#PeopleAroundUs : Tukang Es Keliling

Tukang Es Kuta Bali

Suatu sore di Pantai Kuta. Langit cerah berwarna biru muda dihiasi gumpalan-gumpalan awan yang menggantung bebas seakan tanpa beban. Di ujung horison tampak warna semburat keemasan yang menandai matahari akan segera kembali ke peraduan, menyambut malam. Terduduk aku di atas pasir pantai yang empuk, menanti momen-momen matahari terbenam, bersama dengan puluhan bahkan ratusan orang-orang yang juga ingin menyaksikan keindahan yang sama.

Dari sekian banyak pengunjung pantai Kuta sore itu, sesosok manusia menarik perhatianku. Seorang pria paruh baya, dengan postur yang tidak kekar, apalagi berotot, tetapi figurnya menampilkan sosok yang kokoh, sosok pekerja keras. Kulitnya coklat kehitaman tanda seringnya terpapar sinar matahari Bali yang terik. Untuk mengakalinya, dia memakai kaus putih berlengan panjang, di balik seragam rompi kutung merahnya dengan logo sebuah merk es krim ternama di Indonesia. Menemani rompi merah menyalanya yang sepertinya belum cukup catchy, sebuah topi berwarna sama pun bertengger di atas kepalanya. Topi dengan tepi melebar yang mungkin sengaja disediakan oleh perusahaannya untuk memberi perlindungan maksimum dari sengatan sinar matahari. Di pundaknya tercangklong sebuah tali, tetapi yang dibawanya bukanlah tas kain Bali seperti kebanyakan turis yang berseliweran di Kuta, melainkan sebuah boks berukuran cukup besar, berwarna biru dengan logo berbentuk hati yang berwarna merah dan putih di tengahnya. Aku menebak dari ukurannya, pasti tidak ringan. Belum lagi “angkutan” es-es yang dibawanya. Di tangan kirinya, ia memegang sehelai kertas berlaminating yang menunjukkan berbagai gambar menarik es-es yang dijualnya. Persenjataannya sudah lengkap tampaknya. Santai, dengan bercelana pendek  dan bersandal jepit, ia pun berjalan menelusuri tepi pantai Kuta.

Sedari kapan ia telah berjalan, aku tak tahu. Tapi dari peluh keringatnya, aku menebak ia telah melalui hari yang panjang. Meskipun begitu, tak tampak raut cemberut di wajahnya. Ia hanya berjalan dan berjalan, sesekali menatap wajah turis-turis di sekitarnya dan melemparkan senyum. Berharap panasnya udara Kuta dapat membujuk mereka untuk membeli es dagangannya. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Tak ada kalimat-kalimat paksaan seperti yang sering dilancarkan pedagang-pedagang souvenir di sepanjang tepi pantai. Hanya senyuman yang menjadi andalannya. Mungkin ia sudah lelah berjalan. Atau mungkin ia tidak ingin mengganggu pengunjung yang sedang melewati momen-momen berharganya. Meskipun begitu, toh banyak juga yang memanggil dirinya dan melihat-lihat isi boks yang dicangklongnya. Rupiah demi rupiah dijejalkan ke tangannya, bungkusan-bungkusan es berpindah tangan. Senyum berbalas senyum. Peluh diusap. Dan ia pun terus berjalan…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

2 thoughts on “#PeopleAroundUs : Tukang Es Keliling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s