That Oh So-Guilty-Feeling at Karimunjawa

cemara kecil5

It takes so long for me to write this story. Story about the beauty of Karimunjawa. The sea, the islands, the underwater view. Why so long? Bukan karena trip yang nggak menarik. Bukan. Bukan karena view yang nggak bagus. Bukan. Justru sebaliknya. It’s a oh-so-amazing-trip. Dan view Karimunjawa masih yang terindah di hati saya sampai saat ini. It takes so long because…I did some mistakes there, and I feel ashamed, and most, guilty. Why? This is my story
Pagi yang cerah di bulan September, hari ke-3 gw di atas tanah Karimunjawa. Hari ini gw dan temen seperjalanan gw Vivi akan mengikuti tur laut selama sehari penuh, setelah sebelumnya sudah cukup puas mengeksplore daratan Karimunjawa (baca di postingan sebelumnya), kali ini tentu sudah saatnya gw mengeksplore keindahan pulau-pulau dan underwater view-nya. Excited? Tentu! Penasaran apakah bawah laut Karimunjawa lebih bagus dari bawah laut Pulau Air di Kepulauan Seribu yang seperti aquarium. Penasaran dengan teman-teman baru yang akan kami temui hari ini. Penasaran dengan pulau-pulau yang katanya masih perawan dan sepi.
Untuk tur laut hari ini kami ikut daily tour, sifatnya open trip, yaitu digabung-gabung dengan rombongan lain. Untuk tur ke Pulau Cemara Kecil dan Pulau Tanjung/Ujung Gelam, dengan 2 kali snorkeling, sudah termasuk makan siang, alat snorkeling, dan foto underwater, gw hanya merogoh kocek 100rb. Syukurlah di hari sebelumnya kami bertemu Pak Rivai yang menawarkan daily tour ini pada kami. Rombongan hari ini total berjumlah 6 orang, ditemani seorang guide yang baik hati Mas Farid, dan seorang nahkoda kapal Pak Manto (ejiee nahkoda…hahaha!).
Sekitar jam 07.30 kami sudah standby di dermaga, tapi karena masih belum ada orang, kami sarapan dulu di Warung Bu Esther, nasi rames plus susu, seharga 11ribu. Lumayan murah kenyang dan enak. Hoho…saat itu kami sempat bertemu seorang penduduk Karimunjawa yang tinggal di Pulau Nyamuk. Doi semangat banget mempromosikan Pulau Nyamuk ini. Katanya yang paling perawan di Karimunjawa. Memang sih agak jauh, karena lokasinya paling ujung luar, kalau naik perahu sekitar 2 jam dari Karimunjawa. Hmm…boleh juga nih next time. Wondering…banyak nyamuknya nggak yah…hehe…
Setelah sarapan dan seluruh rombongan berkumpul, kami pun berangkat…eng ing eng…cuaca cerah, sinar matahari yang hangat, light blue sky, and white fluffy clouds…boost my mood to the top level. Laut, pasir, ikan, aku dataaaaaannngggg!

Spot snorkeling pertama, di sekitar Pulau Menjangan Kecil. Ceburrrr!!!
Airnya jernih, visibility clear. Ikan-ikannya…wow, banyak banget! Dibanding Kepulauan Seribu, ikan-ikan yang saya lihat di sini jauh lebih gemuk-gemuk, hihi…kalau jenisnya hampir sama, dari mulai Nemo sampai butterfly fish (nggak tahu namanya satu-satu, hiks). Coralnya juga bervariasi, dari table top sampai brain coral. Ukurannya pun massive. Sayangnya, tampak beberapa coral bagian atasnya “gundul”. Kenapa? Oh. Ternyata…coral-coral itu sering digunakan untuk spot foto underwater. Yap. Bener. Jadi tukang foto maupun model foto berdiri di atas coral yang besar, lalu sedikit menyelam ke bawah dan berpegangan pada coral lalu berpose. Dari mulai pose duduk sampai cherrybelle.

underwater karimunjawa

Okay. I know. That’s so wrong. I know that’s wrong from the very first time. Coral shouldn’t be touched. Apalagi diinjak. Apalagi jadi tempat gelantungan. Honestly, gw kira foto underwater itu diambil saat kita sedang berenang atau menyelam atau candid, TANPA harus bergelantungan di coral. Ternyata perkiraan gw salah. Gw tau I shouldn’t do it. Tapi saat itu juru kamera kami sudah dengan semangat menyuruh kami berpose, dengan memberi contoh-contoh pose, memberi tahu bagian coral mana yang harus diraih dan dijadikan pegangan saat berfoto, dan langsung menyuruh kami antri untuk difoto. Saat itu, sort of guilty feeling merasuki dada. It’s like cheating in exam you know. Do it. Don’t do it. Do it. Don’t do it. Yah…saat itu…the devil side won. Pikiran “kapan lagi” dan “pasti keren” mengalahkan kesadaran Coral Shouldn’t Be Touched. Mereka bisa mati, dan bahkan you know how long does it take to grow even one inch of them. But still, … I did. I touched them. And even worse, I broke one of them. Damn.
From that time, snorkeling time there didn’t feel so fun anymore. Yes, the view was amazing, but that big guilty feeling made the whole things just felt wrong.
But, still, the view is really amazing.
Setelah snorkeling kami menuju ke Pulau Cemara Kecil. Pulau ini…sangat indah. Pantainya landai, airnya jernih tanpa sampah sedikitpun, pasirnya halus seperti bedak. Benar-benar fotogenik! Ini salah satu pulau favorit saya di Karimunjawa. Ini tempat yang cocok untuk menyepi dan bergoler-goler ria di pasir sepanjang hari (jangan takut hitam ya tentunya!).

cemara kecil karimunjawa

Sambil menunggu Mas Farid dan Pak Manto membakar ikan, gw berkeliling pulau yang ternyata meskipun kecil tapi ngelilinginnya lumayan cape juga loh, hehe…Karena laper kali ye! ;p

pulau cemara kecil ksrimunjawa

Menjelang siang, makanan pun siaaapppp! Ini dia ikan-ikan yang siang ini “dikorbankan”, hihihi…

ikan bakar karimunjawa

Makan ikan bakar rame-rame di tepi pantai, hanya diiringi sayup ombak dan ditemani hangatnya matahari…jauh lebih nikmat dibanding makan steak mahal di cafe buatan manusia. Sungguh ciptaan Tuhan tak akan ada yang menandingi. Bukan masalah rasa, cara mengolah, atau harga makanannya, tetapi suasananya. That’s the most important, I think.
Setelah perut kenyang, rasanya berat banget pergi meninggalkan pulau ini. Tapi snorkeling sesi selanjutnya masih menunggu. Yuhuuu! (meskipun masih disertai guilty feeling)
Snorkeling sesi kedua berlangsung hampir sama seperti sesi satu, and my guilty feeling get bigger and bigger…gw menyayangkan coral-coral yang diabuse, gw menyayangkan cara foto underwater yang harus mengabuse coral, gw menyayangkan guide kami yang tampak biasa saja mengabuse coral, and most of all, gw menyayangkan diri gw sendiri yang ikut mengabuse coral-coral itu😦 Okay, I know it’s too late. And I know gw pantas dicela😦

Tujuan terakhir kami hari itu adalah Ujung Gelam. Ada juga yang menyebutnya Tanjung Gelam. Katanya di sini lah tempat yang paling tepat untuk menikmati sunset Karimunjawa. Lokasinya ada di ujung selatan Karimunjawa, jadi bukan pulau yang terpisah, melainkan bagian dari Pulau Karimunjawa itu sendiri. Buat para pecinta fotografi, pasti suka deh di sini. Bener-bener fotogenik. Pantainya bersih, jernih, pasirnya putih dan lembut, ditambah lagi batu-batuan besar dan pohon kelapa yang ada di tepi pantai, sungguh keceh!

Okay yang ini foto narsis, hihihi... ^^

Okay yang ini foto narsis, hihihi… ^^

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

ujung gelam karimunjawa

Karena berada di Pulau Karimunjawanya, di pantai ini sudah banyak lapak-lapak yang menjual makanan dan minuman. Gw akhirnya terbawa suasana dan memesan kelapa muda deh…satu berdua aja. Kere. Hehehe… Sekitar jam 5 sore kami kembali ke dermaga, masih ada waktu untuk menangkap sunset yang keceh dari dermaga… Sungguh Karimunjawa memang indah…
Eits! Masih ada tur laut hari kedua loh! Sabar ya Cyinn…😀 Next : Pulau Tengah, Gosong Seloka, Pulau Cilik, dan berenang bersama HIU di Pulau Menjangan Kecil! Kamu berani?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s