Why You Should Go to Ora Beach, at Least Once

image
Maldives-nya Indonesia. Konon itulah julukan yang disematkan pada pantai Ora yang terletak di Seram Utara, Maluku. Pantai Ora merupakan bagian dari The Ora Eco Resort. Berlokasi di Teluk Sawai dengan latar Pegunungan Manusela yang terkenal dengan keanekaragaman flora dan faunanya, Ora Eco Resort ini pun menggelitik rasa penasaran saya untuk mengunjunginya. Bagaimana tidak? Enam buah cottage kayu yang berdiri tepat di atas laut dengan pemandangan laut biru yang jernih dan koral berwarna-warni siap menyambut tamu yang bersedia merogoh kocek sebesar 700.000 rupiah per malamnya. Mahal memang, tapi pengalaman yang didapat pun sebanding dengan harganya. Untuk mengakali cost resort yang mahal, saya pun memilih untuk melakukan perjalanan secara mandiri alias tidak mengikuti tour yang disediakan oleh pihak resort ataupun agensi wisata.

image

Kapal feri rute Tulehu-Amahai


Untuk mencapai Ora Resort, saya mengambil penerbangan Jakarta – Ambon dengan menggunakan maskapai Batik Air, harga promo pada bulan April 2014 yaitu sebesar 800.000 rupiah one way. Sesampainya di Ambon, bisa menggunakan bus DAMRI (Rp. 30.000,-) untuk menuju pusat kota, dengan rute terakhir berhenti di Gong Perdamaian. Untuk mencapai pulau Seram, saya menggunakan kapal feri Express Cantika kelas ekonomi dengan harga tiket Rp. 90.000,- one way. Kapal feri ini berangkat dari Pelabuhan Tulehu, kira-kira 30 menit berkendara dari pusat kota Ambon. Perhatikan jam keberangkatan kapal feri menuju Pelabuhan Amahai di pulau Seram, yaitu jam 9 pagi dan 4 sore, khusus hari Minggu hanya beroperasi jam 11 siang. Di dalam kapal feri kelas ekonomi banyak pedagang yang berjualan snack dan air minum. Tempat duduk pun cukup nyaman meskipun saya memilih untuk naik ke atas dek dan menikmati pemandangan pulau-pulau kecil di sekitar pulau Ambon yang kami lewati. Perjalanan selama 2 jam pun tak terasa, ditemani oleh angin sepoi-sepoi, laut biru yang cantik dan rombongan lumba-lumba yang berlompatan di belakang kapal feri, saya pun sampai di Pelabuhan Amahai yang terletak di pinggiran kota Masohi, Seram Selatan.
image

Panorama Pegunungan Manusela di Pulau Seram


Mencapai pusat kota Masohi saya menggunakan angkot dengan tarif Rp.5000,-. Angkot berhenti tepat di depan Pasar Masohi. Di sinilah kita bisa mencari mobil-mobil carteran atau di sana diistilahkan “taxi” untuk menuju ke Desa Saleman, Seram Utara. Tarif untuk taxi ini bervariasi tergantung jumlah penumpang dan negosiasi, saat itu karena sedang low season, saya memperoleh harga 100.000 rupiah per orang, padahal taxi hanya diisi oleh dua orang saja. Ini salah satu keuntungan pergi di saat weekdays dan low season, meskipun saat itu saya harus menunggu berjam-jam untuk berangkat karena sang sopir masih menunggu calon penumpang. Perjalanan menuju Desa Saleman ditempuh selama 2,5 jam, menembus pegunungan dan hutan, dengan kondisi jalan yang agak offroad, berlumpur dan berkelok-kelok. Lelah memang, tapi panorama pegunungan Manusela yang hijau dan rimbun serasa membius dan membuat perjalanan tak membosankan, at least for me. Apalagi sesampainya di Desa Saleman, saya disambut oleh Teluk Sawai yang sangat indah, dengan airnya yang berwarna biru toska, sangat tenang hampir tak beriak, dengan latar hijaunya pegunungan Manusela yang berdiri megah, breathtaking and almost sureal…
image

Ora Resort dengan latar hijaunya pegunungan Manusela

Dari Desa Saleman, untuk menyebrang ke Ora Resort saya harus menaiki speedboat dengan tarif Rp. 150.000,- selama kurang lebih 10 menit. Dari kejauhan sudah tampak cottage-cottage kayu yang menjadi andalan Ora Resort, dengan pantai pribadinya yang landai dan berpasir putih. Resort ini jauh dari kesan luxurious. Jembatan kayu dan rumah-rumah beratapkan rumbia yang sederhana menyambut kedatangan saya. Suasananya begitu alami dan natural, sesuai dengan tema Eco Resort yang diutamakan oleh Alvin, sang pengelola.

image

No need of fancy or luxurious houses. These are better!

Tepat berada di atas laut, saya hanya bisa tercengang ketika menyadari halaman depan dan belakang cottage yang akan saya tiduri malam itu bukan tanah, bukan rumput, bukan semen, melainkan laut. Ya, kalau mengutip nyanyian Syahrini, “maju cantik laut, mundur cantik laut”! Dari teras cottage sudah tampak hamparan koral warna-warni dan berbagai jenis ikan dan bahkan penyu, berenang hilir mudik ke sana ke mari. Ya, penyu! It was like a dream. Snorkeling time!

image

Inside the cottage. So romantic, isn't it?

image

Our "backyard" :3

image

Leyeh leyeh di sini? Boleh... 🙂

image

Our "frontyard" :3

Kondisi koral di Ora sendiri masih lumayan bagus, meskipun di muka cottage banyak koral-koral yang sudah rusak, saya duga karena banyak tamu yang melompat langsung dari teras cottage dan berakhir mematahkan koral-koral, hiks. Jangan ditiru ya kawan… Visibility clear, kurang lebih sampai lima meter, koral didominasi oleh jenis hard coral, dan berbagai jenis ikan dan penyu. Overall snorkeling di Ora lumayan recommended, meskipun nothing special kecuali suasana eksklusif dari resort itu sendiri, karena jumlah pengunjung yang masih sedikit, terutama saat weekdays (saat itu hanya ada empat orang tamu, termasuk saya dan seorang teman saya) dan low season. Saran saya hindari saat weekend karena apabila resort ini ramai pengunjung maka akan terasa kurang nyaman. Idealnya sih kunjungi resort ini untuk honeymoon, hehe…

image

Morning view~

image

Bisa glundungan sepuasnya di private beach ini...

image

image

image

Menikmati sunset dari dalam bathroom... :3

So, masih mikir dua kali untuk mengunjungi Ora Resort?
image

image

Happy traveling, happy life~

Best Travel Moments in 2013 and Why I Want to Travel More

Medischfun travel quote

Approaching the end of 2013, it’s time to reflect and make resolution for new year ahead. Maybe sounds cliché…make resolutions for new year and maybe some people will forget theirs soon after the trumpet blown and fireworks blasted. But I am not that type of person. Every year I usually make big goals to be reached and usually I work hard to accomplish them. Last year it was Thailand which gave me the travelbug. Trip to Thailand opened my eyes and reminded me of my other passion (besides Medicine), is to travel.

Since I was a kid I want to travel the world (well, who doesn’t?). Me and my family travelled a lot, although only domestically, but they always encouraged me to see the world, gather experiences, and taste everything new. The most important thing they taught me is to pursue my passion, no matter what it is.

I grew up with the passion to see the world, then, I fell in love with Human Medicine. When I entered my Medicine study, I don’t want to forget my travel passion, so I sticked a World Map on my bedroom wall. My very bestfriend who know me very very well always sent me birthday card with text : “Hope your wishes to travel the world will come true”.

This year, I learned and experienced a lot, and here I write some of my best travel moments, because some memories are just too precious to be forgotten and worth to be written (typed?) down so it will last, hopefully, forever.

#Unforgettable View

It was a scenic view of rice fields, long and thick bamboo forest, surrounded by green hills, blue mountains and clear blue sky which took my heart away. A road to Batutumonga peak in Tana Toraja, the Land of the Dead located in South Sulawesi. The road is long and bumpy, but sitting on the motorbike for almost two hours with aching pain on your butt is nothing compared with the price…

Batutumonga Tanah Toraja South Sulawesi

#Unforgettable Experience

To sat inside a bamboo hut, ate pa’piong (traditional Torajan food, pork with spices cooked inside a bamboo), under the hut was living pigs walked around, waited to be slaughtered, meanwhile in front of me was living and anxious buffalos, stood there watching their friend’s bodies laid on the ground, cut and left only head and horns… Next to me was another huts, full with people in black clothing, the relatives of the man who died a year ago, mummified and kept in home until the family ready to held the Torajan Funeral Ceremony, and buried (or put inside the stone grave) after then.

Torajan Funeral Ceremony South Sulawesi

#Unforgettable Fun

Transformers The Ride, USS. Hell yeah it’s good to be kids again! To enjoy the ride, experienced those visual high-tech and felt as it were real, screamed, laughed, and tensed at the same time. Funny was, even on that moment, for a short second, I felt a serene and grateful feeling. A kind of feeling that I want to smile as wide as possible and say “oh thank you God for let me live and experience this fun”. Absurd maybe, but it happened to me. Or maybe it just the endorphine. 😀

Transformer the Ride USS

#Unforgettable Challenge

You haven’t go to Ubud if you haven’t visit Tegalalang. Okay so I took the challenge (actually challenge myself), to bike to Tegalalang. Tegalalang rice fields is maybe one of the  most scenic beauty of Ubud, but it was not the yellow rice fields, nor the smile of the local female farmers which made it unforgettable, but the feeling from a accomplished mission. It was the sweat under the heat, the tiring muscle, the grunting and the self-motivatalk during the journey that made it unforgettable. How I smiled (and relieved) when I finally reached Tegalalang, how I beat the challenge, and how I survived from 10 km biking through some steep hills. It was the survival that made it unforgettable.

biking ubud tegalalang

#Unforgettable Sunrise

Sanur Beach, Bali, the first time I finally made an effort to woke up early to saw the sunrise. I am not a morning person, and after several times I failed, now I know that only persistence can beat laziness. Why choose to snooze if you can experience a view like this?

Sunrise Sanur Beach Bali

#Unforgettable Near Death Experience Feeling

I didn’t realize that I have Fear of Heights before. I am not afraid when I have to ride a roller coaster. Well, I am afraid a bit when I stand in high building. I freaked a little when I use a very very high escalator (like those in some of Singapore malls). I freaked a lot when I have to walked through an old wooden bridge that cross a big river at Maribaya Waterfalls. But I became crazier when I walked through the OCBC Skyway at Garden By The Bay, Singapore. Hell, it is 22-metres high from the ground, with the 128-metres steel-net floor and big wind blew from side to side, I was lucky my heart didn’t stop beating! Will.Not.Do.This.Again.(But.Happy.To.Did.That.Though)

Garden By The Bay OCBC Skyway Singapore

#Unforgettable Overland Journey

I love overland journey! It’s hard to choose between 8-hours journey sat inside the night bus from Makassar to Tana Toraja, full moon outside, mountains, hills, and Gunung Nona view in the midnight, chatted randomly with my travelmate and also one of my bestfriend, no luxurious or fake smile service nor comfortable seat, but I felt so peaceful and comfortable with myself, or 9-hours comfortable night bus ride with massage chair from Johor Baru to Penang, when I awaken by a glimpse of light from the morning sunrise and the beautiful view from Penang Bridge was the first thing I saw. Hmm…I choose both.

Penang Bridge Malaysia

#Unforgettable Food

Despite a lot of arguments toward which is the best Babi Guling or Suckling Pig in Bali, I choose Babi Guling Ibu Oka as the best for my tongue and tummy. A bit pricey, yes, but it worth the size, taste, and experience. I still dream the taste of crispyness and the thick fat under the fried pork skin. Damn, why now I feel like Hannibal? Read the full review and story about Babi Guling Ibu Oka here.

babi guling ibu oka ubud bali

#Unforgettable Drink

Black and strong Toraja Coffee. A sip of this thick black coffee is one of my favourite way to start a day.

toraja coffee

So, why travel? Because I want to collect memories and experiences, not things.

“See the world. It’s more fantastic than any dream made or paid for in factories. Ask for no guarantees, ask for no security” – Ray Bradbury

Weekly Photo Challenge : From Lines to Patterns

This Weekly Photo Challenge from Dailypost is about shape, lines, textures, and patterns. This is my entry for this week, from the magnificent Marina Bay Sands Singapore, stretch of grainy grey sands in Karimunjawa, to Traditional Torajan Woven from Indonesia :

Weekly Photo Challenge by Daily Post : From Lines to Patterns

Serba Minimalis di Pulau Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Selemparan batu dari Tanjung Bira, ada Pulau Liukang Loe.

…okay, nggak selemparan batu juga sih, tapi 15-30 menit dengan speed boat, hehe. Pagi itu gw terbangun dengan semangat muda mudi angkatan ’45. Lupakan sejenak semangat muda-mudi angkatan millenia, yang tiap pagi harus memencet tombol snooze sampe 20 kali baru bangkit dari kasur, sambil nggerundel pula. “Udah hari Senin lagi? Kenapa gw harus ngantor? Kenapaaa????”. Ya, kira-kira begitulah semangat muda-mudi milenia. Tapi hari ini berbeda. Gw terbangun di sebuah penginapan melati Tanjung Bira. Di atas kasur yang setipis roti tawar dilipet dua. Badan pegel-pegel, tapi euforia semalam mengalahkan rasa linu-linu yang menghinggapi pinggang. Hari ini gw mau snorkeling!! Yeay! 😀

Kapan terakhir kali gw snorkeling, gw aja sampe lupa saking lamanya. Begitu kangennya gw sama hard, soft coral dan ikan laut yang berwarna-warni. Begitu kangennya gw nyemplung basah ke laut dan berkecipak-kecipuk ria dengan gaya ala putri ikan duyung. Begitu kangennya gw dengan rasa bebas tanpa komitmen saat berenang di air asin. Intinya, gw kangen!! Deal pun dibuat dengan pemilik penginapan, Pak Riswan. Sejatinya, tarif untuk sewa kapal dan snorkeling ke Pulau Liukang Loe ini fix sebesar 250rb. Kapasitas speed boat bisa menampung sekitar 6-8 orang, nah lumayan murah kan kalau sewanya ramean. Bisa juga sih ber-duabelas kalau mau tenggelam. Sialnya, saat itu gw traveling di bulan Ramadan, otomatis pengunjung sedikit, dan bule-bule yang satu penginapan dengan gw nggak ada satupun yang mau pergi ke Liukang Loe hari itu. Pak Riswan pun sempet ngider berkeliling Tanjung Bira menawarkan jasa one night stand day tour ini, tapi dasarnya apes, nggak ada yang mau pake dia hari itu. Ya sutralah, akhirnya dengan jumlah personil yang amat minimalis, sekitar pukul 11 gw berdua dengan travelmate gw pun cuss berangkat dari tepi Pantai Tanjung Bira yang terkenal dengan pasirnya yang sehalus bedak itu.

Speed boat kami penampilannya cukup oke, masih tampak baru, kokoh, dan kinclong. Tapi kok…nggg… nggak tampak tanda-tanda life vest ya?? Bujubuset. Ternyata life vest nya bayar lagi sodara-sodara. Mana kami juga udah nggak sewa fins (karena nambah lagi 15rb -.-), sekarang nggak ada life vest-nya pula. Okesip. Dengan peralatan amat minimalis (modal google mask doang) kami pun pantang mundur. Berangkat cyiinn… Langit tampak cerah hari itu. Tak tampak awan hitam bergulung. Ombak pun tampak jinak-jinak merpati. Eh tapi, malah abang supir kapal kami yang tidak jinak. Gw yakin si abang ini mungkin sudah berpengalaman lebih dari ratusan kali bolak-balik Tanjung Bira-Liukang Loe. Dari kecepatannya membawa kapal dan meliuk-liuknya, dia terbukti amat sangat mahir. Diibaratkan versi lautnya Fast Furious dah. Lah gw sih seneng-seneng aja, ngerasain muka gw keciprat-ciprat air laut sepanjang jalan, tapi ya tetep aja dag dig dug ser mah ada ya. Gw nggak mau kan nasib gw kaya di film Titanic gitu (serah lo deh!).

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja "Don't stop" :P

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja “Don’t stop” 😛

Dari kejauhan sudah tampak Pulau Liukang Loe yang memanggil-manggil. Tapi sebelum berlabuh di Pulau Liukang Loe, kami diturunkan dulu di G spot snorkeling pertama, nggak jauh dari tepi pulau. First impression? Rada kecewa sih karena penampakan coral-nya tampak biasa aja. Memang, visibility-nya clear, kira-kira sampai 5-7 meter. Tapi tampak beberapa gugusan coral yang sudah rusak. Memang, dari riwayatnya, perairan Sulawesi Selatan pernah mengalami fish-bombing yang cukup parah. Selain gugusan coral yang tidak terlalu menggairahkan, spot tempat kami diturunkan juga sangat dangkal. Masih terlalu dekat dengan tepi pantai. Gw pribadi lebih suka snorkeling di tempat yang agak dalam. Saat mengutarakan keinginan gw ini kepada si abang Fast Furious, lha dia tampaknya tidak mengerti. Bahasa Indonesianya memang masih agak kurang lancar, dan gw nggak bisa ngomong bahasa Makassar sama sekali. Yowis, intinya si abang “kekeuh” kalau spot snorkelingnya nggak bisa pindah-pindah lagi. Kecuali kami mau ke Pulau Kambing, di sana lebih dalam dan ikannya lebih besar-besar, katanya. Sebetulnya gw pengen banget, tapi kata si abang, Pulau Kambing jauh, nggak bisa sekarang. Huhuhu banget. Untungnya beberapa kali gw menemukan penampakan ikan yang ukurannya besar-besar, salah satunya ikan kudu-kudu. Yah lumayan menghibur di tengah pemandangan minimalis saat itu.

Cukup puas snorkeling sesi pertama, gw pun berenang menuju tepian pantai Pulau Liukang Loe. Pantainya sangat bersih, belum nampak tanda-tanda kontaminasi sampah. Pasirnya putih agak keemasan, teksturnya halus tapi tidak sehalus pasir di Pantai Tanjung Bira. Beberapa kapal ditambatkan di tepian, kosong. Tampaknya memang hanya sedikit pengunjung di hari itu. Gw pun berjalan-jalan mengelilingi pulau yang cenderung masih agak sepi. Hanya tampak beberapa rumah, kondisinya pun tidak bisa dibilang bagus, beberapa tampak reyot. Kabarnya hanya ada satu dua penginapan, harganya lebih murah dibanding kawasan Tanjung Bira. Namun sayangnya, di Liukang Loe ini hanya ada satu warung makan. Dan, di warung makan ini, hanya bisa memesan satu macam paket makanan, yang sama untuk semua pengunjung. Paket makanan ini terdiri dari nasi satu bakul, ikan bakar 2 buah, sayur sop satu mangkok besar, dan kerupuk. Untuk makanan yang sangat minimalis ini gw harus merogoh kocek 35rb/orangnya. Isshh… Saran gw sih mending bawa bekal aja deh, terus makan di pinggir pantai noh lebih puas kayanya.

Di tengah Liukang Loe

Di tengah Liukang Loe

Lagi-lagi, seperti juga di Tanjung Bira, saat itu yang tampak hanya turis bule. Mereka tampak santai berbaring tidak bugil di bawah pohon di pinggir pantai. Kebanyakan emak-emak dan bapak-bapak. Kadang suka salut sama bule-bule berumur yang suka bertualang di Asia, hehe…seneng aja liatnya, bikin terinspirasi gitu, kalau harus jaga kesehatan dari sekarang supaya ntar tua pun bisa berpetualang (deramah edisi dokter ;p).

Setelah acara makan siang yang kurang memuaskan lidah, kami pun melanjutkan sesi snorkeling kedua, kali ini spotnya pun nggak jauh berbeda, tapi gw menemukan banyak sekali bintang laut berwarna biru yang unyu-unyu, plus berbagai macam soft coral dengan warna mentereng, merah, pink, biru, ungu, DOR, meletus balon hijau! (………). So far gw cukup puas dengan sesi snorkeling yang kedua . Hal menyenangkan dari snorkeling kali ini yaitu, karena nggak pake life vest dan fins, bergerak pun jauh lebih bebas dan nggak terganggu (meskipun rada was-was ketusuk bulu babi, untungnya jumlah bulu babi di sini masih sangat amat sedikit :)). Nyoba sok-sokan latihan freediving tanpa fins, alhasil niatnya mau duck dive tapi malah kaya kecebong kelelep karena bokong nggak mau turun-turun. 😛

Sekitar jam 4 dengan terpaksa kesenangan pun harus berakhir. Total sekitar 5 jam saja waktu yang dihabiskan untuk snorkeling 2 kali dan mengeksplor Pulau Liukang Loe. Rekor tercepat! Bener-bener one day trip terminimalis yang pernah gw alamin. Next time harus coba ke Pulau Kambing dan Pulau Selayar juga! (^.^)9

Liukang Loe Makassar Sulawesi Selatan Indonesia

Happy traveling, happy life~

#PeopleAroundUs : Laut adalah Hidupku

Liukang Loe Tanjung Bira Indonesia

Tanjung Bira, 14 September 2013

Angin pantai dan deru ombak adalah temanku. Setiap hari bermain ku dengan gulungan-gulungan ombak. Ada yang kecil, rasanya menggelitik, ada yang besar, siap menerkam maut. Ombak adalah temanku. Aku mengenalnya sejak aku masih terbuai di dalam kandungan ibuku. Aku mendengar suaranya yang sayup-sayup memecah karang di kejauhan. Aku mendengar suaranya yang berdebur keras menghantam kapal bapakku. Aku mendengar suaranya yang lembut, menggelitik kaki ibuku. Terbuai aku dalam kemerduan suaranya yang menyatu dengan desiran angin laut, nyaman aku di dalam ibuku.

Tumbuh besar aku di antara pecahan kasar karang dan kerang. Warna-warninya selalu membuatku terpesona. Merah, biru, ungu, putih mengkilat bagai  mutiara. Sering kupendam kakiku yang mungil dalam-dalam di pasir pantai yang empuk. Warnanya putih pucat, sepucat warna bibir ibuku kala itu. Oh ibu, mengapa begitu cepat kau meninggalkan aku…

Aku dilatih untuk menjadi pejuang. Kutaklukkan laut yang sedang marah, kupelajari segala lika-likunya. Kuhapal semua lokasi karang-karang maut yang bisa membuat kapalku karam. Kupahami bahasa angin yang rumit, kapan ia sedang malas, kapan ia mengamuk murka, kapan ia berbaik hati menuntunku menjelajah lautan. Laut adalah hidupku. Ia tidak menjanjikan emas berlian. Ia tidak membuatku bermandikan uang. Ia tidak menjamin hidupku bergelimang harta. Tapi laut adalah hidupku. Di sana aku menemukan kedamaian. Aku mengenalnya lebih dari aku mengenal orangtuaku. Aku mencintainya lebih dari aku mencintai istriku.

Aku menatap horison. Adakah kehidupan lain di ujung sana? Dunia gemerlap yang penuh dengan manusia tampan dan molek. Dunia yang penuh dengan manusia intelek. Yang berpikir dirinya yang paling hebat. Yang sibuk menuntut dirinya dihargai. Sibuk mengumpulkan pundi-pundi duniawi. Tak harus berpeluh keringat untuk menyambung hidup.

Ah, tapi aku lebih cinta laut…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

#PeopleAroundUs : Tukang Es Keliling

Tukang Es Kuta Bali

Suatu sore di Pantai Kuta. Langit cerah berwarna biru muda dihiasi gumpalan-gumpalan awan yang menggantung bebas seakan tanpa beban. Di ujung horison tampak warna semburat keemasan yang menandai matahari akan segera kembali ke peraduan, menyambut malam. Terduduk aku di atas pasir pantai yang empuk, menanti momen-momen matahari terbenam, bersama dengan puluhan bahkan ratusan orang-orang yang juga ingin menyaksikan keindahan yang sama.

Dari sekian banyak pengunjung pantai Kuta sore itu, sesosok manusia menarik perhatianku. Seorang pria paruh baya, dengan postur yang tidak kekar, apalagi berotot, tetapi figurnya menampilkan sosok yang kokoh, sosok pekerja keras. Kulitnya coklat kehitaman tanda seringnya terpapar sinar matahari Bali yang terik. Untuk mengakalinya, dia memakai kaus putih berlengan panjang, di balik seragam rompi kutung merahnya dengan logo sebuah merk es krim ternama di Indonesia. Menemani rompi merah menyalanya yang sepertinya belum cukup catchy, sebuah topi berwarna sama pun bertengger di atas kepalanya. Topi dengan tepi melebar yang mungkin sengaja disediakan oleh perusahaannya untuk memberi perlindungan maksimum dari sengatan sinar matahari. Di pundaknya tercangklong sebuah tali, tetapi yang dibawanya bukanlah tas kain Bali seperti kebanyakan turis yang berseliweran di Kuta, melainkan sebuah boks berukuran cukup besar, berwarna biru dengan logo berbentuk hati yang berwarna merah dan putih di tengahnya. Aku menebak dari ukurannya, pasti tidak ringan. Belum lagi “angkutan” es-es yang dibawanya. Di tangan kirinya, ia memegang sehelai kertas berlaminating yang menunjukkan berbagai gambar menarik es-es yang dijualnya. Persenjataannya sudah lengkap tampaknya. Santai, dengan bercelana pendek  dan bersandal jepit, ia pun berjalan menelusuri tepi pantai Kuta.

Sedari kapan ia telah berjalan, aku tak tahu. Tapi dari peluh keringatnya, aku menebak ia telah melalui hari yang panjang. Meskipun begitu, tak tampak raut cemberut di wajahnya. Ia hanya berjalan dan berjalan, sesekali menatap wajah turis-turis di sekitarnya dan melemparkan senyum. Berharap panasnya udara Kuta dapat membujuk mereka untuk membeli es dagangannya. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Tak ada kalimat-kalimat paksaan seperti yang sering dilancarkan pedagang-pedagang souvenir di sepanjang tepi pantai. Hanya senyuman yang menjadi andalannya. Mungkin ia sudah lelah berjalan. Atau mungkin ia tidak ingin mengganggu pengunjung yang sedang melewati momen-momen berharganya. Meskipun begitu, toh banyak juga yang memanggil dirinya dan melihat-lihat isi boks yang dicangklongnya. Rupiah demi rupiah dijejalkan ke tangannya, bungkusan-bungkusan es berpindah tangan. Senyum berbalas senyum. Peluh diusap. Dan ia pun terus berjalan…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

Weekly Photo Challenge : Sea

picture taken at Gosong Seloka Island, Karimunjawa, Indonesia

Since I was a kid, sea is always been a mystery for me. What lies beneath the ocean? I always wondered back then. Sometimes my mind full of many thought of magical, weird, both colourful and dark creatures of the sea. I thought about beautiful mermaids, blue whales, Neptune’s kingdom, electric eels, baby shells, even talking-clownfishes. Since me and my parents lived downhill near the mountain, almost in every holiday they would took me to the beach, to experience another kind of world that Mother Nature has given to us. Paradise with thick black or powdery white sands, bright and hot sun, cold frothy blue water played with my feet, left a big smile at my clumsy kid-face. Sometimes left not only a smile, but also a painful red sunburn and black-browned skin. Still, what beneath the ocean remained a mystery…

then I grew up.

I forgot many things that I used to think when I was a kid, but not my curiosity for the ocean.

The mystery finally revealed half and a year ago, when I had my first snorkeling experience at PhiPhi Island, Thailand. Finally, I knew what lies beneath the mysterious thick blue water. My heart was pounding so fast that I could heard them in my ears. I gasped when I saw numerous corals that have size as big as a car. I couldn’t help myself to not smile when groups of fishes came and passed me by. I was fascinated with the variety of hard and soft corals, some looks like a brain, some like a table, and some like fingers. And the colour! I hardly believe that under this flat blue water, there are so many colourful corals and fishes. So many beautiful living creatures, so many too see, and so many things to be grateful for.

Since then, I fell in love with ocean. I feel “home”.

Home, where I should always go back to. (and I do)

Home, where my heart is.

Weekly Photo Challenge : Sea

Indonesia in Five Colours

Capture the Colour photo blogging competition by TravelSupermarket.com is back! Again, the competition is to choose five original shots from your travel experiences, and each shot representing the colors : blue, green, yellow, white and red. Last year I also participated in this photo blogging challenge and it’s been really fun! So of course  I want to participate again this year. This time I will share five colours that represent my home country, Indonesia.

Blue : Amirul Mukminin Floating Mosque, Makassar, South Sulawesi

The tranquil Amirul Mukminin, the first floating Mosque in Indonesia

The tranquil Amirul Mukminin, the first floating Mosque in Indonesia

Built in 2009, the first floating Mosque in Indonesia, Amirul Mukminin Mosque, has been a highlight to many visitors who comes to Makassar, South Sulawesi. Located at Losari Beach, only few meters from the Fort Rotterdam and La Galigo Museum, this Mosque offers charming and tranquil beauty of its own. The picturesque blue sky as a background and sea below, matched with the ornamental light blue dome, this mosque has attracted a lot of photographers to capture the magnificent scene. Amirul Mukminin Mosque also named 99 Al Makazzary Mosque, that name symbolized one of the High Priest of Masjidil Haram, Syech Yusuf.

White : Hanoman, The King of Monkey, at Kecak Dance, Uluwatu, Bali

Hanoman, the King of Monkey in Ramayana epic

Hanoman, the King of Monkey in Ramayana epic

Hanoman, considered as the central character in Ramayana epic, which he participated in the war between Rama and the demon king Rahwana to rescue Rama’s wife, Shinta. The story has been passed from generation to generation and being as old as the Hindu itself. Now Ramayana story is commonly played in Kecak Dance, Bali. Kecak Dance, which is well-known for its mystical sense, since there’s no music played but instead use the rhytmic sound “cak-cak-cak” sung by dozens male dancers. Hanoman himself played an essential character, like a real monkey, which is fast-moving, intelligent, playful but also humble and fearless. Watching Kecak Dance itself at Pura Uluwatu, with colorful Balinese dancer wearing colorful dancing costumes, the humming sound of “cak-cak-cak”, clear blue sky above, and accompanied by the light of golden sunset, is one of the unforgettable experience in life.

Green : One Day at Rantepao, Tana Toraja, South Sulawesi

A mosque in the middle of Land of Thousand Churches, Tana Toraja

A mosque in the middle of Land of Thousand Churches, Tana Toraja

Tana Toraja is a region in the highland of South Sulawesi, also called “Land of The Dead” and “Land of Thousand Churches”. The first name is given because of the famous ritual of Torajan Funeral Ceremony, “Rambu Solok”, where they held a big feast to celebrate the death, include sacrifice dozens of buffalos and hundreds of pigs, also the tradition to “keep” the dead one mummified from days to years inside the house called “tongkonan” before the feast is held. The last is called because of the massive numbers of churches built in Tana Toraja, since most of the people are Christians. But in the middle of my random-walking through Rantepao, the capital city of Tana Toraja, I found this mosque, covered with beautiful green-coloured-dome, can’t be more serene and free as it seem. The beauty of diversity. (Also seen at Turnamen Foto Perjalanan)

Red : Toraja Traditional Woven Cloth, Sa’dan Village, North Toraja

Natural-dyed traditional cloth, handmade by women in Sa'dan Village, North Toraja

Natural-dyed traditional cloth, handmade by women in Sa’dan Village, North Toraja

This traditional cloth made by handmade-yarn from cotton that grew in local garden at Sa’dan Village, North Toraja. When I was stumbled upon this colorful clothes and motives, I hardly believe that all of this made and colored by natural sources, with only hand and weaving tools, but the fact is, it’s true. Nowadays, only small amount of women do weaving in Sa’dan Village. With the coming of massive industrialization, traditional woven fabric become threatened and leading to its extinction. Only one 83-years old lady left that still do the traditional yarn-spinning. Whereas, Torajan traditional woven fabric is considered as a high value art that should be well-preserved. The question is : Would we?

Yellow : Welcoming a New Day at Sanur, Bali

Sunrise at Sanur Beach, Bali

Sunrise at Sanur Beach, Bali

A new day, a new beginning. As the yellow flag waved freely in the middle of tranquil morning at Sanur Beach, a new excitement inside me began to rise. New day! New hope! New spirit! As the gentle wind stroked my hair, then a new me was born again. Nothing can compared the serenity of a calm sunrise in the morning, moreover the sunrise in Sanur Beach, which is considered as the most hunted place to welcoming the born of the sun once again. Boats waited to be sailed once again. Women awaked to pray and give offering to Gods once again. Children opened their black-browned eyes like a new baby born. Yellow flag waved…

And now here are my five nominees :

1. Danan Wahyu from Danan Wahyu Sumirat

2. Wira from Wira Nurmansyah

3. Halim from Jejak Bocah Ilang

4. Angga from Catatan Ransel

5. Efenerr from Efenerr

Good luck to all! ^^

~happy traveling, happy life~

I Left My Mind at Tanjung Bira

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

Tanjung Bira, pantai berpasir putih seperti bedak di ujung Sulawesi Selatan, berjarak 6 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar (how to get there? ada di sini). Seorang kenalan asal Toraja mengatakan, Tanjung Bira ini merupakan Bali-nya Sulawesi. Is that true? Well, yang jelas gw sangat terkesan dengan infrastruktur yang dibangun dengan baik di Tanjung  Bira. Jalanan yang mulus, dengan pepohonan dan bunga-bunga yang asri menyambut kedatangan gw untuk pertama kalinya di pantai yang terkenal dengan pasir bedaknya ini. Penginapan yang berderet-deret di tepi jalan pun memastikan mudahnya mencari akomodasi di Tanjung Bira. Beruntunglah gw, datang ke sana saat bulan Ramadan, di saat kebanyakan orang sedang berpuasa, tentunya sedikit yang liburan ke pantai, so, less crowd and at low season, I thought that this is a perfect time to chill out dan menghindar sesaat dari keramaian kota Bandung yang terkadang, even I love Bandung so much, mulai menyesakkan.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki ke pasir putih pantai Tanjung Bira adalah : “Pantai kok dingin ya?” Saat itu semilir angin berhembus pelan, nggak kencang-kencang amat, tapi cukup sejuk dan menghilangkan penat setelah duduk di mobil angkutan selama hampir 7 jam. Langit berwarna biru kalem (kalem?) dihiasi awan-awan putih yang menggantung dan beriring semarak. Cerah, tapi matahari bersinar malu-malu, seakan malas membagi kehangatannya sore itu. Di bawah kedua kaki gw terhampar butiran lembut pasir berwarna putih pucat, penasaran, gw meraup segenggam, dan ternyata benar, memang sehalus bedak. Langsung terbayang bedak Mars (ups nyebut merk ;p) yang dulu sering gw pake waktu kecil. Gw tenteng kedua sandal di tangan kanan, dan berjalan menyusuri tepi pantai yang memiliki garis pantai yang sangat panjang. Uniknya, pantai Tanjung Bira ini sama sekali tidak memiliki karang. Berbeda dengan beberapa pantai lain yang pernah gw kunjungi, biasanya di beberapa spot terdapat karang-karang besar atau kecil, tetapi Tanjung Bira ini bebas dari karang. So, kita bisa bebas berjalan menyusuri seluruh tepian pantai dengan pasir putihnya yang terhampar cantik, kadang bersemu warna pink, gw juga menemukan beberapa pecahan coral warna pink di tepi pantai, mungkin ini penyebabnya. Di beberapa tempat, tampak kapal-kapal nelayan berlabuh, tampak juga beberapa speedboat yang bisa disewa untuk perjalanan menyeberang ke Pulau Liukang Loe yang berjarak selemparan batu, hanya 15 menit saja dari Tanjung Bira.

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3 (foto ini nongol juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Pantai Tanjung Bira ini masih sangat bersih, airnya jernih dan belum tercemar sampah sama sekali, meskipun di tepi pantainya sendiri bisa ditemukan berbagai macam sampah yang terbawa arus dan berlabuh di tepi Tanjung Bira. Tapi overall masih termasuk bersih dan terawat, dan warga tampak mengumpulkan berbagai sampah tersebut dan mengumpulkannya di salah satu sudut pantai. Nice effort, I think.

Salah satu bangunan yang mungkin menjadi trademark dan nggak akan terlewat di Tanjung Bira ini mungkin adalah restoran berbentuk kapal phinisi yang berada di tepi pantai. It really looks real. So cool. Perahu dari kayu berwarna coklat dengan ukuran real (which is, very big), lengkap dengan tiang-tiangnya yang tinggi dan kokoh, menunjukkan kemegahan dan kekuatan tersendiri, well, how can I say this? Maybe if he is a man, then I will say he is a “classic masculin” type :D. So, kapal ini “parkir” gitu aja di atas tebing di tepi pantai, tembok di kedua sisinya terbuat dari batu dan dihiasi bunga-bunga yang merambat indah di atas batu, well, I must said that this is really georgeous. Not a common view I can see everyday. Sebenernya pengen banget banget banget masuk and maybe having dinner inside, tapi apa mau dikata, tipisnya budget membuat gw cukup puas cuma berfoto-foto di depannya aja. Yang penting narsisnya dulu deh, hehe… Btw, you should see this place at night too. So so so beautiful with the lights, plus deburan ombak yang sayup-sayup terdengar dari tepi pantai. :3 So, I thought about a candle light dinner, Jazz or Sabrina music slowly played from the tape, the whistling sound of the wind, and soft murmur of the wave from outside ship dock…

……….tapi gw jomblo. (lalu bunga-bunga pun berguguran)…

Kapal phinisi yang "parkir" sembarangan.

Kapal phinisi yang “parkir” sembarangan.

Phew. Back to story. So…sampe mana gw tadi? 😛

Selain resto phinisi yang unik ini, gw juga menemukan hal unik yang baru pertama kali gw temukan terbaring di pantai, yaitu : Tiang listrik. Hah?! Iye, serius, ada banyak banget besi-besi segede-gede gaban yang ternyata menurut nelayan yang berada di TKP, itu adalah tiang listrik. Kok bisa sih tiang listrik sebanyak itu digeletakkin di pantai, nggak ngerti juga deh gw, tapi katanya sih nanti bakal ada yang ngangkut tiang-tiang listrik ini, yang sebelumnya diangkut pake kapal. Oke deh. Rada aneh juga sih sebenernya (-.-)

Tiang listrik, anyone? No?

Tiang listrik, anyone? No?

Gw pun sempet berjalan-jalan mengeksplor area sekitar tebing di Tanjung Bira, and well well, what did I find? Bars. Yeap. Bars everywhere. Bar dan tempat karaoke, meskipun tampak kumuh dan dibangun seadanya, tapi jumlahnya lumayan banyak, dengan plang-plang bergambar Bir Bintang menggantung di tiap sudutnya. Agak sayang juga sih, karena mengikuti selera pasar (baca : bule) kali ya, makanya bar-bar ini jadi menjamur. Hmmm…meskipun gw bukan tipe konservatif, tapi tetep aja ngerasa gimanaaa gitu kalo di pantai seindah dan sesepi ini ter-Westernized…jadi kaya Kuta yang udah kehilangan feel Indonesianya…

"local bar"

“local bar”

Berhubung mengunjungi Tanjung Bira saat bulan puasa, yasalam susah banget nyari tempat makan di sini. Cuma ada beberapa warung makan yang buka, itu pun menunya yang terjangkau cuma Nasi Campur (isinya nasi, ayam, telor, sayur cap cay) sama nasi goreng, itu pun seharga Rp 15.000-20.000an, which is, menurut gw sih rada mahal ya, meskipun rasanya lumayan enak juga. Dua tempat makan yang lumayan nge-hits di sini tampaknya Pondok Bambu dan Salassa. Keduanya ada di pinggir jalan utama Tanjung Bira. Menunya selain menu masakan Indonesia, juga banyak menu Western, tapi harganya juga lumayan membobol kantong, hiks. Selain itu ada juga restoran kecil di Bira Beach Hotel, resto ini lokasinya di terrace yang langsung menghadap pantai. Asik banget nih makan di sini, nasi campurnya juga yummy, tapi harganya Rp 20.000 #ngok. Sebetulnya banyak warung makan yang berjejer di atas tebing di tepi pantai, tampaknya harganya lebih bersahabat, tapi berhubung bulan puasa, nggak ada yang buka… 😦 Di luar kompleks Tanjung Bira, sepanjang jalan menuju Pelabuhan Bira juga bisa ditemukan beberapa warung makan, so urusan perut sih terjamin lah di sini, hehe…

Dinner? ^^

Dinner? ^^

Memori paling berkesan dan menyenangkan selama trip gw di Tanjung Bira justru bukan pantainya, bukan spot snorkelingnya, pulau Liukang Lioenya, atau makanannya. Justru, turning point saat gw ngalamin sarapan bareng bule-bule di warung Salassa. Pagi itu Salassa  penuh, dan kebetulan dua orang bule asal Jerman kenalan gw yang sebelumnya berangkat sama-sama dari Makassar (baca di sini) duduk di salah satu meja, yang kebetulan kursinya masih banyak yang kosong, akhirnya mengajak kami bergabung. Jujur, sebelumnya gw masih nggak pede kalo disuruh ngobrol pake bahasa Inggris. Meskipun secara pasif kemampuan bahasa Inggris gw bisa dibilang lancar, tapi kalau harus ngobrol, kadang gw masih jiper dan malu-malu. Finally, at that time, gw berhasil ngobrol panjang lebar sama bule-bule ini, kebetulan banget mereka sangat ramah, dan karena gw emang berencana ngelanjutin studi gw ke Jerman, so gw antusias banget ngobrol sama mereka. Entah gimana, rasa jiper itu hilang juga. Ternyata gw bisa ngobrol sama bule T.T *sungguh ndeso yak*.

Nggak lama, seorang bule asal Perancis bergabung, and it turned out to be a very nice conversation between us. Dan si bule Perancis ini udah keliling Sulawesi dan daerah timur Indonesia, bikin gw malu deh, orang Indonesia tapi belum pernah ke daerah timur, hih! Bikin makin semangat traveling! Malu sama orang luar yang so enchanted sama Indonesia, masa kitanya sendiri cuma diem di tempat aja? Untung berkat promo Citilink kali ini, finally gw bisa menginjakkan kaki ke Sulawesi, hehe…maklum fakir promo 😛 So, ngalor-ngidul dari mulai ngomongin pekerjaan, masalah kesehatan, ngomongin tentang belajar bahasa asing, ngomongin tempat wisata di Jerman, Indonesia, dan Perancis, sampe ngomongin tentang freediving dan bahasa sandi rahasia di Perancis, akhirnya pagi yang menyenangkan itu pun harus berakhir. We said good bye to each other, and I left Tanjung Bira, heading back to Makassar, dengan perasaan campur aduk…

Like my travelmate once said…”I left my mind at Tanjung Bira…”

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

      

        

    Happy traveling, happy life~ 

Weekly Photo Challenge : Carefree

Tanjung Bira South Sulawesi Makassar

One beautiful day at Tanjung Bira Beach, South Sulawesi. I strolled around the white sandy beach, below my feet was soft, tender and wet sands, with the powdery-like texture. I wondered how many rocks, corals, and shells was crushed by the wave, to finally create such a soft form of powdery sand? I heard the humming sound of ocean wave from my left, I felt the cold frothy water touching the tip of my feet. I saw the bright light blue sky, with the fluffy clouds patched all around. I saw the turquoise colored water. White birds flew, boats docked, against the whistling wind. Then, I saw her. My eyes fixed at her bright red shirt. I saw how she sat on the rock stair, the way she put both her elbow on, and how she looked far far away to the horizon…I don’t know her, maybe she’s American, or Australian, or Italian, I don’t know. But I knew, at that time, that we both carefree. Free of trouble and worry.

Weekly Photo Challenge : Dailypost