Day 2 – Sekali Biking Tiga Pantai Karimunjawa Terlalui

Sea, sun, sand, sky, and palms…

Pantai Anonim. Ya, perhentian pertama biking (+walking+nuntun sepeda) di Karimunjawa adalah pantai anonim ini. Untuk menuju ke pantai ini pun tidak ada path jalan yang khusus, melainkan harus menembus rumput, semak, dan ilalang terlebih dahulu. Butiran pasirnya yang bersih dan lembut mengintip dari tepi jalan, sontak kami meninggalkan sepeda kami di pinggir jalan begitu saja. Menembus ilalang, menuruni bebatuan yang lumayan curam, akhirnya di pantai kecil inilah kami melepas penat. Berbaring dialasi pasir putih dan beratapkan daun palem, rasanya perjalanan yang sudah dilalui tak sia-sia…

Melepas lelah selama kira-kira setengah jam, khawatir dengan sepeda yang kami tinggalkan begitu saja di pinggir jalan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, karena masih berkeyakinan bahwa pantai ini bukanlah Pantai Nirwana yang kami cari.

Melanjutkan perjalanan naik turun bukit, tak berapa lama kemudian kami disambut oleh pemandangan pantai yang luar biasa indah di sebelah kanan…lagi-lagi…terpisah oleh semak dan ilalang. Dan lagi-lagi, kami menjatuhkan sepeda dan segera menembus semak belukar tersebut…dan Puji Tuhan…inilah pantai yang terhampar di hadapan kami…

Pantai Legon Lele dengan gusung pasir yang menuju ke Pulau Batu

Pantai Legon Lele. Darimana gw bisa tahu namanya? Ceritanya menyusul ya, hehe. Kenapa dinamai Legon Lele? Baca nih di sini. Sungguh, pantai ini keren banget, airnya jernih, pasirnya putih, terdapat beberapa gundukan gosong pasir yang timbul karena air surut, tepi pantai ditumbuhi pohon-pohon palem, sedangkan di sebelah timur pantai lebih didominasi bebatuan dan karang yang besar-besar, bahkan gw sempat gelar lapak dan tidur-tiduran di atas batunya, hehehe…superb! Pulau yang tampak sangat dekat dari pantai adalah Pulau Batu. Pulau ini terasa sangat dekat sampai gw berpikir apakah bisa gw berenang ke sana…soalnya gosong pasirnya sendiri cukup panjang lho…seakan menuju ke Pulau Batu. Hehe tapi tentu saja gw nggak bener-bener berenang ke sana… 😛

Tidak ada papan petunjuk ataupun plang nama pantai di sini. Saat itu gw masih berkeyakinan inilah Pantai Nirwana. Lha uapike kayak gini, apa lagi kalau bukan Nirwana namanya? *kekeuh*. Cukup lama kami stay di sini, mengira pantai ini adalah destinasi terakhir kami. Meskipun dalam hati masih ragu juga apa bener ini Pantai Nirwana, jangan-jangan masih di depan lagi…ah, tapi badan sudah lelah, sudah luka (yang penting hati nggak luka kakak… *aposih*), dan hari sudah mulai sore. Akhirnya kami memutuskan berjalan pulang. Ya, berjalan. Dan menuntun sepeda. Hiks. Sungguh perjalanan yang berat untuk dua gadis kece yang jarang jogging apalagi fitness ini, hahaha…

Mengintip Pantai Legon Lele

Yah, tidak perlu diceritakan kisah keluh kesahnya, hehe…pokoknya tau-tau kami sudah sampai di daerah peradaban. Maksudnya peradaban yaitu sudah tampak rumah-rumah warga lagi. Pas ngelewatin salah satu rumah warga, ada seorang ibu-ibu yang menyapa dan mengajak ngobrol. Akhirnya kami iseng bertanya di manakah Pantai Nirwana. Dan jawaban si ibu ini sangat membuat shock. Ternyata…oh ternyata…Pantai Nirwana itu ada DI DALAM Nirwana Resort. Oh. My. God. *krik* *krik* *koakkk* *koakkk*…So…dari si ibu itu jugalah gw tahu kalau pantai yang tadi kami singgahi itu ternyata…

…Pantai Legon Lele…*krik* *krik* *koakkk* *koakkk*.

Okay. Geli juga jadinya. Lagian…mana nyangka kalau ada pantai DI DALAM resort? *secara gw belum pernah masuk ke yang namanya resort?!*. Setelah ngecharge perut dengan Pocari Sweat dan aneka gorengan dari warung setempat, plus ninggal sepeda di tambal ban yang ada di depan Nirwana Resort, akhirnya kami memasuki resort itu juga Saudara-Saudara! Sungguh…rasanya plong…akhirnya…kami kesampaian juga ke Pantai Nirwana. Yang ternyata harus bayar tiket masuk Rp 12.500,-. Yang ternyata viewnya below expectation. Pantai Nirwana ini tampaknya memang cocok untuk bersantai, tapi kesan touristy-nya sudah kental banget, dengan kursi-kursi malas di tepi pantai, lengkap dengan hotel berarsitektur eksotis, pepohonan palem yang berjajar merata…hm…I’d prefer Pantai Legon Lele sih…. Tapi selera orang kan beda-beda yak… 😀

Pantai Nirwana, cocok untuk relax dan menyepi…

Well, senangnya, dari hasil nyasar hari ini gw menemukan pantai Legon Lele yang cantik banget…sedihnya, ternyata ban sepeda gw yang kempes tidak bisa diselamatkan. O ya yang belum tahu kenapa, bisa baca di postingan gw sebelumnya.

“Si Merah” masuk bengkel…

Setelah berusaha berulang kali, penyelamatan ban pun dinyatakan gagal *aposih*. Asiknya, bapak-bapak pemilik tambal ban ini baik banget…dia menyuruh 2 orang anaknya mengantar kami pulang naik motor. Yeay! Terharu…baik banget ya warga di desa itu…Akhirnya acara biking Karimunjawa pun berakhir dengan pulang dibonceng motor sampai homestay dengan selamat. Hahaha~ I will never ever forget this journey. Sepedaannya, rute hardcorenya, nyusruk di pohonnya, kacang mete bakarnya, view pantainya, kisah nyasarnya, friendship storynya, kebaikan hati warganya…Thanks God You give me such a good life 🙂

Nongkrongin sunset udah, biking sampe nyusruk udah, makan seafood udah, nyepi di pantai udah, ngapain lagi dong di Karimunjawa? Oooo so pasti dong : island hopping and snorkeling! Yeay! Next posting yah 🙂

Day 2 – Biking Karimunjawa : dari mete bakar sampai nyusruk di pepohonan

Si Merah yang “tidak setia”. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Biking di Karimunjawa! Yap, itu tema trip hari ini. Siapa bilang Karimunjawa cuma melulu wisata laut? Hehe…Pagi ini kami menyewa sepeda gunung (ingat, kalo mau biking, jangan sewa sepeda onthel. Apalagi sepeda sayur yang ada keranjangnya. *anak SD juga tau kali*) seharga 30rb untuk 12 jam. Bisa juga sih 20rb untuk 6 jam. Tapi kami berencana biking sampe malem keliling pulau gitu… ;p *yang ternyata nggak kesampean*.

Kami mulai mengayuh sepeda ke arah timur. Masih di daerah perkampungan penduduk, jalannya lumayan bagus, lurus dan nggak menanjak. Asik juga bersepeda di pagi hari, matahari masih hangat-hangat tai ayam, udara bersih segar tanpa polusi, dan burung-burung yang bercicit-cuit…jadi…mengantuk *lhoh* wkwk… Sempet beristirahat di emperan rumah warga, dan menemukan anak cantik nan unyu-unyu, oh I’m falling in love~

Bocah unyu asli Karimun~ (lihat foto bocah2 unyu lainnya di sini)

Beberapa kali bertanya pada warga sekitar, semuanya menyebut Pantai Nirwana yang menjadi tujuan kami itu dekat. Tapi kok…nggak sampe-sampe yah…kami sudah melewati Nirwana Resort, tapi masih belum muncul juga penampakan pantai, sementara jalan makin berbukit-bukit, lumayan menguras tenaga ditambah lagi dengan sinar matahari yang mulai menyengat kulit, akhirnya kami menyerah dan beristirahat di pinggir jalan di depan ibu-ibu yang sedang memecah batu.

Nggak lama, datang sekelompok pemuda Karimun dalam mobil pick up yang akan mengambil batu-batu hasil keringat si ibu tadi. Mas-mas ini sangat ramah, dan mereka menawarkan seplastik buah mete yang sebelumnya mereka kumpulkan. Lho kok mete guedhe banget? Ternyata mete itu masih di dalam “cangkang”nya. Cara makannya gimana dong? Dibakar dulu ternyata. Seorang mas-mas dengan cekatan mengumpulkan daun-daun kering dan ranting dari sekitar, kemudian menyalakan api. Mete-mete itu ditumpuk begitu saja di atasnya. Mereka melarang kami pergi sebelum mencicipi mete bakar tersebut. Penasaran, kami pun memperhatikan dengan seksama. Eh, bener aja, buah mete yang awalnya berwarna coklat itu akhirnya jadi gosong. Lalu cara makannya? Ditumbuk dulu pake batu sampai “cangkang”nya pecah! Voila! Tampaklah mete panggang dengan warna coklat keemasan! Aromanya? Jangan ditanya…harum banget! Aaa…sungguh mete terenak yang pernah gw makan…*gratis pula ;p* Lucunya lagi, setelah selesai membakar  mete untuk kita, mereka malah pergi mengangkut batu, dan meninggalkan kami dengan mete-mete ini, hihi…jadi dimasakkin nih ceritanya 😀

Ladies and gentleman, please welcome…Mete Bakar asli Karimunjawa!

Puas ngemil mete di pinggir jalan, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah tragedi berdarah terjadi. Gw dengan pedenya meluncur di jalan yang curamnya kira-kira 60 derajat. Awalnya asik, kaya naek roller coaster gitu…pake tereak-tereak kegirangan…lama-lama…loh kok ngebut banget kaya terbang?! Loh kok nggak mungkin bisa ngerem?! Loh kok ujung jalannya belokan ke kanan?! Loh kok nggak mungkin bisa belok ke kanan?! Mampus Mak!! Mengikuti insting, sontak gw banting setir ke kiri (karena kanan jurang), menabrak pepohonan…widih…nerobos pohon deh gw, brak bruk brak bruk krosak krosak…serasa kaya di game gitu…dan berakhir dengan nyusruk muka mencium tanah. Hore! Sepeda njumpalit, pergelangan tangan kiri keseleo, muka, lengan dan kaki memar dan lecet-lecet. Siapa bilang dokter ngga bisa luka-luka? Dokter juga manusiaaaaa~

Udah nyusruk pun teteup eksis!

Okay. Udah luka-luka. Terus? (Gw musti bilang WOW?) Pulang? Nangis sama mama? Minta dijemput ambulans? Ya nggak lah yauw…hahaha…the show must go on, pokoknya harus nemu yang namanya Pantai Nirwana! Eh…bikernya udah semangat ’45 berkobar-kobar gini, malah sepedanya yang loyo. Bannya kempes dong, zzz…Dasar sepeda manja *tunjuk tunjuk* *tuding tuding*! Akhirnya perjalanan biking berubah menjadi walking…plus nuntun sepeda…Setelah melalui bukit-bukit dan lembah-lembah layaknya Ninja Hatori, sebuah view cantik menyambut kami…

Amazing view…nggak nyesel biking sampe nyusruk! 🙂 (dimuat juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Uuuuuuu…….~ Pergelangan tangan yang mulai membengkak cenat cenut layaknya anak ABG ditembak anak SM*SH pun jadi nggak begitu terasa nyeri…

Terus berjalan…berjalan…dan berjalan…

sampai akhirnya…kita disambut oleh pantai perawan yang…sungguh…sungguh…indah…

…yang ternyata BUKAN Pantai Nirwana. *gubrak*

Lha, terus pantai apa dong? Pantai yang lebih bagus dari Pantai Nirwana so pasti!

Penasaran penasaran? Ih kepo deh…Hehe. Nggak papa, pantai yang satu ini emang pantas dikepoin…Why? Cekidot di posting selanjutnya tentang pantai perawan di Karimunjawa…Pantai Legon Lele.

Day 1 – Touché Karimunjawa : berangkat backpacker bermodal nekat

Senja Karimunjawa

Karimunjawa. Tiga tahun gw tinggal di Semarang tanpa pernah mendengar nama pulau Karimunjawa. Ke mana ajah guweee… *officially (eks) gak gaol*. Finally gw berangkat ke Karimunjawa di satu siang yang terik di bulan September…cailah… Perjalanan ala backpacker ini dimulai dari Semarang, jam 5.30 pagi gw dan travelmate gw, Vivi, udah duduk cantik di dalam bus ekonomi Semarang-Jepara.  Bus ini hanya beroperasi dari jam 3 pagi sampai jam 5 sore. Kondisi di dalam bus sih sebetulnya oke, sayangnya kurang friendly buat bokong gw yang “agak” jumbo, hehe. Kalau duduk berdua, usahain duduk dekat jendela deh, soalnya kalau duduk di seat yang tepi jalan, lumayan juga sempit buat yang bertubuh bongsor, hehe…Meskipun di kebanyakan blog menyebut tarif bus ini 12rb, ternyata kita bayar 10rb si keneknya nggak protes tuh, mungkin karena kita keceh kali ya? *minta ditimpuk*.

Bus ekonomi Semarang-Jepara 10rb ajah.

Nggak kerasa 2 jam kemudian gw udah sampai di terminal Jepara. Dari sini gw naik becak, eh, bentor (becak motor) menuju pelabuhan Kartini. Seru juga naik bentor, tarifnya 15rb saja berdua. Ternyata jarak dari terminal ke pelabuhan lumayan jauh loh, kalo yang berbetis kuda silahkan berjalan kaki, hehe…

Oppa Gangnam is soooo yesterday! Now is Oppa Kangnam 😀

Sampai di pelabuhan Kartini, celingak celinguk, lha kok sepi banget? Emang sih weekday, hari Selasa getoh…orang-orang masih pada duduk manis di depan komputer kali ya…Sepanjang mata memandang yang tampak cuma bule, bule, dan bule. Uwow…asik nih ngeceng, hihi… O ya sebelumnya kami sudah booking tiket kapal Express Bahari via 0291-592999, atau yang butuh info lebih lanjut bisa buka di sini. Kalau mau berangkat ngeteng jangan lupa booking dulu ya, soalnya biasanya full booked, kalo go show bisa-bisa berenang sampe Karimun deh 😛 Harga tiket 84rb saja u/ kelas Eksekutif. Menurut gw sih fasilitas kapal ini udah oke banget, tempat duduk nyaman, dapet snack roti dan aqua, plus hiburan klip dangdutan di layar TV, hihihi…Seharusnya perjalanan menuju Karimun dengan Express Bahari hanya memakan waktu 2 jam. Sialnya, hari itu ternyata ada trouble, tali kapal tersangkut di kipas (???), jadilah keberangkatan ditunda sampai 2,5 jam, weleh, mana sebelumnya gw udah nenggak Antimo, jadilah gw teler dan tidur nonstop selama  4,5 jam di dalam kapal, muahahaha…untungnya, karena penumpang sedikit, kita “diusir” dari kelas Eksekutif C ke Eksekutif A yang ber-AC. Hore…lelaplah tidur gw, wkwkwk…tau-tau sampe di Dermaga Karimun dan gw tercengo-cengo melihat pulaunya yang ternyata jauh lebih besar dari yang gw bayangin. Gw kira Karimun itu paling sebesar Pulau Pramuka, ternyata jauh lebih gede…katanya sih dari ujung ke ujung kira-kira 37km…

Penampakan Kapal Express Bahari Karimunjawa

Inside Express Bahari Boat

Turun di dermaga, para bule sudah ditunggu oleh mobil jemputan. Oow, mereka pake agen tur rupanya. Gw dan Vivi yang ngeteng akhirnya berjalan random menuju kota, yang berjarak 1km dari dermaga. Sepanjang jalan banyak penginapan, dari Hotel sampai Homestay. Suasana sepi. Tampaknya memang bukan high season (ya iyalah, pan gw udah bilang kalo ini hari Selasa, hehe). Di tengah perjalanan, lagi celingak celinguk di depan salah satu penginapan, tiba-tiba kami dihampiri seorang bapak-bapak yang menawarkan penginapan dan jasa sharing tur laut harian. Namanya Bapak Rivai (082135318100). Wah boleh juga nih, pucuk dicinta ulam tiba, hehe…Setelah berkenalan dan tukar menukar nomor HP, kami melanjutkan perjalanan mencari penginapan yang disarankan Pak Rivai. Sayangnya kami nggak menemukan penginapan dia, malah menemukan warung makan, hyahahaha…Warung Bu Ester di Alun-Alun. Kalau yang suka blogwalking tentang Karimunjawa, pasti udah tau deh sohornya warung Bu Ester ini di antara backpackers. Lha gimana ndak sohor? Wong warung nasi rames yang ada di Alun-Alun cuma Warung Bu Ester, hahaha…makanannya murah, maknyus, jual bir pula, mantaps kan, jarang-jarang kan warteg jualan bir Bintang 😀

Puas mengisi perut dengan nasi rames seharga 8rb-11rb, akhirnya kami melanjutkan mencari penginapan, yang berakhir di Homestay Liandri. Nggak jauh dari Alun-Alun, rumahnya warna oranye, di depannya ada kursi-kursi dan meja tempat nongkrong beratapkan spanduk bir Bintang, nah kalo nemu rumah model begini, nggak salah dan nggak lain pasti deh Homestay Liandri. Hehe… Isinya ada 6 kamar, 1 kamarnya berisi springbed yang bisa memuat sampai 3 orang, fan, meja, kaca rias. Kamar mandi ada 2 biji di luar, ada kloset duduk dan jongkok, air di bak melimpah dan bersih. Disediakan aqua galon, kopi instan, gula dan teh all you can drink, dan seluruh fasillitas ini bisa Anda peroleh dengan harga 60rb/hari/kamar saja Saudara-Saudara! *PS : bukan kampanye berbayar*. Buat gw sih, recommended banget! Lokasinya strategis banget, ke Alun-Alun tinggal ngesot. Secara di Karimun ini pusat keramaian dan pemuas kelaparan ada di Alun-Alun semua. So, penting banget nginep di homestay yang deket Alun-Alun, hehehe…Saran gw sih mendingan jangan nginep di deket-deket  Dermaga, edan jauh cuy jalan ke dalem kotanya! Keburu kurus di jalan 😀

Kamar gw di Homestay LIandri. Clean!

Cerminnya lucuk!

Setelah melepas lelah dan mandi-mandi unyu, kami berjalan kliling-kliling kota, eh, desa, eh, pulau, hehe. Lumayan kaget juga sih dengan luasnya Karimunjawa ini. Dan baru tahu kalau ternyata ada konservasi Mangrove, camping area, dan bird watching area di sini. Jadi Karimunjawa nggak melulu wisata laut loh, tapi ada wisata daratnya juga, alias gunung. Olala~ Langsung deh kami merencanakan tur darat untuk keesokan harinya. Rencananya kami akan menyewa sepeda seharian  dan biking menyusuri bukit Karimunjawa, dengan tujuan akhir Pantai Nirwana, yang katanya sih cakep abis. Penasaran perjalanan biking kami yang ternyata menunjukkan view pantai Legon Lele yang lebih keceh dari “nirwana” ? Mau tau tentang nikmatnya ngemil mete bakar asli dari buahnya? Mau tau bahayanya biking di Karimunjawa? Mau tau aja atau mau tau banget??? 😀 Kalo mau tau banget boleh baca di sini.

Belum afdol kan kalau ke Karimun nggak berburu sunsetnya yang terkenal keceh? Ini dia hasil “perburuan” sunset di Karimun…diambil dari dermaga dan dari balik atap rumbia pondokan di belakang Pom bensin (enak nih leyeh-leyeh gratis di pondokan ini sambil nunggu sunset!)

Sunset Karimunjawa dari bawah atap rumbia

Sunset Karimunjawa numero uno

Sesungguhnya perjalanan ini kami cuma modal nekat. Mau ikut trip tur, kok jadwalnya nggak ada yang cocok. Mau ikut tur berdua aja, rasanya berat di kantong. Mau mengumpulkan massa, kok ndak ada yang bisa (ya iyalah ngumpulin massanya H-7 keberangkatan ;p). Setelah blogwalking, ternyata ada juga tuh yang ikut tur laut harian. Ya udah, nekat aja, berharap dapet kenalan baru di Karimun yang bisa “ditebengi” tur laut, hehe. Eh ternyata cewek cantik emg rejekinya nggak kemana *minta ditimpuk lagi*, untung ketemu Pak Rivai yang langsung menawarkan tebengan tur laut harian dengan harga 100rb/orang/hari, hihi…baik banget lho bapak ini…kalo mau ke Karimun bisa deh kontak beliau *lagi-lagi bukan kampanye berbayar*. 🙂