#PeopleAroundUs : See Me, But Don’t Judge Me

Bangla Road Phuket Thailand

See me, but don’t judge me.

 

Russia, 2009…

di tengah ruangan kecil dalam apartemen bobrok di pinggiran kota Moskow, aku meringkuk. Kepalaku seperti dirajam ribuan jarum. Lenganku lebam. Kakiku berdarah. Aku meraba bahuku sambil meringis. Terbayang kembali sabetan keras ikat pinggang hitam pria itu. Berkali-kali, berkali-kali. Mencambuk lenganku, punggungku, wajahku, perutku. Setetes darah segar membasahi tepi bibirku. Amis. Aku harus lari. Kuusap perutku. Semoga kau baik-baik saja di sana Nak…

Bangkok, 2010…

senyummu terkembang memainkan jemariku. Pipimu memerah seiring dengan memanasnya cuaca siang ini. Kaus katun putih kusam bergambar anak beruang warna-warni menempel begitu lekat di badanmu mungilmu, yang saat ini basah oleh keringat. Tapi engkau tidak menangis. Ranjang bayi dari kayu ini berderit sedikit saat kau bergerak-gerak penuh semangat di dalamnya. Kutatap jendela. Pemandangan rumah-rumah kumuh berjajar di depan mata, asap kendaraan hitam kelabu memenuhi udara. Suara-suara lenguhan dan derit pelan ranjang terdengar samar-samar dari kamar sebelah. Aroma masam sup Tom Yam basi menyeruak. Aku menutup jendela. Tak rela anakku harus hidup seperti ini.

Phuket Town, 2012…

setengah berlari aku menuju rumah. Kudorong pagar besi yang dicat putih mengkilat. Kuberlari melintasi halaman, tak peduli beberapa bunga mati terinjak. Kupanggil-panggil namamu. Hening. Kucari dirimu di seluruh penjuru rumah. Di ruang tamu. Di dapur. Di garasi. Di kamar tidur. Tak ada. Pria itu menemukanmu. Setelah selama ini, akhirnya dia menemukanmu. Setelah selama ini. Merampasmu. Aku tergugu.

Bangla Road, 2012…

kuturunkan sedikit belahan dada gaunku. Sulit rasanya bernafas dalam gaun ketat ini. Kalau masih bisa dibilang gaun. Bagiku ini hanya sehelai kain mengkilap murahan yang norak dan kekurangan bahan. Ukurannya pun terlalu kecil untukku. Bahannya membuat gatal tubuhku. But show must go on. Musik sudah dimainkan. Pening kepalaku terkungkung di dalam kotak kaca ini. Lampu-lampunya menyilaukan mataku. Kulenggak-lenggokan pinggulku seadanya. Toh belum terlalu malam. Pengunjung belum terlalu ramai. Hanya tampak kerumunan kecil turis lokal di depan bar dengan tatapan kosongnya seperti biasa. Kuangkat kedua lenganku, kugerai rambut coklat keemasanku, kubusungkan dadaku. Kucoba menyelaraskan goyanganku dengan irama dentuman house music yang membosankan. Satu hari lagi yang harus kuselesaikan. Satu rayuan palsu lagi yang harus kulontarkan. Satu klien lagi yang harus ditemani. Berarti satu amplop penuh lembaran ratusan Baht lagi hari ini. Sialnya seluruh kepunyaanku sekarang masih saja belum cukup untuk menebus dirimu, hak milikku. Anakku.

 

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

#PeopleAroundUs : Laut adalah Hidupku

Liukang Loe Tanjung Bira Indonesia

Tanjung Bira, 14 September 2013

Angin pantai dan deru ombak adalah temanku. Setiap hari bermain ku dengan gulungan-gulungan ombak. Ada yang kecil, rasanya menggelitik, ada yang besar, siap menerkam maut. Ombak adalah temanku. Aku mengenalnya sejak aku masih terbuai di dalam kandungan ibuku. Aku mendengar suaranya yang sayup-sayup memecah karang di kejauhan. Aku mendengar suaranya yang berdebur keras menghantam kapal bapakku. Aku mendengar suaranya yang lembut, menggelitik kaki ibuku. Terbuai aku dalam kemerduan suaranya yang menyatu dengan desiran angin laut, nyaman aku di dalam ibuku.

Tumbuh besar aku di antara pecahan kasar karang dan kerang. Warna-warninya selalu membuatku terpesona. Merah, biru, ungu, putih mengkilat bagai  mutiara. Sering kupendam kakiku yang mungil dalam-dalam di pasir pantai yang empuk. Warnanya putih pucat, sepucat warna bibir ibuku kala itu. Oh ibu, mengapa begitu cepat kau meninggalkan aku…

Aku dilatih untuk menjadi pejuang. Kutaklukkan laut yang sedang marah, kupelajari segala lika-likunya. Kuhapal semua lokasi karang-karang maut yang bisa membuat kapalku karam. Kupahami bahasa angin yang rumit, kapan ia sedang malas, kapan ia mengamuk murka, kapan ia berbaik hati menuntunku menjelajah lautan. Laut adalah hidupku. Ia tidak menjanjikan emas berlian. Ia tidak membuatku bermandikan uang. Ia tidak menjamin hidupku bergelimang harta. Tapi laut adalah hidupku. Di sana aku menemukan kedamaian. Aku mengenalnya lebih dari aku mengenal orangtuaku. Aku mencintainya lebih dari aku mencintai istriku.

Aku menatap horison. Adakah kehidupan lain di ujung sana? Dunia gemerlap yang penuh dengan manusia tampan dan molek. Dunia yang penuh dengan manusia intelek. Yang berpikir dirinya yang paling hebat. Yang sibuk menuntut dirinya dihargai. Sibuk mengumpulkan pundi-pundi duniawi. Tak harus berpeluh keringat untuk menyambung hidup.

Ah, tapi aku lebih cinta laut…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

#PeopleAroundUs : Melihat Puma

Singapore zoo Puma

Lihat, lihat!!

“Binatang apa ya itu?”

“itu macan”

“Bukan, itu singa”

“Bukan. Kalau singa kepalanya besar, rambutnya banyak”

“Kata mamiku, kalau macan itu loreng-loreng”

“Terus itu apa dong?”

“Aku mau boneka kayak gitu di rumah. Buat disayang-sayang”

“Dia nguap!”

“Kenapa gak boleh dipegang? Dia galak ya?”

“Iya, kukunya panjang, nanti kalau dicakar sakit”

“Kan kasihan dia di dalem situ terus, apa nggak bosen?”

“Ih, kupingnya gerak-gerak!!”

“Kalau udah gede, aku mau pegang dia ah”

“Aku mau beli satu buat di rumah”

“Mana bisa, rumah kamu kan kecil”

“Dia bisa bobok di kamarku kok”

“Tapi kata bu guru, tempat tinggal dia di hutan”

“Tapi, kenapa dia di sini?”

(Singapore Zoo, 16 Mei 2013)

 

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

#PeopleAroundUs : Dipeluk Ibu

kepulauan seribu indonesia

Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sisimu.

Ibu. Kata yang paling indah. Wajah yang paling cantik. Sosok yang paling dirindukan. Kenangan tak terlupakan.

Kapal kayu itu berwarna biru muda, dan tiang-tiangnya dicat merah menyala. Cantik, namun tampak kusam termakan waktu. Jangan tanya berapa umurnya, aku yakin sudah cukup lama dia berada di lautan untuk mengenal lika-liku perjalanan menuju pulau-pulau kecil yang tersebar di Kepulauan Seribu. Bendera merah-putih di atas dek berkibar-kibar tertiup angin. Suara ombak sayup-sayup pecah menabrak tepian badan kapal.

Di dalamnya, puluhan manusia berjejal-jejal memadati setiap jengkal lantai kapal. Puluhan manusia dengan tujuan dan kebutuhannya masing-masing. Dengan beraneka macam pose yang tampak dipaksakan senyaman mungkin. Karena mustahil merasa nyaman di tengah himpitan manusia-manusia dan beraneka macam barang-barang bawaannya. Belum lagi lantai yang ternoda sisa-sisa kotoran dari Pelabuhan Muara Angke yang berbau amis.

Namun, ibu dan anak ini seakan tak peduli. Di tengah kesemrawutan kapal yang perlahan-lahan membawa kami meninggalkan Jakarta, mereka berdua tertidur lelap. Si anak dalam pelukan. Pulas terbawa mimpi-mimpinya yang menyenangkan. Mungkin di dalam mimpinya ia tengah menjadi seorang superhero. Superman lokal yang menyelamatkan dunia. Atau mungkin ia sedang memimpikan rumah. Yang sudah beberapa hari ia tinggalkan. Rumah tempat ia bisa berbaring dengan tenang tanpa gangguan suara orang-orang yang berbincang ribut seperti sekarang ini. Atau mungkin ia dibawa ke dunia fantasi, dunia penuh awan lembut seputih kapas, yang bisa dimakan dan manis rasanya. Dunia mimpi di mana ia bebas menjadi siapa saja.

Si ibu lelah. Badannya pegal setelah seharian menggotong dus mie instan yang berat, belum lagi tas berisi barang-barang berharga dan uang yang masih tersisa untuk menjaga asap dapur tetap mengepul sampai akhir bulan tiba. Dan anaknya. Yang terlalu lincah selalu berusaha melepaskan diri dari genggaman tangannya. Anaknya yang penuh ingin tahu, ingin ke sini dan ke situ. Ia lelah. Betapa lega hatinya bisa mendudukan dirinya di salah satu sudut kapal yang, meskipun jauh dari nyaman, tapi cukup baginya. Ia mencoba tertidur. Dipeluknya anaknya.

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

#PeopleAroundUs : Tukang Es Keliling

Tukang Es Kuta Bali

Suatu sore di Pantai Kuta. Langit cerah berwarna biru muda dihiasi gumpalan-gumpalan awan yang menggantung bebas seakan tanpa beban. Di ujung horison tampak warna semburat keemasan yang menandai matahari akan segera kembali ke peraduan, menyambut malam. Terduduk aku di atas pasir pantai yang empuk, menanti momen-momen matahari terbenam, bersama dengan puluhan bahkan ratusan orang-orang yang juga ingin menyaksikan keindahan yang sama.

Dari sekian banyak pengunjung pantai Kuta sore itu, sesosok manusia menarik perhatianku. Seorang pria paruh baya, dengan postur yang tidak kekar, apalagi berotot, tetapi figurnya menampilkan sosok yang kokoh, sosok pekerja keras. Kulitnya coklat kehitaman tanda seringnya terpapar sinar matahari Bali yang terik. Untuk mengakalinya, dia memakai kaus putih berlengan panjang, di balik seragam rompi kutung merahnya dengan logo sebuah merk es krim ternama di Indonesia. Menemani rompi merah menyalanya yang sepertinya belum cukup catchy, sebuah topi berwarna sama pun bertengger di atas kepalanya. Topi dengan tepi melebar yang mungkin sengaja disediakan oleh perusahaannya untuk memberi perlindungan maksimum dari sengatan sinar matahari. Di pundaknya tercangklong sebuah tali, tetapi yang dibawanya bukanlah tas kain Bali seperti kebanyakan turis yang berseliweran di Kuta, melainkan sebuah boks berukuran cukup besar, berwarna biru dengan logo berbentuk hati yang berwarna merah dan putih di tengahnya. Aku menebak dari ukurannya, pasti tidak ringan. Belum lagi “angkutan” es-es yang dibawanya. Di tangan kirinya, ia memegang sehelai kertas berlaminating yang menunjukkan berbagai gambar menarik es-es yang dijualnya. Persenjataannya sudah lengkap tampaknya. Santai, dengan bercelana pendek  dan bersandal jepit, ia pun berjalan menelusuri tepi pantai Kuta.

Sedari kapan ia telah berjalan, aku tak tahu. Tapi dari peluh keringatnya, aku menebak ia telah melalui hari yang panjang. Meskipun begitu, tak tampak raut cemberut di wajahnya. Ia hanya berjalan dan berjalan, sesekali menatap wajah turis-turis di sekitarnya dan melemparkan senyum. Berharap panasnya udara Kuta dapat membujuk mereka untuk membeli es dagangannya. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Tak ada kalimat-kalimat paksaan seperti yang sering dilancarkan pedagang-pedagang souvenir di sepanjang tepi pantai. Hanya senyuman yang menjadi andalannya. Mungkin ia sudah lelah berjalan. Atau mungkin ia tidak ingin mengganggu pengunjung yang sedang melewati momen-momen berharganya. Meskipun begitu, toh banyak juga yang memanggil dirinya dan melihat-lihat isi boks yang dicangklongnya. Rupiah demi rupiah dijejalkan ke tangannya, bungkusan-bungkusan es berpindah tangan. Senyum berbalas senyum. Peluh diusap. Dan ia pun terus berjalan…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^