Backpacker Trip to Kawah Putih ~ not just an ordinary trip

Kawah Putih. Setelah 7 tahun tinggal di Bandung, finally gw berkunjung juga ke tempat wisata legendaris andalan Bandung ini. What??!! After 7 years? Okay okay, gw akuin sebagai mahasiswa Kedokteran yang rajin belajar dan menabung, gw telah menyia-nyiakan 7 tahun dengan tidak juga mengunjungi Kawah Putih ini. Hehe, but actually I did it last week. Dan…gw terpesona. Really. Dan juga merasa so stupid, kok bisa-bisanya gw melewatkan amazing landscape satu ini selama 7 tahun. Yah, alasan klise. Too busy, no time, and another stupid reasons… But finally, I did go there last week. Yeay!!
Cerita perjalanan ala backpacker ini simple aja. Bermula dari keinginan terpendam yang sudah lama bercokol di kepala gw, ditambah hasrat bertualang yang masih menggebu-gebu sepulang dari Malaysia dan Thailand beberapa bulan lalu, akhirnya gw memutuskan, gw HARUS pergi ke Kawah Putih. Konsultasi dengan Mr.Google pun dimulai, dan diakhiri dengan perasaan “ke mana aja gw selama ini?!”. Menuju Kawah Putih ternyata sangat gampang. Dari Bandung, pergilah ke Terminal Leuwi Panjang. Kemudian di sana bergantilah dengan Elf (angkutan semacam travel kecil versi abal-abal) yang menuju Ciwidey. Sesampainya di Terminal Ciwidey bergantilah dengan angkot kuning yang menuju Kawah Putih. Sampe deh. That’s simple. Segampang rute dari Maranatha menuju PVJ. Ckck…see…travelling is actually very easy, yang penting niat. Hehe.
Pagi hari yang dingin di hari Sabtu 30 Juni 2012, gw dan partner memBolang gw kali ini, Irene, memulai misi backpackeran kami ke Kawah Putih. Sebelumnya kami sarapan dulu di RedRoll Surya Sumantri, which has the best Vietnam food and coffee in town. Well, sarapan di sini nggak termasuk budget backpacker sih, hehe. But this is my favourite place for breakfast. Tuna Roll dan Bruschetta-nya yahud! Plus Vietnam Coffeenya…perfect for start a day!

Tuna RedRoll and Vietnam “drip” Coffee

Kembali ke perjalanan. Dari Surya Sumantri kami naik angkot Sarijadi-St.Hall menuju Jl.Pajajaran, di sana kami berganti angkot Cimahi-St.Hall. Sampai di Caringin Jl.Soekarno Hatta, kami berganti lagi angkot Cimahi-Leuwi Panjang. Sampailah kami di Terminal Leuwi Panjang. Itu pertama kalinya gw masuk ke dalam terminal Leuwi Panjang. Hehe. Kemane aje Buuuu…. ;p Suasana di dalam terminal cukup ramai, mayoritas dipenuhi bus-bus jurusan Bandung-Jakarta. Di sana banyak abang-abang yang menanyakan tujuan kami, dan gw dengan ramah menjawab satu persatu pertanyaan mereka. Serasa artis, huahaha…Ternyata memang orang Bandung itu ramah-ramah, baik hati, penyayang dan gemar menabung. Hehe…okay, yang terakhir hiperbolis. Kenapa? Karena tanpa gw bertanya pun, para abang-abang itu dengan murah hati memberi informasi mengenai angkutan menuju Ciwidey. Ternyata kami harus keluar ke sisi samping luar terminal (nah loh, di mana tuh? Bingung kan? Tenang nanti akan ada abang-abang yang memberi info :D). Di sana kami berdiri ngetem menunggu Elf. Cukup lama juga, kira-kira 15 menit. Elf ini bentuknya seperti travel tapi mini dan lebih “buluk”. Kami berdua duduk di depan. Cukup nyaman. Hanya saja dia ngetem di beberapa tempat menunggu sampai 1 mobil terisi penuh. Dan ngetemnya cukup lama. Fiuh. Sabar aja, namanya juga angkutan umum, hehe. Sepanjang perjalanan gw menghabiskan kwaci sampai setengah bungkus (titisan hamster :D). Setelah terkantuk-kantuk dan terjebak macet yang cukup panjang di daerah Kopo, akhirnya kami sampai juga di terminal Ciwidey. Perjalanan sekitar 1,5 jam itu cukup dengan biaya 6000 rupiah saja. Murah meriah. O ya, bagi yang sial, akan mendapat tempat duduk sisa, yaitu di belakang supir tetapi dengan posisi memunggungi supir alias menghadap ke belakang. Tempat duduknya pun sangat sempit, dan dijamin akan pegal dan mual. Hehe.
Sesampainya di terminal Ciwidey, kami langsung disambut oleh beberapa abang-abang yang menawarkan jasa angkutannya. Kami mengikuti seorang abang yang membawa angkot ke Kawah Putih. Sebelumnya kami negosiasi harga terlebih dahulu. Dia menawarkan tarif 55.000 rupiah untuk perjalanan pp Kawah Putih, sudah termasuk tiket masuk. Harga tiket masuknya sendiri 12.000 di hari biasa dan 15.000 di saat weekend. O ya, harga tersebut berlaku untuk jumlah penumpang minimal 7 orang. Saat itu di dalam angkutan sudah ada 2 orang. Ngetem sebentar, akhirnya jumlah seluruh penumpang mencapai 9 orang. Yeay, capcus cyiinn….!

Model Angkutan Ciwidey – Kawah Putih ;p

Udara di Ciwidey sedikit lebih dingin dibandingkan Bandung. Perjalanan berlangsung lancar dan riang gembira, dengan pemandangan alam di kanan kiri jalan yang menanjak, seru deh…segar dan minim polusi. Beda banget sama kondisi kota Bandung yang sekarang sudah padat oleh kendaraan. Oya, penghuni angkutan kami terdiri dari muda mudi, hehe, ada yang berasal dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Sekitar 45 menit perjalanan melalui tanjakan yang berlika-liku, sampailah kami di pintu gerbang Kawah Putih. Dan di sinilah “tragedi” terjadi. Tiba-tiba saja kami dicegat seorang polisi berbadan gemuk dan bertampang garang. Berikut dialog yang terjadi :
PP (Pak Polisi) : *sambil menginspeksi ke dalam angkutan* “Dari mana?”
AA (Abang Angkot) : “Terminal Pak”
PP : “Bener?!”
AA : “Bener Pak”
PP : “Ga boleh lewat sini. Mana SIM?”
AA : “Pak, bolehlah ke atas Pak, ini dari terminal. Bener Pak.”
PP : “Hey! Saya polisi. Saya berhak memeriksa Anda!” *muka asem rada songong*
AA : “Ga bawa Pak…ada di majikan Pak”
PP: “Apa-apaan ini, bawa mobil ga bawa SIM. Keluar. Turun-turun!”
AA: *turun dari mobil**memohon-mohon supaya boleh naik ke atas* *dikerubungi polisi lainnya* *dimarahin polisi* *ciut*
PP : “Ga bisa, balik-balik. Ga boleh naik.”
AA: *masuk ke mobil kembali*
PP: *menggebrak samping mobil, BRAK!!* “Bu, lain kali jangan pake mobil ini Bu!” *muka asem*
Penumpang : *bengong*
AA : *putar balik* *kesel* *merasa apes*

Yeah. Itulah yang terjadi pemirsa. Baru kali ini seumur hidup saya, mau berkunjung ke tempat wisata malah diusir. Great. Indonesia. Hebat. Nggak jadi ke Kawah Putih dong??? Ow, tentu tidak. Hehe. Untungnya si AA, eh, si abang ini cerdik seperti kancil dan cerdas seperti tupai (???), dia menawarkan apakah kami mau berkunjung ke Situ Patengan dulu, baru nanti kembali lagi ke Kawah Putih. Kami semua sepakat. Iya dong, pokoknya HARUS ke Kawah Putih. Pantang menyerah walau diusir oleh bangsa sendiri. Ceileh. Okay, jadilah kami pintu gerbang kami berbelok ke kiri, menuju ke Danau Situ Patengan yang terkenal dengan Batu Cinta-nya. Saya sendiri belum pernah mengunjunginya. Dalam perjalanan menuju Situ Patengan, kami disuguhi pemandangan kebun teh yang sangan luas di kiri dan kanan jalan. Very beautiful. Susunan tanaman yang begitu teratur, seragam, dan berwarna hijau cerah sungguh memanjakan mata gw. Ditambah udara yang sejuk segar yang mengademkan hati. Ini sih namanya blessing in disguise. Ada untungnya juga kami diusir si PP. Di tengah perjalanan, abang angkot tercinta menawarkan apakah kami mau berhenti sejenak untuk berfoto-foto. Tentu saja, dasarnya banci kamera, kami semua setuju. Spot saat itu sangat indah, yaitu perkebunan teh yang rapat-rapat dengan latar belakang danau Situ Patengan. Yay, banci kamera in action!!😀

Ciwidey Tea Plantation – Situ Patengan Lake


Puas berfoto-foto indah, kami melanjutkan perjalanan, 15 menit kemudian kami telah sampai di danau Situ Patengan. Yang ternyata sangat ramai. Kios-kios makanan, gorengan, buah strawberry, souvenir, sampai boneka, berjejer menyambut pengunjung. Danaunya sendiri cukup luas, dengan pulau kecil di tengahnya. Di pulau inilah terletak Batu Cinta yang terkenal itu. Untuk mencapai Batu Cinta, harus menggunakan perahu kayu yang berkapasitas sekitar 15 orang. Ada juga sepeda air yang disewakan per jam dengan tarif 30.000 rupiah. Karena waktu kunjungan kami terbatas, hanya satu jam, gw pun melewatkan Batu Cinta. Maybe next time deh ke sana kalau bawa pasangan, hihi, kali aja beneran jadi langgeng. So, gw dan Irene hanya berfoto-foto di sekitar danau, pemandangannya lumayan, nggak spekta banget sih, not bad lah…tapi udaranya cukup dingin, which is bikin laper. Kami pun jajan berbagai gorengan (tempe goreng, ubi, pisang goreng, lontong) seharga 4000 rupiah saja, plus menghangatkan tubuh dengan secangkir Bajigur seharga 3000 rupiah. Cemal-cemil murmer begini nih yang gw suka, ihiy, nyam-nyam…Meskipun di Bandung juga ada, tapi di sini feelnya lebih pas karena udaranya yang dingin dan segar. Belum puas nyemal-nyemil, kami juga mengicip buah Blackberry seharga 5000 rupiah 1 pak, yang ternyata sangat asam dan dengan sukses mencemari jari-jari kami dengan warna ungunya yang sulit hilang. Hihi…tapi eh tapi…gw menemukan benda kecil berwarna putih yang tampak seperti baby ulat di antara buah Blackberry tersebut. Maka berakhirlah acara icip-icip Blackberry.😦 Sekitar jam 2 kami sudah standby di dalam angkutan, tapi ternyata 5 orang lainnya masih belum kembali. Daripada bengong, gw pun jajan siomay seharga 5000 rupiah. Irene berkeliling survey harga boneka kaki raksasa yang dia idam-idamkan tapi ternyata harganya mahal, 60rb Bo, mendingan beli di mall aja deh, hahaha… Janjian pulang jam 2 pun molor sampai 30 menit *sigh*. Dan ternyata yang lain pada nyebrang ke Batu Cinta dong…heuh, tau gitu…kirain gak akan keburu. Next time deh ya…

Situ Patengan Lake


10 years friendship~

Puas isi perut di Situ Patengan, kami kembali menuju ke Kawah Putih. Info punya info, katanya sih Pak Polisi kita tercinta sudah angkat kaki dari Kawah Putih. Keadaan aman terkendali. Ternyata…kami diusir karena sebetulnya kendaraan umum tidak boleh memasuki Kawah Putih, melainkan harus menggunakan “Ontang-Anting”, kendaraan umum khusus yang disediakan pengelola Kawah Putih, dengan tarif 15.000 sekali naik dari gerbang. Damn you Pak Polisi, why didn’t you just tell us to change vehicle to Ontang Anting? Why didn’t you tell us the rule? Why didn’t you just act nice and give the damn information? Instead of being rude and tell us to go home? Yah, beginilah pariwisata di Indonesia. Padahal kami semua turis lokal. Kebayang kalo wisatawan asing yang diginiin, bakal bengong kali mereka. Diusir dari tempat wisata? What’s wrong with this country? Bayangin udah dateng jauh-jauh dari kota lain atau bahkan negara lain untuk melihat keindahan Kawah Putih, dan you diusir gitu aja dari gerbang. Fiuh…berharap pariwisata Indonesia bisa lebih maju lagi dari sekarang. Mungkin bisa berguru pada Thailand di mana turis disambut bagai raja. Hospitality mereka patut diacungi jempol.🙂
So, setelah kondisi “aman terkendali tanpa polisi”, kami meluncur menuju lokasi utama Kawah Putih, dengan melalui jalan yang luar biasa menanjak, bahkan angkutan kami sampai ngos-ngosan dan terpaksa menurunkan sebagian penumpang di tengah jalan saat melalui tanjakan. Sebagian diangkut terlebih dahulu melewati “ranjau” tanjakan, kemudian angkot kembali lagi menjemput rombongan yang diturunkan tadi. Hihi, seru! Tapi anehnya, tampaknya angkutan Ontang Anting tidak bermasalah dengan tanjakan-tanjakan ini. Mobilnya padahal serupa angkot juga. Kalau mobil pribadi…pfffttt, jangan ditanya, di belakang kami saja sebuah mobil Avanza empot-empotan saat melalui tanjakan. Dan lagi, apabila Anda membawa mobil pribadi, tarif tiket masuk bukan 15rb lagi melainkan 150rb. Mahal buanget rek! Mendingan sih parkir mobil pribadi di gerbang lalu naik Ontang Anting tadi untuk menuju Kawah Putih. Lebih seru dan hemat tentunya😀

Touche!


Kawah Putih! Finally touch down! Sungguh, sungguh, indah. Amazing. Gw nggak nyangka kalau ternyata kawahnya sendiri begitu luas. Dan begitu indah. Pemandangan kawah yang berwarna biru kehijauan dan berasap putih, dikelilingi pepohonan yang hijau, ditambah lagi langit yang cerah dihiasi awan-awan seputih kapas. Sungguh terpesona pada pandangan pertama. Berada di tengah kawah, again, gw merasa begitu kecil dibandingkan ciptaan-Nya. Sekaligus takjub dengan keindahan yang diciptakan-Nya. Air kawah yang jernih sungguh menggoda, sayangnya nggak bisa renang di sana, hehe…Gw pun langsung action berfoto ala ala model amatir. Dengan background alam sebagus ini, seamatir apapun modelnya, fotonya tetep aja looked fabulous, hihihi…😀 Sulit mendeskripsikan keindahan Kawah Putih ini dengan kata-kata, so, just look at the pictures





Makin sore udara makin dingin. Dan pemandangan semakin indah. Redupnya sinar matahari di sore hari membuat warna air kawah menjadi lebih kebiruan dan tampak lebih mellow #apasih. Acara foto-foto jadi semakin menggila. Tapi, gw menarik kesimpulan, sebagus apapun hasil foto di kamera, tetep nggak bisa menandingi keindahan yang tertangkap langsung oleh mata. Rasanya betah berada di Kawah Putih, sayang sekali waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Kawah Putih akan ditutup, jadi…dengan berat hati kami pun berjalan keluar, di mana abang angkutan sudah menanti.

Sebelum keluar dari area, kami mampir dulu di warung-warung penjual makanan dan cemilan khas Ciwidey. Sempet nyoba Strawberry Fondue (buah strawberry yang dicelup coklat cair), uh enak banget sodara-sodara! Akhirnya mesen 1 porsi lagi. Strawberrynya terasa lebih enak daripada Strawberry Fondue yang dijual di mall-mall. Mungkin pengaruh suasana juga kali ya. Plus, akhirnya gw menggondol pulang seplastik kerupuk pedas Strawberry dan seplastik cheese stick Strawberry. Keduanya berwarna pink. Dan memang menggunakan campuran buah Strawberry sebagai bahannya. Unik bukan? Hehe. Rasanya sih so so lah…Harganya? Masing-masing 10rb rupiah.
Dalam perjalanan pulang kami terjebak macet. Hari sudah gelap. Akhirnya si abang yang kreatif ini mengambil jalan memutar, melewati desa-desa dengan jalan yang sangat sempit, naik turun tebing, tetapi pemandangan kanan kiri lumayan bagus, so gw sih enjoy aja. Eh, di tengah jalan bensin kritis, akhirnya kami mampir ke rumah penduduk yang menjual bensin. Di sini gw numpang pipis di salah satu rumah penduduk, dan cukup kaget juga mengetahui kalau di sana masih menggunakan MCK (mandi, cuci, kakus). Astaga…padahal penghasilan daerah pasti cukup besar yah dengan adanya daya tarik wisata seperti Kawah Putih dan Kebun Strawberry, Kebun Teh, dan sebagainya. Tapi kenapa warga di desa-desanya masih pake MCK? Sangat disayangkan dan prihatin…Dan gw kembali terkaget-kaget karena si empunya rumah menawari kami makan. Waw, numpang pipis malah ditawari makan, itu sesuatu banget, hal yang gw rasa hanya bisa ditemukan di desa. Jadi terkenang masa-masa gw live in di Kulon Progo Yogyakarta. Setiap bertamu ke rumah penduduk selalu ditawari makan, alhasil gw bisa makan sehari sampai 7 kali! Betapa ramahnya penduduk desa…
Setelah melewati gunung dan lembah, sampai juga kami ke jalan utama Ciwidey, di mana sudah ada angkutan Elf menuju Bandung yang sudah menanti. Bagaimana bisa si abang angkutan berhenti tepat di depan Elf, itu masih misteri, hehe. Tadinya gw udah agak cemas juga memikirkan harus menunggu Elf di Terminal Ciwidey. Ternyata malah seturunnya dari angkutan kami langsung berganti dengan Elf. Oya tak lupa kami membayar si abang angkutan baik hati ini sebesar 65rb. Hitung-hitung ongkos ekstra ke Situ Patengan.
Kondisi Elf pulang lebih parah dibandingkan saat berangkat. Gw dapet tempat di kursi paling belakang dan sangat sempit. Penumpang pun berjejal-jejalan. Fiuh, sumpeknya…untungnya sih perjalanan kali ini lebih cepat, sekitar 1 jam kemudian kami sudah sampai di Terminal Leuwi Panjang. Waktu menunjukkan pukul 20.30. Sebelum pulang kami mampir ke Warung Makan Ibu Imas di Jalan Pungkur yang terkenal dengan sambelnya yang pedesnya juara. Must try! Akhirnya kami pulang dengan perut kenyang dan hati senang. What a beautiful life~

Total expenses :
Angkot : pp 6 x 2000 : 12.000
Elf : pp 2 x 6000 : 12.000
Angkutan include tiket masuk : 65.000
Jajanan : 22.000
Oleh-oleh : 20.000
Dinner @Ibu Imas : 27500
Total : 158.500 all in hehehe…😀 (exclude sarapan di RedRoll)

Happy travelling, happy life~

48 thoughts on “Backpacker Trip to Kawah Putih ~ not just an ordinary trip

  1. dokter🙂 blognya asyik, fotonya bagus…minggu depan kami jg ke kawah putih, bau belerangnya aman ngga ya dok buat anak 1 tahunan ( 14 bulan tepatnya). Acara kantor minggu depan ke Bandung

    • Trims ya sudah berkunjung ke blog saya🙂 Untuk di kawah putih memang sebaiknya menggunakan masker karena bau nya cukup menyengat, baik u/ dewasa maupun anak sama saja, disarankan u/ memakai masker selama di area kawah (kecuali saat foto2 kali ya hehe). O ya saran saya bawa saja masker dari rumah krn masker yg dijual di sana overpriced. Happy trip! ;D

  2. iya nih, harga masuk untuk tiket ke kawah putih untuk mobil gak realistis, masa 150 ribu??? sudah begiyu ontang-antingnya cuma naik saat penumpangnya full saja. Kalau belum full dia gak akan naik. 10 tahun yll saya pernah mengunjunginya dan saat itu mudah sekali. Sekarang setelah dikelola, Kawah putih menjadi objek wisata yang mahal dan cenderung ‘ngerampok’. Bikin ilfeel mau kesana lagi😦

    • Yup, betul banget! Makanya mikir2 juga kalau ke sana bawa mobil sih harus ngumpulin massa dulu, haha…tapi seru juga kok naik angkutan, hehe… Trims ya udah mampir ke blog saya ^^

  3. Waaah..seru, yaaaah..^__^ Jd pengen liburan kesana bareng keluarga.. Ada penginepan ngga ya di sekitar sana..yg murmer ajah..heuheu..

    • Hai, trims yah sudah berkunjung ke blog saya🙂 Sorry saya kurang tahu kl penginapan yg recommended, tp sepanjang jalan menuju Kawah Putih ada banyak penginapan dan villa kok🙂 Happy travelling! ^^

  4. thanks info,, mau nyoba backpacker sepertinya lebih seru yah,,,
    untuk tahun baru nanty kira2 jalurnya ke ciwidey dibuka gak yah?

  5. hemmm,,,besok mau kesana nih ane sist,,kira2 2013 ini nambah mahal2 ngga yah,,,masih berlaku ngga kendaraan ngga boleh naik,,kalo kita naik angkutan yg disedianin pengelola,,kalo kita mau lebih lama di kawah,,turnnya ditinggalin mobil ngga,,,apa pas turun bebas naik mobil yg mana aja

    • Hallo Deka🙂 Untuk harga saya blm update lg tp kelihatannya msh sama deh. Kl kendaraan angkutan umum yg dr luar memang sudah nggak boleh masuk, harus naik yg disediain pengelola. Turunnya ada beberapa angkutan kok, bebas naik mobil yg mana aja Oya, weekend biasanya macet di daerah kopo, sebaiknya berangkat lebih awal. Semoga membantu🙂

  6. saya pengen kesana tapi ndak tau rute, saya dari jakarta rencana mau naik travel apa adan ndak travel langsung ngantar ke terminal cwiday..?? mohon infonya mabk

    • Kalau travel Jkt-Bandung biasanya berhenti di pool, kalau mau diantar ke rumah biasanya kena biaya lg. Kalau nganter sampai ciwidey keliatannya nggak bisa, tp coba tanya sm pihak travelnya mas. Paling kalau mau sewa mobil saja 1harian sekalian sm supirnya hehe.🙂 Semoga membantu mas…

  7. mbak , mw tanya klo libur lebaran.. d sana lebih rame dan lebih mahal ?
    bisa mnta referensi ide mba, aq n kawan2 pngen k sono nie…
    trimz b4

  8. Wo, und vor allem wie es dich in die entlegensden Ecken herum treibt, “Respekt”.
    Da hätte ich jetzt auch Lust. Etwas gemächlicher meinen Kindheitserinnerungen nachreisend gehts aber bald in Schneebedeckten Gebirge nach Österreich. Bis dahin Abenteuer pur in meinen Kochtöpfen.
    Hoffentlich bleibt etwas nach der Übersetzung über. Bis dahin weiterhin tolle Erlebnisse wünscht . . . mataicooking😉

  9. hallo mba…
    seneng deh baca blog ini,,, banyak info yng bisa d ambil kalo kita pingin backpackeran k bandung… saya jadi pingin mba… hehe… bolehkah saya minta sedikit infonya ttg bandung??
    trima kasih sebelumnya..

  10. Pingback: KEHINDAHAN DI KOTA BANDUNG | tikahihit

  11. Pingback: Referensi Liburan di Bandung | mynaufal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s