Tanjung Bira, South Sulawesi : How to get there?

How to get there?

How to get there?

Hari masih pagi saat gw dan travelmate gw kali ini melangkahkan kaki di jalanan Makassar yang masih cukup lengang. Tujuan gw hari ini yaitu sebuah pantai  berpasir putih yang  terletak di Kabupaten Bulukumba, sekitar 200 kilometer dari Makassar, Pantai Tanjung Bira. Dengan budget yang terbatas, tentunya gw memilih menggunakan angkutan umum. So, meluncurlah gw ke Terminal Malengkeri dengan angkot warna biru telor asin dari depan RRI Makassar. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit, dan merogoh kocek sebesar 4rb rupiah. Ini tarif angkot paska kenaikan BBM, huhuhu…

Sesampainya di terminal, gw langsung disambut calo-calo angkutan yang dengan semangat ’45 menawarkan jasanya. Di Indonesia, di mana-mana sama aja, kalo masuk terminal pasti deh langsung berasa kaya artis, dikerubutin gitu…😀 *krik…krik*. Salah seorang bapak calo yang wajahnya tampak agak meyakinkan menawarkan angkutan langsung ke Tanjung Bira seharga 80rb. Buset, perasaan dari hasil googling, tarifnya sekitar 50rban aja deh. Sial, yasalam, mungkin karena pas banget sama timing post-kenaikan-BBM kali ya. Tapi si bapak ini meyakinkan kalau nanti kita akan didrop tepat di area pantai, kalo nggak, nggak usah bayar katanya. Dalem hati sih berharap diturunin di tengah jalan aja, jadi nggak usah bayar #lho.

Setelah perut kenyang diisi Sop Konro di salah satu warung di pojok terminal, kami pun berangkat. Mobil angkutannya tipe mobil Kijang gitu, cukup nyaman. Gw dan temen gw dapet tempat di kursi belakang, tapi it’s okay lah, toh cuma 6 jam perjalanan. Selain kami berdua, ada juga sepasang backpacker dari Jerman, dan seorang bapak yang akan menuju Bulukumba. Perjalanan pun dimulai dengan riang, dan diiringi musik dangdut yang diputar dengan suara maksimal. Pak sopir memacu mobil dengan kecepatan kayak mau nganter istri yang hampir melahirkan. Ngebut! Dan lagi beliau ini nggak henti-hentinya mengklakson menyingkirkan kendaraan-kendaraan yang menghalangi jalannya. Alhasil dag dig dug ser abis deh di dalem mobil. Ngebut dan dangdut!! Asoy……

Pemandangan di kanan dan kiri jalan yang menemani sepanjang perjalanan berupa bentangan sawah yang hijau menghampar, serta beraneka jenis rumah adat Makassar yang berupa rumah panggung berwarna-warni, membuat mata ini nggak mau berkedip rasanya. Plus jalanan yang mulus bak paha Cherrybelle bikin perjalanan terasa nyaman (meski tetep dag dig dug). Di tengah jalan mobil berhenti di warung penjual semangka, yang dijual 10rb rupiah saja per butir. Perjalanan semakin menyenangkan dengan ditemani potongan segar buah semangka gratis (teman gw yang beli soalnya ;p), hehe.

Separuh perjalanan pun berlalu dengan cepat. Kemudian, tiba-tiba si sopir berhenti. Dia menemui sopir angkutan lain yang mobilnya mogok, alhasil 4 penumpang di mobil tersebut terlantar. Sopir kami ikut membantu mencarikan montir, tapi tampaknya mobil mogok tersebut nggak tertolong lagi. Menunggu cukup lama, seorang penumpang di mobil kami sudah ngomel-ngomel nggak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan. Setelah melalui negosiasi yang tampaknya cukup ribet, akhirnya keempat penumpang dari mobil itu diikutkan ke mobil kami. Dua orang bule Aussie dan dua orang lokal. Weks. Akhirnya berjejal-jejalah kami semua di dalem mobil Kijang, empat orang di kursi tengah dan empat orang di kursi belakang. Sebenernya kalo semuanya berbadan mungil gitu nggak masalah kali ya. Lha ini… *menatap nanar tumpukan lemak bokong*😛 Kasian juga bule-bule yang sempit-sempitan di kursi tengah, hihi, mana body-nya tinggi gede menjulang gitu, sabar eaaaa mas-mas bule…tiga jam lagi kok!😛 Di tengah berdempet-dempet ria gitu, masih sempet-sempetnya si bule minta difoto dan bercanda-bercanda minta tarif angkutannya didiskon, hihi…

Dari gini...

Dari gini…

Tanjung Bira, South Sulawesi

…jadi gini. Cabal eaaaa mas dan mbak bule…😛

Tiga jam kemudian, setelah kaki dan bokong berlemak ini hampir kram hasil berdempet-dempetan, plus kuping setengah budeg hasil musik dangdut koplo yang liriknya kadang bikin pengen ketawa sambil nangis, sampailah kami di pintu gerbang Tanjung Bira, dan harus membayar retribusi. Untuk wisatawan asing dikenai tarif 20rb, untuk lokal 10rb. Bule cewek Aussie di sebelah saya langsung protes-protes dengan menunjukkan buku LP Indonesia-nya. Di situ tertulis biaya tiket 5rb. Ya elah mbak, itu LP jaman kapan,  sekarang BBM aja udah naek mbak, dalam hati gw, hehe.

Kawasan Tanjung Bira ini, melebihi ekspektasi gw, ternyata sudah tertata rapi, dengan jalanan mulus, dipenuhi penginapan di kanan dan kiri jalan. Pak sopir berbaik hati mengantar kami mencari penginapan. Gw cukup kaget juga karena bule-bule ini mengincar penginapan yang gw incar juga, Nini’s Guesthouse. Emang kalo udah masuk LP langsung nge-hits kali ya… Sayang banget di Nini’s saat itu kamar yang ada nggak sesuai harapan, sempit dan gelap, meskipun viewnya bagus sih emang, karena dia lokasinya agak ke atas bukit, jadi asik tuh kayanya leha-leha di balkonnya sambil bergalau ria liatin pantai… #tsaahh. Akhirnya kami semua menuju Riswan Guesthouse, nggak jauh dari Nini’s Guesthouse, letaknya tepat di pinggir jalan utama, nggak di bukit, so, nggak ada view di sini, tapi kamarnya murah banget lho! Cukup 100rb/malem aja sekamar, ada 2 bed, kamar mandi dalam, kipas angin, dan luas banget loh, lumayan lah buat koprol-koprol di lantainya mah. Hehe. Yang gw suka sih, kamarnya bentuk kamar panggung gitu, lantainya dari kayu dan dindingnya dari bilik bambu, masih tradisional gitu berasa di desa-desa. Emang sih nggak nyaman-nyaman banget, tapi not bad lah untuk harga segitu… Awalnya gw udah nawar minta dimurahin lagi tapi si bapak pasang muka memelas gitu gw jadi nggak tega😛 (dasar nggak jago nawar, hiks…).

Riswan Guesthouse, monggo kalo mau dikontak...yang punyanya ramah plus murah meriah.

Riswan Guesthouse, monggo kalo mau dikontak…yang punyanya ramah plus murah meriah.

Penampakan kamar di Riswan Guesthouse

Penampakan kamar di Riswan Guesthouse

Finally, Tanjung Bira. Pantai berpasir bedak, katanya. Is that true? To be continued ah…biar kayak sinetron-sinetron gitu~ *kaburrrr* X)

Summary :

Pete-pete (angkot) Makassar – Terminal Malengkeri : 4rb, 45 menit.

Angkutan ke Tanjung Bira : 80rb, 6 jam.

Tiket masuk Tanjung Bira : 10rb.

Alternatif lain :

Dari Terminal Malengkeri, naik angkutan yang ke Bulukumba : 45rb

Pete-pete Bulukumba – Tanah Beru : 7rb

Pete-pete Tanah Beru – Tanjung Bira : 7rb

Opsi ke-2 ini lebih murah, gw nyoba alternatif ini waktu perjalanan pulang dari Tanjung Bira ke Makassar. Lumayan banget sih, lebih hemat 21rb🙂 Gimana? Cheap and easy kan?

Next : pasir bedak Tanjung Bira dan snorkeling di Pulau Liukang Loe!

 

Happy traveling, happy life~

10 thoughts on “Tanjung Bira, South Sulawesi : How to get there?

  1. wahhh akhirnya ditulis juga ya bu dokter.. jadi inget nginep di Riswan Guesthouse.. murah meriah.. saya waktu itu sendirian nginep cuma 80 rb .. ngobrol ngalur ngidul sama pak riswan, sama istrinya (lupa namanya) .. kesorean (akhirnya kemaleman) di pelabuhan bira trus dianter sama anaknya ke sana.. nice trip..jadi kangen balik ke sana. hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s