Thai Massage at Phuket – it should be on your Itinerary right away!

Thai Massage. Ya, selain pantai, gajah, street food, nightlife, apalagi yang menarik dari Thailand? Thai Massage. Sangat mudah menemukan tempat pijat atau spa yang menyediakan Thai Massage di Bandung. Salah satunya di Healthy Land di jalan Dago. Tapi pernahkah Anda mencoba Thai Massage asli di negaranya sendiri? Yap! Kalau belum, maka masukkanlah agenda untuk ber-Thai Massage ria apabila Anda memang berencana mengunjungi negara Gajah Putih ini.

Apa sih Thai Massage?

Thai Massage sendiri sudah berusia lebih dari 2500 tahun yang lalu, diperkenalkan oleh biksu Buddha di Thailand sebagai salah satu metode terapi. Perbedaan Thai Massage dari jenis pijat lainnya seperti pijat tradisional Jawa atau Tuina misalnya, adalah pada tekniknya. Thai Massage menggunakan teknik passive stretching dan gentle pressure pada tubuh di titik-titik tertentu. Maksudnya? Bahasa gampangnya sih badan kita “ditarik” dan “ditekan”. Beda dengan pijat akupressur Tuina misalnya, yang hanya menggunakan teknik penekanan, pada Thai Massage ini selain penekanan, juga dilakukan stretching. Manfaatnya untuk melepaskan tegangan otot dan menjadikannya lebih fleksibel, dan tentunya, lebih sehat. Perbedaan lainnya dengan pijat tradisional, pada Thai Massage kita tidak perlu melepas pakaian, cukup menggunakan baju dan celana panjang yang longgar. Dan tidak menggunakan minyak. Terapis akan menekan dan menarik bagian-bagian tubuh kita, mirip stretching saat senam lantai. Bahkan badan kita pun akan diinjak-injak. Hihi…

Salah satu gerakan Thai Massage


Ditarik-tarik seperti ini, dijamin rileks…

Sekian deh info singkat tentang Thai Massage. Next gw mau share pengalaman gw Thai Massage di Phuket. Yap! Thai Massage di origin country-nya. How fascinating it can be? 😀 Jauh-jauh hari sebelum gw berangkat, agenda Thai Massage ini sudah langsung masuk ke Itinerary tanpa ba bi bu. Bahkan gw serius banget browsing tempat massage yang enak di Phuket, membaca belasan blog sampai Trip Advisor juga nggak ketinggalan. Tentunya rugi dong udah jauh-jauh ke Thailand kalau ngalamin Thai Massage yang abal-abal? Hehe…so…hasil pencarian gw pun berakhir pada…Sovrana Spa. Gw dapet info tentang Sovrana Spa ini dari salah satu blog. Menurut penulisnya, Thai Massage di sini sangat memuaskan dan bikin dia pengen balik terus. Plus, Sovrana Spa ini punya review yang bagus di Trip Advisor. So, worth trying right? 😉

Lokasi Sovrana Spa sendiri sangat gampang ditemukan, berada persis di depan Jungceylon Mall. Dari depan plangnya sangat kecil, gw nemu tempat itu juga secara nggak sengaja pas lagi jalan-jalan di depan Jungceylon…hehe. Dari depan sih tampak kecil, tapi pas masuk ke dalam, wow, ternyata luas dan bersih. Tempat massage dibagi 2, untuk pijat refleksi kaki di lantai 1, sedangkan Thai Massage di lantai 2. Saat itu gw ambil Traditional Thai Massage. Selain itu, ada juga After Burn Massage lho! Gw sangat curious pengen nyoba tapi gw pikir yah itu cocoknya untuk bule kali ya, biasanya kan kalo bule sunbathing kulitnya bisa sampe parah merah membara gitu, hehehe…Katanya sih After Sun Massage ini pakai lotion Aloe Vera. Next time kali yah. So…back to Thai Massage. Ruangan di tempat pijat ini sangat nyaman, remang-remang, tapi remang-remang elegan loh bukan remang-remang xxx hehe. Antara 1 bed dengan bed lainnya dibatasi oleh tirai. Terapisnya pun sangat ramah meskipun tidak banyak berbicara. Ya iyalah, lu kira gw mau pijet apa mau curhat? Hehe. Gw berganti pakaian yang diberi si terapis, berupa kaos dan celana panjang longgar. Gw berbaring rileks ditemani musik-musik berirama slow ala Thailand. Pijatan dimulai, dengan tekanan-tekanan ringan, dan disertai stretching, tarikan-tarikan yang aduhai, membuai, beneran gw sampai terkantuk-kantuk tapi sangat puas, apalagi badan gw ditekuk sedemikian rupa sampai bunyi “kretek-kretek”. Ow…that was a great feeling! Rasanya lelah sehabis berkano dan berenang lenyap sudah.

Thai Massage juga disebut sebagai Passive Yoga.

Meskipun travelling ala backpacker sekalipun, menurut gw tetep kudu lah nyoba Thai Massage, dan gw rekomend sih ambillah Thai Massage di hari-hari terakhir trip, pijat ala Thai akan menjadi penutup trip yang indah… Well, seselesainya massage gw bener-bener merasakan segar bugar seakan tubuh baru dicharge. Sovrana Spa ini recommended banget lah buat yang mau menikmati Thai Massage yang “private”. Banyak juga sih tempat pijat di Phuket yang menawarkan Thai Massage, ada yang terbuka, ada yang nampak dari luar, ada juga yang di pinggir pantai. Mana yang Anda suka? Tinggal pilih 😀

~happy travelling, happy soul, happy mind, happy body~

Advertisements

Dinner at Waroeng Ethnic – My first Escargot~


Saya mengunjungi Waroeng Ethnic ini sebetulnya karena keberuntungan. Saya memenangkan kuis berhadiah voucher makan di Waroeng Ethnic yang diadakan @CityKlik melalui Twitter. So pasti -kesempatan tidak boleh disia-siakan bukan? Apalagi Waroeng Ethnic ini terkenal sebagai restonya bule-bule, hehe…Capcus lah saya dinner ke Waroeng Ethnic yang berlokasi di Jl. Totogan Gunung Putri Rancabentang 18 Ciumbeuleuit. Menemukan tempatnya cukup mudah, dari Unpar masih terus naik ke atas, ada plang Waroeng Ethnic di kanan jalan, langsung belok kanan. Suasana yang ditampilkan sangat homey dan unik, seperti namanya, banyak dipajang perabotan bernuansa etnik, dan hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Bagian indoor lebih terkesan lebih resmi dan seperti di dalam rumah. Kami memiilh makan di outdoor, yang cukup luas dan asri, dan karena lokasinya di area Bandung Utara, udara dinginnya masih sangat terasa.

Suasana outdoor di Waroeng Ethnic


Makanan yang disajikan malam hari berupa Western Food, sedangkan di siang hari disajikan Indonesian Food. Menu yang ada cukup bervariasi, mulai dari Appetizer seperti sup, salad, etc, menu utama Steak (ada imported steak lho!), Pasta, Dessert… Saya memesan Escargot (ya, siput!) sebagai pembuka, kemudian Beef Steak, Creme Brulee dan Es Krim Bakar sebagai Dessert, serta Hot Cappucino.
Menu yang ada memiliki nama nama yang cukup rumit, untungnya ada penjelasannya jadi saya tidak bingung. Hehe…waiternya pun cukup memahami menu-menu yang ada dan bisa menjelaskan dengan baik. Gak pake lama, muncullah Escargot saya. Baru pertama kali ini saya memakan siput, and i like it! Teksturnya kenyal, rasanya gurih dan dibalur minyak zaitun. Nyam nyam…benar-benar membangkitkan selera makan saya…kesan saya : unique, recommended and worth trying!

My first time Escargot~ *ala Indonesia*

Setelah appetizer diangkat, datanglah Beef Steak saya. Saya minta dimasak well done. Kesan saya, steaknya agak alot (salah ya, harusnya minta dimasak medium aja), tapi porsinya sangat besar…kenyang banget…hehe. Mashed potatonya sangat lembut dan lumer di lidah (ceileh!). Saya mulai panik karena perut sudah terasa penuh, padahal masih ada Creme Brulee dan Es Krim Bakar. Waduh!

Beef Steak Waroeng Ethnic

Creme Brulee pun datang, rasanya sangat creamy tapi ngga bikin eneg. Nice… Creme brulee sendiri berasal dari Perancis, dikenal juga sebagai burnt cream, crema catalana, atau Trinity cream, merupakan dessert yang dibuat dari custard (Custard terbuat dari campuran telur, gula, dan susu/krim, dikenal juga sebagai krim atau vla) yang ditopping dengan lapisan keras karamel, biasa disajikan dingin. Custard yang dipakai biasanya rasa vanilla, meskipun kadang ada juga yang memakai tambahan rasa lemon, jeruk, coklat, kopi, teh hijau, kelapa, atau buah-buahan lain. Untuk membuat karamel, caranya yaitu dengan menaburkan gula di atas custard, lalu dibakar langsung dengan alat khusus (yang suka ada di acara masak memasak kue tuh, hehe), atau bisa juga dengan menuangkan minuman keras lalu dibakar (flambe). Sekian saja kuliah singkat tentang Creme Brulee. Hehehe…

The sweet “Brulee” temptation. I love to crack the caramel thing! 😀

Dessert selanjutnya yaitu Es Krim Bakar. Cool banget lah ini dessert hehe…tampangnya seperti whipped cream yang menjulang tinggi kaya volcano…trus waiternya menuangkan rhum, dan dia membakarnya langsung di depan kita! Lumayan shock dan langsung pasang tampang ndeso! Hehe… Beginilah bentuknya setelah diflambe :

Voila~ Enjoy the massive volcano cream thing!

Berhubung saya sudah super kekenyangan, jadi butuh tenaga ekstra untuk menghabiskan dessert terakhir ini. Krimnya super banyak, agak bikin eneg, dan rasa rhumnya sangat kuat. Jadi di balik krim yang menggunung itu ternyata tersembunyi es krim strawberry. Ada udang di balik batu, ada es krim di balik krim, hehe…dan di bawah eskrim ada bolu yang flavournya rhum. Sangat kuat rasa rhumnya, tapi ngga bikin mabok atau apa kok hehe…
Untuk cappucinnonya…standar sih hehe… ya so so lah…

FYI, Waroeng Ethnic ini sudah pernah masuk ke acaranya Pak Bondan dan pernah diliput juga di kompas… Dapat dilihat di Travel Kompas.

Total expense kira-kira Rp 100.000 – 150.000,- per orang. Not bad for full course menu, right? Kesimpulannya, this resto is worth trying… terutama untuk anda yang menyukai suasana jadul, santai dengan menu-menu fancy western food.

Selamat Makan!
~happy eat, happy tummy, happy life~

My “perfect” Little Kitchen – Scallop and Bushfire Chicken Burger

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi cafe yang berlokasi di jl Setiabudi 206, persis di sebelah kampus Enhaii Bandung (sekarang disebut STPB), awalnya iseng, lagi suntuk dan pengen makan enak. Denger-denger dari beberapa teman sih katanya enak makan di sini. Tampak luar sih biasa aja, kesannya eksklusif dan mahal. Kaya resto bule bule gitu hehe… Pas masuk, tampak desainnya comfy banget, dan memang tampak eksklusif karena semua tempat duduknya sofa putih panjang, berjejer ke belakang, sedangkan dapurnya ada di sebelah kanan, so kita bisa lihat chef-nya masak di sebelah, cool. Desain dapurnya warna merah, cerah dan eyecatching banget, staffnya ramah, bahkan ownernya pun ada di sana ikut menyapa dan menyambut tamu keren banget hehe, jarang-jarang ada owner yang turun tangan langsung. Ambience nya relaxing banget, musik yang diputar musik jazz, dan berhubung lokasinya di sebelah Enhaii yang masih asri banyak pohon-pohon, selama di sana juga masih terdengar bunyi serangga pohon itu loh…krik krik krik…serasa di hutan hihihi…padahal sih di pinggir jalan Setiabudi yang ramai banget, tapi sama sekali ga kerasa bisingnya.

Soo…ga berbelit-belit, saya pilih pembuka Scallop with Butterlemon Sauce, lalu Bushfire Chicken Burger, dan segelas Hot Cappucino. Isi menunya lumayan beragam, ada Starter (appetizer) salah satunya scallop tadi, menu Steak (ada imported steak), Burger, Pasta, Rice, Dessert. Minumannya standar cafe seperti Coffee, Juice etc. Disediain majalah dan ada tv kabel plus free WiFi juga. Ga pake lama, dateng deh itu Scallop, nih fotonya :

Scallop with ButterLemon Sauce

Wew enak banget…sausnya ga ngerti apa deh, tapi enak banget sampai rasanya ga tega menyisakan sausnya 😉 Isinya 4 pieces, not bad lah for starter..hehe…teksturnya kenyal, ga amis sama sekali, dan sausnya itu lho (sekali lagi) enak banget! Next setelah scallopnya habis datanglah burger pesenan saya :

Bushfire Chicken Burger

Wah ga bisa comment saya saking speechlessnya…tampilannya bagus, tampak yummy banget, dan bener aja, maknyus tenan, enak banget, rotinya lembut, keju sama daging nya berasa banget, dan sekali lagi yang saya ga ngerti, sausnya kenapa enak banget, rasanya pas asin, gurih, pedes sedikit, hehe…wah pokoknya ga bikin eneg sama sekali, recommended bangetlah ini burger hehe…takarannya pun pas jadi makannya ga “rujit” kalo istilah Sunda mah. Kadang burger di cafe-cafe ada yang entah kenapa sausnya banyak banget dan bikin belepotan ke mana-mana sampe akhirnya pas makannya bentuknya udah absurd acak-acakan. Tapi burger ini beda Man, rasa, tampilan, tekstur, komposisinya pas deh di lidah…wew…nagih abis lah… Kentangnya juga segede-gede gaban n panjang bener, hehe kenyang top markotop deh!

Hot cappucinno nya standar sih, ga dihias-hias atau apa, dengan gula terpisah jadi rasa manisnya bisa disesuaikan lidah kita. Kalau saya sih biasa selalu minum cappucinno dengan gula satu setengah sachet hehe manisnya passs…Kalau rasa cappucinno nya standar sih ya, belom ada kopi di cafe cafe yang bisa mengalahkan Starbuck sih hehe even Roemah Kopi sekalipun, hehe…so, ya rasanya so so lah tp not bad kok.

Total pengeluaran sekitar 60rb an. Ya pretty cheap untuk makanan dengan kualitas segitu…

Pas mau pulang, si ownernya bukain pintu dong, hehe…bener-bener ramah banget. O iya, waktu saya bilang di atas tampilannya kaya resto bule-bule, memang bener sih, yang makan di situ ada bule 1 biji sama orang taiwan 1 biji, hehe…mungkin terkenal juga di antara para expat kali ya…yang jelas saya sih jatuh hati banget sama cafe satu ini… ada menu Luch Package nya Rp 25.000,- nett udah include drink (lemon tea nya enak bgt).

As published in :
Kuliner Bandung

For more info, you can follow @mylkresto and @Kuliner_Bandung

~happy eat, happy tummy~

Thai’s and Malaysian Food : Which one do you like?

Tiga hal yang gw nikmati selama perjalanan : 1. View 2. Culinair 3. Culture

Selama seminggu di Malaysia dan Thailand, gw menemukan banyak makanan baru yang tasty, unique, yang jelas rasanya quite different from Indonesian food…just wanna share it anyway… 😀

Thai’s food.

Khao Niao (Sticky rice/ketan manis dengan semacam topping dari gula aren). Deliciously sweet!

Banana Chocolate Pancake. Bisa ditemui di sepanjang tepi jalan Patong.

Mango Sticky Rice. Cemilan khas Thailand.

Tom Yum Goong Nam Khon (Creamy Tom Yum Kung).

This one is creamy, sour and spicy. The best!

Pineapple Fried Rice. Beware : kulitnya nggak bisa dimakan XD

Pad Thai. Mirip kwetiaw di Indo. Spicy.

Buggar. I forget the name of it. Mirip lodeh.

Mix Seafood Pad Thai. Masakan Thailand sering menggunakan bubuk kacang.

Telur Pitan. Thousand years Egg. My favourite egg.

Pork Noodle. The best pork noodle ever.

Prawn Fried Rice. Spicy. Large portion. Halal.

Street food. Fried Dumplings. Cheap and yummy. Nagih!

Bakpia raksasa isi kacang ijo+potongan kecil timun. Unique. Krenyes-krenyes.

Kungfu Chef in action. Sreng osreng osreng!!

Aneka gerobak Street Food

Malaysian’s food.

Ordinary Kopitiam, similar with Indonesian.

 Penang Kwetiau. Nothing special.

Pork. Small portion 😦

Sesame Pork. Nah ini uenak banget…. 😀

Roti Cane Asin. Pake celupan kuah kari. Karinya strong banget. Kaya kuah rendang.

Roti Cane Manis. Pake susu. Manisnya pas…makannya disobek-sobek pake tangan. Enyaaakkk!

Kesimpulannya, lidah gw sih lebih cocok ke masakan Thailand. Spicy, tasty, soury. Masakan Malaysia rata-rata hampir mirip masakan Indonesia, hanya saja lebih berbumbu kari. No surprise…Hehe…well, semoga saja gw bisa berkeliling icip-icip lagi next time. My taste bud always craving for more and more unique food! 😀

PS : untuk para pecinta travelling dan kuliner, coba buka link Turnamen Foto Perjalanan ini deh, banyak banget foto-foto kuliner dari berbagai daerah yang pastinya unique dan hmmm…slurpy!

Day 7 – Last Day at Phuket

Hari terakhir di Phuket. Pagi itu gw terbangun dengan hati berat. Nggak rela rasanya meninggalkan Phuket yang indah ini. Masih ingin rasanya berbaring-baring santai di pantai. Masih belum puas rasanya mencicipi gemerlapnya Bangla Road. Masih banyak tempat yang ingin gw kunjungi. Sayang liburan singkat ini harus berakhir. Sebelum check out, gw menyempatkan diri berenang di lantai 5 hotel. Nggak mau rugi. Hehe. Kolam renang di Santi White Hotel ini sangat bersih, meskipun sayang ukuran kolam yang tidak terlalu luas. Tapi cukuplah untuk pemanasan di pagi hari.

Di hari terakhir ini jadwal kami yaitu mengunjungi Jungceylon Mall. Berburu oleh-oleh tentunya. Katanya sih di mall ini malah lebih murah daripada toko-toko yang berjajar di Patong. Gw sempat membandingkan harga kain Thailand…hemmm…memang lebih murah di Jungceylon sih. Dan lagi…toko-tokonya buanyaaakkk banget sampe pusing deh, mana budget terbatas. Bahkan gw sempet nuker 200.000 rupiah gw ke Baht. Which is…rugi 50.000 perak! Dan nuker 50 RM gw yang tersisa. Sial. Haha… sial banget di saat kritis kehabisan uang untuk oleh-oleh, malah uang Dollar cadangan yang gw siapin malah ketinggalan di hotel. Argh! Ya udah deh ngerelain rupiah gw. Kurs nya di sana 1 THB = 200 Rp aja. Fiuh…sayang ya. Hati-hati aja kalau shopping di Jungceylon. Barang-barangnya lucu-lucu bangeeeetttt….gw dapet gantungan kunci gajah-gajahan dari kain yang lucu banget, kaos “I love Phuket”, kaos bergambar gajah Thailand dengan motif timbul, dan…yang paling gw suka…kain sarung bermotif gajah-gajah Thailand yang unik banget, Thailand banget. Hehe…nice. Oh iya. Dapet tas kain motif gajah juga. 😀 Hedeuh…niatnya mau beli oleh-oleh malah akhirnya lebih banyak beli buat diri sendiri, hahaha…gak nahan sih lucu-lucunya… *blush*

Pose di depan Jungceylon Mall

O ya kami sempat makan di foodcourt mall ini. Sistemnya pake cash card kaya di BSM gitu. Jadi uang kita ditukarkan dengan kartu yang diisi saldo sejumlah uang yang kita berikan, nanti beli-beli makanan tinggal nyerahin kartu itu ke penjualnya, dan sisa saldonya nanti bisa diuangkan lagi cash kok kalau kita mau keluar foodcourt. Di sini gw akhirnya nemu Mango Sticky Rice yang diidam-idamkan sejak sebelum berangkat. Yummy banget…gak nyangka mangga dan ketan ternyata berjodoh…nom nom…rasanya manis-manis seger. Si mangganya bikin sticky rice jadi ngga eneg…

The Famous Mango Sticky Rice

Ini Prawn Fried Rice yang gw pesen. Uenakkkk tenan! Nom nom…happy tummy

Beres makan dan borong oleh-oleh, kami bergegas balik ke hotel, karena harus packing dan ngejar flight jam 19.20. Ternyata packing kepulangan jauh lebih ribet. Maklum, barang-barang bertambah satu gembolan. Hehehe… mana untuk kepulangan kami hanya memesan 1 bagasi untuk bertiga hihi…maklum, pake Air Asia…

Untuk airport transfer kami memesan mini van melalui hotel. Harganya 150 THB perorang. Bandaranya ada di Phuket Town. Not bad lah ya…pretty cheap. Bisa juga naik bus dengan 20 THB saja menuju Phuket Town, tapi quite risky sih hehe…takut telat. Btw, kami dijemput mini van pukul 16.30, dan udah dag dig dug der aja takut telat, hehe…tapi ternyata sampai bandara kami masih punya banyak waktu untuk makan, luntang lantung dan keliling-keliling toko-toko di dalam bandara. Aje gile mahal-mahal makanan di sana. Saran gw, makanlah sekenyang-kenyangnya sebelum ke bandara, di sana kami kelaparan, dan segelas mi instan dihargai 100 THB, sori aja, hahaha…akhirnya kami makan paket hotdog Dairy Queen, sekitar 150 THB. Swt…tapi nggak nyesel sih, karena ngenyangin banget. But still…nyesek juga sih. Bisa dapet Prawn Fried Rice lagi tuh dengan harga nggak nyampe segitu. Dan dan…akhirnya duit udah ludes des, tinggal 30 THB saja, horrreee…

Suasana di dalam Phuket Airport

Drooling around Duty Free shops

Pesawat kami didelay 30 menit, yeah, no complain…namanya juga low cost carrier. Anyway…flight selama 3 jam berjalan mulus…gw pun turun di Soetta…dengan perasaan masgyul. Back to ordinary life again. But with lot of unforgettable memories…Yang jelas…perjalanan ini bikin gw ketagihaaaannnn…..! Hehe. Sampai tulisan ini ditulis pun gw udah megang 2 tiket promo ke Singapura bulan Januari dan Mei 2013, plus 1 tiket promo ke Bali bulan Januari 2013. Thanks to Air Asia, gw dapet tiket pp Bdg-Singapura cuma 600rb untuk bulan Januari dan 300rb untuk bulan Mei. Ke Bali? Pp 400rb saja! Yipeee…can’t wait for those trips next year.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Well,

Working, Saving, Eating, Travelling, Writing.

And my life turns out to be more and more colorful…

 

~end of my first trip abroad~

Day 6 – PhiPhi Island Tour

Save the best for last. Ya, acara terakhir kami di Phuket adalah island hopping ke KoPhiPhi. Belum pernah dengar??? Ah masa…hehe. Tontonlah film The Beach yang dimainkan oleh Leonardo di Caprio. Sesuai dengan judulnya, Anda akan dibuat terkesima dengan pemandangan pantai yang menjadi lokasi syuting film tersebut. Judul The Beach saja sudah cukup untuk menggambarkan isi film yang membuat kepulauan di Thailand Selatan menjadi nge-hits sampai sekarang. KoPhiPhi. Merupakan gugusan kepulauan kecil di dekat Phuket, yang berada di Laut Andaman nan cantik. Dalam film, pantai di KoPhiPhi digambarkan sangat bersih, air berwarna biru muda nyaris transparan, dan pasir pantai yang putih dan empuk. Siapa saja yang menonton film ini pasti akan jatuh cinta #yakin. Kecuali Anda phobia air. Hehe. So, inilah destinasi kami hari ini. KoPhiPhi.

Untuk pergi ke KoPhiPhi kami mengikuti tour dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dengan harga 1250 THB untuk tour dengan menggunakan speed boat. Ada juga tour yang menggunakan long tail boat, tapi dari hasil browsing sebelum berangkat, ternyata disarankan untuk menggunakan speed boat saja, karena : waktu tempuh lebih singkat, sehingga lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi, kesempatan snorkeling lebih lama, dan bisa mampir ke Maya Bay (long tail boat seperti yang gw naikkin di tour James Bond sebelumnya nggak bisa berlabuh di Maya Bay). Rugi banget nggak bisa main-main di Maya Bay, karena inilah main attraction dari tour KoPhiPhi ini.

Kami dijemput di hotel jam 8 pagi, dan menempuh perjalanan singkat menuju pelabuhan. Sama seperti tour James  Bond, sebelumnya kami diberi tali pengenal yang diikatkan di pergelangan tangan. Kali itu talinya berwarna biru. Jangan sampai tali ini hilang. Seperti kata tour guide kami kali itu, “If you lost it, we’ll lose you”. Karena begitu tenarnya KoPhiPhi ini, turis-turis yang datang pun membludak, dan mereka menggunakan agen tur yang berbeda-beda sehingga penting sekali untuk menjaga tali pengenal jangan sampai hilang, terutama saat snorkeling. Selain itu, penting juga untuk mengenali wajah-wajah teman satu tur, hehe…beneran, crowded banget di sana, dan tentu saja keindahan pantainya bikin lupa waktu, salah-salah kalau keasikan dan “hilang”, bakal malu banget dan bikin kesal peserta tur lainnya (it happens!).

Yang bikin gw terkesan dari Thailand, sekali lagi, adalah keramahtamahannya. Nggak salah kalau Thaland dijuluki Land of Thousands Smile. Tour guide kami kali ini, Eddy, beserta kru-krunya sangat ramah, profesional, dan sering melemparkan joke-joke yang membuat suasana jadi hidup. Perjalanan dengan speed boat pun tidak begitu terasa boring. Meskipun begitu, sayang sekali antara peserta satu dan yang lainnya tidak begitu membaur, hehe, apa bule-bule memang bawaannya cuek yah? Hm…Kami sendiri…dengan keterbatasan bahasa…nggak berani ngajak ngobrol bule-bule itu, hikssss….sebenernya belajar teori Bahasa Inggris dari TK sampai kuliah itu percuma ya kalau jarang dipraktekkan, huhuhu…atau mungkin karena kami bertiga pemalu kali ya, hihi…malu-malu kucing. Harus disenggol dulu baru keluar taringnya, jiahahaha… XD

Pemandangan menuju KoPhiPhi sendiri sungguh amazing. Berbeda dengan pemandangan di PhaNga Bay sebelumnya, air di laut Andaman ini lebih jernih. Warnanya biru muda sampai biru toska yang sangat jernih. Sungguh hati ini berdebar rasanya…pengen langsung “plung” dan menjadi Deni si Manusia Ikan. Hehehe…Sayang sekali cuaca hari itu kurang bersahabat. Langit mendung kelabu. Tapi serunya, gara-gara itu, gw ngalamin hujan-hujanan di dalam speed boat. Seru banget! Berhubung gw duduk di ujung belakang, habis deh kena semprot hujan yang mengguyur kami cukup deras di tengah laut. Dan kapal kami pun terombang-ambing heboh di tengah ombak yang saat itu cukup besar. Seru!!! O ya sebelumnya tiap peserta sudah disodori obat anti mabok, Dimenhidrinat (kalau di Indonesia terkenal dengan nama Antimo), dan gw udah minum 1 biji, so, nggak kerasa mabok sama sekali sih. Entah deh kalo nggak makan obat itu sebelumnya, hehehe…Puas dicuci hujan selama kurang lebih 15 menit, kami pun sampai ke tujuan pertama, yaitu Viking Cave. Viking Cave ini dinamakan demikian karena di dalam gua terdapat lukisan-lukisan tangan yang dibuat oleh bangsa Viking (ini kalau gw nggak salah menerjemahkan penjelasan si Eddy ya, :P). Dan di dalamnya terdapat sarang burung walet yang ajubileh mahalnya itu…sayangnya, ternyata Viking Cave ini sudah menjadi hak milik bangsa Cina (entah Cina mana yang dimaksud). So, kita nggak boleh memasuki gua ini, hanya boleh lewat saja melihat dari depan. Di film The Beach sendiri sepertinya Viking Cave ini ikut disyuting, dan Leonardo di Caprio saat itu berada di dalamnya. Entah ya saat itu Viking Cave ini masih kepunyaan Thailand atau sudah jadi hak milik Cina…

Kami hanya mampir di depan Viking Cave sekitar 10 menit, kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah laguna yang luar biasa cantik. Subhanallah…hanya itu kata-kata yang terngiang-ngiang di kepala gw. Padahal gw bukan muslim, tapi entah kenapa kata itulah yang paling tepat menggambarkan keindahan laguna ini. Airnya berwarna biru toska, begitu tenang dan bersih. Dikelilingi tebing-tebing hijau yang cantik. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Yang lebih luar biasanya lagi, kami dipersilahkan untuk berenang sepuasnya di laguna ini, selama  sekitar 15-20 menit. Tanpa babibu, gw langsung copot tanktop gw, eits…pake baju renang kok, gak bugil, hehe, dan menyemplung ria ke dalam laguna!!! Aaaaaaa….beneran campur aduk rasanya. Berenang di air laut sejernih dan seindah itu, ditambah pemandangan langit dan hijaunya tebing-tebing yang mencuat di sekitarnya. Berenang gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, semua gw jabanin, hehe…laguna itu dalamnya sekitar 10 meter, so don’t worry…asal punya skill renang standar, gak akan tenggelam. Masih khawatir? Tenang…disediakan pelampung untuk yang takut tenggelam, hehe…gw sih cuek aja, kaga pake pelampung-pelampungan. Bodo amat, air laut sudah memanggil-manggil gw kaya Siren yang bernyanyi manggil-manggil para nelayan yang tersesat (apa sih?? Hehe…). Okay. Gw euforia. Hehe…

Phiphi lagoon

Rasanya waktu cepet banget berlalu. Gw masih belum puas berenang-renang cantik di laguna surga itu, tapi sayang si Eddy udah teriak-teriak  mengumpulkan peserta. Huhu… O ya saat kami naik ke atas boat, abang-abang kapal dengan baik hatinya memotret kami bertiga. Inilah tampang gw post-euforia first experience berenang di laut. Hehe.

Post swimming @Lagoon

Puas berenang-renang, selanjutnya kami dibawa ke Maya Bay. Ya, inilah “permata” PhiPhi Island. Lokasi syuting utama dari film The Beach pun diambil di Maya Bay ini. Ya, memang keindahan Maya Bay ini tak tertandingi. Gw belum pernah lihat pantai dan air sebagus itu seumur hidup gw. Mungkin suatu saat gw bisa menemukan pantai lain yang lebih bagus (*Amin*), tapi sampai saat ini, Maya Bay lah pantai terindah yang pernah gw kunjungi. Airnya biru muda nyaris transparan, pasirnya putih agak kasar dengan pecahan-pecahan kerang yang berukuran sedang. Pantai ini menghadap tepat ke perairan Laut Andaman dan dikelilingi bukit-bukit yang indah, sehingga seolah-olah tersembunyi di antara pulau-pulau di KoPhiPhi. Ya, jika surga itu ada, gw berharap surga seindah pantai Maya Bay ini…Sayang sekali, “surga” ini sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Begitu tersohornya Maya Bay ini, sehingga turis-turis pun berjubel mengisi pantai kecil ini. Yah, ada gula ada semut memang. Inilah yang menodai keindahan Maya Bay. Padahal di film The Beach, pantai ini diperlihatkan kosong. Hehe…Bang Leonardo dan pacarnya dalam film itu tampak berenang bebas berdua memonopoli pantai ini. Ah…andai… (mikir apa hayooooo….? Hehe.)

Blue water @Maya Bay

Pada pose cantik semua. XD

Hihi…narsis…

Lihat bapak-bapak di belakang…mau renang apa mau nanem sawah? *caping is the new trend?* Hihi…

Maya Bay dari jauh. Orang-orang berjubel kaya ikan sarden.

Maya Bay sangat indah, sayang harus berbagi dengan ratusan orang yang juga ingin menikmati keindahannya…

Dengan berat hati kami meninggalkan Maya Bay untuk menuju ke Monkey Cave. Tak jauh dari Maya Bay, terdapat pantai kecil yang dihuni oleh monyet. Di speed boat, Eddy sudah mewanti-wanti kami untuk berhati-hati menjaga barang bawaan, karena monyet-monyet ini suka sekali menjambret barang-barang pengunjung. Gw pun urung membawa kamera turun, sayang banget kalau kamera gw satu-satunya ini sampe raib, hehe. Tapi gw sempat mengambil beberapa foto kok, ini salah satunya :

PhiPhi Monkey Cave

Berhubung gw udah pernah ke Sangeh Bali, gw nggak begitu antusias dengan Monkey Cave ini. Monyetnya kecil-kecil, nggak seseram yang ada di Bali, dan jumlahnya pun sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah monyet yang saya temui di Sangeh. Ya tapi uniknya sih karena monyet-monyet ini bertengger di hutan pinggir pantai aja kali ya. Di sini turis-turis bisa memberi makan si monyet dengan roti. Menurut gw sih mereka tampak jinak. Jauh lah sama monyet-monyet seram yang ada di Sangeh. Atau mungkin yang gw temui saat di Monkey Cave ini baru “anak-anak buahnya” aja kali ya, masih culun-culun, hehehe… Kalau mau puas berbaur dengan monyet sih gw saranin ke Sangeh aja. Nampol banget tuh di sana. Monyetnya ribuan, dari yang kepala suku sampai orok monyet tumplek jadi satu…kali aja nemu saudara tua kita di sana, hihihi…

Setelah menghabiskan 15-20 menit di Monkey Cave, selanjutnya speed boat membawa kami ke spot snorkeling. This is my first time snorkeling!!! *excited*. Di tengah laut boat berhenti, dan kami diminta memakai fin masing-masing. Oya, untuk fin ini ada biaya sewanya lho, sebesar 100 THB. Penting sekali untuk menggunakan fin selama snorkeling, karena di bawah lau banyak “ranjau-ranjau” berduri berupa Sea Urchin. Alias Landak Laut. Alias Bulu Babi. Ini nih gambarnya :

Long Spined Black Sea Urchin

Nah, nggak mau kan ketusuk sama duri-durinya? Efeknya bisa luka tusuk ringan, sampai reaksi alergi yang membahayakan nyawa. Bervariasi tiap orang. Gimana cara mengatasi luka tusuk sea urchin? Udah gw bahas di postingan gw sebelumnya, saat gw ke PhaNga Bay. Traditional way : urine (?), cuka. Modern way : debridement (pembersihan luka), salep Antibiotik+Kortikosteroid, obat Anti Alergi, kalau berat bisa ditambah tablet Kortikosteroid. Hati-hati karena ada yang namanya reaksi anafilaktik, yaitu reaksi alergi terhadap suatu alergen (bisa dari makanan seperti ikan, seafood, obat, sengatan hewan seperti lebah, ubur-ubur, dan bisa juga dari tusukan sea urchin ini, so, beware!).

Okay, kembali ke snorkeling. Hehe. Ini pengalaman pertama gw. Tapi karena gw udah pernah ikut kelas Diving sebelumnya waktu mahasiswa, gw yakin everything will be fine. So, “PLUNG”, dan…lagi-lagi…gw cuma bisa berkata Puji Tuhan dalam hati. Sungguh. Akhirnya gw bisa melihat dunia bawah laut, koral-koral yang beraneka ukuran, dari yang kecil sampai raksasa. Sekelompok ikan berenang-renang menghampiri, beraneka warna, langsung di depan mata bukan di akuarium air laut seperti yang udah sering gw liat di toko-toko ikan. Kenapa ikan laut warnanya begitu amazing ya, Tuhan memang keren… Sayang sekali gw nggak menemukan coral warna-warni, pemandangan didominasi oleh hard coral, tapi tetep keren kok, at least for my first time. Saat itu cuaca mendung, air berombak cukup besar, dan pemandangan di bawah air nggak bisa dibilang jernih-jernih amat. Tapi gw enjoy banget sih, meskipun karena parno gw jadi sering banget nongol ke atas air, takut hilang, hihi… Kesan?? Gw ketagihan!!!! Gw jadi pengen snorkeling lagi di tempat-tempat lain, Lombok, Karimunjawa, Bunaken, Derawan…ah…semua tempat itu belum gw jamah, tapi semoga gw bisa, suatu saat, amin! Btw, yang melintas di kepala gw saat snorkeling adalah : Horeeee…akhirnya gw bisa ngerasain jadi Spongebob! Okay, that was a weird thought. But it was mine. Hahaha…..!

Empat puluh menit yang berharga itu pun akhirnya berakhir. Gw pun kembali ke kapal dengan perasaan campur aduk. Senang, kecewa karena belum puas, dan ketagihan…sayang sudah waktunya makan siang. Kami pun dibawa ke PhiPhiDon untuk makan siang prasmanan dengan menu standar buffet kaya di kondangan, tapi enak kok! Puas-puasin aja makannya biar nggak rugi, hehehe…Sayang menunya bukan lobster dan aneka seafood seperti yang gw harapkan.

Beres maksi, kami menuju ke destinasi terakhir, yaitu Khai Island. Di sini kami dilepas bebas (emang lu kira hewan piaraan? Hehe) untuk snorkeling, bersantai di pantai, duduk-duduk, dan minum cocktail. Kami sih jelas memilih yang pertama. Hehe…Di pantai ini, kita sudah bisa langsung snorkeling dari pinggir pantai. Mulai jarak sekitar 5 meter dari tepi pantai, sudah ditemukan koral-koral dan ikan-ikan yang cantik. Kami membawa roti tawar seharga 50 THB yang dibagikan Eddy. Begitu roti tawar disodorkan, langsung gw diserbu segerombolan ikan-ikan cantik itu. Ah…rasanya geli-geli gimanaaaaa gitu. Senangnya…gw pun berenang makin menjauh dari tepi pantai. Makin ke tengah laut coral-coralnya makin indah dan bervariasi, begitu juga dengan ikan-ikannya. Cantik sekali. Cuma itu yang bisa saya katakan karena saya nggak ngerti nama-nama ikannya apa saja, hihi…yang jelas cantik…tapi jangan salah, makin ke tengah, ranjau sea urchin pun makin banyak, tak hanya satu atau dua, melainkan bergerombol di bawah coral, hiiiiiyyy…rada takut juga. Apalagi perairan di sini sangat dangkal sehingga bisa dengan mudah tertusuk. Ah…sea urchin…kau begitu berguna bagi ekosistem laut, sayang tidak menguntungkan bagi gw yang parnoan, hehe…

Langit Phuket dari Khai Island

( Tertarik dengan foto-foto perjalanan bertema “Colour”? Buka deh di sini)

Post Snorkeling @Khai Island

Sisa waktu pun gw habiskan di Khai Island untuk snorkeling dan jalan-jalan sebentar di tepi pantai. Tak lama, kami pun dipanggil-panggil oleh Eddy…tur yang indah ini pun berakhir…Good Bye PhiPhi Island…I will never forget this beautiful memories…kecuali gw kena Alzheimer *amit2*.