Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

Ubud. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali ini terkenal sebagai cultural center of Bali. Disebut juga kampung senimannya Bali, karena banyaknya karya seni yang dihasilkan di sini. Paintings, wooden craft, glass craft, leaves craft, stone craft, bamboo craft, paper craft, semuanya ada di sini. Di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, mata seakan dimanjakan dengan keindahan karya seni buatan tangan para seniman Bali. Lukisan pemandangan, penari Bali, dewa-dewi Hindu, Sang Buddha, pura, abstrak, berbagai motif, sampai lukisan wanita telanjang pun ada. Semuanya berjejer rapi menghiasi art shop di sepanjang jalanan tersebut. Dan jangan lupa, ada juga Pasar Seni Ubud, di mana ada berpuluh-puluh toko yang menjual barang-barang seni sampai souvenir tumplek jadi satu di sini. Pecinta barang-barang nyeni dijamin kalap di sini. Untungnya saya travelling dengan budget terbatas sehingga tidak tergoda membeli koleksi barang-barang unik khas Bali tersebut. Padahal sih ngiler abis.

Solo backpacking di Ubud sangat mudah, aman, dan tentunya menyenangkan. Beda dengan suasana tempat-tempat touristy di Bali seperti Kuta atau Sanur, Ubud lebih cocok untuk menyepi, menenangkan diri, dan memperkaya jiwa. Nggak ada tuh abang-abang yang berbaris sepanjang jalan menawarkan tur atau barang ini itu atau berkomentar nakal seperti yang sering ditemui di Kuta. Suasananya yang “lebih Bali” dan masih belum banyak dikuasai toko-toko dan brand-brand asing membuat Ubud lebih terasa asli dan nyaman. Penginapan di Ubud pun rata-rata bernuansa tradisional, dengan  bungalow-bungalow kecil yang bernuansa Bali dan menghadap ke sawah. Harganya memang sedikit lebih mahal dibanding penginapan di kawasan Poppies Lane, tetapi suasana, keindahan, dan servis yang didapat pun jauh lebih oke. Saya menginap di Penginapan Danasari, Jalan Hanoman. Untuk review penginapannya, bisa dilihat di sini. Overall sih saya sangat puas dengan penginapan ini.

Mengeksplor Ubud, cara terbaik menurut saya adalah dengan menggunakan sepeda. Sepeda bisa disewa melalui penginapan atau di rental-rental yang tersedia di sepanjang jalan. Harganya sekitar 15rb-20rb/hari. Menyusuri jalanan di Ubud sangat menyenangkan, karena selain udaranya yang cenderung sejuk,jalanannya tidak terlalu padat, dan bisa menikmati art shop yang ada di sepanjang jalanan Ubud. Kesannya lebih selow aja sih, jika dibanding naik motor. Naik mobil sih nggak disarankan, mana seru…hehe. Dua hari di Ubud, inilah tempat-tempat yang worth to visit di Ubud :

1. Museum Puri Lukisan

Lokasinya di Jalan Raya Ubud, buka dari jam 08.00 – 16.00. Tiket masuknya Rp.50.000. Awalnya, gw merasa harga tiketnya overprice banget, maklum jarang maen ke museum berbayar. Rata-rata di Bandung sih masuk museum gratis, hehe. Eh ternyata…setelah masuk, gw merasa 50rb itu worth it banget. Jangan bayangin bentuk museumnya gedung tua dan kusam yang di dalamnya gelap dan berdebu ya. Museum Puri Lukisan ini gedeeeeee luassssss dan hijaaauuuu banget. Pintu gerbangnya berbentuk gapura besar gitu, dan setelah melewati gapura, gw disambut dengan pemandangan taman yang luas, hijau, banyak bunganya, plus ada kolam teratai dan pendopo Bali gitu. Wih. Spekta lah pokoknya. Asri banget! Tampak beberapa anak bule yang ganteng, cantik, dan mungil-mungil itu lagi lari-larian di taman. Beberapa pengunjung sedang asik minum welcome drink di sebuah cafe kecil di samping museum. Beberapa sedang memperhatikan pertunjukan live cara melukis di daun palem. Beberapa sedang menonton seorang wanita yang sedang duduk menenun kain tradisional, lengkap dengan alat tenun yang terbuat dari bambu.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Nah itu baru pemandangan pembuka. Gedung utama museum ini terdiri dari 3 bangunan yang masing-masing menampilkan karya lukisan dan seni dari 3 masa yang berbeda, yaitu tema Wayang Bali, Bali Pertengahan, dan Bali Modern (ada pengaruh budaya Barat di sini). Paling keren adalah gedung Wayang Art. Di sini lo bisa liat lukisan dari kisah Ramayana, Mahabharata, dan tokoh-tokoh wayang, kumplit! Lukisannya pun nggak main-main, ada yang dilukis di kain dan usianya udah tuwir banget, dari jaman masih penjajahan Belanda, dan masih bertahan sampe sekarang dong. Indah banget deh, apalagi kalo lo penyuka tokoh-tokoh Hindu, betah rasanya di dalem. Kudu banget lah tempat ini lo datengin. Terharu dan bangga rasanya liat karya seni Indonesia yang indah banget. Agak miris juga tapi setelah liat daftar buku tamu yang tebelnya kayak kamus, dan udah gw bolak-balik pun pengunjung dari Indonesia  bisa dihitung dengan tangan. Miris! O ya selain lukisan, ada juga wooden crafts yang keren-keren di sini. Yang paling gw inget adalah patung berjudul “Senggama”. Nice banget pokoknya patungnya 😀 Btw, di dalam gedung museum nggak boleh memotret ya, jadi kalo penasaran silakan kunjungi museum ini ^^

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

2. Museum Renaissance Antonio Blanco

Puas menikmati karya seni asli seniman Bali, sekarang saatnya menikmati karya seni seniman luar negeri yang akhirnya tinggal menetap di Ubud. Don Antonio Blanco adalah seniman asal Spanyol yang menikah dengan penari Bali, akhirnya banyak menghasilkan karya seni aliran Renaissance yang kebanyakan bertema Bali (ehm, lebih tepatnya lagi wanita Bali). Lokasinya  di Jalan Campuhan, lumayan juga sih jauh dan naik turun bukit gitu. Tapi pemandangan menuju ke sananya edan keren abis…pohon-pohon rindang sepanjang jalan, udara yang sejuk dan bersih…ihik…kaki pun nggak kerasa pegel meski harus gowes di jalanan yang naik turun. Sama seperti Museum Puri Lukisan, Museum Antonio Blanco ini pun sangat asri, meski luas tamannya tidak sebesar Museum Puri Lukisan, tapi yang mencengangkan di sini adalah bangunan museumnya itu sendiri. Arsitekturnya luarnya bergaya Bali, tapi pas masuk interiornya ala-ala Spanyol gitu. Yaa…kaya rumah-rumah Eropa gitu yang ada kubahnya mewah, pilar marmer, plus sofa-sofa nyeni yang empuk. Lukisannya mayoritas wanita nude. Yes,bugil, naked, tak berbusana. Tapi meskipun nude, sama sekali nggak vulgar, meskipun erotis tapi berkesan nyeni. Bahkan ada lukisan wanita masturbasi segala loh, sampe shock gw -______-  Uniknya lagi, tiap lukisannya dipigura dengan pigura yang dibuat khusus untuk lukisan itu, misalnya lukisan wanita nude dengan highheel biru, di piguranya ada dong patung highheel biru. Ya, custom made gitu deh masing-masing piguranya, plus ada ukiran “Blanco” di piguranya. Keren banget deh. Nggak kebayang lukisan Renaissance itu kayak apa? Kira-kira gini deh salah satu karya beliau :

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan?

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan? (taken from this site.) 

Selain menikmati lukisan, di tamannya juga ada burung-burung yang jinak dan lucu-lucu, salah satunya kakaktua yang putih berjambul kuning dan kakaktua warna-warni kayak di Faber Castle itu loh (ups, nyebut merk). Bisa foto juga sama burung-burung itu.

Parrot "Faber Castel" warna-warni lagi akrobat ^^

Parrot “Faber Castel” warna-warni lagi akrobat ^^. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Plus, ada juga gallery di mana kita bisa berfoto pura-pura lagi melukis, lengkap dengan palet cat nya. Hehe…asyik kan? Tiket masuknya untuk Indonesian sih Rp 30.000, untuk foreigner Rp 50.000. Worth it banget! Dapet welcome drink pula… ^^

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

3) Watching Balinese Dancing

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Ke Bali masa sih nggak lihat pertunjukan tari Bali? Nah di Ubud ini, ada banyak sekali tempat yang menampilkan pertunjukan tari Bali setiap harinya. Yang paling terkenal yaitu di Ubud Palace (Pura Saren Ubud). Tapi saat itu sudah tampak turis yang berjejalan di sana, sehingga saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Tari Barong di Pura Saraswati (Lotus Pond) saja. Lokasinya nggak jauh dari Ubud Palace. Harga tiketnya Rp 80.000, pertunjukan dimulai pukul 20.00, berlangsung selama 1 jam. Lumayan mahal memang, tapi pertunjukannya cukup menarik, tari yang ditampilkan terdiri dari beberapa jenis, yaitu diawali tari pembukaan, Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Nelayan, Orkestra Musik Gamelan, Tari Baris Tunggal, Tari Nyamar, dan diakhiri dengan Tari Barong Macan. Kapasitas penontonnya nggak banyak, hanya sekitar 30-an, dan saat itu SEMUAnya foreigner. Gw celingak celinguk ke segala arah dan hampir semua bule, dengan berbagai bahasa dari Inggris, Jerman, Perancis, Italia. Penonton Asia hanya gw seorang dan sepasang couple yang berbahasa Cina entah dari mana. Penonton di sebelah gw seorang Amerika yang pindah dan menetap ke Ubud sejak dikeluarkan dari pekerjaannya, 20 tahun yang lalu, dan sampai sekarang pun dia masih senang menonton pertunjukan tari Bali. Ups, gw aja br pertama ke Ubud dan kedua kalinya melihat tari Bali. Heuh. Malu deh sama bule.

Beautiful Balinese Dancer

Beautiful Balinese Dancer

Tari Kebyar Duduk

Tari Kebyar Duduk

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

4) Biking ke Tegalalang

Si biru teman suka dan duka ^^

Si biru teman suka dan duka ^^

Well, jangan bayangin adegan bersepeda cantik ala Julia Robert. Karena ternyata track biking ke Tegalalang ini lumayan melelahkan, naik turun bukit, apalagi ditambah dengan terik matahari, wih, lupain deh adegan bersepeda pake rok unyu-unyu kaya Miss Julia Robert 😀 Gw sendiri nggak tau pasti seberapa jauh perjalanan dari Jalan Hanoman ke Tegalalang, tapi yang jelas gw menempuhnya dalam waktu sekitar 2 jam bersepeda. Meskipun berpeluh keringat plus nafas tersengal-sengal, but, again, it was worth it. Pemandangan Tegalalang dengan sawah-sawahnya yang cantik memang indah. Meskipun, jujur, karena dulu gw sering main ke Baturaden dan daerah Gunung Slamet sana, sawah sih buat gw sudah jadi pemandangan biasa. Atau mungkin gw udah tepar dulu dengan perjalanannya makanya jadi nggak begitu excited, hahaha…But the feeling “Hey, I did it!” itu yang bikin worth it. Yang bikin gw terkesan sampai sekarang yaitu saat melewati jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan, dan ada semacam kanopi yang melintasi jalan, yang terbuat dari dahan-dan dan daun dari pohon itu, wogh, beautiful! Sawahnya? Bagus sih, tapi karena gw datang saat musim panen jadi buka lautan hijau sawah tapi lautan kuning kecoklatan, hehe…but still, you should try biking to Tegalalang, at least once. Lelah melewati bukit-bukit,saat perjalanan meninggalkan Tegalalang gw menyerah, menggunakan jalan raya. Gw melewati Jalan Raya Tegalalang, desa Petulu, desa Peliatan, Jalan Raya Goa Gajah, sampai akhirnya berlabuh ke Bebek Tepi Sawah. What a beautiful ending.

One of unique place at Tegalalang

One of unique place at Tegalalang

5) Bebek Tepi Sawah

Crispy Duck, nom nom nom...

Crispy Duck, nom nom nom…

Yeap, selain Bebek Bengil, masakan bebek yang harus dicoba di Ubud adalah Bebek Tepi Sawah. Di Ubud, lokasinya bener-bener di tepi sawah, suasananya oke banget. Gw milih makan di lesehan gitu, semacam pendopo yang diisi beberapa meja, dengan alas bantal-bantal duduk yang empuk, hihi, nikmat banget deh, apalagi abis berpeluh keringat setelah biking ke Tegalalang. Sayang setelah lihat daftar menu, keringat itu malah makin deras mengucur. Crispy duck yang gw incer itu ternyata dibandrol Rp 80.000. Ampun deh. Kalo nggak inget misi ke Ubud adalah untuk memuaskan hati, jiwa, dan perut, mungkin saya bakal pesen air putih aja deh. Meskipun sedikit nggak rela, akhirnya gw pesen juga Crispy Duck yang tersohor itu, sambil menikmati suasana sawah hijau (karena sawah buatan jadinya masih hijau kali ya, beda sama yang di Tegalalang 😀 ) di depan mata. Nggak lama, datenglah bebek seharga 80rb itu. Hmmmm…ternyata harga emang nggak bohong! (sambil menangis terharu dalem hati) Ini bebek terenak yang pernah gw makan. Bebek Asap Kuningan lewat! Bebek Duck King lewat! Rasa gurih dan crispynya itu maknyus banget. Dan juaranya adalah sambel-sambelnya! Ada 3 macem sambel yang disediakan, 2 di antaranya, yang pake bawang putih dan yang  mirip sambel matah, itu e-nak-ba-nget! ^^ Menikmati makanan enak setelah perjalanan yang melelahkan itu emang nampol!

Sambel dewa!

Sambel dewa!

6) Monkey Forest

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Lokasinya tentu aja di Jalan Monkey Forest ya. Tiket masuknya Rp 20.000. Monyet-monyet di sini jauh lebih jinak dibanding monyet-monyet di Sangeh. Ukurannya juga lebih kecil-kecil. Tapi hutannya sangat menarik di sini, meskipun nggak terlalu luas, tapi masih alami dan tertata rapi. Gw suka banget sama pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar sampai ke mana-mana. Aaakkhh berasa pengen gelantungan gitu (apa gw dulunya Tarzan apa gimana sih!). Cakep banget kaya gini nih :

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Gw suka banget jalan-jalan di dalem hutan ini, malah lebih seneng kalo nggak ada monyetnya, hihi…abis takut sih. 😛

7) Adi Bookshops

Buku-buku second berbahasa Rusia

Buku-buku second berbahasa Rusia

Nah ini khusus buat pecinta used-books kaya gw, coba mampir deh ke toko buku kecil yang berlokasi di Jalan Hanoman deket Pasar Seni Ubud. Tempatnya ada di sudut pertigaan. Di sini, ada banyak banget buku-buku bekas dari berbagai bahasa. Yang paling banyak tentu aja yang berbahasa Inggris. Tapi selain itu, banyak juga buku berbahasa Jerman, Belanda, Russia, dan juga Prancis. Karena gw lagi belajar bahasa Jerman, toko buku ini berasa surga deh. Bayangin, novel-novel berbahasa Jerman dijual hanya dengan harga Rp 20 – 30.000an aja. Belum lagi koleksinya yang sangat lengkap dari buku ilmu pengetahuan, fiksi, sampai buku anak-anak. Ba-ha-gi-a. Borong deh gw 3 buku. Ba-ha-gi-a! Lucunya, karena gw beli buku berbahasa Jerman dan Inggris, eh si mbak kasirnya ngajak gw ngomong pake bahasa Inggris dan nunjukin harga pake kalkulator. Ya elah masa gw dikira orang asing sih mbak, jelas-jelas muka eksotik ala Farah Quinn gagal gini, hahaha… 😀

8) Babi Guling Ibu Oka

Nah kalau ini, baca di postingan gw sebelumnya aja ya…saking istimewanya sampe dibikin 1 postingan sendiri lho, hehehew…

Gimana? Masih ragu untuk travelling ke Ubud?

Happy travelling, happy life! ^^

Babi Guling Ibu Oka at Ubud : God bless her!

Untuk penikmat masakan babi, tentu sudah familiar dengan masakan satu ini : Babi Guling. Beruntungnya gw, saat mengunjungi Ubud beberapa minggu yang lalu, gw sempat mencicipi masakan Babi Guling yang tersohor di Ubud, apalagi kalau bukan Babi Guling Ibu Oka. Lokasinya di Jalan Suweta, Cuma beberapa meter dari Puri Saren Ubud (Ubud Palace) dan Pasar Seni Ubud, nggak susah menemukannya, secara ada plang nya dan di depannya rame banget, mostly sih turis luar ya. Katanya sih pernah muncul di acaranya Anthony Bourdain  juga. Tiap browsing tentang makanan di Ubud, pasti deh nama Ibu Oka ini disebut. So, sebagai pork-lover, wajib hukumnya gw mencicipi Babi Guling Ibu Oka ini. Hehe..

Berbekal petunjuk jalan dari penduduk sekitar, gw sampai juga ke Warung Babi Guling ini. Waktu itu baru jam 11 siang, tapi tempat ini udah kayak pasar saking penuhnya. Gw memarkir sepeda gw di depan warung, langsung mencari tempat duduk di dalam, yang bentuknya lesehan gitu, dengan meja yang panjang-panjang. Luckily, gw dapet tempat duduk di pojok. Itu pun dempet-dempetan, kanan turis bule, kiri turis Asia. Seneng-seneng aja gw-nya mah, suasananya seru sih, hahaha…

Nggak pake lama, gw pesen Nasi Babi Guling Komplit dan Es Kelapa Muda. Harganya agak keterlaluan juga sih, tapi maklum deh karena udah terkenal kali ya…Nggak pake lama juga, muncul lah itu si Nasi Babi Guling, lengkap dengan Sup Babi dan Es Kelapa Mudanya. Gw rada cengo juga liat porsinya yang gede banget. Pengalaman makan Nasi Babi Guling di Seminyak, porsinya nggak nyampe setengahnya ini. Bahagialah gw yang lagi keroncongan berat saat itu 😀

Beginilah penampakan Nasi Babi Guling Ibu Oka :

Membayangkannya aja udah bikin gw ngiler!!

Membayangkannya aja udah bikin gw ngiler!!

Dan…harus gw akui, rasanya emang juara! Dagingnya empuk banget, rasa bumbunya kuat, pedas,  dan rich banget, bener-bener meleleh di mulut dah. Belum lagi bagian babi goreng crispynya yang pedas, wow, itu bener-bener bikin gw makan so…..so….slowly. I really want to stop the time and cherish the flavour. Well, I really ate very slowly at that time. Rasanya terlalu sayang makanan seenak itu habis cepat-cepat! Dan kulit babinya! Di bawah kulitnya yang garing crispy itu ada lapisan lemak babi yang…aduhai…nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Beuh cuma nulis gini doang gw udah menelan air ludah *gulp*. Itu salah satu dari pengalaman kuliner babi yang paling memuaskan buat gw. Bahkan gw makan sambil tersenyum dan nggak berhenti bersyukur, sambil mengumpat karena keenakan, sambil berdoa “God bless Ibu Oka”. 😀

That’s a kind of food that surely I want to eat again if I have a chance. Amazing experience.

Alamat              : Jalan Suweta No 2, Ubud

Total Cost        : Nasi Babi Guling Spesial : 50rb + Es Kelapa Muda Utuh : 20rb.

Mau tau resep Babi Guling? Bisa buka link ini.

Happy travelling, happy eating, happy life! ^^ 

Postingan ini juga ditampilkan dalam Citilink Story.

Singaporean Food (at Singaporean foodcourt, actually) : my short yet unsatisfying experiences

 

Di luar dugaan, pengalaman kuliner saya di Singapura ternyata mengecewakan. Entah lidah saya yang tidak cocok, atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi, atau mungkin saya belum menemukan tempat makan yang klop. Well, it turns out that Singaporean food is overrated, at least for me

Well, let’s check out my Singapore food experience!

First day, gw menyusuri daerah Arab Street dan Little India, sambil nyasar-nyasar dan bingung mau makan di mana karena budget terbatas, sehingga satu-satunya pilihan hanya foodcourt. Fortunately, there’s a lot of foodcourt in this area, eh tapi malah bikin makin bingung saking banyaknya. Akhirnya gw memutuskan mampir ke Berseh Foodmarket, lokasinya di Jalan Berseh, sekitaran Little India – Arab Street gitu deh, deket sama hostel gw juga. Berseh Foodmarket ini bentuknya sama seperti foodcourt di mall pada umumnya, cuma lebih padat dan agak kumuh. Menu pertama yang terbaca oleh saya adalah : Pig’s Visceral Soup. What! Err…okay I think that’s a bit creepy. And the next menu I read is : Crocodile Soup, Turtle Soup, and Pig’s Intestinal Soup… Argh! Kenapa menunya horror-horror gini seh? Padahal kalau di Indo biasa aja sih makan daging babi, mau itu CharSiu, SamChan, lidah, kuping, well, I don’t mind. Tapi kenapa kata-kata “pig’s visceral soup dan intestinal soup” itu bikin gw merinding yah. And crocodile soupugh a big no no I think. :/

Well, akhirnya gw memilih makan Nasi Babi Campur biasa (Charsiu Rice), yang penampakannya seperti ini :

Charsiu Rice, 3 SGD.

Charsiu Rice, 3 SGD.

Rasanya…well, harus gw akui daging babinya lebih tasty dan berasa dibanding rata-rata nasi campur babi di Bandung. Porsinya pun cukup banyak. Cumaaaaa…sambelnya sedikit dan nggak pedas. Huhu…

Gw nyicip Fish Meatball Noodle yang dipesan adik gw, hmm…baksonya dong, bakso ikan, uenak betul! Asli, enak banget bakso ikannya, ngga amis, tasty, yummy. Sayang cuma tiga biji. Mau ngabisin nggak tega sama adek sendiri hihi. Mie nya sih so-so ya…nothing special. And…nggak ada rasa pedes juga sih, emang suka ngelunjak nih lidah. Maunya yang pedes-pedes aja.

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Fish Meatball Noodle, 3 SGD

Segitu aja? Belum dong, masih ada nih dessert nya, Almond Pudding. Rasanya lumayan, nggak terlalu manis tapi menyegarkan, cocok dimakan di tengah panasnya Singapura, apalagi setelah berjalan jauh. Sayang, agak overprice sih menurut gw.

Almond Pudding, 2 SGD

Almond Pudding, 2 SGD

Malamnya, gw makan di Maxwell Food Center, Chinatown, yang konon sangat sohor. Di berbagai blog backpacker pun tempat ini selalu direkomendasikan. Memang, foodcourt ini sangat amat luas, sampe capek gw berjalan dari ujung ke ujungnya saja, dan makin bingung milih makanannya. Akhirnya gw memutuskan mencoba TianTian Hainamese Chicken Rice yang terkenal itu. Katanya sih direkomendasiin sama the famous Anthony Bourdain himself.

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Hainamese Chicken Rice, 3.5 SGD

Well, menurut gw sih…biasa aja. Malah cenderung hambar ya. Entahlah, mungkin lidah Indonesia gw sudah terbiasa sama berbagai rasa rempah-rempah dan udah addict sama yang namanya rasa spicy, so ngerasain yang mungkin originalnya begini, lidah gw semacam diPHP-in. 😛

Selain itu, gw sempet “jajan” Fish Cake yang ternyata adalah bakwan udang sodara-sodara! Kenapa “jajan”? Karena harganya 2 SGD. Argh, bakwan udang termahal yang pernah gw makan dan penampakannya pun rada ajaib gini :

Fish Cake, 2 SGD

Fish Cake, 2 SGD

Kalo bakwan udangnya aja 2 SGD, uang jajan anak-anak sekolah di sana berapa yah? #random #kepo. Rasanya kaya bakwan. Pake udang. Okay nggak menolong ya keterangannya. Hahaha. Yah gitu deh, nothing special sih. Cuma ukurannya emang agak gede dan isiannya banyak jadi cukup ngenyangin.

Pengalaman tak terlupakan adalah saat makan di Market Foodcourt. Lokasinya di Market Street. Lokasinya memang di daerah perkantoran, di jam makan siang, karyawan-karyawan memenuhi foodcourt ini. Literally, memenuhi. Itu foodcourt udah kaya pasar saking penuhnya. Jalan pun susah. Meskipun gitu, saat memesan mereka semua antri berbaris dengan tertib loh. Yang bikin shock adalah…tempat duduknya di-“take” loh. Ngerti nggak maksudnya? Jadi mereka naruh barang-barang di atas meja yang akan mereka dudukin selama mereka ngantri, untuk mereka dan juga teman-temannya yang nanti akan duduk semeja. Anehnya, barang-barang itu berupa : tissue, koran, pensil, atau bahkan selebaran iklan. Hadoh…hampir semua meja sudah terisi oleh barang-barang ini. Gw hoki bisa dapet tempat duduk, itu aja sharing dengan orang lain. Dan nyebelinnya lagi di Singapura itu, petugas kebersihannya yang kebanyakan para lansia itu kelewat rajin, begitu makanan kita habis, langsung deh dy nyamperin dan membereskan semuanya. Berasa diusir gitu deh. Boro-boro mau ngobrol, bener-bener HMP. Habis Makan Pulang. Di Market Foodcourt ini gw makan Dumpling Noodle 3.5 SGD dan nyicip HorFun (sejenis kwetiaw gtu) 2.8 SGD, yang keduanya rasanya nggak enak. Plus gw sampai nggak sempet foto saking hecticnya suasana makan di sana. Hahaha…

Di seberang hostel gw, Bunc Hostel, ada foodcourt kecil yang suasananya lumayan comfy, dan buka 24 jam. Gw nyicip Pork Rib Noodle yang enak banget, worth it banget for 5 SGD. Dagingnya besar, empuk, kuahnya coklat jernih, gurih dan berasa. So far ini makanan Singapura yang paling gw suka. Yummy! *gulp* *sambil ngetik sambil ngiler*

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Pork Rib Noodle, 5 SGD.

Masih bertema Pork Rib, keesokan harinya gw berburu Ba Kut Teh di Chinatown. Pengalaman lucu memesan makanan di sini, si penjual yang merangkap kokinya sama sekali tidak mengeluarkan suara, asli jutek abis. Saat gw pesen, dy cuma diem, masak-masak-masak, trus pas udah jadi, dia menunjuk makanan gw dengan kepalanya dong (menunjuk dengan kepala, ngerti nggak maksud gw?), yah, cuma kaya mengendikkan kepala gitu deh, ngerti kan? Hehe. Asli jutek abis. Abis itu gw bayar deh. Dan dy masih diem. Ebuset…sampe speechless. Maklum gw biasa dilayanin…di warteg. Hehehe… 😀

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh, 5 SGD

Bak Kut Teh atau Pork Rib Tea ini simple aja sebenernya, Cuma pork rib pake kuah dengan bumbu rahasia *biar sok eksotis* (yang mau tau resepnya bisa buka : http://lifestyle.inquirer.net/61081/bak-kut-teh-singaporean-comfort-soup.) Pork ribnya sih enak banget, empuk, sampai tulang-tulang-tulangnya juga empuk dan bisa digerogotin *ups!*. Porsinya juga lumayan besar. Tapi lagi – lagi…kuahnya kurang tasty dan kurang spicy.

Sempet juga nyicip Carrot Cake, atau “chai tao kway”, ini salah satu makanan khas di Singapura, biasa dimakan untuk breakfast atau supper. Resepnya : Tepung beras dan lobak digoreng dengan telur, digarnish dengan daun bawang dan daun ketumbar. Bentuknya unik juga sih, kaya kwetiaw yang dipotong dadu tapi lebih tebal. Still wondering…where’s the carrot? :/

Carrot Cake, 4 SGD

Carrot Cake, 4 SGD

Last day in Singapore, bosan dengan Chinese Food dan merasa sudah intoksikasi babi, maka hari ini pun waktunya mencicipi kuliner India, tentunya di kawasan Little India. Saya mencoba Nasi Briyani dan Roti Prata.

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Nasi Briyani dan Prata, 7.5 SGD

Agak heran juga kenapa makanan India kok malah lebih murah daripada makanan Chinese yang terbuat dari babi. Biasanya di Indonesia kan masakan babi justru lebih mahal dibanding ayam atau sapi. Eh keheranan terjawab setelah nasi pesanan saya datang. Porsinya bok! Porsi tukang becak! Hahaha…di bawah nasi tersembunyi ayam yang besarnya aduhai, rasanya spicy banget. Kental dengan bumbu-bumbu ala India yang berbau kari. Sayangnya saya kurang suka dengan nasinya, agak beda dengan nasi Indonesia, lebih panjang dan lebih ramping, aroma-aromanya seperti nasi uduk tapi lebih kering. Yah kurang lebih begitulah hehe harus dirasakan sendiri.

Orang-orang India di sekitar kami makan Nasi Briyani dengan lahapnya dan pake tangan. Woooo…sepiring tandas. Gw sih seporsi berdua aja udah kekenyangan mampus. Roti pratanya lumayan, sama saja dengan roti canai di Malaysia, hanya saja lebih tebal, dan kuah karinya sangat kental, beda dengan kuah roti canai di Malaysia yang saya pernah coba agak lebih encer dan kuahnya semangkuk sendiri.

That’s my food adventure in Singapore. Quite dissapointing, for now I think Malaysian Chinese Food is better than Singaporean. Thai’s food is much better, but of course it’s different, and Indonesian food is still numero uno. Hehehe…damn I love Indonesian food so much! ❤

PS : don’t forget to try Uncle Ice Cream at Merlion Park, but honestly, Indonesian Es Tong Tong or Es Puter is far more delicious!!

 

singapore food eating

 

 

 

~Happy travelling, happy eating, have a happy life!~

 

Dinner at Waroeng Ethnic – My first Escargot~


Saya mengunjungi Waroeng Ethnic ini sebetulnya karena keberuntungan. Saya memenangkan kuis berhadiah voucher makan di Waroeng Ethnic yang diadakan @CityKlik melalui Twitter. So pasti -kesempatan tidak boleh disia-siakan bukan? Apalagi Waroeng Ethnic ini terkenal sebagai restonya bule-bule, hehe…Capcus lah saya dinner ke Waroeng Ethnic yang berlokasi di Jl. Totogan Gunung Putri Rancabentang 18 Ciumbeuleuit. Menemukan tempatnya cukup mudah, dari Unpar masih terus naik ke atas, ada plang Waroeng Ethnic di kanan jalan, langsung belok kanan. Suasana yang ditampilkan sangat homey dan unik, seperti namanya, banyak dipajang perabotan bernuansa etnik, dan hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Bagian indoor lebih terkesan lebih resmi dan seperti di dalam rumah. Kami memiilh makan di outdoor, yang cukup luas dan asri, dan karena lokasinya di area Bandung Utara, udara dinginnya masih sangat terasa.

Suasana outdoor di Waroeng Ethnic


Makanan yang disajikan malam hari berupa Western Food, sedangkan di siang hari disajikan Indonesian Food. Menu yang ada cukup bervariasi, mulai dari Appetizer seperti sup, salad, etc, menu utama Steak (ada imported steak lho!), Pasta, Dessert… Saya memesan Escargot (ya, siput!) sebagai pembuka, kemudian Beef Steak, Creme Brulee dan Es Krim Bakar sebagai Dessert, serta Hot Cappucino.
Menu yang ada memiliki nama nama yang cukup rumit, untungnya ada penjelasannya jadi saya tidak bingung. Hehe…waiternya pun cukup memahami menu-menu yang ada dan bisa menjelaskan dengan baik. Gak pake lama, muncullah Escargot saya. Baru pertama kali ini saya memakan siput, and i like it! Teksturnya kenyal, rasanya gurih dan dibalur minyak zaitun. Nyam nyam…benar-benar membangkitkan selera makan saya…kesan saya : unique, recommended and worth trying!

My first time Escargot~ *ala Indonesia*

Setelah appetizer diangkat, datanglah Beef Steak saya. Saya minta dimasak well done. Kesan saya, steaknya agak alot (salah ya, harusnya minta dimasak medium aja), tapi porsinya sangat besar…kenyang banget…hehe. Mashed potatonya sangat lembut dan lumer di lidah (ceileh!). Saya mulai panik karena perut sudah terasa penuh, padahal masih ada Creme Brulee dan Es Krim Bakar. Waduh!

Beef Steak Waroeng Ethnic

Creme Brulee pun datang, rasanya sangat creamy tapi ngga bikin eneg. Nice… Creme brulee sendiri berasal dari Perancis, dikenal juga sebagai burnt cream, crema catalana, atau Trinity cream, merupakan dessert yang dibuat dari custard (Custard terbuat dari campuran telur, gula, dan susu/krim, dikenal juga sebagai krim atau vla) yang ditopping dengan lapisan keras karamel, biasa disajikan dingin. Custard yang dipakai biasanya rasa vanilla, meskipun kadang ada juga yang memakai tambahan rasa lemon, jeruk, coklat, kopi, teh hijau, kelapa, atau buah-buahan lain. Untuk membuat karamel, caranya yaitu dengan menaburkan gula di atas custard, lalu dibakar langsung dengan alat khusus (yang suka ada di acara masak memasak kue tuh, hehe), atau bisa juga dengan menuangkan minuman keras lalu dibakar (flambe). Sekian saja kuliah singkat tentang Creme Brulee. Hehehe…

The sweet “Brulee” temptation. I love to crack the caramel thing! 😀

Dessert selanjutnya yaitu Es Krim Bakar. Cool banget lah ini dessert hehe…tampangnya seperti whipped cream yang menjulang tinggi kaya volcano…trus waiternya menuangkan rhum, dan dia membakarnya langsung di depan kita! Lumayan shock dan langsung pasang tampang ndeso! Hehe… Beginilah bentuknya setelah diflambe :

Voila~ Enjoy the massive volcano cream thing!

Berhubung saya sudah super kekenyangan, jadi butuh tenaga ekstra untuk menghabiskan dessert terakhir ini. Krimnya super banyak, agak bikin eneg, dan rasa rhumnya sangat kuat. Jadi di balik krim yang menggunung itu ternyata tersembunyi es krim strawberry. Ada udang di balik batu, ada es krim di balik krim, hehe…dan di bawah eskrim ada bolu yang flavournya rhum. Sangat kuat rasa rhumnya, tapi ngga bikin mabok atau apa kok hehe…
Untuk cappucinnonya…standar sih hehe… ya so so lah…

FYI, Waroeng Ethnic ini sudah pernah masuk ke acaranya Pak Bondan dan pernah diliput juga di kompas… Dapat dilihat di Travel Kompas.

Total expense kira-kira Rp 100.000 – 150.000,- per orang. Not bad for full course menu, right? Kesimpulannya, this resto is worth trying… terutama untuk anda yang menyukai suasana jadul, santai dengan menu-menu fancy western food.

Selamat Makan!
~happy eat, happy tummy, happy life~

My “perfect” Little Kitchen – Scallop and Bushfire Chicken Burger

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi cafe yang berlokasi di jl Setiabudi 206, persis di sebelah kampus Enhaii Bandung (sekarang disebut STPB), awalnya iseng, lagi suntuk dan pengen makan enak. Denger-denger dari beberapa teman sih katanya enak makan di sini. Tampak luar sih biasa aja, kesannya eksklusif dan mahal. Kaya resto bule bule gitu hehe… Pas masuk, tampak desainnya comfy banget, dan memang tampak eksklusif karena semua tempat duduknya sofa putih panjang, berjejer ke belakang, sedangkan dapurnya ada di sebelah kanan, so kita bisa lihat chef-nya masak di sebelah, cool. Desain dapurnya warna merah, cerah dan eyecatching banget, staffnya ramah, bahkan ownernya pun ada di sana ikut menyapa dan menyambut tamu keren banget hehe, jarang-jarang ada owner yang turun tangan langsung. Ambience nya relaxing banget, musik yang diputar musik jazz, dan berhubung lokasinya di sebelah Enhaii yang masih asri banyak pohon-pohon, selama di sana juga masih terdengar bunyi serangga pohon itu loh…krik krik krik…serasa di hutan hihihi…padahal sih di pinggir jalan Setiabudi yang ramai banget, tapi sama sekali ga kerasa bisingnya.

Soo…ga berbelit-belit, saya pilih pembuka Scallop with Butterlemon Sauce, lalu Bushfire Chicken Burger, dan segelas Hot Cappucino. Isi menunya lumayan beragam, ada Starter (appetizer) salah satunya scallop tadi, menu Steak (ada imported steak), Burger, Pasta, Rice, Dessert. Minumannya standar cafe seperti Coffee, Juice etc. Disediain majalah dan ada tv kabel plus free WiFi juga. Ga pake lama, dateng deh itu Scallop, nih fotonya :

Scallop with ButterLemon Sauce

Wew enak banget…sausnya ga ngerti apa deh, tapi enak banget sampai rasanya ga tega menyisakan sausnya 😉 Isinya 4 pieces, not bad lah for starter..hehe…teksturnya kenyal, ga amis sama sekali, dan sausnya itu lho (sekali lagi) enak banget! Next setelah scallopnya habis datanglah burger pesenan saya :

Bushfire Chicken Burger

Wah ga bisa comment saya saking speechlessnya…tampilannya bagus, tampak yummy banget, dan bener aja, maknyus tenan, enak banget, rotinya lembut, keju sama daging nya berasa banget, dan sekali lagi yang saya ga ngerti, sausnya kenapa enak banget, rasanya pas asin, gurih, pedes sedikit, hehe…wah pokoknya ga bikin eneg sama sekali, recommended bangetlah ini burger hehe…takarannya pun pas jadi makannya ga “rujit” kalo istilah Sunda mah. Kadang burger di cafe-cafe ada yang entah kenapa sausnya banyak banget dan bikin belepotan ke mana-mana sampe akhirnya pas makannya bentuknya udah absurd acak-acakan. Tapi burger ini beda Man, rasa, tampilan, tekstur, komposisinya pas deh di lidah…wew…nagih abis lah… Kentangnya juga segede-gede gaban n panjang bener, hehe kenyang top markotop deh!

Hot cappucinno nya standar sih, ga dihias-hias atau apa, dengan gula terpisah jadi rasa manisnya bisa disesuaikan lidah kita. Kalau saya sih biasa selalu minum cappucinno dengan gula satu setengah sachet hehe manisnya passs…Kalau rasa cappucinno nya standar sih ya, belom ada kopi di cafe cafe yang bisa mengalahkan Starbuck sih hehe even Roemah Kopi sekalipun, hehe…so, ya rasanya so so lah tp not bad kok.

Total pengeluaran sekitar 60rb an. Ya pretty cheap untuk makanan dengan kualitas segitu…

Pas mau pulang, si ownernya bukain pintu dong, hehe…bener-bener ramah banget. O iya, waktu saya bilang di atas tampilannya kaya resto bule-bule, memang bener sih, yang makan di situ ada bule 1 biji sama orang taiwan 1 biji, hehe…mungkin terkenal juga di antara para expat kali ya…yang jelas saya sih jatuh hati banget sama cafe satu ini… ada menu Luch Package nya Rp 25.000,- nett udah include drink (lemon tea nya enak bgt).

As published in :
Kuliner Bandung

For more info, you can follow @mylkresto and @Kuliner_Bandung

~happy eat, happy tummy~