#PeopleAroundUs : Dipeluk Ibu

kepulauan seribu indonesia

Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sisimu.

Ibu. Kata yang paling indah. Wajah yang paling cantik. Sosok yang paling dirindukan. Kenangan tak terlupakan.

Kapal kayu itu berwarna biru muda, dan tiang-tiangnya dicat merah menyala. Cantik, namun tampak kusam termakan waktu. Jangan tanya berapa umurnya, aku yakin sudah cukup lama dia berada di lautan untuk mengenal lika-liku perjalanan menuju pulau-pulau kecil yang tersebar di Kepulauan Seribu. Bendera merah-putih di atas dek berkibar-kibar tertiup angin. Suara ombak sayup-sayup pecah menabrak tepian badan kapal.

Di dalamnya, puluhan manusia berjejal-jejal memadati setiap jengkal lantai kapal. Puluhan manusia dengan tujuan dan kebutuhannya masing-masing. Dengan beraneka macam pose yang tampak dipaksakan senyaman mungkin. Karena mustahil merasa nyaman di tengah himpitan manusia-manusia dan beraneka macam barang-barang bawaannya. Belum lagi lantai yang ternoda sisa-sisa kotoran dari Pelabuhan Muara Angke yang berbau amis.

Namun, ibu dan anak ini seakan tak peduli. Di tengah kesemrawutan kapal yang perlahan-lahan membawa kami meninggalkan Jakarta, mereka berdua tertidur lelap. Si anak dalam pelukan. Pulas terbawa mimpi-mimpinya yang menyenangkan. Mungkin di dalam mimpinya ia tengah menjadi seorang superhero. Superman lokal yang menyelamatkan dunia. Atau mungkin ia sedang memimpikan rumah. Yang sudah beberapa hari ia tinggalkan. Rumah tempat ia bisa berbaring dengan tenang tanpa gangguan suara orang-orang yang berbincang ribut seperti sekarang ini. Atau mungkin ia dibawa ke dunia fantasi, dunia penuh awan lembut seputih kapas, yang bisa dimakan dan manis rasanya. Dunia mimpi di mana ia bebas menjadi siapa saja.

Si ibu lelah. Badannya pegal setelah seharian menggotong dus mie instan yang berat, belum lagi tas berisi barang-barang berharga dan uang yang masih tersisa untuk menjaga asap dapur tetap mengepul sampai akhir bulan tiba. Dan anaknya. Yang terlalu lincah selalu berusaha melepaskan diri dari genggaman tangannya. Anaknya yang penuh ingin tahu, ingin ke sini dan ke situ. Ia lelah. Betapa lega hatinya bisa mendudukan dirinya di salah satu sudut kapal yang, meskipun jauh dari nyaman, tapi cukup baginya. Ia mencoba tertidur. Dipeluknya anaknya.

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

New Year Eve at Pulau Tidung : In the Middle of the Rain and Massive Fireworks

Image

New Year ke mana? Villa? Barbeque-an? Konvoi keliling kota? Liat fireworks di alun-alun? Nunggu detik-detik pergantian tahun baru di cafe? Atau…di rumah aja???

Hehe…NYE 2012 ini gw memutuskan untuk mencari suasana baru. Bosen di kota. Bosen di cafe. Apalagi di rumah. So…gw ngetrip ke…TIDUNG. Yeay!

Sebenernya dari dulu gw nggak terlalu minat ke Tidung, terutama sih gara-gara baca blog orang-orang yang nyebutin kalo Tidung itu kotor, penuh sampah, coralnya udah ancur,  etc etc. Which is, sayangnya…mereka bener. Hiks. Yah kita bahas itu later. Yang jelas karena kesuntukan gw NYE-an di kota dan nggak tau mau ngapain, akhirnya gw meracuni sahabat gw Irene untuk kabur ke Tidung. Kali ini gw ikut tripnya @TukangJalan, murce murce aja…335rb buat 2 hari. Sifat tripnya Open Trip, jadi sama kaya pas gw di Karimunjawa kemaren, nantinya bakal digabungin sama rombongan-rombongan lain…

So, 31 Januari 2012. Pagi-pagi buta gw udah dijemput sama tukang bajaj hasil kenalan di malam sebelumnya (gokil, ngajak kenalan tukang bajaj demi minta dijemput subuh-subuh besoknya). Baik pisanlah si tukang bajaj ini hehe nganter dari Tanjung Duren ke depan CL, trus abis itu kita naik angkot merah M01 jurusan Grogol-Muara Angke. Sempet miskom n malah diturunin di Pom Bensin sebelah Mega Mall Pluit. Padahal maksud gw Pom Bensin Muara Angke. Yang ternyata Pom Bensinnya ada di dalem pasar yah, catet. Angkotnya nggak lewat situ. Hehe… Nggak pake panjang lebar akhirnya kita naek becak 10rb perak ke dalem Pom Bensin Angke. Di sana kita ketemuan sama CP dari @TukangJalan, trus dikasih tiket kapal (yang cuma berbentuk lembaran kertas karton ditulisin spidol item à tau gitu bikin sendiri, hehe emang bisa).

Ini pertama kalinya gw naek kapal kayu ke Kep.Seribu. Sebelumnya gw kan naek KM Lumba-Lumba yang rada bagusan (eh jauh ding bagusnya) hihi. Ternyata…lebih seru pake kapal kayu! Emang sih desek-desekan kaya ikan sarden, kotor, duduk kelipet-lipet, tapi sensasinya lebih seru, dan yang penting…nggak mabok! Justru pas naek KM Lumba-Lumba, karena ruangannya tertutup, berasa naek bis tapi di laut, ugh…bersih sih, tapi gw muntah 2 kali. Cial. Kembali ke kapal kayu. Lucky me, gw duduk di depan sekumpulan cowo-cowo ganteng putih berotot dan bertato (sampe gw mikir apa mereka nggak salah kapal ya?), so…3 jam terasa berlalu dengan cepat, hahaha…sempet ngalamin tuh ombak yang lagi ganas-ganasnya sampe beberapa kali kapalnya harus matiin mesin dan Cuma ngikutin ombak. Aish, seru abis, apalagi pas mulai ujan deres, hahaha…berasa si Pi di Life of Pi. Tanpa harimau Benggala tapinya.

Image

Gini deh suasana di dalem kapal. Seru kan? 😀

Sesampenya di Tidung, gw rada kaget juga. Ini pulau rame bener kaya pasar. Sepanjang mata memandang tampak kalo nggak gerobak makanan, lapak jualan baju, kalo nggak ya tempat sewa sepeda. Zzzz buyar sudah impian NYE merenung dalam ketenangan pulau yang sepi impian gw. Eh ternyata di Tidungnya sendiri ada even khusus untuk menyambut NYE ini. Ada band, firework, sampe fire dancer segala. Sama aja kayak di Jakarta ini mah. Cuma lokasinya aja di pulau, di pinggir pantai, which is obviously makes it more interesting ^^

Di sana gw dianter ke penginapan, dan berkenalan dengan 4 orang yang sudah sampai di sana duluan. Ada yang dari Jakarta dan Makassar (edun jauh bo dari Makassar!). Sayangnya mereka semua couple. Yah pupus deh niat terselubung gw nyari gebetan di Tidung, xixixi… ;p

Menjelang siang kami snorkeling di sekitar Pulau Payung. Nothing special sih. Underwaternya udah ancur. Ikannya sedikit, tapi gw sempet liat school of butterfly fish segede gaban yang cukup menghibur, plus nemu hewan aneh kaya keong gitu nempel di coral, warnanya cerah banget, mentereng, ada yang merah, biru, oranye, wah pokoknya gaul deh. Ukurannya paling segede setengah jempol. Bermata dan berantene. Lucu! Apa namanya yah itu hewan? Masa keong laut… Excited juga nemu hewan yang baru, rasa kecewa liat coral-coral yang udah terabuse agak terobati. Tapi kalau airnya sih masih agak jernih ya, bahkan dibandingkan pas di PhiPhi Thailand aja masih lebih jernih di Tidung… Sayangnya, laut saat itu mulai berombak, awan di langit pun sudah menghitam. Guide kami buru-buru mengajak kami naik ke kapal dan dengan terpaksa snorkeling babak 2 di Tidung Kecil dibatalkan karena cuaca yang nggak bersahabat. Malah hujan deras lho! Yah namanya juga akhir tahun… *hiks* *sobs*.

Image

Awan gelap yang menemani snorkeling. 😦

Nggak disangka, hujan turun sepanjang hari, bahkan sampai malam. Akhirnya kami pun terjebak di penginapan dan memilih untuk tidur. Berharap menjelang pergantian tahun hujan sudah mereda. Acara barbeque-an pun batal. Ya iyalah gimana caranya barbeque-an di pantai hujan-hujan. *hiks* *sobs*. Sampe udah tidur 3 babak, masih awet aja itu hujan, aje gile, kesel gw, akhirnya bermodalkan payung gw dan Irene nekat jalan kaki ke Jembatan Cinta, tempat even NYE diadakan. Saat itu jam 10 malam, so masih banyak waktu untuk menikmati detik-detik pergantian tahun. Jalan kaki ke Jembatan Cinta seru banget loh! Malem-malem hujan gerimis, dan yang bikin seru yaitu karena banyak banget orang-orang yang juga menuju ke sana. Berasa kaya mau konvoi jadinya hehe…Lumayan jauh juga perjalanannya kira-kira setengah jam. Sampe di tempat even tersebut, gw terkagum-kagum. Banyak banget dong orangnya. Bener-bener rame kaya di pasar malam. Gw langsung menghampiri keramaian yang sedang menonton fire dance. Lumayan sih cukup menghibur. Selain itu ada live music dari band, dan banyak yang main kembang api yang bentuknya stik itu lho, seru! Dan karena lokasinya bener-bener di pinggir pantai, dengan langit terbuka sebagai atapnya, feel nya dapet banget, hihi…pokoknya nggak nyesel deh NYEan di Tidung kali ini.

Image

Fire dance ala Tidung.

Momen-momen paling berkesan tentunya saat detik-detik pergantian tahun. Saat itu gw cuma bisa terkagum-kagum dengan massivenya kembang api yang diluncurkan. Totally awesome! Selain dari pihak panitia acara, tampaknya orang-orang yang hadir juga bawa perbekalan kembang api sendiri-sendiri, dan seakan nggak ada habisnya, bener-bener nonstop itu kembang api bledag bledug byar byar di langit. Totally awesome. Firework NYE 2011 di PVJ mah…nggak ada apa-apanya. Firework di sini bener-bener gila, gokil abis! Bahkan sampai ada kembang api yang nyasar, bukannya meluncur ke atas eh malah meluncur ke samping, menuju ke arah orang-orang yang ada di tepi pantai. Sontak semua orang lari pontang-panting berhamburan menjauhi kembang api nyasar tersebut, termasuk gw. Hahaha! Bahaya juga kalo dipikir-pikir. Tapi seru-seru aja sih pas ngalaminnya ^^ Gw sampe udah speechless nikmatin firework party nya sampai udah nggak sanggup buat take a picture atau video. Bener-bener nikmatin keindahan warna warni kembang api di langit malam yang luas tanpa ada satu bangunan pun yang menghalangi.

Image

Salah satu keseruan perayaan menyambut NYE.

Sampai jam 2an pesta kembang api masih berlangsung loh, edan kebayang tuh berapa puluh juta uang yang terbakar untuk menyambut 2013? Makanya tahun 2013 ini harus jadi lebih better ^^. *apa hubungannya coba?* Pokoknya malem itu totally awesome deh, hehe…mana

subuh-subuh itu gw sempet makan Indomie dan nyeruput kelapa muda sebagai makanan pembuka di tahun 2013, so  perfect! Kapan lagi NYEan di pinggir pantai?

Perjalanan pulang ke penginapan dilalui dengan kantuk, lelah. Sesampainya di kamar, langsung deh nyungsep dengan sukses.

Hari ke-2 dan terakhir di Tidung. Pagi ini gw langsung menuju ke Jembatan Cinta (kali ini naik sepeda), yang menjadi ikon Pulau Tidung. Istimewanya jembatan ini yaitu menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Kebayang kan. Hehe. Sayangnya ternyata jembatannya agak di bawah ekspektasi gw, karena ternyata sudah banyak kerusakan, bolong-bolong di sana sini, dan di tengah-tengah sedang diperbaiki sehingga tidak bisa dilewati. Bisa sih…kalau maksa merayap lewat pinggir-pinggirnya. Tapi gw mengurungkan niat. Alhasil gw nggak mampir ke Tidung Kecil deh. Di atas jembatan, banyak orang-orang yang melompat ke bawah. Semacam uji adrenalin kali yah. Sayangnya gw udah kehabisan baju ganti dan emang nggak niat basah-basahan lagi karena 2 jam lagi kudu udah standby di kapal. Jadi deh gw nggak loncat dari jembatan. Penasaran juga sih gimana rasanya. Next time maybe ;D

Image

This cute boy is gonna jump.

Image

Yeayyy he jump!! Beautiful posture.

Pantai sekitar pulau Tidung ini sayangnya sangat kotor. Yah pokoknya nggak bisa deh main air di situ. Heran juga gw kenapa pengelolaan sampahnya jelek banget, sampai sampahnya menumpuk di bibir pantai, ada kali beberapa meter jauhnya tuh sampah 😦 So sad. Kalau spot foto-fotonya sih sebenernya lumayan menarik, Cuma ya itu…pantainya yang kotor bikin ilfeel. Nggak heran gw sering baca ada Operasi Semut di Tidung. Yah, semoga aja ke depannya Tidung bisa lebih bersih…sayang banget diabuse gitu.

Kesan gw tentang Tidung bisa dirangkum dengan 4 kata : Jembatan. Ramai. Sampah. Sepeda.

Well, ternyata apa yang gw baca dari blog-blog para traveler emang bener. Unfortunately 😦 Tapi bagaimanapun, NYE di Tidung is way much better than previous NYE I ever had. Hopefully next NYE will be more fun. Going abroad maybe? ^^ Amin.

Image

Okay yang ini foto narsis :D. Happy travelling! ^^

Private Backpack(er) Trip to Kepulauan Seribu : Snorkeling and Island Hopping

Why backpack(er) trip? Because it’s not a backpacker trip at all. Hehe…actually, it’s kinda a private trip. Only me and my sister. Yes, unfortunately, meskipun gw hanya membawa sebuah backpack, bukan berarti perjalanan ke Kepulauan Seribu ini sebuah perjalanan backpacker seperti trip-trip sebelumnya.

Somehow, private trip memberi kenikmatan tersendiri buat gw. Yes, together can be fun, but, sometimes I just need a silent and peace moment, so I can really enjoy the beauty of nature, with less talk and more reflecting and visualizing.

Perjalanan dimulai di pagi hari di bulan Agustus, pukul 6 pagi dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta. FYI, saat ini telah disediakan kapal-kapal baru menuju Kep.Seribu, salah satunya KM Lumba-Lumba ini. Harga tiketnya Rp 31.000, tapi sebaiknya bergegas antri dari pukul 5 atau 6 pagi, karena seat KM Lumba-Lumba ini terbatas, hanya memuat sekitar 50 org saja.

Jakarta Sunrise from Kali Adem, Muara Angke

Perjalanan selama 3 jam berlangsung tidak mulus, karena ombak sedang besar dan akhirnya gw sukses muntah-muntah di jalan, hehe… *cupu*. Sesampainya di Pulau Pramuka, kami langsung diantar ke Penginapan Family, yang ternyata kamarnya sangat besar, terdiri dari 2 King Bed plus 1 kasur busa tambahan, hahaha…ini sih muat 8 orang kayaknya. Overall kamar dan kamar mandinya cukup bersih, AC dan listrik nyala 24 jam, hehe, nice

Siang itu kami langsung diajak snorkeling dan island hopping. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Semak Daun. Sayangnya di pulau ini ada sekelompok om-om yang mengejek kami sesampainya di  sana, karena kami menggunakan life jacket saat snorkeling. Okay…cukup membuat kami berdua bete dan males berleyeh-leyeh di sana, akhirnya setelah berenang dan latihan snorkeling sebentar kami segera cabut dari pulau itu menuju spot snorkeling pertama. O ya, jangan lupa membayar “uang mampir” ke penjaga pulau ini sebesar Rp 10.000, coz katanya sih ini pulau pribadi gitu, jadi kalo mau mampir ya kudu bayar ke penjaganya, sigh, tajir gila yang punya pulau ini, hehe…

Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

Snorkeling pertama di sekitar Pulau Semak Daun berlangsung sukses. Karang-karangnya sangat cantik, mayoritas terdiri dari hard coral yang berukuran gigantic, dan airnya pun masih jernih sehingga viewnya luas dan dalam. Sayang ikan-ikannya banyak yang ngumpet, plus gw lupa bawa roti untuk makanan ikan, hehe…tapi karang dan ikannya cukup bervariasi, dan jauh lebih bagus daripada pemandangan bawah laut PhiPhi Island. Thanks God Indonesia begitu indah… ^^

Spot snorkeling kedua di Coral Reef juga cukup menarik, di sini selain hard coral juga ditemukan banyak soft coral salah satunya mushroom coral yang sangat menarik, hijau dan “tampak” lembut. Ikan-ikannya lebih berwarna-warni dan bervariasi, nggak rugi banget deh…berasa Spongebob pokoknya 😀 Sayangnya gw nggak ngerti nama-nama karang dan ikannya, coba kalo ngerti, asik kali ya…jadi semangat pengen baca Marine Atlas nih, hehe…

Setelah puas snorkeling, kami mampir ke Pulau Air, dan…Great Lord, indah banget! Can’t describe it precisely by word, please just take a look at these pictures :

“Sungai” yang mengagumkan, Pulau Air, Kepulauan Seribu

After a short heaven trip through this “river”, finally we arrived…

Pulau Air, Kepulauan Seribu, such a perfect beach for relax and swim

Mengintip salah satu sudut Pulau Air, Kepulauan Seribu

Beneran ya, indah banget dan berhubung di satu pulau ini hanya ada gw dan adik gw, bener-bener serasa pulau pribadi!

Puas berfoto-foto narsis ala model kalender swimsuit di Pulau Air, kami dibawa Mas Galang (driver kapal) ke Pulau Nusa Keramba. Di sini ada sebuah restoran bernama sama, menyediakan berbagai macam makanan dan minuman termasuk beer, tetapi harganya cukup mahal. Kami pesan 1 porsi mie kuah seafood dan 1 gelas coklat panas seharga Rp 50.000,- *sigh*

Pulau Nusa Keramba, Kepulauan Seribu

Best time untuk mengunjungi restoran ini mungkin saat malam hari. Konon banyak yang nongkrong menghabiskan malam di sini, untuk sekadar ngumpul-ngumpul atau nge-beer. Untuk mencapai pulau ini dari Pulau Pramuka bisa menggunakan ojek kapal. Selain restoran, di Pulau Nusa Keramba ini juga terdapat penangkaran ikan hiu, sayang kurang luas dan kurang banyak hiunya, hehe.

Sekitar jam 5 sore, kami “dipulangkan” ke Pulau Pramuka. Setelah mandi-mandi cantik dan nongkrong ngopi di warung Indomi terdekat, gw pun berburu sunset di tepi dermaga Pulau Pramuka. Di tepi dermaga ada juga beberapa orang yang asyik memancing. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara adzan dari masjid dan sayup-sayup suara air laut di kejauhan…

Sunset Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

 

Hari kedua. Setelah melalui malam yang nyaman, kami memulai hari kedua dengan island hopping. Kali ini ombak di lautan lebih besar dibanding kemarin, kapal kami pun terombang ambing ala kora-kora *lebay*, seru sih, tapi lumayan deg-degan juga, hihi…untungnya Mas Galang sangat ahli dalam membawa kapalnya.

Destinasi pertama. Pulau Air Kecil. Sungguh gw amat terpana. Speechless. Ini pantai terindah yang pernah gw kunjungi dalam hidup gw. Beneran nggak pake lebay. Gimana nggak? Airnya biru jernih, pasirnya putih bersih dan diapit oleh 2 lautan di kanan kirinya. Jadi Pulau Air Kecil ini sebenarnya hanya merupakan gundukan pasir saja. Tanpa tanaman, tanpa rumah huni, hanya dua buah pondok bambu yang tertancap di pasir. Menambah keeksotisannya.

Gw berpikir…damn, kok mirip sama foto-foto pantai di Maldives? Argh, gw mau gila rasanya saking terpesona, senang, dan bersyukur atas cantiknya pemandangan yang gw lihat hari ini.

Our ship and our guide, Mas Galang, landed at Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu

Pondok kecil di Pulau Air Kecil, menambah keeksotisannya…

Keunikan Pulau Air Kecil. Pasir pantai yang diapit oleh dua lautan…

Can I just sit there and do nothing all day long?

Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu. How Stunning!

f

Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu. The best beach I ever see so far!

Oh ya, di tepi pantai, tiba-tiba gw menemukan seekor sea urchin yang nyasar…berenang-renang sendirian di air yang jernih ini, hehe…where’s your mama??? 😀 Baru kali ini liat sea urchin yang terasing gini…biasanya dia ngumpet di deket-deket karang, semacam “ranjau” aja, hehe…

Sea Urchin yang Terasingkan *bukan judul sinetron* 😛

Sekali lagi gw pun bernarsis-narsis ria dengan berbagai pose Miyabi *bhahahahak!* di pulau ini, setelah puas, meskipun nggak rela, akhirnya kami harus pergi, hiks…Oya, kata Mas Galang, dulu Pulau Air Kecil ini cukup luas, kumplit dengan pepohonannya juga, tapi karena ombak laut yang semakin lama makin tinggi, akhirnya pulau ini tergerus sampai akhirnya menjadi gundukan pasir saja. Waduh, jangan sampai tempat ini hilang deh, I want to come back here someday

Spot snorkeling pertama hari ini di sekitar Pulau Air. And…what can I say? This is the best snorkeling spot ever! Airnya jernih bener-bener bening dan dengan diterangi sinar matahari, gw merasa seperti berenang di dalam aquarium. Coral di sini bener-bener beraneka ragam, dan warna warninya masih bener-bener terjaga, hampir nggak nemu coral yang udah bleached. Gw nemu blue starfish, makhluk ungu terang datar berduri yang gw nggak tau namanya (hahaha, nah loh?), siput laut yang masih hidup (ada mata dan kumisnya! *ndeso*), angelfish, butterflyfish, clowfish, long black tail sea urchin, etc…hehe, ndak tau namanya sih 😦 Kalau coral-coralnya antara lain : brain coral, tabletop coral, mushroom coral, staghorn coral, pillar coral, great star coral, elegance coral, torch coral, dst…hehe.

Pokoke…snorkeling di Pulau Air…numero uno!

Selanjutnya kami diajak snorkeling di kawasan APL (Area Perlindungan Laut), sayang ombak sedang besar, sehingga kami nggak bisa turun di spot bagus deh, hiks. Mas Galang menurunkan kami di “ladang rumput laut”, hehe…jadi di spot kedua ini selain coral, banyak juga tanaman tipis transparan berbentuk buket bunga gitu. Argh…andai gw tau apa namanya, sampe botak gw browsing di internet nggak nemu, hehe. Nanti deh kalo nemu namanya gw update lagi, hehe. Gini nih nasib kaga punya kamera underwater…hehe. Someday I’ll buy one! 😀

After snorkeling, kami dimampirkan ke Pulau Karya. Pulau ini bagian belakangnya kuburan. So, nggak usah dieksplor deh, cukup pantai nya aja, hehe. Pantainya bersih, nggak ada orang sama sekali saat itu, meskipun nggak secantik Pulau Air, tapi tetep aja cantik, hehe. Uniknya, ada bongkahan-bongkahan logam berukuran 1,5×1 meter yang tersebar di pantainya, sampai sudah berlumut. Mungkin dari kapal yang karamkah? Hehe, mystery still unsolved.

Pulau Karya, Kepulauan Seribu. Lihat bongkahan logam di tepi pantai. Apa ini? Apa itu?

Pulau Karya pun mengakhiri island hopping tour kami di Kepulauan Seribu. Masih banyak pulau-pulau yang masih pengen gw datangin, kaya Pulau Harapan, Pulau Kotok, Pulau Sepa, Pulau Putri, Pulau Pari…argh…someday! Sekarang saatnya kembali ke basecamp kami di Pulau Pramuka. Sisa hari kami habiskan dengan nongkrong ngopi di warung Indomi dan berjalan-jalan mengelilingi pulau.

Pulau Pramuka ini memang berfungsi sebagai tempat transit menuju ke pulau-pulau sekitarnya. Dan sebagai pusat administrasi, berbagai fasilitas tersedia di Pulau Pramuka, seperti rumah sakit (keren loh RSnya, ada Hyperbaric chambernya!), sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan. So, kalau pengen island hopping ke pulau-pulau tadi, lebih baik stay di Pulau Pramuka, kecuali Anda berminat untuk kemping di salah satu pulau tadi, monggo…seru juga sepertinya 🙂

Hari ketiga. Pagi ini dihabiskan dengan bersepeda keliling pulau dan melihat penangkaran penyu sisik. Seru juga bersepeda keliling pulau, menyusuri tepi Pulau Pramuka dengan hanya ditemani suara lembut ombak dan angin sepoi-sepoi…

Cute blue bicycle. Clear blue sky. Cool trip.

Tak terasa waktu berjalan cepat. Jam 12 siang kami sudah berada di dermaga untuk kembali ke Jakarta. Sayonara Kepulauan Seribu, gw pasti akan kembali menjelajahimu, someday, someday

PS : Selama 3 hari 2 malam gw menggunakan jasa private tour dari Pak Hermanto (+628138147529, pin BB : 323DFDC9), owner Penginapan Family di Pulau Pramuka.

Untuk private tour 2 orang, perorangnya dikenakan biaya Rp 800.000,- all ininclude : tiket kapal KM Lumba-Lumba pp Muara Angke-P.Pramuka, penginapan AC, makan 3x/hari, sewa kapal private 2 hari all day, snorkeling 6 kali, mengunjungi pulau-pulau di sekitar Pulau Pramuka (Pulau Semak Daun, Coral Reef, Pulau Air, Pulau Air Kecil, Pulau Nusa Keramba, Pulau Karya, APL). Is that worth it? Yes it is.

 

 

 

 

 

Happy reading, happy travelling, happy life~