Meninggalkan Jejak di Pinang Peranakan Mansion

Pemandangan unik yang melepas kepergian saya dari Pinang Peranakan Mansion. Stiker-stiker ini awalnya diberikan kepada setiap pengunjung Mansion untuk ditempelkan di tubuh sebagai tanda pengenal. Menariknya, di samping gerbang pintu keluar stiker-stiker ini kemudian ditempelkan begitu saja di dedaunan tanaman pot hias ini. Tampaknya para pengunjung ingin meninggalkan “jejak”nya di sini.

Saya pun menempelkan stiker kecil berwarna hijau kuning cerah milik saya di salah satu daun tersebut…

Secercah perasaan “I’ve been here” and  “Good bye” menggelitik hati…

 

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 31 : Jejak

12 Jam di Penang, ngapain aja sih?

12 Jam Di Penang, Ngapain Aja Sih???

Street Art Georgetown Penang

Hah? 12 jam doang di Penang? Ih, ngapain? Mungkin banyak orang mikir kaya gini. Mungkin banyak orang ngerasa sia-sia banget ngabisin cuma 12 jam di Penang. Mungkin banyak orang ngerasa ngapain capek-capek bolak-balik Singapura-Penang cuma buat ngunjungin Georgetown doang. Mungkin banyak orang males ngelakuin trip overland kayak gw gini, FYI, Singapura-Penang via jalan darat itu memakan waktu 9 jam sekali jalan dengan menggunakan sleeper bus. Untuk keterangan transportasi Singapura – Penang lebih lengkapnya bisa baca di postingan gw sebelumnya. Ya, memang keliatannya capek dan silly jauh-jauh ke Penang cuma buat ngabisin waktu 12 jam aja. But, if ask myself, was it worthed? Tanpa ragu gw akan menjawab : Sangat.

Jadi, ngapain aja sih gw selama 12 jam di Penang?

Sesampainya di Terminal Sungai Nibong di Penang, gw dan travelmate gw kali ini, sebut saja nama sebenarnya, Irene, setelah numpang mandi di terminal, langsung menuju pintu keluar. Hati-hati yak, banyak banget abang-abang ojek dan taxi yang akan dengan ganas menyerbu, pokoknya pasang wajah sok nggak butuh aja, hehe…Nah di sebrang dari pintu keluar terminal, kita berdiri di pinggir jalan nungguin Bus Rapid Penang. Menurut info, bus yang bernomor 301, 302, 303, dan 401 bisa mengantar kita langsung sampai ke Georgetown. Lama menunggu sampe akhirnya ngemper di trotoar…akhirnya nongol juga bus nya, itu pun setelah tanya orang-orang di sekitar sana karena bingung kok busnya nggak nongol2. Jangan bayangin Rapid Penang ini halte busnya kaya halte di Singapura. Nggak jelas haltenya, dan nggak jelas juga di mana dia berhentinya, kadang cuma ada plang tanda Bus Stop aja, tanpa tempat duduk. Malah di depan terminal itu, dia berhentinya di depan gardu warung makan gitu. Bayarnya pun nggak pake kartu-kartuan tapi cash sebesar 2 RM. Beuh sempet bingung, tapi orang-orang sana baik-baik dan ngasih info yang tepat, so, kalo bingung, just ask. 🙂

Setelah perjalanan selama kira-kira 30 menit, turunlah gw di depan Masjid Kapitan Keling. Akhirnya petualangan dimulai! ^^ Dari sini gw cuma bermodalkan peta Georgetown yang gw dapet dari internet. Menyenangkannya, di sana, selain jalanannya tersusun rapih, petunjuk jalannya pun jelas banget, pokoknya nggak akan nyasar deh! Tapi menurut gw sih, tetep lah harus bawa peta yak, biar hemat waktu. Peta yang gw pake bisa didownload di sini. So, tempat apa aja sih yang bisa dikunjungi selama 12 jam di Georgetown?

Kwan Im Temple

Berlokasi di Jalan Masjid Kapitan Keling, kuil ini diperuntukkan khusus untuk menghormati Dewi Kwan Im, yaitu dewi perwujudan Sang Buddha sendiri (Avalokitesvara Bodhisattva). Saat gw mengunjungi kuil ini, banyak sekali umat yang sedang berdoa, baik di dalam maupun di luar, dari yang tua sampai yang muda. Tampak dupa dengan berbagai ukuran, dari mulai yang tipis sampai yang diameternya sekitar 10 cm. Di halaman depan kuil tampak banyak sekali burung merpati, menyambut tiap pengunjung yang datang, sambil berterbangan dengan santainya. Di samping kuil terdapat banyak penjual dupa dan aneka barang-barang persembahan. Berhubung saat itu sedang dilaksanakan ibadah, jadi gw nggak masuk ke dalem kuil. Menariknya, lokasi kuil ini berdekatan dengan Masjid Kapitan Keling di sampingnya dan Mahamariamman Temple di area seberangnya. Berjalan di sepanjang jalan Masjid Kapitan Keling ini terasa sekali rich in diversity-nya, dan sangat menarik mengamati cultural mix yang ada di sini, lebaynya, ngesot sedikit udah berubah suasana, dari Melayu, India, dan Chinese, and I love it! ^^

Tempat pembakaran dupa

Tempat pembakaran dupa

Young Man Praying...

Young Man Praying…

Pinang Peranakan Mansion

Buat gw, tempat ini merupakan highlight selama menghabiskan waktu di Georgetown. Why? Baca aja namanya. Pinang. Peranakan. Mansion. Man, it’s a MANSION! Jujur, kalo sekarang orang nyebut kata Mansion, di otak gw munculnya kok langsung kata “playboy” yah :p Weits, tapi mansion yang ini bukan mansion playboy kok. Mansion ini dulunya merupakan tempat tinggal Kapitan Cina Chung Keng Kwee, dibangun di tahun 1980-an oleh Hai Kee Chan. Kenapa disebut Peranakan Mansion? Jadi “Peranakan “ itu merupakan istilah untuk orang-orang Malaysia dan Singapura yang berasal dari daratan Cina sana. Biasanya, disebut juga Baba dan Nyonya. Meskipun berasal dari Cina sono, tapi budaya warga Peranakan ini udah mengalami akulturasi dengan budaya setempat loh. Selain terpengaruh oleh budaya Melayu, juga banyak dipengaruhi budaya Barat, terutama Inggris, yang memang dulunya menduduki Malaysia dan Singapura. So, percampuran banyak budaya ini menghasilkan Peranakan culture yang sangat unique, bayangin deh : Cina, Melayu, Inggris. Kurang awesome gimana lagi coba? Dan di Pinang Peranakan Mansion ini, bisa dilihat kekayaan budaya mereka ini. Apa aja sih yang bisa dilihat? Nih :3

Wajah seorang Nyonya Peranakan

Wajah seorang Nyonya Peranakan

Wajah Permaisuri Kaisar Cina kala itu

Wajah Permaisuri Kaisar Cina kala itu

Halaman tengah di dalam Mansion. Enak nih buat ngeteh cantik! :3

Halaman tengah di dalam Mansion. Enak nih buat ngeteh cantik! :3

Hasil perpaduan akulturasi budaya Cina dan Barat

Hasil perpaduan akulturasi budaya Cina dan Barat

Chandelier yang tergantung di ruang makan, mau?

Chandelier yang tergantung di ruang makan, mau?

Uniknya mansion ini memang karena perpaduan ketiga budaya tadi. Meskipun budaya Cina yang tampak mendominasi, tetapi di berbagai spot terlihat beberapa barang-barang modern dari Barat. Lemari-lemari kaca berisikan kristal-kristal dari Eropa bersanding dengan lemari kaca berisikan keramik-keramik Cina. Cheongsam bersanding dengan gaun pesta putih ala Western. Lampion berlukiskan naga menghiasi meja tulis dengan berbagai patung ukiran karya seniman Barat.

Lantai 2 yang didominasi interior kayu, adem banget rek!

Lantai 2 yang didominasi interior kayu, adem banget rek!

Radio kuno dari Jerman

Radio kuno dari Jerman

Lampion yang menghiasi langit-langit Mansion

Lampion yang menghiasi langit-langit Mansion

Masih ngeluh DSLR kamu berat? Well, think again. Kamera jaman dulu segede lemari gini lho :D

Masih ngeluh DSLR kamu berat? Well, think again. Kamera jaman dulu segede lemari gini lho 😀

Puas menjelajahi lantai 1 dan ruang tamu di lantai 2, gw pun memasuki kamar-kamar tidur yang semuanya terletak di lantai 2. And wow, this is my favourite part of the Mansion. Kamarnya unyuk banget! Ada 2 kamar tidur, yang pertama menggunakan ranjang biasa dan di atasnya terhampar aneka dress putih yang penuh bordiran, sangat cantik! Meja riasnya pun dipenuhi berbagai kosmetik jaman dulu yang kondisinya masih bagus, sampai ke sabun batangnya juga masih utuh, entah juga deh masih bisa dipake mandi nggak ya kira-kira? ;p Kamar tidur kedua lebih unik, yaitu masih menggunakan ranjang model Cina yang ada di film-film Yoko itu loooohhhh! *ketauan deh angkatan 90-an*, aih, unyuk! :3

Salah satu kamar tidur. Pengen banget boboan di kasurnya tapi nggak boleh :( *ya menurut ngana?*

Salah satu kamar tidur. Pengen banget boboan di kasurnya tapi nggak boleh 😦 *ya menurut ngana?*

Parfum dan kosmetik yang masih utuh tersimpan di meja rias :3

Parfum dan kosmetik yang masih utuh tersimpan di meja rias :3

Kalo wastafelnya aja dibikin secantik ini, gimana bath tub nya ya?

Kalo wastafelnya aja dibikin secantik ini, gimana bath tub nya ya?

Oh iya, tiket masuk Pinang Peranakan Mansion ini 10 RM ya, dan lokasinya ada di Jalan Lebuh Gereja, buka setiap hari dari jam 9.30-17.00. Mampir ya, anggep aja rumah sendiri ^^ #lho?

 

Cheah Kongsi Clan Temple

Nggak sengaja ngelewat kuil ini di Lebuh Armenian, akhirnya memutuskan untuk masuk. Interior kuilnya sederhana tapi sangat menarik. Sejarah kuil yang dibangun tahun 1870 ini pun sangat menarik, yaitu didirikan oleh Klan marga Cheah sebagai penghormatan kepada kedua dewa pelindung mereka, Hock Haw Kong, yang diyakini melindungi perjalanan mereka dari Cina Selatan menuju daratan Asia Tenggara.

Model yang tidak dibayar #eh :D

Model yang tidak dibayar #eh 😀

Pintu yang berlukiskan kedua dewa pelindung klan Cheah

Pintu yang berlukiskan kedua dewa pelindung klan Cheah

Khoo Kongsi Temple

Kuil ini merupakan salah satu yang terbesar dan tercantik di Georgetown. Didirikan oleh klan Khoo untuk menghormati dewa pelindung Tua Sai Yah, sekaligus sebagai “basecamp” klan Khoo. Jadi ternyata, dulu, ada Lima Klan yang “merajai” Penang, yaitu marga Khoo, Cheah, Yeoh, Liem, dan Tan. Mereka dikenal sebagai “Five Big Clans”. Mereka menempati area sepanjang Jalan Chulia sampai Jalan Beach.  Wih jadi kebayang film-film gangster Cina jaman dulu yak! *overimaginative* 😀 Kuil ini dibangun tahun 1850, sudah pernah dihancurkan dan dibangun lagi dari awal, pernah mengalami kebakaran saat Chinese New Year Eve di tahun 1901, kemudian sempat dibom oleh Jepang saat Perang Dunia Kedua,  tapi akhirnya dibangun lagi dan bertahan sejak 1958 sampai sekarang. Tahan banting bener dah ini kuil 😀

Khoo Kongsi Temple Georgetown Penang

Interiornya sendiri memang sangat indah, semarak oleh ukiran-ukiran naga, didominasi warna emas. Di setiap tiang-tiangnya pun dihiasi dengan gambar naga. Di bagian depan terdapat patung singa dari batu, yang biasanya selalu terdapat di area pintu masuk kuil pada umumnya. Di bagian dalam kuil, terdapat altar untuk berdoa dan menaruh dupa. Dinding kuil dihiasi oleh lukisan berbagai dewa pelindung dengan cat warna hitam. Di bagian belakang kuil terdapat lukisan dari tinta Cina, yaitu lukisan “The Eight Immortals” yang sangat indah, selain itu terdapat lemari kaca yang menunjukkan barang-barang peninggalan orang Cina jaman dulu. Di sisi kuil terdapat ruangan yang berisi plat-plat nama orang-orang yang bermarga Khoo yang sudah meninggal. Untuk memasuki kuil yang berlokasi di Cannon Square ini, kita harus membayar  5 RM, dan kuil dibuka setiap hari jam 9.00-17.00. Katanya sih, pemandangan paling spektakular ya saat malam hari, di saat seluruh lampu dinyalakan, wih, pasti keceh berat. Sayang gw nggak sempet mengeksplor Penang di malam hari *tepok jidat*.

Lampion yang menyambut di pintu masuk kuil

Lampion yang menyambut di pintu masuk kuil

The Eight Immortals

The Eight Immortals

Sun Yat Sen Museum

Gw menemukan tempat ini secara nggak sengaja. Lokasinya di Lebuh Armenian. Dari depan, tampak seperti rumah biasa aja, tapi plang Sun Yat Sen Museum cukup menarik minat gw untuk memasukinya. Sun Yat Sen kan Founding Father-nya RRC,  presiden pertama RRC, dan selain itu beliau juga seorang dokter loh ^^ Memasuki museum ini kita membayar  5 RM, dan museum buka setiap hari jam 9.00-17.00. Di ruang depan, terdapat foto-foto dan kilas sejarah perjuangan Dr. Sun Yat Sen ketika berusaha menggulingkan sistem Dinasti Cina dan mengubahnya menjadi sistem Republik. Ceritanya seru, mungkin karena belajar langsung dari museumnya kali yah, jadi nggak ngebosenin kaya kalo belajar sejarah di sekolah. Dari mulai kisah kegalauan beliau karena nggak setuju dengan sistem Dinasti, kisah penyebaran propaganda lewat surat kabar, kisah penggalangan dana sampai ke seluruh penjuru Asia demi menggulingkan Kaisar, sampai kisah percintaannya juga ada. Menariknya, selain membaca dari keterangan yang dipasang di dinding, kita juga bisa nonton film kisah hidup Dr.Sun Yat Sen ini di TV yang ada di sana. Filmnya diperankan aktor-aktor terkenal *katanya*, gw sih nggak kenal ya, secara aktor Cina jadul gitu -.-

Sun Yat Sen Museum Georgetown Penang

Di bagian dalem museum, ada perabot-perabot yang masih asli dari jaman Dr.Sun Yat Sen sering mampir ke situ lho. Jadi dulunya rumah itu dipakai Dr.Sun Yat Sen untuk rapat dan diskusi dengan teman-temannya sesama aktivis. Selain meja dari marmer, ada juga lemari-lemari kayu, seperangkat alat minum teh beserta isinya (yang bisa kita pake minum beneran loh), cermin jadul, dan masih banyak barang-barang Cina jadul yang bikin gw ngerasa travel to the past…Suka pokoknya! ^^

Ruangan tengah tempat minum teh :3

Ruangan tengah tempat minum teh :3

Ini teh nya, gelasnya cantik tapi jangan dibawa pulang ya! :D

Ini teh nya, gelasnya cantik tapi jangan dibawa pulang ya! 😀

Selain tempat-tempat di atas, beberapa tempat menarik yang juga dilewati antara lain :

Cheong Fatt Tze Mansion : nggak sempet masuk ke sini gara-gara kesorean, hiks!

– Masjid Kapitan Keling

– Hock Teik Cheng Sin Temple

– Yap Temple

– Residence of Ku Din Ku Meh

– Berbagai Street Art dan Art Shop di jalanan Georgetown


So, 12 jam di Penang? Why not? Banyak tempat yang bisa dieksplor, belajar pengetahuan dan kultur baru, menikmati suasana mixed culture yang kental di Georgetown…dan tentunya mampir kuliner juga dong ya 😀 Saking cintanya gw sama kuliner Penang, nanti akan gw buat postingan tersendiri. Tunggu yah! ^^ Happy traveling!

From Zero To Hero : Menyusuri Jejak Peradaban Singapura di Chinatown Heritage Centre

Apa yang terbayang di benakmu jika mendengar kata Singapura? Modern? Merlion? USS? MRT? Marina Bay? Orchard? Belanja? How about…Chinatown?

Yap! Chinatown merupakan salah satu pusat kota Singapura yang tertua, dan masih bertahan sampai sekarang, dengan bangunan-bangunannya yang khas, menunjukkan sisi kultural bangsa Cina yang merupakan nenek moyang warga Singapura. Yes, warga Singapura berasal dari Cina, tepatnya dari daerah Cina Selatan. Mereka merantau dari negeri Cina melalui jalan laut, dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik.

Untuk mendalami sejarah dan seluk beluk peradaban Singapura inilah, gw berkunjung ke Chinatown Heritage Centre yang berlokasi di 48 Pagoda Street Chinatown, yang hanya beberapa meter saja dari pintu keluar MRT Chinatown. Untuk memasuki Museum ini dipungut biaya 10 SGD untuk dewasa, dan 6 SGD untuk anak-anak. Museum dibuka pukul 9 pagi sampai 8 malam. Saran gw, datanglah pada pukul 1 atau 2 siang, di mana disediakan Free Guided Tour. Sayang sekali gw saat itu tidak ditemani oleh guide, tapi petunjuk dan penjelasan yang ada di dalam museum sudah cukup lengkap kok.

Nah, apa sih yang ada di dalam Museum ini? Kisah peradaban Singapura diawali dengan cerita para Sinkheh di daerah Cina Selatan yang mengalami kemiskinan dan kelaparan pada tahun 1800-an, sehingga memutuskan untuk bermigrasi dengan menggunakan kapal ke daerah Asia Tenggara, berharap menemukan tempat untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik. Di sini, ditampilkan replika kapal layar Cina kuno, lengkap dengan berbagai barang-barang peninggalan pada jaman itu, seperti topi caping pelaut, tali tambang, kertas-kertas doa dan hio. Menariknya, ada juga lho kaleng-kaleng makanan dan minuman pada masa itu yang sampai sekarang pun masih eksis, nih contohnya :

Siapa yang nggak suka susu Milkmaid? :3

Siapa yang nggak suka susu Milkmaid? :3

Milo eksis dari jaman baheula!

Milo eksis dari jaman baheula!

Suasana di dalam museum ini agak gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu remang-remang, mungkin untuk memberi kesan jadul gitu ya. Tapi jangan khawatir, nggak menyeramkan dan sangat “nyeni” kok. Oke, lanjut ke cerita. Dikisahkan, setelah beberapa bulan perjalanan laut yang keras, para Sinkheh (imigran) yang survived berhasil mendarat di Telok Ayer Singapura. Meskipun mereka berasal dari daratan Cina yang sama, tetapi suku-suku mereka berbeda-beda, akhirnya mereka mengelompokkan diri masing-masing sesuai dengan sukunya. Tiap suku memiliki bahasa dialek dan keahlian yang berbeda-beda. Mereka pun membentuk apa yang disebut “Clan”. Tiap clan bekerja sama dan saling melengkapi satu sama lain. Ada clan yang jago memasak, ada yang jago membuat pakaian, ada clan pandai besi, dan seterusnya. Di dinding museum pun ditampilkan nama berbagai macam clan yang  ada, yang akhirnya menjadi nama-nama marga, misalnya He, Lie, Tan, dll. Kerennya, papan nama yang terbuat dari balok ini bisa diputar dan di baliknya ada gambar tokoh terkenal dari marga yang bersangkutan. Misalnya dari marga He (wih marga gw ini 🙂 ), tokoh yang terkenal adalah He Weixian, adalah seorang guru.

Marga gw inih :3

Marga gw inih :3

Membangun kehidupan dari awal tidaklah mudah, hal ini membuat banyak penduduknya melarikan diri ke minuman keras, berjudi, opium, dan pelacuran. Di bagian kisah ini, pengunjung bisa melihat bentuk kamar wanita penghibur pada jaman itu, lengkap dengan gaun-gaun yang mereka pakai. Kamarnya gelap remang-remang gitu deh…hehe. Selain maraknya prostitusi, bisnis yang menjamur yaitu kedai teh. Replika kedai teh ini sangat menarik, dan ternyata tidak jauh berbeda dengan kedai makan Chinese saat ini. Makanannya? Apalagi kalau bukan Dimsum, yang sudah menjadi trademark Chinese Food. Bahkan di atas meja juga ditampilkan replika dimsum yang sangat mirip aslinya, rasanya pengen nyomot aja deh itu Xiao Long Bao nya!

Replika Da Dong Tea House

Replika Da Dong Tea House

Selain kedai teh, juga ditampilkan replika rumah-rumah warga kala itu. Sangat menarik. Suasana dapur misalnya, dibuat sesuai aslinya dengan perabotan yang masih terbuat dari batu, botol-botol kecap jaman dahulu, sampai ada backsound rekaman percakapan ibu-ibu cempreng yang berteriak-teriak di dalam dapur dengan bahasa Cina, lengkap dengan suara osreng-osreng dari wajan. Wow, berasa nonton film jaman Yoko dan Bibi Lung deh (ups, ketauan deh anak 90-an 😀 ).

Dapur jaman dulu. Ceritanya lagi masak Chicken Rice kali ya?

Dapur jaman dulu. Ceritanya lagi masak Chicken Rice kali ya?

Dapur sih masih biasa, yang bikin shock itu pas lihat replika WC nya. Haiz…WC mereka jaman dulu itu hanya berupa alas batu yang dilubangi bagian tengahnya, dan di bawahnya disediakan ember hitam untuk menampung eek-nya! Tidaaaakkkkk…… :/ Jadi abis boker ya buang eek sendiri. Err…ke mana ya…hiyy abis deh, hahaha… Meskipun gw pernah ngalamin boker gali lubang di hutan, tetep aja nggak bisa bayangin kalo tiap hari harus boker kaya orang Singapura jaman dulu. Huft banget deh.

Batu. Lubang. Ember. WC. :(

Batu. Lubang. Ember. WC. 😦

Lupakan soal WC. Lanjut. Jadi jaman dulu di Singapura, bentuk dan isi rumah juga berbeda-beda tergantung profesinya. Ada tipe rumah buruh, rumah penjahit, rumah pemilik restoran, rumah tukang kayu, sampai yang paling mengherankan, ada rumah wanita yang hidup selibat. Ya elah… 😀 Replikanya bagus dan sangat mirip dengan aslinya, termasuk barang-barang yang ada di dalamnya, wah, gw jadi nostalgia masa-masa berkunjung ke rumah nenek nih. Barang-barangnya hampir mirip! Kaleng-kaleng, poci, sisir dan cermin jadul yang seperti di film-film Vampir Cina jaman dulu, mesin jahit Singer, keranjang-keranjang rotan, sampai cat rambut jaman Sun Go Kong masih anak-anak juga ada. Ah…memori bermain di rumah nenek di Tasikmalaya pun bermunculan layaknya air bah #lebay.

Hey hey...anak 90-an pasti familiar deh sama gambar-gambar seperti ini :D

Hey hey…anak 90-an pasti familiar deh sama gambar-gambar seperti ini 😀

Menilik perjalanan sejarah nenek moyang orang Singapura, rasanya mereka patut diacungi lebih dari dua jempol. Ya, hanya dalam waktu 200 tahunan saja, mereka berhasil membangun peradaban yang begitu maju. Ya iyalah, dulu boker di ember, sekarang boker  nyiramnya aja pake sensor otomatis (eh kok fokusnya masalah boker sik!). Pembangunan mereka sangat pesat, bahkan kini menjadi yang terdepan di Asia Tenggara. Berhasil menjadi negara transit untuk bepergian hampir ke seluruh dunia. Bahkan cost of livingnya menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, menjadikannya salah satu destinasi traveling yang cukup mahal (tapi anehnya orang Indonesia kok hobi banget ke Singapura, berarti orang Indonesia kaya-kaya ya? ;p ). Tentunya pasti semua itu dibangun dengan melalui kerja keras dan pengorbanan.

From Zero

From Zero

To Hero

To Hero

Tertarik berkunjung ke Chinatown Heritage Centre Singapura? Info lengkapnya bisa buka di sini nih. Happy traveling! ^^

Solo Travelling to Ubud : What to see, what to do, what to eat

Ubud. Kota kecil yang terletak di tengah-tengah Pulau Bali ini terkenal sebagai cultural center of Bali. Disebut juga kampung senimannya Bali, karena banyaknya karya seni yang dihasilkan di sini. Paintings, wooden craft, glass craft, leaves craft, stone craft, bamboo craft, paper craft, semuanya ada di sini. Di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, mata seakan dimanjakan dengan keindahan karya seni buatan tangan para seniman Bali. Lukisan pemandangan, penari Bali, dewa-dewi Hindu, Sang Buddha, pura, abstrak, berbagai motif, sampai lukisan wanita telanjang pun ada. Semuanya berjejer rapi menghiasi art shop di sepanjang jalanan tersebut. Dan jangan lupa, ada juga Pasar Seni Ubud, di mana ada berpuluh-puluh toko yang menjual barang-barang seni sampai souvenir tumplek jadi satu di sini. Pecinta barang-barang nyeni dijamin kalap di sini. Untungnya saya travelling dengan budget terbatas sehingga tidak tergoda membeli koleksi barang-barang unik khas Bali tersebut. Padahal sih ngiler abis.

Solo backpacking di Ubud sangat mudah, aman, dan tentunya menyenangkan. Beda dengan suasana tempat-tempat touristy di Bali seperti Kuta atau Sanur, Ubud lebih cocok untuk menyepi, menenangkan diri, dan memperkaya jiwa. Nggak ada tuh abang-abang yang berbaris sepanjang jalan menawarkan tur atau barang ini itu atau berkomentar nakal seperti yang sering ditemui di Kuta. Suasananya yang “lebih Bali” dan masih belum banyak dikuasai toko-toko dan brand-brand asing membuat Ubud lebih terasa asli dan nyaman. Penginapan di Ubud pun rata-rata bernuansa tradisional, dengan  bungalow-bungalow kecil yang bernuansa Bali dan menghadap ke sawah. Harganya memang sedikit lebih mahal dibanding penginapan di kawasan Poppies Lane, tetapi suasana, keindahan, dan servis yang didapat pun jauh lebih oke. Saya menginap di Penginapan Danasari, Jalan Hanoman. Untuk review penginapannya, bisa dilihat di sini. Overall sih saya sangat puas dengan penginapan ini.

Mengeksplor Ubud, cara terbaik menurut saya adalah dengan menggunakan sepeda. Sepeda bisa disewa melalui penginapan atau di rental-rental yang tersedia di sepanjang jalan. Harganya sekitar 15rb-20rb/hari. Menyusuri jalanan di Ubud sangat menyenangkan, karena selain udaranya yang cenderung sejuk,jalanannya tidak terlalu padat, dan bisa menikmati art shop yang ada di sepanjang jalanan Ubud. Kesannya lebih selow aja sih, jika dibanding naik motor. Naik mobil sih nggak disarankan, mana seru…hehe. Dua hari di Ubud, inilah tempat-tempat yang worth to visit di Ubud :

1. Museum Puri Lukisan

Lokasinya di Jalan Raya Ubud, buka dari jam 08.00 – 16.00. Tiket masuknya Rp.50.000. Awalnya, gw merasa harga tiketnya overprice banget, maklum jarang maen ke museum berbayar. Rata-rata di Bandung sih masuk museum gratis, hehe. Eh ternyata…setelah masuk, gw merasa 50rb itu worth it banget. Jangan bayangin bentuk museumnya gedung tua dan kusam yang di dalamnya gelap dan berdebu ya. Museum Puri Lukisan ini gedeeeeee luassssss dan hijaaauuuu banget. Pintu gerbangnya berbentuk gapura besar gitu, dan setelah melewati gapura, gw disambut dengan pemandangan taman yang luas, hijau, banyak bunganya, plus ada kolam teratai dan pendopo Bali gitu. Wih. Spekta lah pokoknya. Asri banget! Tampak beberapa anak bule yang ganteng, cantik, dan mungil-mungil itu lagi lari-larian di taman. Beberapa pengunjung sedang asik minum welcome drink di sebuah cafe kecil di samping museum. Beberapa sedang memperhatikan pertunjukan live cara melukis di daun palem. Beberapa sedang menonton seorang wanita yang sedang duduk menenun kain tradisional, lengkap dengan alat tenun yang terbuat dari bambu.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Di salah satu sudut museum. Nice.

Nah itu baru pemandangan pembuka. Gedung utama museum ini terdiri dari 3 bangunan yang masing-masing menampilkan karya lukisan dan seni dari 3 masa yang berbeda, yaitu tema Wayang Bali, Bali Pertengahan, dan Bali Modern (ada pengaruh budaya Barat di sini). Paling keren adalah gedung Wayang Art. Di sini lo bisa liat lukisan dari kisah Ramayana, Mahabharata, dan tokoh-tokoh wayang, kumplit! Lukisannya pun nggak main-main, ada yang dilukis di kain dan usianya udah tuwir banget, dari jaman masih penjajahan Belanda, dan masih bertahan sampe sekarang dong. Indah banget deh, apalagi kalo lo penyuka tokoh-tokoh Hindu, betah rasanya di dalem. Kudu banget lah tempat ini lo datengin. Terharu dan bangga rasanya liat karya seni Indonesia yang indah banget. Agak miris juga tapi setelah liat daftar buku tamu yang tebelnya kayak kamus, dan udah gw bolak-balik pun pengunjung dari Indonesia  bisa dihitung dengan tangan. Miris! O ya selain lukisan, ada juga wooden crafts yang keren-keren di sini. Yang paling gw inget adalah patung berjudul “Senggama”. Nice banget pokoknya patungnya 😀 Btw, di dalam gedung museum nggak boleh memotret ya, jadi kalo penasaran silakan kunjungi museum ini ^^

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

Masa sih nggak mau mampir ke museum seindah dan seasri ini? :3

2. Museum Renaissance Antonio Blanco

Puas menikmati karya seni asli seniman Bali, sekarang saatnya menikmati karya seni seniman luar negeri yang akhirnya tinggal menetap di Ubud. Don Antonio Blanco adalah seniman asal Spanyol yang menikah dengan penari Bali, akhirnya banyak menghasilkan karya seni aliran Renaissance yang kebanyakan bertema Bali (ehm, lebih tepatnya lagi wanita Bali). Lokasinya  di Jalan Campuhan, lumayan juga sih jauh dan naik turun bukit gitu. Tapi pemandangan menuju ke sananya edan keren abis…pohon-pohon rindang sepanjang jalan, udara yang sejuk dan bersih…ihik…kaki pun nggak kerasa pegel meski harus gowes di jalanan yang naik turun. Sama seperti Museum Puri Lukisan, Museum Antonio Blanco ini pun sangat asri, meski luas tamannya tidak sebesar Museum Puri Lukisan, tapi yang mencengangkan di sini adalah bangunan museumnya itu sendiri. Arsitekturnya luarnya bergaya Bali, tapi pas masuk interiornya ala-ala Spanyol gitu. Yaa…kaya rumah-rumah Eropa gitu yang ada kubahnya mewah, pilar marmer, plus sofa-sofa nyeni yang empuk. Lukisannya mayoritas wanita nude. Yes,bugil, naked, tak berbusana. Tapi meskipun nude, sama sekali nggak vulgar, meskipun erotis tapi berkesan nyeni. Bahkan ada lukisan wanita masturbasi segala loh, sampe shock gw -______-  Uniknya lagi, tiap lukisannya dipigura dengan pigura yang dibuat khusus untuk lukisan itu, misalnya lukisan wanita nude dengan highheel biru, di piguranya ada dong patung highheel biru. Ya, custom made gitu deh masing-masing piguranya, plus ada ukiran “Blanco” di piguranya. Keren banget deh. Nggak kebayang lukisan Renaissance itu kayak apa? Kira-kira gini deh salah satu karya beliau :

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan?

Gini nih lukisan Renaissance by Antonio Blanco. Indah kan? (taken from this site.) 

Selain menikmati lukisan, di tamannya juga ada burung-burung yang jinak dan lucu-lucu, salah satunya kakaktua yang putih berjambul kuning dan kakaktua warna-warni kayak di Faber Castle itu loh (ups, nyebut merk). Bisa foto juga sama burung-burung itu.

Parrot "Faber Castel" warna-warni lagi akrobat ^^

Parrot “Faber Castel” warna-warni lagi akrobat ^^. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Plus, ada juga gallery di mana kita bisa berfoto pura-pura lagi melukis, lengkap dengan palet cat nya. Hehe…asyik kan? Tiket masuknya untuk Indonesian sih Rp 30.000, untuk foreigner Rp 50.000. Worth it banget! Dapet welcome drink pula… ^^

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

Museum kok ya bagus dan asri gini! :3

3) Watching Balinese Dancing

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Pura Saraswati, Lotus Pond, Ubud

Ke Bali masa sih nggak lihat pertunjukan tari Bali? Nah di Ubud ini, ada banyak sekali tempat yang menampilkan pertunjukan tari Bali setiap harinya. Yang paling terkenal yaitu di Ubud Palace (Pura Saren Ubud). Tapi saat itu sudah tampak turis yang berjejalan di sana, sehingga saya memutuskan untuk menonton pertunjukan Tari Barong di Pura Saraswati (Lotus Pond) saja. Lokasinya nggak jauh dari Ubud Palace. Harga tiketnya Rp 80.000, pertunjukan dimulai pukul 20.00, berlangsung selama 1 jam. Lumayan mahal memang, tapi pertunjukannya cukup menarik, tari yang ditampilkan terdiri dari beberapa jenis, yaitu diawali tari pembukaan, Tari Legong, Tari Kebyar Duduk, Tari Nelayan, Orkestra Musik Gamelan, Tari Baris Tunggal, Tari Nyamar, dan diakhiri dengan Tari Barong Macan. Kapasitas penontonnya nggak banyak, hanya sekitar 30-an, dan saat itu SEMUAnya foreigner. Gw celingak celinguk ke segala arah dan hampir semua bule, dengan berbagai bahasa dari Inggris, Jerman, Perancis, Italia. Penonton Asia hanya gw seorang dan sepasang couple yang berbahasa Cina entah dari mana. Penonton di sebelah gw seorang Amerika yang pindah dan menetap ke Ubud sejak dikeluarkan dari pekerjaannya, 20 tahun yang lalu, dan sampai sekarang pun dia masih senang menonton pertunjukan tari Bali. Ups, gw aja br pertama ke Ubud dan kedua kalinya melihat tari Bali. Heuh. Malu deh sama bule.

Beautiful Balinese Dancer

Beautiful Balinese Dancer

Tari Kebyar Duduk

Tari Kebyar Duduk

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

Barong Macan yang menjadi highlight di akhir pertunjukan

4) Biking ke Tegalalang

Si biru teman suka dan duka ^^

Si biru teman suka dan duka ^^

Well, jangan bayangin adegan bersepeda cantik ala Julia Robert. Karena ternyata track biking ke Tegalalang ini lumayan melelahkan, naik turun bukit, apalagi ditambah dengan terik matahari, wih, lupain deh adegan bersepeda pake rok unyu-unyu kaya Miss Julia Robert 😀 Gw sendiri nggak tau pasti seberapa jauh perjalanan dari Jalan Hanoman ke Tegalalang, tapi yang jelas gw menempuhnya dalam waktu sekitar 2 jam bersepeda. Meskipun berpeluh keringat plus nafas tersengal-sengal, but, again, it was worth it. Pemandangan Tegalalang dengan sawah-sawahnya yang cantik memang indah. Meskipun, jujur, karena dulu gw sering main ke Baturaden dan daerah Gunung Slamet sana, sawah sih buat gw sudah jadi pemandangan biasa. Atau mungkin gw udah tepar dulu dengan perjalanannya makanya jadi nggak begitu excited, hahaha…But the feeling “Hey, I did it!” itu yang bikin worth it. Yang bikin gw terkesan sampai sekarang yaitu saat melewati jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan, dan ada semacam kanopi yang melintasi jalan, yang terbuat dari dahan-dan dan daun dari pohon itu, wogh, beautiful! Sawahnya? Bagus sih, tapi karena gw datang saat musim panen jadi buka lautan hijau sawah tapi lautan kuning kecoklatan, hehe…but still, you should try biking to Tegalalang, at least once. Lelah melewati bukit-bukit,saat perjalanan meninggalkan Tegalalang gw menyerah, menggunakan jalan raya. Gw melewati Jalan Raya Tegalalang, desa Petulu, desa Peliatan, Jalan Raya Goa Gajah, sampai akhirnya berlabuh ke Bebek Tepi Sawah. What a beautiful ending.

One of unique place at Tegalalang

One of unique place at Tegalalang

5) Bebek Tepi Sawah

Crispy Duck, nom nom nom...

Crispy Duck, nom nom nom…

Yeap, selain Bebek Bengil, masakan bebek yang harus dicoba di Ubud adalah Bebek Tepi Sawah. Di Ubud, lokasinya bener-bener di tepi sawah, suasananya oke banget. Gw milih makan di lesehan gitu, semacam pendopo yang diisi beberapa meja, dengan alas bantal-bantal duduk yang empuk, hihi, nikmat banget deh, apalagi abis berpeluh keringat setelah biking ke Tegalalang. Sayang setelah lihat daftar menu, keringat itu malah makin deras mengucur. Crispy duck yang gw incer itu ternyata dibandrol Rp 80.000. Ampun deh. Kalo nggak inget misi ke Ubud adalah untuk memuaskan hati, jiwa, dan perut, mungkin saya bakal pesen air putih aja deh. Meskipun sedikit nggak rela, akhirnya gw pesen juga Crispy Duck yang tersohor itu, sambil menikmati suasana sawah hijau (karena sawah buatan jadinya masih hijau kali ya, beda sama yang di Tegalalang 😀 ) di depan mata. Nggak lama, datenglah bebek seharga 80rb itu. Hmmmm…ternyata harga emang nggak bohong! (sambil menangis terharu dalem hati) Ini bebek terenak yang pernah gw makan. Bebek Asap Kuningan lewat! Bebek Duck King lewat! Rasa gurih dan crispynya itu maknyus banget. Dan juaranya adalah sambel-sambelnya! Ada 3 macem sambel yang disediakan, 2 di antaranya, yang pake bawang putih dan yang  mirip sambel matah, itu e-nak-ba-nget! ^^ Menikmati makanan enak setelah perjalanan yang melelahkan itu emang nampol!

Sambel dewa!

Sambel dewa!

6) Monkey Forest

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Romantisme sepasang monyet di Ubud~

Lokasinya tentu aja di Jalan Monkey Forest ya. Tiket masuknya Rp 20.000. Monyet-monyet di sini jauh lebih jinak dibanding monyet-monyet di Sangeh. Ukurannya juga lebih kecil-kecil. Tapi hutannya sangat menarik di sini, meskipun nggak terlalu luas, tapi masih alami dan tertata rapi. Gw suka banget sama pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar sampai ke mana-mana. Aaakkhh berasa pengen gelantungan gitu (apa gw dulunya Tarzan apa gimana sih!). Cakep banget kaya gini nih :

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Banyan Tree, Yak, siapa mau gelantungan???

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Mau nggak jalan berdua bergandengan tangan sama aku di sini? :3

Gw suka banget jalan-jalan di dalem hutan ini, malah lebih seneng kalo nggak ada monyetnya, hihi…abis takut sih. 😛

7) Adi Bookshops

Buku-buku second berbahasa Rusia

Buku-buku second berbahasa Rusia

Nah ini khusus buat pecinta used-books kaya gw, coba mampir deh ke toko buku kecil yang berlokasi di Jalan Hanoman deket Pasar Seni Ubud. Tempatnya ada di sudut pertigaan. Di sini, ada banyak banget buku-buku bekas dari berbagai bahasa. Yang paling banyak tentu aja yang berbahasa Inggris. Tapi selain itu, banyak juga buku berbahasa Jerman, Belanda, Russia, dan juga Prancis. Karena gw lagi belajar bahasa Jerman, toko buku ini berasa surga deh. Bayangin, novel-novel berbahasa Jerman dijual hanya dengan harga Rp 20 – 30.000an aja. Belum lagi koleksinya yang sangat lengkap dari buku ilmu pengetahuan, fiksi, sampai buku anak-anak. Ba-ha-gi-a. Borong deh gw 3 buku. Ba-ha-gi-a! Lucunya, karena gw beli buku berbahasa Jerman dan Inggris, eh si mbak kasirnya ngajak gw ngomong pake bahasa Inggris dan nunjukin harga pake kalkulator. Ya elah masa gw dikira orang asing sih mbak, jelas-jelas muka eksotik ala Farah Quinn gagal gini, hahaha… 😀

8) Babi Guling Ibu Oka

Nah kalau ini, baca di postingan gw sebelumnya aja ya…saking istimewanya sampe dibikin 1 postingan sendiri lho, hehehew…

Gimana? Masih ragu untuk travelling ke Ubud?

Happy travelling, happy life! ^^

Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic!

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Berwisata ke Singapura tak melulu hanya melihat kemegahan arsitektur modern gedung-gedung pencakar langitnya. Bangunan-bangunan bombastis seperti Marina Bay, Esplanade, atau Helix Bridge memang mengesankan, namun entah kenapa saya tak terlalu menikmatinya. Saya memang bukan pecinta arsitektur modern. I prefer old historical building, temple, cultural museum, dan sejenisnya. Hal ini terasa saat backpackeran ke Singapura di bulan Januari yang lalu, yang membuat saya sangat antusias bukannya kemegahan gedung-gedung pencakar langit atau ikon-ikon Singapura, tetapi justru Chinatown. Why?

Well, in the middle of this super-modern city, Chinatown lah yang tampaknya memiliki aura “hidup”. Mungkin juga karena latar belakang saya yang berasal dari etnis Chinese, sehingga langsung merasa familiar dengan suasana dan hiruk pikuk Chinatown. Lagu-lagu berbahasa Cina yang diputar (meskipun saya tidak mengerti sama sekali artinya), warna-warna merah dan kuning emas yang mendominasi jalanan, bau dendeng babi yang menyeruak tajam, sampai pernak pernik hiasan Imlek yang didominasi oleh lambang Ular (tahun ini Tahun Ular dalam kalender Cina). Ah…that ”homey” feeling.

Salah satu tempat yang saya kunjungi di Chinatown ini adalah The Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Mencarinya lumayan sulit saat itu, karena saya yang memang agak buta arah, dan jalanan-jalanan di Chinatown yang semua tampak mirip. Lokasinya di South Bridge Road, tidak begitu jauh dari pintu keluar MRT Chinatown.

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Saat itu saya sampai di sana sudah menjelang sore hari. Masih ada beberapa pengunjung yang sedang berkeliling di dalam kuil. Saya disambut oleh pintu kuil yang megah dan tentunya berwarna merah. Memasuki kuil sebaiknya tidak memakai baju terbuka. Tapi tenang saja, ada kain yang dipinjamkan di pintu masuk, gratis kok. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut biaya, free!  Memasuki ruangan, saya hanya bisa tercengang dengan kemegahan dekorasi kuil, yang tentunya didominasi warna emas dari patung-patung Buddha. Di dinding-dinding, terdapat ratusan patung Buddha, dengan pose yang berbeda-beda. Meskipun bukan beragama Buddha, saya selalu tertarik dengan wajah Sang Buddha, I always thought, “I wish I have that peaceful face all the time”.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Ada juga patung-patung Bodhisattva pelindung untuk masing-masing Shio. Misalnya, saya yang bershio Naga, pelindung saya adalah Samantabhadra Bodhisattva. Adik saya yang bershio Monyet, pelindungnya adalah Vairocana. Lalu ada juga patung-patung lainnya seperti Kulikah, Dewa Kematian, dan lain-lainnya, lengkap dengan penjelasan di papan namanya. Harus saya akui Singapura ini sangat hebat dalam wisata edukasinya. Di Garden by the Bay, di SEA Aquarium, di Fort Canning, sampai di Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini pun, rasanya saya benar-benar dijejali berbagai informasi yang mengedukasi. Andai saja otak saya bisa mengingat semuanya, hehe…

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating...

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating…

 

Saya mengelilingi Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini hanya sekitar 45 menit. Perut yang keroncongan minta diisi makan memanggil-manggil. Sesampainya saya di foodcourt Maxwell, tiba-tiba terlintas, “Loh kok saya tadi tidak melihat relik gigi Buddha-nya ya?”. Tapi  karena otak yang sudah selow karena kelaparan, akhirnya pikiran itu terlupakan begitu saja. Sepulangnya saya dari Singapura, saat browsing-browsing iseng, barulah saya tahu kalau Buddha Tooth Relic Temple and Museum itu ada 4 lantai! Dan relik gigi Sang Buddha itu disimpan di dalam stupa yang terbuat dari 320 kg emas di lantai 4! Bodohnya saya, hanya mengunjungi lantai 1 saja. Aduh! Lagian, saya kok ya nggak mellihat tangga ya waktu itu? Selabur itu kah mata saya? Alhasil judulnya : Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic. Gosh! Maybe next time? 😀

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

It’s always nice to see a bit of cultural things in the middle of big and modern city. Kadang hal-hal yang modern itu bisa jadi sangat membosankan. Kultur, ritual agama dan kepercayaan, dewa-dewi, sejarah, peninggalan dan cerita masa lalu dapat menambah kekayaan jiwa, mengingatkan bahwa manusia, meskipun harus bergerak maju, tetapi jangan sampai melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, sejarah dan agama yang sedikit banyak membentuk dirinya sampai pada saat ini. Singapura, dengan seluruh kecanggihan kotanya, tidak lantas melupakan kekayaan kulturnya. Salah satunnya disinilah, sedikit oase jiwa dapat dicicipi. Di Buddha Tooth Relic Temple, di tengah Chinatown, di antara megahnya gedung-gedung pencakar langit…