Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

Ubud. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali ini terkenal sebagai cultural center of Bali. Disebut juga kampung senimannya Bali, karena banyaknya karya seni yang dihasilkan di sini. Paintings, wooden craft, glass craft, leaves craft, stone craft, bamboo craft, paper craft, semuanya ada di sini. Di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, mata seakan dimanjakan dengan keindahan karya seni buatan tangan para seniman Bali. Lukisan pemandangan, penari Bali, dewa-dewi Hindu, Sang Buddha, pura, abstrak, berbagai motif, sampai lukisan wanita telanjang pun ada. Semuanya berjejer rapi menghiasi art shop di sepanjang jalanan tersebut. Dan jangan lupa, ada juga Pasar Seni Ubud, di mana ada berpuluh-puluh toko yang menjual barang-barang seni sampai souvenir tumplek jadi satu di sini. Pecinta barang-barang nyeni dijamin kalap di sini. Untungnya saya travelling dengan budget terbatas sehingga tidak tergoda membeli koleksi barang-barang unik khas Bali tersebut. Padahal sih ngiler abis.

Solo backpacking di Ubud sangat mudah, aman, dan tentunya menyenangkan. Beda dengan suasana tempat-tempat touristy di Bali seperti Kuta atau Sanur, Ubud lebih cocok untuk menyepi, menenangkan diri, dan memperkaya jiwa. Nggak ada tuh abang-abang yang berbaris sepanjang jalan menawarkan tur atau barang ini itu atau berkomentar nakal seperti yang sering ditemui di Kuta. Suasananya yang “lebih Bali” dan masih belum banyak dikuasai toko-toko dan brand-brand asing membuat Ubud lebih terasa asli dan nyaman. Penginapan di Ubud pun rata-rata bernuansa tradisional, dengan  bungalow-bungalow kecil yang bernuansa Bali dan menghadap ke sawah. Harganya memang sedikit lebih mahal dibanding penginapan di kawasan Poppies Lane, tetapi suasana, keindahan, dan servis yang didapat pun jauh lebih oke. Saya menginap di Penginapan Danasari, Jalan Hanoman. Untuk review penginapannya, bisa dilihat di sini. Overall sih saya sangat puas dengan penginapan ini.

Mengeksplor Ubud, cara terbaik menurut saya adalah dengan menggunakan sepeda. Sepeda bisa disewa melalui penginapan atau di rental-rental yang tersedia di sepanjang jalan. Harganya sekitar 15rb-20rb/hari. Menyusuri jalanan di Ubud sangat menyenangkan, karena selain udaranya yang cenderung sejuk,jalanannya tidak terlalu padat, dan bisa menikmati art shop yang ada di sepanjang jalanan Ubud. Kesannya lebih selow aja sih, jika dibanding naik motor. Naik mobil sih nggak disarankan, mana seru…hehe. Dua hari di Ubud, inilah tempat-tempat yang worth to visit di Ubud :

1. Museum Puri Lukisan

Lokasinya di Jalan Raya Ubud, buka dari jam 08.00 – 16.00. Tiket masuknya Rp.50.000. Awalnya, gw merasa harga tiketnya overprice banget, maklum jarang maen ke museum berbayar. Rata-rata di Bandung sih masuk museum gratis, hehe. Eh ternyata…setelah masuk, gw merasa 50rb itu worth it banget. Jangan bayangin bentuk museumnya gedung tua dan kusam yang di dalamnya gelap dan berdebu ya. Museum Puri Lukisan ini gedeeeeee luassssss dan hijaaauuuu banget. Pintu gerbangnya berbentuk gapura besar gitu, dan setelah melewati gapura, gw disambut dengan pemandangan taman yang luas, hijau, banyak bunganya, plus ada kolam teratai dan pendopo Bali gitu. Wih. Spekta lah pokoknya. Asri banget! Tampak beberapa anak bule yang ganteng, cantik, dan mungil-mungil itu lagi lari-larian di taman. Beberapa pengunjung sedang asik minum welcome drink di sebuah cafe kecil di samping museum. Beberapa sedang memperhatikan pertunjukan live cara melukis di daun palem. Beberapa sedang menonton seorang wanita yang sedang duduk menenun kain tradisional, lengkap dengan alat tenun yang terbuat dari bambu.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Nah itu baru pemandangan pembuka. Gedung utama museum ini terdiri dari 3 bangunan yang masing-masing menampilkan karya lukisan dan seni dari 3 masa yang berbeda, yaitu tema Wayang Bali, Bali Pertengahan, dan Bali Modern (ada pengaruh budaya Barat di sini). Paling keren adalah gedung Wayang Art. Di sini lo bisa liat lukisan dari kisah Ramayana, Mahabharata, dan tokoh-tokoh wayang, kumplit! Lukisannya pun nggak main-main, ada yang dilukis di kain dan usianya udah tuwir banget, dari jaman masih penjajahan Belanda, dan masih bertahan sampe sekarang dong. Indah banget deh, apalagi kalo lo penyuka tokoh-tokoh Hindu, betah rasanya di dalem. Kudu banget lah tempat ini lo datengin. Terharu dan bangga rasanya liat karya seni Indonesia yang indah banget. Agak miris juga tapi setelah liat daftar buku tamu yang tebelnya kayak kamus, dan udah gw bolak-balik pun pengunjung dari Indonesia  bisa dihitung dengan tangan. Miris! O ya selain lukisan, ada juga wooden crafts yang keren-keren di sini. Yang paling gw inget adalah patung berjudul “Senggama”. Nice banget pokoknya patungnya 😀 Btw, di dalam gedung museum nggak boleh memotret ya, jadi kalo penasaran silakan kunjungi museum ini ^^

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

2. Museum Renaissance Antonio Blanco

Puas menikmati karya seni asli seniman Bali, sekarang saatnya menikmati karya seni seniman luar negeri yang akhirnya tinggal menetap di Ubud. Don Antonio Blanco adalah seniman asal Spanyol yang menikah dengan penari Bali, akhirnya banyak menghasilkan karya seni aliran Renaissance yang kebanyakan bertema Bali (ehm, lebih tepatnya lagi wanita Bali). Lokasinya  di Jalan Campuhan, lumayan juga sih jauh dan naik turun bukit gitu. Tapi pemandangan menuju ke sananya edan keren abis…pohon-pohon rindang sepanjang jalan, udara yang sejuk dan bersih…ihik…kaki pun nggak kerasa pegel meski harus gowes di jalanan yang naik turun. Sama seperti Museum Puri Lukisan, Museum Antonio Blanco ini pun sangat asri, meski luas tamannya tidak sebesar Museum Puri Lukisan, tapi yang mencengangkan di sini adalah bangunan museumnya itu sendiri. Arsitekturnya luarnya bergaya Bali, tapi pas masuk interiornya ala-ala Spanyol gitu. Yaa…kaya rumah-rumah Eropa gitu yang ada kubahnya mewah, pilar marmer, plus sofa-sofa nyeni yang empuk. Lukisannya mayoritas wanita nude. Yes,bugil, naked, tak berbusana. Tapi meskipun nude, sama sekali nggak vulgar, meskipun erotis tapi berkesan nyeni. Bahkan ada lukisan wanita masturbasi segala loh, sampe shock gw -______-  Uniknya lagi, tiap lukisannya dipigura dengan pigura yang dibuat khusus untuk lukisan itu, misalnya lukisan wanita nude dengan highheel biru, di piguranya ada dong patung highheel biru. Ya, custom made gitu deh masing-masing piguranya, plus ada ukiran “Blanco” di piguranya. Keren banget deh. Nggak kebayang lukisan Renaissance itu kayak apa? Kira-kira gini deh salah satu karya beliau :

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan?

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan? (taken from this site.) 

Selain menikmati lukisan, di tamannya juga ada burung-burung yang jinak dan lucu-lucu, salah satunya kakaktua yang putih berjambul kuning dan kakaktua warna-warni kayak di Faber Castle itu loh (ups, nyebut merk). Bisa foto juga sama burung-burung itu.

Parrot "Faber Castel" warna-warni lagi akrobat ^^

Parrot “Faber Castel” warna-warni lagi akrobat ^^. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Plus, ada juga gallery di mana kita bisa berfoto pura-pura lagi melukis, lengkap dengan palet cat nya. Hehe…asyik kan? Tiket masuknya untuk Indonesian sih Rp 30.000, untuk foreigner Rp 50.000. Worth it banget! Dapet welcome drink pula… ^^

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

3) Watching Balinese Dancing

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Ke Bali masa sih nggak lihat pertunjukan tari Bali? Nah di Ubud ini, ada banyak sekali tempat yang menampilkan pertunjukan tari Bali setiap harinya. Yang paling terkenal yaitu di Ubud Palace (Pura Saren Ubud). Tapi saat itu sudah tampak turis yang berjejalan di sana, sehingga saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Tari Barong di Pura Saraswati (Lotus Pond) saja. Lokasinya nggak jauh dari Ubud Palace. Harga tiketnya Rp 80.000, pertunjukan dimulai pukul 20.00, berlangsung selama 1 jam. Lumayan mahal memang, tapi pertunjukannya cukup menarik, tari yang ditampilkan terdiri dari beberapa jenis, yaitu diawali tari pembukaan, Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Nelayan, Orkestra Musik Gamelan, Tari Baris Tunggal, Tari Nyamar, dan diakhiri dengan Tari Barong Macan. Kapasitas penontonnya nggak banyak, hanya sekitar 30-an, dan saat itu SEMUAnya foreigner. Gw celingak celinguk ke segala arah dan hampir semua bule, dengan berbagai bahasa dari Inggris, Jerman, Perancis, Italia. Penonton Asia hanya gw seorang dan sepasang couple yang berbahasa Cina entah dari mana. Penonton di sebelah gw seorang Amerika yang pindah dan menetap ke Ubud sejak dikeluarkan dari pekerjaannya, 20 tahun yang lalu, dan sampai sekarang pun dia masih senang menonton pertunjukan tari Bali. Ups, gw aja br pertama ke Ubud dan kedua kalinya melihat tari Bali. Heuh. Malu deh sama bule.

Beautiful Balinese Dancer

Beautiful Balinese Dancer

Tari Kebyar Duduk

Tari Kebyar Duduk

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

4) Biking ke Tegalalang

Si biru teman suka dan duka ^^

Si biru teman suka dan duka ^^

Well, jangan bayangin adegan bersepeda cantik ala Julia Robert. Karena ternyata track biking ke Tegalalang ini lumayan melelahkan, naik turun bukit, apalagi ditambah dengan terik matahari, wih, lupain deh adegan bersepeda pake rok unyu-unyu kaya Miss Julia Robert 😀 Gw sendiri nggak tau pasti seberapa jauh perjalanan dari Jalan Hanoman ke Tegalalang, tapi yang jelas gw menempuhnya dalam waktu sekitar 2 jam bersepeda. Meskipun berpeluh keringat plus nafas tersengal-sengal, but, again, it was worth it. Pemandangan Tegalalang dengan sawah-sawahnya yang cantik memang indah. Meskipun, jujur, karena dulu gw sering main ke Baturaden dan daerah Gunung Slamet sana, sawah sih buat gw sudah jadi pemandangan biasa. Atau mungkin gw udah tepar dulu dengan perjalanannya makanya jadi nggak begitu excited, hahaha…But the feeling “Hey, I did it!” itu yang bikin worth it. Yang bikin gw terkesan sampai sekarang yaitu saat melewati jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan, dan ada semacam kanopi yang melintasi jalan, yang terbuat dari dahan-dan dan daun dari pohon itu, wogh, beautiful! Sawahnya? Bagus sih, tapi karena gw datang saat musim panen jadi buka lautan hijau sawah tapi lautan kuning kecoklatan, hehe…but still, you should try biking to Tegalalang, at least once. Lelah melewati bukit-bukit,saat perjalanan meninggalkan Tegalalang gw menyerah, menggunakan jalan raya. Gw melewati Jalan Raya Tegalalang, desa Petulu, desa Peliatan, Jalan Raya Goa Gajah, sampai akhirnya berlabuh ke Bebek Tepi Sawah. What a beautiful ending.

One of unique place at Tegalalang

One of unique place at Tegalalang

5) Bebek Tepi Sawah

Crispy Duck, nom nom nom...

Crispy Duck, nom nom nom…

Yeap, selain Bebek Bengil, masakan bebek yang harus dicoba di Ubud adalah Bebek Tepi Sawah. Di Ubud, lokasinya bener-bener di tepi sawah, suasananya oke banget. Gw milih makan di lesehan gitu, semacam pendopo yang diisi beberapa meja, dengan alas bantal-bantal duduk yang empuk, hihi, nikmat banget deh, apalagi abis berpeluh keringat setelah biking ke Tegalalang. Sayang setelah lihat daftar menu, keringat itu malah makin deras mengucur. Crispy duck yang gw incer itu ternyata dibandrol Rp 80.000. Ampun deh. Kalo nggak inget misi ke Ubud adalah untuk memuaskan hati, jiwa, dan perut, mungkin saya bakal pesen air putih aja deh. Meskipun sedikit nggak rela, akhirnya gw pesen juga Crispy Duck yang tersohor itu, sambil menikmati suasana sawah hijau (karena sawah buatan jadinya masih hijau kali ya, beda sama yang di Tegalalang 😀 ) di depan mata. Nggak lama, datenglah bebek seharga 80rb itu. Hmmmm…ternyata harga emang nggak bohong! (sambil menangis terharu dalem hati) Ini bebek terenak yang pernah gw makan. Bebek Asap Kuningan lewat! Bebek Duck King lewat! Rasa gurih dan crispynya itu maknyus banget. Dan juaranya adalah sambel-sambelnya! Ada 3 macem sambel yang disediakan, 2 di antaranya, yang pake bawang putih dan yang  mirip sambel matah, itu e-nak-ba-nget! ^^ Menikmati makanan enak setelah perjalanan yang melelahkan itu emang nampol!

Sambel dewa!

Sambel dewa!

6) Monkey Forest

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Lokasinya tentu aja di Jalan Monkey Forest ya. Tiket masuknya Rp 20.000. Monyet-monyet di sini jauh lebih jinak dibanding monyet-monyet di Sangeh. Ukurannya juga lebih kecil-kecil. Tapi hutannya sangat menarik di sini, meskipun nggak terlalu luas, tapi masih alami dan tertata rapi. Gw suka banget sama pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar sampai ke mana-mana. Aaakkhh berasa pengen gelantungan gitu (apa gw dulunya Tarzan apa gimana sih!). Cakep banget kaya gini nih :

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Gw suka banget jalan-jalan di dalem hutan ini, malah lebih seneng kalo nggak ada monyetnya, hihi…abis takut sih. 😛

7) Adi Bookshops

Buku-buku second berbahasa Rusia

Buku-buku second berbahasa Rusia

Nah ini khusus buat pecinta used-books kaya gw, coba mampir deh ke toko buku kecil yang berlokasi di Jalan Hanoman deket Pasar Seni Ubud. Tempatnya ada di sudut pertigaan. Di sini, ada banyak banget buku-buku bekas dari berbagai bahasa. Yang paling banyak tentu aja yang berbahasa Inggris. Tapi selain itu, banyak juga buku berbahasa Jerman, Belanda, Russia, dan juga Prancis. Karena gw lagi belajar bahasa Jerman, toko buku ini berasa surga deh. Bayangin, novel-novel berbahasa Jerman dijual hanya dengan harga Rp 20 – 30.000an aja. Belum lagi koleksinya yang sangat lengkap dari buku ilmu pengetahuan, fiksi, sampai buku anak-anak. Ba-ha-gi-a. Borong deh gw 3 buku. Ba-ha-gi-a! Lucunya, karena gw beli buku berbahasa Jerman dan Inggris, eh si mbak kasirnya ngajak gw ngomong pake bahasa Inggris dan nunjukin harga pake kalkulator. Ya elah masa gw dikira orang asing sih mbak, jelas-jelas muka eksotik ala Farah Quinn gagal gini, hahaha… 😀

8) Babi Guling Ibu Oka

Nah kalau ini, baca di postingan gw sebelumnya aja ya…saking istimewanya sampe dibikin 1 postingan sendiri lho, hehehew…

Gimana? Masih ragu untuk travelling ke Ubud?

Happy travelling, happy life! ^^

Advertisements

Babi Guling Ibu Oka at Ubud : God bless her!

Untuk penikmat masakan babi, tentu sudah familiar dengan masakan satu ini : Babi Guling. Beruntungnya gw, saat mengunjungi Ubud beberapa minggu yang lalu, gw sempat mencicipi masakan Babi Guling yang tersohor di Ubud, apalagi kalau bukan Babi Guling Ibu Oka. Lokasinya di Jalan Suweta, Cuma beberapa meter dari Puri Saren Ubud (Ubud Palace) dan Pasar Seni Ubud, nggak susah menemukannya, secara ada plang nya dan di depannya rame banget, mostly sih turis luar ya. Katanya sih pernah muncul di acaranya Anthony Bourdain  juga. Tiap browsing tentang makanan di Ubud, pasti deh nama Ibu Oka ini disebut. So, sebagai pork-lover, wajib hukumnya gw mencicipi Babi Guling Ibu Oka ini. Hehe..

Berbekal petunjuk jalan dari penduduk sekitar, gw sampai juga ke Warung Babi Guling ini. Waktu itu baru jam 11 siang, tapi tempat ini udah kayak pasar saking penuhnya. Gw memarkir sepeda gw di depan warung, langsung mencari tempat duduk di dalam, yang bentuknya lesehan gitu, dengan meja yang panjang-panjang. Luckily, gw dapet tempat duduk di pojok. Itu pun dempet-dempetan, kanan turis bule, kiri turis Asia. Seneng-seneng aja gw-nya mah, suasananya seru sih, hahaha…

Nggak pake lama, gw pesen Nasi Babi Guling Komplit dan Es Kelapa Muda. Harganya agak keterlaluan juga sih, tapi maklum deh karena udah terkenal kali ya…Nggak pake lama juga, muncul lah itu si Nasi Babi Guling, lengkap dengan Sup Babi dan Es Kelapa Mudanya. Gw rada cengo juga liat porsinya yang gede banget. Pengalaman makan Nasi Babi Guling di Seminyak, porsinya nggak nyampe setengahnya ini. Bahagialah gw yang lagi keroncongan berat saat itu 😀

Beginilah penampakan Nasi Babi Guling Ibu Oka :

Membayangkannya aja udah bikin gw ngiler!!

Membayangkannya aja udah bikin gw ngiler!!

Dan…harus gw akui, rasanya emang juara! Dagingnya empuk banget, rasa bumbunya kuat, pedas,  dan rich banget, bener-bener meleleh di mulut dah. Belum lagi bagian babi goreng crispynya yang pedas, wow, itu bener-bener bikin gw makan so…..so….slowly. I really want to stop the time and cherish the flavour. Well, I really ate very slowly at that time. Rasanya terlalu sayang makanan seenak itu habis cepat-cepat! Dan kulit babinya! Di bawah kulitnya yang garing crispy itu ada lapisan lemak babi yang…aduhai…nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Beuh cuma nulis gini doang gw udah menelan air ludah *gulp*. Itu salah satu dari pengalaman kuliner babi yang paling memuaskan buat gw. Bahkan gw makan sambil tersenyum dan nggak berhenti bersyukur, sambil mengumpat karena keenakan, sambil berdoa “God bless Ibu Oka”. 😀

That’s a kind of food that surely I want to eat again if I have a chance. Amazing experience.

Alamat              : Jalan Suweta No 2, Ubud

Total Cost        : Nasi Babi Guling Spesial : 50rb + Es Kelapa Muda Utuh : 20rb.

Mau tau resep Babi Guling? Bisa buka link ini.

Happy travelling, happy eating, happy life! ^^ 

Postingan ini juga ditampilkan dalam Citilink Story.

Singapore to Penang Overland via Johor Bahru : cheap and easy!

penang bridge

Bosan dengan Singapura? Coba ke Penang! Yap. Itulah yang terlintas di benak gw beberapa bulan yang lalu. Kebetulan gw beruntung mendapat tiket promo Air Asia Bandung – Singapura pp cuma 300rb aja, tapi itu pun sudah dibeli sejak bulan Mei 2012, untuk keberangkatan Mei 2013. Setahun! Demi tiket murah, kenapa tidak? Hehe… Eh ndilalah bulan Januari kemarin gw juga dapet tiket murah ke Singapura, dan sudah mengeksplor Singapura selama 4 hari. Believe it or not, for me, Singapore is boring. Empat hari cukup untuk menjelajahi kawasan-kawasan turis di sana, seperti Chinatown, Little India, Bugis Street, Arab Street, Haji Lane, Kampong Glam, Sentosa, Marina Bay, dan Orchard. Transportasi yang mudah dan cepat, serta jalanan yang rapi dan teratur, membuat Singapura nggak susah untuk dijelajahi. Gw sendiri memang lebih menyukai wisata alam dan sejarah dibanding wisata perkotaan. So, kali ini gw memasukkan Penang ke dalam itinerary gw.

Flight Jakarta – Penang dengan Air Asia sekalipun masih cukup mahal, kalau bukan tiket promo, kisarannya sekitar 500rb sekali jalan. Padahal, Penang itu lokasinya deket banget sama Singapura. Udah sampe Singapura, tanggung dong nggak sekalian ke Penang? Akhirnya gw memulai browsing cara-cara mencapai Penang dari Singapura via jalan darat. Nah, ternyata alternatifnya bisa memakai kereta api atau bis. Nggak bisa pake kapal laut. Ya iyalah namanya juga jalan darat 😛

How to get to Penang via overland :

1. KERETA API. Berangkat dari Woodland Train Station (60 SGD), berhenti di Butterworth Station, dari Butterworth lanjut naik Ferry (1,2 RM) ke Georgetown. Lengkapnya bisa lihat di sini.

2. BUS. Ada beberapa alternatif untuk bus dari Singapore ke Penang, yaitu :

     – Bus Singapore – Penang : berangkat dari Golden Mile Complex : Starmart Express, Konsortium Express, Sri Maju Express, Transtar Express (sekitar 42 – 45 SGD), bisa berhenti di Terminal Sungai Nibong, Butterworth, Bukit Mertajam, atau Georgetown. Lengkapnya bisa lihat di sini.

     – Bus Singapore – Johor Bahru – Penang.

Nah. Ngapain juga harus via Johor Bahru kalau ada bus yang langsung ke Penang? Mungkin lo mikir gitu. Dan jawabannya tentu saja dong : Because it’s cheaper. Nggak percaya? Terus baca ya…hehehe.

Jadi dari Singapura ke Johor Bahru itu, ada 2 alternatif bus :

1. Bus SBS Transit No 170, berangkat dari Kranji Station (1,7 SGD). 

2. Bus Causeway Link (2,4 SGD) atau Singapore Johor Express (4 SGD), berangkat dari Queen Street Bus Terminal, daerah Bugis / Beach Road.

Keduanya berangkat tiap 15 menit, dan bakal berhenti di Terminal Larkin, Johor Bahru.

Berhubung gw udah familiar sama lokasi Queen Street di daerah Bugis, jadi gw memilih pilihan ke-2. Nggak susah kok nyari Terminal Bus di Queen Street ini, dari pintu exit MRT Bugis, ambil yang keluar ke Victoria Street. Dari sana tinggal jalan lurus aja sedikit, udah sampai deh di Queen Street. Keliatan juga bus-bus besar berjejer. Ada loket tiket kecil di depan, pilih aja yang ada tulisan Causeway Link-nya. Bayarnya 2,4 SGD, bisa cash atau pake EZ Link. Nanti lo bakal dikasih tiket, terus begitu ada bus Causeway Link warna kuning, langsung aja masuk, duduknya juga bebas kok ^^ Meskipun murah, jangan bayangin busnya bus jelek rombengan yah, bus Causeway Link maupun Singapore Johor Express ini bagus lho, joknya lumayan empuk, bersih, bahkan ada TV di dalem bus nya, dengan siaran yang cukup informatif (dari siaran film kartun Malaysia Bola Kampung, video klip, gosip artis Hollywood, sampai tips memakai make up).

Perjalanan sekitar 30 menit untuk mencapai imigrasi Singapura di Woodlands Checkpoint. Nah di sinilah gw lumayan shock. Orang-orangnya dong! Lari-lari semua kayak dikejar setan. Emang sih rame banget yang mau check in di imigrasi itu, kayanya sih banyak warga Malaysia yang kerja atau sekolah di Singapore dan sebaliknya deh, makanya sampe rame gitu imigrasinya. Gedung imigrasinya juga nggak tanggung-tanggung, mewah dan gede amat, beda banget sama imigrasi Padang Besar border Malaysia – Thailand yang pernah gw datengin, jadi kayak gubuk dibandingin sama kantor imigrasi Woodland ini hahaha…Beres urusan imigrasi (cuma nge-cap paspor doang), langsung deh ngibrit lagi ke area parkiran buat naek Causeway Link nya lagi. Tenang, lo bisa naek bus Causeway Link yang mana aja kok, nggak harus bus yang sama yang lo naikin di awal. Jadi, barang-barang semua harus dibawa yah pas turun dari bus yang pertama.

Keluar dari Singapura, perjalanan dilanjutkan menuju Johor. Ternyata Johor itu besar dan modern ya sodara-sodara. Kayak Jakarta gitu. Gw kira Johor hanyalah sebuah kota kecil. Ternyata…asumsi gw salah. So, bus berhenti di imigrasi Bangunan Sultan Iskandar, yang lumayan keren juga bangunannya. Di sini pun cuma nge-cap paspor doang, abis itu kembali lagi ke bus. Sekitar 30 menit kemudian, sampai deh ke Terminal Larkin Johor. Nah, hati-hati ya, Terminal Larkin ini hampir miriplah sama Terminal di Indonesia. Meskipun lebih bersih dan teratur, tapi banyak abang-abang yang nyamperin dan nawarin bus gitu…

Pokoknya pasanglah straight face dan langsung jalan menuju counter BT 9 : Starmart JB Express. Warna counternya merah. Pesen tiket bus menuju Terminal Sungai Nibong Penang (63 RM). Jadi bus nya ini sleeper bus, dan cuma ada 1 jam keberangkatan, yaitu pukul 22.15. Perjalanan harusnya 9 jam, tapi waktu gw sih, molor 2 jam. Sampai di Terminal Sungai Nibong Penang sekitar pukul 09.00. Nah, keuntungan perjalanan overland kayak gini, karena pakai sleeper bus, jadi bisa nge-hemat biaya hostel deh. Prinsip gw : “Kalau bisa tidur sambil pindah tempat, kenapa enggak?”. Lagian sleeper bus nya nyamaaaannnn…kursinya empuk dan yang bikin kaget, bisa mijet loh kursinya. Massage chair gitu. Ada tombol-tombolnya mau pijetan tipe apa. Hihi, lumayan dah dipijetin getar-getar gitu di punggung bikin ngantuk deh. Tapi sayangnya gw kedinginan sepanjang malem, padahal udah selimutan pake kain Bali, tetep aja, kaki gw kedinginan. So, buat yang nggak kuat dingin mungkin bisa bawa kaos kaki deh. O iya kursinya selain bisa direbahin sampai datar, ada alas kakinya juga loh yang bisa dinaikkin, jadi kita beneran bisa tidur rebahan gitu, nyaman deh pokoknya. Cuma dingin aja. Brrrr….

Massage chair yang bikin ngantuk~

Massage chair yang bikin ngantuk~

Tuh! Bener kan kursinya bisa mijet. ^^

Tuh! Bener kan kursinya bisa mijet. ^^

Hal menarik yang gw nanti-nantikan dari naik bis ke Penang adalah : Melintasi Penang Bridge!!! Jadi Penang itu ada 2 bagian, yang di darat dan yang di  1 pulau misah gitu, obyek wisata kayak Georgetown, Kek Lok Si Temple dll itu adanya di Pulau Penangnya. Untuk ke sana, bisa pake ferry seperti yg gw sebut di atas, atau ngelewatin Penang Bridge yang menghubungkan daratan Malaysia dengan Pulau Penang tadi. Seruuuuuuuuuu! Baru pertama kali soalnya ngelewatin jembatan yang ada di atas laut *sungguh ndeso sekali*. Bangun pagi-pagi mata masih kiyip-kiyip dan disambut pemandangan Penang dari atas jembatan, dengan kanan kiri laut, salah satu memorable moment yang nggak akan gw lupain, hehe.

Mengagumi Penang Bridge.

Mengagumi Penang Bridge.

Sesampainya di Terminal Sungai Nibong, gw langsung beli tiket pulang untuk malam harinya (yeah, gw cuma 12 jam doang di Penang), di counter Starmart JB Express juga di lantai 2, ada di paling pojok sendiri counternya. Busnya berangkat 3 kali, pukul 21.00, 22.00, dan 23.00. Karena gw harus ngejar flight balik dari Singapura jam 13.30, dan mempertimbangkan takut busnya ngaret lagi, dengan berat hati gw memilih pulang pukul 21.00. Anehnya, di sini kok harga tiketnya 60 RM ya, lebih murah sedikit. Tapi gw lihat di web nya emang gitu.

Sampe Penang pagi-pagi trus nggak mandi dong?? Hihi, beruntunglah, ternyata di Terminal Sungai Nibong ini, menyediakan shower room, dengan membayar 1 RM aja! Puas deh pagi itu mandi cibang-cibung sampe cantik, dan siap deh jalan-jalan mengeksplor Georgetown! 😀

Resume : Singapore –> Terminal Queen Street –> Causeway Link –> Imigrasi Singapore –> Imigrasi Malaysia –> Terminal Larkin Johor Bahru –> Sleeper Bus Starmart JB Express –> Terminal Sungai Nibong Penang. Nah, baliknya gimana? Sama aja kok, tinggal direverse aja. Total cost PP sekitar 400rban aja, itu pun menghemat biaya penginapan 2 malam.

Gimana? Gampang dan murah banget kan mencapai Penang dari Singapura? Cobalah! ^^

Watching Balinese Dance at Ubud : Baris Tunggal Dance

Berkunjung ke Ubud, tentunya wajib dong melihat pertunjukan tari Bali. Di seluruh Bali setiap harinya pasti ada pertunjukan tari, tinggal pilih, ada Tari Kecak, Barong, Legong, Calonarang, dll. Termasuk juga di Ubud, the truly Bali.

Bosan dengan hingar bingar Kuta yang sudah ter-westernized, bosan dengan “gangguan” tawaran tur ini itu yang tak habis-habisnya di sepanjang jalan Legian, bosan dengan panasnya udara tepi pantai atau kemacetan Denpasar, maka cobalah melipir ke Ubud. Ubud, sebuah kota kecil di tengah-tengah Bali, yang terdiri dari 14 desa atau banjar. Ubud, the cultural center of Bali. Where you can find hundreds of art shop, beautiful Balinese painting, craft : wooden craft, stone craft, leaves craft, glass craft, just name it, they have it all. And yes, Ubud, which is suddenly becomes a highlight since Julia Robert came for the movie Eat Pray Love. Yes, Ubud, where you can explore and biking in the middle of beautiful rice fields

Well, tapi sekarang gw nggak akan panjang lebar cerita tentang Ubud, maybe in the next posts, supaya kalian penasaran, hihihi… #sweetdevilsmile. Kali ini gw mau cerita tentang tarian. Yak, sejak memutuskan mau ke Ubud, gw sudah memasukkan “NONTON PERTUNJUKAN TARI BALI” ke dalem itinerary. Gw nggak mau nonton Tari Kecak lagi, karena gw udah pernah nonton di Uluwatu (bisa baca di postingan ini), kali ini gw memutuskan nonton Tari Barong. Yak, Tari Barong. Barong berasal dari kata bahruang, yang berarti binatang beruang, merupakan binatang mitologi Bali yang dianggap memiliki kekuatan gaib, dianggap sebagai makhluk pelindung. Ada banyak jenis tari Barong, salah satunya yang saya lihat saat itu, yaitu Tari Barong Macan. Tari Barong sendiri menggambarkan kebaikan melawan kejahatan. Diperankan oleh 2 orang penari di dalam kostum, mirip seperti Barongsay di kebudayaan Chinese. Barongnya sendiri muncul di akhir pertunjukan. Sementara sebelum Barong muncul, didahului beberapa pertunjukan, yaitu Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Baris Tunggal, Tari Nelayan, Orkestra Gamelan, dan Tari Nyamar.

Khusus postingan kali ini gw mau membahas tentang Tari Baris Tunggal. Menurut gw, dari seluruh pertunjukan, selain Sang Barong tentunya, Tari Baris Tunggal inilah yang paling menarik, karena gerakannya yang lugas, lincah, dan sulit diduga. Ritmenya sangat dinamis, tidak membosankan, membuat mata ini terpaku tak mau berkedip, karena berkedip sedikit saja sudah bisa kehilangan momen menarik yang disajikan oleh si penari. Berkedip sebentar, dia sudah bergerak meloncat, atau sudah berubah ekspresi dari tersenyum tiba-tiba menjadi ekspresi garang, atau jari-jemarinya sudah tiba-tiba menjadi gerakan patah-patah yang sulit diikuti saking cepatnya. Yap! Fast and dynamic.

Tari Baris, the dynamic and fast moving Balinese war dance

Tari Baris, the dynamic and fast moving Balinese war dance (ditampilkan juga di Turnamen Perjalanan)

Tari Baris merupakan jenis tarian perang tradisional, yang biasanya dibawakan oleh beberapa penari laki-laki, bisa belasan sampai puluhan penari, umumnya dengan membawa senjata. Tari Baris sebenarnya berfungsi sebagai tari ritual agama Hindhu, namun menariknya, untuk menjaga keaslian dari Tari Baris yang sakral ini, diciptakanlah Tari Baris Tunggal, yang fungsinya sebagai hiburan. Tari Baris Tunggal baru diciptakan oleh masyarakat Bali sekitar tahun 1932-an, sesuai namanya, hanya ditarikan oleh seorang penari laki-laki saja. Menarik yah bagaimana masyarakat Bali sadar betul bagaimana melindungi keaslian budaya sambil juga memikirkan bagaimana caranya untuk dapat membaginya dengan turis-turis yang sudah mulai berdatangan ke Bali saat itu. Jadi Tari Baris yang asli, hanya dibawakan pada ritual sakral saja, misalnya saat upacara di pura atau prosesi pengantaran jenasah.

Berbagai emosi disampaikan dalam tarian ini : courage, fear, excitement, doubt, pride, humility. Kesemuanya menggambarkan perasaan seorang pria yang akan maju ke medan perang. Nggak heran, gerakannya begitu dinamis, menghentak-hentak, gerakan jari-jemari yang begitu  lincah, lirikan mata ke kanan dan ke kiri, terkadang mengedip, terkadang membelalak. Membawa emosi menjadi tercampur aduk, meskipun tanpa dialog. Dan jangan lupa, kemegahan kostum yang digunakan. DEMI TU-HAAANNN…indahnya!! *sambil nggebrak meja ala Arya Wiguna* ;p Dimulai dari kepala, mahkota besar berwarna emas yang dihiasi ornamen seperti daun-daunan berwarna emas, bergoyang-goyang tak henti mengikuti gerakan lincah sang penari. Kostum tari dengan dominasi warna kuning emas, merah dan hitam membungkus dengan apik, pula bergerak ke sana ke mari dengan leluasa, semacam jubah saja. Gw selalu suka dengan warna-warni Bali, Hindhu, atau Buddha, yang didominasi warna-warna cerah dan bold, memberi kesan megah and beautiful.

Sebagai orang Indonesia, lagi-lagi terbangga-bangga dengan budaya Indonesia. Lucunya, di pertunjukan tari ini, yang berlokasi di Pura Saraswati, seluruh penontonnya saat itu kok ya orang asing semua. Bule dari USA, Perancis, Jerman, dst. Orang Asia hanya gw seorang diri dan beberapa Chinese people. Bule di sebelah gw dari USA bahkan udah tinggal di Ubud selama 40 tahun dan masih nggak bosen nonton tari Bali. Man…sedih yak. Emang bukan lagi musim libur sih. Weekday pula. Tapi masa ya sampe segitunya…only me gitu penonton domestiknya. Makin gw liat pertunjukan tari tradisional Indonesia, makin ketagihan dan makin suka. Tari tradisional itu indah dan tampaknya sangat sulit pemirsah! Gw nggak habis pikir kok bisa yah mereka menarikan gerakan-gerakan sesulit itu, beuh…love it pokoknyah! Proud to be Indonesian!  

PS : lebih jelas tentang Tari Barong di sini, dan Tari Baris Tunggal di sini, sini, dan sini. Hehe. Happy reading and happy travelling~