Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

Ubud. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali ini terkenal sebagai cultural center of Bali. Disebut juga kampung senimannya Bali, karena banyaknya karya seni yang dihasilkan di sini. Paintings, wooden craft, glass craft, leaves craft, stone craft, bamboo craft, paper craft, semuanya ada di sini. Di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, mata seakan dimanjakan dengan keindahan karya seni buatan tangan para seniman Bali. Lukisan pemandangan, penari Bali, dewa-dewi Hindu, Sang Buddha, pura, abstrak, berbagai motif, sampai lukisan wanita telanjang pun ada. Semuanya berjejer rapi menghiasi art shop di sepanjang jalanan tersebut. Dan jangan lupa, ada juga Pasar Seni Ubud, di mana ada berpuluh-puluh toko yang menjual barang-barang seni sampai souvenir tumplek jadi satu di sini. Pecinta barang-barang nyeni dijamin kalap di sini. Untungnya saya travelling dengan budget terbatas sehingga tidak tergoda membeli koleksi barang-barang unik khas Bali tersebut. Padahal sih ngiler abis.

Solo backpacking di Ubud sangat mudah, aman, dan tentunya menyenangkan. Beda dengan suasana tempat-tempat touristy di Bali seperti Kuta atau Sanur, Ubud lebih cocok untuk menyepi, menenangkan diri, dan memperkaya jiwa. Nggak ada tuh abang-abang yang berbaris sepanjang jalan menawarkan tur atau barang ini itu atau berkomentar nakal seperti yang sering ditemui di Kuta. Suasananya yang “lebih Bali” dan masih belum banyak dikuasai toko-toko dan brand-brand asing membuat Ubud lebih terasa asli dan nyaman. Penginapan di Ubud pun rata-rata bernuansa tradisional, dengan  bungalow-bungalow kecil yang bernuansa Bali dan menghadap ke sawah. Harganya memang sedikit lebih mahal dibanding penginapan di kawasan Poppies Lane, tetapi suasana, keindahan, dan servis yang didapat pun jauh lebih oke. Saya menginap di Penginapan Danasari, Jalan Hanoman. Untuk review penginapannya, bisa dilihat di sini. Overall sih saya sangat puas dengan penginapan ini.

Mengeksplor Ubud, cara terbaik menurut saya adalah dengan menggunakan sepeda. Sepeda bisa disewa melalui penginapan atau di rental-rental yang tersedia di sepanjang jalan. Harganya sekitar 15rb-20rb/hari. Menyusuri jalanan di Ubud sangat menyenangkan, karena selain udaranya yang cenderung sejuk,jalanannya tidak terlalu padat, dan bisa menikmati art shop yang ada di sepanjang jalanan Ubud. Kesannya lebih selow aja sih, jika dibanding naik motor. Naik mobil sih nggak disarankan, mana seru…hehe. Dua hari di Ubud, inilah tempat-tempat yang worth to visit di Ubud :

1. Museum Puri Lukisan

Lokasinya di Jalan Raya Ubud, buka dari jam 08.00 – 16.00. Tiket masuknya Rp.50.000. Awalnya, gw merasa harga tiketnya overprice banget, maklum jarang maen ke museum berbayar. Rata-rata di Bandung sih masuk museum gratis, hehe. Eh ternyata…setelah masuk, gw merasa 50rb itu worth it banget. Jangan bayangin bentuk museumnya gedung tua dan kusam yang di dalamnya gelap dan berdebu ya. Museum Puri Lukisan ini gedeeeeee luassssss dan hijaaauuuu banget. Pintu gerbangnya berbentuk gapura besar gitu, dan setelah melewati gapura, gw disambut dengan pemandangan taman yang luas, hijau, banyak bunganya, plus ada kolam teratai dan pendopo Bali gitu. Wih. Spekta lah pokoknya. Asri banget! Tampak beberapa anak bule yang ganteng, cantik, dan mungil-mungil itu lagi lari-larian di taman. Beberapa pengunjung sedang asik minum welcome drink di sebuah cafe kecil di samping museum. Beberapa sedang memperhatikan pertunjukan live cara melukis di daun palem. Beberapa sedang menonton seorang wanita yang sedang duduk menenun kain tradisional, lengkap dengan alat tenun yang terbuat dari bambu.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Nah itu baru pemandangan pembuka. Gedung utama museum ini terdiri dari 3 bangunan yang masing-masing menampilkan karya lukisan dan seni dari 3 masa yang berbeda, yaitu tema Wayang Bali, Bali Pertengahan, dan Bali Modern (ada pengaruh budaya Barat di sini). Paling keren adalah gedung Wayang Art. Di sini lo bisa liat lukisan dari kisah Ramayana, Mahabharata, dan tokoh-tokoh wayang, kumplit! Lukisannya pun nggak main-main, ada yang dilukis di kain dan usianya udah tuwir banget, dari jaman masih penjajahan Belanda, dan masih bertahan sampe sekarang dong. Indah banget deh, apalagi kalo lo penyuka tokoh-tokoh Hindu, betah rasanya di dalem. Kudu banget lah tempat ini lo datengin. Terharu dan bangga rasanya liat karya seni Indonesia yang indah banget. Agak miris juga tapi setelah liat daftar buku tamu yang tebelnya kayak kamus, dan udah gw bolak-balik pun pengunjung dari Indonesia  bisa dihitung dengan tangan. Miris! O ya selain lukisan, ada juga wooden crafts yang keren-keren di sini. Yang paling gw inget adalah patung berjudul “Senggama”. Nice banget pokoknya patungnya 😀 Btw, di dalam gedung museum nggak boleh memotret ya, jadi kalo penasaran silakan kunjungi museum ini ^^

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

2. Museum Renaissance Antonio Blanco

Puas menikmati karya seni asli seniman Bali, sekarang saatnya menikmati karya seni seniman luar negeri yang akhirnya tinggal menetap di Ubud. Don Antonio Blanco adalah seniman asal Spanyol yang menikah dengan penari Bali, akhirnya banyak menghasilkan karya seni aliran Renaissance yang kebanyakan bertema Bali (ehm, lebih tepatnya lagi wanita Bali). Lokasinya  di Jalan Campuhan, lumayan juga sih jauh dan naik turun bukit gitu. Tapi pemandangan menuju ke sananya edan keren abis…pohon-pohon rindang sepanjang jalan, udara yang sejuk dan bersih…ihik…kaki pun nggak kerasa pegel meski harus gowes di jalanan yang naik turun. Sama seperti Museum Puri Lukisan, Museum Antonio Blanco ini pun sangat asri, meski luas tamannya tidak sebesar Museum Puri Lukisan, tapi yang mencengangkan di sini adalah bangunan museumnya itu sendiri. Arsitekturnya luarnya bergaya Bali, tapi pas masuk interiornya ala-ala Spanyol gitu. Yaa…kaya rumah-rumah Eropa gitu yang ada kubahnya mewah, pilar marmer, plus sofa-sofa nyeni yang empuk. Lukisannya mayoritas wanita nude. Yes,bugil, naked, tak berbusana. Tapi meskipun nude, sama sekali nggak vulgar, meskipun erotis tapi berkesan nyeni. Bahkan ada lukisan wanita masturbasi segala loh, sampe shock gw -______-  Uniknya lagi, tiap lukisannya dipigura dengan pigura yang dibuat khusus untuk lukisan itu, misalnya lukisan wanita nude dengan highheel biru, di piguranya ada dong patung highheel biru. Ya, custom made gitu deh masing-masing piguranya, plus ada ukiran “Blanco” di piguranya. Keren banget deh. Nggak kebayang lukisan Renaissance itu kayak apa? Kira-kira gini deh salah satu karya beliau :

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan?

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan? (taken from this site.) 

Selain menikmati lukisan, di tamannya juga ada burung-burung yang jinak dan lucu-lucu, salah satunya kakaktua yang putih berjambul kuning dan kakaktua warna-warni kayak di Faber Castle itu loh (ups, nyebut merk). Bisa foto juga sama burung-burung itu.

Parrot "Faber Castel" warna-warni lagi akrobat ^^

Parrot “Faber Castel” warna-warni lagi akrobat ^^. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Plus, ada juga gallery di mana kita bisa berfoto pura-pura lagi melukis, lengkap dengan palet cat nya. Hehe…asyik kan? Tiket masuknya untuk Indonesian sih Rp 30.000, untuk foreigner Rp 50.000. Worth it banget! Dapet welcome drink pula… ^^

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

3) Watching Balinese Dancing

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Ke Bali masa sih nggak lihat pertunjukan tari Bali? Nah di Ubud ini, ada banyak sekali tempat yang menampilkan pertunjukan tari Bali setiap harinya. Yang paling terkenal yaitu di Ubud Palace (Pura Saren Ubud). Tapi saat itu sudah tampak turis yang berjejalan di sana, sehingga saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Tari Barong di Pura Saraswati (Lotus Pond) saja. Lokasinya nggak jauh dari Ubud Palace. Harga tiketnya Rp 80.000, pertunjukan dimulai pukul 20.00, berlangsung selama 1 jam. Lumayan mahal memang, tapi pertunjukannya cukup menarik, tari yang ditampilkan terdiri dari beberapa jenis, yaitu diawali tari pembukaan, Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Nelayan, Orkestra Musik Gamelan, Tari Baris Tunggal, Tari Nyamar, dan diakhiri dengan Tari Barong Macan. Kapasitas penontonnya nggak banyak, hanya sekitar 30-an, dan saat itu SEMUAnya foreigner. Gw celingak celinguk ke segala arah dan hampir semua bule, dengan berbagai bahasa dari Inggris, Jerman, Perancis, Italia. Penonton Asia hanya gw seorang dan sepasang couple yang berbahasa Cina entah dari mana. Penonton di sebelah gw seorang Amerika yang pindah dan menetap ke Ubud sejak dikeluarkan dari pekerjaannya, 20 tahun yang lalu, dan sampai sekarang pun dia masih senang menonton pertunjukan tari Bali. Ups, gw aja br pertama ke Ubud dan kedua kalinya melihat tari Bali. Heuh. Malu deh sama bule.

Beautiful Balinese Dancer

Beautiful Balinese Dancer

Tari Kebyar Duduk

Tari Kebyar Duduk

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

4) Biking ke Tegalalang

Si biru teman suka dan duka ^^

Si biru teman suka dan duka ^^

Well, jangan bayangin adegan bersepeda cantik ala Julia Robert. Karena ternyata track biking ke Tegalalang ini lumayan melelahkan, naik turun bukit, apalagi ditambah dengan terik matahari, wih, lupain deh adegan bersepeda pake rok unyu-unyu kaya Miss Julia Robert 😀 Gw sendiri nggak tau pasti seberapa jauh perjalanan dari Jalan Hanoman ke Tegalalang, tapi yang jelas gw menempuhnya dalam waktu sekitar 2 jam bersepeda. Meskipun berpeluh keringat plus nafas tersengal-sengal, but, again, it was worth it. Pemandangan Tegalalang dengan sawah-sawahnya yang cantik memang indah. Meskipun, jujur, karena dulu gw sering main ke Baturaden dan daerah Gunung Slamet sana, sawah sih buat gw sudah jadi pemandangan biasa. Atau mungkin gw udah tepar dulu dengan perjalanannya makanya jadi nggak begitu excited, hahaha…But the feeling “Hey, I did it!” itu yang bikin worth it. Yang bikin gw terkesan sampai sekarang yaitu saat melewati jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan, dan ada semacam kanopi yang melintasi jalan, yang terbuat dari dahan-dan dan daun dari pohon itu, wogh, beautiful! Sawahnya? Bagus sih, tapi karena gw datang saat musim panen jadi buka lautan hijau sawah tapi lautan kuning kecoklatan, hehe…but still, you should try biking to Tegalalang, at least once. Lelah melewati bukit-bukit,saat perjalanan meninggalkan Tegalalang gw menyerah, menggunakan jalan raya. Gw melewati Jalan Raya Tegalalang, desa Petulu, desa Peliatan, Jalan Raya Goa Gajah, sampai akhirnya berlabuh ke Bebek Tepi Sawah. What a beautiful ending.

One of unique place at Tegalalang

One of unique place at Tegalalang

5) Bebek Tepi Sawah

Crispy Duck, nom nom nom...

Crispy Duck, nom nom nom…

Yeap, selain Bebek Bengil, masakan bebek yang harus dicoba di Ubud adalah Bebek Tepi Sawah. Di Ubud, lokasinya bener-bener di tepi sawah, suasananya oke banget. Gw milih makan di lesehan gitu, semacam pendopo yang diisi beberapa meja, dengan alas bantal-bantal duduk yang empuk, hihi, nikmat banget deh, apalagi abis berpeluh keringat setelah biking ke Tegalalang. Sayang setelah lihat daftar menu, keringat itu malah makin deras mengucur. Crispy duck yang gw incer itu ternyata dibandrol Rp 80.000. Ampun deh. Kalo nggak inget misi ke Ubud adalah untuk memuaskan hati, jiwa, dan perut, mungkin saya bakal pesen air putih aja deh. Meskipun sedikit nggak rela, akhirnya gw pesen juga Crispy Duck yang tersohor itu, sambil menikmati suasana sawah hijau (karena sawah buatan jadinya masih hijau kali ya, beda sama yang di Tegalalang 😀 ) di depan mata. Nggak lama, datenglah bebek seharga 80rb itu. Hmmmm…ternyata harga emang nggak bohong! (sambil menangis terharu dalem hati) Ini bebek terenak yang pernah gw makan. Bebek Asap Kuningan lewat! Bebek Duck King lewat! Rasa gurih dan crispynya itu maknyus banget. Dan juaranya adalah sambel-sambelnya! Ada 3 macem sambel yang disediakan, 2 di antaranya, yang pake bawang putih dan yang  mirip sambel matah, itu e-nak-ba-nget! ^^ Menikmati makanan enak setelah perjalanan yang melelahkan itu emang nampol!

Sambel dewa!

Sambel dewa!

6) Monkey Forest

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Lokasinya tentu aja di Jalan Monkey Forest ya. Tiket masuknya Rp 20.000. Monyet-monyet di sini jauh lebih jinak dibanding monyet-monyet di Sangeh. Ukurannya juga lebih kecil-kecil. Tapi hutannya sangat menarik di sini, meskipun nggak terlalu luas, tapi masih alami dan tertata rapi. Gw suka banget sama pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar sampai ke mana-mana. Aaakkhh berasa pengen gelantungan gitu (apa gw dulunya Tarzan apa gimana sih!). Cakep banget kaya gini nih :

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Gw suka banget jalan-jalan di dalem hutan ini, malah lebih seneng kalo nggak ada monyetnya, hihi…abis takut sih. 😛

7) Adi Bookshops

Buku-buku second berbahasa Rusia

Buku-buku second berbahasa Rusia

Nah ini khusus buat pecinta used-books kaya gw, coba mampir deh ke toko buku kecil yang berlokasi di Jalan Hanoman deket Pasar Seni Ubud. Tempatnya ada di sudut pertigaan. Di sini, ada banyak banget buku-buku bekas dari berbagai bahasa. Yang paling banyak tentu aja yang berbahasa Inggris. Tapi selain itu, banyak juga buku berbahasa Jerman, Belanda, Russia, dan juga Prancis. Karena gw lagi belajar bahasa Jerman, toko buku ini berasa surga deh. Bayangin, novel-novel berbahasa Jerman dijual hanya dengan harga Rp 20 – 30.000an aja. Belum lagi koleksinya yang sangat lengkap dari buku ilmu pengetahuan, fiksi, sampai buku anak-anak. Ba-ha-gi-a. Borong deh gw 3 buku. Ba-ha-gi-a! Lucunya, karena gw beli buku berbahasa Jerman dan Inggris, eh si mbak kasirnya ngajak gw ngomong pake bahasa Inggris dan nunjukin harga pake kalkulator. Ya elah masa gw dikira orang asing sih mbak, jelas-jelas muka eksotik ala Farah Quinn gagal gini, hahaha… 😀

8) Babi Guling Ibu Oka

Nah kalau ini, baca di postingan gw sebelumnya aja ya…saking istimewanya sampe dibikin 1 postingan sendiri lho, hehehew…

Gimana? Masih ragu untuk travelling ke Ubud?

Happy travelling, happy life! ^^

Advertisements

Day 2 – Sekali Biking Tiga Pantai Karimunjawa Terlalui

Sea, sun, sand, sky, and palms…

Pantai Anonim. Ya, perhentian pertama biking (+walking+nuntun sepeda) di Karimunjawa adalah pantai anonim ini. Untuk menuju ke pantai ini pun tidak ada path jalan yang khusus, melainkan harus menembus rumput, semak, dan ilalang terlebih dahulu. Butiran pasirnya yang bersih dan lembut mengintip dari tepi jalan, sontak kami meninggalkan sepeda kami di pinggir jalan begitu saja. Menembus ilalang, menuruni bebatuan yang lumayan curam, akhirnya di pantai kecil inilah kami melepas penat. Berbaring dialasi pasir putih dan beratapkan daun palem, rasanya perjalanan yang sudah dilalui tak sia-sia…

Melepas lelah selama kira-kira setengah jam, khawatir dengan sepeda yang kami tinggalkan begitu saja di pinggir jalan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, karena masih berkeyakinan bahwa pantai ini bukanlah Pantai Nirwana yang kami cari.

Melanjutkan perjalanan naik turun bukit, tak berapa lama kemudian kami disambut oleh pemandangan pantai yang luar biasa indah di sebelah kanan…lagi-lagi…terpisah oleh semak dan ilalang. Dan lagi-lagi, kami menjatuhkan sepeda dan segera menembus semak belukar tersebut…dan Puji Tuhan…inilah pantai yang terhampar di hadapan kami…

Pantai Legon Lele dengan gusung pasir yang menuju ke Pulau Batu

Pantai Legon Lele. Darimana gw bisa tahu namanya? Ceritanya menyusul ya, hehe. Kenapa dinamai Legon Lele? Baca nih di sini. Sungguh, pantai ini keren banget, airnya jernih, pasirnya putih, terdapat beberapa gundukan gosong pasir yang timbul karena air surut, tepi pantai ditumbuhi pohon-pohon palem, sedangkan di sebelah timur pantai lebih didominasi bebatuan dan karang yang besar-besar, bahkan gw sempat gelar lapak dan tidur-tiduran di atas batunya, hehehe…superb! Pulau yang tampak sangat dekat dari pantai adalah Pulau Batu. Pulau ini terasa sangat dekat sampai gw berpikir apakah bisa gw berenang ke sana…soalnya gosong pasirnya sendiri cukup panjang lho…seakan menuju ke Pulau Batu. Hehe tapi tentu saja gw nggak bener-bener berenang ke sana… 😛

Tidak ada papan petunjuk ataupun plang nama pantai di sini. Saat itu gw masih berkeyakinan inilah Pantai Nirwana. Lha uapike kayak gini, apa lagi kalau bukan Nirwana namanya? *kekeuh*. Cukup lama kami stay di sini, mengira pantai ini adalah destinasi terakhir kami. Meskipun dalam hati masih ragu juga apa bener ini Pantai Nirwana, jangan-jangan masih di depan lagi…ah, tapi badan sudah lelah, sudah luka (yang penting hati nggak luka kakak… *aposih*), dan hari sudah mulai sore. Akhirnya kami memutuskan berjalan pulang. Ya, berjalan. Dan menuntun sepeda. Hiks. Sungguh perjalanan yang berat untuk dua gadis kece yang jarang jogging apalagi fitness ini, hahaha…

Mengintip Pantai Legon Lele

Yah, tidak perlu diceritakan kisah keluh kesahnya, hehe…pokoknya tau-tau kami sudah sampai di daerah peradaban. Maksudnya peradaban yaitu sudah tampak rumah-rumah warga lagi. Pas ngelewatin salah satu rumah warga, ada seorang ibu-ibu yang menyapa dan mengajak ngobrol. Akhirnya kami iseng bertanya di manakah Pantai Nirwana. Dan jawaban si ibu ini sangat membuat shock. Ternyata…oh ternyata…Pantai Nirwana itu ada DI DALAM Nirwana Resort. Oh. My. God. *krik* *krik* *koakkk* *koakkk*…So…dari si ibu itu jugalah gw tahu kalau pantai yang tadi kami singgahi itu ternyata…

…Pantai Legon Lele…*krik* *krik* *koakkk* *koakkk*.

Okay. Geli juga jadinya. Lagian…mana nyangka kalau ada pantai DI DALAM resort? *secara gw belum pernah masuk ke yang namanya resort?!*. Setelah ngecharge perut dengan Pocari Sweat dan aneka gorengan dari warung setempat, plus ninggal sepeda di tambal ban yang ada di depan Nirwana Resort, akhirnya kami memasuki resort itu juga Saudara-Saudara! Sungguh…rasanya plong…akhirnya…kami kesampaian juga ke Pantai Nirwana. Yang ternyata harus bayar tiket masuk Rp 12.500,-. Yang ternyata viewnya below expectation. Pantai Nirwana ini tampaknya memang cocok untuk bersantai, tapi kesan touristy-nya sudah kental banget, dengan kursi-kursi malas di tepi pantai, lengkap dengan hotel berarsitektur eksotis, pepohonan palem yang berjajar merata…hm…I’d prefer Pantai Legon Lele sih…. Tapi selera orang kan beda-beda yak… 😀

Pantai Nirwana, cocok untuk relax dan menyepi…

Well, senangnya, dari hasil nyasar hari ini gw menemukan pantai Legon Lele yang cantik banget…sedihnya, ternyata ban sepeda gw yang kempes tidak bisa diselamatkan. O ya yang belum tahu kenapa, bisa baca di postingan gw sebelumnya.

“Si Merah” masuk bengkel…

Setelah berusaha berulang kali, penyelamatan ban pun dinyatakan gagal *aposih*. Asiknya, bapak-bapak pemilik tambal ban ini baik banget…dia menyuruh 2 orang anaknya mengantar kami pulang naik motor. Yeay! Terharu…baik banget ya warga di desa itu…Akhirnya acara biking Karimunjawa pun berakhir dengan pulang dibonceng motor sampai homestay dengan selamat. Hahaha~ I will never ever forget this journey. Sepedaannya, rute hardcorenya, nyusruk di pohonnya, kacang mete bakarnya, view pantainya, kisah nyasarnya, friendship storynya, kebaikan hati warganya…Thanks God You give me such a good life 🙂

Nongkrongin sunset udah, biking sampe nyusruk udah, makan seafood udah, nyepi di pantai udah, ngapain lagi dong di Karimunjawa? Oooo so pasti dong : island hopping and snorkeling! Yeay! Next posting yah 🙂

Day 2 – Biking Karimunjawa : dari mete bakar sampai nyusruk di pepohonan

Si Merah yang “tidak setia”. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Biking di Karimunjawa! Yap, itu tema trip hari ini. Siapa bilang Karimunjawa cuma melulu wisata laut? Hehe…Pagi ini kami menyewa sepeda gunung (ingat, kalo mau biking, jangan sewa sepeda onthel. Apalagi sepeda sayur yang ada keranjangnya. *anak SD juga tau kali*) seharga 30rb untuk 12 jam. Bisa juga sih 20rb untuk 6 jam. Tapi kami berencana biking sampe malem keliling pulau gitu… ;p *yang ternyata nggak kesampean*.

Kami mulai mengayuh sepeda ke arah timur. Masih di daerah perkampungan penduduk, jalannya lumayan bagus, lurus dan nggak menanjak. Asik juga bersepeda di pagi hari, matahari masih hangat-hangat tai ayam, udara bersih segar tanpa polusi, dan burung-burung yang bercicit-cuit…jadi…mengantuk *lhoh* wkwk… Sempet beristirahat di emperan rumah warga, dan menemukan anak cantik nan unyu-unyu, oh I’m falling in love~

Bocah unyu asli Karimun~ (lihat foto bocah2 unyu lainnya di sini)

Beberapa kali bertanya pada warga sekitar, semuanya menyebut Pantai Nirwana yang menjadi tujuan kami itu dekat. Tapi kok…nggak sampe-sampe yah…kami sudah melewati Nirwana Resort, tapi masih belum muncul juga penampakan pantai, sementara jalan makin berbukit-bukit, lumayan menguras tenaga ditambah lagi dengan sinar matahari yang mulai menyengat kulit, akhirnya kami menyerah dan beristirahat di pinggir jalan di depan ibu-ibu yang sedang memecah batu.

Nggak lama, datang sekelompok pemuda Karimun dalam mobil pick up yang akan mengambil batu-batu hasil keringat si ibu tadi. Mas-mas ini sangat ramah, dan mereka menawarkan seplastik buah mete yang sebelumnya mereka kumpulkan. Lho kok mete guedhe banget? Ternyata mete itu masih di dalam “cangkang”nya. Cara makannya gimana dong? Dibakar dulu ternyata. Seorang mas-mas dengan cekatan mengumpulkan daun-daun kering dan ranting dari sekitar, kemudian menyalakan api. Mete-mete itu ditumpuk begitu saja di atasnya. Mereka melarang kami pergi sebelum mencicipi mete bakar tersebut. Penasaran, kami pun memperhatikan dengan seksama. Eh, bener aja, buah mete yang awalnya berwarna coklat itu akhirnya jadi gosong. Lalu cara makannya? Ditumbuk dulu pake batu sampai “cangkang”nya pecah! Voila! Tampaklah mete panggang dengan warna coklat keemasan! Aromanya? Jangan ditanya…harum banget! Aaa…sungguh mete terenak yang pernah gw makan…*gratis pula ;p* Lucunya lagi, setelah selesai membakar  mete untuk kita, mereka malah pergi mengangkut batu, dan meninggalkan kami dengan mete-mete ini, hihi…jadi dimasakkin nih ceritanya 😀

Ladies and gentleman, please welcome…Mete Bakar asli Karimunjawa!

Puas ngemil mete di pinggir jalan, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah tragedi berdarah terjadi. Gw dengan pedenya meluncur di jalan yang curamnya kira-kira 60 derajat. Awalnya asik, kaya naek roller coaster gitu…pake tereak-tereak kegirangan…lama-lama…loh kok ngebut banget kaya terbang?! Loh kok nggak mungkin bisa ngerem?! Loh kok ujung jalannya belokan ke kanan?! Loh kok nggak mungkin bisa belok ke kanan?! Mampus Mak!! Mengikuti insting, sontak gw banting setir ke kiri (karena kanan jurang), menabrak pepohonan…widih…nerobos pohon deh gw, brak bruk brak bruk krosak krosak…serasa kaya di game gitu…dan berakhir dengan nyusruk muka mencium tanah. Hore! Sepeda njumpalit, pergelangan tangan kiri keseleo, muka, lengan dan kaki memar dan lecet-lecet. Siapa bilang dokter ngga bisa luka-luka? Dokter juga manusiaaaaa~

Udah nyusruk pun teteup eksis!

Okay. Udah luka-luka. Terus? (Gw musti bilang WOW?) Pulang? Nangis sama mama? Minta dijemput ambulans? Ya nggak lah yauw…hahaha…the show must go on, pokoknya harus nemu yang namanya Pantai Nirwana! Eh…bikernya udah semangat ’45 berkobar-kobar gini, malah sepedanya yang loyo. Bannya kempes dong, zzz…Dasar sepeda manja *tunjuk tunjuk* *tuding tuding*! Akhirnya perjalanan biking berubah menjadi walking…plus nuntun sepeda…Setelah melalui bukit-bukit dan lembah-lembah layaknya Ninja Hatori, sebuah view cantik menyambut kami…

Amazing view…nggak nyesel biking sampe nyusruk! 🙂 (dimuat juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Uuuuuuu…….~ Pergelangan tangan yang mulai membengkak cenat cenut layaknya anak ABG ditembak anak SM*SH pun jadi nggak begitu terasa nyeri…

Terus berjalan…berjalan…dan berjalan…

sampai akhirnya…kita disambut oleh pantai perawan yang…sungguh…sungguh…indah…

…yang ternyata BUKAN Pantai Nirwana. *gubrak*

Lha, terus pantai apa dong? Pantai yang lebih bagus dari Pantai Nirwana so pasti!

Penasaran penasaran? Ih kepo deh…Hehe. Nggak papa, pantai yang satu ini emang pantas dikepoin…Why? Cekidot di posting selanjutnya tentang pantai perawan di Karimunjawa…Pantai Legon Lele.