Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

Ubud. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali ini terkenal sebagai cultural center of Bali. Disebut juga kampung senimannya Bali, karena banyaknya karya seni yang dihasilkan di sini. Paintings, wooden craft, glass craft, leaves craft, stone craft, bamboo craft, paper craft, semuanya ada di sini. Di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, mata seakan dimanjakan dengan keindahan karya seni buatan tangan para seniman Bali. Lukisan pemandangan, penari Bali, dewa-dewi Hindu, Sang Buddha, pura, abstrak, berbagai motif, sampai lukisan wanita telanjang pun ada. Semuanya berjejer rapi menghiasi art shop di sepanjang jalanan tersebut. Dan jangan lupa, ada juga Pasar Seni Ubud, di mana ada berpuluh-puluh toko yang menjual barang-barang seni sampai souvenir tumplek jadi satu di sini. Pecinta barang-barang nyeni dijamin kalap di sini. Untungnya saya travelling dengan budget terbatas sehingga tidak tergoda membeli koleksi barang-barang unik khas Bali tersebut. Padahal sih ngiler abis.

Solo backpacking di Ubud sangat mudah, aman, dan tentunya menyenangkan. Beda dengan suasana tempat-tempat touristy di Bali seperti Kuta atau Sanur, Ubud lebih cocok untuk menyepi, menenangkan diri, dan memperkaya jiwa. Nggak ada tuh abang-abang yang berbaris sepanjang jalan menawarkan tur atau barang ini itu atau berkomentar nakal seperti yang sering ditemui di Kuta. Suasananya yang “lebih Bali” dan masih belum banyak dikuasai toko-toko dan brand-brand asing membuat Ubud lebih terasa asli dan nyaman. Penginapan di Ubud pun rata-rata bernuansa tradisional, dengan  bungalow-bungalow kecil yang bernuansa Bali dan menghadap ke sawah. Harganya memang sedikit lebih mahal dibanding penginapan di kawasan Poppies Lane, tetapi suasana, keindahan, dan servis yang didapat pun jauh lebih oke. Saya menginap di Penginapan Danasari, Jalan Hanoman. Untuk review penginapannya, bisa dilihat di sini. Overall sih saya sangat puas dengan penginapan ini.

Mengeksplor Ubud, cara terbaik menurut saya adalah dengan menggunakan sepeda. Sepeda bisa disewa melalui penginapan atau di rental-rental yang tersedia di sepanjang jalan. Harganya sekitar 15rb-20rb/hari. Menyusuri jalanan di Ubud sangat menyenangkan, karena selain udaranya yang cenderung sejuk,jalanannya tidak terlalu padat, dan bisa menikmati art shop yang ada di sepanjang jalanan Ubud. Kesannya lebih selow aja sih, jika dibanding naik motor. Naik mobil sih nggak disarankan, mana seru…hehe. Dua hari di Ubud, inilah tempat-tempat yang worth to visit di Ubud :

1. Museum Puri Lukisan

Lokasinya di Jalan Raya Ubud, buka dari jam 08.00 – 16.00. Tiket masuknya Rp.50.000. Awalnya, gw merasa harga tiketnya overprice banget, maklum jarang maen ke museum berbayar. Rata-rata di Bandung sih masuk museum gratis, hehe. Eh ternyata…setelah masuk, gw merasa 50rb itu worth it banget. Jangan bayangin bentuk museumnya gedung tua dan kusam yang di dalamnya gelap dan berdebu ya. Museum Puri Lukisan ini gedeeeeee luassssss dan hijaaauuuu banget. Pintu gerbangnya berbentuk gapura besar gitu, dan setelah melewati gapura, gw disambut dengan pemandangan taman yang luas, hijau, banyak bunganya, plus ada kolam teratai dan pendopo Bali gitu. Wih. Spekta lah pokoknya. Asri banget! Tampak beberapa anak bule yang ganteng, cantik, dan mungil-mungil itu lagi lari-larian di taman. Beberapa pengunjung sedang asik minum welcome drink di sebuah cafe kecil di samping museum. Beberapa sedang memperhatikan pertunjukan live cara melukis di daun palem. Beberapa sedang menonton seorang wanita yang sedang duduk menenun kain tradisional, lengkap dengan alat tenun yang terbuat dari bambu.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Nah itu baru pemandangan pembuka. Gedung utama museum ini terdiri dari 3 bangunan yang masing-masing menampilkan karya lukisan dan seni dari 3 masa yang berbeda, yaitu tema Wayang Bali, Bali Pertengahan, dan Bali Modern (ada pengaruh budaya Barat di sini). Paling keren adalah gedung Wayang Art. Di sini lo bisa liat lukisan dari kisah Ramayana, Mahabharata, dan tokoh-tokoh wayang, kumplit! Lukisannya pun nggak main-main, ada yang dilukis di kain dan usianya udah tuwir banget, dari jaman masih penjajahan Belanda, dan masih bertahan sampe sekarang dong. Indah banget deh, apalagi kalo lo penyuka tokoh-tokoh Hindu, betah rasanya di dalem. Kudu banget lah tempat ini lo datengin. Terharu dan bangga rasanya liat karya seni Indonesia yang indah banget. Agak miris juga tapi setelah liat daftar buku tamu yang tebelnya kayak kamus, dan udah gw bolak-balik pun pengunjung dari Indonesia  bisa dihitung dengan tangan. Miris! O ya selain lukisan, ada juga wooden crafts yang keren-keren di sini. Yang paling gw inget adalah patung berjudul “Senggama”. Nice banget pokoknya patungnya😀 Btw, di dalam gedung museum nggak boleh memotret ya, jadi kalo penasaran silakan kunjungi museum ini ^^

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

2. Museum Renaissance Antonio Blanco

Puas menikmati karya seni asli seniman Bali, sekarang saatnya menikmati karya seni seniman luar negeri yang akhirnya tinggal menetap di Ubud. Don Antonio Blanco adalah seniman asal Spanyol yang menikah dengan penari Bali, akhirnya banyak menghasilkan karya seni aliran Renaissance yang kebanyakan bertema Bali (ehm, lebih tepatnya lagi wanita Bali). Lokasinya  di Jalan Campuhan, lumayan juga sih jauh dan naik turun bukit gitu. Tapi pemandangan menuju ke sananya edan keren abis…pohon-pohon rindang sepanjang jalan, udara yang sejuk dan bersih…ihik…kaki pun nggak kerasa pegel meski harus gowes di jalanan yang naik turun. Sama seperti Museum Puri Lukisan, Museum Antonio Blanco ini pun sangat asri, meski luas tamannya tidak sebesar Museum Puri Lukisan, tapi yang mencengangkan di sini adalah bangunan museumnya itu sendiri. Arsitekturnya luarnya bergaya Bali, tapi pas masuk interiornya ala-ala Spanyol gitu. Yaa…kaya rumah-rumah Eropa gitu yang ada kubahnya mewah, pilar marmer, plus sofa-sofa nyeni yang empuk. Lukisannya mayoritas wanita nude. Yes,bugil, naked, tak berbusana. Tapi meskipun nude, sama sekali nggak vulgar, meskipun erotis tapi berkesan nyeni. Bahkan ada lukisan wanita masturbasi segala loh, sampe shock gw -______-  Uniknya lagi, tiap lukisannya dipigura dengan pigura yang dibuat khusus untuk lukisan itu, misalnya lukisan wanita nude dengan highheel biru, di piguranya ada dong patung highheel biru. Ya, custom made gitu deh masing-masing piguranya, plus ada ukiran “Blanco” di piguranya. Keren banget deh. Nggak kebayang lukisan Renaissance itu kayak apa? Kira-kira gini deh salah satu karya beliau :

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan?

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan? (taken from this site.) 

Selain menikmati lukisan, di tamannya juga ada burung-burung yang jinak dan lucu-lucu, salah satunya kakaktua yang putih berjambul kuning dan kakaktua warna-warni kayak di Faber Castle itu loh (ups, nyebut merk). Bisa foto juga sama burung-burung itu.

Parrot "Faber Castel" warna-warni lagi akrobat ^^

Parrot “Faber Castel” warna-warni lagi akrobat ^^. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Plus, ada juga gallery di mana kita bisa berfoto pura-pura lagi melukis, lengkap dengan palet cat nya. Hehe…asyik kan? Tiket masuknya untuk Indonesian sih Rp 30.000, untuk foreigner Rp 50.000. Worth it banget! Dapet welcome drink pula… ^^

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

3) Watching Balinese Dancing

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Ke Bali masa sih nggak lihat pertunjukan tari Bali? Nah di Ubud ini, ada banyak sekali tempat yang menampilkan pertunjukan tari Bali setiap harinya. Yang paling terkenal yaitu di Ubud Palace (Pura Saren Ubud). Tapi saat itu sudah tampak turis yang berjejalan di sana, sehingga saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Tari Barong di Pura Saraswati (Lotus Pond) saja. Lokasinya nggak jauh dari Ubud Palace. Harga tiketnya Rp 80.000, pertunjukan dimulai pukul 20.00, berlangsung selama 1 jam. Lumayan mahal memang, tapi pertunjukannya cukup menarik, tari yang ditampilkan terdiri dari beberapa jenis, yaitu diawali tari pembukaan, Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Nelayan, Orkestra Musik Gamelan, Tari Baris Tunggal, Tari Nyamar, dan diakhiri dengan Tari Barong Macan. Kapasitas penontonnya nggak banyak, hanya sekitar 30-an, dan saat itu SEMUAnya foreigner. Gw celingak celinguk ke segala arah dan hampir semua bule, dengan berbagai bahasa dari Inggris, Jerman, Perancis, Italia. Penonton Asia hanya gw seorang dan sepasang couple yang berbahasa Cina entah dari mana. Penonton di sebelah gw seorang Amerika yang pindah dan menetap ke Ubud sejak dikeluarkan dari pekerjaannya, 20 tahun yang lalu, dan sampai sekarang pun dia masih senang menonton pertunjukan tari Bali. Ups, gw aja br pertama ke Ubud dan kedua kalinya melihat tari Bali. Heuh. Malu deh sama bule.

Beautiful Balinese Dancer

Beautiful Balinese Dancer

Tari Kebyar Duduk

Tari Kebyar Duduk

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

4) Biking ke Tegalalang

Si biru teman suka dan duka ^^

Si biru teman suka dan duka ^^

Well, jangan bayangin adegan bersepeda cantik ala Julia Robert. Karena ternyata track biking ke Tegalalang ini lumayan melelahkan, naik turun bukit, apalagi ditambah dengan terik matahari, wih, lupain deh adegan bersepeda pake rok unyu-unyu kaya Miss Julia Robert😀 Gw sendiri nggak tau pasti seberapa jauh perjalanan dari Jalan Hanoman ke Tegalalang, tapi yang jelas gw menempuhnya dalam waktu sekitar 2 jam bersepeda. Meskipun berpeluh keringat plus nafas tersengal-sengal, but, again, it was worth it. Pemandangan Tegalalang dengan sawah-sawahnya yang cantik memang indah. Meskipun, jujur, karena dulu gw sering main ke Baturaden dan daerah Gunung Slamet sana, sawah sih buat gw sudah jadi pemandangan biasa. Atau mungkin gw udah tepar dulu dengan perjalanannya makanya jadi nggak begitu excited, hahaha…But the feeling “Hey, I did it!” itu yang bikin worth it. Yang bikin gw terkesan sampai sekarang yaitu saat melewati jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan, dan ada semacam kanopi yang melintasi jalan, yang terbuat dari dahan-dan dan daun dari pohon itu, wogh, beautiful! Sawahnya? Bagus sih, tapi karena gw datang saat musim panen jadi buka lautan hijau sawah tapi lautan kuning kecoklatan, hehe…but still, you should try biking to Tegalalang, at least once. Lelah melewati bukit-bukit,saat perjalanan meninggalkan Tegalalang gw menyerah, menggunakan jalan raya. Gw melewati Jalan Raya Tegalalang, desa Petulu, desa Peliatan, Jalan Raya Goa Gajah, sampai akhirnya berlabuh ke Bebek Tepi Sawah. What a beautiful ending.

One of unique place at Tegalalang

One of unique place at Tegalalang

5) Bebek Tepi Sawah

Crispy Duck, nom nom nom...

Crispy Duck, nom nom nom…

Yeap, selain Bebek Bengil, masakan bebek yang harus dicoba di Ubud adalah Bebek Tepi Sawah. Di Ubud, lokasinya bener-bener di tepi sawah, suasananya oke banget. Gw milih makan di lesehan gitu, semacam pendopo yang diisi beberapa meja, dengan alas bantal-bantal duduk yang empuk, hihi, nikmat banget deh, apalagi abis berpeluh keringat setelah biking ke Tegalalang. Sayang setelah lihat daftar menu, keringat itu malah makin deras mengucur. Crispy duck yang gw incer itu ternyata dibandrol Rp 80.000. Ampun deh. Kalo nggak inget misi ke Ubud adalah untuk memuaskan hati, jiwa, dan perut, mungkin saya bakal pesen air putih aja deh. Meskipun sedikit nggak rela, akhirnya gw pesen juga Crispy Duck yang tersohor itu, sambil menikmati suasana sawah hijau (karena sawah buatan jadinya masih hijau kali ya, beda sama yang di Tegalalang😀 ) di depan mata. Nggak lama, datenglah bebek seharga 80rb itu. Hmmmm…ternyata harga emang nggak bohong! (sambil menangis terharu dalem hati) Ini bebek terenak yang pernah gw makan. Bebek Asap Kuningan lewat! Bebek Duck King lewat! Rasa gurih dan crispynya itu maknyus banget. Dan juaranya adalah sambel-sambelnya! Ada 3 macem sambel yang disediakan, 2 di antaranya, yang pake bawang putih dan yang  mirip sambel matah, itu e-nak-ba-nget! ^^ Menikmati makanan enak setelah perjalanan yang melelahkan itu emang nampol!

Sambel dewa!

Sambel dewa!

6) Monkey Forest

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Lokasinya tentu aja di Jalan Monkey Forest ya. Tiket masuknya Rp 20.000. Monyet-monyet di sini jauh lebih jinak dibanding monyet-monyet di Sangeh. Ukurannya juga lebih kecil-kecil. Tapi hutannya sangat menarik di sini, meskipun nggak terlalu luas, tapi masih alami dan tertata rapi. Gw suka banget sama pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar sampai ke mana-mana. Aaakkhh berasa pengen gelantungan gitu (apa gw dulunya Tarzan apa gimana sih!). Cakep banget kaya gini nih :

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Gw suka banget jalan-jalan di dalem hutan ini, malah lebih seneng kalo nggak ada monyetnya, hihi…abis takut sih.😛

7) Adi Bookshops

Buku-buku second berbahasa Rusia

Buku-buku second berbahasa Rusia

Nah ini khusus buat pecinta used-books kaya gw, coba mampir deh ke toko buku kecil yang berlokasi di Jalan Hanoman deket Pasar Seni Ubud. Tempatnya ada di sudut pertigaan. Di sini, ada banyak banget buku-buku bekas dari berbagai bahasa. Yang paling banyak tentu aja yang berbahasa Inggris. Tapi selain itu, banyak juga buku berbahasa Jerman, Belanda, Russia, dan juga Prancis. Karena gw lagi belajar bahasa Jerman, toko buku ini berasa surga deh. Bayangin, novel-novel berbahasa Jerman dijual hanya dengan harga Rp 20 – 30.000an aja. Belum lagi koleksinya yang sangat lengkap dari buku ilmu pengetahuan, fiksi, sampai buku anak-anak. Ba-ha-gi-a. Borong deh gw 3 buku. Ba-ha-gi-a! Lucunya, karena gw beli buku berbahasa Jerman dan Inggris, eh si mbak kasirnya ngajak gw ngomong pake bahasa Inggris dan nunjukin harga pake kalkulator. Ya elah masa gw dikira orang asing sih mbak, jelas-jelas muka eksotik ala Farah Quinn gagal gini, hahaha…😀

8) Babi Guling Ibu Oka

Nah kalau ini, baca di postingan gw sebelumnya aja ya…saking istimewanya sampe dibikin 1 postingan sendiri lho, hehehew…

Gimana? Masih ragu untuk travelling ke Ubud?

Happy travelling, happy life! ^^

16 thoughts on “Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

  1. blogwalking~~ ^^

    bulan lalu sempet ke bali, tapi gak sempet ke ubud..hhuuhuhu.. cakep ya museumnya asri gak suram dan gelap kayak kebanyakan museum di indo. abis museum indo kan banyak yg gak terawat pasti orang2 jg udah underestimate yaa..hahahha..

    sweet itu kalo jalan berdua, gandengan dikelilingin pohon-pohon tinggi..hihi

    • Trims ya udah mampir ^^
      Iya next time bs coba ke Ubud, suasana Bali tanpa pantai asik juga loh… Museumnya di sana memang bgus, lain dr museum2 yg pernah saya kunjungin, biasanya remang2 hahaha.

  2. Dear Mbak Shella, salam kenal yaa…
    Setelah baca postingnya jadi tertarik sepedahan di Ubud… btw kalo sewa sepeda seharian itu bebas mau dibawa kemana aja keliling Ubud atau gmn mba?

  3. Mbak Shella…aku jd pgn bgt ke ubud…mbak mau tanya dr semua tmpt wisata yg mbk kunjungi di atas itu, kira2 jarak tempuh/waktu tmpuh dr satu tmpt wisata ke tmpt wisata yg lain brp lama mbak? Aku mau liburan kesana tp cm sehari di ubud..biar bs aturwaktunya…

    • Hallo Galuh, trims udah mampir🙂
      Kl waktu tempuh di dalem pusat kota Ubudnya sih deket2 bgt, naik sepeda paling 15-20 menit (misalnya museum2, pura, monkey forrest,dll). Kecil bgt kok Ubud. Cuma kl ke Tegalalang memang perlu waktu lebih, krn jaraknya sktr 10km dr pusat kota. Semoga membantu ^^

  4. Hai kak, seru banget baca story di ubud nya. Keren!😀
    Saya rencana ke ubud bulan depan, tapi worried soal budget karena baru pertama ke ubud. Kira-kira kakak habis brp ya buat liburan ke ubud? Berapa hari?
    Hehehe makasih kak jawabannya. Have a good good day!😀

    • Hai Yudi, trims ya udah mampir ke blogku🙂 Waktu itu saya di Ubud cm 2hr 1malam. Kl budget itu tergantung mau mampir mana aja dan mau ngapain aja…hehe. Perkiraannya museum skitar 20-50rb, tari 50-80rb, sewa sepeda 20rb, penginapan 100-200rb, makan trgantung selera sih hhe kl babi guling skitar 30rb, bebek tepi sawah 80rb, kl di warung 10-15rban.

  5. mba, akhir oktober ini saya juga akan ke ubud..kalau transportasi umum selama di ubud bagaimana ya?ada ojek atau taksi?kisaran harganya berapa?(saya tidak bisa mengendarai motor atau sepeda)..makasih ya mba…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s