Singaporean Food (at Singaporean foodcourt, actually) : my short yet unsatisfying experiences

 

Di luar dugaan, pengalaman kuliner saya di Singapura ternyata mengecewakan. Entah lidah saya yang tidak cocok, atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi, atau mungkin saya belum menemukan tempat makan yang klop. Well, it turns out that Singaporean food is overrated, at least for me

Well, let’s check out my Singapore food experience!

First day, gw menyusuri daerah Arab Street dan Little India, sambil nyasar-nyasar dan bingung mau makan di mana karena budget terbatas, sehingga satu-satunya pilihan hanya foodcourt. Fortunately, there’s a lot of foodcourt in this area, eh tapi malah bikin makin bingung saking banyaknya. Akhirnya gw memutuskan mampir ke Berseh Foodmarket, lokasinya di Jalan Berseh, sekitaran Little India – Arab Street gitu deh, deket sama hostel gw juga. Berseh Foodmarket ini bentuknya sama seperti foodcourt di mall pada umumnya, cuma lebih padat dan agak kumuh. Menu pertama yang terbaca oleh saya adalah : Pig’s Visceral Soup. What! Err…okay I think that’s a bit creepy. And the next menu I read is : Crocodile Soup, Turtle Soup, and Pig’s Intestinal Soup… Argh! Kenapa menunya horror-horror gini seh? Padahal kalau di Indo biasa aja sih makan daging babi, mau itu CharSiu, SamChan, lidah, kuping, well, I don’t mind. Tapi kenapa kata-kata “pig’s visceral soup dan intestinal soup” itu bikin gw merinding yah. And crocodile soupugh a big no no I think. :/

Well, akhirnya gw memilih makan Nasi Babi Campur biasa (Charsiu Rice), yang penampakannya seperti ini :

Charsiu Rice, 3 SGD.

Charsiu Rice, 3 SGD.

Rasanya…well, harus gw akui daging babinya lebih tasty dan berasa dibanding rata-rata nasi campur babi di Bandung. Porsinya pun cukup banyak. Cumaaaaa…sambelnya sedikit dan nggak pedas. Huhu…

Gw nyicip Fish Meatball Noodle yang dipesan adik gw, hmm…baksonya dong, bakso ikan, uenak betul! Asli, enak banget bakso ikannya, ngga amis, tasty, yummy. Sayang cuma tiga biji. Mau ngabisin nggak tega sama adek sendiri hihi. Mie nya sih so-so ya…nothing special. And…nggak ada rasa pedes juga sih, emang suka ngelunjak nih lidah. Maunya yang pedes-pedes aja.

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Segitu aja? Belum dong, masih ada nih dessert nya, Almond Pudding. Rasanya lumayan, nggak terlalu manis tapi menyegarkan, cocok dimakan di tengah panasnya Singapura, apalagi setelah berjalan jauh. Sayang, agak overprice sih menurut gw.

Almond Pudding, 2 SGD

Almond Pudding, 2 SGD

Malamnya, gw makan di Maxwell Food Center, Chinatown, yang konon sangat sohor. Di berbagai blog backpacker pun tempat ini selalu direkomendasikan. Memang, foodcourt ini sangat amat luas, sampe capek gw berjalan dari ujung ke ujungnya saja, dan makin bingung milih makanannya. Akhirnya gw memutuskan mencoba TianTian Hainamese Chicken Rice yang terkenal itu. Katanya sih direkomendasiin sama the famous Anthony Bourdain himself.

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Well, menurut gw sih…biasa aja. Malah cenderung hambar ya. Entahlah, mungkin lidah Indonesia gw sudah terbiasa sama berbagai rasa rempah-rempah dan udah addict sama yang namanya rasa spicy, so ngerasain yang mungkin originalnya begini, lidah gw semacam diPHP-in. 😛

Selain itu, gw sempet “jajan” Fish Cake yang ternyata adalah bakwan udang sodara-sodara! Kenapa “jajan”? Karena harganya 2 SGD. Argh, bakwan udang termahal yang pernah gw makan dan penampakannya pun rada ajaib gini :

Fish Cake, 2 SGD

Fish Cake, 2 SGD

Kalo bakwan udangnya aja 2 SGD, uang jajan anak-anak sekolah di sana berapa yah? #random #kepo. Rasanya kaya bakwan. Pake udang. Okay nggak menolong ya keterangannya. Hahaha. Yah gitu deh, nothing special sih. Cuma ukurannya emang agak gede dan isiannya banyak jadi cukup ngenyangin.

Pengalaman tak terlupakan adalah saat makan di Market Foodcourt. Lokasinya di Market Street. Lokasinya memang di daerah perkantoran, di jam makan siang, karyawan-karyawan memenuhi foodcourt ini. Literally, memenuhi. Itu foodcourt udah kaya pasar saking penuhnya. Jalan pun susah. Meskipun gitu, saat memesan mereka semua antri berbaris dengan tertib loh. Yang bikin shock adalah…tempat duduknya di-“take” loh. Ngerti nggak maksudnya? Jadi mereka naruh barang-barang di atas meja yang akan mereka dudukin selama mereka ngantri, untuk mereka dan juga teman-temannya yang nanti akan duduk semeja. Anehnya, barang-barang itu berupa : tissue, koran, pensil, atau bahkan selebaran iklan. Hadoh…hampir semua meja sudah terisi oleh barang-barang ini. Gw hoki bisa dapet tempat duduk, itu aja sharing dengan orang lain. Dan nyebelinnya lagi di Singapura itu, petugas kebersihannya yang kebanyakan para lansia itu kelewat rajin, begitu makanan kita habis, langsung deh dy nyamperin dan membereskan semuanya. Berasa diusir gitu deh. Boro-boro mau ngobrol, bener-bener HMP. Habis Makan Pulang. Di Market Foodcourt ini gw makan Dumpling Noodle 3.5 SGD dan nyicip HorFun (sejenis kwetiaw gtu) 2.8 SGD, yang keduanya rasanya nggak enak. Plus gw sampai nggak sempet foto saking hecticnya suasana makan di sana. Hahaha…

Di seberang hostel gw, Bunc Hostel, ada foodcourt kecil yang suasananya lumayan comfy, dan buka 24 jam. Gw nyicip Pork Rib Noodle yang enak banget, worth it banget for 5 SGD. Dagingnya besar, empuk, kuahnya coklat jernih, gurih dan berasa. So far ini makanan Singapura yang paling gw suka. Yummy! *gulp* *sambil ngetik sambil ngiler*

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Masih bertema Pork Rib, keesokan harinya gw berburu Ba Kut Teh di Chinatown. Pengalaman lucu memesan makanan di sini, si penjual yang merangkap kokinya sama sekali tidak mengeluarkan suara, asli jutek abis. Saat gw pesen, dy cuma diem, masak-masak-masak, trus pas udah jadi, dia menunjuk makanan gw dengan kepalanya dong (menunjuk dengan kepala, ngerti nggak maksud gw?), yah, cuma kaya mengendikkan kepala gitu deh, ngerti kan? Hehe. Asli jutek abis. Abis itu gw bayar deh. Dan dy masih diem. Ebuset…sampe speechless. Maklum gw biasa dilayanin…di warteg. Hehehe… 😀

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh atau Pork Rib Tea ini simple aja sebenernya, Cuma pork rib pake kuah dengan bumbu rahasia *biar sok eksotis* (yang mau tau resepnya bisa buka : http://lifestyle.inquirer.net/61081/bak-kut-teh-singaporean-comfort-soup.) Pork ribnya sih enak banget, empuk, sampai tulang-tulang-tulangnya juga empuk dan bisa digerogotin *ups!*. Porsinya juga lumayan besar. Tapi lagi – lagi…kuahnya kurang tasty dan kurang spicy.

Sempet juga nyicip Carrot Cake, atau “chai tao kway”, ini salah satu makanan khas di Singapura, biasa dimakan untuk breakfast atau supper. Resepnya : Tepung beras dan lobak digoreng dengan telur, digarnish dengan daun bawang dan daun ketumbar. Bentuknya unik juga sih, kaya kwetiaw yang dipotong dadu tapi lebih tebal. Still wondering…where’s the carrot? :/

Carrot Cake, 4 SGD

Carrot Cake, 4 SGD

Last day in Singapore, bosan dengan Chinese Food dan merasa sudah intoksikasi babi, maka hari ini pun waktunya mencicipi kuliner India, tentunya di kawasan Little India. Saya mencoba Nasi Briyani dan Roti Prata.

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Agak heran juga kenapa makanan India kok malah lebih murah daripada makanan Chinese yang terbuat dari babi. Biasanya di Indonesia kan masakan babi justru lebih mahal dibanding ayam atau sapi. Eh keheranan terjawab setelah nasi pesanan saya datang. Porsinya bok! Porsi tukang becak! Hahaha…di bawah nasi tersembunyi ayam yang besarnya aduhai, rasanya spicy banget. Kental dengan bumbu-bumbu ala India yang berbau kari. Sayangnya saya kurang suka dengan nasinya, agak beda dengan nasi Indonesia, lebih panjang dan lebih ramping, aroma-aromanya seperti nasi uduk tapi lebih kering. Yah kurang lebih begitulah hehe harus dirasakan sendiri.

Orang-orang India di sekitar kami makan Nasi Briyani dengan lahapnya dan pake tangan. Woooo…sepiring tandas. Gw sih seporsi berdua aja udah kekenyangan mampus. Roti pratanya lumayan, sama saja dengan roti canai di Malaysia, hanya saja lebih tebal, dan kuah karinya sangat kental, beda dengan kuah roti canai di Malaysia yang saya pernah coba agak lebih encer dan kuahnya semangkuk sendiri.

That’s my food adventure in Singapore. Quite dissapointing, for now I think Malaysian Chinese Food is better than Singaporean. Thai’s food is much better, but of course it’s different, and Indonesian food is still numero uno. Hehehe…damn I love Indonesian food so much! ❤

PS : don’t forget to try Uncle Ice Cream at Merlion Park, but honestly, Indonesian Es Tong Tong or Es Puter is far more delicious!!

 

singapore food eating

 

 

 

~Happy travelling, happy eating, have a happy life!~

 

Backpacker Trip to Kawah Putih ~ not just an ordinary trip

Kawah Putih. Setelah 7 tahun tinggal di Bandung, finally gw berkunjung juga ke tempat wisata legendaris andalan Bandung ini. What??!! After 7 years? Okay okay, gw akuin sebagai mahasiswa Kedokteran yang rajin belajar dan menabung, gw telah menyia-nyiakan 7 tahun dengan tidak juga mengunjungi Kawah Putih ini. Hehe, but actually I did it last week. Dan…gw terpesona. Really. Dan juga merasa so stupid, kok bisa-bisanya gw melewatkan amazing landscape satu ini selama 7 tahun. Yah, alasan klise. Too busy, no time, and another stupid reasons… But finally, I did go there last week. Yeay!!
Cerita perjalanan ala backpacker ini simple aja. Bermula dari keinginan terpendam yang sudah lama bercokol di kepala gw, ditambah hasrat bertualang yang masih menggebu-gebu sepulang dari Malaysia dan Thailand beberapa bulan lalu, akhirnya gw memutuskan, gw HARUS pergi ke Kawah Putih. Konsultasi dengan Mr.Google pun dimulai, dan diakhiri dengan perasaan “ke mana aja gw selama ini?!”. Menuju Kawah Putih ternyata sangat gampang. Dari Bandung, pergilah ke Terminal Leuwi Panjang. Kemudian di sana bergantilah dengan Elf (angkutan semacam travel kecil versi abal-abal) yang menuju Ciwidey. Sesampainya di Terminal Ciwidey bergantilah dengan angkot kuning yang menuju Kawah Putih. Sampe deh. That’s simple. Segampang rute dari Maranatha menuju PVJ. Ckck…see…travelling is actually very easy, yang penting niat. Hehe.
Pagi hari yang dingin di hari Sabtu 30 Juni 2012, gw dan partner memBolang gw kali ini, Irene, memulai misi backpackeran kami ke Kawah Putih. Sebelumnya kami sarapan dulu di RedRoll Surya Sumantri, which has the best Vietnam food and coffee in town. Well, sarapan di sini nggak termasuk budget backpacker sih, hehe. But this is my favourite place for breakfast. Tuna Roll dan Bruschetta-nya yahud! Plus Vietnam Coffeenya…perfect for start a day!

Tuna RedRoll and Vietnam “drip” Coffee

Kembali ke perjalanan. Dari Surya Sumantri kami naik angkot Sarijadi-St.Hall menuju Jl.Pajajaran, di sana kami berganti angkot Cimahi-St.Hall. Sampai di Caringin Jl.Soekarno Hatta, kami berganti lagi angkot Cimahi-Leuwi Panjang. Sampailah kami di Terminal Leuwi Panjang. Itu pertama kalinya gw masuk ke dalam terminal Leuwi Panjang. Hehe. Kemane aje Buuuu…. ;p Suasana di dalam terminal cukup ramai, mayoritas dipenuhi bus-bus jurusan Bandung-Jakarta. Di sana banyak abang-abang yang menanyakan tujuan kami, dan gw dengan ramah menjawab satu persatu pertanyaan mereka. Serasa artis, huahaha…Ternyata memang orang Bandung itu ramah-ramah, baik hati, penyayang dan gemar menabung. Hehe…okay, yang terakhir hiperbolis. Kenapa? Karena tanpa gw bertanya pun, para abang-abang itu dengan murah hati memberi informasi mengenai angkutan menuju Ciwidey. Ternyata kami harus keluar ke sisi samping luar terminal (nah loh, di mana tuh? Bingung kan? Tenang nanti akan ada abang-abang yang memberi info :D). Di sana kami berdiri ngetem menunggu Elf. Cukup lama juga, kira-kira 15 menit. Elf ini bentuknya seperti travel tapi mini dan lebih “buluk”. Kami berdua duduk di depan. Cukup nyaman. Hanya saja dia ngetem di beberapa tempat menunggu sampai 1 mobil terisi penuh. Dan ngetemnya cukup lama. Fiuh. Sabar aja, namanya juga angkutan umum, hehe. Sepanjang perjalanan gw menghabiskan kwaci sampai setengah bungkus (titisan hamster :D). Setelah terkantuk-kantuk dan terjebak macet yang cukup panjang di daerah Kopo, akhirnya kami sampai juga di terminal Ciwidey. Perjalanan sekitar 1,5 jam itu cukup dengan biaya 6000 rupiah saja. Murah meriah. O ya, bagi yang sial, akan mendapat tempat duduk sisa, yaitu di belakang supir tetapi dengan posisi memunggungi supir alias menghadap ke belakang. Tempat duduknya pun sangat sempit, dan dijamin akan pegal dan mual. Hehe.
Sesampainya di terminal Ciwidey, kami langsung disambut oleh beberapa abang-abang yang menawarkan jasa angkutannya. Kami mengikuti seorang abang yang membawa angkot ke Kawah Putih. Sebelumnya kami negosiasi harga terlebih dahulu. Dia menawarkan tarif 55.000 rupiah untuk perjalanan pp Kawah Putih, sudah termasuk tiket masuk. Harga tiket masuknya sendiri 12.000 di hari biasa dan 15.000 di saat weekend. O ya, harga tersebut berlaku untuk jumlah penumpang minimal 7 orang. Saat itu di dalam angkutan sudah ada 2 orang. Ngetem sebentar, akhirnya jumlah seluruh penumpang mencapai 9 orang. Yeay, capcus cyiinn….!

Model Angkutan Ciwidey – Kawah Putih ;p

Udara di Ciwidey sedikit lebih dingin dibandingkan Bandung. Perjalanan berlangsung lancar dan riang gembira, dengan pemandangan alam di kanan kiri jalan yang menanjak, seru deh…segar dan minim polusi. Beda banget sama kondisi kota Bandung yang sekarang sudah padat oleh kendaraan. Oya, penghuni angkutan kami terdiri dari muda mudi, hehe, ada yang berasal dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Sekitar 45 menit perjalanan melalui tanjakan yang berlika-liku, sampailah kami di pintu gerbang Kawah Putih. Dan di sinilah “tragedi” terjadi. Tiba-tiba saja kami dicegat seorang polisi berbadan gemuk dan bertampang garang. Berikut dialog yang terjadi :
PP (Pak Polisi) : *sambil menginspeksi ke dalam angkutan* “Dari mana?”
AA (Abang Angkot) : “Terminal Pak”
PP : “Bener?!”
AA : “Bener Pak”
PP : “Ga boleh lewat sini. Mana SIM?”
AA : “Pak, bolehlah ke atas Pak, ini dari terminal. Bener Pak.”
PP : “Hey! Saya polisi. Saya berhak memeriksa Anda!” *muka asem rada songong*
AA : “Ga bawa Pak…ada di majikan Pak”
PP: “Apa-apaan ini, bawa mobil ga bawa SIM. Keluar. Turun-turun!”
AA: *turun dari mobil**memohon-mohon supaya boleh naik ke atas* *dikerubungi polisi lainnya* *dimarahin polisi* *ciut*
PP : “Ga bisa, balik-balik. Ga boleh naik.”
AA: *masuk ke mobil kembali*
PP: *menggebrak samping mobil, BRAK!!* “Bu, lain kali jangan pake mobil ini Bu!” *muka asem*
Penumpang : *bengong*
AA : *putar balik* *kesel* *merasa apes*

Yeah. Itulah yang terjadi pemirsa. Baru kali ini seumur hidup saya, mau berkunjung ke tempat wisata malah diusir. Great. Indonesia. Hebat. Nggak jadi ke Kawah Putih dong??? Ow, tentu tidak. Hehe. Untungnya si AA, eh, si abang ini cerdik seperti kancil dan cerdas seperti tupai (???), dia menawarkan apakah kami mau berkunjung ke Situ Patengan dulu, baru nanti kembali lagi ke Kawah Putih. Kami semua sepakat. Iya dong, pokoknya HARUS ke Kawah Putih. Pantang menyerah walau diusir oleh bangsa sendiri. Ceileh. Okay, jadilah kami pintu gerbang kami berbelok ke kiri, menuju ke Danau Situ Patengan yang terkenal dengan Batu Cinta-nya. Saya sendiri belum pernah mengunjunginya. Dalam perjalanan menuju Situ Patengan, kami disuguhi pemandangan kebun teh yang sangan luas di kiri dan kanan jalan. Very beautiful. Susunan tanaman yang begitu teratur, seragam, dan berwarna hijau cerah sungguh memanjakan mata gw. Ditambah udara yang sejuk segar yang mengademkan hati. Ini sih namanya blessing in disguise. Ada untungnya juga kami diusir si PP. Di tengah perjalanan, abang angkot tercinta menawarkan apakah kami mau berhenti sejenak untuk berfoto-foto. Tentu saja, dasarnya banci kamera, kami semua setuju. Spot saat itu sangat indah, yaitu perkebunan teh yang rapat-rapat dengan latar belakang danau Situ Patengan. Yay, banci kamera in action!! 😀

Ciwidey Tea Plantation – Situ Patengan Lake


Puas berfoto-foto indah, kami melanjutkan perjalanan, 15 menit kemudian kami telah sampai di danau Situ Patengan. Yang ternyata sangat ramai. Kios-kios makanan, gorengan, buah strawberry, souvenir, sampai boneka, berjejer menyambut pengunjung. Danaunya sendiri cukup luas, dengan pulau kecil di tengahnya. Di pulau inilah terletak Batu Cinta yang terkenal itu. Untuk mencapai Batu Cinta, harus menggunakan perahu kayu yang berkapasitas sekitar 15 orang. Ada juga sepeda air yang disewakan per jam dengan tarif 30.000 rupiah. Karena waktu kunjungan kami terbatas, hanya satu jam, gw pun melewatkan Batu Cinta. Maybe next time deh ke sana kalau bawa pasangan, hihi, kali aja beneran jadi langgeng. So, gw dan Irene hanya berfoto-foto di sekitar danau, pemandangannya lumayan, nggak spekta banget sih, not bad lah…tapi udaranya cukup dingin, which is bikin laper. Kami pun jajan berbagai gorengan (tempe goreng, ubi, pisang goreng, lontong) seharga 4000 rupiah saja, plus menghangatkan tubuh dengan secangkir Bajigur seharga 3000 rupiah. Cemal-cemil murmer begini nih yang gw suka, ihiy, nyam-nyam…Meskipun di Bandung juga ada, tapi di sini feelnya lebih pas karena udaranya yang dingin dan segar. Belum puas nyemal-nyemil, kami juga mengicip buah Blackberry seharga 5000 rupiah 1 pak, yang ternyata sangat asam dan dengan sukses mencemari jari-jari kami dengan warna ungunya yang sulit hilang. Hihi…tapi eh tapi…gw menemukan benda kecil berwarna putih yang tampak seperti baby ulat di antara buah Blackberry tersebut. Maka berakhirlah acara icip-icip Blackberry. 😦 Sekitar jam 2 kami sudah standby di dalam angkutan, tapi ternyata 5 orang lainnya masih belum kembali. Daripada bengong, gw pun jajan siomay seharga 5000 rupiah. Irene berkeliling survey harga boneka kaki raksasa yang dia idam-idamkan tapi ternyata harganya mahal, 60rb Bo, mendingan beli di mall aja deh, hahaha… Janjian pulang jam 2 pun molor sampai 30 menit *sigh*. Dan ternyata yang lain pada nyebrang ke Batu Cinta dong…heuh, tau gitu…kirain gak akan keburu. Next time deh ya…

Situ Patengan Lake


10 years friendship~

Puas isi perut di Situ Patengan, kami kembali menuju ke Kawah Putih. Info punya info, katanya sih Pak Polisi kita tercinta sudah angkat kaki dari Kawah Putih. Keadaan aman terkendali. Ternyata…kami diusir karena sebetulnya kendaraan umum tidak boleh memasuki Kawah Putih, melainkan harus menggunakan “Ontang-Anting”, kendaraan umum khusus yang disediakan pengelola Kawah Putih, dengan tarif 15.000 sekali naik dari gerbang. Damn you Pak Polisi, why didn’t you just tell us to change vehicle to Ontang Anting? Why didn’t you tell us the rule? Why didn’t you just act nice and give the damn information? Instead of being rude and tell us to go home? Yah, beginilah pariwisata di Indonesia. Padahal kami semua turis lokal. Kebayang kalo wisatawan asing yang diginiin, bakal bengong kali mereka. Diusir dari tempat wisata? What’s wrong with this country? Bayangin udah dateng jauh-jauh dari kota lain atau bahkan negara lain untuk melihat keindahan Kawah Putih, dan you diusir gitu aja dari gerbang. Fiuh…berharap pariwisata Indonesia bisa lebih maju lagi dari sekarang. Mungkin bisa berguru pada Thailand di mana turis disambut bagai raja. Hospitality mereka patut diacungi jempol. 🙂
So, setelah kondisi “aman terkendali tanpa polisi”, kami meluncur menuju lokasi utama Kawah Putih, dengan melalui jalan yang luar biasa menanjak, bahkan angkutan kami sampai ngos-ngosan dan terpaksa menurunkan sebagian penumpang di tengah jalan saat melalui tanjakan. Sebagian diangkut terlebih dahulu melewati “ranjau” tanjakan, kemudian angkot kembali lagi menjemput rombongan yang diturunkan tadi. Hihi, seru! Tapi anehnya, tampaknya angkutan Ontang Anting tidak bermasalah dengan tanjakan-tanjakan ini. Mobilnya padahal serupa angkot juga. Kalau mobil pribadi…pfffttt, jangan ditanya, di belakang kami saja sebuah mobil Avanza empot-empotan saat melalui tanjakan. Dan lagi, apabila Anda membawa mobil pribadi, tarif tiket masuk bukan 15rb lagi melainkan 150rb. Mahal buanget rek! Mendingan sih parkir mobil pribadi di gerbang lalu naik Ontang Anting tadi untuk menuju Kawah Putih. Lebih seru dan hemat tentunya 😀

Touche!


Kawah Putih! Finally touch down! Sungguh, sungguh, indah. Amazing. Gw nggak nyangka kalau ternyata kawahnya sendiri begitu luas. Dan begitu indah. Pemandangan kawah yang berwarna biru kehijauan dan berasap putih, dikelilingi pepohonan yang hijau, ditambah lagi langit yang cerah dihiasi awan-awan seputih kapas. Sungguh terpesona pada pandangan pertama. Berada di tengah kawah, again, gw merasa begitu kecil dibandingkan ciptaan-Nya. Sekaligus takjub dengan keindahan yang diciptakan-Nya. Air kawah yang jernih sungguh menggoda, sayangnya nggak bisa renang di sana, hehe…Gw pun langsung action berfoto ala ala model amatir. Dengan background alam sebagus ini, seamatir apapun modelnya, fotonya tetep aja looked fabulous, hihihi… 😀 Sulit mendeskripsikan keindahan Kawah Putih ini dengan kata-kata, so, just look at the pictures





Makin sore udara makin dingin. Dan pemandangan semakin indah. Redupnya sinar matahari di sore hari membuat warna air kawah menjadi lebih kebiruan dan tampak lebih mellow #apasih. Acara foto-foto jadi semakin menggila. Tapi, gw menarik kesimpulan, sebagus apapun hasil foto di kamera, tetep nggak bisa menandingi keindahan yang tertangkap langsung oleh mata. Rasanya betah berada di Kawah Putih, sayang sekali waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Kawah Putih akan ditutup, jadi…dengan berat hati kami pun berjalan keluar, di mana abang angkutan sudah menanti.

Sebelum keluar dari area, kami mampir dulu di warung-warung penjual makanan dan cemilan khas Ciwidey. Sempet nyoba Strawberry Fondue (buah strawberry yang dicelup coklat cair), uh enak banget sodara-sodara! Akhirnya mesen 1 porsi lagi. Strawberrynya terasa lebih enak daripada Strawberry Fondue yang dijual di mall-mall. Mungkin pengaruh suasana juga kali ya. Plus, akhirnya gw menggondol pulang seplastik kerupuk pedas Strawberry dan seplastik cheese stick Strawberry. Keduanya berwarna pink. Dan memang menggunakan campuran buah Strawberry sebagai bahannya. Unik bukan? Hehe. Rasanya sih so so lah…Harganya? Masing-masing 10rb rupiah.
Dalam perjalanan pulang kami terjebak macet. Hari sudah gelap. Akhirnya si abang yang kreatif ini mengambil jalan memutar, melewati desa-desa dengan jalan yang sangat sempit, naik turun tebing, tetapi pemandangan kanan kiri lumayan bagus, so gw sih enjoy aja. Eh, di tengah jalan bensin kritis, akhirnya kami mampir ke rumah penduduk yang menjual bensin. Di sini gw numpang pipis di salah satu rumah penduduk, dan cukup kaget juga mengetahui kalau di sana masih menggunakan MCK (mandi, cuci, kakus). Astaga…padahal penghasilan daerah pasti cukup besar yah dengan adanya daya tarik wisata seperti Kawah Putih dan Kebun Strawberry, Kebun Teh, dan sebagainya. Tapi kenapa warga di desa-desanya masih pake MCK? Sangat disayangkan dan prihatin…Dan gw kembali terkaget-kaget karena si empunya rumah menawari kami makan. Waw, numpang pipis malah ditawari makan, itu sesuatu banget, hal yang gw rasa hanya bisa ditemukan di desa. Jadi terkenang masa-masa gw live in di Kulon Progo Yogyakarta. Setiap bertamu ke rumah penduduk selalu ditawari makan, alhasil gw bisa makan sehari sampai 7 kali! Betapa ramahnya penduduk desa…
Setelah melewati gunung dan lembah, sampai juga kami ke jalan utama Ciwidey, di mana sudah ada angkutan Elf menuju Bandung yang sudah menanti. Bagaimana bisa si abang angkutan berhenti tepat di depan Elf, itu masih misteri, hehe. Tadinya gw udah agak cemas juga memikirkan harus menunggu Elf di Terminal Ciwidey. Ternyata malah seturunnya dari angkutan kami langsung berganti dengan Elf. Oya tak lupa kami membayar si abang angkutan baik hati ini sebesar 65rb. Hitung-hitung ongkos ekstra ke Situ Patengan.
Kondisi Elf pulang lebih parah dibandingkan saat berangkat. Gw dapet tempat di kursi paling belakang dan sangat sempit. Penumpang pun berjejal-jejalan. Fiuh, sumpeknya…untungnya sih perjalanan kali ini lebih cepat, sekitar 1 jam kemudian kami sudah sampai di Terminal Leuwi Panjang. Waktu menunjukkan pukul 20.30. Sebelum pulang kami mampir ke Warung Makan Ibu Imas di Jalan Pungkur yang terkenal dengan sambelnya yang pedesnya juara. Must try! Akhirnya kami pulang dengan perut kenyang dan hati senang. What a beautiful life~

Total expenses :
Angkot : pp 6 x 2000 : 12.000
Elf : pp 2 x 6000 : 12.000
Angkutan include tiket masuk : 65.000
Jajanan : 22.000
Oleh-oleh : 20.000
Dinner @Ibu Imas : 27500
Total : 158.500 all in hehehe… 😀 (exclude sarapan di RedRoll)

Happy travelling, happy life~

Thai’s and Malaysian Food : Which one do you like?

Tiga hal yang gw nikmati selama perjalanan : 1. View 2. Culinair 3. Culture

Selama seminggu di Malaysia dan Thailand, gw menemukan banyak makanan baru yang tasty, unique, yang jelas rasanya quite different from Indonesian food…just wanna share it anyway… 😀

Thai’s food.

Khao Niao (Sticky rice/ketan manis dengan semacam topping dari gula aren). Deliciously sweet!

Banana Chocolate Pancake. Bisa ditemui di sepanjang tepi jalan Patong.

Mango Sticky Rice. Cemilan khas Thailand.

Tom Yum Goong Nam Khon (Creamy Tom Yum Kung).

This one is creamy, sour and spicy. The best!

Pineapple Fried Rice. Beware : kulitnya nggak bisa dimakan XD

Pad Thai. Mirip kwetiaw di Indo. Spicy.

Buggar. I forget the name of it. Mirip lodeh.

Mix Seafood Pad Thai. Masakan Thailand sering menggunakan bubuk kacang.

Telur Pitan. Thousand years Egg. My favourite egg.

Pork Noodle. The best pork noodle ever.

Prawn Fried Rice. Spicy. Large portion. Halal.

Street food. Fried Dumplings. Cheap and yummy. Nagih!

Bakpia raksasa isi kacang ijo+potongan kecil timun. Unique. Krenyes-krenyes.

Kungfu Chef in action. Sreng osreng osreng!!

Aneka gerobak Street Food

Malaysian’s food.

Ordinary Kopitiam, similar with Indonesian.

 Penang Kwetiau. Nothing special.

Pork. Small portion 😦

Sesame Pork. Nah ini uenak banget…. 😀

Roti Cane Asin. Pake celupan kuah kari. Karinya strong banget. Kaya kuah rendang.

Roti Cane Manis. Pake susu. Manisnya pas…makannya disobek-sobek pake tangan. Enyaaakkk!

Kesimpulannya, lidah gw sih lebih cocok ke masakan Thailand. Spicy, tasty, soury. Masakan Malaysia rata-rata hampir mirip masakan Indonesia, hanya saja lebih berbumbu kari. No surprise…Hehe…well, semoga saja gw bisa berkeliling icip-icip lagi next time. My taste bud always craving for more and more unique food! 😀

PS : untuk para pecinta travelling dan kuliner, coba buka link Turnamen Foto Perjalanan ini deh, banyak banget foto-foto kuliner dari berbagai daerah yang pastinya unique dan hmmm…slurpy!

Day 7 – Last Day at Phuket

Hari terakhir di Phuket. Pagi itu gw terbangun dengan hati berat. Nggak rela rasanya meninggalkan Phuket yang indah ini. Masih ingin rasanya berbaring-baring santai di pantai. Masih belum puas rasanya mencicipi gemerlapnya Bangla Road. Masih banyak tempat yang ingin gw kunjungi. Sayang liburan singkat ini harus berakhir. Sebelum check out, gw menyempatkan diri berenang di lantai 5 hotel. Nggak mau rugi. Hehe. Kolam renang di Santi White Hotel ini sangat bersih, meskipun sayang ukuran kolam yang tidak terlalu luas. Tapi cukuplah untuk pemanasan di pagi hari.

Di hari terakhir ini jadwal kami yaitu mengunjungi Jungceylon Mall. Berburu oleh-oleh tentunya. Katanya sih di mall ini malah lebih murah daripada toko-toko yang berjajar di Patong. Gw sempat membandingkan harga kain Thailand…hemmm…memang lebih murah di Jungceylon sih. Dan lagi…toko-tokonya buanyaaakkk banget sampe pusing deh, mana budget terbatas. Bahkan gw sempet nuker 200.000 rupiah gw ke Baht. Which is…rugi 50.000 perak! Dan nuker 50 RM gw yang tersisa. Sial. Haha… sial banget di saat kritis kehabisan uang untuk oleh-oleh, malah uang Dollar cadangan yang gw siapin malah ketinggalan di hotel. Argh! Ya udah deh ngerelain rupiah gw. Kurs nya di sana 1 THB = 200 Rp aja. Fiuh…sayang ya. Hati-hati aja kalau shopping di Jungceylon. Barang-barangnya lucu-lucu bangeeeetttt….gw dapet gantungan kunci gajah-gajahan dari kain yang lucu banget, kaos “I love Phuket”, kaos bergambar gajah Thailand dengan motif timbul, dan…yang paling gw suka…kain sarung bermotif gajah-gajah Thailand yang unik banget, Thailand banget. Hehe…nice. Oh iya. Dapet tas kain motif gajah juga. 😀 Hedeuh…niatnya mau beli oleh-oleh malah akhirnya lebih banyak beli buat diri sendiri, hahaha…gak nahan sih lucu-lucunya… *blush*

Pose di depan Jungceylon Mall

O ya kami sempat makan di foodcourt mall ini. Sistemnya pake cash card kaya di BSM gitu. Jadi uang kita ditukarkan dengan kartu yang diisi saldo sejumlah uang yang kita berikan, nanti beli-beli makanan tinggal nyerahin kartu itu ke penjualnya, dan sisa saldonya nanti bisa diuangkan lagi cash kok kalau kita mau keluar foodcourt. Di sini gw akhirnya nemu Mango Sticky Rice yang diidam-idamkan sejak sebelum berangkat. Yummy banget…gak nyangka mangga dan ketan ternyata berjodoh…nom nom…rasanya manis-manis seger. Si mangganya bikin sticky rice jadi ngga eneg…

The Famous Mango Sticky Rice

Ini Prawn Fried Rice yang gw pesen. Uenakkkk tenan! Nom nom…happy tummy

Beres makan dan borong oleh-oleh, kami bergegas balik ke hotel, karena harus packing dan ngejar flight jam 19.20. Ternyata packing kepulangan jauh lebih ribet. Maklum, barang-barang bertambah satu gembolan. Hehehe… mana untuk kepulangan kami hanya memesan 1 bagasi untuk bertiga hihi…maklum, pake Air Asia…

Untuk airport transfer kami memesan mini van melalui hotel. Harganya 150 THB perorang. Bandaranya ada di Phuket Town. Not bad lah ya…pretty cheap. Bisa juga naik bus dengan 20 THB saja menuju Phuket Town, tapi quite risky sih hehe…takut telat. Btw, kami dijemput mini van pukul 16.30, dan udah dag dig dug der aja takut telat, hehe…tapi ternyata sampai bandara kami masih punya banyak waktu untuk makan, luntang lantung dan keliling-keliling toko-toko di dalam bandara. Aje gile mahal-mahal makanan di sana. Saran gw, makanlah sekenyang-kenyangnya sebelum ke bandara, di sana kami kelaparan, dan segelas mi instan dihargai 100 THB, sori aja, hahaha…akhirnya kami makan paket hotdog Dairy Queen, sekitar 150 THB. Swt…tapi nggak nyesel sih, karena ngenyangin banget. But still…nyesek juga sih. Bisa dapet Prawn Fried Rice lagi tuh dengan harga nggak nyampe segitu. Dan dan…akhirnya duit udah ludes des, tinggal 30 THB saja, horrreee…

Suasana di dalam Phuket Airport

Drooling around Duty Free shops

Pesawat kami didelay 30 menit, yeah, no complain…namanya juga low cost carrier. Anyway…flight selama 3 jam berjalan mulus…gw pun turun di Soetta…dengan perasaan masgyul. Back to ordinary life again. But with lot of unforgettable memories…Yang jelas…perjalanan ini bikin gw ketagihaaaannnn…..! Hehe. Sampai tulisan ini ditulis pun gw udah megang 2 tiket promo ke Singapura bulan Januari dan Mei 2013, plus 1 tiket promo ke Bali bulan Januari 2013. Thanks to Air Asia, gw dapet tiket pp Bdg-Singapura cuma 600rb untuk bulan Januari dan 300rb untuk bulan Mei. Ke Bali? Pp 400rb saja! Yipeee…can’t wait for those trips next year.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Well,

Working, Saving, Eating, Travelling, Writing.

And my life turns out to be more and more colorful…

 

~end of my first trip abroad~

Day 4 – Karon Beach

Sekitar 20 menit perjalanan, kami akhirnya diturunkan tepat di pinggir Karon beach. Ngga langsung ke pantai, nyari-nyari dulu toilet lamaaaaa…….akhirnya numpang ke toilet salah satu resor di sana, hehehe…

Main area Karon Beach ini beda banget sama Patong. Di Karon ini suasananya sangat tenang, lebih sepi, dan dipenuhi resor-resor mahal, jauh lebih elit daripada Patong. Bahkan bule-bule yang ada di sini pun penampilannya elit, mengesankan banget kalo mereka rich, hehe, beda banget sama bule-bule yang memenuhi Patong. Bukannya bilang yang di Patong miskin, tapi yang jelas sih bule-bule di Karon ini golongan “the-have” banget, fufufu…Pantainya sendiri sangat bersih, pasirnya unik, berupa hamparan butiran halus keemasan…empuk dan tebal. Enak banget buat sunbathing. Dan emang semua bule yang ada di situ (ehm, sebenernya semua orang yang ada di pantai itu bule. We’re the only Asian there!) rata-rata sunbathing semua. Ada juga beberapa yang renang dan main voli pantai. Ga mau kalah, kita juga akhirnya gelar lapak, eh, gelar kain. Hehe…Ngejogrok pewe di pasir pantai Karon…dengan suasana senja yang sangat quiet and peacefull…damn inikah kedamaian yang sebenarnya…hehehe… Rasanya indah aja gitu berbaring di pantai and doing nothing. This is the art of doing nothing. With bestfriends. Isn’t that perfect? Thanks my friends 🙂

Karon Beach menjelang Sunset

Pasir Karon beach yang empuk dan berwarna keemasan

Sunset @Karon

Kami menanti sunset datang sambil leyeh-leyeh, keceh, dan foto-foto narsis tak lupa. Setelah langit mulai agak gelap, jam 7, barulah kami beranjak. Untuk kembali ke Patong kami naik tuktuk seharga 300 THB bertiga. Mahal hiks…tapi ngga ada alternatif lain, itu aja udah nawar-nawar pake muka memelas mampus…kami turun di Jungceylon Mall, mall terbesar (eh, atau satu-satunya mall?) di Patong.

Jungceylon Mall

Kami nemu salah satu kantor agen tur yang agak bagus di main road Patong. Di dalam kami disambut seorang ibu-ibu yang sangat ramah. Dia menawarkan tur PhiPhi Island dan JamesBond masing-masing Island seharga 1500 THB. Jiah. Kami menawar 1000 THB tapi dia nggak kasih. Akhirnya harga terakhir yang kami dapat 2500 THB untuk kedua tur itu. Di sinilah kami mulai berkeringat, karena ternyata uang kami nggak cukup, hehe…dengan sangat amat malu tapi mencoba bermuka tebal, kami meminta keringanan untuk membayar setengah dahulu dan membayar sisanya malam itu juga. Kami harus ambil uang dulu di hotel. Eh nggak disangka, si ibu yang baik hati ini malah memperbolehkan kami untuk membayar separuh dulu dan membayar sisanya besok langsung sebelum berangkat ke pemandu tur. Aishhh…ngutang nih jadinya, malu-maluin ya…hihi…dan nggak cukup sampe di situ, dia juga menawarkan untuk memesankan tiket Simon Cabaret, VIP, seharga 600 THB perorang. Deal deh. Hehe…dan hebatnya lagi dia bahkan nggak minta tanda pengenal kami sama sekali. Bener-bener based on trust. Hahaha…baik-baik banget sih orang Thailand ini… 🙂 Kami pun balik ke hotel, sebelumnya sempet ngelewatin Bangla Road yang udah mulai rame, tapi masih jam 9, dancer-dancernya belum kelihatan. Gw udah semangat banget pengen nongkrong di sana, tapi badan udah remuk banget, akhirnya malem itu kita cari makan di sekitar hotel, dan nemu Thai resto yang lezat banget, TomYum nya juara! Rasanya asem tapi agak creamy, seafoodnya ada udang, cumi, baso ikan, semuanya seger ga amis sama sekali… I like this very much XD Nasi Goreng Nanas dan Nasi Babi nya juga lumayan. Eh sebelumnya juga sempet jajan Chocolate Pancake di gerobak abang-abang pinggir jalan, yummy, mirip crepes gitu, tapi sayang mahal 40 THB 1 porsi. Hehe…puas deh malam itu kita tidur dengan hati senang dan perut kekenyangan, dan excited banget untuk tur James Bond Island besok…

Vivi pose di depan Pancake stall

Yummiest TomYum @Phuket

Pineapple Fried Rice

Day 4 – Phuket Town (OldTown-SittingBuddha-ButterflyGarden-WatChalong)

Kita semua diturunkan di pinggir jalan, kalau ngga salah inget sih di Ranong Road. Pas turun dari bus, si kenek bus ini ngajak ngobrol kita. Nanya kita berasal dari mana, dan tiba-tiba aja dia nawarin tuktuk untuk keliling kota dengan harga 100 THB saja untuk kami bertiga. Gila, murah banget! Dari hasil browsing sih katanya untuk City Tour itu tarifnya bisa 800-1500 THB untuk 6 jam. Ibarat anjing ketemu tulang, langsung aja kami sambut tawaran si abang baik hati ini. Dia bahkan sudah siap dengan peta Phuket Town di tangannya (curiga emang side job nya dia nih, hehe). Nggak sampai 5 menit, si abang datang dengan tuktuk dan supirnya yang udah engkong-engkong, hihi…jangan-jangan engkongnya sendiri nih dipekerjakan 😀

Irene di dalam tuktuk tercinta…

Destinasi pertama yaitu Phuket Old Town. Menurut si abang, di sini adalah kawasan Chinese people. Mereka tinggal di rumah-rumah tua yang disebut Sino Portuguese. Kami didrop di situ. Kalau ngga salah sih di sekitar Dibuk Road. Si abang ini bilang “take your time, i’ll wait here”. Waw…asik gini, hehe… Karena lapar, kami mampir di salah satu kedai Mie Cina di situ. Ternyata…di kedai itu ngga ada yang bisa bahasa Inggris dong, tampaknya Thai and Chinese only. Mati dah. Hahaha…sempet ditanya bisa bahasa Cina ga, kami hanya menggeleng malu, hihihi…akhirnya kita berbahasa Tarzan sama engkoh-engkoh yang jualan Mie. Wkwkwkw…. Beruntung banget mampir ke tempat ini. Mie nya sumpah super enak banggeud! Pork is always the yummiest meat! Kayanya ini mie Cina terenak yang pernah gw makan. Arghh….mengingatnya aja udah bikin ngacay (*ngiler*)…huhuhu…

Mie Babi terenak sejagad! Yummy yummy…

Gw rada lupa harga mie nya brp, saking udah teler kekenyangan dan keenakan. Hehe. Kalo nggak salah sih…50 THB. Murah kok untuk mie babi seenak itu, huhuhu. Beres makan kita foto-foto di salah satu rumah tua, si abang tuktuk bahkan dengan baik hati mau memfotokan kita bertiga 😀 Menurut gw, rumah-rumah di situ unik dan vintage banget, sayang karena udah banyak mobil lalu lalang jadi kesannya agak biasa dan susah juga cari spot foto yang ngga kehalang mobil yang parkir.

Chinese House @Phuket Old Town

Old Portugiese House @Phuket Old Town

Tujuan selanjutnya yaitu Big Buddha. Ada salah pengertian di sini. Maksud gw Big Buddha adalah Big Buddha yang ada di Promthep Cape. Yang warnanya putih itu. Ternyata si abang membawa kami ke Sitting Buddha yang ada di Wat Khao Rang, Khao Rang Hill. Saat itu sih gw nggak nyadar. Baru nyadar setelahnya kami ke Wat Chalong dan dari sana terlihatlah nun jauh di sana patung Big Buddha di Promthep Cape yang ada di atas bukit. Oh ternyata Promthep Cape begitu jauh! Batal deh ke Big Buddha, hehe, ngga apa-apa deh, Sitting Buddha di wat Khao Rang ini juga supeeerrr sekali kalo kata Mario Teguh mah. Sitting Buddha ini merupakan patung Sitting Buddha terbesar di Phuket. Wat Khao Rang nya sendiri sangat megah, tangganya banyak, capek juga naik ke atasnya, tapi setelah sampai di atas, bener-bener worth it, bagus banget dan artistik banget. Tempat ini masih sepi, pengunjung pun hanya kami bertiga dan 1 rombongan lain yang ternyata berasal dari Bandung juga (ih dunia sempit!). Kami menghabiskan banyak waktu berfoto-foto di sana dengan berbagai pose, hehe…sumpah keren banget…Sempet ketemu Bikkhu yang ada di sana, eh ramah banget, padahal asalnya rada ga enak ke dia krn gw foto-foto ala turis di Wat tempat ibadahnya. Hehe. Masuk ke Wat ini free. Buat yang mau tau kisah tentang asal muasal Wat Khao Rang, bisa baca di sini. Nice banget, thanks to abang tuktuk yang telah membawa kami ke sini… 😀

Memasuki Wat Khao Rang disambut patung-patung ini

Sitting Buddha @Wat Khao Rang

Wat Khao Rang

Ngambil foto ini sampe rebah-rebah di lantai lho…

Setelah puas menikmati Wat Khao Rang, si abang menawari kami untuk berkunjung ke Phuket Butterfy Garden. Sebetulnya gw udah pernah browsing dan katanya sih ga menarik. Tapi berhubung udah nyampe di Phuket, sayang juga sih kalo tawaran ini ditolak, mana bayar tuktuknya murah pula, ya udah deh kami nurut, hehe. Eeh, bener aja. Ternyata jelek dong. Huhu…Untuk masuk ke Phuket Butterfly Garden ini tiketnya seharga 300 THB (argh! Mahal!), kita juga dibekali cairan makanan untuk kupu-kupu, kali aja ada kupu-kupu yang mau nemplok gitu, hehe. Ternyata tmn gw Irene yang beruntung bisa berpose dengan kupu-kupu yang makan di tangannya. Girang banget dia, hehe… Overall Butterfly Garden ini biasa aja. Isinya ada berbagai serangga dari kupu-kupu, laba-laba, sampai scorpion dan tarantula, tapi di kandang kok, hehe. Tamannya sendiri nggak begitu luas tapi bersih, ada kolam ikan di tengahnya. Kupu-kupunya ada banyak tapi ngga ada yang mau hinggap di tangan saya, sebel, saya kurang manis kah? Hehe. Ada juga ruangan khusus tempat penangkaran, tempat kupu-kupu kawin, tempat kepompong, dst…saya sih ngga terlalu excited. Hehe. Kami berada di situ hanya sebentar aja. Rugi deh….huuuuu….soalnya mahal…yah tapi itung-itung pengalaman sih. Keluar dari situ, kami ngobrol dulu sama si abang tuktuk sambil nunggu supirnya makan siang. Si abang tuktuk ini sangat ramah dan pinter ngambil hati wanita (tsaaahhh…). Dia bilang kami tampak seperti berumur 18 tahun dan terkaget-kaget saat tahu umur kami sebenarnya, hihi…we had a nice conversation with him. He was the second Thai people that amazed me for the kindness and hospitality. The first is the van driver before, remember?

Inside Phuket Butterfly Garden

Irene berpose dengan kupu-kupu hasil “jeratan”nya

Perjalanan dilanjutkan menuju Wat Chalong. Ini adalah kompleks kuil terbesar di Phuket. Terdiri dari Wat Chalong sendiri yang terbesar dan beberapa kuil kecil di sekitarnyaa. Untuk masuk ke dalam Wat Chalong sebaiknya tidak memakai tank top atau celana pendek. Tapi di depan pintu masuk disediakan kain penutup kok, bisa dipakai free. Saya sendiri memakai cardigan tapi tetap bercelana pendek sih, hehe…maaf ya saya cuek 😛 Di dalam Wat Chalong sendiri ada beberapa patung Buddha dan di dindingnya terdapat lukisan-lukisan yang bercerita tentang perjalanan hidup sang Buddha. Saya naik sampai ke lantai paling atas. View-nya cukup mengesankan  dari atas Wat Chalong. Tapi sejujurnya karena tidak begitu memahami cerita Buddha sendiri dan patung-patung yang ada, saya hanya mengagumi keindahan arsitekturalnya saja…

Megahnya Wat Chalong

Puncak Wat Chalong

Patung Buddha inside Wat Chalong

Salah satu lukisan perjalanan hidup Sang Buddha

Salah satu kuil di kompleks Wat Chalong

A Bikkhu walking in front of the temple

Yang menarik saat mengunjungi Wat Chalong, yaitu adanya suara-suara keras dari rentengan mercon yang dibakar di seberang Wat Chalong, yaitu di dalam semacam bangunan dari batu bata yang berbentuk kerucut, di mana rentengan mercon dibakar dan diletakkan di dalamnya sehingga muncul suara-suara yang sangat keras dan asap yang lumayan tebal keluar dari bagian atas bangunan kerucut tersebut. Waktu itu gw ngga ngerti maksud dari ritual ini. Setelah browsing di rumah, ternyata pembakaran mercon ini dimaksudkan untuk mengucap syukur pada Sang Buddha. Semakin banyak berkat yang didapatkan, maka rentengan mercon yang dibakar sebagai tanda rasa syukur akan semakin banyak. Menarik juga 🙂

Tempat memanjatkan rasa syukur dengan membakar mercon. Bunyinya keras banget Bo!

Kunjungan ke Wat Chalong mengakhiri Phuket city tour kami. Oya, yang belum gw ceritakan, selain ke tempat-tempat tadi, kami juga “dimampirkan” di beberapa toko oleh si abang tuktuk. Ada toko souvenir khas Thailand, toko produk-produk kecantikan, toko perhiasan dan mutiara, sampai ke toko madu. Hahaha… Jadi ternyata si abang tuktuk ini punya kesepakatan dengan pihak toko-toko tersebut, yaitu apabila membawa pengunjung ke toko mereka, maka si abang ini akan diberi satu stempel tanda kunjungan. Si abang ini akan mengumpulkan stempel (entah sampai berjumlah berapa) dan kemudian akan mendapat reward sebagai balasannya, inilah yang masih menjadi misteri, entah berupa uang atau barang atau apa, hehe…yang jelas penting banget kayanya buat si abang tuktuk ini.

Awalnya sih gw seneng, karena dibawa ke toko souvenir, tapi harganya mahal-mahal, sialnya saya kepincut sama mbak-mbak pelayan di sana yang lagi-lagi memakai modus memuji-muji costumer untuk membuat hati gw seneng dan akhirnya…takluk pada bujuk rayunya. Hahaha…akhirnya saya keluar dari toko membawa satu set anting, kalung, dan gelang “mutiara-mutiaraan” yang setelah gw pikir sekarang, buat apa juga coba, hehe…eh tp bisa buat ke pesta undangan sih, gpp lah ya, hihi…dasar wanita. Sempet beli beberapa gantungan kunci gajah dengan harga murah juga di sana. Setelah toko souvenir ini, kami “dimampirkan” ke toko produk kecantikan seperti sabun, body scrub, body mist, aromatherapy, sampai balsem juga ada. Tapi (lagi-lagi) mahal Bo! Ga beli apa-apa. Yang mulai ga masuk akal, yaitu saat mampir ke toko perhiasan dan mutiara. Nadzubillah, mahalnyo!!! Jutaan kali, gw ga sempet ngitung-ngitung lagi soalnya langsung pusing liat perhiasan yang bling-bling itu. Haha…Lalu ke toko madu, di mana gw cukup terkesan karena kami ditanya berasal dari mana dan setelah tahu dari Indonesia, kami langsung “dioper” ke mbak-mbak orang Indonesia, dan kita “digiring” ke satu ruangan untuk mendengarkan ceramah mbak-mbak itu tentang madu. Hahaha…serasa kaya di MLM nih, hihi…jelas aja kami ngga belli madunya, lha wong mahal banget sampe ratusan ribu rupiah. Akhirnya kami Cuma numpang beli es krim di sana, hihi. Untungnya, semua pelayan toko-toko itu sangat profesional, kami disambut dengan baik, memang setiap tamu yang datang akan disambut,  diberi pengarahan mengenai produk mereka, membiarkan kami melihat-lihat, dan sama sekali tidak memaksa kami untuk membeli. Menyenangkan. Semua pelayan tersenyum, ramah dan profesional. Looks like they love their jobs.

Hari yang indah di Phuket Town pun berakhir meninggalkan rasa senang dan puas. Sedih juga berpisah dengan si abang tuktuk nan ramah dan baik hati. Saat kami akan membayar, kami bertanya berapa yang harus kami bayarkan, eh, dia tetap bersikeras 100 THB dong. Padahal kami muter-muter ada sekitar 6 jam. Akhirnya kami membayar si abang 600 THB. Gw rasa sih sepadan banget dengan nice trip yang udah dia berikan ke kita… 😀

Kami diturunkan tepat di belakang bus yang akan membawa kami ke Karon Beach. Tarifnya 35 THB perorang. Karena si bus ini masih ngetem dulu, kami jajan cemilan sosis babi goreng dan pangsit goreng yang enak banget…*ngiler babak 2* Gw sempet beli bakpia juga di salah satu toko Cina. Awalnya mau beli pembalut di apotek, malah jadinya beli bakpia. Ada cerita lucu tentang pembalut, berhubung gw ga tau bahasa Inggrisnya pembalut, gw tanya ke Vivi. Kata dia nahasa Inggrisnya pembalut adalah Sanitary Napkin. Wah keren gitu namanya, eke aja baru tau, hehe. Pas di apotek, dengan pedenya gw nanya ada Sanitary Napkin apa kaga, eh para ibu-ibu yang jaga apotek malah bengong semua. Putus asa gw, akhirnya gw bilang…that’s one for menstruation. Eh mereka ngerti dong, dan langsung ber-ooo ria. Ternyata ngga ada di apotek itu. Huuu…malu deh. Mana bahasanya vulgar gitu. Haha…back to bakpia. Bakpianya unik loh, ukurannya raksasa, kira-kira berdiameter 8-10 cm, dan selain kacang hijau, ada potongan timun kecil-kecil, enak, jadi “krenyes-krenyes”. Bakpia ini sukses jadi cadangan pengganjel perut selama beberapa hari ke depan. Hahaha! Harganya 100 THB isi 3 biji. FYI, tante-tante penjual bakpia pun ramah banget dan baik hati, sempet ngajak ngobrol juga dan bilang “have a nice trip”. Wiw…oya dia sempet mengklaim bakpia bikinannya is number one. Hihi. Number one di mana Tan, tingkat RT, RW, Kota, atau dunia? 😀

Delicious street food!

Bakpia raksasa number one 😀

Tak lama, bus pun berangkat. Rupanya perjalanan ke Karon lumayan jauh. Jalannya berbukit-bukit. Jadi bingung, ini mau ke pantai atau ke gunung nih? Hehe. Penasaran? Read it in the next post!

Day 4 – Patong Beach

Selasa, 17 April 2012. Finally, woke up in the morning at Patong, Phuket! 😀 Kami bangun jam 6 pagi, dan langsung menuju Pantai Patong , yang menjadi main beach di Phuket. Kalau di Bali sih seperti Kuta-nya. Dari hotel kami berjalan sekitar 10 menit ke pantai, dan surprisingly, ternyata pantainya sepi abis. Paling hanya ada satu dua bule yang jogging di sepanjang tepi pantai (rajin amat ya, hehe)…niatnya sih kita pengen liat sunrise, eh tapi kok udah agak terang ya, dasar wanita-wanita pemalas semua, hihi… Pantai Patongnya sendiri nggak terlalu bagus, biasa aja, mirip Kuta tapi jauh lebih bersih. Jarang terlihat sampah, paling-paling cuma batok kelapa aja. Sedangkan terakhir kali saya ke Kuta tahun 2006 aja udah lumayan kotor banyak sampahnya. Di Patong ini pasir pantainya agak coklat, biasa banget sih, hehe…ombaknya juga nggak terlalu besar. Di kejauhan tampak beberapa kapal. Langit masih malu-malu, menunjukkan wajahnya yang biru muda….tssaaahhh…damai sekali rasanya hati ini.

Patong Beach in the morning

Patong Beach with a local boat

Kami berjalan pelan menyusuri tepi pantai sambil berfoto-foto narsis dan melakukan ritual wajib “alay” yang biasa orang Indonesia lakukan kalau ke pantai (I’m not sure the “bule” do this), yaitu menorehkan nama masing-masing di pasir. Hahaha…

Gini deh kelakuan alay turis Indonesia mah, hihihi.

Puas berjalan dan “keceh” di pantai, kami berjalan menyusuri main road di sepanjang pantai Patong, yang ternyata juga sangaaaattt sepi. Toko maupun restoran ternyata baru dibuka jam 10, hehe…kami kesiangan untuk sunrise tapi kepagian untuk jalan-jalan, hehe…Kelaparan, kami nemu pedagang makanan keliling yang unik, kami jajan Bacang, Cakweh (di sana juga ada ternyata), dan satu lagi jajanan khas Thailand yang dinamakan “Kao Niau” (i’m not quite sure how to write it), ini semacam sticky rice yang ada Honeymoon Dessert. Sepertinya pake beras ketan dan gula, manis gitu, topping di atasnya manis seperti rasa gula aren. Yummy, i like it! Hard to describe it, liat aja fotonya di bawah ya, hehe…Harga jajanan-jajananynya murah meriah, sekitar 10-20 THB saja. Lumayan untuk ganjel perut di pagi hari.

Street food sarapan kami di Patong

“Kao Niau” *sorry if i write it wrong*

Finally, touch down Patong! XD

Jalanan sepanjang Pantai Patong juga persis seperti di Kuta, berjajar cafe-cafe dan bar, yang masih tutup pagi itu, hahaha…dari main road, kami berbelok ke kanan, yang ternyata Bangla Road yang terkenal dengan nightlifenya itu. Berjejer bar-bar yang menarik, ada yang disertai tiang-tiang untuk dance, agogo show, etc…nggak sabar rasanya pengen ke sini malam hari nanti XD Pagi ini sih cuma bisa gigit jari aja…ya iyalah, dancer-dancernya aja kali baru mulai molor pagi ini, hahaha…Bangla Road ini  ternyata sangat pendek, paling sepanjang Jalan Braga kalau di Bandung.

Salah satu bar-resto di main street Patong

Salah satu bar @Bangla Road, pagi-pagi mah msh tutup, hihi.

Belok kanan dari Bangla Road yaitu Rat-U-Thit Road, pusat kuliner di Patong. Berjajar restoran-restoran, yang tampaknya sih pricey. Lagi jalan santai tiba-tiba si Irene kebelet boker, plus pasang tampang meringis campur semi-ngeden gitu, akhirnya mampir dulu deh ke McD setempat. Hehe…boker termahal tuh, seharga McD, hahaha…gw lupa di sini makan apa, yang jelas nggak  ada di McD Indo dan rasanya enak, hehe. Gak lupa foto sama si Ronald McD yang unik, posenya ala-ala salam Thailand gitu, ternyata si Ronald jago beradaptasi juga ya, hehe…

Sawaddee kha Ronald McDonald! 🙂

Setelah beres urusan boker di McD ini, kita lanjut berjalan menuju hotel, nglewatin Hard Rock Cafe juga, ih pengen deh ke sana…sayang gak kesampean…

Hard Rock Cafe @Rat-U-Thit Road

Untung sampe hotel dengan selamat, setelah agak lost gara-gara buta arah dan lupa bawa peta. Setelah mandi-mandi cantik di hotel, kami melanjutkan petualangan kami selanjutnya, yaitu ke Phuket Town. Berdasar info dari mbak resepsionis yang ramah, ternyata ada bus yang nongkrong tepat di main road Patong menuju ke Phuket Town. Bener aja, hehe…ada 2 jenis bus. Yang pertama bagus, kaya bus pariwisata mini gitu, yang kedua busnya kaya angkot raksasa, hehe…Kita naik yang kedua. Tarifnya 20 THB saja menuju Phuket Town. Kita penumpang pertama. Masih pagi soalnya…nunggu rada lama sampe bus penuh, baru deh berangkat. O ya sempet beli Chicken Kebab yang enak banget di pinggir jalan, tapi harganya 100 THB ( Damn!), akhirnya Cuma beli 1 buat bertiga. Hahaha…dasar semi-backpacker kere 😛 Penumpang bus hampir semuanya bule. Perjalanan ke Phuket Town ga jauh, sekitar 15 menit dari Patong (eh nyesek juga yah kmrn naik van 500 THB bertiga, naik bus Cuma 60 THB bertiga. Swt.).

Our bus to Phuket Town, 20 THB only!

And the journey to Phuket Town begins…