Weekly Photo Challenge : Grand

Big Sitting Buddha Wat Khao Rang Phuket

Last year I visited Phuket with my two bestfriend. That was one of my happiest moment in life. First time went abroad, after a year of hardwork with no holiday at all, not even a day. It was all about money back there. How to get more and more money. About pretty things and security…Until I got bitten by that travelbug. Well, blame Thailand for its enormous beauty and amazing people. I fell in love at the first place with this country, this Land of Smiles.

During my travel to Phuket Town, I visited Wat Khao Rang, located on the slope of Khao Rang or Rang Hill. Even it is not as popular as Wat Chalong, but Wat Khao Rang is really worth visited, because of the Big Golden Sitting Buddha, the first big golden Buddha statue built in Phuket. After hiked several (or maybe hundred) stair steps, and I hardly could catch my breath, I saw this Buddha golden statue on the top of the temple. The size is enormous and I was charmed with the whole view, the smiling Buddha and the nature scenery behind it, high trees and clear blue sky, white clouds, clean air with some light scents of burned incense… I could feel my effort was so worth it. That moment of happiness, excitement and also peace…when I saw this grand image of Buddha himself.

Weekly Photo Challenge : DailyPost

#PeopleAroundUs : See Me, But Don’t Judge Me

Bangla Road Phuket Thailand

See me, but don’t judge me.

 

Russia, 2009…

di tengah ruangan kecil dalam apartemen bobrok di pinggiran kota Moskow, aku meringkuk. Kepalaku seperti dirajam ribuan jarum. Lenganku lebam. Kakiku berdarah. Aku meraba bahuku sambil meringis. Terbayang kembali sabetan keras ikat pinggang hitam pria itu. Berkali-kali, berkali-kali. Mencambuk lenganku, punggungku, wajahku, perutku. Setetes darah segar membasahi tepi bibirku. Amis. Aku harus lari. Kuusap perutku. Semoga kau baik-baik saja di sana Nak…

Bangkok, 2010…

senyummu terkembang memainkan jemariku. Pipimu memerah seiring dengan memanasnya cuaca siang ini. Kaus katun putih kusam bergambar anak beruang warna-warni menempel begitu lekat di badanmu mungilmu, yang saat ini basah oleh keringat. Tapi engkau tidak menangis. Ranjang bayi dari kayu ini berderit sedikit saat kau bergerak-gerak penuh semangat di dalamnya. Kutatap jendela. Pemandangan rumah-rumah kumuh berjajar di depan mata, asap kendaraan hitam kelabu memenuhi udara. Suara-suara lenguhan dan derit pelan ranjang terdengar samar-samar dari kamar sebelah. Aroma masam sup Tom Yam basi menyeruak. Aku menutup jendela. Tak rela anakku harus hidup seperti ini.

Phuket Town, 2012…

setengah berlari aku menuju rumah. Kudorong pagar besi yang dicat putih mengkilat. Kuberlari melintasi halaman, tak peduli beberapa bunga mati terinjak. Kupanggil-panggil namamu. Hening. Kucari dirimu di seluruh penjuru rumah. Di ruang tamu. Di dapur. Di garasi. Di kamar tidur. Tak ada. Pria itu menemukanmu. Setelah selama ini, akhirnya dia menemukanmu. Setelah selama ini. Merampasmu. Aku tergugu.

Bangla Road, 2012…

kuturunkan sedikit belahan dada gaunku. Sulit rasanya bernafas dalam gaun ketat ini. Kalau masih bisa dibilang gaun. Bagiku ini hanya sehelai kain mengkilap murahan yang norak dan kekurangan bahan. Ukurannya pun terlalu kecil untukku. Bahannya membuat gatal tubuhku. But show must go on. Musik sudah dimainkan. Pening kepalaku terkungkung di dalam kotak kaca ini. Lampu-lampunya menyilaukan mataku. Kulenggak-lenggokan pinggulku seadanya. Toh belum terlalu malam. Pengunjung belum terlalu ramai. Hanya tampak kerumunan kecil turis lokal di depan bar dengan tatapan kosongnya seperti biasa. Kuangkat kedua lenganku, kugerai rambut coklat keemasanku, kubusungkan dadaku. Kucoba menyelaraskan goyanganku dengan irama dentuman house music yang membosankan. Satu hari lagi yang harus kuselesaikan. Satu rayuan palsu lagi yang harus kulontarkan. Satu klien lagi yang harus ditemani. Berarti satu amplop penuh lembaran ratusan Baht lagi hari ini. Sialnya seluruh kepunyaanku sekarang masih saja belum cukup untuk menebus dirimu, hak milikku. Anakku.

 

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

Five Colours from South East Asia : Indonesia, Malaysia, and Thailand

Why five colours : blue, green, yellow, white, and red? Well, recently I noticed the Capture the Colour photo competition run by TravelSupermarket.com. The competition is to choose five original shots from your travel experiences, and each shot representing the colors : blue, green, yellow, white and red. Visit Capture the Colour for more information on how to participate.

Blue : Kawah Putih, Indonesia

Crater at the top of the Patuha Mountain, West Java

According to the history of 10th-century Mount Patuha had erupted, and after that formed a crater at the top of the mountain. It has such a beautiful scene of a large lake with blue warm water which spouted lava and the smell of sulfur. I love the scenery here, unfortunately we cannot stayed too long here because of the sulfur gas evaporated from the water. So, I think it was such a dangerous but also a beautiful place. Tempting, right?

Green : Ciwidey Tea Plantation, Indonesia

Tea Plantation surrounding the Situ Patengan Lake, West Java

Ever wondered, when you were sipping a cup tea, where does it come from? Maybe from England? India? Or…Indonesia? Yes, maybe your tea (yes, that you are sipping right now :D) come from Indonesia. Here in West Java, they produce enormous amount of tea. And also give us the beautiful scenery and landscape. This tea plantation is surrounding the Situ Patengan Lake, which is famous for its Batu Cinta or Love Stone. Many people came to visit Situ Patengan Lake, believed the myth that by visiting Love Stone, they will have a good love life. Well, believe it? Or not? 🙂

Yellow : Wat Khao Rang, Thailand

Amazing golden colour of Wat Khao Rang

Wat Khao Rang in Khao Rang Hill, Phuket Town, maybe not as famous as Wat Cha Long, but, this hidden temple has the oldest Sitting Buddha statue in Phuket. The temple itself is very colourful, with lots of monks and Gods statue. Maybe Thailand is one of the most colourful country in South East Asia, regarding to its massive variants of temples, food, and landscape. This Land of Smiles has totally had my heart.

White : Hat Yai Station, Thailand

Hat Yai Station : Gate to Phuket Paradise

I arrived at this Station after 13 hours slept in the train from Kuala Lumpur. Can’t describe anything but relieved. And excited. This city maybe not as famous as Phuket or Bangkok, but Hat Yai has its own role as a border within Malaysia and Thailand. And famous amongst backpackers, with its Station, which is, A Gate to Phuket Paradise.

Red : Alor Street, Malaysia

Care to eat in Chinese way? Pork is all the way…

Jalan Alor or Alor Street is my favourite place in Kuala Lumpur. Food was great. When I think about Chinese food, it always pork. And how to enjoy pork in its best way? Eating outside, near the street, sitting in circle, chatting, and laughing. Chinese Way. (also posted in Turnamen Foto Perjalanan : Kota)

And now here are my five nominees:

Dina from DuaRansel
Mac from ILikePhoto…!
Olivia from ABigLife
Ryan from ThePerpetualVagabond
Takdos from WhateverBackpacker

Good luck to all!

~happy travelling, happy life~

Thai Massage at Phuket – it should be on your Itinerary right away!

Thai Massage. Ya, selain pantai, gajah, street food, nightlife, apalagi yang menarik dari Thailand? Thai Massage. Sangat mudah menemukan tempat pijat atau spa yang menyediakan Thai Massage di Bandung. Salah satunya di Healthy Land di jalan Dago. Tapi pernahkah Anda mencoba Thai Massage asli di negaranya sendiri? Yap! Kalau belum, maka masukkanlah agenda untuk ber-Thai Massage ria apabila Anda memang berencana mengunjungi negara Gajah Putih ini.

Apa sih Thai Massage?

Thai Massage sendiri sudah berusia lebih dari 2500 tahun yang lalu, diperkenalkan oleh biksu Buddha di Thailand sebagai salah satu metode terapi. Perbedaan Thai Massage dari jenis pijat lainnya seperti pijat tradisional Jawa atau Tuina misalnya, adalah pada tekniknya. Thai Massage menggunakan teknik passive stretching dan gentle pressure pada tubuh di titik-titik tertentu. Maksudnya? Bahasa gampangnya sih badan kita “ditarik” dan “ditekan”. Beda dengan pijat akupressur Tuina misalnya, yang hanya menggunakan teknik penekanan, pada Thai Massage ini selain penekanan, juga dilakukan stretching. Manfaatnya untuk melepaskan tegangan otot dan menjadikannya lebih fleksibel, dan tentunya, lebih sehat. Perbedaan lainnya dengan pijat tradisional, pada Thai Massage kita tidak perlu melepas pakaian, cukup menggunakan baju dan celana panjang yang longgar. Dan tidak menggunakan minyak. Terapis akan menekan dan menarik bagian-bagian tubuh kita, mirip stretching saat senam lantai. Bahkan badan kita pun akan diinjak-injak. Hihi…

Salah satu gerakan Thai Massage


Ditarik-tarik seperti ini, dijamin rileks…

Sekian deh info singkat tentang Thai Massage. Next gw mau share pengalaman gw Thai Massage di Phuket. Yap! Thai Massage di origin country-nya. How fascinating it can be? 😀 Jauh-jauh hari sebelum gw berangkat, agenda Thai Massage ini sudah langsung masuk ke Itinerary tanpa ba bi bu. Bahkan gw serius banget browsing tempat massage yang enak di Phuket, membaca belasan blog sampai Trip Advisor juga nggak ketinggalan. Tentunya rugi dong udah jauh-jauh ke Thailand kalau ngalamin Thai Massage yang abal-abal? Hehe…so…hasil pencarian gw pun berakhir pada…Sovrana Spa. Gw dapet info tentang Sovrana Spa ini dari salah satu blog. Menurut penulisnya, Thai Massage di sini sangat memuaskan dan bikin dia pengen balik terus. Plus, Sovrana Spa ini punya review yang bagus di Trip Advisor. So, worth trying right? 😉

Lokasi Sovrana Spa sendiri sangat gampang ditemukan, berada persis di depan Jungceylon Mall. Dari depan plangnya sangat kecil, gw nemu tempat itu juga secara nggak sengaja pas lagi jalan-jalan di depan Jungceylon…hehe. Dari depan sih tampak kecil, tapi pas masuk ke dalam, wow, ternyata luas dan bersih. Tempat massage dibagi 2, untuk pijat refleksi kaki di lantai 1, sedangkan Thai Massage di lantai 2. Saat itu gw ambil Traditional Thai Massage. Selain itu, ada juga After Burn Massage lho! Gw sangat curious pengen nyoba tapi gw pikir yah itu cocoknya untuk bule kali ya, biasanya kan kalo bule sunbathing kulitnya bisa sampe parah merah membara gitu, hehehe…Katanya sih After Sun Massage ini pakai lotion Aloe Vera. Next time kali yah. So…back to Thai Massage. Ruangan di tempat pijat ini sangat nyaman, remang-remang, tapi remang-remang elegan loh bukan remang-remang xxx hehe. Antara 1 bed dengan bed lainnya dibatasi oleh tirai. Terapisnya pun sangat ramah meskipun tidak banyak berbicara. Ya iyalah, lu kira gw mau pijet apa mau curhat? Hehe. Gw berganti pakaian yang diberi si terapis, berupa kaos dan celana panjang longgar. Gw berbaring rileks ditemani musik-musik berirama slow ala Thailand. Pijatan dimulai, dengan tekanan-tekanan ringan, dan disertai stretching, tarikan-tarikan yang aduhai, membuai, beneran gw sampai terkantuk-kantuk tapi sangat puas, apalagi badan gw ditekuk sedemikian rupa sampai bunyi “kretek-kretek”. Ow…that was a great feeling! Rasanya lelah sehabis berkano dan berenang lenyap sudah.

Thai Massage juga disebut sebagai Passive Yoga.

Meskipun travelling ala backpacker sekalipun, menurut gw tetep kudu lah nyoba Thai Massage, dan gw rekomend sih ambillah Thai Massage di hari-hari terakhir trip, pijat ala Thai akan menjadi penutup trip yang indah… Well, seselesainya massage gw bener-bener merasakan segar bugar seakan tubuh baru dicharge. Sovrana Spa ini recommended banget lah buat yang mau menikmati Thai Massage yang “private”. Banyak juga sih tempat pijat di Phuket yang menawarkan Thai Massage, ada yang terbuka, ada yang nampak dari luar, ada juga yang di pinggir pantai. Mana yang Anda suka? Tinggal pilih 😀

~happy travelling, happy soul, happy mind, happy body~

Thai’s and Malaysian Food : Which one do you like?

Tiga hal yang gw nikmati selama perjalanan : 1. View 2. Culinair 3. Culture

Selama seminggu di Malaysia dan Thailand, gw menemukan banyak makanan baru yang tasty, unique, yang jelas rasanya quite different from Indonesian food…just wanna share it anyway… 😀

Thai’s food.

Khao Niao (Sticky rice/ketan manis dengan semacam topping dari gula aren). Deliciously sweet!

Banana Chocolate Pancake. Bisa ditemui di sepanjang tepi jalan Patong.

Mango Sticky Rice. Cemilan khas Thailand.

Tom Yum Goong Nam Khon (Creamy Tom Yum Kung).

This one is creamy, sour and spicy. The best!

Pineapple Fried Rice. Beware : kulitnya nggak bisa dimakan XD

Pad Thai. Mirip kwetiaw di Indo. Spicy.

Buggar. I forget the name of it. Mirip lodeh.

Mix Seafood Pad Thai. Masakan Thailand sering menggunakan bubuk kacang.

Telur Pitan. Thousand years Egg. My favourite egg.

Pork Noodle. The best pork noodle ever.

Prawn Fried Rice. Spicy. Large portion. Halal.

Street food. Fried Dumplings. Cheap and yummy. Nagih!

Bakpia raksasa isi kacang ijo+potongan kecil timun. Unique. Krenyes-krenyes.

Kungfu Chef in action. Sreng osreng osreng!!

Aneka gerobak Street Food

Malaysian’s food.

Ordinary Kopitiam, similar with Indonesian.

 Penang Kwetiau. Nothing special.

Pork. Small portion 😦

Sesame Pork. Nah ini uenak banget…. 😀

Roti Cane Asin. Pake celupan kuah kari. Karinya strong banget. Kaya kuah rendang.

Roti Cane Manis. Pake susu. Manisnya pas…makannya disobek-sobek pake tangan. Enyaaakkk!

Kesimpulannya, lidah gw sih lebih cocok ke masakan Thailand. Spicy, tasty, soury. Masakan Malaysia rata-rata hampir mirip masakan Indonesia, hanya saja lebih berbumbu kari. No surprise…Hehe…well, semoga saja gw bisa berkeliling icip-icip lagi next time. My taste bud always craving for more and more unique food! 😀

PS : untuk para pecinta travelling dan kuliner, coba buka link Turnamen Foto Perjalanan ini deh, banyak banget foto-foto kuliner dari berbagai daerah yang pastinya unique dan hmmm…slurpy!

Day 7 – Last Day at Phuket

Hari terakhir di Phuket. Pagi itu gw terbangun dengan hati berat. Nggak rela rasanya meninggalkan Phuket yang indah ini. Masih ingin rasanya berbaring-baring santai di pantai. Masih belum puas rasanya mencicipi gemerlapnya Bangla Road. Masih banyak tempat yang ingin gw kunjungi. Sayang liburan singkat ini harus berakhir. Sebelum check out, gw menyempatkan diri berenang di lantai 5 hotel. Nggak mau rugi. Hehe. Kolam renang di Santi White Hotel ini sangat bersih, meskipun sayang ukuran kolam yang tidak terlalu luas. Tapi cukuplah untuk pemanasan di pagi hari.

Di hari terakhir ini jadwal kami yaitu mengunjungi Jungceylon Mall. Berburu oleh-oleh tentunya. Katanya sih di mall ini malah lebih murah daripada toko-toko yang berjajar di Patong. Gw sempat membandingkan harga kain Thailand…hemmm…memang lebih murah di Jungceylon sih. Dan lagi…toko-tokonya buanyaaakkk banget sampe pusing deh, mana budget terbatas. Bahkan gw sempet nuker 200.000 rupiah gw ke Baht. Which is…rugi 50.000 perak! Dan nuker 50 RM gw yang tersisa. Sial. Haha… sial banget di saat kritis kehabisan uang untuk oleh-oleh, malah uang Dollar cadangan yang gw siapin malah ketinggalan di hotel. Argh! Ya udah deh ngerelain rupiah gw. Kurs nya di sana 1 THB = 200 Rp aja. Fiuh…sayang ya. Hati-hati aja kalau shopping di Jungceylon. Barang-barangnya lucu-lucu bangeeeetttt….gw dapet gantungan kunci gajah-gajahan dari kain yang lucu banget, kaos “I love Phuket”, kaos bergambar gajah Thailand dengan motif timbul, dan…yang paling gw suka…kain sarung bermotif gajah-gajah Thailand yang unik banget, Thailand banget. Hehe…nice. Oh iya. Dapet tas kain motif gajah juga. 😀 Hedeuh…niatnya mau beli oleh-oleh malah akhirnya lebih banyak beli buat diri sendiri, hahaha…gak nahan sih lucu-lucunya… *blush*

Pose di depan Jungceylon Mall

O ya kami sempat makan di foodcourt mall ini. Sistemnya pake cash card kaya di BSM gitu. Jadi uang kita ditukarkan dengan kartu yang diisi saldo sejumlah uang yang kita berikan, nanti beli-beli makanan tinggal nyerahin kartu itu ke penjualnya, dan sisa saldonya nanti bisa diuangkan lagi cash kok kalau kita mau keluar foodcourt. Di sini gw akhirnya nemu Mango Sticky Rice yang diidam-idamkan sejak sebelum berangkat. Yummy banget…gak nyangka mangga dan ketan ternyata berjodoh…nom nom…rasanya manis-manis seger. Si mangganya bikin sticky rice jadi ngga eneg…

The Famous Mango Sticky Rice

Ini Prawn Fried Rice yang gw pesen. Uenakkkk tenan! Nom nom…happy tummy

Beres makan dan borong oleh-oleh, kami bergegas balik ke hotel, karena harus packing dan ngejar flight jam 19.20. Ternyata packing kepulangan jauh lebih ribet. Maklum, barang-barang bertambah satu gembolan. Hehehe… mana untuk kepulangan kami hanya memesan 1 bagasi untuk bertiga hihi…maklum, pake Air Asia…

Untuk airport transfer kami memesan mini van melalui hotel. Harganya 150 THB perorang. Bandaranya ada di Phuket Town. Not bad lah ya…pretty cheap. Bisa juga naik bus dengan 20 THB saja menuju Phuket Town, tapi quite risky sih hehe…takut telat. Btw, kami dijemput mini van pukul 16.30, dan udah dag dig dug der aja takut telat, hehe…tapi ternyata sampai bandara kami masih punya banyak waktu untuk makan, luntang lantung dan keliling-keliling toko-toko di dalam bandara. Aje gile mahal-mahal makanan di sana. Saran gw, makanlah sekenyang-kenyangnya sebelum ke bandara, di sana kami kelaparan, dan segelas mi instan dihargai 100 THB, sori aja, hahaha…akhirnya kami makan paket hotdog Dairy Queen, sekitar 150 THB. Swt…tapi nggak nyesel sih, karena ngenyangin banget. But still…nyesek juga sih. Bisa dapet Prawn Fried Rice lagi tuh dengan harga nggak nyampe segitu. Dan dan…akhirnya duit udah ludes des, tinggal 30 THB saja, horrreee…

Suasana di dalam Phuket Airport

Drooling around Duty Free shops

Pesawat kami didelay 30 menit, yeah, no complain…namanya juga low cost carrier. Anyway…flight selama 3 jam berjalan mulus…gw pun turun di Soetta…dengan perasaan masgyul. Back to ordinary life again. But with lot of unforgettable memories…Yang jelas…perjalanan ini bikin gw ketagihaaaannnn…..! Hehe. Sampai tulisan ini ditulis pun gw udah megang 2 tiket promo ke Singapura bulan Januari dan Mei 2013, plus 1 tiket promo ke Bali bulan Januari 2013. Thanks to Air Asia, gw dapet tiket pp Bdg-Singapura cuma 600rb untuk bulan Januari dan 300rb untuk bulan Mei. Ke Bali? Pp 400rb saja! Yipeee…can’t wait for those trips next year.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Well,

Working, Saving, Eating, Travelling, Writing.

And my life turns out to be more and more colorful…

 

~end of my first trip abroad~

Day 6 – PhiPhi Island Tour

Save the best for last. Ya, acara terakhir kami di Phuket adalah island hopping ke KoPhiPhi. Belum pernah dengar??? Ah masa…hehe. Tontonlah film The Beach yang dimainkan oleh Leonardo di Caprio. Sesuai dengan judulnya, Anda akan dibuat terkesima dengan pemandangan pantai yang menjadi lokasi syuting film tersebut. Judul The Beach saja sudah cukup untuk menggambarkan isi film yang membuat kepulauan di Thailand Selatan menjadi nge-hits sampai sekarang. KoPhiPhi. Merupakan gugusan kepulauan kecil di dekat Phuket, yang berada di Laut Andaman nan cantik. Dalam film, pantai di KoPhiPhi digambarkan sangat bersih, air berwarna biru muda nyaris transparan, dan pasir pantai yang putih dan empuk. Siapa saja yang menonton film ini pasti akan jatuh cinta #yakin. Kecuali Anda phobia air. Hehe. So, inilah destinasi kami hari ini. KoPhiPhi.

Untuk pergi ke KoPhiPhi kami mengikuti tour dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dengan harga 1250 THB untuk tour dengan menggunakan speed boat. Ada juga tour yang menggunakan long tail boat, tapi dari hasil browsing sebelum berangkat, ternyata disarankan untuk menggunakan speed boat saja, karena : waktu tempuh lebih singkat, sehingga lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi, kesempatan snorkeling lebih lama, dan bisa mampir ke Maya Bay (long tail boat seperti yang gw naikkin di tour James Bond sebelumnya nggak bisa berlabuh di Maya Bay). Rugi banget nggak bisa main-main di Maya Bay, karena inilah main attraction dari tour KoPhiPhi ini.

Kami dijemput di hotel jam 8 pagi, dan menempuh perjalanan singkat menuju pelabuhan. Sama seperti tour James  Bond, sebelumnya kami diberi tali pengenal yang diikatkan di pergelangan tangan. Kali itu talinya berwarna biru. Jangan sampai tali ini hilang. Seperti kata tour guide kami kali itu, “If you lost it, we’ll lose you”. Karena begitu tenarnya KoPhiPhi ini, turis-turis yang datang pun membludak, dan mereka menggunakan agen tur yang berbeda-beda sehingga penting sekali untuk menjaga tali pengenal jangan sampai hilang, terutama saat snorkeling. Selain itu, penting juga untuk mengenali wajah-wajah teman satu tur, hehe…beneran, crowded banget di sana, dan tentu saja keindahan pantainya bikin lupa waktu, salah-salah kalau keasikan dan “hilang”, bakal malu banget dan bikin kesal peserta tur lainnya (it happens!).

Yang bikin gw terkesan dari Thailand, sekali lagi, adalah keramahtamahannya. Nggak salah kalau Thaland dijuluki Land of Thousands Smile. Tour guide kami kali ini, Eddy, beserta kru-krunya sangat ramah, profesional, dan sering melemparkan joke-joke yang membuat suasana jadi hidup. Perjalanan dengan speed boat pun tidak begitu terasa boring. Meskipun begitu, sayang sekali antara peserta satu dan yang lainnya tidak begitu membaur, hehe, apa bule-bule memang bawaannya cuek yah? Hm…Kami sendiri…dengan keterbatasan bahasa…nggak berani ngajak ngobrol bule-bule itu, hikssss….sebenernya belajar teori Bahasa Inggris dari TK sampai kuliah itu percuma ya kalau jarang dipraktekkan, huhuhu…atau mungkin karena kami bertiga pemalu kali ya, hihi…malu-malu kucing. Harus disenggol dulu baru keluar taringnya, jiahahaha… XD

Pemandangan menuju KoPhiPhi sendiri sungguh amazing. Berbeda dengan pemandangan di PhaNga Bay sebelumnya, air di laut Andaman ini lebih jernih. Warnanya biru muda sampai biru toska yang sangat jernih. Sungguh hati ini berdebar rasanya…pengen langsung “plung” dan menjadi Deni si Manusia Ikan. Hehehe…Sayang sekali cuaca hari itu kurang bersahabat. Langit mendung kelabu. Tapi serunya, gara-gara itu, gw ngalamin hujan-hujanan di dalam speed boat. Seru banget! Berhubung gw duduk di ujung belakang, habis deh kena semprot hujan yang mengguyur kami cukup deras di tengah laut. Dan kapal kami pun terombang-ambing heboh di tengah ombak yang saat itu cukup besar. Seru!!! O ya sebelumnya tiap peserta sudah disodori obat anti mabok, Dimenhidrinat (kalau di Indonesia terkenal dengan nama Antimo), dan gw udah minum 1 biji, so, nggak kerasa mabok sama sekali sih. Entah deh kalo nggak makan obat itu sebelumnya, hehehe…Puas dicuci hujan selama kurang lebih 15 menit, kami pun sampai ke tujuan pertama, yaitu Viking Cave. Viking Cave ini dinamakan demikian karena di dalam gua terdapat lukisan-lukisan tangan yang dibuat oleh bangsa Viking (ini kalau gw nggak salah menerjemahkan penjelasan si Eddy ya, :P). Dan di dalamnya terdapat sarang burung walet yang ajubileh mahalnya itu…sayangnya, ternyata Viking Cave ini sudah menjadi hak milik bangsa Cina (entah Cina mana yang dimaksud). So, kita nggak boleh memasuki gua ini, hanya boleh lewat saja melihat dari depan. Di film The Beach sendiri sepertinya Viking Cave ini ikut disyuting, dan Leonardo di Caprio saat itu berada di dalamnya. Entah ya saat itu Viking Cave ini masih kepunyaan Thailand atau sudah jadi hak milik Cina…

Kami hanya mampir di depan Viking Cave sekitar 10 menit, kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah laguna yang luar biasa cantik. Subhanallah…hanya itu kata-kata yang terngiang-ngiang di kepala gw. Padahal gw bukan muslim, tapi entah kenapa kata itulah yang paling tepat menggambarkan keindahan laguna ini. Airnya berwarna biru toska, begitu tenang dan bersih. Dikelilingi tebing-tebing hijau yang cantik. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Yang lebih luar biasanya lagi, kami dipersilahkan untuk berenang sepuasnya di laguna ini, selama  sekitar 15-20 menit. Tanpa babibu, gw langsung copot tanktop gw, eits…pake baju renang kok, gak bugil, hehe, dan menyemplung ria ke dalam laguna!!! Aaaaaaa….beneran campur aduk rasanya. Berenang di air laut sejernih dan seindah itu, ditambah pemandangan langit dan hijaunya tebing-tebing yang mencuat di sekitarnya. Berenang gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, semua gw jabanin, hehe…laguna itu dalamnya sekitar 10 meter, so don’t worry…asal punya skill renang standar, gak akan tenggelam. Masih khawatir? Tenang…disediakan pelampung untuk yang takut tenggelam, hehe…gw sih cuek aja, kaga pake pelampung-pelampungan. Bodo amat, air laut sudah memanggil-manggil gw kaya Siren yang bernyanyi manggil-manggil para nelayan yang tersesat (apa sih?? Hehe…). Okay. Gw euforia. Hehe…

Phiphi lagoon

Rasanya waktu cepet banget berlalu. Gw masih belum puas berenang-renang cantik di laguna surga itu, tapi sayang si Eddy udah teriak-teriak  mengumpulkan peserta. Huhu… O ya saat kami naik ke atas boat, abang-abang kapal dengan baik hatinya memotret kami bertiga. Inilah tampang gw post-euforia first experience berenang di laut. Hehe.

Post swimming @Lagoon

Puas berenang-renang, selanjutnya kami dibawa ke Maya Bay. Ya, inilah “permata” PhiPhi Island. Lokasi syuting utama dari film The Beach pun diambil di Maya Bay ini. Ya, memang keindahan Maya Bay ini tak tertandingi. Gw belum pernah lihat pantai dan air sebagus itu seumur hidup gw. Mungkin suatu saat gw bisa menemukan pantai lain yang lebih bagus (*Amin*), tapi sampai saat ini, Maya Bay lah pantai terindah yang pernah gw kunjungi. Airnya biru muda nyaris transparan, pasirnya putih agak kasar dengan pecahan-pecahan kerang yang berukuran sedang. Pantai ini menghadap tepat ke perairan Laut Andaman dan dikelilingi bukit-bukit yang indah, sehingga seolah-olah tersembunyi di antara pulau-pulau di KoPhiPhi. Ya, jika surga itu ada, gw berharap surga seindah pantai Maya Bay ini…Sayang sekali, “surga” ini sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Begitu tersohornya Maya Bay ini, sehingga turis-turis pun berjubel mengisi pantai kecil ini. Yah, ada gula ada semut memang. Inilah yang menodai keindahan Maya Bay. Padahal di film The Beach, pantai ini diperlihatkan kosong. Hehe…Bang Leonardo dan pacarnya dalam film itu tampak berenang bebas berdua memonopoli pantai ini. Ah…andai… (mikir apa hayooooo….? Hehe.)

Blue water @Maya Bay

Pada pose cantik semua. XD

Hihi…narsis…

Lihat bapak-bapak di belakang…mau renang apa mau nanem sawah? *caping is the new trend?* Hihi…

Maya Bay dari jauh. Orang-orang berjubel kaya ikan sarden.

Maya Bay sangat indah, sayang harus berbagi dengan ratusan orang yang juga ingin menikmati keindahannya…

Dengan berat hati kami meninggalkan Maya Bay untuk menuju ke Monkey Cave. Tak jauh dari Maya Bay, terdapat pantai kecil yang dihuni oleh monyet. Di speed boat, Eddy sudah mewanti-wanti kami untuk berhati-hati menjaga barang bawaan, karena monyet-monyet ini suka sekali menjambret barang-barang pengunjung. Gw pun urung membawa kamera turun, sayang banget kalau kamera gw satu-satunya ini sampe raib, hehe. Tapi gw sempat mengambil beberapa foto kok, ini salah satunya :

PhiPhi Monkey Cave

Berhubung gw udah pernah ke Sangeh Bali, gw nggak begitu antusias dengan Monkey Cave ini. Monyetnya kecil-kecil, nggak seseram yang ada di Bali, dan jumlahnya pun sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah monyet yang saya temui di Sangeh. Ya tapi uniknya sih karena monyet-monyet ini bertengger di hutan pinggir pantai aja kali ya. Di sini turis-turis bisa memberi makan si monyet dengan roti. Menurut gw sih mereka tampak jinak. Jauh lah sama monyet-monyet seram yang ada di Sangeh. Atau mungkin yang gw temui saat di Monkey Cave ini baru “anak-anak buahnya” aja kali ya, masih culun-culun, hehehe… Kalau mau puas berbaur dengan monyet sih gw saranin ke Sangeh aja. Nampol banget tuh di sana. Monyetnya ribuan, dari yang kepala suku sampai orok monyet tumplek jadi satu…kali aja nemu saudara tua kita di sana, hihihi…

Setelah menghabiskan 15-20 menit di Monkey Cave, selanjutnya speed boat membawa kami ke spot snorkeling. This is my first time snorkeling!!! *excited*. Di tengah laut boat berhenti, dan kami diminta memakai fin masing-masing. Oya, untuk fin ini ada biaya sewanya lho, sebesar 100 THB. Penting sekali untuk menggunakan fin selama snorkeling, karena di bawah lau banyak “ranjau-ranjau” berduri berupa Sea Urchin. Alias Landak Laut. Alias Bulu Babi. Ini nih gambarnya :

Long Spined Black Sea Urchin

Nah, nggak mau kan ketusuk sama duri-durinya? Efeknya bisa luka tusuk ringan, sampai reaksi alergi yang membahayakan nyawa. Bervariasi tiap orang. Gimana cara mengatasi luka tusuk sea urchin? Udah gw bahas di postingan gw sebelumnya, saat gw ke PhaNga Bay. Traditional way : urine (?), cuka. Modern way : debridement (pembersihan luka), salep Antibiotik+Kortikosteroid, obat Anti Alergi, kalau berat bisa ditambah tablet Kortikosteroid. Hati-hati karena ada yang namanya reaksi anafilaktik, yaitu reaksi alergi terhadap suatu alergen (bisa dari makanan seperti ikan, seafood, obat, sengatan hewan seperti lebah, ubur-ubur, dan bisa juga dari tusukan sea urchin ini, so, beware!).

Okay, kembali ke snorkeling. Hehe. Ini pengalaman pertama gw. Tapi karena gw udah pernah ikut kelas Diving sebelumnya waktu mahasiswa, gw yakin everything will be fine. So, “PLUNG”, dan…lagi-lagi…gw cuma bisa berkata Puji Tuhan dalam hati. Sungguh. Akhirnya gw bisa melihat dunia bawah laut, koral-koral yang beraneka ukuran, dari yang kecil sampai raksasa. Sekelompok ikan berenang-renang menghampiri, beraneka warna, langsung di depan mata bukan di akuarium air laut seperti yang udah sering gw liat di toko-toko ikan. Kenapa ikan laut warnanya begitu amazing ya, Tuhan memang keren… Sayang sekali gw nggak menemukan coral warna-warni, pemandangan didominasi oleh hard coral, tapi tetep keren kok, at least for my first time. Saat itu cuaca mendung, air berombak cukup besar, dan pemandangan di bawah air nggak bisa dibilang jernih-jernih amat. Tapi gw enjoy banget sih, meskipun karena parno gw jadi sering banget nongol ke atas air, takut hilang, hihi… Kesan?? Gw ketagihan!!!! Gw jadi pengen snorkeling lagi di tempat-tempat lain, Lombok, Karimunjawa, Bunaken, Derawan…ah…semua tempat itu belum gw jamah, tapi semoga gw bisa, suatu saat, amin! Btw, yang melintas di kepala gw saat snorkeling adalah : Horeeee…akhirnya gw bisa ngerasain jadi Spongebob! Okay, that was a weird thought. But it was mine. Hahaha…..!

Empat puluh menit yang berharga itu pun akhirnya berakhir. Gw pun kembali ke kapal dengan perasaan campur aduk. Senang, kecewa karena belum puas, dan ketagihan…sayang sudah waktunya makan siang. Kami pun dibawa ke PhiPhiDon untuk makan siang prasmanan dengan menu standar buffet kaya di kondangan, tapi enak kok! Puas-puasin aja makannya biar nggak rugi, hehehe…Sayang menunya bukan lobster dan aneka seafood seperti yang gw harapkan.

Beres maksi, kami menuju ke destinasi terakhir, yaitu Khai Island. Di sini kami dilepas bebas (emang lu kira hewan piaraan? Hehe) untuk snorkeling, bersantai di pantai, duduk-duduk, dan minum cocktail. Kami sih jelas memilih yang pertama. Hehe…Di pantai ini, kita sudah bisa langsung snorkeling dari pinggir pantai. Mulai jarak sekitar 5 meter dari tepi pantai, sudah ditemukan koral-koral dan ikan-ikan yang cantik. Kami membawa roti tawar seharga 50 THB yang dibagikan Eddy. Begitu roti tawar disodorkan, langsung gw diserbu segerombolan ikan-ikan cantik itu. Ah…rasanya geli-geli gimanaaaaa gitu. Senangnya…gw pun berenang makin menjauh dari tepi pantai. Makin ke tengah laut coral-coralnya makin indah dan bervariasi, begitu juga dengan ikan-ikannya. Cantik sekali. Cuma itu yang bisa saya katakan karena saya nggak ngerti nama-nama ikannya apa saja, hihi…yang jelas cantik…tapi jangan salah, makin ke tengah, ranjau sea urchin pun makin banyak, tak hanya satu atau dua, melainkan bergerombol di bawah coral, hiiiiiyyy…rada takut juga. Apalagi perairan di sini sangat dangkal sehingga bisa dengan mudah tertusuk. Ah…sea urchin…kau begitu berguna bagi ekosistem laut, sayang tidak menguntungkan bagi gw yang parnoan, hehe…

Langit Phuket dari Khai Island

( Tertarik dengan foto-foto perjalanan bertema “Colour”? Buka deh di sini)

Post Snorkeling @Khai Island

Sisa waktu pun gw habiskan di Khai Island untuk snorkeling dan jalan-jalan sebentar di tepi pantai. Tak lama, kami pun dipanggil-panggil oleh Eddy…tur yang indah ini pun berakhir…Good Bye PhiPhi Island…I will never forget this beautiful memories…kecuali gw kena Alzheimer *amit2*.