Weekly Photo Challenge : From Lines to Patterns

This Weekly Photo Challenge from Dailypost is about shape, lines, textures, and patterns. This is my entry for this week, from the magnificent Marina Bay Sands Singapore, stretch of grainy grey sands in Karimunjawa, to Traditional Torajan Woven from Indonesia :

Weekly Photo Challenge by Daily Post : From Lines to Patterns

Advertisements

Day 4 – How to have fun at Karimunjawa : snorkel, jump, and play with sharks

Day 4. Still at Karimunjawa. Yeay! Pagi ini terbangun dengan masih mengantuk. Why? Negara api menyerang! Oke garing. Yang bener semaleman gw diserang nyamuk-nyamuk. Nyamuk Karimunjawa ganas cuy! Berbagai pose garuk-garuk udah gw jabanin, kain pantai yang gw fungsikan sebagai selimut pun nggak mempan. Tips : Pakai baju dan celana panjang, bawa kain untuk selimut, pakai lotion anti nyamuk.

Meskipun mata mengantuk, semangat tetap membara dong yah! Setelah kemarin gw menjelajahi sisi Barat (Pulau Cemara Kecil) dan sisi Selatan (Ujung Gelam), hari ini gw akan menelusuri sisi Timur Karimunjawa, yaitu Pulau Cilik, Pulau Tengah, Gosong Seloka, dan berenang bersama hiu di Pulau Menjangan Kecil. Uyeaahhh! Pagi-pagi gw udah nongkrong sarapan di Warung Bu Esther. Nikmat, murah meriah. Setelah rombongan berkumpul di dermaga, kami pun berlayar…capcussss! Kali ini rombongan kami ketambahan sepasang suami istri, si suami Bule, si istri Jawa Yogya asli. Makin seru deh! ^^ Ombak laut hari ini lebih ganas dibanding hari sebelumnya. Gw sih fun-fun aja. Kenapa harus takut tenggelam kalau bisa berenang? #pedeabis. Kenapa harus takut mati kalau semua jiwa akan berpulang pada Sang Pencipta? *oke yang ini terlalu berat* *skip*.
Spot snorkeling pertama di sekitar Pulau Cilik. Kali ini gw lebih banyak mengeksplor coral dan nggak terlalu antusias berfoto underwater. Yeah, still with that guilty feeling 😦 (baca postingan sebelumnya). Coral di Pulau Cilik ini keren banget, masih lebih terawat dibanding spot-spot sebelumnya. Daaannn….yang bikin gw terheran-heran, ikan-ikan di Karimunjawa itu kok guendhut-guendhut banget yah? Subur makmur kayaknya 😀 Emang sih jenis-jenisnya rata-rata sama dengan ikan-ikan di Kepulauan Seribu, tapi di sini lebih subur-subur, seneng deh liatnya! Makin semangat ngasih roti deh. Jangan-jangan karena overdosis roti dari turis-turis. Eh, mungkin nggak sih? Nyahahaha~ Btw pernah denger juga tentang ngasih makan roti pas snorkeling ini. Katanya nggak boleh ya? And why is that? Ada yang tahu alasan ilmiahnya? Ditunggu sharingnya ya hehe… Sehabis snorkeling kami nggak mampir ke Pulau Cilik, yang tampaknya memang bener-bener cilik, paling setengahnya Cemara Kecil. Kami langsung menuju ke destinasi selanjutnya, Pulau Tengah…
Well, what can I say? Pulau Tengah is really…really…amazing! Sungguh. Airnya…bener-bener jernih. Gw bahkan sempet berguling-guling di dalamnya, berenang gaya pesut terdampar sampai meniru pose dugong lagi akrobat sampai pose melahirkan. Hahaha…pokoknya…TOP abis! Rasanya nggak pengen keluar dari air!

pulau tengah karimunjawa

Sejernih ini, siapa yang tahan?

O ya, ternyata di Pulau Tengah ini, diternakkan ikan hiu juga lho (bener gak sih bahasanya? Hiu diternakkan?). Sama seperti di Pulau Menjangan Kecil, hiu-hiu kecil yang tertangkap di laut kemudian dirawat di konservasi ini, kemudian setelah dewasa nantinya akan dilepas kembali ke alamnya. Lumayan serem juga jalan di atas hiu-hiu ini, takut kepleset trus plung! Jadi makanan hiu dah hahaha… (padahal perasaan baru aja nulis kenapa harus takut mati ;p ).
Menjelang siang, makanan sudah siap di tepi pantai. Aaahhh lagi-lagi makan ikan di pinggir pantai, di atas pasir putih yang empuk dan ditemani angin semilir. Surga. Ikannya pun terasa berjuta-juta kali lipat lebih enak daripada makan ikan di restoran mahal. Apalagi kali ini ada sayur dan sambal juga. Juara! Nggak nyesel ikutan tripnya Mas Farid n Pak Manto, hwehehehe… Puas dan kekenyangan, gw berjalan-jalan sejenak mengeksplor pulau ini, yang ternyata nggak terlalu besar, hanya ada satu rumah yang berjualan aneka gorengan (pisang gorengnya nikmat!!). That’s it. Pulau ini nggak berpenghuni. Asiknya…Gw sempet bergoler-goler cantik dengan mata berat hampir ketiduran, sampai akhirnya Pak Manto memanggil-manggil dan dengan berat hati terpaksa kami semua kembali ke kapal…

Romantisnya pasangan Indo-Bule ini, bikin ngiri eke aja yey berdua... ;D

Romantisnya pasangan Indo-Bule ini, bikin ngiri eke aja yey berdua… ;D

Salah satu sudut Pulau Tengah

Salah satu sudut Pulau Tengah

Gosong Seloka merupakan gusung pasir, hampir sama seperti Pulau Air Kecil di Kepulauan Seribu, yaitu hanya pulau kecil yang terdiri dari gundukan pasir. Bener-bener pasir doang. Di tengah laut. Eaaa keceh kan. Menariknya, waktu ke Gosong Seloka, dari jauh tampak puluhan burung yang memenuhi Gosong ini. Aaaa keren deh berasa kaya pulau di luar negri (padahal sih belum pernah lliat langsung, cuma di tipi aja ;p). Dua hal terlintas : Satu : burung itu bakal terbang nggak ya pas kita mendekat? Dua : Banyak tai burung nggak ya di sana? Hehehe…pertanyaan pertama terjawab langsung beberapa menit kemudian, saat Gosong Seloka itu tiba-tiba saja menjadi kosong. Ya elah…gak bisa foto dengan burung-burung putih keceh beterbangan di samping kita dong 😦 *imajinasi foto terlalu tinggi*. Pertanyaan kedua terjawab beberapa menit selanjutnya setelah kami touch down di pasir gusung yang sangat putih, nggak begitu empuk karena masih banyak pecahan kerang-kerang kecil yang kasar, tapi bersih banget. Boro-boro tai, sampah segede bungkus permen aja kagak ada di sana. Yang bikin spesial dari Gosong ini ya tentu aja, ujung-ujungnya yang langsung air laut. Justru sejengkal daratan pasir tanpa keberadaan apapun di atasnya, itulah yang menarik. Nggak heran, mau di Kepulauan Seribu, di Karimunjawa, bahkan tampaknya di Derawan pun gw lihat gusung pasir selalu menjadi spot yang ditunggu-tunggu. Buat foto lah, apa lagi coba, hehehe… Gw berpikir…mungkinkah…Gosong ini masih ada…katakanlah 5 atau 10 tahun ke depan? Kalau air laut makin tinggi…keberadaan Gosong kaya gini bener-bener terancam. So sad. Semoga aja enggak. Makanya harus mulai Go Green nih. Gw baru mulai ngurangin kantong plastik, say no to spray, cabut kabel elektronik kalau lagi nggak dipakai. Belum seekstrim nge-recycle kertas sendiri sih, hehe, start from little things first dulu deh… ^^

Beginilah penampakan Gosong Seloka. Without birds.

Beginilah penampakan Gosong Seloka. Without birds.

Salah satu foto favorit gw. Kenalan-kenalan baru di Karimunjawa :D

Salah satu foto favorit gw. Kenalan-kenalan baru di Karimunjawa 😀

Hanya sebentar di Gosong Seloka, hari sudah menjelang sore, kami pun menuju ke spot terakhir yang ditunggu-tunggu dari pagi. Bahkan dari sebelum berangkat ke Karimunjawa. Berenang dengan HIU! Yeay! Yeay! Tau nggak sih gw awalnya sempet ragu-ragu. Takut. Itu sejak dari sebelum gw berangkat ke Karimun. Gw pikir, ah, what the heck, mikirnya nanti aja deh kalo udah sampe di sana. Eh, pas udah sampe Karimun masih aja ragu. Hahaha…dan finally baru bener-bener ngambil keputusan “oke gw mau turun berenang sama hiu itu” malah pas udah sampe di pinggir kolamnya. Hahaha! Emang gw nih ya…suk plin-plan sekaligus impulsif.
Btw, jadi di Pulau Menjangan Kecil ini ada beberapa kolam, lumayan gede sih, isinya hiu-hiu yang “jinak”. Jangan kira hiunya kecil-kecil kaya yang ada di kolam di Seaworld. Itu sih baby shark. Ini beneran hiu dewasa, besar, karnivora, dan pejantan tangguh (okay yang ini agak ngarang sih, hehe). Gw masuk ke kolam Blacktip Shark (ada kolam Whitetip Shark juga cuma gw ga nyemplung ke sana). Warnanya hitam. Awalnya…rada serem. Sempet parno abis. Sempet hampir panic attack. Lama-lama…jadi agak biasa aja sih, meski tetep serem. Apalagi pas hiunya mondar-mandir di sebelah gw. Edannn…dag dig dug seerrrr…berasa lagi dikorbankan. Finally at one point, as human, gw ngerasa nggak berdaya di depan binatang. Yah kan biasanya kita makan binatang (ya bukan hiu juga sih). Kali itu gw ngerasa kaya jadi makanan binatang. #pentingnggaksih
Emang sih hiu-hiu ini jinak. Do you know why? Ternyata…menurut Pak Manto…hiu-hiu ini tiap harinya selalu dikasih makan banyak. Berkilo-kilo. Sampai akhirnya mereka kekenyangan dan malas berburu. Hahaha…jadi mikir sama aja nih hiu kaya manusia. Kalo kekenyangan jadi males. Bawaannya pengen molor terus (itu sih gw yak. Ups.) Trus karena “disuapin” terus mereka juga jadi kehilangan semangat memangsa. Sama aja kaya manusia. Kalo “disuapin” terus kapan majunya… *sok berfilosofis*. Eh tapi yang masuk kolam nggak boleh lagi menstruasi atau lagi mengalami perdarahan ya, luka-luka lecet yang banyak dan berdarah juga nggak boleh. Kalo nyium darah sih teteup aja yak hiu mah doyan… 😀

Ini hiunya. Lagi pada ngetem ;p

Ini hiunya. Lagi pada ngetem ;p

Buat menikmati sensasi “jadi makanan hiu” ini cukup merogoh kocek 5rb rupiah saja. Yah cukup murah lah untuk pengalaman once in a life time (or maybe jadi ketagihan, siapa yang tau?).

Ini gw dan hiu. *dalem hati kaya mau mati*

Ini gw dan hiu. *dalem hati kaya mau mati*

Sekitar jam 5 sore kami pun kembali ke penginapan. Malamnya rombongan kami ngumpul makan ikan bakar dan es kelapa bakar (unik lho! Air kelapa dicampur jahe, trus batoknya dibakar. Yummy, anget2 cocok untuk minuman malam hari) di alun-alun. Seru, apalagi gw ditraktir, hihi… ^^
Malam terakhir di Karimunjawa pun berakhir sangat menyenangkan.
Keesokan paginya kami pulang naik Express Bahari pagi-pagi…Au Revoir Karimunjawa...Really want to and must come back someday… ❤
So, hari gini belum pernah ke Karimunjawa ??? Plan your trip now! Happy travelling! ^^

That Oh So-Guilty-Feeling at Karimunjawa

cemara kecil5

It takes so long for me to write this story. Story about the beauty of Karimunjawa. The sea, the islands, the underwater view. Why so long? Bukan karena trip yang nggak menarik. Bukan. Bukan karena view yang nggak bagus. Bukan. Justru sebaliknya. It’s a oh-so-amazing-trip. Dan view Karimunjawa masih yang terindah di hati saya sampai saat ini. It takes so long because…I did some mistakes there, and I feel ashamed, and most, guilty. Why? This is my story
Pagi yang cerah di bulan September, hari ke-3 gw di atas tanah Karimunjawa. Hari ini gw dan temen seperjalanan gw Vivi akan mengikuti tur laut selama sehari penuh, setelah sebelumnya sudah cukup puas mengeksplore daratan Karimunjawa (baca di postingan sebelumnya), kali ini tentu sudah saatnya gw mengeksplore keindahan pulau-pulau dan underwater view-nya. Excited? Tentu! Penasaran apakah bawah laut Karimunjawa lebih bagus dari bawah laut Pulau Air di Kepulauan Seribu yang seperti aquarium. Penasaran dengan teman-teman baru yang akan kami temui hari ini. Penasaran dengan pulau-pulau yang katanya masih perawan dan sepi.
Untuk tur laut hari ini kami ikut daily tour, sifatnya open trip, yaitu digabung-gabung dengan rombongan lain. Untuk tur ke Pulau Cemara Kecil dan Pulau Tanjung/Ujung Gelam, dengan 2 kali snorkeling, sudah termasuk makan siang, alat snorkeling, dan foto underwater, gw hanya merogoh kocek 100rb. Syukurlah di hari sebelumnya kami bertemu Pak Rivai yang menawarkan daily tour ini pada kami. Rombongan hari ini total berjumlah 6 orang, ditemani seorang guide yang baik hati Mas Farid, dan seorang nahkoda kapal Pak Manto (ejiee nahkoda…hahaha!).
Sekitar jam 07.30 kami sudah standby di dermaga, tapi karena masih belum ada orang, kami sarapan dulu di Warung Bu Esther, nasi rames plus susu, seharga 11ribu. Lumayan murah kenyang dan enak. Hoho…saat itu kami sempat bertemu seorang penduduk Karimunjawa yang tinggal di Pulau Nyamuk. Doi semangat banget mempromosikan Pulau Nyamuk ini. Katanya yang paling perawan di Karimunjawa. Memang sih agak jauh, karena lokasinya paling ujung luar, kalau naik perahu sekitar 2 jam dari Karimunjawa. Hmm…boleh juga nih next time. Wondering…banyak nyamuknya nggak yah…hehe…
Setelah sarapan dan seluruh rombongan berkumpul, kami pun berangkat…eng ing eng…cuaca cerah, sinar matahari yang hangat, light blue sky, and white fluffy clouds…boost my mood to the top level. Laut, pasir, ikan, aku dataaaaaannngggg!

Spot snorkeling pertama, di sekitar Pulau Menjangan Kecil. Ceburrrr!!!
Airnya jernih, visibility clear. Ikan-ikannya…wow, banyak banget! Dibanding Kepulauan Seribu, ikan-ikan yang saya lihat di sini jauh lebih gemuk-gemuk, hihi…kalau jenisnya hampir sama, dari mulai Nemo sampai butterfly fish (nggak tahu namanya satu-satu, hiks). Coralnya juga bervariasi, dari table top sampai brain coral. Ukurannya pun massive. Sayangnya, tampak beberapa coral bagian atasnya “gundul”. Kenapa? Oh. Ternyata…coral-coral itu sering digunakan untuk spot foto underwater. Yap. Bener. Jadi tukang foto maupun model foto berdiri di atas coral yang besar, lalu sedikit menyelam ke bawah dan berpegangan pada coral lalu berpose. Dari mulai pose duduk sampai cherrybelle.

underwater karimunjawa

Okay. I know. That’s so wrong. I know that’s wrong from the very first time. Coral shouldn’t be touched. Apalagi diinjak. Apalagi jadi tempat gelantungan. Honestly, gw kira foto underwater itu diambil saat kita sedang berenang atau menyelam atau candid, TANPA harus bergelantungan di coral. Ternyata perkiraan gw salah. Gw tau I shouldn’t do it. Tapi saat itu juru kamera kami sudah dengan semangat menyuruh kami berpose, dengan memberi contoh-contoh pose, memberi tahu bagian coral mana yang harus diraih dan dijadikan pegangan saat berfoto, dan langsung menyuruh kami antri untuk difoto. Saat itu, sort of guilty feeling merasuki dada. It’s like cheating in exam you know. Do it. Don’t do it. Do it. Don’t do it. Yah…saat itu…the devil side won. Pikiran “kapan lagi” dan “pasti keren” mengalahkan kesadaran Coral Shouldn’t Be Touched. Mereka bisa mati, dan bahkan you know how long does it take to grow even one inch of them. But still, … I did. I touched them. And even worse, I broke one of them. Damn.
From that time, snorkeling time there didn’t feel so fun anymore. Yes, the view was amazing, but that big guilty feeling made the whole things just felt wrong.
But, still, the view is really amazing.
Setelah snorkeling kami menuju ke Pulau Cemara Kecil. Pulau ini…sangat indah. Pantainya landai, airnya jernih tanpa sampah sedikitpun, pasirnya halus seperti bedak. Benar-benar fotogenik! Ini salah satu pulau favorit saya di Karimunjawa. Ini tempat yang cocok untuk menyepi dan bergoler-goler ria di pasir sepanjang hari (jangan takut hitam ya tentunya!).

cemara kecil karimunjawa

Sambil menunggu Mas Farid dan Pak Manto membakar ikan, gw berkeliling pulau yang ternyata meskipun kecil tapi ngelilinginnya lumayan cape juga loh, hehe…Karena laper kali ye! ;p

pulau cemara kecil ksrimunjawa

Menjelang siang, makanan pun siaaapppp! Ini dia ikan-ikan yang siang ini “dikorbankan”, hihihi…

ikan bakar karimunjawa

Makan ikan bakar rame-rame di tepi pantai, hanya diiringi sayup ombak dan ditemani hangatnya matahari…jauh lebih nikmat dibanding makan steak mahal di cafe buatan manusia. Sungguh ciptaan Tuhan tak akan ada yang menandingi. Bukan masalah rasa, cara mengolah, atau harga makanannya, tetapi suasananya. That’s the most important, I think.
Setelah perut kenyang, rasanya berat banget pergi meninggalkan pulau ini. Tapi snorkeling sesi selanjutnya masih menunggu. Yuhuuu! (meskipun masih disertai guilty feeling)
Snorkeling sesi kedua berlangsung hampir sama seperti sesi satu, and my guilty feeling get bigger and bigger…gw menyayangkan coral-coral yang diabuse, gw menyayangkan cara foto underwater yang harus mengabuse coral, gw menyayangkan guide kami yang tampak biasa saja mengabuse coral, and most of all, gw menyayangkan diri gw sendiri yang ikut mengabuse coral-coral itu 😦 Okay, I know it’s too late. And I know gw pantas dicela 😦

Tujuan terakhir kami hari itu adalah Ujung Gelam. Ada juga yang menyebutnya Tanjung Gelam. Katanya di sini lah tempat yang paling tepat untuk menikmati sunset Karimunjawa. Lokasinya ada di ujung selatan Karimunjawa, jadi bukan pulau yang terpisah, melainkan bagian dari Pulau Karimunjawa itu sendiri. Buat para pecinta fotografi, pasti suka deh di sini. Bener-bener fotogenik. Pantainya bersih, jernih, pasirnya putih dan lembut, ditambah lagi batu-batuan besar dan pohon kelapa yang ada di tepi pantai, sungguh keceh!

Okay yang ini foto narsis, hihihi... ^^

Okay yang ini foto narsis, hihihi… ^^

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

ujung gelam karimunjawa

Karena berada di Pulau Karimunjawanya, di pantai ini sudah banyak lapak-lapak yang menjual makanan dan minuman. Gw akhirnya terbawa suasana dan memesan kelapa muda deh…satu berdua aja. Kere. Hehehe… Sekitar jam 5 sore kami kembali ke dermaga, masih ada waktu untuk menangkap sunset yang keceh dari dermaga… Sungguh Karimunjawa memang indah…
Eits! Masih ada tur laut hari kedua loh! Sabar ya Cyinn… 😀 Next : Pulau Tengah, Gosong Seloka, Pulau Cilik, dan berenang bersama HIU di Pulau Menjangan Kecil! Kamu berani?

Day 2 – Sekali Biking Tiga Pantai Karimunjawa Terlalui

Sea, sun, sand, sky, and palms…

Pantai Anonim. Ya, perhentian pertama biking (+walking+nuntun sepeda) di Karimunjawa adalah pantai anonim ini. Untuk menuju ke pantai ini pun tidak ada path jalan yang khusus, melainkan harus menembus rumput, semak, dan ilalang terlebih dahulu. Butiran pasirnya yang bersih dan lembut mengintip dari tepi jalan, sontak kami meninggalkan sepeda kami di pinggir jalan begitu saja. Menembus ilalang, menuruni bebatuan yang lumayan curam, akhirnya di pantai kecil inilah kami melepas penat. Berbaring dialasi pasir putih dan beratapkan daun palem, rasanya perjalanan yang sudah dilalui tak sia-sia…

Melepas lelah selama kira-kira setengah jam, khawatir dengan sepeda yang kami tinggalkan begitu saja di pinggir jalan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, karena masih berkeyakinan bahwa pantai ini bukanlah Pantai Nirwana yang kami cari.

Melanjutkan perjalanan naik turun bukit, tak berapa lama kemudian kami disambut oleh pemandangan pantai yang luar biasa indah di sebelah kanan…lagi-lagi…terpisah oleh semak dan ilalang. Dan lagi-lagi, kami menjatuhkan sepeda dan segera menembus semak belukar tersebut…dan Puji Tuhan…inilah pantai yang terhampar di hadapan kami…

Pantai Legon Lele dengan gusung pasir yang menuju ke Pulau Batu

Pantai Legon Lele. Darimana gw bisa tahu namanya? Ceritanya menyusul ya, hehe. Kenapa dinamai Legon Lele? Baca nih di sini. Sungguh, pantai ini keren banget, airnya jernih, pasirnya putih, terdapat beberapa gundukan gosong pasir yang timbul karena air surut, tepi pantai ditumbuhi pohon-pohon palem, sedangkan di sebelah timur pantai lebih didominasi bebatuan dan karang yang besar-besar, bahkan gw sempat gelar lapak dan tidur-tiduran di atas batunya, hehehe…superb! Pulau yang tampak sangat dekat dari pantai adalah Pulau Batu. Pulau ini terasa sangat dekat sampai gw berpikir apakah bisa gw berenang ke sana…soalnya gosong pasirnya sendiri cukup panjang lho…seakan menuju ke Pulau Batu. Hehe tapi tentu saja gw nggak bener-bener berenang ke sana… 😛

Tidak ada papan petunjuk ataupun plang nama pantai di sini. Saat itu gw masih berkeyakinan inilah Pantai Nirwana. Lha uapike kayak gini, apa lagi kalau bukan Nirwana namanya? *kekeuh*. Cukup lama kami stay di sini, mengira pantai ini adalah destinasi terakhir kami. Meskipun dalam hati masih ragu juga apa bener ini Pantai Nirwana, jangan-jangan masih di depan lagi…ah, tapi badan sudah lelah, sudah luka (yang penting hati nggak luka kakak… *aposih*), dan hari sudah mulai sore. Akhirnya kami memutuskan berjalan pulang. Ya, berjalan. Dan menuntun sepeda. Hiks. Sungguh perjalanan yang berat untuk dua gadis kece yang jarang jogging apalagi fitness ini, hahaha…

Mengintip Pantai Legon Lele

Yah, tidak perlu diceritakan kisah keluh kesahnya, hehe…pokoknya tau-tau kami sudah sampai di daerah peradaban. Maksudnya peradaban yaitu sudah tampak rumah-rumah warga lagi. Pas ngelewatin salah satu rumah warga, ada seorang ibu-ibu yang menyapa dan mengajak ngobrol. Akhirnya kami iseng bertanya di manakah Pantai Nirwana. Dan jawaban si ibu ini sangat membuat shock. Ternyata…oh ternyata…Pantai Nirwana itu ada DI DALAM Nirwana Resort. Oh. My. God. *krik* *krik* *koakkk* *koakkk*…So…dari si ibu itu jugalah gw tahu kalau pantai yang tadi kami singgahi itu ternyata…

…Pantai Legon Lele…*krik* *krik* *koakkk* *koakkk*.

Okay. Geli juga jadinya. Lagian…mana nyangka kalau ada pantai DI DALAM resort? *secara gw belum pernah masuk ke yang namanya resort?!*. Setelah ngecharge perut dengan Pocari Sweat dan aneka gorengan dari warung setempat, plus ninggal sepeda di tambal ban yang ada di depan Nirwana Resort, akhirnya kami memasuki resort itu juga Saudara-Saudara! Sungguh…rasanya plong…akhirnya…kami kesampaian juga ke Pantai Nirwana. Yang ternyata harus bayar tiket masuk Rp 12.500,-. Yang ternyata viewnya below expectation. Pantai Nirwana ini tampaknya memang cocok untuk bersantai, tapi kesan touristy-nya sudah kental banget, dengan kursi-kursi malas di tepi pantai, lengkap dengan hotel berarsitektur eksotis, pepohonan palem yang berjajar merata…hm…I’d prefer Pantai Legon Lele sih…. Tapi selera orang kan beda-beda yak… 😀

Pantai Nirwana, cocok untuk relax dan menyepi…

Well, senangnya, dari hasil nyasar hari ini gw menemukan pantai Legon Lele yang cantik banget…sedihnya, ternyata ban sepeda gw yang kempes tidak bisa diselamatkan. O ya yang belum tahu kenapa, bisa baca di postingan gw sebelumnya.

“Si Merah” masuk bengkel…

Setelah berusaha berulang kali, penyelamatan ban pun dinyatakan gagal *aposih*. Asiknya, bapak-bapak pemilik tambal ban ini baik banget…dia menyuruh 2 orang anaknya mengantar kami pulang naik motor. Yeay! Terharu…baik banget ya warga di desa itu…Akhirnya acara biking Karimunjawa pun berakhir dengan pulang dibonceng motor sampai homestay dengan selamat. Hahaha~ I will never ever forget this journey. Sepedaannya, rute hardcorenya, nyusruk di pohonnya, kacang mete bakarnya, view pantainya, kisah nyasarnya, friendship storynya, kebaikan hati warganya…Thanks God You give me such a good life 🙂

Nongkrongin sunset udah, biking sampe nyusruk udah, makan seafood udah, nyepi di pantai udah, ngapain lagi dong di Karimunjawa? Oooo so pasti dong : island hopping and snorkeling! Yeay! Next posting yah 🙂

Day 2 – Biking Karimunjawa : dari mete bakar sampai nyusruk di pepohonan

Si Merah yang “tidak setia”. Ditampilkan juga di Turnamen Foto Perjalanan.

Biking di Karimunjawa! Yap, itu tema trip hari ini. Siapa bilang Karimunjawa cuma melulu wisata laut? Hehe…Pagi ini kami menyewa sepeda gunung (ingat, kalo mau biking, jangan sewa sepeda onthel. Apalagi sepeda sayur yang ada keranjangnya. *anak SD juga tau kali*) seharga 30rb untuk 12 jam. Bisa juga sih 20rb untuk 6 jam. Tapi kami berencana biking sampe malem keliling pulau gitu… ;p *yang ternyata nggak kesampean*.

Kami mulai mengayuh sepeda ke arah timur. Masih di daerah perkampungan penduduk, jalannya lumayan bagus, lurus dan nggak menanjak. Asik juga bersepeda di pagi hari, matahari masih hangat-hangat tai ayam, udara bersih segar tanpa polusi, dan burung-burung yang bercicit-cuit…jadi…mengantuk *lhoh* wkwk… Sempet beristirahat di emperan rumah warga, dan menemukan anak cantik nan unyu-unyu, oh I’m falling in love~

Bocah unyu asli Karimun~ (lihat foto bocah2 unyu lainnya di sini)

Beberapa kali bertanya pada warga sekitar, semuanya menyebut Pantai Nirwana yang menjadi tujuan kami itu dekat. Tapi kok…nggak sampe-sampe yah…kami sudah melewati Nirwana Resort, tapi masih belum muncul juga penampakan pantai, sementara jalan makin berbukit-bukit, lumayan menguras tenaga ditambah lagi dengan sinar matahari yang mulai menyengat kulit, akhirnya kami menyerah dan beristirahat di pinggir jalan di depan ibu-ibu yang sedang memecah batu.

Nggak lama, datang sekelompok pemuda Karimun dalam mobil pick up yang akan mengambil batu-batu hasil keringat si ibu tadi. Mas-mas ini sangat ramah, dan mereka menawarkan seplastik buah mete yang sebelumnya mereka kumpulkan. Lho kok mete guedhe banget? Ternyata mete itu masih di dalam “cangkang”nya. Cara makannya gimana dong? Dibakar dulu ternyata. Seorang mas-mas dengan cekatan mengumpulkan daun-daun kering dan ranting dari sekitar, kemudian menyalakan api. Mete-mete itu ditumpuk begitu saja di atasnya. Mereka melarang kami pergi sebelum mencicipi mete bakar tersebut. Penasaran, kami pun memperhatikan dengan seksama. Eh, bener aja, buah mete yang awalnya berwarna coklat itu akhirnya jadi gosong. Lalu cara makannya? Ditumbuk dulu pake batu sampai “cangkang”nya pecah! Voila! Tampaklah mete panggang dengan warna coklat keemasan! Aromanya? Jangan ditanya…harum banget! Aaa…sungguh mete terenak yang pernah gw makan…*gratis pula ;p* Lucunya lagi, setelah selesai membakar  mete untuk kita, mereka malah pergi mengangkut batu, dan meninggalkan kami dengan mete-mete ini, hihi…jadi dimasakkin nih ceritanya 😀

Ladies and gentleman, please welcome…Mete Bakar asli Karimunjawa!

Puas ngemil mete di pinggir jalan, kami melanjutkan perjalanan. Di sinilah tragedi berdarah terjadi. Gw dengan pedenya meluncur di jalan yang curamnya kira-kira 60 derajat. Awalnya asik, kaya naek roller coaster gitu…pake tereak-tereak kegirangan…lama-lama…loh kok ngebut banget kaya terbang?! Loh kok nggak mungkin bisa ngerem?! Loh kok ujung jalannya belokan ke kanan?! Loh kok nggak mungkin bisa belok ke kanan?! Mampus Mak!! Mengikuti insting, sontak gw banting setir ke kiri (karena kanan jurang), menabrak pepohonan…widih…nerobos pohon deh gw, brak bruk brak bruk krosak krosak…serasa kaya di game gitu…dan berakhir dengan nyusruk muka mencium tanah. Hore! Sepeda njumpalit, pergelangan tangan kiri keseleo, muka, lengan dan kaki memar dan lecet-lecet. Siapa bilang dokter ngga bisa luka-luka? Dokter juga manusiaaaaa~

Udah nyusruk pun teteup eksis!

Okay. Udah luka-luka. Terus? (Gw musti bilang WOW?) Pulang? Nangis sama mama? Minta dijemput ambulans? Ya nggak lah yauw…hahaha…the show must go on, pokoknya harus nemu yang namanya Pantai Nirwana! Eh…bikernya udah semangat ’45 berkobar-kobar gini, malah sepedanya yang loyo. Bannya kempes dong, zzz…Dasar sepeda manja *tunjuk tunjuk* *tuding tuding*! Akhirnya perjalanan biking berubah menjadi walking…plus nuntun sepeda…Setelah melalui bukit-bukit dan lembah-lembah layaknya Ninja Hatori, sebuah view cantik menyambut kami…

Amazing view…nggak nyesel biking sampe nyusruk! 🙂 (dimuat juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Uuuuuuu…….~ Pergelangan tangan yang mulai membengkak cenat cenut layaknya anak ABG ditembak anak SM*SH pun jadi nggak begitu terasa nyeri…

Terus berjalan…berjalan…dan berjalan…

sampai akhirnya…kita disambut oleh pantai perawan yang…sungguh…sungguh…indah…

…yang ternyata BUKAN Pantai Nirwana. *gubrak*

Lha, terus pantai apa dong? Pantai yang lebih bagus dari Pantai Nirwana so pasti!

Penasaran penasaran? Ih kepo deh…Hehe. Nggak papa, pantai yang satu ini emang pantas dikepoin…Why? Cekidot di posting selanjutnya tentang pantai perawan di Karimunjawa…Pantai Legon Lele.

Day 1 – Touché Karimunjawa : berangkat backpacker bermodal nekat

Senja Karimunjawa

Karimunjawa. Tiga tahun gw tinggal di Semarang tanpa pernah mendengar nama pulau Karimunjawa. Ke mana ajah guweee… *officially (eks) gak gaol*. Finally gw berangkat ke Karimunjawa di satu siang yang terik di bulan September…cailah… Perjalanan ala backpacker ini dimulai dari Semarang, jam 5.30 pagi gw dan travelmate gw, Vivi, udah duduk cantik di dalam bus ekonomi Semarang-Jepara.  Bus ini hanya beroperasi dari jam 3 pagi sampai jam 5 sore. Kondisi di dalam bus sih sebetulnya oke, sayangnya kurang friendly buat bokong gw yang “agak” jumbo, hehe. Kalau duduk berdua, usahain duduk dekat jendela deh, soalnya kalau duduk di seat yang tepi jalan, lumayan juga sempit buat yang bertubuh bongsor, hehe…Meskipun di kebanyakan blog menyebut tarif bus ini 12rb, ternyata kita bayar 10rb si keneknya nggak protes tuh, mungkin karena kita keceh kali ya? *minta ditimpuk*.

Bus ekonomi Semarang-Jepara 10rb ajah.

Nggak kerasa 2 jam kemudian gw udah sampai di terminal Jepara. Dari sini gw naik becak, eh, bentor (becak motor) menuju pelabuhan Kartini. Seru juga naik bentor, tarifnya 15rb saja berdua. Ternyata jarak dari terminal ke pelabuhan lumayan jauh loh, kalo yang berbetis kuda silahkan berjalan kaki, hehe…

Oppa Gangnam is soooo yesterday! Now is Oppa Kangnam 😀

Sampai di pelabuhan Kartini, celingak celinguk, lha kok sepi banget? Emang sih weekday, hari Selasa getoh…orang-orang masih pada duduk manis di depan komputer kali ya…Sepanjang mata memandang yang tampak cuma bule, bule, dan bule. Uwow…asik nih ngeceng, hihi… O ya sebelumnya kami sudah booking tiket kapal Express Bahari via 0291-592999, atau yang butuh info lebih lanjut bisa buka di sini. Kalau mau berangkat ngeteng jangan lupa booking dulu ya, soalnya biasanya full booked, kalo go show bisa-bisa berenang sampe Karimun deh 😛 Harga tiket 84rb saja u/ kelas Eksekutif. Menurut gw sih fasilitas kapal ini udah oke banget, tempat duduk nyaman, dapet snack roti dan aqua, plus hiburan klip dangdutan di layar TV, hihihi…Seharusnya perjalanan menuju Karimun dengan Express Bahari hanya memakan waktu 2 jam. Sialnya, hari itu ternyata ada trouble, tali kapal tersangkut di kipas (???), jadilah keberangkatan ditunda sampai 2,5 jam, weleh, mana sebelumnya gw udah nenggak Antimo, jadilah gw teler dan tidur nonstop selama  4,5 jam di dalam kapal, muahahaha…untungnya, karena penumpang sedikit, kita “diusir” dari kelas Eksekutif C ke Eksekutif A yang ber-AC. Hore…lelaplah tidur gw, wkwkwk…tau-tau sampe di Dermaga Karimun dan gw tercengo-cengo melihat pulaunya yang ternyata jauh lebih besar dari yang gw bayangin. Gw kira Karimun itu paling sebesar Pulau Pramuka, ternyata jauh lebih gede…katanya sih dari ujung ke ujung kira-kira 37km…

Penampakan Kapal Express Bahari Karimunjawa

Inside Express Bahari Boat

Turun di dermaga, para bule sudah ditunggu oleh mobil jemputan. Oow, mereka pake agen tur rupanya. Gw dan Vivi yang ngeteng akhirnya berjalan random menuju kota, yang berjarak 1km dari dermaga. Sepanjang jalan banyak penginapan, dari Hotel sampai Homestay. Suasana sepi. Tampaknya memang bukan high season (ya iyalah, pan gw udah bilang kalo ini hari Selasa, hehe). Di tengah perjalanan, lagi celingak celinguk di depan salah satu penginapan, tiba-tiba kami dihampiri seorang bapak-bapak yang menawarkan penginapan dan jasa sharing tur laut harian. Namanya Bapak Rivai (082135318100). Wah boleh juga nih, pucuk dicinta ulam tiba, hehe…Setelah berkenalan dan tukar menukar nomor HP, kami melanjutkan perjalanan mencari penginapan yang disarankan Pak Rivai. Sayangnya kami nggak menemukan penginapan dia, malah menemukan warung makan, hyahahaha…Warung Bu Ester di Alun-Alun. Kalau yang suka blogwalking tentang Karimunjawa, pasti udah tau deh sohornya warung Bu Ester ini di antara backpackers. Lha gimana ndak sohor? Wong warung nasi rames yang ada di Alun-Alun cuma Warung Bu Ester, hahaha…makanannya murah, maknyus, jual bir pula, mantaps kan, jarang-jarang kan warteg jualan bir Bintang 😀

Puas mengisi perut dengan nasi rames seharga 8rb-11rb, akhirnya kami melanjutkan mencari penginapan, yang berakhir di Homestay Liandri. Nggak jauh dari Alun-Alun, rumahnya warna oranye, di depannya ada kursi-kursi dan meja tempat nongkrong beratapkan spanduk bir Bintang, nah kalo nemu rumah model begini, nggak salah dan nggak lain pasti deh Homestay Liandri. Hehe… Isinya ada 6 kamar, 1 kamarnya berisi springbed yang bisa memuat sampai 3 orang, fan, meja, kaca rias. Kamar mandi ada 2 biji di luar, ada kloset duduk dan jongkok, air di bak melimpah dan bersih. Disediakan aqua galon, kopi instan, gula dan teh all you can drink, dan seluruh fasillitas ini bisa Anda peroleh dengan harga 60rb/hari/kamar saja Saudara-Saudara! *PS : bukan kampanye berbayar*. Buat gw sih, recommended banget! Lokasinya strategis banget, ke Alun-Alun tinggal ngesot. Secara di Karimun ini pusat keramaian dan pemuas kelaparan ada di Alun-Alun semua. So, penting banget nginep di homestay yang deket Alun-Alun, hehehe…Saran gw sih mendingan jangan nginep di deket-deket  Dermaga, edan jauh cuy jalan ke dalem kotanya! Keburu kurus di jalan 😀

Kamar gw di Homestay LIandri. Clean!

Cerminnya lucuk!

Setelah melepas lelah dan mandi-mandi unyu, kami berjalan kliling-kliling kota, eh, desa, eh, pulau, hehe. Lumayan kaget juga sih dengan luasnya Karimunjawa ini. Dan baru tahu kalau ternyata ada konservasi Mangrove, camping area, dan bird watching area di sini. Jadi Karimunjawa nggak melulu wisata laut loh, tapi ada wisata daratnya juga, alias gunung. Olala~ Langsung deh kami merencanakan tur darat untuk keesokan harinya. Rencananya kami akan menyewa sepeda seharian  dan biking menyusuri bukit Karimunjawa, dengan tujuan akhir Pantai Nirwana, yang katanya sih cakep abis. Penasaran perjalanan biking kami yang ternyata menunjukkan view pantai Legon Lele yang lebih keceh dari “nirwana” ? Mau tau tentang nikmatnya ngemil mete bakar asli dari buahnya? Mau tau bahayanya biking di Karimunjawa? Mau tau aja atau mau tau banget??? 😀 Kalo mau tau banget boleh baca di sini.

Belum afdol kan kalau ke Karimun nggak berburu sunsetnya yang terkenal keceh? Ini dia hasil “perburuan” sunset di Karimun…diambil dari dermaga dan dari balik atap rumbia pondokan di belakang Pom bensin (enak nih leyeh-leyeh gratis di pondokan ini sambil nunggu sunset!)

Sunset Karimunjawa dari bawah atap rumbia

Sunset Karimunjawa numero uno

Sesungguhnya perjalanan ini kami cuma modal nekat. Mau ikut trip tur, kok jadwalnya nggak ada yang cocok. Mau ikut tur berdua aja, rasanya berat di kantong. Mau mengumpulkan massa, kok ndak ada yang bisa (ya iyalah ngumpulin massanya H-7 keberangkatan ;p). Setelah blogwalking, ternyata ada juga tuh yang ikut tur laut harian. Ya udah, nekat aja, berharap dapet kenalan baru di Karimun yang bisa “ditebengi” tur laut, hehe. Eh ternyata cewek cantik emg rejekinya nggak kemana *minta ditimpuk lagi*, untung ketemu Pak Rivai yang langsung menawarkan tebengan tur laut harian dengan harga 100rb/orang/hari, hihi…baik banget lho bapak ini…kalo mau ke Karimun bisa deh kontak beliau *lagi-lagi bukan kampanye berbayar*. 🙂