Day 5 – PhaNga Bay & James Bond Island Tour

James Bond Island Trip! Yeay! Pagi ini kami dijemput jam 08.00 oleh agen tur. Supirnya agak jutek. Dia memberi kami tali berwarna merah untuk diikatkan di pergelangan tangan, yang menjadi tanda pengenal kami. Mobil yang digunakan yaitu semacam mini van kecil, memuat kira-kira 9 orang. Ada sepasang suami istri India dan beberapa bule. Perjalanan menuju pelabuhan Ao Poh ditempuh dalam waktu kira-kira 30 menit,  melalui jalan yang menanjak dan berliku-liku. Sesampainya di pelabuhan kami masih menunggu rombongan peserta tur lainnya. Hampir semua bule. Hehe. Kami naik semacam bus kecil untuk mencapai kapal, yang jaraknya hanya selemparan batu saja, hahaha. Di sini peserta berjejal-jejal dan berebut masuk. Ah ternyata bule bisa ndeso juga, batin saya. Hehe. Kami naik bus kloter kedua. Kapalnya sendiri berupa long tail boat yang berukuran besar, memuat kira-kira 40 orang. Tampak bersih dan kokoh. Kami naik ke lantai 2, dan setelah semua peserta berkumpul, kami diberi pengarahan singkat oleh kru kapal. Yang lumayan bikin gw kaget sih, ternyata kru kapalnya semuanya abang-abang. Hehe. Ya bukannya mengharapkan bapak-bapak atau ibu-ibu sih, cuma mereka ini keliatan masih muda, gaya berpakaiannya kaya rapper, dan nyantei banget, hehe… Mereka menjelaskan sambil disertai candaan-candaan yang bikin suasana jadi nggak kaku. Lucunya, ada sekelompok peserta yang berasal dari Yunani, yang nggak bisa Bahasa Inggris. Dan kelompok Yunani ini hanya bisa terbengong-bengong aja, sampai akhirnya para kru memberikan pengarahan privat kepada mereka dengan bahasa Yunani campur sedikit bahasa Tarzan. Gw salut banget sama orang travel kaya mereka. Bayangin, bahasa Yunani loh. Siapa juga yang mau repot-repot belajar bahasa Yunani yang bentuknya kaya simbol matematika itu? Hihihi…tapi mereka bisa loh…waw. Kalah sama abang-abang😦

Gugusan pulau di PhaNga Bay

Air laut berwarna hijau ruby

Perahu lokal

Di kapal itu disediakan minuman aqua, cola, dan kopi gratis. Ada juga biskuit nanas (yang gw gak doyan) dan pisang (gw juga ga doyan), all free. Ada juga bermacam-macam beer termasuk beer Thailand yang disebut Chang. Kalo ini sih nggak free. Perjalanan pun dimulai…i’m very excited. Ini pertama kalinya buat gw naik kapal besar dan island hopping kaya gini. Beruntung cuaca dan langit hari itu sangat cerah, angin bertiup sepoi-sepoi…what a perfect day for islands tour! Sejauh mata memandang terhampar langit biru yang luas, air laut yang berwarna hijau ruby, dan pulau-pulau kecil kehijauan dalam beraneka ukuran. Beberapa kali mata gw menangkap kehadiran ubur-ubur berwarna oranye transparan yang sedang berenang tepat di bawah permukaan laut. Sempat pula menangkap view seekor elang terbang di antara tebing-tebing pulau yang menjulang tinggi. Para penumpang lain pun tampak asik dengan pemandangan PhaNga Bay. Ada yang melamun, mengobrol, ada yang tidur (eh???), dan ada juga segerombolan cowok dari Timur Tengah yang heboh foto-foto narsis sambil bercanda satu sama lain dengan penuh keributan. Hahaha…noisy boys. Ah…udah nggak sabar rasanya menuju James Bond Island.

@James Bond Island

Sesampainya di James Bond Island, yang ternyata hanya berupa pulau yang sangat kecil, dengan penjual cenderamata di tepi pulau dan gua yang cukup besar, dan tentu saja dong main attraction di sini yaitu James Bond Island nya sendiri yang berupa sebuah pulau kecil menjulang dari bawah air yang pernah menjadi lokasi syuting James Bond “The Man with the Golden Gun” (yang gw sendiri belum nonton :D). Pasirnya putih bersih dan agak kasar, airnya berwarna hijau ruby. Tentu saja kita langsung foto-foto narsis ala model amatir dong, hehe… Menurut gw sih, sebetulnya nggak ada yang istimewa-istimewa banget dari pulau ini, mungkin hanya karena masuk ke dalam film James Bond itu aja, makanya jadi nge-hits. Salut juga sih sama pariwisata Thailand. Maksud gw, itu cuma sebonggol pulau kan, dari sekian banyak pulau yang ada di Phanga Bay ini…hehe…tapi bener-bener di-blow up besar-besaran. Kita didrop di sini sekitar 30 menit, emang hanya ditujukan buat foto-foto dan belanja cenderamata aja, nggak untuk berenang. Tapi tetep aja tuh ada bule-bule yang ngotot berenang, padahal airnya nggak menarik sama sekali. Cenderamatanya pun biasa aja,kaya model-model di Pangandaran gitu, kulit kerang dsb… Buat gw, James Bond Island ini biasa banget, justru main point dari tur PhaNga ini kalau buat gw sih bukan James Bond Island nya, tapi Canoeingnya.

Pose dpn James Bond Island ala model karbitan…😀

Setelah dari PhaNga, perjalanan dilanjutkan untuk Canoeing. Gw excited banget! Baru pertama kali ini gw ngerasain naik canoe. Perahunya perahu karet kecil bermuatan 4 orang. Kami bertiga ditambah Johnny, driver canoe kami. And the journey begin…air laut tepat berada di bawah gw. Canoe berjalan dengan pelan dan santai…memasuki semacam pintu gua yang di baliknya ternyata adalah…Praise God Almighty…semacam laguna tersembunyi dengan air berwarna hijau ruby…yang dikelilingi tebing-tebing pulau yang berwarna hijau oleh pepohonan. Sangat indah. Sangat damai. Sinar matahari yang cerah bagai menghangatkan jiwa. Tak hanya itu saja, di ujung laguna kami memasuki gua kecil, yang di dalamnya benar-benar gelap tak ada cahaya, bagian atas dan sisi gua dipenuhi stalagtit dan stalagmit alami buatan alam. Cahaya yang menerangi hanya senter yang dibawa oleh driver canoe lain (driver kami si Johnny cuma modal “mata kucing” sepertinya). Kami harus merunduk dan rebah beberapa kali untuk menghindari atap gua yang sangat rendah. Trully awesome experience. Sayang sekali sulit untuk mengambil gambar di dalam gua ini, but i did it, hehe…teteup ngga mau kehilangan momen-momen terbaik dalam hidup gw. Dan lagi-lagi…at the end of the mini-cave, ada laguna lain yang menyambut kami. Gw ngerasa kaya Alice in Wonderland aja😀 Memasuki pintu demi pintu menuju dunia lain.

Saat itu yang ada di pikiran gw cuma bersyukur, bersyukur, dan bersyukur…yang berulang kali terlintas di kepala gw, siapa sih gw ini, gw cuma ciptaanNya yang kecil…gw merasa beruntung banget bisa menikmati keindahan ini, merasa amazed, nggak percaya, dan sekali lagi merasa beruntung. Berada di sebuah laguna kecil di negara lain…kadang gw masih nggak percaya dengan apa yang gw alami. At that moment, gw bertekad, someday gw akan menjelajahi dunia ini. Mencari keindahan-keindahan alam yang sayang kalau gw lewatkan begitu saja. Can you imagine only live and stuck in one city for a whole life? Sedangkan dunia ini sebegitu luasnya. Come on, move around, travel a lot, see the world! Itulah “wangsit” yang memenuhi jiwa saya saat itu.

Memasuki mulut gua…yeay!

Inside the cave…

Di dalam gua…gelap banget!

Hidden Lagoon…


Hasil jepretan Johnny. Penasaran bingkainya terbuat dari apa? *wink*

Di tengah-tengah perjalanan canoe, kami difoto oleh seorang bapak yang duduk di atas laguna (ya, duduk!). Hehe…gimana caranya? Ternyata si  bapak itu duduk di atas kursi yang bawahnya mungkin dibuat panjang banget sampe menyentuh dasar laguna. Aih, nggak kebayang deh dia duduk di situ sesiangan mengambil foto semua turis yang lewat, hehe. Ternyata sih foto-foto ini nantinya dicetak dan “disodorkan” ke kita saat di pelabuhan. Harganya kl ga salah 500 THB untuk 3 foto yang sudah dipigura. Hebat juga yah kreatifitas mereka. Lumayan sih kenang-kenangan, foto dengan canoe. Yah, meskipun koleksi foto kami juga sudah melimpah berkat si Johnny driver yang merangkap fotografer dadakan. Si Johnny ini sangat ramah. Dia mengajak kami mengobrol, bahasa Inggrisnya bahkan lebih lancar dari kami (ouch!), dan dia sering banget tersenyum dan tertawa. Umurnya masih 22 tahun. Dia bercerita macam-macam dari mulai riwayat hidupnya, pengalamannya di angkatan bersenjata (ternyata Thailand ada wajib militer sepertinya), diskotek yang hip di Patong, sampai curcol tentang kisah cintanya. Hahaha…teteup deh udah sampai ke negara orang juga masih aja yang didenger masalah cinta lagi, cinta lagi…hehe…ternyata Johnny ini adalah seorang pemuda galau…😀

Sayang sekali karena air laut sedang surut dan muatan canoe kami berat (upss!!), kami tidak sempat memasuki laguna terakhir karena harus melewati karang-karang yang ada di mulut gua. Wah kalo canoe nya jebol bubar deh😛 Akhirnya kami putar balik dan kembali ke kapal melalui rute  yang sama seperti saat kami berangkat. O ya, gw juga sempet nyobain ngedayung canoe loh! Edun lebih susah dari rafting, mungkin karena yang ngedayung cuma 1 orang dan…muatannya berat. Dan gw susah menyesuaikan arah kanan-kirinya. Hahaha…akhirnya di bawah pimpinan kemudi gw, canoe kami berhasil muter-muter dengan sukses…tapi di tempat. Hehe…😀 Nyerah ah. Kudu banyak latian in mah. Mana biseps dan triseps gw tiap hari cuma dipake buat mompa tensi doang, suruh ngayuh dayung ya KO deh!😄

Jadi driver canoe?? Susah Bo!😄

Another unforgettable experience yaitu saat gw disengat…err…tersengat ubur-ubur. Kok bisa? Kan di dalam canoe? Yah, namanya juga norak, so gw ceritanya sok-sokan duduk pake pose “cantik” gitu, hehe…duduk bersandar menyamping dengan kaki masuk ke dalam air. Nggak disangka-sangka, tiba-tiba timbul rasa perih panas menyengat di antara jari-jari kaki gw. Gw sempet ngeliat sesosok makhluk lunak transparan itu berenang menjauhi gw dengan sulur-sukurnya yang panjang. Wah sial…gw dikerjain ubur-ubur, hehehe…Untungnya sih nggak kenapa-kenapa. Si Johnny awalnya keliatan rada panik, tapi setelah gw bilang just a little bit pain dia rada tenang. Dia bilang sih kalau yang gawat bisa sampai dirawat di RS tuh. Ya iyalah gw juga tau hehe kalau syok anafilaktik gitu malah bisa sampe RIP. Thanks God gw kebal, hohoho…atau mungkin si ubur-ubur cuma mau “salam tempel” doang sama gw. Dia belum mengeluarkan “ilmu” yang sebenarnya, hehehe. Jadi inget waktu dulu gw disengat lebah. Hahaha…itu malah lebih parah. Pergelangan kaki gw sampe bengkak merah segede bola pingpong dan nyeri banget. Sengatan ubur-ubur ini sih cuma geli-geli doang dibanding “ciuman” lebah yang pernah gw alamin. Yang menarik, katanya untuk mengatasi sengatan ubur-ubur ini bisa dengan cara mengguyurnya dengan urine (yaiks!). Gw sempet browsing sih, nemu beberapa pendapat yang berbeda, ada yang menganjurkan pake urine ada yang nulis kalau itu ngga bermanfaat dan cukup pake penanganan insect bite biasa aja. Gw sih berpegangan sama yang terakhir, soalnya jelas sumbernya, dari Red Cross, hehe. Info lain yang gw temukan yaitu ternyata dalam keadaan darurat justru bukan urine yang dianjurkan, tapi cuka. Iye, cuka buat bakso itu… Cuka ini selain berguna untuk menangani sengatan ubur-ubur juga berguna untuk luka tusukan landak laut alias sea urchin. Tapi setelah dipikir-pikir…siapa juga traveller yang bawa-bawa botol cuka coba? Apalagi ke laut? Yeah…mungkin info ini penting buat tim medis aja kali ya😀 Nggak tau sih kalo untuk para diver, mungkin aja mereka “sangu” cuka di ranselnya🙂.

Lah cerita disengat ubur-uburnya jadi panjang gini. Hehe. Kembali lagi ke tur kami di PhaNga Bay. Sebelum sesi canoe babak 1 selesai, kami sempat janjian dulu dengan si Johnny ini kalau kami akan “pake” dia lagi di sesi canoe babak 2. Hehe…Sebelum acara canoe babak 2, kami makan siang dulu di atas kapal, dengan menu prasmanan Thai food. Gw lupa persis lauknya apa, yang jelas sih nggak mengecewakan dan gw makan banyak banget, hehehe… kasian si Johnny, bebannya bertambah di canoe sesi 2. Hahaha…😀 Canoe sesi 2 ini jauh lebih menyenangkan karena suasananya jauh lebih tenang. Gw sempet berbaring di atas canoe and that moment was so beautiful, sort of simple but wonderful little moment. Berbaring sesaat di atas canoe memandang langit biru cerah dan tebing-tebing hijau, serta suara kecipak air yang bersentuhan dengan dayung…ahhh…i wish the time can just stop right now… Sepanjang ber-canoe kami ditemani oleh sesi curcol si Johnny. Ada satu pendapatnya yang sangat gw ingat. Dia ingin hidup santai dan menikmati hidup. Bukankah itu impian semua orang? Dan dia berhasil mewujudkannya. At least, itulah jalan hidup yang dia pilih. Menikmati menjadi guide tur, mengobrol dan bercanda dengan turis-turis, kalau moodnya lagi bagus kadang merangkap driver canoe, kadang menyepi dan berenang di laut (sampai diserbu ubur-ubur XD), di malam hari dugem dan minum-minum sepuasnya di Patong…Well, gw ngga tau apakah di balik itu semua dia menyimpan rasa kesepian, tapi gw rasa setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing dan menerima konsekwensinya. Hidup tanpa beban, itulah yang dipilih Johnny sang pemuda galau…Perkenalan gw dengan Johnny meyakinkan gw bahwa indeed, life is a choice. Bagaimana kita  ingin menjalani hidup kita? Pilihannya ada di tangan kita sendiri. Enjoy it? Or burdened by it? Thanks Johnny…for share your thought with us.

Johnny, thanks for such a memorable journey…

Anyway, surprisingly, kami mendapat tawaran menggiurkan dari Johnny. Dia bersedia membawa kami ber-canoe lebih lama. Jadi saat sesi canoe seharusnya selesai dan semua peserta naik ke atas kapal, kami “dibawa kabur” oleh Johnny, hihi…sementara peserta lain pergi menuju pantai di Ko Pha Nak dengan kapal, kami masih dibawa Johnny ber-canoe. Tentu saja perjalananya tidak dekat. Jauh malah. Bayangkan saja, dia harus membawa canoe menyusuri laut selama kira-kira 20-30 menit. Sebenernya gw nggak ngitung sih berapa menit, because i really don’t care about the time at that moment. Tapi yang jelas sih cukup jauh, dia tampak berkeringat, ngos-ngosan, tapi tetap ceria lho, bahkan tetep aja curcol, hihihi…Perjalanan “extra” ini tentu sangat membuat kami puas. Bayangkan, peserta lain sudah kembali ke kapal tapi kami masih ber-canoe…dan bukan hanya di laguna kali ini, tapi benar-benar menyusuri lautan. Ya, lautan dengan air berwarna hijau ruby. View yang kami lihat pun lebih beraneka ragam, sempat melihat dari dekat gugusan karang yang dihuni oleh banyak kepiting, sempat melewati tonjolan gua yang ehm…bentuknya seperti penis (kata si Johnny lho!), dan akhirnya kami berlabuh di sebuah pantai kecil di pinggir pulau. Di pantai ini tidak ada orang sama sekali. Sedangkan kapal kami dan peserta lain berlabuh di pantai lain yang lebih besar dan crowded tidak jauh dari kami. So, here we are, in a private beach, only 3, ups, 4 of us. Tentunya momen ini sangat langka. Pantai itu sangat kecil, panjangnya paling hanya 30meter, langsung berhadapan dengan laut. Pasirnya masih sangat kasar, batu-batuan dan kerang yang ada di pantai pun masih berbentuk utuh, jadi bukan pecahan-pecahan kecil yang ada di pantai pada umumnya, tapi benar-benar bongkahan cangkang kerang yang masih utuh. Duh, senangnya… Di sini kami berfoto-foto ceria, sampai akhirnya tiba saatnya kami harus kembali ke kapal. So sad…

Kapal kami. Saat yang lain kembali ke kapal, kami “dibawa kabur” Johnny😛

Salah satu hasil “tangkapan” dari atas canoe

Small private beach…

Benar-benar pantai pribadi bukan?😀

Perjalanan kembali ke Phuket terasa sangat cepat, dan rasanya belum puas mengelilingi PhaNga Bay ini hanya dalam beberapa jam saja. Tapi esok masih ada tur PhiPhi Island yang menanti kami…🙂

PS : Total expenses dari tur ini : 1250 THB untuk tur, tips 500 THB (bertiga) untuk Johnny, foto saat berkano yang sudah dipigura 500 THB (tiga buah foto).

PSS : Masih ada cerita tentang nightlife kami di Bangla Road sepulang dari tur ini, penasaran? Hehe…have a nice reading! *wink*

PSSS : Mau lihat kumpulan photoblog bertema “Laut” ? Buka deh Turnamen Foto Perjalanan , banyak banget foto laut yang keren lho!

4 thoughts on “Day 5 – PhaNga Bay & James Bond Island Tour

    • Saya pakai Sweetland Travel (076-340712), memuaskan banget kok, tapi kalau mau nyari yang lebih murah bisa hunting aja di sepanjang jalan di Patong bertebaran kok agen2 tur PhiPhi dan Phanga🙂 Happy travelling!

  1. phanga bay sama phi phi island ngak sejalan ya.. terus enakan tinggal di phi phi island atau di patong.. biar enak jalan jalannnnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s