I Left My Mind at Tanjung Bira

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

Tanjung Bira, pantai berpasir putih seperti bedak di ujung Sulawesi Selatan, berjarak 6 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar (how to get there? ada di sini). Seorang kenalan asal Toraja mengatakan, Tanjung Bira ini merupakan Bali-nya Sulawesi. Is that true? Well, yang jelas gw sangat terkesan dengan infrastruktur yang dibangun dengan baik di Tanjung  Bira. Jalanan yang mulus, dengan pepohonan dan bunga-bunga yang asri menyambut kedatangan gw untuk pertama kalinya di pantai yang terkenal dengan pasir bedaknya ini. Penginapan yang berderet-deret di tepi jalan pun memastikan mudahnya mencari akomodasi di Tanjung Bira. Beruntunglah gw, datang ke sana saat bulan Ramadan, di saat kebanyakan orang sedang berpuasa, tentunya sedikit yang liburan ke pantai, so, less crowd and at low season, I thought that this is a perfect time to chill out dan menghindar sesaat dari keramaian kota Bandung yang terkadang, even I love Bandung so much, mulai menyesakkan.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki ke pasir putih pantai Tanjung Bira adalah : “Pantai kok dingin ya?” Saat itu semilir angin berhembus pelan, nggak kencang-kencang amat, tapi cukup sejuk dan menghilangkan penat setelah duduk di mobil angkutan selama hampir 7 jam. Langit berwarna biru kalem (kalem?) dihiasi awan-awan putih yang menggantung dan beriring semarak. Cerah, tapi matahari bersinar malu-malu, seakan malas membagi kehangatannya sore itu. Di bawah kedua kaki gw terhampar butiran lembut pasir berwarna putih pucat, penasaran, gw meraup segenggam, dan ternyata benar, memang sehalus bedak. Langsung terbayang bedak Mars (ups nyebut merk ;p) yang dulu sering gw pake waktu kecil. Gw tenteng kedua sandal di tangan kanan, dan berjalan menyusuri tepi pantai yang memiliki garis pantai yang sangat panjang. Uniknya, pantai Tanjung Bira ini sama sekali tidak memiliki karang. Berbeda dengan beberapa pantai lain yang pernah gw kunjungi, biasanya di beberapa spot terdapat karang-karang besar atau kecil, tetapi Tanjung Bira ini bebas dari karang. So, kita bisa bebas berjalan menyusuri seluruh tepian pantai dengan pasir putihnya yang terhampar cantik, kadang bersemu warna pink, gw juga menemukan beberapa pecahan coral warna pink di tepi pantai, mungkin ini penyebabnya. Di beberapa tempat, tampak kapal-kapal nelayan berlabuh, tampak juga beberapa speedboat yang bisa disewa untuk perjalanan menyeberang ke Pulau Liukang Loe yang berjarak selemparan batu, hanya 15 menit saja dari Tanjung Bira.

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3 (foto ini nongol juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Pantai Tanjung Bira ini masih sangat bersih, airnya jernih dan belum tercemar sampah sama sekali, meskipun di tepi pantainya sendiri bisa ditemukan berbagai macam sampah yang terbawa arus dan berlabuh di tepi Tanjung Bira. Tapi overall masih termasuk bersih dan terawat, dan warga tampak mengumpulkan berbagai sampah tersebut dan mengumpulkannya di salah satu sudut pantai. Nice effort, I think.

Salah satu bangunan yang mungkin menjadi trademark dan nggak akan terlewat di Tanjung Bira ini mungkin adalah restoran berbentuk kapal phinisi yang berada di tepi pantai. It really looks real. So cool. Perahu dari kayu berwarna coklat dengan ukuran real (which is, very big), lengkap dengan tiang-tiangnya yang tinggi dan kokoh, menunjukkan kemegahan dan kekuatan tersendiri, well, how can I say this? Maybe if he is a man, then I will say he is a “classic masculin” type😀. So, kapal ini “parkir” gitu aja di atas tebing di tepi pantai, tembok di kedua sisinya terbuat dari batu dan dihiasi bunga-bunga yang merambat indah di atas batu, well, I must said that this is really georgeous. Not a common view I can see everyday. Sebenernya pengen banget banget banget masuk and maybe having dinner inside, tapi apa mau dikata, tipisnya budget membuat gw cukup puas cuma berfoto-foto di depannya aja. Yang penting narsisnya dulu deh, hehe… Btw, you should see this place at night too. So so so beautiful with the lights, plus deburan ombak yang sayup-sayup terdengar dari tepi pantai. :3 So, I thought about a candle light dinner, Jazz or Sabrina music slowly played from the tape, the whistling sound of the wind, and soft murmur of the wave from outside ship dock…

……….tapi gw jomblo. (lalu bunga-bunga pun berguguran)…

Kapal phinisi yang "parkir" sembarangan.

Kapal phinisi yang “parkir” sembarangan.

Phew. Back to story. So…sampe mana gw tadi?😛

Selain resto phinisi yang unik ini, gw juga menemukan hal unik yang baru pertama kali gw temukan terbaring di pantai, yaitu : Tiang listrik. Hah?! Iye, serius, ada banyak banget besi-besi segede-gede gaban yang ternyata menurut nelayan yang berada di TKP, itu adalah tiang listrik. Kok bisa sih tiang listrik sebanyak itu digeletakkin di pantai, nggak ngerti juga deh gw, tapi katanya sih nanti bakal ada yang ngangkut tiang-tiang listrik ini, yang sebelumnya diangkut pake kapal. Oke deh. Rada aneh juga sih sebenernya (-.-)

Tiang listrik, anyone? No?

Tiang listrik, anyone? No?

Gw pun sempet berjalan-jalan mengeksplor area sekitar tebing di Tanjung Bira, and well well, what did I find? Bars. Yeap. Bars everywhere. Bar dan tempat karaoke, meskipun tampak kumuh dan dibangun seadanya, tapi jumlahnya lumayan banyak, dengan plang-plang bergambar Bir Bintang menggantung di tiap sudutnya. Agak sayang juga sih, karena mengikuti selera pasar (baca : bule) kali ya, makanya bar-bar ini jadi menjamur. Hmmm…meskipun gw bukan tipe konservatif, tapi tetep aja ngerasa gimanaaa gitu kalo di pantai seindah dan sesepi ini ter-Westernized…jadi kaya Kuta yang udah kehilangan feel Indonesianya…

"local bar"

“local bar”

Berhubung mengunjungi Tanjung Bira saat bulan puasa, yasalam susah banget nyari tempat makan di sini. Cuma ada beberapa warung makan yang buka, itu pun menunya yang terjangkau cuma Nasi Campur (isinya nasi, ayam, telor, sayur cap cay) sama nasi goreng, itu pun seharga Rp 15.000-20.000an, which is, menurut gw sih rada mahal ya, meskipun rasanya lumayan enak juga. Dua tempat makan yang lumayan nge-hits di sini tampaknya Pondok Bambu dan Salassa. Keduanya ada di pinggir jalan utama Tanjung Bira. Menunya selain menu masakan Indonesia, juga banyak menu Western, tapi harganya juga lumayan membobol kantong, hiks. Selain itu ada juga restoran kecil di Bira Beach Hotel, resto ini lokasinya di terrace yang langsung menghadap pantai. Asik banget nih makan di sini, nasi campurnya juga yummy, tapi harganya Rp 20.000 #ngok. Sebetulnya banyak warung makan yang berjejer di atas tebing di tepi pantai, tampaknya harganya lebih bersahabat, tapi berhubung bulan puasa, nggak ada yang buka…😦 Di luar kompleks Tanjung Bira, sepanjang jalan menuju Pelabuhan Bira juga bisa ditemukan beberapa warung makan, so urusan perut sih terjamin lah di sini, hehe…

Dinner? ^^

Dinner? ^^

Memori paling berkesan dan menyenangkan selama trip gw di Tanjung Bira justru bukan pantainya, bukan spot snorkelingnya, pulau Liukang Lioenya, atau makanannya. Justru, turning point saat gw ngalamin sarapan bareng bule-bule di warung Salassa. Pagi itu Salassa  penuh, dan kebetulan dua orang bule asal Jerman kenalan gw yang sebelumnya berangkat sama-sama dari Makassar (baca di sini) duduk di salah satu meja, yang kebetulan kursinya masih banyak yang kosong, akhirnya mengajak kami bergabung. Jujur, sebelumnya gw masih nggak pede kalo disuruh ngobrol pake bahasa Inggris. Meskipun secara pasif kemampuan bahasa Inggris gw bisa dibilang lancar, tapi kalau harus ngobrol, kadang gw masih jiper dan malu-malu. Finally, at that time, gw berhasil ngobrol panjang lebar sama bule-bule ini, kebetulan banget mereka sangat ramah, dan karena gw emang berencana ngelanjutin studi gw ke Jerman, so gw antusias banget ngobrol sama mereka. Entah gimana, rasa jiper itu hilang juga. Ternyata gw bisa ngobrol sama bule T.T *sungguh ndeso yak*.

Nggak lama, seorang bule asal Perancis bergabung, and it turned out to be a very nice conversation between us. Dan si bule Perancis ini udah keliling Sulawesi dan daerah timur Indonesia, bikin gw malu deh, orang Indonesia tapi belum pernah ke daerah timur, hih! Bikin makin semangat traveling! Malu sama orang luar yang so enchanted sama Indonesia, masa kitanya sendiri cuma diem di tempat aja? Untung berkat promo Citilink kali ini, finally gw bisa menginjakkan kaki ke Sulawesi, hehe…maklum fakir promo😛 So, ngalor-ngidul dari mulai ngomongin pekerjaan, masalah kesehatan, ngomongin tentang belajar bahasa asing, ngomongin tempat wisata di Jerman, Indonesia, dan Perancis, sampe ngomongin tentang freediving dan bahasa sandi rahasia di Perancis, akhirnya pagi yang menyenangkan itu pun harus berakhir. We said good bye to each other, and I left Tanjung Bira, heading back to Makassar, dengan perasaan campur aduk…

Like my travelmate once said…”I left my mind at Tanjung Bira…”

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

      

        

    Happy traveling, happy life~ 

6 thoughts on “I Left My Mind at Tanjung Bira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s