Five Colours from South East Asia : Indonesia, Malaysia, and Thailand

Why five colours : blue, green, yellow, white, and red? Well, recently I noticed the Capture the Colour photo competition run by TravelSupermarket.com. The competition is to choose five original shots from your travel experiences, and each shot representing the colors : blue, green, yellow, white and red. Visit Capture the Colour for more information on how to participate.

Blue : Kawah Putih, Indonesia

Crater at the top of the Patuha Mountain, West Java

According to the history of 10th-century Mount Patuha had erupted, and after that formed a crater at the top of the mountain. It has such a beautiful scene of a large lake with blue warm water which spouted lava and the smell of sulfur. I love the scenery here, unfortunately we cannot stayed too long here because of the sulfur gas evaporated from the water. So, I think it was such a dangerous but also a beautiful place. Tempting, right?

Green : Ciwidey Tea Plantation, Indonesia

Tea Plantation surrounding the Situ Patengan Lake, West Java

Ever wondered, when you were sipping a cup tea, where does it come from? Maybe from England? India? Or…Indonesia? Yes, maybe your tea (yes, that you are sipping right now :D) come from Indonesia. Here in West Java, they produce enormous amount of tea. And also give us the beautiful scenery and landscape. This tea plantation is surrounding the Situ Patengan Lake, which is famous for its Batu Cinta or Love Stone. Many people came to visit Situ Patengan Lake, believed the myth that by visiting Love Stone, they will have a good love life. Well, believe it? Or not? 🙂

Yellow : Wat Khao Rang, Thailand

Amazing golden colour of Wat Khao Rang

Wat Khao Rang in Khao Rang Hill, Phuket Town, maybe not as famous as Wat Cha Long, but, this hidden temple has the oldest Sitting Buddha statue in Phuket. The temple itself is very colourful, with lots of monks and Gods statue. Maybe Thailand is one of the most colourful country in South East Asia, regarding to its massive variants of temples, food, and landscape. This Land of Smiles has totally had my heart.

White : Hat Yai Station, Thailand

Hat Yai Station : Gate to Phuket Paradise

I arrived at this Station after 13 hours slept in the train from Kuala Lumpur. Can’t describe anything but relieved. And excited. This city maybe not as famous as Phuket or Bangkok, but Hat Yai has its own role as a border within Malaysia and Thailand. And famous amongst backpackers, with its Station, which is, A Gate to Phuket Paradise.

Red : Alor Street, Malaysia

Care to eat in Chinese way? Pork is all the way…

Jalan Alor or Alor Street is my favourite place in Kuala Lumpur. Food was great. When I think about Chinese food, it always pork. And how to enjoy pork in its best way? Eating outside, near the street, sitting in circle, chatting, and laughing. Chinese Way. (also posted in Turnamen Foto Perjalanan : Kota)

And now here are my five nominees:

Dina from DuaRansel
Mac from ILikePhoto…!
Olivia from ABigLife
Ryan from ThePerpetualVagabond
Takdos from WhateverBackpacker

Good luck to all!

~happy travelling, happy life~

Day 3 – Cross Malaysia-Thailand Border (Padang Besar-Hatyai-Phuket)

Hari ketiga, Senin 16 April 2012. Still on sleeper train. Tidur di kereta ini agak awkward at first, karena space-nya yang nggak terlalu luas plus ada goncangan-goncangan kereta yang bikin badan agan “ajluk-ajlukan”. Plus sialnya buat gw, 3 orang tetangga yang very-very noisy… 😦 Tapi toh tidur gw nyenyak-nyenyak aja, meski sempet bingung karena kebelet pipis, hehe…gw bingung apa ada toilet ga yah di kereta ini…ternyata subuh-subuh banyak penumpang yang mondar mandir bawa sikat gigi dan handuk. Dan ternyata…toiletnya tepat di sebelah bed gw (bed gw no 1). Hahaha… Sekitar jam 10 pagi, kereta berhenti di Stasiun Padang Besar, yaitu perbatasan negara Malaysia-Thailand.

Tiket Sleeper Train KL-Hatyai

View from train’s window

Padang Besar Station

Di sini penumpang diminta turun dan membawa seluruh bawaan. Kami mengantri di imigrasi. Ternyata di sini harus mengisi kartu imigrasi. Petugas-petugasnya agak menyeramkan karena berseragam dan tampangnya serius-serius plus nggak ramah sama sekali. Di kartu imigrasi kita hanya diiminta menuliskan nama, tanggal lahir, asal negara, nomor paspor, kota yang akan dituju, dan tempat tinggal selama di Thailand nantinya. Proses imigrasi berjalan lancar, setelah mendapat cap, kami menunggu di peron. Ternyata kereta kami yang tadi sudah pergi. Entah ke mana? So…kami menunggu…agak lama juga sih sekitar setengah jam. Sempat ke WCnya…buset parah…*sick* Nggak ada tokai atau apa sih, tapi kotor dan bau…zzz… Kereta pun datang dan kami semua masuk. Ternyata keretanya masih sama seperti yang tadi, tapi sudah dibersihkan oleh petugasnya. Kami kira kereta akan langsung berangkat. But you know what? Delay sampai 3 jam dong! Worst moment ever! Di mana gw udah tidur sampai 4 babak dan keretanya masih di tempat. Argh! Padahal dari hasil browsing sebelum berangkat, dibilang keretanya tepat waktu. Gw nggak gitu ngerti apa yang menyebabkan delay, tapi dari hasil nguping sana sini, sepertinya kereta yang membawa mesinnya terhambat di jalan. Jadi saat itu keretanya belum gabung sama mesinnya. Entah bener atau enggak ya, whatever lah…haha…

Nunggu sampe jamuran

Dari hasil pengamatan gw saat itu, ternyata turis bule lebih nggak sabaran dibanding turis Asia. Dari urut-urutannya yang pertama kali komplain adalah bule. Disusul bapak-bapak berbahasa Cina yang entah berasal dari mana, lalu baru disusul orang Thailand. Sedangkan kami sendiri? Nggak komplain sama sekali malah tidur pules sampe beberapa babak. Hahahahaha…..!!! Beberapa turis bule bahkan ada yang langsung keluar membawa semua barangnya dan nggak balik lagi. Mungkin mereka mencari kendaraan alternatif. Hehe. Kita bertiga sih pasrah aja. Meskipun yang bikin kesel, gara-gara berangkat jam 1 itu, sudah dipastikan kita akan sampai ke Phuket tengah malam…ngga bisa jalan-jalan deh malam ini 😦 Yah, meskipun mengalami delay, tapi pengalaman naik sleeper train ini sangat berharga dan asik. Kalau punya banyak waktu dan ingin merasakan sensasi liburan yang berbeda, boleh dicoba nih naik sleeper train Malaysia-Thailand 😀 Pretty cheap, comfortable and safe kok.

Hatyai Station

Sesaat sebelum sampai di Hatyai, kami sempet “diteror” seorang bapak-bapak dari agen minivan. Dia menawarkan jasa minivan dari Hatyai ke Phuket dengan tarif 55 RM. Kami tolak. Dengan harapan mendapatkan tarif yang lebih murah di luar. Bapak itu sempat bilang kalau keadaan di Hatyai nanti sangat hectic. Eh bener aja. Baru turun dari kereta kami sudah dikuntit beberapa penawar jasa minivan. Abang-abang gitu…agak maksa pula, males  deh 😦 Kami mengikuti salah satu abang ke kantor agen minivan yang ada di seberang stasiun Hatyai, dan jegeeerrr…bad  news. Van baru tersedia jam 5 sore. Sekarang baru jam 2. Oya dia sempat ngasih harga 800 THB. Gila aja! Untung kami udah sempet browsing sebelumnya. Kami  menawar 400 THB, si bapak langsung oke…eeehh…kurang murah kali ya gw nawarnya, haha. Tapi karena van dia adanya jam 5, kami tolak. Setelah ditolak pun si abang-abang masih menguntit terus…grrrr…kami kabur ke warung makan di sebelahnya, pesen Pork Rice yang enak banget dan murmer hanya 50 THB saja, udah termasuk Ice tea. Hehe. Perut kenyang, kami mencoba peruntungan ke agen van lain, ternyata sama saja, van baru tersedia jam 4.30. Katanya sih penuh karena musim liburan. Hiks. Akhirnya deal deh dengan harga 450 THB. Masih 2 jam menunggu, kami berjalan-jalan dulu dan menemukan cafe yang lumayan lucu di depan Mall Robinson, nongkrong deh 🙂 FYI, Hatyai ini ternyata termasuk salah satu kota terbesar di Thailand. Tapi…menurut gw sih suasana Hatyai ini lebih mirip kota Tegal atau Tasikmalaya, hihihi…

Suasana kota Hatyai

Cafe tempat kita nongkrong di Hatyai

Yang membuat kami terkesan saat itu, pemilik cafenya sangat amat ramah. Kami pesan Ice Cappucinno dan EsKrim. Betah deh… 🙂 Oya sempet mampir ke Robinson untuk boker gratis dulu, hihi… Jam 4 kami kembali ke kantor agen van tadi, mengobrol dengan mbak-mbak penjaga di sana yang juga sangat ramah. Dia menunjukkan peta Thailand dan menceritakan beberapa hal seperti Full Moon Party. Tidak lama van pun datang. Keren banget vannya hehe ada TV nya dan filmnya TinTin pake dubbing bahasa Thailand, hahaha…supirnya pun sangat amat ramah. Pake GPS juga dia, yang ada di sebelah setir. Uwew…saya yang ndeso atau emang keren ya, hehe… Perjalanan sekitar 6 jam, sempat mampir ke salah satu restoran untuk makan. Menunya kaya nasi rames gitu, 50 THB dan nggak enak. Huhu…

Sesampainya di Phuket Town, kami bingung karena sudah jam 12 malam dan agak serem juga kalo harus naik tuktuk ke Patong. Rencana awal kan turun di terminal bus dan naik tuktuk seharga 200 THB ke  Patong. Si bapak supir ini ternyata mengerti kebingungan kita, saat kita bilang tujuan kita sebenarnya ke Patong, dy menawarkan untuk mengantar kami sampai hotel di Patong dengan tarif 500 THB bertiga. Deal deh. Si bapak meminta alamat hotel kami dan langsung mencari di GPS (kewl!). Eh ternyata ngga ada di GPS. Hahaha. Amazing, dia menelepon ke hotel kami dan meminta petunjuk arah. Gile bener…profesional banget ya…Di perjalanan pun dia mengajak kami mengobrol dan memberi tips-tips travelling di Patong. Hehe. Baik banget…cinta deh sama bapak ini. Hehe. Tapi ternyata bapak ini hanyalah satu dari sekian banyak orang baik yang akan kami temui  selama di Phuket nantinya.

Santi White Hotel

Hotel kami Santi White Hotel, terletak di Prachanukhro Road. Kecil tapi bersih dan nyaman. Nggak se-comfy hotel kami sebelumnya di KL sih, ya maklum aja ini kan bintang 3, hehe. Tapi hotel ini cukup melebihi ekspektasi gw sebelumnya J  Untuk yang mau ke Patong dengan budget seadanya, bisa banget nih nginep ni hotel ini. Ini site-nya Santi White Hotel. Atau bisa juga via Agoda. Per malam 1500 THB untuk 3 orang sudah termasuk extra bed. Kamar dan kasurnya luas, kamar mandinya sangat bersih. Untuk review lebih lengkap tentang hotel ini bisa lihat di sini : Tripadvisor

Our room @ Santi White Hotel

Akhirnya malam itu ditutup dengan mandi dan tidur lelap… next day perjalanan seru sudah menanti 😀