Day 1 – Kuala Lumpur (Chinatown-Central Market)

Well, gw mau share ttg holiday trip gw selama seminggu di Kuala Lumpur-Phuket. Which was a really fun holiday. Tentang pre-trip nya udah gw ceritain di postin gw sebelumnya. So, ceritanya ini pengalaman pertama gw  ke luar negeri. Kali ini gw dan 2 temen cewe gw  nekat semi-backpackeran (why semi? hehe. You’ll understand later) ke Malaysia dan Thailand. Destinasi yang dituju yaitu Kuala Lumpur dan Phuket. Saya dan teman saya Irene berangkat dari Bandung pagi-pagi buta jam 01.00 naik travel Cipaganti menuju Soetta. Btw, ini pengalaman pertama saya ke Soetta International. Hehe…dan agak bingung juga kita turun di terminal mana. Baru tahu ternyata terminal-terminalnya dikategorikan dari maskapai penerbangannya (ndeso abis!). Kita ngga tahu Lion Air berangkat dari terminal mana hehe so…bablaslah si supir Cipaganti melewati terminal 2D, sampai dia kebingungan kok kita nggak minta turun. Bablas sampai terminal 2E, akhirnya kita jalan ke terminal 2D setelah diomelin supir. Kesel juga sih, haha… Baru tahu juga kalau terminal 3 khusus buat Air Asia. Keren juga yah, hahaha… *penting ga sih?* Ternyata si supir Cipaganti keren juga, perjalanan Bandung-Soetta cuma 2,5 jam saja, padahal di pool kita dikasih tahu perjalanan sekitar 4 jam. Alhasil sampai sana kita bingung deh mau ngapain, secara pesawat masih jam 9.05😄 Yah namanya juga first experience, jadi rada parno gitu, sengaja berangkat awal, takut banget ketinggalan pesawat. Sesampainya di bandara baru ngeh kalo kayanya gw terlalu lebay deh, hehehe…sampe sana 03.30 cuy! Jadilah kita membuang 6 jam dengan : jalan mondar mandir terminal, tidur-tidur ayam, beli sarapan yang mahalnya amit-amit, air mineral 330ml harganya 6rb duonks… Untungnya bandara cukup rame, kebanyakan sih rombongan umroh dan haji gitu deh, dan yang bikin geli sih, mereka kayanya dianter sama orang satu kampung deh…atau semua sanak saudaranya kayanya. Sampai banyak balita-balita juga pada ikutan…kayanya mereka bakal gelar tikar trus nimbel deh di sana, atau hajatan bagi-bagi nasi kuning, who knows? Yah, begitulah Indonesia, kekeluargaannya patut diacungi jempol, hahaha…gak di bandara gak di rumah sakit, sami mawon…

Sekitar jam 7 tmn saya Vivi nongol, kita bertiga check in dan thanks God lancar. Yang bikin kecewa, ternyata boarding room nya kecil dan penuh abis…Dengan muka badak kita bertiga ngemper deh di lantai…Gak pake lama, berangkatlah pesawat kita jam 09.05. Pesawat Lion Air kali ini sudah jauh lebih bagus dibandingkan terakhir kali saya naik tahun 2006 (ya iyalah ya…udh lama bgt hehe).  Penerbangan selama 2 jam cukup lancar dan mulus tanpa kendala.

Akhirnya sampailah kita di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Kesan pertama : bingung! Banyak banget petunjuk arah dan kita ngga ngerti harus ke mana. Akhirnya kita membuntuti koko koko cakep yang satu pesawat sama kita, hehehe…sempet lewat di air minum dari keran semprot dan si Irene semangat banget pengen nyoba, tapi karena rame banget dan takut kehilangan si koko cakep “guide” kita itu akhirnya ngga jadi nyoba deh, kecewa, hihi…Di sana kita nemu booth SIM Card. Ada Digi, Celcom, dan 1 lagi saya lupa. Orang-orang udah berjubel di masing-masing booth. Kita pun nyamperin booth Digi. Pegawainya sangat cekatan. Dia nanya kita berapa lama di KL, dan langsung menawarkan paket unlimited BB seharga 23 RM. Damn…mahal juga. Perasaan budget kita 10 RM deh. Tapi akhirnya kita pasrah aja sama si pegawai Digi. Dia langsung mengaktifkan paket BB kita bertiga saat itu juga, dalam waktu ngga sampai 5 menit. Man, ngebut abis…beda banget sama pegawai counter HP di Indo, isi pulsa elektronik aja lambreta… kadang ngga sampai karena lagi gangguan (pernah ngalamin? *wink*). Sehabis urusan imigrasi selesai (o ya, sekarang kita tidak perlu lagi mengisi kartu imigrasi loh, langsung aja antri di bagian imigrasi dan dapet cap deh, hooraayy), untuk mengambil bagasi ternyata kita harus naik kereta cepat. Kereta cepat ini hanya berjalan di dalam bandara saja. Keren lah, hehe…pertamanya bingung sih harus ke mana, untungnya si koko cakep tadi melintas lagi dan kita pun membuntutinya lagi, hihi. Risiko good-looking guy ;p Menurut saya, bandara KLIA itu ribet banget. Banyak banget petunjuk-petunjuk yang membingungkan dan ruangannya sangat luas bikin kita bingung. Awalnya kita mau naik KLIA Transit tapi muter-muter nggak nemu sampai akhirnya pasrah dan berakhir di foodcourt KLIA di lantai 2 untuk menjernihkan pikiran (apa perut?). Pesan Curry Noodle yang enak banget! Harganya 12 RM termasuk Ice Coke. Setelah kenyang dan agak sadar, kita muter-muter lagi dan akhirnya memutuskan naik Airport Shuttle  Bus saja. Ada di Ground Floor. Beli tiketnya seharga 10RM. Nunggu penumpang lainnya sekitar 5 menit, langsung berangkat. Kondisi busnya bagus dan bersih seperti bus pariwisata. Nice🙂

Narsis dulu dpn bus ;p

Narsis dulu dpn bus ;p

Nice and clean bus 🙂

Perjalanan menuju KL Sentral memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di KL Sentral…langsung disambut dengan bapak-bapak India yang menawarkan taxi. Kami menghampiri booth Genting Highland yang berada tepat di perhentian bus. Ternyata tiket untuk besok (Minggu) sudah penuh dan tersisa hanya keberangkatan jam 12 siang😦 Padahal kami berencana berangkat jam 8. Huaaanngggg…sedih banget. Terpaksa rencana ke Genting dibatalkan. Selanjutnya kami keliling KL Sentral mencari penjualan tiket kereta untuk ke Hatyai esok malam. Kereta malam hanya berangkat 1 kali pukul 21. Konon kabarnya kereta biasanya selalu penuh sehingga kita harus cepat-cepat beli tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Eh, benar saja…saat itu hanya tersisa 3 tiket dong! Gila pas banget. Hahaha…nomornya ngga urut, which means kita dapat tempat tidur yang tidak berdekatan. Kita dapat nomor 1, 37, dan 39. Kereta yang kita naiki adalah tipe Sleeper Train kelas 2. Harga tiket 54 RM. Menurut hasil browsing saya sih, perjalanannya sekitar 12-13 jam. Errr…kenyataannya tidak begitu, hiks. Tapi akan saya ceritakan nanti. Kesan saya mengenai KL Sentral…ampun ribetnya! Sama saja kayak KLIA, banyak banget petunjuk yang dipisahkan berdasarkan warna, dan membingungkan…huhuhu…Di KL Sentral ini ada berbagai jenis transportasi yang keluar masuk : LRT, Rapid KL, KLIA Transit, Komuter, Kereta Api, Bus, dst…argh! Bikin pusing karena banyak sekali booth penjualan tiket yang lokasinya terpisah-pisah.

 

Petunjuk-petunjuk yang bikin depresi ;p

 

Bagaimana kenyataan hidup Anda?😄

Haha…Dari KL Sentral kami keluar menuju stasiun Monorail, yang ternyata agak jauh hahaha…untung ada petunjuk jalan, jadi serasa Dora the Explorer…btw, sebelumnya kami sempet beli minuman kaleng di mesin penjual minuman yang pake koin, Lipton Ice Tea kaleng hanya 1 RM saja. Pantes murah, ternyata nggak dingin. Hahaha…

Di stasiun monorail kami beli tiket yang ternyata berupa koin token di boothnya, karena blm bisa pakai mesin tokennya, hehe. Tapi saya sempat ngintipin orang yang beli di mesin itu, ternyata cukup mudah, tinggal klik klik aja mesin touch screennya, pilih nama stasiun yang dituju, berapa orang, nanti keluar harganya dan kita tinggal memasukkan uang (bisa kertas dan logam), langsung keluar deh token-token berwarna biru dan uang kembaliannya. Yang menyebalkan, mesin ini nggak terima uang kertas lecek. Kalau lecek atau terlipat sedikit saja, uangnya akan keluar lagi, haha…mesin yang sombong… ;p Jenis pecahan uang kertas dan logam nya pun ditentukan, dan tiap mesin berbeda-beda, kita harus memperhatikan benar-benar. Token biru ini ditempelkan ke sensor mesin “pintu” stasiun saat kita berangkat, dan dimasukkan ke dalam mesin “pintu” saat kita keluar dari stasiun yang dituju. Pretty simple. Hehe.

 

Mesin Token yang praktis, pintar, dan agak “sombong” hehe…

Sebetulnya all the machine things ini yang sebelumnya bikin gw jiper, maklum udik, hehe, tapi  ternyata gampang aja kok. Bahkan di KL juga ada kartu khusus yang bisa diisi ulang dan bisa dipakai untuk semua moda transportasi seperti Monorail, LRT, Komuter… Nanti kartunya saja yang disentuhkan ke sensor, bahkan kalau kartunya disimpan di dalam dompet, tidak perlu dikeluarkan, tinggal sentuhkan dompetnya saja ke sensor. Kewl! Hahaha…

Singkat kata, kami naik Monorail dari Stasiun KL Sentral menuju Stasiun Medan Tuanku. Kondisi di dalam Monorail saat itu penuh, berdesak-desakan, dan panas. Fiuh. Tapi secara umum fasilitas di dalam Monorail bersih dan terawat dengan baik. Keluar dari Stasiun kami mencari hotel kami, Quality Hotel City Centre di Jalan Raja Laut kawasan Golden Triangle. Meskipun sudah dikasih petunjuk jalan dari adik saya yang sudah terlebih dahulu menunggu di sana (dia tinggal di KL selama 6 bulan), eh tetap saja nyasar…sampai 1 jam. Haha…lumayan capek juga…padahal barang  bawaan saya hanya 1 buah ransel seberat 7kg dan sebuah tas tangan. Setelah hampir putus asa, akhirnya kita sampai juga di hotel bintang 4 tersebut. Hehe…bawaan sih boleh ransel, tapi nginepnya di hotel bintang 4 (makanya di atas saya sebut “semi-backpacker”). Jangan salah, hotel ini hanya bertarif 180 RM permalamnya untuk kamar Family Deluxe dengan 2 Queen Beds, yang telah kami pesan sebelumnya via Agoda. Kamarnya sangat memuaskan. Hehehe… Lokasinya pun cukup strategis. Info lebih lanjut bisa buka di sini.

 

Lokasi hotel kami

 

Model Quality Hotel nih!😄

2 Queen Beds yang mantap banget!

Oya, dalam perjalanan nyasar menuju hotel sempat juga memperhatikan berbagai kosakata yang unik dari Bahasa Malaysia, hehe…ini salah satunya :

 

Pakar Pergigian….hmmmm….adakah Pakar Pergigian Perkawatan? (baca : Orthodontis)😀

Setelah puas berleha-leha di hotel dan mengubah itinerary perjalanan esok hari yang berantakan karena ngga jadi ke Genting, kita bersiap-siap jalan-jalan ke Chinatown. Tentunya hunting masakan babi. Hehe…dari hotel kita naik Monorail lagi dari Stasiun Medan Tuanku menuju Stasiun Pasar Seni dan berjalan menuju Chinatown. Chinatown ini sangat ramai. Food stall memenuhi seluruh pinggir jalan. Berbagai masakan Chinese ada, akhirnya saya mampir ke salah satu stall dan memesan Chicken Rice Claypot. Penjualnya ternyata tidak begitu ramah, atau mungkin memang begitu kali ya pembawaan mereka, saya nggak tahu, lha bahasanya aja saya ngga mudeng. Hehe. Setelah pesanan datang, yang ternyata mangkoknya gede banget. Jadi nasi Claypot ini, sesuai namanya, nasi yang dimasak langsung di dalam mangkok dari clay, dikasih bumbu-bumbu dan daging. Ternyata setelah disajikan, nasinya harus cepat-cepat diaduk supaya bumbunya tercampur merata (warnanya jadi kecoklatan). Eh…karena ngga tau, saya diemin aja tuh nasi. Ngga berapa lama tiba-tiba yang empunya warung langsung dateng dan entah nggerundel apa dalam bahasa Chinese, langsung ngaduk-ngaduk  nasi saya. Hahaha…setelah saya celingak celinguk memperhatikan pembeli yang lain, baru ngeh deh kalau nasinya harus cepat diaduk. Kalau engga nasi bagian bawahnya akan gosong dan bumbunya ngga nyampur merata. Malu deh…hihi. Mana saya tahu Om. Yang pasti, rasanya sih oke banget, meski ada rasa-rasa nasi gosong yang tercipta karena ketidaktahuan saya tadi. Ayamnya direbus dan dimasak arak. Nyam nyam yummy…langsung teringat keluarga di rumah dulu kalau acara ultah atau imlek atau ada yang sakit pasti aja disediakan ayam rebus masak arak kayak gini…hmmm…nostalgila… ;’)

Makanan lain yang menemani kami malam itu adalah berbagai panggangan daging, termasuk panggangan babi…aish…dendengnya juara deh, numero uno! Ada juga burger babi…rotinya sih biasa, tapi daging burger babinya…ruar biasa! Lejat! Must try lah bagi para babi-lover…mampir ke Chinatown. Hehe…Selain masakan2 Chinese, ada juga snack-snack, kami sempat nyoba jajanan semacam Serabi…enak, manis, harganya 2RM/4piece. Sayangnya karena semua kalap, ngga ada yg sempet foto makanannya dong… >.<

 

Suasana makan di Chinatown

 

Burger stall yang maknyus tenan…sampe ngebungkus!😄

 

Petaling Street, serasa di Pasar Baru

Puas makan, kita jalan sepanjang Petaling Street Chinatown, yaitu tempat berjualan barang-barang “second”, miriplah di Pasar Baru Bandung. Nothing special. Hehe…kecuali Anda berminat shopping… Yang menarik, entah kenapa hampir semua penjaja kios di sini merupakan orang India. Next destination : Central Market.

Pose dulu…itu icon apa ya di belakang? Lupa…tapi di gantungan kunci ada tuh.

 

 Eh ada abang-abang ikutan ajah… ;p

Ngga terlalu jauh dari Chinatown, dapat ditempuh dengan berjalan kira-kira 10-15 menit. Nah ini baru menarik. Hehe…ini pusatnya belanja oleh-oleh. Kata adik saya, mayoritas penjaja di sini adalah orang-orang Jawa. Eh bener aja, kios pertama yang kita datangi penjualnya orang Indonesia. Hehe…di sini saya borong gantungan kunci seharga 1RM/bh. Harga pajangan meja berbentuk Petronas 5RM/bh. Beli 1 deh buat kenang-kenangan ;p Lumayan…Puas juga mblusuk-mblusuk ke dalamnya yang ternyata luas juga. Mirip Pasar Sukawati Bali dengan tatanan yang lebih bagus. Menjelang tutup (kira-kira pukul 21.00 waktu Malaysia), ada pertunjukan tari-tarian daerah yang menghibur di dekat pintu gerbang, banyak turis yang menonton, bahkan beberapa ikut menari dan mendapat sambutan meriah, hehe. Sayangnya saya gagal merekam pertunjukannya…sialan, gara-gara gaptek. Jadi ceritanya udah gaya ngerekam tapi eh tapi…tombol rec nya blm dipencet… >.< no comment deh. Baru sadar setelah di Indo. Fuh. Sayang banget, padahal ada adegan bule-bule cowo yang nari dengan kocaknya.🙂

Puas belanja di Central Market, kami pulang deh ke hotel…can’t wait for tomorrow…Kami akan ke Petronas dan Bukit Bintang…🙂

2 thoughts on “Day 1 – Kuala Lumpur (Chinatown-Central Market)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s