Indonesia in Five Colours

Capture the Colour photo blogging competition by TravelSupermarket.com is back! Again, the competition is to choose five original shots from your travel experiences, and each shot representing the colors : blue, green, yellow, white and red. Last year I also participated in this photo blogging challenge and it’s been really fun! So of course  I want to participate again this year. This time I will share five colours that represent my home country, Indonesia.

Blue : Amirul Mukminin Floating Mosque, Makassar, South Sulawesi

The tranquil Amirul Mukminin, the first floating Mosque in Indonesia

The tranquil Amirul Mukminin, the first floating Mosque in Indonesia

Built in 2009, the first floating Mosque in Indonesia, Amirul Mukminin Mosque, has been a highlight to many visitors who comes to Makassar, South Sulawesi. Located at Losari Beach, only few meters from the Fort Rotterdam and La Galigo Museum, this Mosque offers charming and tranquil beauty of its own. The picturesque blue sky as a background and sea below, matched with the ornamental light blue dome, this mosque has attracted a lot of photographers to capture the magnificent scene. Amirul Mukminin Mosque also named 99 Al Makazzary Mosque, that name symbolized one of the High Priest of Masjidil Haram, Syech Yusuf.

White : Hanoman, The King of Monkey, at Kecak Dance, Uluwatu, Bali

Hanoman, the King of Monkey in Ramayana epic

Hanoman, the King of Monkey in Ramayana epic

Hanoman, considered as the central character in Ramayana epic, which he participated in the war between Rama and the demon king Rahwana to rescue Rama’s wife, Shinta. The story has been passed from generation to generation and being as old as the Hindu itself. Now Ramayana story is commonly played in Kecak Dance, Bali. Kecak Dance, which is well-known for its mystical sense, since there’s no music played but instead use the rhytmic sound “cak-cak-cak” sung by dozens male dancers. Hanoman himself played an essential character, like a real monkey, which is fast-moving, intelligent, playful but also humble and fearless. Watching Kecak Dance itself at Pura Uluwatu, with colorful Balinese dancer wearing colorful dancing costumes, the humming sound of “cak-cak-cak”, clear blue sky above, and accompanied by the light of golden sunset, is one of the unforgettable experience in life.

Green : One Day at Rantepao, Tana Toraja, South Sulawesi

A mosque in the middle of Land of Thousand Churches, Tana Toraja

A mosque in the middle of Land of Thousand Churches, Tana Toraja

Tana Toraja is a region in the highland of South Sulawesi, also called “Land of The Dead” and “Land of Thousand Churches”. The first name is given because of the famous ritual of Torajan Funeral Ceremony, “Rambu Solok”, where they held a big feast to celebrate the death, include sacrifice dozens of buffalos and hundreds of pigs, also the tradition to “keep” the dead one mummified from days to years inside the house called “tongkonan” before the feast is held. The last is called because of the massive numbers of churches built in Tana Toraja, since most of the people are Christians. But in the middle of my random-walking through Rantepao, the capital city of Tana Toraja, I found this mosque, covered with beautiful green-coloured-dome, can’t be more serene and free as it seem. The beauty of diversity. (Also seen at Turnamen Foto Perjalanan)

Red : Toraja Traditional Woven Cloth, Sa’dan Village, North Toraja

Natural-dyed traditional cloth, handmade by women in Sa'dan Village, North Toraja

Natural-dyed traditional cloth, handmade by women in Sa’dan Village, North Toraja

This traditional cloth made by handmade-yarn from cotton that grew in local garden at Sa’dan Village, North Toraja. When I was stumbled upon this colorful clothes and motives, I hardly believe that all of this made and colored by natural sources, with only hand and weaving tools, but the fact is, it’s true. Nowadays, only small amount of women do weaving in Sa’dan Village. With the coming of massive industrialization, traditional woven fabric become threatened and leading to its extinction. Only one 83-years old lady left that still do the traditional yarn-spinning. Whereas, Torajan traditional woven fabric is considered as a high value art that should be well-preserved. The question is : Would we?

Yellow : Welcoming a New Day at Sanur, Bali

Sunrise at Sanur Beach, Bali

Sunrise at Sanur Beach, Bali

A new day, a new beginning. As the yellow flag waved freely in the middle of tranquil morning at Sanur Beach, a new excitement inside me began to rise. New day! New hope! New spirit! As the gentle wind stroked my hair, then a new me was born again. Nothing can compared the serenity of a calm sunrise in the morning, moreover the sunrise in Sanur Beach, which is considered as the most hunted place to welcoming the born of the sun once again. Boats waited to be sailed once again. Women awaked to pray and give offering to Gods once again. Children opened their black-browned eyes like a new baby born. Yellow flag waved…

And now here are my five nominees :

1. Danan Wahyu from Danan Wahyu Sumirat

2. Wira from Wira Nurmansyah

3. Halim from Jejak Bocah Ilang

4. Angga from Catatan Ransel

5. Efenerr from Efenerr

Good luck to all! ^^

~happy traveling, happy life~

I Left My Mind at Tanjung Bira

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

Tanjung Bira, pantai berpasir putih seperti bedak di ujung Sulawesi Selatan, berjarak 6 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar (how to get there? ada di sini). Seorang kenalan asal Toraja mengatakan, Tanjung Bira ini merupakan Bali-nya Sulawesi. Is that true? Well, yang jelas gw sangat terkesan dengan infrastruktur yang dibangun dengan baik di Tanjung  Bira. Jalanan yang mulus, dengan pepohonan dan bunga-bunga yang asri menyambut kedatangan gw untuk pertama kalinya di pantai yang terkenal dengan pasir bedaknya ini. Penginapan yang berderet-deret di tepi jalan pun memastikan mudahnya mencari akomodasi di Tanjung Bira. Beruntunglah gw, datang ke sana saat bulan Ramadan, di saat kebanyakan orang sedang berpuasa, tentunya sedikit yang liburan ke pantai, so, less crowd and at low season, I thought that this is a perfect time to chill out dan menghindar sesaat dari keramaian kota Bandung yang terkadang, even I love Bandung so much, mulai menyesakkan.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki ke pasir putih pantai Tanjung Bira adalah : “Pantai kok dingin ya?” Saat itu semilir angin berhembus pelan, nggak kencang-kencang amat, tapi cukup sejuk dan menghilangkan penat setelah duduk di mobil angkutan selama hampir 7 jam. Langit berwarna biru kalem (kalem?) dihiasi awan-awan putih yang menggantung dan beriring semarak. Cerah, tapi matahari bersinar malu-malu, seakan malas membagi kehangatannya sore itu. Di bawah kedua kaki gw terhampar butiran lembut pasir berwarna putih pucat, penasaran, gw meraup segenggam, dan ternyata benar, memang sehalus bedak. Langsung terbayang bedak Mars (ups nyebut merk ;p) yang dulu sering gw pake waktu kecil. Gw tenteng kedua sandal di tangan kanan, dan berjalan menyusuri tepi pantai yang memiliki garis pantai yang sangat panjang. Uniknya, pantai Tanjung Bira ini sama sekali tidak memiliki karang. Berbeda dengan beberapa pantai lain yang pernah gw kunjungi, biasanya di beberapa spot terdapat karang-karang besar atau kecil, tetapi Tanjung Bira ini bebas dari karang. So, kita bisa bebas berjalan menyusuri seluruh tepian pantai dengan pasir putihnya yang terhampar cantik, kadang bersemu warna pink, gw juga menemukan beberapa pecahan coral warna pink di tepi pantai, mungkin ini penyebabnya. Di beberapa tempat, tampak kapal-kapal nelayan berlabuh, tampak juga beberapa speedboat yang bisa disewa untuk perjalanan menyeberang ke Pulau Liukang Loe yang berjarak selemparan batu, hanya 15 menit saja dari Tanjung Bira.

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3 (foto ini nongol juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Pantai Tanjung Bira ini masih sangat bersih, airnya jernih dan belum tercemar sampah sama sekali, meskipun di tepi pantainya sendiri bisa ditemukan berbagai macam sampah yang terbawa arus dan berlabuh di tepi Tanjung Bira. Tapi overall masih termasuk bersih dan terawat, dan warga tampak mengumpulkan berbagai sampah tersebut dan mengumpulkannya di salah satu sudut pantai. Nice effort, I think.

Salah satu bangunan yang mungkin menjadi trademark dan nggak akan terlewat di Tanjung Bira ini mungkin adalah restoran berbentuk kapal phinisi yang berada di tepi pantai. It really looks real. So cool. Perahu dari kayu berwarna coklat dengan ukuran real (which is, very big), lengkap dengan tiang-tiangnya yang tinggi dan kokoh, menunjukkan kemegahan dan kekuatan tersendiri, well, how can I say this? Maybe if he is a man, then I will say he is a “classic masculin” type :D. So, kapal ini “parkir” gitu aja di atas tebing di tepi pantai, tembok di kedua sisinya terbuat dari batu dan dihiasi bunga-bunga yang merambat indah di atas batu, well, I must said that this is really georgeous. Not a common view I can see everyday. Sebenernya pengen banget banget banget masuk and maybe having dinner inside, tapi apa mau dikata, tipisnya budget membuat gw cukup puas cuma berfoto-foto di depannya aja. Yang penting narsisnya dulu deh, hehe… Btw, you should see this place at night too. So so so beautiful with the lights, plus deburan ombak yang sayup-sayup terdengar dari tepi pantai. :3 So, I thought about a candle light dinner, Jazz or Sabrina music slowly played from the tape, the whistling sound of the wind, and soft murmur of the wave from outside ship dock…

……….tapi gw jomblo. (lalu bunga-bunga pun berguguran)…

Kapal phinisi yang "parkir" sembarangan.

Kapal phinisi yang “parkir” sembarangan.

Phew. Back to story. So…sampe mana gw tadi? 😛

Selain resto phinisi yang unik ini, gw juga menemukan hal unik yang baru pertama kali gw temukan terbaring di pantai, yaitu : Tiang listrik. Hah?! Iye, serius, ada banyak banget besi-besi segede-gede gaban yang ternyata menurut nelayan yang berada di TKP, itu adalah tiang listrik. Kok bisa sih tiang listrik sebanyak itu digeletakkin di pantai, nggak ngerti juga deh gw, tapi katanya sih nanti bakal ada yang ngangkut tiang-tiang listrik ini, yang sebelumnya diangkut pake kapal. Oke deh. Rada aneh juga sih sebenernya (-.-)

Tiang listrik, anyone? No?

Tiang listrik, anyone? No?

Gw pun sempet berjalan-jalan mengeksplor area sekitar tebing di Tanjung Bira, and well well, what did I find? Bars. Yeap. Bars everywhere. Bar dan tempat karaoke, meskipun tampak kumuh dan dibangun seadanya, tapi jumlahnya lumayan banyak, dengan plang-plang bergambar Bir Bintang menggantung di tiap sudutnya. Agak sayang juga sih, karena mengikuti selera pasar (baca : bule) kali ya, makanya bar-bar ini jadi menjamur. Hmmm…meskipun gw bukan tipe konservatif, tapi tetep aja ngerasa gimanaaa gitu kalo di pantai seindah dan sesepi ini ter-Westernized…jadi kaya Kuta yang udah kehilangan feel Indonesianya…

"local bar"

“local bar”

Berhubung mengunjungi Tanjung Bira saat bulan puasa, yasalam susah banget nyari tempat makan di sini. Cuma ada beberapa warung makan yang buka, itu pun menunya yang terjangkau cuma Nasi Campur (isinya nasi, ayam, telor, sayur cap cay) sama nasi goreng, itu pun seharga Rp 15.000-20.000an, which is, menurut gw sih rada mahal ya, meskipun rasanya lumayan enak juga. Dua tempat makan yang lumayan nge-hits di sini tampaknya Pondok Bambu dan Salassa. Keduanya ada di pinggir jalan utama Tanjung Bira. Menunya selain menu masakan Indonesia, juga banyak menu Western, tapi harganya juga lumayan membobol kantong, hiks. Selain itu ada juga restoran kecil di Bira Beach Hotel, resto ini lokasinya di terrace yang langsung menghadap pantai. Asik banget nih makan di sini, nasi campurnya juga yummy, tapi harganya Rp 20.000 #ngok. Sebetulnya banyak warung makan yang berjejer di atas tebing di tepi pantai, tampaknya harganya lebih bersahabat, tapi berhubung bulan puasa, nggak ada yang buka… 😦 Di luar kompleks Tanjung Bira, sepanjang jalan menuju Pelabuhan Bira juga bisa ditemukan beberapa warung makan, so urusan perut sih terjamin lah di sini, hehe…

Dinner? ^^

Dinner? ^^

Memori paling berkesan dan menyenangkan selama trip gw di Tanjung Bira justru bukan pantainya, bukan spot snorkelingnya, pulau Liukang Lioenya, atau makanannya. Justru, turning point saat gw ngalamin sarapan bareng bule-bule di warung Salassa. Pagi itu Salassa  penuh, dan kebetulan dua orang bule asal Jerman kenalan gw yang sebelumnya berangkat sama-sama dari Makassar (baca di sini) duduk di salah satu meja, yang kebetulan kursinya masih banyak yang kosong, akhirnya mengajak kami bergabung. Jujur, sebelumnya gw masih nggak pede kalo disuruh ngobrol pake bahasa Inggris. Meskipun secara pasif kemampuan bahasa Inggris gw bisa dibilang lancar, tapi kalau harus ngobrol, kadang gw masih jiper dan malu-malu. Finally, at that time, gw berhasil ngobrol panjang lebar sama bule-bule ini, kebetulan banget mereka sangat ramah, dan karena gw emang berencana ngelanjutin studi gw ke Jerman, so gw antusias banget ngobrol sama mereka. Entah gimana, rasa jiper itu hilang juga. Ternyata gw bisa ngobrol sama bule T.T *sungguh ndeso yak*.

Nggak lama, seorang bule asal Perancis bergabung, and it turned out to be a very nice conversation between us. Dan si bule Perancis ini udah keliling Sulawesi dan daerah timur Indonesia, bikin gw malu deh, orang Indonesia tapi belum pernah ke daerah timur, hih! Bikin makin semangat traveling! Malu sama orang luar yang so enchanted sama Indonesia, masa kitanya sendiri cuma diem di tempat aja? Untung berkat promo Citilink kali ini, finally gw bisa menginjakkan kaki ke Sulawesi, hehe…maklum fakir promo 😛 So, ngalor-ngidul dari mulai ngomongin pekerjaan, masalah kesehatan, ngomongin tentang belajar bahasa asing, ngomongin tempat wisata di Jerman, Indonesia, dan Perancis, sampe ngomongin tentang freediving dan bahasa sandi rahasia di Perancis, akhirnya pagi yang menyenangkan itu pun harus berakhir. We said good bye to each other, and I left Tanjung Bira, heading back to Makassar, dengan perasaan campur aduk…

Like my travelmate once said…”I left my mind at Tanjung Bira…”

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

      

        

    Happy traveling, happy life~ 

Weekly Photo Challenge : Carefree

Tanjung Bira South Sulawesi Makassar

One beautiful day at Tanjung Bira Beach, South Sulawesi. I strolled around the white sandy beach, below my feet was soft, tender and wet sands, with the powdery-like texture. I wondered how many rocks, corals, and shells was crushed by the wave, to finally create such a soft form of powdery sand? I heard the humming sound of ocean wave from my left, I felt the cold frothy water touching the tip of my feet. I saw the bright light blue sky, with the fluffy clouds patched all around. I saw the turquoise colored water. White birds flew, boats docked, against the whistling wind. Then, I saw her. My eyes fixed at her bright red shirt. I saw how she sat on the rock stair, the way she put both her elbow on, and how she looked far far away to the horizon…I don’t know her, maybe she’s American, or Australian, or Italian, I don’t know. But I knew, at that time, that we both carefree. Free of trouble and worry.

Weekly Photo Challenge : Dailypost

Weekly Photo Challenge : One Shot, Two Ways

This cloudy sunrise taken from Sanur Beach, Bali, Indonesia. Sanur Beach located in southeastern side of Bali, considered as the best place to enjoy the beauty of sunrise. On this Weekly Photo Challenge by DailyPost, I’ve read interesting post about how to decide which is the best approach to capture a scene : portrait? Or landscape?

When I was stumbled upon this magnificent color of sunrise, I decided to take two scenes. First, the closer look of the sun, gave me the strong or more “yang” energy. But at the second shot, when I saw the bigger picture, it gave me the calm or more “yin” energy. Suddenly, a line of poem by J.W Goethe appeared in my mind…”das Nähe wird weit”, means “the near is getting far”. Was heute sehr wichtig ist, kann morgen unwichtig sein. Same scene, different shots, different perspectives.

So…portrait? Or landscape?

Weekly Photo Challenge : One Shot, Two Ways

Tanjung Bira, South Sulawesi : How to get there?

How to get there?

How to get there?

Hari masih pagi saat gw dan travelmate gw kali ini melangkahkan kaki di jalanan Makassar yang masih cukup lengang. Tujuan gw hari ini yaitu sebuah pantai  berpasir putih yang  terletak di Kabupaten Bulukumba, sekitar 200 kilometer dari Makassar, Pantai Tanjung Bira. Dengan budget yang terbatas, tentunya gw memilih menggunakan angkutan umum. So, meluncurlah gw ke Terminal Malengkeri dengan angkot warna biru telor asin dari depan RRI Makassar. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit, dan merogoh kocek sebesar 4rb rupiah. Ini tarif angkot paska kenaikan BBM, huhuhu…

Sesampainya di terminal, gw langsung disambut calo-calo angkutan yang dengan semangat ’45 menawarkan jasanya. Di Indonesia, di mana-mana sama aja, kalo masuk terminal pasti deh langsung berasa kaya artis, dikerubutin gitu… 😀 *krik…krik*. Salah seorang bapak calo yang wajahnya tampak agak meyakinkan menawarkan angkutan langsung ke Tanjung Bira seharga 80rb. Buset, perasaan dari hasil googling, tarifnya sekitar 50rban aja deh. Sial, yasalam, mungkin karena pas banget sama timing post-kenaikan-BBM kali ya. Tapi si bapak ini meyakinkan kalau nanti kita akan didrop tepat di area pantai, kalo nggak, nggak usah bayar katanya. Dalem hati sih berharap diturunin di tengah jalan aja, jadi nggak usah bayar #lho.

Setelah perut kenyang diisi Sop Konro di salah satu warung di pojok terminal, kami pun berangkat. Mobil angkutannya tipe mobil Kijang gitu, cukup nyaman. Gw dan temen gw dapet tempat di kursi belakang, tapi it’s okay lah, toh cuma 6 jam perjalanan. Selain kami berdua, ada juga sepasang backpacker dari Jerman, dan seorang bapak yang akan menuju Bulukumba. Perjalanan pun dimulai dengan riang, dan diiringi musik dangdut yang diputar dengan suara maksimal. Pak sopir memacu mobil dengan kecepatan kayak mau nganter istri yang hampir melahirkan. Ngebut! Dan lagi beliau ini nggak henti-hentinya mengklakson menyingkirkan kendaraan-kendaraan yang menghalangi jalannya. Alhasil dag dig dug ser abis deh di dalem mobil. Ngebut dan dangdut!! Asoy……

Pemandangan di kanan dan kiri jalan yang menemani sepanjang perjalanan berupa bentangan sawah yang hijau menghampar, serta beraneka jenis rumah adat Makassar yang berupa rumah panggung berwarna-warni, membuat mata ini nggak mau berkedip rasanya. Plus jalanan yang mulus bak paha Cherrybelle bikin perjalanan terasa nyaman (meski tetep dag dig dug). Di tengah jalan mobil berhenti di warung penjual semangka, yang dijual 10rb rupiah saja per butir. Perjalanan semakin menyenangkan dengan ditemani potongan segar buah semangka gratis (teman gw yang beli soalnya ;p), hehe.

Separuh perjalanan pun berlalu dengan cepat. Kemudian, tiba-tiba si sopir berhenti. Dia menemui sopir angkutan lain yang mobilnya mogok, alhasil 4 penumpang di mobil tersebut terlantar. Sopir kami ikut membantu mencarikan montir, tapi tampaknya mobil mogok tersebut nggak tertolong lagi. Menunggu cukup lama, seorang penumpang di mobil kami sudah ngomel-ngomel nggak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan. Setelah melalui negosiasi yang tampaknya cukup ribet, akhirnya keempat penumpang dari mobil itu diikutkan ke mobil kami. Dua orang bule Aussie dan dua orang lokal. Weks. Akhirnya berjejal-jejalah kami semua di dalem mobil Kijang, empat orang di kursi tengah dan empat orang di kursi belakang. Sebenernya kalo semuanya berbadan mungil gitu nggak masalah kali ya. Lha ini… *menatap nanar tumpukan lemak bokong* 😛 Kasian juga bule-bule yang sempit-sempitan di kursi tengah, hihi, mana body-nya tinggi gede menjulang gitu, sabar eaaaa mas-mas bule…tiga jam lagi kok! 😛 Di tengah berdempet-dempet ria gitu, masih sempet-sempetnya si bule minta difoto dan bercanda-bercanda minta tarif angkutannya didiskon, hihi…

Dari gini...

Dari gini…

Tanjung Bira, South Sulawesi

…jadi gini. Cabal eaaaa mas dan mbak bule… 😛

Tiga jam kemudian, setelah kaki dan bokong berlemak ini hampir kram hasil berdempet-dempetan, plus kuping setengah budeg hasil musik dangdut koplo yang liriknya kadang bikin pengen ketawa sambil nangis, sampailah kami di pintu gerbang Tanjung Bira, dan harus membayar retribusi. Untuk wisatawan asing dikenai tarif 20rb, untuk lokal 10rb. Bule cewek Aussie di sebelah saya langsung protes-protes dengan menunjukkan buku LP Indonesia-nya. Di situ tertulis biaya tiket 5rb. Ya elah mbak, itu LP jaman kapan,  sekarang BBM aja udah naek mbak, dalam hati gw, hehe.

Kawasan Tanjung Bira ini, melebihi ekspektasi gw, ternyata sudah tertata rapi, dengan jalanan mulus, dipenuhi penginapan di kanan dan kiri jalan. Pak sopir berbaik hati mengantar kami mencari penginapan. Gw cukup kaget juga karena bule-bule ini mengincar penginapan yang gw incar juga, Nini’s Guesthouse. Emang kalo udah masuk LP langsung nge-hits kali ya… Sayang banget di Nini’s saat itu kamar yang ada nggak sesuai harapan, sempit dan gelap, meskipun viewnya bagus sih emang, karena dia lokasinya agak ke atas bukit, jadi asik tuh kayanya leha-leha di balkonnya sambil bergalau ria liatin pantai… #tsaahh. Akhirnya kami semua menuju Riswan Guesthouse, nggak jauh dari Nini’s Guesthouse, letaknya tepat di pinggir jalan utama, nggak di bukit, so, nggak ada view di sini, tapi kamarnya murah banget lho! Cukup 100rb/malem aja sekamar, ada 2 bed, kamar mandi dalam, kipas angin, dan luas banget loh, lumayan lah buat koprol-koprol di lantainya mah. Hehe. Yang gw suka sih, kamarnya bentuk kamar panggung gitu, lantainya dari kayu dan dindingnya dari bilik bambu, masih tradisional gitu berasa di desa-desa. Emang sih nggak nyaman-nyaman banget, tapi not bad lah untuk harga segitu… Awalnya gw udah nawar minta dimurahin lagi tapi si bapak pasang muka memelas gitu gw jadi nggak tega 😛 (dasar nggak jago nawar, hiks…).

Riswan Guesthouse, monggo kalo mau dikontak...yang punyanya ramah plus murah meriah.

Riswan Guesthouse, monggo kalo mau dikontak…yang punyanya ramah plus murah meriah.

Penampakan kamar di Riswan Guesthouse

Penampakan kamar di Riswan Guesthouse

Finally, Tanjung Bira. Pantai berpasir bedak, katanya. Is that true? To be continued ah…biar kayak sinetron-sinetron gitu~ *kaburrrr* X)

Summary :

Pete-pete (angkot) Makassar – Terminal Malengkeri : 4rb, 45 menit.

Angkutan ke Tanjung Bira : 80rb, 6 jam.

Tiket masuk Tanjung Bira : 10rb.

Alternatif lain :

Dari Terminal Malengkeri, naik angkutan yang ke Bulukumba : 45rb

Pete-pete Bulukumba – Tanah Beru : 7rb

Pete-pete Tanah Beru – Tanjung Bira : 7rb

Opsi ke-2 ini lebih murah, gw nyoba alternatif ini waktu perjalanan pulang dari Tanjung Bira ke Makassar. Lumayan banget sih, lebih hemat 21rb 🙂 Gimana? Cheap and easy kan?

Next : pasir bedak Tanjung Bira dan snorkeling di Pulau Liukang Loe!

 

Happy traveling, happy life~

Weekly Photo Challenge : Foreshadow

Grandma Panggao, 83 years old, the only yarn spinner left in Toraja

Grandma Panggao, 83 years old, the only yarn spinner left in Toraja, South Sulawesi

Indonesian traditional handmade woven textiles has been widely known for their beauty and considered as a high value art among art collectors from all over the world. Not only because the beauty, but also because of the essence of works of arts, which requiring a high skill and of course, time. Grandma Panggao is the last Yarn Spinner not only in her village, Sadan Village, but also in Toraja. Even reaching 83 years old this year, she still do her everyday work, spinning yarn from cotton that she get from her own garden, with her hundreds years old spinning tool.

Nowadays, young woman have no interests in spinning yarn, she said. With the progress of machine and textile factory, people prefer working with machine instead of preserve the traditional culture. Is this a foreshadow to traditional woven arts extinction?

Weekly Photo Challenge : Foreshadow