cafe tempat kita nongkrong di Hatyai

Yang membuat kami terkesan saat itu, pemilik cafenya sangat amat ramah. Kami pesan Ice Cappucinno dan EsKrim. Betah deh… 🙂 Oya sempet mampir ke Robinson untuk boker gratis dulu, hihi… Jam 4 kami kembali ke kantor agen van tadi, mengobrol dengan mbak-mbak penjaga di sana yang juga sangat ramah. Dia menunjukkan peta Thailand dan menceritakan beberapa hal seperti Full Moon Party. Tidak lama van pun datang. Keren banget vannya hehe ada TV nya dan filmnya TinTin pake dubbing bahasa Thailand, hahaha…supirnya pun sangat amat ramah. Pake GPS juga dia, yang ada di sebelah setir. Uwew…saya yang ndeso atau emang keren ya, hehe… Perjalanan sekitar 6 jam, sempat mampir ke salah satu restoran untuk makan. Menunya kaya nasi rames gitu, 50 THB dan nggak enak. Huhu…

Sesampainya di Phuket Town, kami bingung karena sudah jam 12 malam dan agak serem juga kalo harus naik tuktuk ke Patong. Rencana awal kan turun di terminal bus dan naik tuktuk seharga 200 THB ke  Patong. Si bapak supir ini ternyata mengerti kebingungan kita, saat kita bilang tujuan kita sebenarnya ke Patong, dy menawarkan untuk mengantar kami sampai hotel di Patong dengan tarif 500 THB bertiga. Deal deh. Si bapak meminta alamat hotel kami dan langsung mencari di GPS (kewl!). Eh ternyata ngga ada di GPS. Hahaha. Amazing, dia menelepon ke hotel kami dan meminta petunjuk arah. Gile bener…profesional banget ya…Di perjalanan pun dia mengajak kami mengobrol dan memberi tips-tips travelling di Patong. Hehe. Baik banget…cinta deh sama bapak ini. Hehe. Tapi ternyata bapak ini hanyalah satu dari sekian banyak orang baik yang akan kami temui  selama di Phuket nantinya.

Santi White Hotel

Hotel kami Santi White Hotel, terletak di Prachanukhro Road. Kecil tapi bersih dan nyaman. Nggak se-comfy hotel kami sebelumnya di KL sih, ya maklum aja ini kan bintang 3, hehe. Tapi hotel ini cukup melebihi ekspektasi gw sebelumnya J  Untuk yang mau ke Patong dengan budget seadanya, bisa banget nih nginep ni hotel ini. Ini site-nya Santi White Hotel. Atau bisa juga via Agoda. Per malam 1500 THB untuk 3 orang sudah termasuk extra bed. Kamar dan kasurnya luas, kamar mandinya sangat bersih. Untuk review lebih lengkap tentang hotel ini bisa lihat di sini : Tripadvisor

Our room @ Santi White Hotel

Akhirnya malam itu ditutup dengan mandi dan tidur lelap… next day perjalanan seru sudah menanti 😀