Singaporean Food (at Singaporean foodcourt, actually) : my short yet unsatisfying experiences

 

Di luar dugaan, pengalaman kuliner saya di Singapura ternyata mengecewakan. Entah lidah saya yang tidak cocok, atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi, atau mungkin saya belum menemukan tempat makan yang klop. Well, it turns out that Singaporean food is overrated, at least for me

Well, let’s check out my Singapore food experience!

First day, gw menyusuri daerah Arab Street dan Little India, sambil nyasar-nyasar dan bingung mau makan di mana karena budget terbatas, sehingga satu-satunya pilihan hanya foodcourt. Fortunately, there’s a lot of foodcourt in this area, eh tapi malah bikin makin bingung saking banyaknya. Akhirnya gw memutuskan mampir ke Berseh Foodmarket, lokasinya di Jalan Berseh, sekitaran Little India – Arab Street gitu deh, deket sama hostel gw juga. Berseh Foodmarket ini bentuknya sama seperti foodcourt di mall pada umumnya, cuma lebih padat dan agak kumuh. Menu pertama yang terbaca oleh saya adalah : Pig’s Visceral Soup. What! Err…okay I think that’s a bit creepy. And the next menu I read is : Crocodile Soup, Turtle Soup, and Pig’s Intestinal Soup… Argh! Kenapa menunya horror-horror gini seh? Padahal kalau di Indo biasa aja sih makan daging babi, mau itu CharSiu, SamChan, lidah, kuping, well, I don’t mind. Tapi kenapa kata-kata “pig’s visceral soup dan intestinal soup” itu bikin gw merinding yah. And crocodile soupugh a big no no I think.:/

Well, akhirnya gw memilih makan Nasi Babi Campur biasa (Charsiu Rice), yang penampakannya seperti ini :

Charsiu Rice, 3 SGD.

Charsiu Rice, 3 SGD.

Rasanya…well, harus gw akui daging babinya lebih tasty dan berasa dibanding rata-rata nasi campur babi di Bandung. Porsinya pun cukup banyak. Cumaaaaa…sambelnya sedikit dan nggak pedas. Huhu…

Gw nyicip Fish Meatball Noodle yang dipesan adik gw, hmm…baksonya dong, bakso ikan, uenak betul! Asli, enak banget bakso ikannya, ngga amis, tasty, yummy. Sayang cuma tiga biji. Mau ngabisin nggak tega sama adek sendiri hihi. Mie nya sih so-so ya…nothing special. And…nggak ada rasa pedes juga sih, emang suka ngelunjak nih lidah. Maunya yang pedes-pedes aja.

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Segitu aja? Belum dong, masih ada nih dessert nya, Almond Pudding. Rasanya lumayan, nggak terlalu manis tapi menyegarkan, cocok dimakan di tengah panasnya Singapura, apalagi setelah berjalan jauh. Sayang, agak overprice sih menurut gw.

Almond Pudding, 2 SGD

Almond Pudding, 2 SGD

Malamnya, gw makan di Maxwell Food Center, Chinatown, yang konon sangat sohor. Di berbagai blog backpacker pun tempat ini selalu direkomendasikan. Memang, foodcourt ini sangat amat luas, sampe capek gw berjalan dari ujung ke ujungnya saja, dan makin bingung milih makanannya. Akhirnya gw memutuskan mencoba TianTian Hainamese Chicken Rice yang terkenal itu. Katanya sih direkomendasiin sama the famous Anthony Bourdain himself.

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Well, menurut gw sih…biasa aja. Malah cenderung hambar ya. Entahlah, mungkin lidah Indonesia gw sudah terbiasa sama berbagai rasa rempah-rempah dan udah addict sama yang namanya rasa spicy, so ngerasain yang mungkin originalnya begini, lidah gw semacam diPHP-in.😛

Selain itu, gw sempet “jajan” Fish Cake yang ternyata adalah bakwan udang sodara-sodara! Kenapa “jajan”? Karena harganya 2 SGD. Argh, bakwan udang termahal yang pernah gw makan dan penampakannya pun rada ajaib gini :

Fish Cake, 2 SGD

Fish Cake, 2 SGD

Kalo bakwan udangnya aja 2 SGD, uang jajan anak-anak sekolah di sana berapa yah? #random #kepo. Rasanya kaya bakwan. Pake udang. Okay nggak menolong ya keterangannya. Hahaha. Yah gitu deh, nothing special sih. Cuma ukurannya emang agak gede dan isiannya banyak jadi cukup ngenyangin.

Pengalaman tak terlupakan adalah saat makan di Market Foodcourt. Lokasinya di Market Street. Lokasinya memang di daerah perkantoran, di jam makan siang, karyawan-karyawan memenuhi foodcourt ini. Literally, memenuhi. Itu foodcourt udah kaya pasar saking penuhnya. Jalan pun susah. Meskipun gitu, saat memesan mereka semua antri berbaris dengan tertib loh. Yang bikin shock adalah…tempat duduknya di-“take” loh. Ngerti nggak maksudnya? Jadi mereka naruh barang-barang di atas meja yang akan mereka dudukin selama mereka ngantri, untuk mereka dan juga teman-temannya yang nanti akan duduk semeja. Anehnya, barang-barang itu berupa : tissue, koran, pensil, atau bahkan selebaran iklan. Hadoh…hampir semua meja sudah terisi oleh barang-barang ini. Gw hoki bisa dapet tempat duduk, itu aja sharing dengan orang lain. Dan nyebelinnya lagi di Singapura itu, petugas kebersihannya yang kebanyakan para lansia itu kelewat rajin, begitu makanan kita habis, langsung deh dy nyamperin dan membereskan semuanya. Berasa diusir gitu deh. Boro-boro mau ngobrol, bener-bener HMP. Habis Makan Pulang. Di Market Foodcourt ini gw makan Dumpling Noodle 3.5 SGD dan nyicip HorFun (sejenis kwetiaw gtu) 2.8 SGD, yang keduanya rasanya nggak enak. Plus gw sampai nggak sempet foto saking hecticnya suasana makan di sana. Hahaha…

Di seberang hostel gw, Bunc Hostel, ada foodcourt kecil yang suasananya lumayan comfy, dan buka 24 jam. Gw nyicip Pork Rib Noodle yang enak banget, worth it banget for 5 SGD. Dagingnya besar, empuk, kuahnya coklat jernih, gurih dan berasa. So far ini makanan Singapura yang paling gw suka. Yummy! *gulp* *sambil ngetik sambil ngiler*

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Masih bertema Pork Rib, keesokan harinya gw berburu Ba Kut Teh di Chinatown. Pengalaman lucu memesan makanan di sini, si penjual yang merangkap kokinya sama sekali tidak mengeluarkan suara, asli jutek abis. Saat gw pesen, dy cuma diem, masak-masak-masak, trus pas udah jadi, dia menunjuk makanan gw dengan kepalanya dong (menunjuk dengan kepala, ngerti nggak maksud gw?), yah, cuma kaya mengendikkan kepala gitu deh, ngerti kan? Hehe. Asli jutek abis. Abis itu gw bayar deh. Dan dy masih diem. Ebuset…sampe speechless. Maklum gw biasa dilayanin…di warteg. Hehehe…😀

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh atau Pork Rib Tea ini simple aja sebenernya, Cuma pork rib pake kuah dengan bumbu rahasia *biar sok eksotis* (yang mau tau resepnya bisa buka : http://lifestyle.inquirer.net/61081/bak-kut-teh-singaporean-comfort-soup.) Pork ribnya sih enak banget, empuk, sampai tulang-tulang-tulangnya juga empuk dan bisa digerogotin *ups!*. Porsinya juga lumayan besar. Tapi lagi – lagi…kuahnya kurang tasty dan kurang spicy.

Sempet juga nyicip Carrot Cake, atau “chai tao kway”, ini salah satu makanan khas di Singapura, biasa dimakan untuk breakfast atau supper. Resepnya : Tepung beras dan lobak digoreng dengan telur, digarnish dengan daun bawang dan daun ketumbar. Bentuknya unik juga sih, kaya kwetiaw yang dipotong dadu tapi lebih tebal. Still wondering…where’s the carrot?:/

Carrot Cake, 4 SGD

Carrot Cake, 4 SGD

Last day in Singapore, bosan dengan Chinese Food dan merasa sudah intoksikasi babi, maka hari ini pun waktunya mencicipi kuliner India, tentunya di kawasan Little India. Saya mencoba Nasi Briyani dan Roti Prata.

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Agak heran juga kenapa makanan India kok malah lebih murah daripada makanan Chinese yang terbuat dari babi. Biasanya di Indonesia kan masakan babi justru lebih mahal dibanding ayam atau sapi. Eh keheranan terjawab setelah nasi pesanan saya datang. Porsinya bok! Porsi tukang becak! Hahaha…di bawah nasi tersembunyi ayam yang besarnya aduhai, rasanya spicy banget. Kental dengan bumbu-bumbu ala India yang berbau kari. Sayangnya saya kurang suka dengan nasinya, agak beda dengan nasi Indonesia, lebih panjang dan lebih ramping, aroma-aromanya seperti nasi uduk tapi lebih kering. Yah kurang lebih begitulah hehe harus dirasakan sendiri.

Orang-orang India di sekitar kami makan Nasi Briyani dengan lahapnya dan pake tangan. Woooo…sepiring tandas. Gw sih seporsi berdua aja udah kekenyangan mampus. Roti pratanya lumayan, sama saja dengan roti canai di Malaysia, hanya saja lebih tebal, dan kuah karinya sangat kental, beda dengan kuah roti canai di Malaysia yang saya pernah coba agak lebih encer dan kuahnya semangkuk sendiri.

That’s my food adventure in Singapore. Quite dissapointing, for now I think Malaysian Chinese Food is better than Singaporean. Thai’s food is much better, but of course it’s different, and Indonesian food is still numero uno. Hehehe…damn I love Indonesian food so much!❤

PS : don’t forget to try Uncle Ice Cream at Merlion Park, but honestly, Indonesian Es Tong Tong or Es Puter is far more delicious!!

 

singapore food eating

 

 

 

~Happy travelling, happy eating, have a happy life!~

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s