Serba Minimalis di Pulau Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Selemparan batu dari Tanjung Bira, ada Pulau Liukang Loe.

…okay, nggak selemparan batu juga sih, tapi 15-30 menit dengan speed boat, hehe. Pagi itu gw terbangun dengan semangat muda mudi angkatan ’45. Lupakan sejenak semangat muda-mudi angkatan millenia, yang tiap pagi harus memencet tombol snooze sampe 20 kali baru bangkit dari kasur, sambil nggerundel pula. “Udah hari Senin lagi? Kenapa gw harus ngantor? Kenapaaa????”. Ya, kira-kira begitulah semangat muda-mudi milenia. Tapi hari ini berbeda. Gw terbangun di sebuah penginapan melati Tanjung Bira. Di atas kasur yang setipis roti tawar dilipet dua. Badan pegel-pegel, tapi euforia semalam mengalahkan rasa linu-linu yang menghinggapi pinggang. Hari ini gw mau snorkeling!! Yeay! 😀

Kapan terakhir kali gw snorkeling, gw aja sampe lupa saking lamanya. Begitu kangennya gw sama hard, soft coral dan ikan laut yang berwarna-warni. Begitu kangennya gw nyemplung basah ke laut dan berkecipak-kecipuk ria dengan gaya ala putri ikan duyung. Begitu kangennya gw dengan rasa bebas tanpa komitmen saat berenang di air asin. Intinya, gw kangen!! Deal pun dibuat dengan pemilik penginapan, Pak Riswan. Sejatinya, tarif untuk sewa kapal dan snorkeling ke Pulau Liukang Loe ini fix sebesar 250rb. Kapasitas speed boat bisa menampung sekitar 6-8 orang, nah lumayan murah kan kalau sewanya ramean. Bisa juga sih ber-duabelas kalau mau tenggelam. Sialnya, saat itu gw traveling di bulan Ramadan, otomatis pengunjung sedikit, dan bule-bule yang satu penginapan dengan gw nggak ada satupun yang mau pergi ke Liukang Loe hari itu. Pak Riswan pun sempet ngider berkeliling Tanjung Bira menawarkan jasa one night stand day tour ini, tapi dasarnya apes, nggak ada yang mau pake dia hari itu. Ya sutralah, akhirnya dengan jumlah personil yang amat minimalis, sekitar pukul 11 gw berdua dengan travelmate gw pun cuss berangkat dari tepi Pantai Tanjung Bira yang terkenal dengan pasirnya yang sehalus bedak itu.

Speed boat kami penampilannya cukup oke, masih tampak baru, kokoh, dan kinclong. Tapi kok…nggg… nggak tampak tanda-tanda life vest ya?? Bujubuset. Ternyata life vest nya bayar lagi sodara-sodara. Mana kami juga udah nggak sewa fins (karena nambah lagi 15rb -.-), sekarang nggak ada life vest-nya pula. Okesip. Dengan peralatan amat minimalis (modal google mask doang) kami pun pantang mundur. Berangkat cyiinn… Langit tampak cerah hari itu. Tak tampak awan hitam bergulung. Ombak pun tampak jinak-jinak merpati. Eh tapi, malah abang supir kapal kami yang tidak jinak. Gw yakin si abang ini mungkin sudah berpengalaman lebih dari ratusan kali bolak-balik Tanjung Bira-Liukang Loe. Dari kecepatannya membawa kapal dan meliuk-liuknya, dia terbukti amat sangat mahir. Diibaratkan versi lautnya Fast Furious dah. Lah gw sih seneng-seneng aja, ngerasain muka gw keciprat-ciprat air laut sepanjang jalan, tapi ya tetep aja dag dig dug ser mah ada ya. Gw nggak mau kan nasib gw kaya di film Titanic gitu (serah lo deh!).

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja "Don't stop" :P

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja “Don’t stop” 😛

Dari kejauhan sudah tampak Pulau Liukang Loe yang memanggil-manggil. Tapi sebelum berlabuh di Pulau Liukang Loe, kami diturunkan dulu di G spot snorkeling pertama, nggak jauh dari tepi pulau. First impression? Rada kecewa sih karena penampakan coral-nya tampak biasa aja. Memang, visibility-nya clear, kira-kira sampai 5-7 meter. Tapi tampak beberapa gugusan coral yang sudah rusak. Memang, dari riwayatnya, perairan Sulawesi Selatan pernah mengalami fish-bombing yang cukup parah. Selain gugusan coral yang tidak terlalu menggairahkan, spot tempat kami diturunkan juga sangat dangkal. Masih terlalu dekat dengan tepi pantai. Gw pribadi lebih suka snorkeling di tempat yang agak dalam. Saat mengutarakan keinginan gw ini kepada si abang Fast Furious, lha dia tampaknya tidak mengerti. Bahasa Indonesianya memang masih agak kurang lancar, dan gw nggak bisa ngomong bahasa Makassar sama sekali. Yowis, intinya si abang “kekeuh” kalau spot snorkelingnya nggak bisa pindah-pindah lagi. Kecuali kami mau ke Pulau Kambing, di sana lebih dalam dan ikannya lebih besar-besar, katanya. Sebetulnya gw pengen banget, tapi kata si abang, Pulau Kambing jauh, nggak bisa sekarang. Huhuhu banget. Untungnya beberapa kali gw menemukan penampakan ikan yang ukurannya besar-besar, salah satunya ikan kudu-kudu. Yah lumayan menghibur di tengah pemandangan minimalis saat itu.

Cukup puas snorkeling sesi pertama, gw pun berenang menuju tepian pantai Pulau Liukang Loe. Pantainya sangat bersih, belum nampak tanda-tanda kontaminasi sampah. Pasirnya putih agak keemasan, teksturnya halus tapi tidak sehalus pasir di Pantai Tanjung Bira. Beberapa kapal ditambatkan di tepian, kosong. Tampaknya memang hanya sedikit pengunjung di hari itu. Gw pun berjalan-jalan mengelilingi pulau yang cenderung masih agak sepi. Hanya tampak beberapa rumah, kondisinya pun tidak bisa dibilang bagus, beberapa tampak reyot. Kabarnya hanya ada satu dua penginapan, harganya lebih murah dibanding kawasan Tanjung Bira. Namun sayangnya, di Liukang Loe ini hanya ada satu warung makan. Dan, di warung makan ini, hanya bisa memesan satu macam paket makanan, yang sama untuk semua pengunjung. Paket makanan ini terdiri dari nasi satu bakul, ikan bakar 2 buah, sayur sop satu mangkok besar, dan kerupuk. Untuk makanan yang sangat minimalis ini gw harus merogoh kocek 35rb/orangnya. Isshh… Saran gw sih mending bawa bekal aja deh, terus makan di pinggir pantai noh lebih puas kayanya.

Di tengah Liukang Loe

Di tengah Liukang Loe

Lagi-lagi, seperti juga di Tanjung Bira, saat itu yang tampak hanya turis bule. Mereka tampak santai berbaring tidak bugil di bawah pohon di pinggir pantai. Kebanyakan emak-emak dan bapak-bapak. Kadang suka salut sama bule-bule berumur yang suka bertualang di Asia, hehe…seneng aja liatnya, bikin terinspirasi gitu, kalau harus jaga kesehatan dari sekarang supaya ntar tua pun bisa berpetualang (deramah edisi dokter ;p).

Setelah acara makan siang yang kurang memuaskan lidah, kami pun melanjutkan sesi snorkeling kedua, kali ini spotnya pun nggak jauh berbeda, tapi gw menemukan banyak sekali bintang laut berwarna biru yang unyu-unyu, plus berbagai macam soft coral dengan warna mentereng, merah, pink, biru, ungu, DOR, meletus balon hijau! (………). So far gw cukup puas dengan sesi snorkeling yang kedua . Hal menyenangkan dari snorkeling kali ini yaitu, karena nggak pake life vest dan fins, bergerak pun jauh lebih bebas dan nggak terganggu (meskipun rada was-was ketusuk bulu babi, untungnya jumlah bulu babi di sini masih sangat amat sedikit :)). Nyoba sok-sokan latihan freediving tanpa fins, alhasil niatnya mau duck dive tapi malah kaya kecebong kelelep karena bokong nggak mau turun-turun. 😛

Sekitar jam 4 dengan terpaksa kesenangan pun harus berakhir. Total sekitar 5 jam saja waktu yang dihabiskan untuk snorkeling 2 kali dan mengeksplor Pulau Liukang Loe. Rekor tercepat! Bener-bener one day trip terminimalis yang pernah gw alamin. Next time harus coba ke Pulau Kambing dan Pulau Selayar juga! (^.^)9

Liukang Loe Makassar Sulawesi Selatan Indonesia

Happy traveling, happy life~

Advertisements

Weekly Photo Challenge : Sea

picture taken at Gosong Seloka Island, Karimunjawa, Indonesia

Since I was a kid, sea is always been a mystery for me. What lies beneath the ocean? I always wondered back then. Sometimes my mind full of many thought of magical, weird, both colourful and dark creatures of the sea. I thought about beautiful mermaids, blue whales, Neptune’s kingdom, electric eels, baby shells, even talking-clownfishes. Since me and my parents lived downhill near the mountain, almost in every holiday they would took me to the beach, to experience another kind of world that Mother Nature has given to us. Paradise with thick black or powdery white sands, bright and hot sun, cold frothy blue water played with my feet, left a big smile at my clumsy kid-face. Sometimes left not only a smile, but also a painful red sunburn and black-browned skin. Still, what beneath the ocean remained a mystery…

then I grew up.

I forgot many things that I used to think when I was a kid, but not my curiosity for the ocean.

The mystery finally revealed half and a year ago, when I had my first snorkeling experience at PhiPhi Island, Thailand. Finally, I knew what lies beneath the mysterious thick blue water. My heart was pounding so fast that I could heard them in my ears. I gasped when I saw numerous corals that have size as big as a car. I couldn’t help myself to not smile when groups of fishes came and passed me by. I was fascinated with the variety of hard and soft corals, some looks like a brain, some like a table, and some like fingers. And the colour! I hardly believe that under this flat blue water, there are so many colourful corals and fishes. So many beautiful living creatures, so many too see, and so many things to be grateful for.

Since then, I fell in love with ocean. I feel “home”.

Home, where I should always go back to. (and I do)

Home, where my heart is.

Weekly Photo Challenge : Sea

New Year Eve at Pulau Tidung : In the Middle of the Rain and Massive Fireworks

Image

New Year ke mana? Villa? Barbeque-an? Konvoi keliling kota? Liat fireworks di alun-alun? Nunggu detik-detik pergantian tahun baru di cafe? Atau…di rumah aja???

Hehe…NYE 2012 ini gw memutuskan untuk mencari suasana baru. Bosen di kota. Bosen di cafe. Apalagi di rumah. So…gw ngetrip ke…TIDUNG. Yeay!

Sebenernya dari dulu gw nggak terlalu minat ke Tidung, terutama sih gara-gara baca blog orang-orang yang nyebutin kalo Tidung itu kotor, penuh sampah, coralnya udah ancur,  etc etc. Which is, sayangnya…mereka bener. Hiks. Yah kita bahas itu later. Yang jelas karena kesuntukan gw NYE-an di kota dan nggak tau mau ngapain, akhirnya gw meracuni sahabat gw Irene untuk kabur ke Tidung. Kali ini gw ikut tripnya @TukangJalan, murce murce aja…335rb buat 2 hari. Sifat tripnya Open Trip, jadi sama kaya pas gw di Karimunjawa kemaren, nantinya bakal digabungin sama rombongan-rombongan lain…

So, 31 Januari 2012. Pagi-pagi buta gw udah dijemput sama tukang bajaj hasil kenalan di malam sebelumnya (gokil, ngajak kenalan tukang bajaj demi minta dijemput subuh-subuh besoknya). Baik pisanlah si tukang bajaj ini hehe nganter dari Tanjung Duren ke depan CL, trus abis itu kita naik angkot merah M01 jurusan Grogol-Muara Angke. Sempet miskom n malah diturunin di Pom Bensin sebelah Mega Mall Pluit. Padahal maksud gw Pom Bensin Muara Angke. Yang ternyata Pom Bensinnya ada di dalem pasar yah, catet. Angkotnya nggak lewat situ. Hehe… Nggak pake panjang lebar akhirnya kita naek becak 10rb perak ke dalem Pom Bensin Angke. Di sana kita ketemuan sama CP dari @TukangJalan, trus dikasih tiket kapal (yang cuma berbentuk lembaran kertas karton ditulisin spidol item à tau gitu bikin sendiri, hehe emang bisa).

Ini pertama kalinya gw naek kapal kayu ke Kep.Seribu. Sebelumnya gw kan naek KM Lumba-Lumba yang rada bagusan (eh jauh ding bagusnya) hihi. Ternyata…lebih seru pake kapal kayu! Emang sih desek-desekan kaya ikan sarden, kotor, duduk kelipet-lipet, tapi sensasinya lebih seru, dan yang penting…nggak mabok! Justru pas naek KM Lumba-Lumba, karena ruangannya tertutup, berasa naek bis tapi di laut, ugh…bersih sih, tapi gw muntah 2 kali. Cial. Kembali ke kapal kayu. Lucky me, gw duduk di depan sekumpulan cowo-cowo ganteng putih berotot dan bertato (sampe gw mikir apa mereka nggak salah kapal ya?), so…3 jam terasa berlalu dengan cepat, hahaha…sempet ngalamin tuh ombak yang lagi ganas-ganasnya sampe beberapa kali kapalnya harus matiin mesin dan Cuma ngikutin ombak. Aish, seru abis, apalagi pas mulai ujan deres, hahaha…berasa si Pi di Life of Pi. Tanpa harimau Benggala tapinya.

Image

Gini deh suasana di dalem kapal. Seru kan? 😀

Sesampenya di Tidung, gw rada kaget juga. Ini pulau rame bener kaya pasar. Sepanjang mata memandang tampak kalo nggak gerobak makanan, lapak jualan baju, kalo nggak ya tempat sewa sepeda. Zzzz buyar sudah impian NYE merenung dalam ketenangan pulau yang sepi impian gw. Eh ternyata di Tidungnya sendiri ada even khusus untuk menyambut NYE ini. Ada band, firework, sampe fire dancer segala. Sama aja kayak di Jakarta ini mah. Cuma lokasinya aja di pulau, di pinggir pantai, which is obviously makes it more interesting ^^

Di sana gw dianter ke penginapan, dan berkenalan dengan 4 orang yang sudah sampai di sana duluan. Ada yang dari Jakarta dan Makassar (edun jauh bo dari Makassar!). Sayangnya mereka semua couple. Yah pupus deh niat terselubung gw nyari gebetan di Tidung, xixixi… ;p

Menjelang siang kami snorkeling di sekitar Pulau Payung. Nothing special sih. Underwaternya udah ancur. Ikannya sedikit, tapi gw sempet liat school of butterfly fish segede gaban yang cukup menghibur, plus nemu hewan aneh kaya keong gitu nempel di coral, warnanya cerah banget, mentereng, ada yang merah, biru, oranye, wah pokoknya gaul deh. Ukurannya paling segede setengah jempol. Bermata dan berantene. Lucu! Apa namanya yah itu hewan? Masa keong laut… Excited juga nemu hewan yang baru, rasa kecewa liat coral-coral yang udah terabuse agak terobati. Tapi kalau airnya sih masih agak jernih ya, bahkan dibandingkan pas di PhiPhi Thailand aja masih lebih jernih di Tidung… Sayangnya, laut saat itu mulai berombak, awan di langit pun sudah menghitam. Guide kami buru-buru mengajak kami naik ke kapal dan dengan terpaksa snorkeling babak 2 di Tidung Kecil dibatalkan karena cuaca yang nggak bersahabat. Malah hujan deras lho! Yah namanya juga akhir tahun… *hiks* *sobs*.

Image

Awan gelap yang menemani snorkeling. 😦

Nggak disangka, hujan turun sepanjang hari, bahkan sampai malam. Akhirnya kami pun terjebak di penginapan dan memilih untuk tidur. Berharap menjelang pergantian tahun hujan sudah mereda. Acara barbeque-an pun batal. Ya iyalah gimana caranya barbeque-an di pantai hujan-hujan. *hiks* *sobs*. Sampe udah tidur 3 babak, masih awet aja itu hujan, aje gile, kesel gw, akhirnya bermodalkan payung gw dan Irene nekat jalan kaki ke Jembatan Cinta, tempat even NYE diadakan. Saat itu jam 10 malam, so masih banyak waktu untuk menikmati detik-detik pergantian tahun. Jalan kaki ke Jembatan Cinta seru banget loh! Malem-malem hujan gerimis, dan yang bikin seru yaitu karena banyak banget orang-orang yang juga menuju ke sana. Berasa kaya mau konvoi jadinya hehe…Lumayan jauh juga perjalanannya kira-kira setengah jam. Sampe di tempat even tersebut, gw terkagum-kagum. Banyak banget dong orangnya. Bener-bener rame kaya di pasar malam. Gw langsung menghampiri keramaian yang sedang menonton fire dance. Lumayan sih cukup menghibur. Selain itu ada live music dari band, dan banyak yang main kembang api yang bentuknya stik itu lho, seru! Dan karena lokasinya bener-bener di pinggir pantai, dengan langit terbuka sebagai atapnya, feel nya dapet banget, hihi…pokoknya nggak nyesel deh NYEan di Tidung kali ini.

Image

Fire dance ala Tidung.

Momen-momen paling berkesan tentunya saat detik-detik pergantian tahun. Saat itu gw cuma bisa terkagum-kagum dengan massivenya kembang api yang diluncurkan. Totally awesome! Selain dari pihak panitia acara, tampaknya orang-orang yang hadir juga bawa perbekalan kembang api sendiri-sendiri, dan seakan nggak ada habisnya, bener-bener nonstop itu kembang api bledag bledug byar byar di langit. Totally awesome. Firework NYE 2011 di PVJ mah…nggak ada apa-apanya. Firework di sini bener-bener gila, gokil abis! Bahkan sampai ada kembang api yang nyasar, bukannya meluncur ke atas eh malah meluncur ke samping, menuju ke arah orang-orang yang ada di tepi pantai. Sontak semua orang lari pontang-panting berhamburan menjauhi kembang api nyasar tersebut, termasuk gw. Hahaha! Bahaya juga kalo dipikir-pikir. Tapi seru-seru aja sih pas ngalaminnya ^^ Gw sampe udah speechless nikmatin firework party nya sampai udah nggak sanggup buat take a picture atau video. Bener-bener nikmatin keindahan warna warni kembang api di langit malam yang luas tanpa ada satu bangunan pun yang menghalangi.

Image

Salah satu keseruan perayaan menyambut NYE.

Sampai jam 2an pesta kembang api masih berlangsung loh, edan kebayang tuh berapa puluh juta uang yang terbakar untuk menyambut 2013? Makanya tahun 2013 ini harus jadi lebih better ^^. *apa hubungannya coba?* Pokoknya malem itu totally awesome deh, hehe…mana

subuh-subuh itu gw sempet makan Indomie dan nyeruput kelapa muda sebagai makanan pembuka di tahun 2013, so  perfect! Kapan lagi NYEan di pinggir pantai?

Perjalanan pulang ke penginapan dilalui dengan kantuk, lelah. Sesampainya di kamar, langsung deh nyungsep dengan sukses.

Hari ke-2 dan terakhir di Tidung. Pagi ini gw langsung menuju ke Jembatan Cinta (kali ini naik sepeda), yang menjadi ikon Pulau Tidung. Istimewanya jembatan ini yaitu menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Kebayang kan. Hehe. Sayangnya ternyata jembatannya agak di bawah ekspektasi gw, karena ternyata sudah banyak kerusakan, bolong-bolong di sana sini, dan di tengah-tengah sedang diperbaiki sehingga tidak bisa dilewati. Bisa sih…kalau maksa merayap lewat pinggir-pinggirnya. Tapi gw mengurungkan niat. Alhasil gw nggak mampir ke Tidung Kecil deh. Di atas jembatan, banyak orang-orang yang melompat ke bawah. Semacam uji adrenalin kali yah. Sayangnya gw udah kehabisan baju ganti dan emang nggak niat basah-basahan lagi karena 2 jam lagi kudu udah standby di kapal. Jadi deh gw nggak loncat dari jembatan. Penasaran juga sih gimana rasanya. Next time maybe ;D

Image

This cute boy is gonna jump.

Image

Yeayyy he jump!! Beautiful posture.

Pantai sekitar pulau Tidung ini sayangnya sangat kotor. Yah pokoknya nggak bisa deh main air di situ. Heran juga gw kenapa pengelolaan sampahnya jelek banget, sampai sampahnya menumpuk di bibir pantai, ada kali beberapa meter jauhnya tuh sampah 😦 So sad. Kalau spot foto-fotonya sih sebenernya lumayan menarik, Cuma ya itu…pantainya yang kotor bikin ilfeel. Nggak heran gw sering baca ada Operasi Semut di Tidung. Yah, semoga aja ke depannya Tidung bisa lebih bersih…sayang banget diabuse gitu.

Kesan gw tentang Tidung bisa dirangkum dengan 4 kata : Jembatan. Ramai. Sampah. Sepeda.

Well, ternyata apa yang gw baca dari blog-blog para traveler emang bener. Unfortunately 😦 Tapi bagaimanapun, NYE di Tidung is way much better than previous NYE I ever had. Hopefully next NYE will be more fun. Going abroad maybe? ^^ Amin.

Image

Okay yang ini foto narsis :D. Happy travelling! ^^

Day 4 – How to have fun at Karimunjawa : snorkel, jump, and play with sharks

Day 4. Still at Karimunjawa. Yeay! Pagi ini terbangun dengan masih mengantuk. Why? Negara api menyerang! Oke garing. Yang bener semaleman gw diserang nyamuk-nyamuk. Nyamuk Karimunjawa ganas cuy! Berbagai pose garuk-garuk udah gw jabanin, kain pantai yang gw fungsikan sebagai selimut pun nggak mempan. Tips : Pakai baju dan celana panjang, bawa kain untuk selimut, pakai lotion anti nyamuk.

Meskipun mata mengantuk, semangat tetap membara dong yah! Setelah kemarin gw menjelajahi sisi Barat (Pulau Cemara Kecil) dan sisi Selatan (Ujung Gelam), hari ini gw akan menelusuri sisi Timur Karimunjawa, yaitu Pulau Cilik, Pulau Tengah, Gosong Seloka, dan berenang bersama hiu di Pulau Menjangan Kecil. Uyeaahhh! Pagi-pagi gw udah nongkrong sarapan di Warung Bu Esther. Nikmat, murah meriah. Setelah rombongan berkumpul di dermaga, kami pun berlayar…capcussss! Kali ini rombongan kami ketambahan sepasang suami istri, si suami Bule, si istri Jawa Yogya asli. Makin seru deh! ^^ Ombak laut hari ini lebih ganas dibanding hari sebelumnya. Gw sih fun-fun aja. Kenapa harus takut tenggelam kalau bisa berenang? #pedeabis. Kenapa harus takut mati kalau semua jiwa akan berpulang pada Sang Pencipta? *oke yang ini terlalu berat* *skip*.
Spot snorkeling pertama di sekitar Pulau Cilik. Kali ini gw lebih banyak mengeksplor coral dan nggak terlalu antusias berfoto underwater. Yeah, still with that guilty feeling 😦 (baca postingan sebelumnya). Coral di Pulau Cilik ini keren banget, masih lebih terawat dibanding spot-spot sebelumnya. Daaannn….yang bikin gw terheran-heran, ikan-ikan di Karimunjawa itu kok guendhut-guendhut banget yah? Subur makmur kayaknya 😀 Emang sih jenis-jenisnya rata-rata sama dengan ikan-ikan di Kepulauan Seribu, tapi di sini lebih subur-subur, seneng deh liatnya! Makin semangat ngasih roti deh. Jangan-jangan karena overdosis roti dari turis-turis. Eh, mungkin nggak sih? Nyahahaha~ Btw pernah denger juga tentang ngasih makan roti pas snorkeling ini. Katanya nggak boleh ya? And why is that? Ada yang tahu alasan ilmiahnya? Ditunggu sharingnya ya hehe… Sehabis snorkeling kami nggak mampir ke Pulau Cilik, yang tampaknya memang bener-bener cilik, paling setengahnya Cemara Kecil. Kami langsung menuju ke destinasi selanjutnya, Pulau Tengah…
Well, what can I say? Pulau Tengah is really…really…amazing! Sungguh. Airnya…bener-bener jernih. Gw bahkan sempet berguling-guling di dalamnya, berenang gaya pesut terdampar sampai meniru pose dugong lagi akrobat sampai pose melahirkan. Hahaha…pokoknya…TOP abis! Rasanya nggak pengen keluar dari air!

pulau tengah karimunjawa

Sejernih ini, siapa yang tahan?

O ya, ternyata di Pulau Tengah ini, diternakkan ikan hiu juga lho (bener gak sih bahasanya? Hiu diternakkan?). Sama seperti di Pulau Menjangan Kecil, hiu-hiu kecil yang tertangkap di laut kemudian dirawat di konservasi ini, kemudian setelah dewasa nantinya akan dilepas kembali ke alamnya. Lumayan serem juga jalan di atas hiu-hiu ini, takut kepleset trus plung! Jadi makanan hiu dah hahaha… (padahal perasaan baru aja nulis kenapa harus takut mati ;p ).
Menjelang siang, makanan sudah siap di tepi pantai. Aaahhh lagi-lagi makan ikan di pinggir pantai, di atas pasir putih yang empuk dan ditemani angin semilir. Surga. Ikannya pun terasa berjuta-juta kali lipat lebih enak daripada makan ikan di restoran mahal. Apalagi kali ini ada sayur dan sambal juga. Juara! Nggak nyesel ikutan tripnya Mas Farid n Pak Manto, hwehehehe… Puas dan kekenyangan, gw berjalan-jalan sejenak mengeksplor pulau ini, yang ternyata nggak terlalu besar, hanya ada satu rumah yang berjualan aneka gorengan (pisang gorengnya nikmat!!). That’s it. Pulau ini nggak berpenghuni. Asiknya…Gw sempet bergoler-goler cantik dengan mata berat hampir ketiduran, sampai akhirnya Pak Manto memanggil-manggil dan dengan berat hati terpaksa kami semua kembali ke kapal…

Romantisnya pasangan Indo-Bule ini, bikin ngiri eke aja yey berdua... ;D

Romantisnya pasangan Indo-Bule ini, bikin ngiri eke aja yey berdua… ;D

Salah satu sudut Pulau Tengah

Salah satu sudut Pulau Tengah

Gosong Seloka merupakan gusung pasir, hampir sama seperti Pulau Air Kecil di Kepulauan Seribu, yaitu hanya pulau kecil yang terdiri dari gundukan pasir. Bener-bener pasir doang. Di tengah laut. Eaaa keceh kan. Menariknya, waktu ke Gosong Seloka, dari jauh tampak puluhan burung yang memenuhi Gosong ini. Aaaa keren deh berasa kaya pulau di luar negri (padahal sih belum pernah lliat langsung, cuma di tipi aja ;p). Dua hal terlintas : Satu : burung itu bakal terbang nggak ya pas kita mendekat? Dua : Banyak tai burung nggak ya di sana? Hehehe…pertanyaan pertama terjawab langsung beberapa menit kemudian, saat Gosong Seloka itu tiba-tiba saja menjadi kosong. Ya elah…gak bisa foto dengan burung-burung putih keceh beterbangan di samping kita dong 😦 *imajinasi foto terlalu tinggi*. Pertanyaan kedua terjawab beberapa menit selanjutnya setelah kami touch down di pasir gusung yang sangat putih, nggak begitu empuk karena masih banyak pecahan kerang-kerang kecil yang kasar, tapi bersih banget. Boro-boro tai, sampah segede bungkus permen aja kagak ada di sana. Yang bikin spesial dari Gosong ini ya tentu aja, ujung-ujungnya yang langsung air laut. Justru sejengkal daratan pasir tanpa keberadaan apapun di atasnya, itulah yang menarik. Nggak heran, mau di Kepulauan Seribu, di Karimunjawa, bahkan tampaknya di Derawan pun gw lihat gusung pasir selalu menjadi spot yang ditunggu-tunggu. Buat foto lah, apa lagi coba, hehehe… Gw berpikir…mungkinkah…Gosong ini masih ada…katakanlah 5 atau 10 tahun ke depan? Kalau air laut makin tinggi…keberadaan Gosong kaya gini bener-bener terancam. So sad. Semoga aja enggak. Makanya harus mulai Go Green nih. Gw baru mulai ngurangin kantong plastik, say no to spray, cabut kabel elektronik kalau lagi nggak dipakai. Belum seekstrim nge-recycle kertas sendiri sih, hehe, start from little things first dulu deh… ^^

Beginilah penampakan Gosong Seloka. Without birds.

Beginilah penampakan Gosong Seloka. Without birds.

Salah satu foto favorit gw. Kenalan-kenalan baru di Karimunjawa :D

Salah satu foto favorit gw. Kenalan-kenalan baru di Karimunjawa 😀

Hanya sebentar di Gosong Seloka, hari sudah menjelang sore, kami pun menuju ke spot terakhir yang ditunggu-tunggu dari pagi. Bahkan dari sebelum berangkat ke Karimunjawa. Berenang dengan HIU! Yeay! Yeay! Tau nggak sih gw awalnya sempet ragu-ragu. Takut. Itu sejak dari sebelum gw berangkat ke Karimun. Gw pikir, ah, what the heck, mikirnya nanti aja deh kalo udah sampe di sana. Eh, pas udah sampe Karimun masih aja ragu. Hahaha…dan finally baru bener-bener ngambil keputusan “oke gw mau turun berenang sama hiu itu” malah pas udah sampe di pinggir kolamnya. Hahaha! Emang gw nih ya…suk plin-plan sekaligus impulsif.
Btw, jadi di Pulau Menjangan Kecil ini ada beberapa kolam, lumayan gede sih, isinya hiu-hiu yang “jinak”. Jangan kira hiunya kecil-kecil kaya yang ada di kolam di Seaworld. Itu sih baby shark. Ini beneran hiu dewasa, besar, karnivora, dan pejantan tangguh (okay yang ini agak ngarang sih, hehe). Gw masuk ke kolam Blacktip Shark (ada kolam Whitetip Shark juga cuma gw ga nyemplung ke sana). Warnanya hitam. Awalnya…rada serem. Sempet parno abis. Sempet hampir panic attack. Lama-lama…jadi agak biasa aja sih, meski tetep serem. Apalagi pas hiunya mondar-mandir di sebelah gw. Edannn…dag dig dug seerrrr…berasa lagi dikorbankan. Finally at one point, as human, gw ngerasa nggak berdaya di depan binatang. Yah kan biasanya kita makan binatang (ya bukan hiu juga sih). Kali itu gw ngerasa kaya jadi makanan binatang. #pentingnggaksih
Emang sih hiu-hiu ini jinak. Do you know why? Ternyata…menurut Pak Manto…hiu-hiu ini tiap harinya selalu dikasih makan banyak. Berkilo-kilo. Sampai akhirnya mereka kekenyangan dan malas berburu. Hahaha…jadi mikir sama aja nih hiu kaya manusia. Kalo kekenyangan jadi males. Bawaannya pengen molor terus (itu sih gw yak. Ups.) Trus karena “disuapin” terus mereka juga jadi kehilangan semangat memangsa. Sama aja kaya manusia. Kalo “disuapin” terus kapan majunya… *sok berfilosofis*. Eh tapi yang masuk kolam nggak boleh lagi menstruasi atau lagi mengalami perdarahan ya, luka-luka lecet yang banyak dan berdarah juga nggak boleh. Kalo nyium darah sih teteup aja yak hiu mah doyan… 😀

Ini hiunya. Lagi pada ngetem ;p

Ini hiunya. Lagi pada ngetem ;p

Buat menikmati sensasi “jadi makanan hiu” ini cukup merogoh kocek 5rb rupiah saja. Yah cukup murah lah untuk pengalaman once in a life time (or maybe jadi ketagihan, siapa yang tau?).

Ini gw dan hiu. *dalem hati kaya mau mati*

Ini gw dan hiu. *dalem hati kaya mau mati*

Sekitar jam 5 sore kami pun kembali ke penginapan. Malamnya rombongan kami ngumpul makan ikan bakar dan es kelapa bakar (unik lho! Air kelapa dicampur jahe, trus batoknya dibakar. Yummy, anget2 cocok untuk minuman malam hari) di alun-alun. Seru, apalagi gw ditraktir, hihi… ^^
Malam terakhir di Karimunjawa pun berakhir sangat menyenangkan.
Keesokan paginya kami pulang naik Express Bahari pagi-pagi…Au Revoir Karimunjawa...Really want to and must come back someday… ❤
So, hari gini belum pernah ke Karimunjawa ??? Plan your trip now! Happy travelling! ^^

That Oh So-Guilty-Feeling at Karimunjawa

cemara kecil5

It takes so long for me to write this story. Story about the beauty of Karimunjawa. The sea, the islands, the underwater view. Why so long? Bukan karena trip yang nggak menarik. Bukan. Bukan karena view yang nggak bagus. Bukan. Justru sebaliknya. It’s a oh-so-amazing-trip. Dan view Karimunjawa masih yang terindah di hati saya sampai saat ini. It takes so long because…I did some mistakes there, and I feel ashamed, and most, guilty. Why? This is my story
Pagi yang cerah di bulan September, hari ke-3 gw di atas tanah Karimunjawa. Hari ini gw dan temen seperjalanan gw Vivi akan mengikuti tur laut selama sehari penuh, setelah sebelumnya sudah cukup puas mengeksplore daratan Karimunjawa (baca di postingan sebelumnya), kali ini tentu sudah saatnya gw mengeksplore keindahan pulau-pulau dan underwater view-nya. Excited? Tentu! Penasaran apakah bawah laut Karimunjawa lebih bagus dari bawah laut Pulau Air di Kepulauan Seribu yang seperti aquarium. Penasaran dengan teman-teman baru yang akan kami temui hari ini. Penasaran dengan pulau-pulau yang katanya masih perawan dan sepi.
Untuk tur laut hari ini kami ikut daily tour, sifatnya open trip, yaitu digabung-gabung dengan rombongan lain. Untuk tur ke Pulau Cemara Kecil dan Pulau Tanjung/Ujung Gelam, dengan 2 kali snorkeling, sudah termasuk makan siang, alat snorkeling, dan foto underwater, gw hanya merogoh kocek 100rb. Syukurlah di hari sebelumnya kami bertemu Pak Rivai yang menawarkan daily tour ini pada kami. Rombongan hari ini total berjumlah 6 orang, ditemani seorang guide yang baik hati Mas Farid, dan seorang nahkoda kapal Pak Manto (ejiee nahkoda…hahaha!).
Sekitar jam 07.30 kami sudah standby di dermaga, tapi karena masih belum ada orang, kami sarapan dulu di Warung Bu Esther, nasi rames plus susu, seharga 11ribu. Lumayan murah kenyang dan enak. Hoho…saat itu kami sempat bertemu seorang penduduk Karimunjawa yang tinggal di Pulau Nyamuk. Doi semangat banget mempromosikan Pulau Nyamuk ini. Katanya yang paling perawan di Karimunjawa. Memang sih agak jauh, karena lokasinya paling ujung luar, kalau naik perahu sekitar 2 jam dari Karimunjawa. Hmm…boleh juga nih next time. Wondering…banyak nyamuknya nggak yah…hehe…
Setelah sarapan dan seluruh rombongan berkumpul, kami pun berangkat…eng ing eng…cuaca cerah, sinar matahari yang hangat, light blue sky, and white fluffy clouds…boost my mood to the top level. Laut, pasir, ikan, aku dataaaaaannngggg!

Spot snorkeling pertama, di sekitar Pulau Menjangan Kecil. Ceburrrr!!!
Airnya jernih, visibility clear. Ikan-ikannya…wow, banyak banget! Dibanding Kepulauan Seribu, ikan-ikan yang saya lihat di sini jauh lebih gemuk-gemuk, hihi…kalau jenisnya hampir sama, dari mulai Nemo sampai butterfly fish (nggak tahu namanya satu-satu, hiks). Coralnya juga bervariasi, dari table top sampai brain coral. Ukurannya pun massive. Sayangnya, tampak beberapa coral bagian atasnya “gundul”. Kenapa? Oh. Ternyata…coral-coral itu sering digunakan untuk spot foto underwater. Yap. Bener. Jadi tukang foto maupun model foto berdiri di atas coral yang besar, lalu sedikit menyelam ke bawah dan berpegangan pada coral lalu berpose. Dari mulai pose duduk sampai cherrybelle.

underwater karimunjawa

Okay. I know. That’s so wrong. I know that’s wrong from the very first time. Coral shouldn’t be touched. Apalagi diinjak. Apalagi jadi tempat gelantungan. Honestly, gw kira foto underwater itu diambil saat kita sedang berenang atau menyelam atau candid, TANPA harus bergelantungan di coral. Ternyata perkiraan gw salah. Gw tau I shouldn’t do it. Tapi saat itu juru kamera kami sudah dengan semangat menyuruh kami berpose, dengan memberi contoh-contoh pose, memberi tahu bagian coral mana yang harus diraih dan dijadikan pegangan saat berfoto, dan langsung menyuruh kami antri untuk difoto. Saat itu, sort of guilty feeling merasuki dada. It’s like cheating in exam you know. Do it. Don’t do it. Do it. Don’t do it. Yah…saat itu…the devil side won. Pikiran “kapan lagi” dan “pasti keren” mengalahkan kesadaran Coral Shouldn’t Be Touched. Mereka bisa mati, dan bahkan you know how long does it take to grow even one inch of them. But still, … I did. I touched them. And even worse, I broke one of them. Damn.
From that time, snorkeling time there didn’t feel so fun anymore. Yes, the view was amazing, but that big guilty feeling made the whole things just felt wrong.
But, still, the view is really amazing.
Setelah snorkeling kami menuju ke Pulau Cemara Kecil. Pulau ini…sangat indah. Pantainya landai, airnya jernih tanpa sampah sedikitpun, pasirnya halus seperti bedak. Benar-benar fotogenik! Ini salah satu pulau favorit saya di Karimunjawa. Ini tempat yang cocok untuk menyepi dan bergoler-goler ria di pasir sepanjang hari (jangan takut hitam ya tentunya!).

cemara kecil karimunjawa

Sambil menunggu Mas Farid dan Pak Manto membakar ikan, gw berkeliling pulau yang ternyata meskipun kecil tapi ngelilinginnya lumayan cape juga loh, hehe…Karena laper kali ye! ;p

pulau cemara kecil ksrimunjawa

Menjelang siang, makanan pun siaaapppp! Ini dia ikan-ikan yang siang ini “dikorbankan”, hihihi…

ikan bakar karimunjawa

Makan ikan bakar rame-rame di tepi pantai, hanya diiringi sayup ombak dan ditemani hangatnya matahari…jauh lebih nikmat dibanding makan steak mahal di cafe buatan manusia. Sungguh ciptaan Tuhan tak akan ada yang menandingi. Bukan masalah rasa, cara mengolah, atau harga makanannya, tetapi suasananya. That’s the most important, I think.
Setelah perut kenyang, rasanya berat banget pergi meninggalkan pulau ini. Tapi snorkeling sesi selanjutnya masih menunggu. Yuhuuu! (meskipun masih disertai guilty feeling)
Snorkeling sesi kedua berlangsung hampir sama seperti sesi satu, and my guilty feeling get bigger and bigger…gw menyayangkan coral-coral yang diabuse, gw menyayangkan cara foto underwater yang harus mengabuse coral, gw menyayangkan guide kami yang tampak biasa saja mengabuse coral, and most of all, gw menyayangkan diri gw sendiri yang ikut mengabuse coral-coral itu 😦 Okay, I know it’s too late. And I know gw pantas dicela 😦

Tujuan terakhir kami hari itu adalah Ujung Gelam. Ada juga yang menyebutnya Tanjung Gelam. Katanya di sini lah tempat yang paling tepat untuk menikmati sunset Karimunjawa. Lokasinya ada di ujung selatan Karimunjawa, jadi bukan pulau yang terpisah, melainkan bagian dari Pulau Karimunjawa itu sendiri. Buat para pecinta fotografi, pasti suka deh di sini. Bener-bener fotogenik. Pantainya bersih, jernih, pasirnya putih dan lembut, ditambah lagi batu-batuan besar dan pohon kelapa yang ada di tepi pantai, sungguh keceh!

Okay yang ini foto narsis, hihihi... ^^

Okay yang ini foto narsis, hihihi… ^^

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

Kelapa Doyong yang jadi trademark Ujung Gelam

ujung gelam karimunjawa

Karena berada di Pulau Karimunjawanya, di pantai ini sudah banyak lapak-lapak yang menjual makanan dan minuman. Gw akhirnya terbawa suasana dan memesan kelapa muda deh…satu berdua aja. Kere. Hehehe… Sekitar jam 5 sore kami kembali ke dermaga, masih ada waktu untuk menangkap sunset yang keceh dari dermaga… Sungguh Karimunjawa memang indah…
Eits! Masih ada tur laut hari kedua loh! Sabar ya Cyinn… 😀 Next : Pulau Tengah, Gosong Seloka, Pulau Cilik, dan berenang bersama HIU di Pulau Menjangan Kecil! Kamu berani?

Private Backpack(er) Trip to Kepulauan Seribu : Snorkeling and Island Hopping

Why backpack(er) trip? Because it’s not a backpacker trip at all. Hehe…actually, it’s kinda a private trip. Only me and my sister. Yes, unfortunately, meskipun gw hanya membawa sebuah backpack, bukan berarti perjalanan ke Kepulauan Seribu ini sebuah perjalanan backpacker seperti trip-trip sebelumnya.

Somehow, private trip memberi kenikmatan tersendiri buat gw. Yes, together can be fun, but, sometimes I just need a silent and peace moment, so I can really enjoy the beauty of nature, with less talk and more reflecting and visualizing.

Perjalanan dimulai di pagi hari di bulan Agustus, pukul 6 pagi dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta. FYI, saat ini telah disediakan kapal-kapal baru menuju Kep.Seribu, salah satunya KM Lumba-Lumba ini. Harga tiketnya Rp 31.000, tapi sebaiknya bergegas antri dari pukul 5 atau 6 pagi, karena seat KM Lumba-Lumba ini terbatas, hanya memuat sekitar 50 org saja.

Jakarta Sunrise from Kali Adem, Muara Angke

Perjalanan selama 3 jam berlangsung tidak mulus, karena ombak sedang besar dan akhirnya gw sukses muntah-muntah di jalan, hehe… *cupu*. Sesampainya di Pulau Pramuka, kami langsung diantar ke Penginapan Family, yang ternyata kamarnya sangat besar, terdiri dari 2 King Bed plus 1 kasur busa tambahan, hahaha…ini sih muat 8 orang kayaknya. Overall kamar dan kamar mandinya cukup bersih, AC dan listrik nyala 24 jam, hehe, nice

Siang itu kami langsung diajak snorkeling dan island hopping. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Semak Daun. Sayangnya di pulau ini ada sekelompok om-om yang mengejek kami sesampainya di  sana, karena kami menggunakan life jacket saat snorkeling. Okay…cukup membuat kami berdua bete dan males berleyeh-leyeh di sana, akhirnya setelah berenang dan latihan snorkeling sebentar kami segera cabut dari pulau itu menuju spot snorkeling pertama. O ya, jangan lupa membayar “uang mampir” ke penjaga pulau ini sebesar Rp 10.000, coz katanya sih ini pulau pribadi gitu, jadi kalo mau mampir ya kudu bayar ke penjaganya, sigh, tajir gila yang punya pulau ini, hehe…

Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

Snorkeling pertama di sekitar Pulau Semak Daun berlangsung sukses. Karang-karangnya sangat cantik, mayoritas terdiri dari hard coral yang berukuran gigantic, dan airnya pun masih jernih sehingga viewnya luas dan dalam. Sayang ikan-ikannya banyak yang ngumpet, plus gw lupa bawa roti untuk makanan ikan, hehe…tapi karang dan ikannya cukup bervariasi, dan jauh lebih bagus daripada pemandangan bawah laut PhiPhi Island. Thanks God Indonesia begitu indah… ^^

Spot snorkeling kedua di Coral Reef juga cukup menarik, di sini selain hard coral juga ditemukan banyak soft coral salah satunya mushroom coral yang sangat menarik, hijau dan “tampak” lembut. Ikan-ikannya lebih berwarna-warni dan bervariasi, nggak rugi banget deh…berasa Spongebob pokoknya 😀 Sayangnya gw nggak ngerti nama-nama karang dan ikannya, coba kalo ngerti, asik kali ya…jadi semangat pengen baca Marine Atlas nih, hehe…

Setelah puas snorkeling, kami mampir ke Pulau Air, dan…Great Lord, indah banget! Can’t describe it precisely by word, please just take a look at these pictures :

“Sungai” yang mengagumkan, Pulau Air, Kepulauan Seribu

After a short heaven trip through this “river”, finally we arrived…

Pulau Air, Kepulauan Seribu, such a perfect beach for relax and swim

Mengintip salah satu sudut Pulau Air, Kepulauan Seribu

Beneran ya, indah banget dan berhubung di satu pulau ini hanya ada gw dan adik gw, bener-bener serasa pulau pribadi!

Puas berfoto-foto narsis ala model kalender swimsuit di Pulau Air, kami dibawa Mas Galang (driver kapal) ke Pulau Nusa Keramba. Di sini ada sebuah restoran bernama sama, menyediakan berbagai macam makanan dan minuman termasuk beer, tetapi harganya cukup mahal. Kami pesan 1 porsi mie kuah seafood dan 1 gelas coklat panas seharga Rp 50.000,- *sigh*

Pulau Nusa Keramba, Kepulauan Seribu

Best time untuk mengunjungi restoran ini mungkin saat malam hari. Konon banyak yang nongkrong menghabiskan malam di sini, untuk sekadar ngumpul-ngumpul atau nge-beer. Untuk mencapai pulau ini dari Pulau Pramuka bisa menggunakan ojek kapal. Selain restoran, di Pulau Nusa Keramba ini juga terdapat penangkaran ikan hiu, sayang kurang luas dan kurang banyak hiunya, hehe.

Sekitar jam 5 sore, kami “dipulangkan” ke Pulau Pramuka. Setelah mandi-mandi cantik dan nongkrong ngopi di warung Indomi terdekat, gw pun berburu sunset di tepi dermaga Pulau Pramuka. Di tepi dermaga ada juga beberapa orang yang asyik memancing. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara adzan dari masjid dan sayup-sayup suara air laut di kejauhan…

Sunset Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

 

Hari kedua. Setelah melalui malam yang nyaman, kami memulai hari kedua dengan island hopping. Kali ini ombak di lautan lebih besar dibanding kemarin, kapal kami pun terombang ambing ala kora-kora *lebay*, seru sih, tapi lumayan deg-degan juga, hihi…untungnya Mas Galang sangat ahli dalam membawa kapalnya.

Destinasi pertama. Pulau Air Kecil. Sungguh gw amat terpana. Speechless. Ini pantai terindah yang pernah gw kunjungi dalam hidup gw. Beneran nggak pake lebay. Gimana nggak? Airnya biru jernih, pasirnya putih bersih dan diapit oleh 2 lautan di kanan kirinya. Jadi Pulau Air Kecil ini sebenarnya hanya merupakan gundukan pasir saja. Tanpa tanaman, tanpa rumah huni, hanya dua buah pondok bambu yang tertancap di pasir. Menambah keeksotisannya.

Gw berpikir…damn, kok mirip sama foto-foto pantai di Maldives? Argh, gw mau gila rasanya saking terpesona, senang, dan bersyukur atas cantiknya pemandangan yang gw lihat hari ini.

Our ship and our guide, Mas Galang, landed at Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu

Pondok kecil di Pulau Air Kecil, menambah keeksotisannya…

Keunikan Pulau Air Kecil. Pasir pantai yang diapit oleh dua lautan…

Can I just sit there and do nothing all day long?

Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu. How Stunning!

f

Pulau Air Kecil, Kepulauan Seribu. The best beach I ever see so far!

Oh ya, di tepi pantai, tiba-tiba gw menemukan seekor sea urchin yang nyasar…berenang-renang sendirian di air yang jernih ini, hehe…where’s your mama??? 😀 Baru kali ini liat sea urchin yang terasing gini…biasanya dia ngumpet di deket-deket karang, semacam “ranjau” aja, hehe…

Sea Urchin yang Terasingkan *bukan judul sinetron* 😛

Sekali lagi gw pun bernarsis-narsis ria dengan berbagai pose Miyabi *bhahahahak!* di pulau ini, setelah puas, meskipun nggak rela, akhirnya kami harus pergi, hiks…Oya, kata Mas Galang, dulu Pulau Air Kecil ini cukup luas, kumplit dengan pepohonannya juga, tapi karena ombak laut yang semakin lama makin tinggi, akhirnya pulau ini tergerus sampai akhirnya menjadi gundukan pasir saja. Waduh, jangan sampai tempat ini hilang deh, I want to come back here someday

Spot snorkeling pertama hari ini di sekitar Pulau Air. And…what can I say? This is the best snorkeling spot ever! Airnya jernih bener-bener bening dan dengan diterangi sinar matahari, gw merasa seperti berenang di dalam aquarium. Coral di sini bener-bener beraneka ragam, dan warna warninya masih bener-bener terjaga, hampir nggak nemu coral yang udah bleached. Gw nemu blue starfish, makhluk ungu terang datar berduri yang gw nggak tau namanya (hahaha, nah loh?), siput laut yang masih hidup (ada mata dan kumisnya! *ndeso*), angelfish, butterflyfish, clowfish, long black tail sea urchin, etc…hehe, ndak tau namanya sih 😦 Kalau coral-coralnya antara lain : brain coral, tabletop coral, mushroom coral, staghorn coral, pillar coral, great star coral, elegance coral, torch coral, dst…hehe.

Pokoke…snorkeling di Pulau Air…numero uno!

Selanjutnya kami diajak snorkeling di kawasan APL (Area Perlindungan Laut), sayang ombak sedang besar, sehingga kami nggak bisa turun di spot bagus deh, hiks. Mas Galang menurunkan kami di “ladang rumput laut”, hehe…jadi di spot kedua ini selain coral, banyak juga tanaman tipis transparan berbentuk buket bunga gitu. Argh…andai gw tau apa namanya, sampe botak gw browsing di internet nggak nemu, hehe. Nanti deh kalo nemu namanya gw update lagi, hehe. Gini nih nasib kaga punya kamera underwater…hehe. Someday I’ll buy one! 😀

After snorkeling, kami dimampirkan ke Pulau Karya. Pulau ini bagian belakangnya kuburan. So, nggak usah dieksplor deh, cukup pantai nya aja, hehe. Pantainya bersih, nggak ada orang sama sekali saat itu, meskipun nggak secantik Pulau Air, tapi tetep aja cantik, hehe. Uniknya, ada bongkahan-bongkahan logam berukuran 1,5×1 meter yang tersebar di pantainya, sampai sudah berlumut. Mungkin dari kapal yang karamkah? Hehe, mystery still unsolved.

Pulau Karya, Kepulauan Seribu. Lihat bongkahan logam di tepi pantai. Apa ini? Apa itu?

Pulau Karya pun mengakhiri island hopping tour kami di Kepulauan Seribu. Masih banyak pulau-pulau yang masih pengen gw datangin, kaya Pulau Harapan, Pulau Kotok, Pulau Sepa, Pulau Putri, Pulau Pari…argh…someday! Sekarang saatnya kembali ke basecamp kami di Pulau Pramuka. Sisa hari kami habiskan dengan nongkrong ngopi di warung Indomi dan berjalan-jalan mengelilingi pulau.

Pulau Pramuka ini memang berfungsi sebagai tempat transit menuju ke pulau-pulau sekitarnya. Dan sebagai pusat administrasi, berbagai fasilitas tersedia di Pulau Pramuka, seperti rumah sakit (keren loh RSnya, ada Hyperbaric chambernya!), sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan. So, kalau pengen island hopping ke pulau-pulau tadi, lebih baik stay di Pulau Pramuka, kecuali Anda berminat untuk kemping di salah satu pulau tadi, monggo…seru juga sepertinya 🙂

Hari ketiga. Pagi ini dihabiskan dengan bersepeda keliling pulau dan melihat penangkaran penyu sisik. Seru juga bersepeda keliling pulau, menyusuri tepi Pulau Pramuka dengan hanya ditemani suara lembut ombak dan angin sepoi-sepoi…

Cute blue bicycle. Clear blue sky. Cool trip.

Tak terasa waktu berjalan cepat. Jam 12 siang kami sudah berada di dermaga untuk kembali ke Jakarta. Sayonara Kepulauan Seribu, gw pasti akan kembali menjelajahimu, someday, someday

PS : Selama 3 hari 2 malam gw menggunakan jasa private tour dari Pak Hermanto (+628138147529, pin BB : 323DFDC9), owner Penginapan Family di Pulau Pramuka.

Untuk private tour 2 orang, perorangnya dikenakan biaya Rp 800.000,- all ininclude : tiket kapal KM Lumba-Lumba pp Muara Angke-P.Pramuka, penginapan AC, makan 3x/hari, sewa kapal private 2 hari all day, snorkeling 6 kali, mengunjungi pulau-pulau di sekitar Pulau Pramuka (Pulau Semak Daun, Coral Reef, Pulau Air, Pulau Air Kecil, Pulau Nusa Keramba, Pulau Karya, APL). Is that worth it? Yes it is.

 

 

 

 

 

Happy reading, happy travelling, happy life~