Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic!

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Berwisata ke Singapura tak melulu hanya melihat kemegahan arsitektur modern gedung-gedung pencakar langitnya. Bangunan-bangunan bombastis seperti Marina Bay, Esplanade, atau Helix Bridge memang mengesankan, namun entah kenapa saya tak terlalu menikmatinya. Saya memang bukan pecinta arsitektur modern. I prefer old historical building, temple, cultural museum, dan sejenisnya. Hal ini terasa saat backpackeran ke Singapura di bulan Januari yang lalu, yang membuat saya sangat antusias bukannya kemegahan gedung-gedung pencakar langit atau ikon-ikon Singapura, tetapi justru Chinatown. Why?

Well, in the middle of this super-modern city, Chinatown lah yang tampaknya memiliki aura “hidup”. Mungkin juga karena latar belakang saya yang berasal dari etnis Chinese, sehingga langsung merasa familiar dengan suasana dan hiruk pikuk Chinatown. Lagu-lagu berbahasa Cina yang diputar (meskipun saya tidak mengerti sama sekali artinya), warna-warna merah dan kuning emas yang mendominasi jalanan, bau dendeng babi yang menyeruak tajam, sampai pernak pernik hiasan Imlek yang didominasi oleh lambang Ular (tahun ini Tahun Ular dalam kalender Cina). Ah…that ”homey” feeling.

Salah satu tempat yang saya kunjungi di Chinatown ini adalah The Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Mencarinya lumayan sulit saat itu, karena saya yang memang agak buta arah, dan jalanan-jalanan di Chinatown yang semua tampak mirip. Lokasinya di South Bridge Road, tidak begitu jauh dari pintu keluar MRT Chinatown.

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Saat itu saya sampai di sana sudah menjelang sore hari. Masih ada beberapa pengunjung yang sedang berkeliling di dalam kuil. Saya disambut oleh pintu kuil yang megah dan tentunya berwarna merah. Memasuki kuil sebaiknya tidak memakai baju terbuka. Tapi tenang saja, ada kain yang dipinjamkan di pintu masuk, gratis kok. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut biaya, free!  Memasuki ruangan, saya hanya bisa tercengang dengan kemegahan dekorasi kuil, yang tentunya didominasi warna emas dari patung-patung Buddha. Di dinding-dinding, terdapat ratusan patung Buddha, dengan pose yang berbeda-beda. Meskipun bukan beragama Buddha, saya selalu tertarik dengan wajah Sang Buddha, I always thought, “I wish I have that peaceful face all the time”.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Ada juga patung-patung Bodhisattva pelindung untuk masing-masing Shio. Misalnya, saya yang bershio Naga, pelindung saya adalah Samantabhadra Bodhisattva. Adik saya yang bershio Monyet, pelindungnya adalah Vairocana. Lalu ada juga patung-patung lainnya seperti Kulikah, Dewa Kematian, dan lain-lainnya, lengkap dengan penjelasan di papan namanya. Harus saya akui Singapura ini sangat hebat dalam wisata edukasinya. Di Garden by the Bay, di SEA Aquarium, di Fort Canning, sampai di Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini pun, rasanya saya benar-benar dijejali berbagai informasi yang mengedukasi. Andai saja otak saya bisa mengingat semuanya, hehe…

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating...

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating…

 

Saya mengelilingi Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini hanya sekitar 45 menit. Perut yang keroncongan minta diisi makan memanggil-manggil. Sesampainya saya di foodcourt Maxwell, tiba-tiba terlintas, “Loh kok saya tadi tidak melihat relik gigi Buddha-nya ya?”. Tapi  karena otak yang sudah selow karena kelaparan, akhirnya pikiran itu terlupakan begitu saja. Sepulangnya saya dari Singapura, saat browsing-browsing iseng, barulah saya tahu kalau Buddha Tooth Relic Temple and Museum itu ada 4 lantai! Dan relik gigi Sang Buddha itu disimpan di dalam stupa yang terbuat dari 320 kg emas di lantai 4! Bodohnya saya, hanya mengunjungi lantai 1 saja. Aduh! Lagian, saya kok ya nggak mellihat tangga ya waktu itu? Selabur itu kah mata saya? Alhasil judulnya : Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic. Gosh! Maybe next time?😀

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

It’s always nice to see a bit of cultural things in the middle of big and modern city. Kadang hal-hal yang modern itu bisa jadi sangat membosankan. Kultur, ritual agama dan kepercayaan, dewa-dewi, sejarah, peninggalan dan cerita masa lalu dapat menambah kekayaan jiwa, mengingatkan bahwa manusia, meskipun harus bergerak maju, tetapi jangan sampai melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, sejarah dan agama yang sedikit banyak membentuk dirinya sampai pada saat ini. Singapura, dengan seluruh kecanggihan kotanya, tidak lantas melupakan kekayaan kulturnya. Salah satunnya disinilah, sedikit oase jiwa dapat dicicipi. Di Buddha Tooth Relic Temple, di tengah Chinatown, di antara megahnya gedung-gedung pencakar langit…

2 thoughts on “Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic!

  1. sayang banget ga sempet ke lantai 4 mba tapi ga boleh dokumentasi juga sih di tempat tooth relcinya, di lantai 2 kalo ga salah ada bagian2 tubuh budha yang dikremasi dan berubah jadi kristal (konon katanya hehehe)

    • Iyah, suatu kebodohan ;p Next time mampir lagi (ง’̀⌣’́)ง Ada referensi tmpat2 kultural menarik lg di sekitar Chinatown? So far br ke situ aja, hehe. Rencana next month mau nginep di Beary Good, pengen lebih explore chinatown hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s