Day 5&6 – Nightlife @Bangla Road

Dancer lokal @Bangla Road

Good guys go to Pattaya, bad guys go to Patong. Yap! Patong memang “surga”. Pantai, bar, alkohol, dugem, dan ”ayam-ayam” cantik. Inilah “surga dunia”, yang berpusat di Bangla Road. Di sepanjang Bangla Road ini berjajar bar-bar, diskotek, dan bermacam-macam “show”, termasuk Agogo Show dan PingPong Show. Suasana di jalan ini sangat crowded, semakin malam semakin “panas”. Datanglah sekitar jam 10 atau 11 malam untuk mendapatkan “feel” yang tepat. Di mana bar-bar sudah mulai “bergoyang” dan sibuk menjajakan show dan minumannya. Di beberapa bar terdapat tiang-tiang yang sudah dipenuhi “ayam-ayam” berpakaian minim, berlenggak lenggok sesuka hati. Yang lebih menarik perhatian adalah “ayam” yang berjoget di balik kaca yang terletak di lantai 2 bar, tentunya di tiang juga.  Gw perhatiin kalau “ayam” yang ditampilkan di balik kaca ini kebanyakan bule. Mungkin nilainya lebih tinggi dibandingkan “ayam” lokal yang ditampilkan rame-rame di lantai bawah. Selain cewek-cewek “ayam” tadi, di tiap bar juga memajang cewek-cewek yang tugasnya menjajakan barnya masing-masing. Mereka sibuk menawarkan minuman dan show-show ke turis-turis yang lewat.

Suasana Bangla Road yang very crowded

Shownya sendiri bermacam-macam dan buanyak banget namanya, saya sih Cuma nangkep “pingpong show” dan “banana show”, yang lainnya nggak gitu merhatiin deh, secara list-nya aja 1 halaman HVS sendiri dengan tulisan kecil-kecil, hehe, nggak kebayang deh rincian tiap-tiap shownya gimana. Kami sempet masuk ke salah satu show. Ini juga karena nggak mau rugi, udah sampai ke Patong masa nggak nonton show-show nya yang terkenal itu? Hehe…Sempet bingung banget mau masuk ke show yang mana, karena gw sama sekali nggak browsing sebelumnya tentang harga-harga show ini (sebelum pergi sih sama sekali nggak niat nonton setelah baca rincian tentang PingPong show yang katanya mempertunjukkan cewek-cewek yang mengeluarkan benda-benda aneh termasuk silet dari vaginanya *yaiksss!*). Apalagi kami bertiga cewek semua. Rasanya rada awkward aja gitu, nonton show yang isinya cewek juga…zzz…ngapain juga gitu yah jeruk nonton jeruk, hahaha…Tapi  setelah di sana, penasaran juga! Setelah celingak celinguk nggak jelas, akhirnya kami ditawarin masuk ke salah satu show, dengan embel-embel “free show, see first, if you don’t like it don’t pay”…kalau suka pun tinggal nongkrong di dalam dan beli minuman saja. Yeah! Cocok nih buat gw yang nggak mau rugi, hehe. Dianter si abang-abang yang menawarkan tadi ke lantai 2 tempat show berlangsung. Gw nggak tau nama shownya apa. Nekat aja. Modal penasaran. Mumpung free. Ternyata di dalam ruangan yang gelap itu udah ada banyak orang. Hampir semua cowok. Apa semua cowok ya? Nggak jelas juga, wong gelap. Dan…di depan ruangan ada sebuah panggung dengan cahaya remang-remang. Seorang cewek bugil berdiri di atas panggung, dengan wajah mematung dan sedang dilukis payudaranya oleh seorang cewek lainnya. Heh??!! Cuma gini doang? Batin gw. Gw melirik ke sekitar ruangan. Cowok-cowok yang lagi menonton pun menujukkan ekspresi sama. Mematung menatap cewek bugil itu. Sambil minum Chang (beer Thailand). Eh??!! Kok gini doang sih? Kecewa gw. Hahaha…Gw kira shownya semacam tari striptease atau apa gitu (meskipun gw berharap bukan show yang mengeluarkan benda-benda aneh dari vagina sih…). Yah ternyata cuma gitu doang. Nggak sampai 5 menit kami memutuskan untuk keluar. Hahaha…apes deh. Shownya pas yang nggak mutu. Apa karena gw cewek ya, makanya nggak tertarik? Hehe… Lain kali harus bawa cowok nih kalau mau nonton show beginian. Kalau cewek-cewek semua rasanya awkward banget sih, hihihi…mungkin karena kami semua cewek baik-baik kali yah *wink*, hihihi…

Salah satu Agogo Show di Bangla Road

Russian Dancer @L’Amour

Penari tiang di salah satu bar

Suasana di Bangla Road sendiri, pas banget buat cuci mata. Bule semua cing! Turis Asia kebanyakan juga Korea. Khas dengan baju couplenya, hahaha…Lampu neon bar yang berwarna-warni diiringi musik ajeb-ajeb, suara keramaian orang dan alkohol yang melimpah di sana sini memang membuat euforia yang memabukkan. Sampai sekarang pun gw selalu merindukan suasana Bangla Road yang hingar bingar itu. Di sana, untuk sesaat, hidup terasa lebih  bebas dan lebih mudah. Untuk sesaat, alkohol dan musik hingar bingar memang bisa menjadi pelarian yang  indah.

Salah satu sudut Bangla Road yang dipenuhi Agogo Show Bar

Harga minuman di bar-bar yang ada di Bangla Road sangatlah murah. Bayangkan, untuk segelas cocktail Sex On The Beach, Pina Colada, Broken Heart, Chivas with Coke dan sebotol beer Chang, hanya merogoh kocek kira-kira 500 THB saja. Bandingkan dengan di Indonesia, dengan harga segitu paling cuma dapet 2 atau 3 jenis minuman maksimal. So, seperti yang gw bilang, what a “heaven”, right?

Look at the price! Plus all cocktail buy 1 get 1 !

Note the pricelist! Pretty cheap. Plus all cocktail buy 1 get 1 too.

Sex On The Beach

Chivas with Coke

Masing-masing bar pun berlomba-lomba menawarkan hiburan untuk tamunya. Ada yang menyediakan berbagai permainan, karaoke, dancer, dan tentunya waiter-waiternya yang juga berfungsi sebagai “host” dan ikut menghibur para tamu dengan mengobrol atau ikut serta dalam permainan. Permainan yang gw sempat lihat yaitu memukul paku yang tertancap di atas piringan kayu dengan palu. I just don’t get it. What’s the point? Hahaha…Entahlah. Karena  gw nggak ikut main jadinya ya gw nggak ngerti :p Selain itu ada juga games saling memecut tubuh dengan sebuah karet panjang yang cukup tebal. Bisa di bagian punggung, perut, bahkan wajah.  Mungkin ini dimaksudkan sebagai “hukuman” kali ya. Eeww…jadi rada sadomasokis gitu, hihihi…😀

Dua hari berturut-turut kami nongkrong di bar yang ada di Bangla Road. Bar pertama L’Amour, pretty cheap, minumannya oke (all cocktail buy 1 get 1), dan kami dapat spot tepat di tepi jalan. Yang nggak terlupakan, kira-kira jam 12 malam hujan mengguyur Bangla Road. Jadilah kami menyaksikan turis-turis yang berlari-larian di tengah hujan, berteduh ke bar-bar  terdekat. Jalanan langsung kosong seketika. Itulah kedua kalinya gw melihat jalanan Bangla Road dalam keadaan kosong. Yang pertama kali saat pagi hari saat hari pertama kami di Patong. Luckily, hujan deras menahan kami di L’Amour lebih lama, yang berarti memungkinkan gw untuk mencoba minuman lebih banyak, fufufu…*tertawa licik*. Bar kedua Absolut Vodka lebih comfy, di sini gw nemu cocktail Broken Heart yang uenak banget, the best cocktail so far, hehe…cocok banget buat yang patah hati nih…saat nongkrong di bar kedua ini kami “diusik” terus oleh seorang bule ganteng, sampai akhirnya Vivi yang beruntung diajak berfoto dengan si bule, hihihi…lucky you!😀

Broken Heart : menghibur hati yang patah. Xixixi…

Chang Beer khas Thailand, kudu nyoba!

Begitu diguyur hujan baru kosong!😄

Nongkrong di Bangla Road sendiri pretty safe buat cewek-cewek, tapi sebaiknya sih emang jangan sendirian ya, gw sempet baca di salah satu blog, ada solo backpacker dari Indonesia yang “ditawar” sama bule di sana, hihi, dikira orang lokal kali ya. Selain dunia gemerlap yang ditampilkan Bangla Road, gw menemukan beberapa fenomena menyedihkan. Di antara tawa dan minuman keras, ada anak-anak kecil dan nenek-nenek yang hilir mudik di jalanan Bangla Road untuk menawarkan barang jualannya. Mostly souvenir. Ada juga yang berupa kalung rangkaian bunga. Jangan terkecoh dengan penjual kalung rangkaian bunga ini, karena mereka tampaknya seperti akan memberi Anda rangkaian bunga ini for free dengan langsung mengalungkannya di leher Anda. Tapi jika Anda menerimanya, maka dia akan langsung meminta bayaran. Hahaha…tricky banget ya. Begitulah. Gw nggak habis pikir ada anak-anak kecil yang tengah malah ngider berjualan di Bangla Road. Hey! Pemandangan yang ada di sini 17++ lho! Somehow gw ngerasa miris aja ngeliat realita betapa dekatnya anak-anak itu dengan kehidupan malam, demi menyambung hidup…lebih miris lagi liat nenek-nenek yang jualan. Gile, tengah malam gini nenek-nenek itu harus berkeliaran di Bangla Road dari bar satu ke bar lain…miris gila…Di saat gw duduk menikmati kesenangan dan menghabiskan 500 THB, anak-anak kecil dan nenek-nenek itu harus bekerja keras dengan penghasilan yang mungkin tak seberapa. Mungkin ini salah satu cara Tuhan mengingatkan gw untuk menghargai hidup yang gw punya…

Selain “ayam-ayam” biasa, tentunya di Bangla juga bertebaran ladyboy alias Katoey. Kebanyakan berpakaian cewek biasa, tetapi ada juga yang berkostum dan menawarkan dirinya untuk foto bersama. Entah berapa tarifnya, gw nggak berani karena mereka tampak lebih agresif daripada ladyboy Simon Cabaret. Yang jelas sih jauh lebih cantik-cantik yang di Simon ya, tapi kalau mulus sih oke lah…gw masih kalah, huks. Hahaha… Yang menarik, gw menemukan seorang ladyboy yang sudah berumur loh, lengkap dengan full costume dan full make up. Wajahnya percampuran Tessy dan Didi Kempot, hehe…plus seluruh wajahnya bopeng-bopeng bekas scar jerawat. Hmmm…kalau yang ini sih modal dandanan sama kostum doang ya, kalau tampang sih udah waktunya pensiun, hihi…Tapi tetep aja banyak turis yang berminat foto bareng dia kok. Kostumnya catchy abis! Buat cowok-cowok yang mau mencicipi “ayam-ayam”, hati-hati aja soalnya kadang susah bedain ladyboy sama cewek biasa, hihihi…😛

Pameran full-costume “tante” ladyboy

Ini dia tante ladyboy yang mirip “Tessy+Didi Kempot”😄

Weits! Kalau yang ini bukan ladyboy lho!😀

Belum ke Phuket kalau belum merambah Bangla Road. Someday, gw berharap bisa kembali ke Phuket dan mencicipi kembali hingar bingar Bangla Road yang memabukkan…and…maybe next time i should really watch the pingpong show (note : bring guys next time!).

PS :

–   Untuk yang nggak suka nongkrong di bar, di Bangla ada Starbuck dan Subway juga kok.

–   Sempet kelaperan dan beli Kebab (lagi-lagi 1 untuk bertiga) di pinggir jalan Bangla. Pesen yang chicken aja coz yang kambing  menyengat banget baunya!

–   Tiap malam ada pertunjukkan sulap di tengah jalan, dibawakan oleh seorang bapak-bapak, yang pertunjukannya sama persis selama 2 hari berturut-turut gw lihat.

–   Rata-rata tiap bar menawarkan promo buy 1 get 1, sayangnya hanya bisa untuk jenis yang sama.

–   Ada 1 bar yang memutar lagu Westlife dong! Di antara lagu ajeb-ajeb. Can u imagine? LOL!

–   Banyak pasangan suami istri bule yang membawa anak-anaknya yang masih kecil jalan melewati Bangla Road. Hehe. Bisa bayangin di Indonesia bawa anak-anak jalan-jalan ke Saritem atau Dolly?😄

4 thoughts on “Day 5&6 – Nightlife @Bangla Road

  1. Hai salam kenal, pgn cari info nih, pgn bgt ke phuket utk honeymoon beduaan doank,dan memang udah sepakat pgn nonton show2 unik spt yg disebut, cm agak ragu nih apakah aman utk nonton show2 spt itu? Takut byk kriminalitas dan byk kejahatan semisal ladyboy yg menggoda dan maksa lelaki. Secara kt memang ga minum alkohol. Ada rekomen ga hotel yg cukup oke buat honeymoon dan ga hingar bingar sama dunia malam sana tp deket akses ke bangla road bs dg jalan kaki

    • Hi dizzie thanks udh mampir di blog aku. Dari pengalaman saya sih aman2 saja kok. Menurut saya mereka sudah sangat profesional dan nggak sembarang menggoda laki2. Di show jg tdk disediakan alkohol kok. Kalau hotel untuk honeymoon mungkin bs cari yg sesuai budget..wktu itu saya di Santi White Hotel..lmyn dekat ke Bangla dan cukup tenang. Happy honeymoon! ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s