Serba Minimalis di Pulau Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Selemparan batu dari Tanjung Bira, ada Pulau Liukang Loe.

…okay, nggak selemparan batu juga sih, tapi 15-30 menit dengan speed boat, hehe. Pagi itu gw terbangun dengan semangat muda mudi angkatan ’45. Lupakan sejenak semangat muda-mudi angkatan millenia, yang tiap pagi harus memencet tombol snooze sampe 20 kali baru bangkit dari kasur, sambil nggerundel pula. “Udah hari Senin lagi? Kenapa gw harus ngantor? Kenapaaa????”. Ya, kira-kira begitulah semangat muda-mudi milenia. Tapi hari ini berbeda. Gw terbangun di sebuah penginapan melati Tanjung Bira. Di atas kasur yang setipis roti tawar dilipet dua. Badan pegel-pegel, tapi euforia semalam mengalahkan rasa linu-linu yang menghinggapi pinggang. Hari ini gw mau snorkeling!! Yeay! 😀

Kapan terakhir kali gw snorkeling, gw aja sampe lupa saking lamanya. Begitu kangennya gw sama hard, soft coral dan ikan laut yang berwarna-warni. Begitu kangennya gw nyemplung basah ke laut dan berkecipak-kecipuk ria dengan gaya ala putri ikan duyung. Begitu kangennya gw dengan rasa bebas tanpa komitmen saat berenang di air asin. Intinya, gw kangen!! Deal pun dibuat dengan pemilik penginapan, Pak Riswan. Sejatinya, tarif untuk sewa kapal dan snorkeling ke Pulau Liukang Loe ini fix sebesar 250rb. Kapasitas speed boat bisa menampung sekitar 6-8 orang, nah lumayan murah kan kalau sewanya ramean. Bisa juga sih ber-duabelas kalau mau tenggelam. Sialnya, saat itu gw traveling di bulan Ramadan, otomatis pengunjung sedikit, dan bule-bule yang satu penginapan dengan gw nggak ada satupun yang mau pergi ke Liukang Loe hari itu. Pak Riswan pun sempet ngider berkeliling Tanjung Bira menawarkan jasa one night stand day tour ini, tapi dasarnya apes, nggak ada yang mau pake dia hari itu. Ya sutralah, akhirnya dengan jumlah personil yang amat minimalis, sekitar pukul 11 gw berdua dengan travelmate gw pun cuss berangkat dari tepi Pantai Tanjung Bira yang terkenal dengan pasirnya yang sehalus bedak itu.

Speed boat kami penampilannya cukup oke, masih tampak baru, kokoh, dan kinclong. Tapi kok…nggg… nggak tampak tanda-tanda life vest ya?? Bujubuset. Ternyata life vest nya bayar lagi sodara-sodara. Mana kami juga udah nggak sewa fins (karena nambah lagi 15rb -.-), sekarang nggak ada life vest-nya pula. Okesip. Dengan peralatan amat minimalis (modal google mask doang) kami pun pantang mundur. Berangkat cyiinn… Langit tampak cerah hari itu. Tak tampak awan hitam bergulung. Ombak pun tampak jinak-jinak merpati. Eh tapi, malah abang supir kapal kami yang tidak jinak. Gw yakin si abang ini mungkin sudah berpengalaman lebih dari ratusan kali bolak-balik Tanjung Bira-Liukang Loe. Dari kecepatannya membawa kapal dan meliuk-liuknya, dia terbukti amat sangat mahir. Diibaratkan versi lautnya Fast Furious dah. Lah gw sih seneng-seneng aja, ngerasain muka gw keciprat-ciprat air laut sepanjang jalan, tapi ya tetep aja dag dig dug ser mah ada ya. Gw nggak mau kan nasib gw kaya di film Titanic gitu (serah lo deh!).

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja "Don't stop" :P

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja “Don’t stop” 😛

Dari kejauhan sudah tampak Pulau Liukang Loe yang memanggil-manggil. Tapi sebelum berlabuh di Pulau Liukang Loe, kami diturunkan dulu di G spot snorkeling pertama, nggak jauh dari tepi pulau. First impression? Rada kecewa sih karena penampakan coral-nya tampak biasa aja. Memang, visibility-nya clear, kira-kira sampai 5-7 meter. Tapi tampak beberapa gugusan coral yang sudah rusak. Memang, dari riwayatnya, perairan Sulawesi Selatan pernah mengalami fish-bombing yang cukup parah. Selain gugusan coral yang tidak terlalu menggairahkan, spot tempat kami diturunkan juga sangat dangkal. Masih terlalu dekat dengan tepi pantai. Gw pribadi lebih suka snorkeling di tempat yang agak dalam. Saat mengutarakan keinginan gw ini kepada si abang Fast Furious, lha dia tampaknya tidak mengerti. Bahasa Indonesianya memang masih agak kurang lancar, dan gw nggak bisa ngomong bahasa Makassar sama sekali. Yowis, intinya si abang “kekeuh” kalau spot snorkelingnya nggak bisa pindah-pindah lagi. Kecuali kami mau ke Pulau Kambing, di sana lebih dalam dan ikannya lebih besar-besar, katanya. Sebetulnya gw pengen banget, tapi kata si abang, Pulau Kambing jauh, nggak bisa sekarang. Huhuhu banget. Untungnya beberapa kali gw menemukan penampakan ikan yang ukurannya besar-besar, salah satunya ikan kudu-kudu. Yah lumayan menghibur di tengah pemandangan minimalis saat itu.

Cukup puas snorkeling sesi pertama, gw pun berenang menuju tepian pantai Pulau Liukang Loe. Pantainya sangat bersih, belum nampak tanda-tanda kontaminasi sampah. Pasirnya putih agak keemasan, teksturnya halus tapi tidak sehalus pasir di Pantai Tanjung Bira. Beberapa kapal ditambatkan di tepian, kosong. Tampaknya memang hanya sedikit pengunjung di hari itu. Gw pun berjalan-jalan mengelilingi pulau yang cenderung masih agak sepi. Hanya tampak beberapa rumah, kondisinya pun tidak bisa dibilang bagus, beberapa tampak reyot. Kabarnya hanya ada satu dua penginapan, harganya lebih murah dibanding kawasan Tanjung Bira. Namun sayangnya, di Liukang Loe ini hanya ada satu warung makan. Dan, di warung makan ini, hanya bisa memesan satu macam paket makanan, yang sama untuk semua pengunjung. Paket makanan ini terdiri dari nasi satu bakul, ikan bakar 2 buah, sayur sop satu mangkok besar, dan kerupuk. Untuk makanan yang sangat minimalis ini gw harus merogoh kocek 35rb/orangnya. Isshh… Saran gw sih mending bawa bekal aja deh, terus makan di pinggir pantai noh lebih puas kayanya.

Di tengah Liukang Loe

Di tengah Liukang Loe

Lagi-lagi, seperti juga di Tanjung Bira, saat itu yang tampak hanya turis bule. Mereka tampak santai berbaring tidak bugil di bawah pohon di pinggir pantai. Kebanyakan emak-emak dan bapak-bapak. Kadang suka salut sama bule-bule berumur yang suka bertualang di Asia, hehe…seneng aja liatnya, bikin terinspirasi gitu, kalau harus jaga kesehatan dari sekarang supaya ntar tua pun bisa berpetualang (deramah edisi dokter ;p).

Setelah acara makan siang yang kurang memuaskan lidah, kami pun melanjutkan sesi snorkeling kedua, kali ini spotnya pun nggak jauh berbeda, tapi gw menemukan banyak sekali bintang laut berwarna biru yang unyu-unyu, plus berbagai macam soft coral dengan warna mentereng, merah, pink, biru, ungu, DOR, meletus balon hijau! (………). So far gw cukup puas dengan sesi snorkeling yang kedua . Hal menyenangkan dari snorkeling kali ini yaitu, karena nggak pake life vest dan fins, bergerak pun jauh lebih bebas dan nggak terganggu (meskipun rada was-was ketusuk bulu babi, untungnya jumlah bulu babi di sini masih sangat amat sedikit :)). Nyoba sok-sokan latihan freediving tanpa fins, alhasil niatnya mau duck dive tapi malah kaya kecebong kelelep karena bokong nggak mau turun-turun. 😛

Sekitar jam 4 dengan terpaksa kesenangan pun harus berakhir. Total sekitar 5 jam saja waktu yang dihabiskan untuk snorkeling 2 kali dan mengeksplor Pulau Liukang Loe. Rekor tercepat! Bener-bener one day trip terminimalis yang pernah gw alamin. Next time harus coba ke Pulau Kambing dan Pulau Selayar juga! (^.^)9

Liukang Loe Makassar Sulawesi Selatan Indonesia

Happy traveling, happy life~

#PeopleAroundUs : Laut adalah Hidupku

Liukang Loe Tanjung Bira Indonesia

Tanjung Bira, 14 September 2013

Angin pantai dan deru ombak adalah temanku. Setiap hari bermain ku dengan gulungan-gulungan ombak. Ada yang kecil, rasanya menggelitik, ada yang besar, siap menerkam maut. Ombak adalah temanku. Aku mengenalnya sejak aku masih terbuai di dalam kandungan ibuku. Aku mendengar suaranya yang sayup-sayup memecah karang di kejauhan. Aku mendengar suaranya yang berdebur keras menghantam kapal bapakku. Aku mendengar suaranya yang lembut, menggelitik kaki ibuku. Terbuai aku dalam kemerduan suaranya yang menyatu dengan desiran angin laut, nyaman aku di dalam ibuku.

Tumbuh besar aku di antara pecahan kasar karang dan kerang. Warna-warninya selalu membuatku terpesona. Merah, biru, ungu, putih mengkilat bagai  mutiara. Sering kupendam kakiku yang mungil dalam-dalam di pasir pantai yang empuk. Warnanya putih pucat, sepucat warna bibir ibuku kala itu. Oh ibu, mengapa begitu cepat kau meninggalkan aku…

Aku dilatih untuk menjadi pejuang. Kutaklukkan laut yang sedang marah, kupelajari segala lika-likunya. Kuhapal semua lokasi karang-karang maut yang bisa membuat kapalku karam. Kupahami bahasa angin yang rumit, kapan ia sedang malas, kapan ia mengamuk murka, kapan ia berbaik hati menuntunku menjelajah lautan. Laut adalah hidupku. Ia tidak menjanjikan emas berlian. Ia tidak membuatku bermandikan uang. Ia tidak menjamin hidupku bergelimang harta. Tapi laut adalah hidupku. Di sana aku menemukan kedamaian. Aku mengenalnya lebih dari aku mengenal orangtuaku. Aku mencintainya lebih dari aku mencintai istriku.

Aku menatap horison. Adakah kehidupan lain di ujung sana? Dunia gemerlap yang penuh dengan manusia tampan dan molek. Dunia yang penuh dengan manusia intelek. Yang berpikir dirinya yang paling hebat. Yang sibuk menuntut dirinya dihargai. Sibuk mengumpulkan pundi-pundi duniawi. Tak harus berpeluh keringat untuk menyambung hidup.

Ah, tapi aku lebih cinta laut…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.