Private Backpack(er) Trip to Kepulauan Seribu : Snorkeling and Island Hopping

Why backpack(er) trip? Because it’s not a backpacker trip at all. Hehe…actually, it’s kinda a private trip. Only me and my sister. Yes, unfortunately, meskipun gw hanya membawa sebuah backpack, bukan berarti perjalanan ke Kepulauan Seribu ini sebuah perjalanan backpacker seperti trip-trip sebelumnya.

Somehow, private trip memberi kenikmatan tersendiri buat gw. Yes, together can be fun, but, sometimes I just need a silent and peace moment, so I can really enjoy the beauty of nature, with less talk and more reflecting and visualizing.

Perjalanan dimulai di pagi hari di bulan Agustus, pukul 6 pagi dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta. FYI, saat ini telah disediakan kapal-kapal baru menuju Kep.Seribu, salah satunya KM Lumba-Lumba ini. Harga tiketnya Rp 31.000, tapi sebaiknya bergegas antri dari pukul 5 atau 6 pagi, karena seat KM Lumba-Lumba ini terbatas, hanya memuat sekitar 50 org saja.

Jakarta Sunrise from Kali Adem, Muara Angke

Perjalanan selama 3 jam berlangsung tidak mulus, karena ombak sedang besar dan akhirnya gw sukses muntah-muntah di jalan, hehe… *cupu*. Sesampainya di Pulau Pramuka, kami langsung diantar ke Penginapan Family, yang ternyata kamarnya sangat besar, terdiri dari 2 King Bed plus 1 kasur busa tambahan, hahaha…ini sih muat 8 orang kayaknya. Overall kamar dan kamar mandinya cukup bersih, AC dan listrik nyala 24 jam, hehe, nice

Siang itu kami langsung diajak snorkeling dan island hopping. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Semak Daun. Sayangnya di pulau ini ada sekelompok om-om yang mengejek kami sesampainya di  sana, karena kami menggunakan life jacket saat snorkeling. Okay…cukup membuat kami berdua bete dan males berleyeh-leyeh di sana, akhirnya setelah berenang dan latihan snorkeling sebentar kami segera cabut dari pulau itu menuju spot snorkeling pertama. O ya, jangan lupa membayar “uang mampir” ke penjaga pulau ini sebesar Rp 10.000, coz katanya sih ini pulau pribadi gitu, jadi kalo mau mampir ya kudu bayar ke penjaganya, sigh, tajir gila yang punya pulau ini, hehe…

Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

Snorkeling pertama di sekitar Pulau Semak Daun berlangsung sukses. Karang-karangnya sangat cantik, mayoritas terdiri dari hard coral yang berukuran gigantic, dan airnya pun masih jernih sehingga viewnya luas dan dalam. Sayang ikan-ikannya banyak yang ngumpet, plus gw lupa bawa roti untuk makanan ikan, hehe…tapi karang dan ikannya cukup bervariasi, dan jauh lebih bagus daripada pemandangan bawah laut PhiPhi Island. Thanks God Indonesia begitu indah… ^^

Spot snorkeling kedua di Coral Reef juga cukup menarik, di sini selain hard coral juga ditemukan banyak soft coral salah satunya mushroom coral yang sangat menarik, hijau dan “tampak” lembut. Ikan-ikannya lebih berwarna-warni dan bervariasi, nggak rugi banget deh…berasa Spongebob pokoknya 😀 Sayangnya gw nggak ngerti nama-nama karang dan ikannya, coba kalo ngerti, asik kali ya…jadi semangat pengen baca Marine Atlas nih, hehe…

Setelah puas snorkeling, kami mampir ke Pulau Air, dan…Great Lord, indah banget! Can’t describe it precisely by word, please just take a look at these pictures :

“Sungai” yang mengagumkan, Pulau Air, Kepulauan Seribu

After a short heaven trip through this “river”, finally we arrived…

Pulau Air, Kepulauan Seribu, such a perfect beach for relax and swim

Mengintip salah satu sudut Pulau Air, Kepulauan Seribu

Beneran ya, indah banget dan berhubung di satu pulau ini hanya ada gw dan adik gw, bener-bener serasa pulau pribadi!

Puas berfoto-foto narsis ala model kalender swimsuit di Pulau Air, kami dibawa Mas Galang (driver kapal) ke Pulau Nusa Keramba. Di sini ada sebuah restoran bernama sama, menyediakan berbagai macam makanan dan minuman termasuk beer, tetapi harganya cukup mahal. Kami pesan 1 porsi mie kuah seafood dan 1 gelas coklat panas seharga Rp 50.000,- *sigh*

Pulau Nusa Keramba, Kepulauan Seribu

Best time untuk mengunjungi restoran ini mungkin saat malam hari. Konon banyak yang nongkrong menghabiskan malam di sini, untuk sekadar ngumpul-ngumpul atau nge-beer. Untuk mencapai pulau ini dari Pulau Pramuka bisa menggunakan ojek kapal. Selain restoran, di Pulau Nusa Keramba ini juga terdapat penangkaran ikan hiu, sayang kurang luas dan kurang banyak hiunya, hehe.

Sekitar jam 5 sore, kami “dipulangkan” ke Pulau Pramuka. Setelah mandi-mandi cantik dan nongkrong ngopi di warung Indomi terdekat, gw pun berburu sunset di tepi dermaga Pulau Pramuka. Di tepi dermaga ada juga beberapa orang yang asyik memancing. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara adzan dari masjid dan sayup-sayup suara air laut di kejauhan…

Sunset Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

 

Hari kedua. Setelah melalui malam yang nyaman, kami memulai hari kedua dengan island hopping. Kali ini ombak di lautan lebih besar dibanding kemarin, kapal kami pun terombang ambing ala kora-kora *lebay*, seru sih, tapi lumayan deg-degan juga, hihi…untungnya Mas Galang sangat ahli dalam membawa kapalnya.

Destinasi pertama. Pulau Air Kecil. Sungguh gw amat terpana. Speechless. Ini pantai terindah yang pernah gw kunjungi dalam hidup gw. Beneran nggak pake lebay. Gimana nggak? Airnya biru jernih, pasirnya putih bersih dan diapit oleh 2 lautan di kanan kirinya. Jadi Pulau Air Kecil ini sebenarnya hanya merupakan gundukan pasir saja. Tanpa tanaman, tanpa rumah huni, hanya dua buah pondok bambu yang tertancap di pasir. Menambah keeksotisannya.

Gw berpikir…damn, kok mirip sama foto-foto pantai di Maldives? Argh, gw mau gila rasanya saking terpesona, senang, dan bersyukur atas cantiknya pemandangan yang gw lihat hari ini.

Our ship and our guide, Mas Galang, landed at Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu

Pondok kecil di Pulau Air Kecil, menambah keeksotisannya…

Keunikan Pulau Air Kecil. Pasir pantai yang diapit oleh dua lautan…

Can I just sit there and do nothing all day long?

Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu. How Stunning!

f

Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu. The best beach I ever see so far!

Oh ya, di tepi pantai, tiba-tiba gw menemukan seekor sea urchin yang nyasar…berenang-renang sendirian di air yang jernih ini, hehe…where’s your mama??? 😀 Baru kali ini liat sea urchin yang terasing gini…biasanya dia ngumpet di deket-deket karang, semacam “ranjau” aja, hehe…

Sea Urchin yang Terasingkan *bukan judul sinetron* 😛

Sekali lagi gw pun bernarsis-narsis ria dengan berbagai pose Miyabi *bhahahahak!* di pulau ini, setelah puas, meskipun nggak rela, akhirnya kami harus pergi, hiks…Oya, kata Mas Galang, dulu Pulau Air Kecil ini cukup luas, kumplit dengan pepohonannya juga, tapi karena ombak laut yang semakin lama makin tinggi, akhirnya pulau ini tergerus sampai akhirnya menjadi gundukan pasir saja. Waduh, jangan sampai tempat ini hilang deh, I want to come back here someday

Spot snorkeling pertama hari ini di sekitar Pulau Air. And…what can I say? This is the best snorkeling spot ever! Airnya jernih bener-bener bening dan dengan diterangi sinar matahari, gw merasa seperti berenang di dalam aquarium. Coral di sini bener-bener beraneka ragam, dan warna warninya masih bener-bener terjaga, hampir nggak nemu coral yang udah bleached. Gw nemu blue starfish, makhluk ungu terang datar berduri yang gw nggak tau namanya (hahaha, nah loh?), siput laut yang masih hidup (ada mata dan kumisnya! *ndeso*), angelfish, butterflyfish, clowfish, long black tail sea urchin, etc…hehe, ndak tau namanya sih 😦 Kalau coral-coralnya antara lain : brain coral, tabletop coral, mushroom coral, staghorn coral, pillar coral, great star coral, elegance coral, torch coral, dst…hehe.

Pokoke…snorkeling di Pulau Air…numero uno!

Selanjutnya kami diajak snorkeling di kawasan APL (Area Perlindungan Laut), sayang ombak sedang besar, sehingga kami nggak bisa turun di spot bagus deh, hiks. Mas Galang menurunkan kami di “ladang rumput laut”, hehe…jadi di spot kedua ini selain coral, banyak juga tanaman tipis transparan berbentuk buket bunga gitu. Argh…andai gw tau apa namanya, sampe botak gw browsing di internet nggak nemu, hehe. Nanti deh kalo nemu namanya gw update lagi, hehe. Gini nih nasib kaga punya kamera underwater…hehe. Someday I’ll buy one! 😀

After snorkeling, kami dimampirkan ke Pulau Karya. Pulau ini bagian belakangnya kuburan. So, nggak usah dieksplor deh, cukup pantai nya aja, hehe. Pantainya bersih, nggak ada orang sama sekali saat itu, meskipun nggak secantik Pulau Air, tapi tetep aja cantik, hehe. Uniknya, ada bongkahan-bongkahan logam berukuran 1,5×1 meter yang tersebar di pantainya, sampai sudah berlumut. Mungkin dari kapal yang karamkah? Hehe, mystery still unsolved.

Pulau Karya, Kepulauan Seribu. Lihat bongkahan logam di tepi pantai. Apa ini? Apa itu?

Pulau Karya pun mengakhiri island hopping tour kami di Kepulauan Seribu. Masih banyak pulau-pulau yang masih pengen gw datangin, kaya Pulau Harapan, Pulau Kotok, Pulau Sepa, Pulau Putri, Pulau Pari…argh…someday! Sekarang saatnya kembali ke basecamp kami di Pulau Pramuka. Sisa hari kami habiskan dengan nongkrong ngopi di warung Indomi dan berjalan-jalan mengelilingi pulau.

Pulau Pramuka ini memang berfungsi sebagai tempat transit menuju ke pulau-pulau sekitarnya. Dan sebagai pusat administrasi, berbagai fasilitas tersedia di Pulau Pramuka, seperti rumah sakit (keren loh RSnya, ada Hyperbaric chambernya!), sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan. So, kalau pengen island hopping ke pulau-pulau tadi, lebih baik stay di Pulau Pramuka, kecuali Anda berminat untuk kemping di salah satu pulau tadi, monggo…seru juga sepertinya 🙂

Hari ketiga. Pagi ini dihabiskan dengan bersepeda keliling pulau dan melihat penangkaran penyu sisik. Seru juga bersepeda keliling pulau, menyusuri tepi Pulau Pramuka dengan hanya ditemani suara lembut ombak dan angin sepoi-sepoi…

Cute blue bicycle. Clear blue sky. Cool trip.

Tak terasa waktu berjalan cepat. Jam 12 siang kami sudah berada di dermaga untuk kembali ke Jakarta. Sayonara Kepulauan Seribu, gw pasti akan kembali menjelajahimu, someday, someday

PS : Selama 3 hari 2 malam gw menggunakan jasa private tour dari Pak Hermanto (+628138147529, pin BB : 323DFDC9), owner Penginapan Family di Pulau Pramuka.

Untuk private tour 2 orang, perorangnya dikenakan biaya Rp 800.000,- all ininclude : tiket kapal KM Lumba-Lumba pp Muara Angke-P.Pramuka, penginapan AC, makan 3x/hari, sewa kapal private 2 hari all day, snorkeling 6 kali, mengunjungi pulau-pulau di sekitar Pulau Pramuka (Pulau Semak Daun, Coral Reef, Pulau Air, Pulau Air Kecil, Pulau Nusa Keramba, Pulau Karya, APL). Is that worth it? Yes it is.

 

 

 

 

 

Happy reading, happy travelling, happy life~

Advertisements

Day 6 – PhiPhi Island Tour

Save the best for last. Ya, acara terakhir kami di Phuket adalah island hopping ke KoPhiPhi. Belum pernah dengar??? Ah masa…hehe. Tontonlah film The Beach yang dimainkan oleh Leonardo di Caprio. Sesuai dengan judulnya, Anda akan dibuat terkesima dengan pemandangan pantai yang menjadi lokasi syuting film tersebut. Judul The Beach saja sudah cukup untuk menggambarkan isi film yang membuat kepulauan di Thailand Selatan menjadi nge-hits sampai sekarang. KoPhiPhi. Merupakan gugusan kepulauan kecil di dekat Phuket, yang berada di Laut Andaman nan cantik. Dalam film, pantai di KoPhiPhi digambarkan sangat bersih, air berwarna biru muda nyaris transparan, dan pasir pantai yang putih dan empuk. Siapa saja yang menonton film ini pasti akan jatuh cinta #yakin. Kecuali Anda phobia air. Hehe. So, inilah destinasi kami hari ini. KoPhiPhi.

Untuk pergi ke KoPhiPhi kami mengikuti tour dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dengan harga 1250 THB untuk tour dengan menggunakan speed boat. Ada juga tour yang menggunakan long tail boat, tapi dari hasil browsing sebelum berangkat, ternyata disarankan untuk menggunakan speed boat saja, karena : waktu tempuh lebih singkat, sehingga lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi, kesempatan snorkeling lebih lama, dan bisa mampir ke Maya Bay (long tail boat seperti yang gw naikkin di tour James Bond sebelumnya nggak bisa berlabuh di Maya Bay). Rugi banget nggak bisa main-main di Maya Bay, karena inilah main attraction dari tour KoPhiPhi ini.

Kami dijemput di hotel jam 8 pagi, dan menempuh perjalanan singkat menuju pelabuhan. Sama seperti tour James  Bond, sebelumnya kami diberi tali pengenal yang diikatkan di pergelangan tangan. Kali itu talinya berwarna biru. Jangan sampai tali ini hilang. Seperti kata tour guide kami kali itu, “If you lost it, we’ll lose you”. Karena begitu tenarnya KoPhiPhi ini, turis-turis yang datang pun membludak, dan mereka menggunakan agen tur yang berbeda-beda sehingga penting sekali untuk menjaga tali pengenal jangan sampai hilang, terutama saat snorkeling. Selain itu, penting juga untuk mengenali wajah-wajah teman satu tur, hehe…beneran, crowded banget di sana, dan tentu saja keindahan pantainya bikin lupa waktu, salah-salah kalau keasikan dan “hilang”, bakal malu banget dan bikin kesal peserta tur lainnya (it happens!).

Yang bikin gw terkesan dari Thailand, sekali lagi, adalah keramahtamahannya. Nggak salah kalau Thaland dijuluki Land of Thousands Smile. Tour guide kami kali ini, Eddy, beserta kru-krunya sangat ramah, profesional, dan sering melemparkan joke-joke yang membuat suasana jadi hidup. Perjalanan dengan speed boat pun tidak begitu terasa boring. Meskipun begitu, sayang sekali antara peserta satu dan yang lainnya tidak begitu membaur, hehe, apa bule-bule memang bawaannya cuek yah? Hm…Kami sendiri…dengan keterbatasan bahasa…nggak berani ngajak ngobrol bule-bule itu, hikssss….sebenernya belajar teori Bahasa Inggris dari TK sampai kuliah itu percuma ya kalau jarang dipraktekkan, huhuhu…atau mungkin karena kami bertiga pemalu kali ya, hihi…malu-malu kucing. Harus disenggol dulu baru keluar taringnya, jiahahaha… XD

Pemandangan menuju KoPhiPhi sendiri sungguh amazing. Berbeda dengan pemandangan di PhaNga Bay sebelumnya, air di laut Andaman ini lebih jernih. Warnanya biru muda sampai biru toska yang sangat jernih. Sungguh hati ini berdebar rasanya…pengen langsung “plung” dan menjadi Deni si Manusia Ikan. Hehehe…Sayang sekali cuaca hari itu kurang bersahabat. Langit mendung kelabu. Tapi serunya, gara-gara itu, gw ngalamin hujan-hujanan di dalam speed boat. Seru banget! Berhubung gw duduk di ujung belakang, habis deh kena semprot hujan yang mengguyur kami cukup deras di tengah laut. Dan kapal kami pun terombang-ambing heboh di tengah ombak yang saat itu cukup besar. Seru!!! O ya sebelumnya tiap peserta sudah disodori obat anti mabok, Dimenhidrinat (kalau di Indonesia terkenal dengan nama Antimo), dan gw udah minum 1 biji, so, nggak kerasa mabok sama sekali sih. Entah deh kalo nggak makan obat itu sebelumnya, hehehe…Puas dicuci hujan selama kurang lebih 15 menit, kami pun sampai ke tujuan pertama, yaitu Viking Cave. Viking Cave ini dinamakan demikian karena di dalam gua terdapat lukisan-lukisan tangan yang dibuat oleh bangsa Viking (ini kalau gw nggak salah menerjemahkan penjelasan si Eddy ya, :P). Dan di dalamnya terdapat sarang burung walet yang ajubileh mahalnya itu…sayangnya, ternyata Viking Cave ini sudah menjadi hak milik bangsa Cina (entah Cina mana yang dimaksud). So, kita nggak boleh memasuki gua ini, hanya boleh lewat saja melihat dari depan. Di film The Beach sendiri sepertinya Viking Cave ini ikut disyuting, dan Leonardo di Caprio saat itu berada di dalamnya. Entah ya saat itu Viking Cave ini masih kepunyaan Thailand atau sudah jadi hak milik Cina…

Kami hanya mampir di depan Viking Cave sekitar 10 menit, kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah laguna yang luar biasa cantik. Subhanallah…hanya itu kata-kata yang terngiang-ngiang di kepala gw. Padahal gw bukan muslim, tapi entah kenapa kata itulah yang paling tepat menggambarkan keindahan laguna ini. Airnya berwarna biru toska, begitu tenang dan bersih. Dikelilingi tebing-tebing hijau yang cantik. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Yang lebih luar biasanya lagi, kami dipersilahkan untuk berenang sepuasnya di laguna ini, selama  sekitar 15-20 menit. Tanpa babibu, gw langsung copot tanktop gw, eits…pake baju renang kok, gak bugil, hehe, dan menyemplung ria ke dalam laguna!!! Aaaaaaa….beneran campur aduk rasanya. Berenang di air laut sejernih dan seindah itu, ditambah pemandangan langit dan hijaunya tebing-tebing yang mencuat di sekitarnya. Berenang gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, semua gw jabanin, hehe…laguna itu dalamnya sekitar 10 meter, so don’t worry…asal punya skill renang standar, gak akan tenggelam. Masih khawatir? Tenang…disediakan pelampung untuk yang takut tenggelam, hehe…gw sih cuek aja, kaga pake pelampung-pelampungan. Bodo amat, air laut sudah memanggil-manggil gw kaya Siren yang bernyanyi manggil-manggil para nelayan yang tersesat (apa sih?? Hehe…). Okay. Gw euforia. Hehe…

Phiphi lagoon

Rasanya waktu cepet banget berlalu. Gw masih belum puas berenang-renang cantik di laguna surga itu, tapi sayang si Eddy udah teriak-teriak  mengumpulkan peserta. Huhu… O ya saat kami naik ke atas boat, abang-abang kapal dengan baik hatinya memotret kami bertiga. Inilah tampang gw post-euforia first experience berenang di laut. Hehe.

Post swimming @Lagoon

Puas berenang-renang, selanjutnya kami dibawa ke Maya Bay. Ya, inilah “permata” PhiPhi Island. Lokasi syuting utama dari film The Beach pun diambil di Maya Bay ini. Ya, memang keindahan Maya Bay ini tak tertandingi. Gw belum pernah lihat pantai dan air sebagus itu seumur hidup gw. Mungkin suatu saat gw bisa menemukan pantai lain yang lebih bagus (*Amin*), tapi sampai saat ini, Maya Bay lah pantai terindah yang pernah gw kunjungi. Airnya biru muda nyaris transparan, pasirnya putih agak kasar dengan pecahan-pecahan kerang yang berukuran sedang. Pantai ini menghadap tepat ke perairan Laut Andaman dan dikelilingi bukit-bukit yang indah, sehingga seolah-olah tersembunyi di antara pulau-pulau di KoPhiPhi. Ya, jika surga itu ada, gw berharap surga seindah pantai Maya Bay ini…Sayang sekali, “surga” ini sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Begitu tersohornya Maya Bay ini, sehingga turis-turis pun berjubel mengisi pantai kecil ini. Yah, ada gula ada semut memang. Inilah yang menodai keindahan Maya Bay. Padahal di film The Beach, pantai ini diperlihatkan kosong. Hehe…Bang Leonardo dan pacarnya dalam film itu tampak berenang bebas berdua memonopoli pantai ini. Ah…andai… (mikir apa hayooooo….? Hehe.)

Blue water @Maya Bay

Pada pose cantik semua. XD

Hihi…narsis…

Lihat bapak-bapak di belakang…mau renang apa mau nanem sawah? *caping is the new trend?* Hihi…

Maya Bay dari jauh. Orang-orang berjubel kaya ikan sarden.

Maya Bay sangat indah, sayang harus berbagi dengan ratusan orang yang juga ingin menikmati keindahannya…

Dengan berat hati kami meninggalkan Maya Bay untuk menuju ke Monkey Cave. Tak jauh dari Maya Bay, terdapat pantai kecil yang dihuni oleh monyet. Di speed boat, Eddy sudah mewanti-wanti kami untuk berhati-hati menjaga barang bawaan, karena monyet-monyet ini suka sekali menjambret barang-barang pengunjung. Gw pun urung membawa kamera turun, sayang banget kalau kamera gw satu-satunya ini sampe raib, hehe. Tapi gw sempat mengambil beberapa foto kok, ini salah satunya :

PhiPhi Monkey Cave

Berhubung gw udah pernah ke Sangeh Bali, gw nggak begitu antusias dengan Monkey Cave ini. Monyetnya kecil-kecil, nggak seseram yang ada di Bali, dan jumlahnya pun sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah monyet yang saya temui di Sangeh. Ya tapi uniknya sih karena monyet-monyet ini bertengger di hutan pinggir pantai aja kali ya. Di sini turis-turis bisa memberi makan si monyet dengan roti. Menurut gw sih mereka tampak jinak. Jauh lah sama monyet-monyet seram yang ada di Sangeh. Atau mungkin yang gw temui saat di Monkey Cave ini baru “anak-anak buahnya” aja kali ya, masih culun-culun, hehehe… Kalau mau puas berbaur dengan monyet sih gw saranin ke Sangeh aja. Nampol banget tuh di sana. Monyetnya ribuan, dari yang kepala suku sampai orok monyet tumplek jadi satu…kali aja nemu saudara tua kita di sana, hihihi…

Setelah menghabiskan 15-20 menit di Monkey Cave, selanjutnya speed boat membawa kami ke spot snorkeling. This is my first time snorkeling!!! *excited*. Di tengah laut boat berhenti, dan kami diminta memakai fin masing-masing. Oya, untuk fin ini ada biaya sewanya lho, sebesar 100 THB. Penting sekali untuk menggunakan fin selama snorkeling, karena di bawah lau banyak “ranjau-ranjau” berduri berupa Sea Urchin. Alias Landak Laut. Alias Bulu Babi. Ini nih gambarnya :

Long Spined Black Sea Urchin

Nah, nggak mau kan ketusuk sama duri-durinya? Efeknya bisa luka tusuk ringan, sampai reaksi alergi yang membahayakan nyawa. Bervariasi tiap orang. Gimana cara mengatasi luka tusuk sea urchin? Udah gw bahas di postingan gw sebelumnya, saat gw ke PhaNga Bay. Traditional way : urine (?), cuka. Modern way : debridement (pembersihan luka), salep Antibiotik+Kortikosteroid, obat Anti Alergi, kalau berat bisa ditambah tablet Kortikosteroid. Hati-hati karena ada yang namanya reaksi anafilaktik, yaitu reaksi alergi terhadap suatu alergen (bisa dari makanan seperti ikan, seafood, obat, sengatan hewan seperti lebah, ubur-ubur, dan bisa juga dari tusukan sea urchin ini, so, beware!).

Okay, kembali ke snorkeling. Hehe. Ini pengalaman pertama gw. Tapi karena gw udah pernah ikut kelas Diving sebelumnya waktu mahasiswa, gw yakin everything will be fine. So, “PLUNG”, dan…lagi-lagi…gw cuma bisa berkata Puji Tuhan dalam hati. Sungguh. Akhirnya gw bisa melihat dunia bawah laut, koral-koral yang beraneka ukuran, dari yang kecil sampai raksasa. Sekelompok ikan berenang-renang menghampiri, beraneka warna, langsung di depan mata bukan di akuarium air laut seperti yang udah sering gw liat di toko-toko ikan. Kenapa ikan laut warnanya begitu amazing ya, Tuhan memang keren… Sayang sekali gw nggak menemukan coral warna-warni, pemandangan didominasi oleh hard coral, tapi tetep keren kok, at least for my first time. Saat itu cuaca mendung, air berombak cukup besar, dan pemandangan di bawah air nggak bisa dibilang jernih-jernih amat. Tapi gw enjoy banget sih, meskipun karena parno gw jadi sering banget nongol ke atas air, takut hilang, hihi… Kesan?? Gw ketagihan!!!! Gw jadi pengen snorkeling lagi di tempat-tempat lain, Lombok, Karimunjawa, Bunaken, Derawan…ah…semua tempat itu belum gw jamah, tapi semoga gw bisa, suatu saat, amin! Btw, yang melintas di kepala gw saat snorkeling adalah : Horeeee…akhirnya gw bisa ngerasain jadi Spongebob! Okay, that was a weird thought. But it was mine. Hahaha…..!

Empat puluh menit yang berharga itu pun akhirnya berakhir. Gw pun kembali ke kapal dengan perasaan campur aduk. Senang, kecewa karena belum puas, dan ketagihan…sayang sudah waktunya makan siang. Kami pun dibawa ke PhiPhiDon untuk makan siang prasmanan dengan menu standar buffet kaya di kondangan, tapi enak kok! Puas-puasin aja makannya biar nggak rugi, hehehe…Sayang menunya bukan lobster dan aneka seafood seperti yang gw harapkan.

Beres maksi, kami menuju ke destinasi terakhir, yaitu Khai Island. Di sini kami dilepas bebas (emang lu kira hewan piaraan? Hehe) untuk snorkeling, bersantai di pantai, duduk-duduk, dan minum cocktail. Kami sih jelas memilih yang pertama. Hehe…Di pantai ini, kita sudah bisa langsung snorkeling dari pinggir pantai. Mulai jarak sekitar 5 meter dari tepi pantai, sudah ditemukan koral-koral dan ikan-ikan yang cantik. Kami membawa roti tawar seharga 50 THB yang dibagikan Eddy. Begitu roti tawar disodorkan, langsung gw diserbu segerombolan ikan-ikan cantik itu. Ah…rasanya geli-geli gimanaaaaa gitu. Senangnya…gw pun berenang makin menjauh dari tepi pantai. Makin ke tengah laut coral-coralnya makin indah dan bervariasi, begitu juga dengan ikan-ikannya. Cantik sekali. Cuma itu yang bisa saya katakan karena saya nggak ngerti nama-nama ikannya apa saja, hihi…yang jelas cantik…tapi jangan salah, makin ke tengah, ranjau sea urchin pun makin banyak, tak hanya satu atau dua, melainkan bergerombol di bawah coral, hiiiiiyyy…rada takut juga. Apalagi perairan di sini sangat dangkal sehingga bisa dengan mudah tertusuk. Ah…sea urchin…kau begitu berguna bagi ekosistem laut, sayang tidak menguntungkan bagi gw yang parnoan, hehe…

Langit Phuket dari Khai Island

( Tertarik dengan foto-foto perjalanan bertema “Colour”? Buka deh di sini)

Post Snorkeling @Khai Island

Sisa waktu pun gw habiskan di Khai Island untuk snorkeling dan jalan-jalan sebentar di tepi pantai. Tak lama, kami pun dipanggil-panggil oleh Eddy…tur yang indah ini pun berakhir…Good Bye PhiPhi Island…I will never forget this beautiful memories…kecuali gw kena Alzheimer *amit2*.