Serba Minimalis di Pulau Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Bendera Merah Putih di Liukang Loe

Selemparan batu dari Tanjung Bira, ada Pulau Liukang Loe.

…okay, nggak selemparan batu juga sih, tapi 15-30 menit dengan speed boat, hehe. Pagi itu gw terbangun dengan semangat muda mudi angkatan ’45. Lupakan sejenak semangat muda-mudi angkatan millenia, yang tiap pagi harus memencet tombol snooze sampe 20 kali baru bangkit dari kasur, sambil nggerundel pula. “Udah hari Senin lagi? Kenapa gw harus ngantor? Kenapaaa????”. Ya, kira-kira begitulah semangat muda-mudi milenia. Tapi hari ini berbeda. Gw terbangun di sebuah penginapan melati Tanjung Bira. Di atas kasur yang setipis roti tawar dilipet dua. Badan pegel-pegel, tapi euforia semalam mengalahkan rasa linu-linu yang menghinggapi pinggang. Hari ini gw mau snorkeling!! Yeay! 😀

Kapan terakhir kali gw snorkeling, gw aja sampe lupa saking lamanya. Begitu kangennya gw sama hard, soft coral dan ikan laut yang berwarna-warni. Begitu kangennya gw nyemplung basah ke laut dan berkecipak-kecipuk ria dengan gaya ala putri ikan duyung. Begitu kangennya gw dengan rasa bebas tanpa komitmen saat berenang di air asin. Intinya, gw kangen!! Deal pun dibuat dengan pemilik penginapan, Pak Riswan. Sejatinya, tarif untuk sewa kapal dan snorkeling ke Pulau Liukang Loe ini fix sebesar 250rb. Kapasitas speed boat bisa menampung sekitar 6-8 orang, nah lumayan murah kan kalau sewanya ramean. Bisa juga sih ber-duabelas kalau mau tenggelam. Sialnya, saat itu gw traveling di bulan Ramadan, otomatis pengunjung sedikit, dan bule-bule yang satu penginapan dengan gw nggak ada satupun yang mau pergi ke Liukang Loe hari itu. Pak Riswan pun sempet ngider berkeliling Tanjung Bira menawarkan jasa one night stand day tour ini, tapi dasarnya apes, nggak ada yang mau pake dia hari itu. Ya sutralah, akhirnya dengan jumlah personil yang amat minimalis, sekitar pukul 11 gw berdua dengan travelmate gw pun cuss berangkat dari tepi Pantai Tanjung Bira yang terkenal dengan pasirnya yang sehalus bedak itu.

Speed boat kami penampilannya cukup oke, masih tampak baru, kokoh, dan kinclong. Tapi kok…nggg… nggak tampak tanda-tanda life vest ya?? Bujubuset. Ternyata life vest nya bayar lagi sodara-sodara. Mana kami juga udah nggak sewa fins (karena nambah lagi 15rb -.-), sekarang nggak ada life vest-nya pula. Okesip. Dengan peralatan amat minimalis (modal google mask doang) kami pun pantang mundur. Berangkat cyiinn… Langit tampak cerah hari itu. Tak tampak awan hitam bergulung. Ombak pun tampak jinak-jinak merpati. Eh tapi, malah abang supir kapal kami yang tidak jinak. Gw yakin si abang ini mungkin sudah berpengalaman lebih dari ratusan kali bolak-balik Tanjung Bira-Liukang Loe. Dari kecepatannya membawa kapal dan meliuk-liuknya, dia terbukti amat sangat mahir. Diibaratkan versi lautnya Fast Furious dah. Lah gw sih seneng-seneng aja, ngerasain muka gw keciprat-ciprat air laut sepanjang jalan, tapi ya tetep aja dag dig dug ser mah ada ya. Gw nggak mau kan nasib gw kaya di film Titanic gitu (serah lo deh!).

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja "Don't stop" :P

Abang Fast and Furious. Tagline-nya aja “Don’t stop” 😛

Dari kejauhan sudah tampak Pulau Liukang Loe yang memanggil-manggil. Tapi sebelum berlabuh di Pulau Liukang Loe, kami diturunkan dulu di G spot snorkeling pertama, nggak jauh dari tepi pulau. First impression? Rada kecewa sih karena penampakan coral-nya tampak biasa aja. Memang, visibility-nya clear, kira-kira sampai 5-7 meter. Tapi tampak beberapa gugusan coral yang sudah rusak. Memang, dari riwayatnya, perairan Sulawesi Selatan pernah mengalami fish-bombing yang cukup parah. Selain gugusan coral yang tidak terlalu menggairahkan, spot tempat kami diturunkan juga sangat dangkal. Masih terlalu dekat dengan tepi pantai. Gw pribadi lebih suka snorkeling di tempat yang agak dalam. Saat mengutarakan keinginan gw ini kepada si abang Fast Furious, lha dia tampaknya tidak mengerti. Bahasa Indonesianya memang masih agak kurang lancar, dan gw nggak bisa ngomong bahasa Makassar sama sekali. Yowis, intinya si abang “kekeuh” kalau spot snorkelingnya nggak bisa pindah-pindah lagi. Kecuali kami mau ke Pulau Kambing, di sana lebih dalam dan ikannya lebih besar-besar, katanya. Sebetulnya gw pengen banget, tapi kata si abang, Pulau Kambing jauh, nggak bisa sekarang. Huhuhu banget. Untungnya beberapa kali gw menemukan penampakan ikan yang ukurannya besar-besar, salah satunya ikan kudu-kudu. Yah lumayan menghibur di tengah pemandangan minimalis saat itu.

Cukup puas snorkeling sesi pertama, gw pun berenang menuju tepian pantai Pulau Liukang Loe. Pantainya sangat bersih, belum nampak tanda-tanda kontaminasi sampah. Pasirnya putih agak keemasan, teksturnya halus tapi tidak sehalus pasir di Pantai Tanjung Bira. Beberapa kapal ditambatkan di tepian, kosong. Tampaknya memang hanya sedikit pengunjung di hari itu. Gw pun berjalan-jalan mengelilingi pulau yang cenderung masih agak sepi. Hanya tampak beberapa rumah, kondisinya pun tidak bisa dibilang bagus, beberapa tampak reyot. Kabarnya hanya ada satu dua penginapan, harganya lebih murah dibanding kawasan Tanjung Bira. Namun sayangnya, di Liukang Loe ini hanya ada satu warung makan. Dan, di warung makan ini, hanya bisa memesan satu macam paket makanan, yang sama untuk semua pengunjung. Paket makanan ini terdiri dari nasi satu bakul, ikan bakar 2 buah, sayur sop satu mangkok besar, dan kerupuk. Untuk makanan yang sangat minimalis ini gw harus merogoh kocek 35rb/orangnya. Isshh… Saran gw sih mending bawa bekal aja deh, terus makan di pinggir pantai noh lebih puas kayanya.

Di tengah Liukang Loe

Di tengah Liukang Loe

Lagi-lagi, seperti juga di Tanjung Bira, saat itu yang tampak hanya turis bule. Mereka tampak santai berbaring tidak bugil di bawah pohon di pinggir pantai. Kebanyakan emak-emak dan bapak-bapak. Kadang suka salut sama bule-bule berumur yang suka bertualang di Asia, hehe…seneng aja liatnya, bikin terinspirasi gitu, kalau harus jaga kesehatan dari sekarang supaya ntar tua pun bisa berpetualang (deramah edisi dokter ;p).

Setelah acara makan siang yang kurang memuaskan lidah, kami pun melanjutkan sesi snorkeling kedua, kali ini spotnya pun nggak jauh berbeda, tapi gw menemukan banyak sekali bintang laut berwarna biru yang unyu-unyu, plus berbagai macam soft coral dengan warna mentereng, merah, pink, biru, ungu, DOR, meletus balon hijau! (………). So far gw cukup puas dengan sesi snorkeling yang kedua . Hal menyenangkan dari snorkeling kali ini yaitu, karena nggak pake life vest dan fins, bergerak pun jauh lebih bebas dan nggak terganggu (meskipun rada was-was ketusuk bulu babi, untungnya jumlah bulu babi di sini masih sangat amat sedikit :)). Nyoba sok-sokan latihan freediving tanpa fins, alhasil niatnya mau duck dive tapi malah kaya kecebong kelelep karena bokong nggak mau turun-turun. 😛

Sekitar jam 4 dengan terpaksa kesenangan pun harus berakhir. Total sekitar 5 jam saja waktu yang dihabiskan untuk snorkeling 2 kali dan mengeksplor Pulau Liukang Loe. Rekor tercepat! Bener-bener one day trip terminimalis yang pernah gw alamin. Next time harus coba ke Pulau Kambing dan Pulau Selayar juga! (^.^)9

Liukang Loe Makassar Sulawesi Selatan Indonesia

Happy traveling, happy life~

Advertisements

#PeopleAroundUs : Laut adalah Hidupku

Liukang Loe Tanjung Bira Indonesia

Tanjung Bira, 14 September 2013

Angin pantai dan deru ombak adalah temanku. Setiap hari bermain ku dengan gulungan-gulungan ombak. Ada yang kecil, rasanya menggelitik, ada yang besar, siap menerkam maut. Ombak adalah temanku. Aku mengenalnya sejak aku masih terbuai di dalam kandungan ibuku. Aku mendengar suaranya yang sayup-sayup memecah karang di kejauhan. Aku mendengar suaranya yang berdebur keras menghantam kapal bapakku. Aku mendengar suaranya yang lembut, menggelitik kaki ibuku. Terbuai aku dalam kemerduan suaranya yang menyatu dengan desiran angin laut, nyaman aku di dalam ibuku.

Tumbuh besar aku di antara pecahan kasar karang dan kerang. Warna-warninya selalu membuatku terpesona. Merah, biru, ungu, putih mengkilat bagai  mutiara. Sering kupendam kakiku yang mungil dalam-dalam di pasir pantai yang empuk. Warnanya putih pucat, sepucat warna bibir ibuku kala itu. Oh ibu, mengapa begitu cepat kau meninggalkan aku…

Aku dilatih untuk menjadi pejuang. Kutaklukkan laut yang sedang marah, kupelajari segala lika-likunya. Kuhapal semua lokasi karang-karang maut yang bisa membuat kapalku karam. Kupahami bahasa angin yang rumit, kapan ia sedang malas, kapan ia mengamuk murka, kapan ia berbaik hati menuntunku menjelajah lautan. Laut adalah hidupku. Ia tidak menjanjikan emas berlian. Ia tidak membuatku bermandikan uang. Ia tidak menjamin hidupku bergelimang harta. Tapi laut adalah hidupku. Di sana aku menemukan kedamaian. Aku mengenalnya lebih dari aku mengenal orangtuaku. Aku mencintainya lebih dari aku mencintai istriku.

Aku menatap horison. Adakah kehidupan lain di ujung sana? Dunia gemerlap yang penuh dengan manusia tampan dan molek. Dunia yang penuh dengan manusia intelek. Yang berpikir dirinya yang paling hebat. Yang sibuk menuntut dirinya dihargai. Sibuk mengumpulkan pundi-pundi duniawi. Tak harus berpeluh keringat untuk menyambung hidup.

Ah, tapi aku lebih cinta laut…

Ikutan #PeopleAroundUs yuk? Proyek satu hari satu foto satu cerita dari @aMRazing ^^

PS : kisah ini murni fiksi.

I Left My Mind at Tanjung Bira

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

Tanjung Bira, pantai berpasir putih seperti bedak di ujung Sulawesi Selatan, berjarak 6 jam perjalanan dengan mobil dari Makassar (how to get there? ada di sini). Seorang kenalan asal Toraja mengatakan, Tanjung Bira ini merupakan Bali-nya Sulawesi. Is that true? Well, yang jelas gw sangat terkesan dengan infrastruktur yang dibangun dengan baik di Tanjung  Bira. Jalanan yang mulus, dengan pepohonan dan bunga-bunga yang asri menyambut kedatangan gw untuk pertama kalinya di pantai yang terkenal dengan pasir bedaknya ini. Penginapan yang berderet-deret di tepi jalan pun memastikan mudahnya mencari akomodasi di Tanjung Bira. Beruntunglah gw, datang ke sana saat bulan Ramadan, di saat kebanyakan orang sedang berpuasa, tentunya sedikit yang liburan ke pantai, so, less crowd and at low season, I thought that this is a perfect time to chill out dan menghindar sesaat dari keramaian kota Bandung yang terkadang, even I love Bandung so much, mulai menyesakkan.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki ke pasir putih pantai Tanjung Bira adalah : “Pantai kok dingin ya?” Saat itu semilir angin berhembus pelan, nggak kencang-kencang amat, tapi cukup sejuk dan menghilangkan penat setelah duduk di mobil angkutan selama hampir 7 jam. Langit berwarna biru kalem (kalem?) dihiasi awan-awan putih yang menggantung dan beriring semarak. Cerah, tapi matahari bersinar malu-malu, seakan malas membagi kehangatannya sore itu. Di bawah kedua kaki gw terhampar butiran lembut pasir berwarna putih pucat, penasaran, gw meraup segenggam, dan ternyata benar, memang sehalus bedak. Langsung terbayang bedak Mars (ups nyebut merk ;p) yang dulu sering gw pake waktu kecil. Gw tenteng kedua sandal di tangan kanan, dan berjalan menyusuri tepi pantai yang memiliki garis pantai yang sangat panjang. Uniknya, pantai Tanjung Bira ini sama sekali tidak memiliki karang. Berbeda dengan beberapa pantai lain yang pernah gw kunjungi, biasanya di beberapa spot terdapat karang-karang besar atau kecil, tetapi Tanjung Bira ini bebas dari karang. So, kita bisa bebas berjalan menyusuri seluruh tepian pantai dengan pasir putihnya yang terhampar cantik, kadang bersemu warna pink, gw juga menemukan beberapa pecahan coral warna pink di tepi pantai, mungkin ini penyebabnya. Di beberapa tempat, tampak kapal-kapal nelayan berlabuh, tampak juga beberapa speedboat yang bisa disewa untuk perjalanan menyeberang ke Pulau Liukang Loe yang berjarak selemparan batu, hanya 15 menit saja dari Tanjung Bira.

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3

Mau guling-guling unyu di sini bareng akoh? :3 (foto ini nongol juga di Turnamen Foto Perjalanan)

Pantai Tanjung Bira ini masih sangat bersih, airnya jernih dan belum tercemar sampah sama sekali, meskipun di tepi pantainya sendiri bisa ditemukan berbagai macam sampah yang terbawa arus dan berlabuh di tepi Tanjung Bira. Tapi overall masih termasuk bersih dan terawat, dan warga tampak mengumpulkan berbagai sampah tersebut dan mengumpulkannya di salah satu sudut pantai. Nice effort, I think.

Salah satu bangunan yang mungkin menjadi trademark dan nggak akan terlewat di Tanjung Bira ini mungkin adalah restoran berbentuk kapal phinisi yang berada di tepi pantai. It really looks real. So cool. Perahu dari kayu berwarna coklat dengan ukuran real (which is, very big), lengkap dengan tiang-tiangnya yang tinggi dan kokoh, menunjukkan kemegahan dan kekuatan tersendiri, well, how can I say this? Maybe if he is a man, then I will say he is a “classic masculin” type :D. So, kapal ini “parkir” gitu aja di atas tebing di tepi pantai, tembok di kedua sisinya terbuat dari batu dan dihiasi bunga-bunga yang merambat indah di atas batu, well, I must said that this is really georgeous. Not a common view I can see everyday. Sebenernya pengen banget banget banget masuk and maybe having dinner inside, tapi apa mau dikata, tipisnya budget membuat gw cukup puas cuma berfoto-foto di depannya aja. Yang penting narsisnya dulu deh, hehe… Btw, you should see this place at night too. So so so beautiful with the lights, plus deburan ombak yang sayup-sayup terdengar dari tepi pantai. :3 So, I thought about a candle light dinner, Jazz or Sabrina music slowly played from the tape, the whistling sound of the wind, and soft murmur of the wave from outside ship dock…

……….tapi gw jomblo. (lalu bunga-bunga pun berguguran)…

Kapal phinisi yang "parkir" sembarangan.

Kapal phinisi yang “parkir” sembarangan.

Phew. Back to story. So…sampe mana gw tadi? 😛

Selain resto phinisi yang unik ini, gw juga menemukan hal unik yang baru pertama kali gw temukan terbaring di pantai, yaitu : Tiang listrik. Hah?! Iye, serius, ada banyak banget besi-besi segede-gede gaban yang ternyata menurut nelayan yang berada di TKP, itu adalah tiang listrik. Kok bisa sih tiang listrik sebanyak itu digeletakkin di pantai, nggak ngerti juga deh gw, tapi katanya sih nanti bakal ada yang ngangkut tiang-tiang listrik ini, yang sebelumnya diangkut pake kapal. Oke deh. Rada aneh juga sih sebenernya (-.-)

Tiang listrik, anyone? No?

Tiang listrik, anyone? No?

Gw pun sempet berjalan-jalan mengeksplor area sekitar tebing di Tanjung Bira, and well well, what did I find? Bars. Yeap. Bars everywhere. Bar dan tempat karaoke, meskipun tampak kumuh dan dibangun seadanya, tapi jumlahnya lumayan banyak, dengan plang-plang bergambar Bir Bintang menggantung di tiap sudutnya. Agak sayang juga sih, karena mengikuti selera pasar (baca : bule) kali ya, makanya bar-bar ini jadi menjamur. Hmmm…meskipun gw bukan tipe konservatif, tapi tetep aja ngerasa gimanaaa gitu kalo di pantai seindah dan sesepi ini ter-Westernized…jadi kaya Kuta yang udah kehilangan feel Indonesianya…

"local bar"

“local bar”

Berhubung mengunjungi Tanjung Bira saat bulan puasa, yasalam susah banget nyari tempat makan di sini. Cuma ada beberapa warung makan yang buka, itu pun menunya yang terjangkau cuma Nasi Campur (isinya nasi, ayam, telor, sayur cap cay) sama nasi goreng, itu pun seharga Rp 15.000-20.000an, which is, menurut gw sih rada mahal ya, meskipun rasanya lumayan enak juga. Dua tempat makan yang lumayan nge-hits di sini tampaknya Pondok Bambu dan Salassa. Keduanya ada di pinggir jalan utama Tanjung Bira. Menunya selain menu masakan Indonesia, juga banyak menu Western, tapi harganya juga lumayan membobol kantong, hiks. Selain itu ada juga restoran kecil di Bira Beach Hotel, resto ini lokasinya di terrace yang langsung menghadap pantai. Asik banget nih makan di sini, nasi campurnya juga yummy, tapi harganya Rp 20.000 #ngok. Sebetulnya banyak warung makan yang berjejer di atas tebing di tepi pantai, tampaknya harganya lebih bersahabat, tapi berhubung bulan puasa, nggak ada yang buka… 😦 Di luar kompleks Tanjung Bira, sepanjang jalan menuju Pelabuhan Bira juga bisa ditemukan beberapa warung makan, so urusan perut sih terjamin lah di sini, hehe…

Dinner? ^^

Dinner? ^^

Memori paling berkesan dan menyenangkan selama trip gw di Tanjung Bira justru bukan pantainya, bukan spot snorkelingnya, pulau Liukang Lioenya, atau makanannya. Justru, turning point saat gw ngalamin sarapan bareng bule-bule di warung Salassa. Pagi itu Salassa  penuh, dan kebetulan dua orang bule asal Jerman kenalan gw yang sebelumnya berangkat sama-sama dari Makassar (baca di sini) duduk di salah satu meja, yang kebetulan kursinya masih banyak yang kosong, akhirnya mengajak kami bergabung. Jujur, sebelumnya gw masih nggak pede kalo disuruh ngobrol pake bahasa Inggris. Meskipun secara pasif kemampuan bahasa Inggris gw bisa dibilang lancar, tapi kalau harus ngobrol, kadang gw masih jiper dan malu-malu. Finally, at that time, gw berhasil ngobrol panjang lebar sama bule-bule ini, kebetulan banget mereka sangat ramah, dan karena gw emang berencana ngelanjutin studi gw ke Jerman, so gw antusias banget ngobrol sama mereka. Entah gimana, rasa jiper itu hilang juga. Ternyata gw bisa ngobrol sama bule T.T *sungguh ndeso yak*.

Nggak lama, seorang bule asal Perancis bergabung, and it turned out to be a very nice conversation between us. Dan si bule Perancis ini udah keliling Sulawesi dan daerah timur Indonesia, bikin gw malu deh, orang Indonesia tapi belum pernah ke daerah timur, hih! Bikin makin semangat traveling! Malu sama orang luar yang so enchanted sama Indonesia, masa kitanya sendiri cuma diem di tempat aja? Untung berkat promo Citilink kali ini, finally gw bisa menginjakkan kaki ke Sulawesi, hehe…maklum fakir promo 😛 So, ngalor-ngidul dari mulai ngomongin pekerjaan, masalah kesehatan, ngomongin tentang belajar bahasa asing, ngomongin tempat wisata di Jerman, Indonesia, dan Perancis, sampe ngomongin tentang freediving dan bahasa sandi rahasia di Perancis, akhirnya pagi yang menyenangkan itu pun harus berakhir. We said good bye to each other, and I left Tanjung Bira, heading back to Makassar, dengan perasaan campur aduk…

Like my travelmate once said…”I left my mind at Tanjung Bira…”

Tanjung Bira Makassar South Sulawesi

      

        

    Happy traveling, happy life~ 

Weekly Photo Challenge : Carefree

Tanjung Bira South Sulawesi Makassar

One beautiful day at Tanjung Bira Beach, South Sulawesi. I strolled around the white sandy beach, below my feet was soft, tender and wet sands, with the powdery-like texture. I wondered how many rocks, corals, and shells was crushed by the wave, to finally create such a soft form of powdery sand? I heard the humming sound of ocean wave from my left, I felt the cold frothy water touching the tip of my feet. I saw the bright light blue sky, with the fluffy clouds patched all around. I saw the turquoise colored water. White birds flew, boats docked, against the whistling wind. Then, I saw her. My eyes fixed at her bright red shirt. I saw how she sat on the rock stair, the way she put both her elbow on, and how she looked far far away to the horizon…I don’t know her, maybe she’s American, or Australian, or Italian, I don’t know. But I knew, at that time, that we both carefree. Free of trouble and worry.

Weekly Photo Challenge : Dailypost

Tanjung Bira, South Sulawesi : How to get there?

How to get there?

How to get there?

Hari masih pagi saat gw dan travelmate gw kali ini melangkahkan kaki di jalanan Makassar yang masih cukup lengang. Tujuan gw hari ini yaitu sebuah pantai  berpasir putih yang  terletak di Kabupaten Bulukumba, sekitar 200 kilometer dari Makassar, Pantai Tanjung Bira. Dengan budget yang terbatas, tentunya gw memilih menggunakan angkutan umum. So, meluncurlah gw ke Terminal Malengkeri dengan angkot warna biru telor asin dari depan RRI Makassar. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit, dan merogoh kocek sebesar 4rb rupiah. Ini tarif angkot paska kenaikan BBM, huhuhu…

Sesampainya di terminal, gw langsung disambut calo-calo angkutan yang dengan semangat ’45 menawarkan jasanya. Di Indonesia, di mana-mana sama aja, kalo masuk terminal pasti deh langsung berasa kaya artis, dikerubutin gitu… 😀 *krik…krik*. Salah seorang bapak calo yang wajahnya tampak agak meyakinkan menawarkan angkutan langsung ke Tanjung Bira seharga 80rb. Buset, perasaan dari hasil googling, tarifnya sekitar 50rban aja deh. Sial, yasalam, mungkin karena pas banget sama timing post-kenaikan-BBM kali ya. Tapi si bapak ini meyakinkan kalau nanti kita akan didrop tepat di area pantai, kalo nggak, nggak usah bayar katanya. Dalem hati sih berharap diturunin di tengah jalan aja, jadi nggak usah bayar #lho.

Setelah perut kenyang diisi Sop Konro di salah satu warung di pojok terminal, kami pun berangkat. Mobil angkutannya tipe mobil Kijang gitu, cukup nyaman. Gw dan temen gw dapet tempat di kursi belakang, tapi it’s okay lah, toh cuma 6 jam perjalanan. Selain kami berdua, ada juga sepasang backpacker dari Jerman, dan seorang bapak yang akan menuju Bulukumba. Perjalanan pun dimulai dengan riang, dan diiringi musik dangdut yang diputar dengan suara maksimal. Pak sopir memacu mobil dengan kecepatan kayak mau nganter istri yang hampir melahirkan. Ngebut! Dan lagi beliau ini nggak henti-hentinya mengklakson menyingkirkan kendaraan-kendaraan yang menghalangi jalannya. Alhasil dag dig dug ser abis deh di dalem mobil. Ngebut dan dangdut!! Asoy……

Pemandangan di kanan dan kiri jalan yang menemani sepanjang perjalanan berupa bentangan sawah yang hijau menghampar, serta beraneka jenis rumah adat Makassar yang berupa rumah panggung berwarna-warni, membuat mata ini nggak mau berkedip rasanya. Plus jalanan yang mulus bak paha Cherrybelle bikin perjalanan terasa nyaman (meski tetep dag dig dug). Di tengah jalan mobil berhenti di warung penjual semangka, yang dijual 10rb rupiah saja per butir. Perjalanan semakin menyenangkan dengan ditemani potongan segar buah semangka gratis (teman gw yang beli soalnya ;p), hehe.

Separuh perjalanan pun berlalu dengan cepat. Kemudian, tiba-tiba si sopir berhenti. Dia menemui sopir angkutan lain yang mobilnya mogok, alhasil 4 penumpang di mobil tersebut terlantar. Sopir kami ikut membantu mencarikan montir, tapi tampaknya mobil mogok tersebut nggak tertolong lagi. Menunggu cukup lama, seorang penumpang di mobil kami sudah ngomel-ngomel nggak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan. Setelah melalui negosiasi yang tampaknya cukup ribet, akhirnya keempat penumpang dari mobil itu diikutkan ke mobil kami. Dua orang bule Aussie dan dua orang lokal. Weks. Akhirnya berjejal-jejalah kami semua di dalem mobil Kijang, empat orang di kursi tengah dan empat orang di kursi belakang. Sebenernya kalo semuanya berbadan mungil gitu nggak masalah kali ya. Lha ini… *menatap nanar tumpukan lemak bokong* 😛 Kasian juga bule-bule yang sempit-sempitan di kursi tengah, hihi, mana body-nya tinggi gede menjulang gitu, sabar eaaaa mas-mas bule…tiga jam lagi kok! 😛 Di tengah berdempet-dempet ria gitu, masih sempet-sempetnya si bule minta difoto dan bercanda-bercanda minta tarif angkutannya didiskon, hihi…

Dari gini...

Dari gini…

Tanjung Bira, South Sulawesi

…jadi gini. Cabal eaaaa mas dan mbak bule… 😛

Tiga jam kemudian, setelah kaki dan bokong berlemak ini hampir kram hasil berdempet-dempetan, plus kuping setengah budeg hasil musik dangdut koplo yang liriknya kadang bikin pengen ketawa sambil nangis, sampailah kami di pintu gerbang Tanjung Bira, dan harus membayar retribusi. Untuk wisatawan asing dikenai tarif 20rb, untuk lokal 10rb. Bule cewek Aussie di sebelah saya langsung protes-protes dengan menunjukkan buku LP Indonesia-nya. Di situ tertulis biaya tiket 5rb. Ya elah mbak, itu LP jaman kapan,  sekarang BBM aja udah naek mbak, dalam hati gw, hehe.

Kawasan Tanjung Bira ini, melebihi ekspektasi gw, ternyata sudah tertata rapi, dengan jalanan mulus, dipenuhi penginapan di kanan dan kiri jalan. Pak sopir berbaik hati mengantar kami mencari penginapan. Gw cukup kaget juga karena bule-bule ini mengincar penginapan yang gw incar juga, Nini’s Guesthouse. Emang kalo udah masuk LP langsung nge-hits kali ya… Sayang banget di Nini’s saat itu kamar yang ada nggak sesuai harapan, sempit dan gelap, meskipun viewnya bagus sih emang, karena dia lokasinya agak ke atas bukit, jadi asik tuh kayanya leha-leha di balkonnya sambil bergalau ria liatin pantai… #tsaahh. Akhirnya kami semua menuju Riswan Guesthouse, nggak jauh dari Nini’s Guesthouse, letaknya tepat di pinggir jalan utama, nggak di bukit, so, nggak ada view di sini, tapi kamarnya murah banget lho! Cukup 100rb/malem aja sekamar, ada 2 bed, kamar mandi dalam, kipas angin, dan luas banget loh, lumayan lah buat koprol-koprol di lantainya mah. Hehe. Yang gw suka sih, kamarnya bentuk kamar panggung gitu, lantainya dari kayu dan dindingnya dari bilik bambu, masih tradisional gitu berasa di desa-desa. Emang sih nggak nyaman-nyaman banget, tapi not bad lah untuk harga segitu… Awalnya gw udah nawar minta dimurahin lagi tapi si bapak pasang muka memelas gitu gw jadi nggak tega 😛 (dasar nggak jago nawar, hiks…).

Riswan Guesthouse, monggo kalo mau dikontak...yang punyanya ramah plus murah meriah.

Riswan Guesthouse, monggo kalo mau dikontak…yang punyanya ramah plus murah meriah.

Penampakan kamar di Riswan Guesthouse

Penampakan kamar di Riswan Guesthouse

Finally, Tanjung Bira. Pantai berpasir bedak, katanya. Is that true? To be continued ah…biar kayak sinetron-sinetron gitu~ *kaburrrr* X)

Summary :

Pete-pete (angkot) Makassar – Terminal Malengkeri : 4rb, 45 menit.

Angkutan ke Tanjung Bira : 80rb, 6 jam.

Tiket masuk Tanjung Bira : 10rb.

Alternatif lain :

Dari Terminal Malengkeri, naik angkutan yang ke Bulukumba : 45rb

Pete-pete Bulukumba – Tanah Beru : 7rb

Pete-pete Tanah Beru – Tanjung Bira : 7rb

Opsi ke-2 ini lebih murah, gw nyoba alternatif ini waktu perjalanan pulang dari Tanjung Bira ke Makassar. Lumayan banget sih, lebih hemat 21rb 🙂 Gimana? Cheap and easy kan?

Next : pasir bedak Tanjung Bira dan snorkeling di Pulau Liukang Loe!

 

Happy traveling, happy life~