From Zero To Hero : Menyusuri Jejak Peradaban Singapura di Chinatown Heritage Centre

Apa yang terbayang di benakmu jika mendengar kata Singapura? Modern? Merlion? USS? MRT? Marina Bay? Orchard? Belanja? How about…Chinatown?

Yap! Chinatown merupakan salah satu pusat kota Singapura yang tertua, dan masih bertahan sampai sekarang, dengan bangunan-bangunannya yang khas, menunjukkan sisi kultural bangsa Cina yang merupakan nenek moyang warga Singapura. Yes, warga Singapura berasal dari Cina, tepatnya dari daerah Cina Selatan. Mereka merantau dari negeri Cina melalui jalan laut, dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik.

Untuk mendalami sejarah dan seluk beluk peradaban Singapura inilah, gw berkunjung ke Chinatown Heritage Centre yang berlokasi di 48 Pagoda Street Chinatown, yang hanya beberapa meter saja dari pintu keluar MRT Chinatown. Untuk memasuki Museum ini dipungut biaya 10 SGD untuk dewasa, dan 6 SGD untuk anak-anak. Museum dibuka pukul 9 pagi sampai 8 malam. Saran gw, datanglah pada pukul 1 atau 2 siang, di mana disediakan Free Guided Tour. Sayang sekali gw saat itu tidak ditemani oleh guide, tapi petunjuk dan penjelasan yang ada di dalam museum sudah cukup lengkap kok.

Nah, apa sih yang ada di dalam Museum ini? Kisah peradaban Singapura diawali dengan cerita para Sinkheh di daerah Cina Selatan yang mengalami kemiskinan dan kelaparan pada tahun 1800-an, sehingga memutuskan untuk bermigrasi dengan menggunakan kapal ke daerah Asia Tenggara, berharap menemukan tempat untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik. Di sini, ditampilkan replika kapal layar Cina kuno, lengkap dengan berbagai barang-barang peninggalan pada jaman itu, seperti topi caping pelaut, tali tambang, kertas-kertas doa dan hio. Menariknya, ada juga lho kaleng-kaleng makanan dan minuman pada masa itu yang sampai sekarang pun masih eksis, nih contohnya :

Siapa yang nggak suka susu Milkmaid? :3

Siapa yang nggak suka susu Milkmaid? :3

Milo eksis dari jaman baheula!

Milo eksis dari jaman baheula!

Suasana di dalam museum ini agak gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu remang-remang, mungkin untuk memberi kesan jadul gitu ya. Tapi jangan khawatir, nggak menyeramkan dan sangat “nyeni” kok. Oke, lanjut ke cerita. Dikisahkan, setelah beberapa bulan perjalanan laut yang keras, para Sinkheh (imigran) yang survived berhasil mendarat di Telok Ayer Singapura. Meskipun mereka berasal dari daratan Cina yang sama, tetapi suku-suku mereka berbeda-beda, akhirnya mereka mengelompokkan diri masing-masing sesuai dengan sukunya. Tiap suku memiliki bahasa dialek dan keahlian yang berbeda-beda. Mereka pun membentuk apa yang disebut “Clan”. Tiap clan bekerja sama dan saling melengkapi satu sama lain. Ada clan yang jago memasak, ada yang jago membuat pakaian, ada clan pandai besi, dan seterusnya. Di dinding museum pun ditampilkan nama berbagai macam clan yang  ada, yang akhirnya menjadi nama-nama marga, misalnya He, Lie, Tan, dll. Kerennya, papan nama yang terbuat dari balok ini bisa diputar dan di baliknya ada gambar tokoh terkenal dari marga yang bersangkutan. Misalnya dari marga He (wih marga gw ini🙂 ), tokoh yang terkenal adalah He Weixian, adalah seorang guru.

Marga gw inih :3

Marga gw inih :3

Membangun kehidupan dari awal tidaklah mudah, hal ini membuat banyak penduduknya melarikan diri ke minuman keras, berjudi, opium, dan pelacuran. Di bagian kisah ini, pengunjung bisa melihat bentuk kamar wanita penghibur pada jaman itu, lengkap dengan gaun-gaun yang mereka pakai. Kamarnya gelap remang-remang gitu deh…hehe. Selain maraknya prostitusi, bisnis yang menjamur yaitu kedai teh. Replika kedai teh ini sangat menarik, dan ternyata tidak jauh berbeda dengan kedai makan Chinese saat ini. Makanannya? Apalagi kalau bukan Dimsum, yang sudah menjadi trademark Chinese Food. Bahkan di atas meja juga ditampilkan replika dimsum yang sangat mirip aslinya, rasanya pengen nyomot aja deh itu Xiao Long Bao nya!

Replika Da Dong Tea House

Replika Da Dong Tea House

Selain kedai teh, juga ditampilkan replika rumah-rumah warga kala itu. Sangat menarik. Suasana dapur misalnya, dibuat sesuai aslinya dengan perabotan yang masih terbuat dari batu, botol-botol kecap jaman dahulu, sampai ada backsound rekaman percakapan ibu-ibu cempreng yang berteriak-teriak di dalam dapur dengan bahasa Cina, lengkap dengan suara osreng-osreng dari wajan. Wow, berasa nonton film jaman Yoko dan Bibi Lung deh (ups, ketauan deh anak 90-an😀 ).

Dapur jaman dulu. Ceritanya lagi masak Chicken Rice kali ya?

Dapur jaman dulu. Ceritanya lagi masak Chicken Rice kali ya?

Dapur sih masih biasa, yang bikin shock itu pas lihat replika WC nya. Haiz…WC mereka jaman dulu itu hanya berupa alas batu yang dilubangi bagian tengahnya, dan di bawahnya disediakan ember hitam untuk menampung eek-nya! Tidaaaakkkkk……:/ Jadi abis boker ya buang eek sendiri. Err…ke mana ya…hiyy abis deh, hahaha… Meskipun gw pernah ngalamin boker gali lubang di hutan, tetep aja nggak bisa bayangin kalo tiap hari harus boker kaya orang Singapura jaman dulu. Huft banget deh.

Batu. Lubang. Ember. WC. :(

Batu. Lubang. Ember. WC.😦

Lupakan soal WC. Lanjut. Jadi jaman dulu di Singapura, bentuk dan isi rumah juga berbeda-beda tergantung profesinya. Ada tipe rumah buruh, rumah penjahit, rumah pemilik restoran, rumah tukang kayu, sampai yang paling mengherankan, ada rumah wanita yang hidup selibat. Ya elah…😀 Replikanya bagus dan sangat mirip dengan aslinya, termasuk barang-barang yang ada di dalamnya, wah, gw jadi nostalgia masa-masa berkunjung ke rumah nenek nih. Barang-barangnya hampir mirip! Kaleng-kaleng, poci, sisir dan cermin jadul yang seperti di film-film Vampir Cina jaman dulu, mesin jahit Singer, keranjang-keranjang rotan, sampai cat rambut jaman Sun Go Kong masih anak-anak juga ada. Ah…memori bermain di rumah nenek di Tasikmalaya pun bermunculan layaknya air bah #lebay.

Hey hey...anak 90-an pasti familiar deh sama gambar-gambar seperti ini :D

Hey hey…anak 90-an pasti familiar deh sama gambar-gambar seperti ini😀

Menilik perjalanan sejarah nenek moyang orang Singapura, rasanya mereka patut diacungi lebih dari dua jempol. Ya, hanya dalam waktu 200 tahunan saja, mereka berhasil membangun peradaban yang begitu maju. Ya iyalah, dulu boker di ember, sekarang boker  nyiramnya aja pake sensor otomatis (eh kok fokusnya masalah boker sik!). Pembangunan mereka sangat pesat, bahkan kini menjadi yang terdepan di Asia Tenggara. Berhasil menjadi negara transit untuk bepergian hampir ke seluruh dunia. Bahkan cost of livingnya menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, menjadikannya salah satu destinasi traveling yang cukup mahal (tapi anehnya orang Indonesia kok hobi banget ke Singapura, berarti orang Indonesia kaya-kaya ya? ;p ). Tentunya pasti semua itu dibangun dengan melalui kerja keras dan pengorbanan.

From Zero

From Zero

To Hero

To Hero

Tertarik berkunjung ke Chinatown Heritage Centre Singapura? Info lengkapnya bisa buka di sini nih. Happy traveling! ^^

4 thoughts on “From Zero To Hero : Menyusuri Jejak Peradaban Singapura di Chinatown Heritage Centre

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s