Weekly Photo Challenge : Community

Khoo Khongsi Clan’s name plates of family inherited

Khoo Khongsi Clan’s name plates of family inherited

The first words occured in my mind when I read about this weekly photo challenge theme by Daily Post is : “Chinese Clan”.

Based on Oxford Dictionary, community means :

  1. a group of people living in the same place or having a particular characteristic in common
  2. the condition of sharing or having certain attitudes and interests in common
  3. Ecology a group of interdependent plants or animals growing or living together in natural conditions or occupying a specified habitat

Clan, however, preceded more centralized forms of community, a close-knit group of interrelated families.  A Chinese clan is a patrilineal and patrilocal group of related Chinese people with a common surname (e.g. Lie, Hoo, Tan, Khoo, etc.) sharing a common ancestor and, often, also an ancestral home.

Well, China has the biggest population on Earth (more than 1,3 billion!), and we can find Chinatown in many places outside China. Although my anchestors are from China, and I also have a Chinese name, but the thought about Chinese clan house was never occured to me before (I am a failed Chinese!! Forgive me Grandmother! :p), until I visited Khoo Kongsi Clan House in Georgetown, Penang, Malaysia.

The Khoo Kongsi clan forefathers came from Sin Kang village in Hokkien province, South China. They emigrated from there to Penang and built Khoo Kongsi clanhouse for members of the Khoo family in 1851. The clan temple was built in 1906 when the Khoo clan was at the peak of wealth and reached the great status and superiority in Penang society. The temple itself is a form of grandeur art, with the statues, paintings, carved pillars in shiny gold colours.

 

The Khoo Kongsi is known as the most majestic Chinese clan house in South East Asia. The clan, Khoo Kongsi clan, together with Cheah, Yeoh, Lim and Tan Kongsi, were known as the Five Big Clans, formed the backbone of the Hokkien community in early Penang. The Khoos were among the wealthy Straits Chinese traders of 17th century of Malacca and early Penang.

 

Today, Khoo Kongsi is a historic site, due to its location in the UNESCO World Heritage Site area of George Town. I wonder how they used to live in this clan house, must be very interesting, to live together in one clan community. And the fact that the house is still there and well preserved after more than 150 years proves that blood is thicker than water.

Advertisements

12 Jam Di Penang, Ngapain Aja Sih???

Street Art Georgetown Penang

Hah? 12 jam doang di Penang? Ih, ngapain? Mungkin banyak orang mikir kaya gini. Mungkin banyak orang ngerasa sia-sia banget ngabisin cuma 12 jam di Penang. Mungkin banyak orang ngerasa ngapain capek-capek bolak-balik Singapura-Penang cuma buat ngunjungin Georgetown doang. Mungkin banyak orang males ngelakuin trip overland kayak gw gini, FYI, Singapura-Penang via jalan darat itu memakan waktu 9 jam sekali jalan dengan menggunakan sleeper bus. Untuk keterangan transportasi Singapura – Penang lebih lengkapnya bisa baca di postingan gw sebelumnya. Ya, memang keliatannya capek dan silly jauh-jauh ke Penang cuma buat ngabisin waktu 12 jam aja. But, if ask myself, was it worthed? Tanpa ragu gw akan menjawab : Sangat.

Jadi, ngapain aja sih gw selama 12 jam di Penang?

Sesampainya di Terminal Sungai Nibong di Penang, gw dan travelmate gw kali ini, sebut saja nama sebenarnya, Irene, setelah numpang mandi di terminal, langsung menuju pintu keluar. Hati-hati yak, banyak banget abang-abang ojek dan taxi yang akan dengan ganas menyerbu, pokoknya pasang wajah sok nggak butuh aja, hehe…Nah di sebrang dari pintu keluar terminal, kita berdiri di pinggir jalan nungguin Bus Rapid Penang. Menurut info, bus yang bernomor 301, 302, 303, dan 401 bisa mengantar kita langsung sampai ke Georgetown. Lama menunggu sampe akhirnya ngemper di trotoar…akhirnya nongol juga bus nya, itu pun setelah tanya orang-orang di sekitar sana karena bingung kok busnya nggak nongol2. Jangan bayangin Rapid Penang ini halte busnya kaya halte di Singapura. Nggak jelas haltenya, dan nggak jelas juga di mana dia berhentinya, kadang cuma ada plang tanda Bus Stop aja, tanpa tempat duduk. Malah di depan terminal itu, dia berhentinya di depan gardu warung makan gitu. Bayarnya pun nggak pake kartu-kartuan tapi cash sebesar 2 RM. Beuh sempet bingung, tapi orang-orang sana baik-baik dan ngasih info yang tepat, so, kalo bingung, just ask. 🙂

Setelah perjalanan selama kira-kira 30 menit, turunlah gw di depan Masjid Kapitan Keling. Akhirnya petualangan dimulai! ^^ Dari sini gw cuma bermodalkan peta Georgetown yang gw dapet dari internet. Menyenangkannya, di sana, selain jalanannya tersusun rapih, petunjuk jalannya pun jelas banget, pokoknya nggak akan nyasar deh! Tapi menurut gw sih, tetep lah harus bawa peta yak, biar hemat waktu. Peta yang gw pake bisa didownload di sini. So, tempat apa aja sih yang bisa dikunjungi selama 12 jam di Georgetown?

Kwan Im Temple

Berlokasi di Jalan Masjid Kapitan Keling, kuil ini diperuntukkan khusus untuk menghormati Dewi Kwan Im, yaitu dewi perwujudan Sang Buddha sendiri (Avalokitesvara Bodhisattva). Saat gw mengunjungi kuil ini, banyak sekali umat yang sedang berdoa, baik di dalam maupun di luar, dari yang tua sampai yang muda. Tampak dupa dengan berbagai ukuran, dari mulai yang tipis sampai yang diameternya sekitar 10 cm. Di halaman depan kuil tampak banyak sekali burung merpati, menyambut tiap pengunjung yang datang, sambil berterbangan dengan santainya. Di samping kuil terdapat banyak penjual dupa dan aneka barang-barang persembahan. Berhubung saat itu sedang dilaksanakan ibadah, jadi gw nggak masuk ke dalem kuil. Menariknya, lokasi kuil ini berdekatan dengan Masjid Kapitan Keling di sampingnya dan Mahamariamman Temple di area seberangnya. Berjalan di sepanjang jalan Masjid Kapitan Keling ini terasa sekali rich in diversity-nya, dan sangat menarik mengamati cultural mix yang ada di sini, lebaynya, ngesot sedikit udah berubah suasana, dari Melayu, India, dan Chinese, and I love it! ^^

Tempat pembakaran dupa

Tempat pembakaran dupa

Young Man Praying...

Young Man Praying…

Pinang Peranakan Mansion

Buat gw, tempat ini merupakan highlight selama menghabiskan waktu di Georgetown. Why? Baca aja namanya. Pinang. Peranakan. Mansion. Man, it’s a MANSION! Jujur, kalo sekarang orang nyebut kata Mansion, di otak gw munculnya kok langsung kata “playboy” yah :p Weits, tapi mansion yang ini bukan mansion playboy kok. Mansion ini dulunya merupakan tempat tinggal Kapitan Cina Chung Keng Kwee, dibangun di tahun 1980-an oleh Hai Kee Chan. Kenapa disebut Peranakan Mansion? Jadi “Peranakan “ itu merupakan istilah untuk orang-orang Malaysia dan Singapura yang berasal dari daratan Cina sana. Biasanya, disebut juga Baba dan Nyonya. Meskipun berasal dari Cina sono, tapi budaya warga Peranakan ini udah mengalami akulturasi dengan budaya setempat loh. Selain terpengaruh oleh budaya Melayu, juga banyak dipengaruhi budaya Barat, terutama Inggris, yang memang dulunya menduduki Malaysia dan Singapura. So, percampuran banyak budaya ini menghasilkan Peranakan culture yang sangat unique, bayangin deh : Cina, Melayu, Inggris. Kurang awesome gimana lagi coba? Dan di Pinang Peranakan Mansion ini, bisa dilihat kekayaan budaya mereka ini. Apa aja sih yang bisa dilihat? Nih :3

Wajah seorang Nyonya Peranakan

Wajah seorang Nyonya Peranakan

Wajah Permaisuri Kaisar Cina kala itu

Wajah Permaisuri Kaisar Cina kala itu

Halaman tengah di dalam Mansion. Enak nih buat ngeteh cantik! :3

Halaman tengah di dalam Mansion. Enak nih buat ngeteh cantik! :3

Hasil perpaduan akulturasi budaya Cina dan Barat

Hasil perpaduan akulturasi budaya Cina dan Barat

Chandelier yang tergantung di ruang makan, mau?

Chandelier yang tergantung di ruang makan, mau?

Uniknya mansion ini memang karena perpaduan ketiga budaya tadi. Meskipun budaya Cina yang tampak mendominasi, tetapi di berbagai spot terlihat beberapa barang-barang modern dari Barat. Lemari-lemari kaca berisikan kristal-kristal dari Eropa bersanding dengan lemari kaca berisikan keramik-keramik Cina. Cheongsam bersanding dengan gaun pesta putih ala Western. Lampion berlukiskan naga menghiasi meja tulis dengan berbagai patung ukiran karya seniman Barat.

Lantai 2 yang didominasi interior kayu, adem banget rek!

Lantai 2 yang didominasi interior kayu, adem banget rek!

Radio kuno dari Jerman

Radio kuno dari Jerman

Lampion yang menghiasi langit-langit Mansion

Lampion yang menghiasi langit-langit Mansion

Masih ngeluh DSLR kamu berat? Well, think again. Kamera jaman dulu segede lemari gini lho :D

Masih ngeluh DSLR kamu berat? Well, think again. Kamera jaman dulu segede lemari gini lho 😀

Puas menjelajahi lantai 1 dan ruang tamu di lantai 2, gw pun memasuki kamar-kamar tidur yang semuanya terletak di lantai 2. And wow, this is my favourite part of the Mansion. Kamarnya unyuk banget! Ada 2 kamar tidur, yang pertama menggunakan ranjang biasa dan di atasnya terhampar aneka dress putih yang penuh bordiran, sangat cantik! Meja riasnya pun dipenuhi berbagai kosmetik jaman dulu yang kondisinya masih bagus, sampai ke sabun batangnya juga masih utuh, entah juga deh masih bisa dipake mandi nggak ya kira-kira? ;p Kamar tidur kedua lebih unik, yaitu masih menggunakan ranjang model Cina yang ada di film-film Yoko itu loooohhhh! *ketauan deh angkatan 90-an*, aih, unyuk! :3

Salah satu kamar tidur. Pengen banget boboan di kasurnya tapi nggak boleh :( *ya menurut ngana?*

Salah satu kamar tidur. Pengen banget boboan di kasurnya tapi nggak boleh 😦 *ya menurut ngana?*

Parfum dan kosmetik yang masih utuh tersimpan di meja rias :3

Parfum dan kosmetik yang masih utuh tersimpan di meja rias :3

Kalo wastafelnya aja dibikin secantik ini, gimana bath tub nya ya?

Kalo wastafelnya aja dibikin secantik ini, gimana bath tub nya ya?

Oh iya, tiket masuk Pinang Peranakan Mansion ini 10 RM ya, dan lokasinya ada di Jalan Lebuh Gereja, buka setiap hari dari jam 9.30-17.00. Mampir ya, anggep aja rumah sendiri ^^ #lho?

 

Cheah Kongsi Clan Temple

Nggak sengaja ngelewat kuil ini di Lebuh Armenian, akhirnya memutuskan untuk masuk. Interior kuilnya sederhana tapi sangat menarik. Sejarah kuil yang dibangun tahun 1870 ini pun sangat menarik, yaitu didirikan oleh Klan marga Cheah sebagai penghormatan kepada kedua dewa pelindung mereka, Hock Haw Kong, yang diyakini melindungi perjalanan mereka dari Cina Selatan menuju daratan Asia Tenggara.

Model yang tidak dibayar #eh :D

Model yang tidak dibayar #eh 😀

Pintu yang berlukiskan kedua dewa pelindung klan Cheah

Pintu yang berlukiskan kedua dewa pelindung klan Cheah

Khoo Kongsi Temple

Kuil ini merupakan salah satu yang terbesar dan tercantik di Georgetown. Didirikan oleh klan Khoo untuk menghormati dewa pelindung Tua Sai Yah, sekaligus sebagai “basecamp” klan Khoo. Jadi ternyata, dulu, ada Lima Klan yang “merajai” Penang, yaitu marga Khoo, Cheah, Yeoh, Liem, dan Tan. Mereka dikenal sebagai “Five Big Clans”. Mereka menempati area sepanjang Jalan Chulia sampai Jalan Beach.  Wih jadi kebayang film-film gangster Cina jaman dulu yak! *overimaginative* 😀 Kuil ini dibangun tahun 1850, sudah pernah dihancurkan dan dibangun lagi dari awal, pernah mengalami kebakaran saat Chinese New Year Eve di tahun 1901, kemudian sempat dibom oleh Jepang saat Perang Dunia Kedua,  tapi akhirnya dibangun lagi dan bertahan sejak 1958 sampai sekarang. Tahan banting bener dah ini kuil 😀

Khoo Kongsi Temple Georgetown Penang

Interiornya sendiri memang sangat indah, semarak oleh ukiran-ukiran naga, didominasi warna emas. Di setiap tiang-tiangnya pun dihiasi dengan gambar naga. Di bagian depan terdapat patung singa dari batu, yang biasanya selalu terdapat di area pintu masuk kuil pada umumnya. Di bagian dalam kuil, terdapat altar untuk berdoa dan menaruh dupa. Dinding kuil dihiasi oleh lukisan berbagai dewa pelindung dengan cat warna hitam. Di bagian belakang kuil terdapat lukisan dari tinta Cina, yaitu lukisan “The Eight Immortals” yang sangat indah, selain itu terdapat lemari kaca yang menunjukkan barang-barang peninggalan orang Cina jaman dulu. Di sisi kuil terdapat ruangan yang berisi plat-plat nama orang-orang yang bermarga Khoo yang sudah meninggal. Untuk memasuki kuil yang berlokasi di Cannon Square ini, kita harus membayar  5 RM, dan kuil dibuka setiap hari jam 9.00-17.00. Katanya sih, pemandangan paling spektakular ya saat malam hari, di saat seluruh lampu dinyalakan, wih, pasti keceh berat. Sayang gw nggak sempet mengeksplor Penang di malam hari *tepok jidat*.

Lampion yang menyambut di pintu masuk kuil

Lampion yang menyambut di pintu masuk kuil

The Eight Immortals

The Eight Immortals

Sun Yat Sen Museum

Gw menemukan tempat ini secara nggak sengaja. Lokasinya di Lebuh Armenian. Dari depan, tampak seperti rumah biasa aja, tapi plang Sun Yat Sen Museum cukup menarik minat gw untuk memasukinya. Sun Yat Sen kan Founding Father-nya RRC,  presiden pertama RRC, dan selain itu beliau juga seorang dokter loh ^^ Memasuki museum ini kita membayar  5 RM, dan museum buka setiap hari jam 9.00-17.00. Di ruang depan, terdapat foto-foto dan kilas sejarah perjuangan Dr. Sun Yat Sen ketika berusaha menggulingkan sistem Dinasti Cina dan mengubahnya menjadi sistem Republik. Ceritanya seru, mungkin karena belajar langsung dari museumnya kali yah, jadi nggak ngebosenin kaya kalo belajar sejarah di sekolah. Dari mulai kisah kegalauan beliau karena nggak setuju dengan sistem Dinasti, kisah penyebaran propaganda lewat surat kabar, kisah penggalangan dana sampai ke seluruh penjuru Asia demi menggulingkan Kaisar, sampai kisah percintaannya juga ada. Menariknya, selain membaca dari keterangan yang dipasang di dinding, kita juga bisa nonton film kisah hidup Dr.Sun Yat Sen ini di TV yang ada di sana. Filmnya diperankan aktor-aktor terkenal *katanya*, gw sih nggak kenal ya, secara aktor Cina jadul gitu -.-

Sun Yat Sen Museum Georgetown Penang

Di bagian dalem museum, ada perabot-perabot yang masih asli dari jaman Dr.Sun Yat Sen sering mampir ke situ lho. Jadi dulunya rumah itu dipakai Dr.Sun Yat Sen untuk rapat dan diskusi dengan teman-temannya sesama aktivis. Selain meja dari marmer, ada juga lemari-lemari kayu, seperangkat alat minum teh beserta isinya (yang bisa kita pake minum beneran loh), cermin jadul, dan masih banyak barang-barang Cina jadul yang bikin gw ngerasa travel to the past…Suka pokoknya! ^^

Ruangan tengah tempat minum teh :3

Ruangan tengah tempat minum teh :3

Ini teh nya, gelasnya cantik tapi jangan dibawa pulang ya! :D

Ini teh nya, gelasnya cantik tapi jangan dibawa pulang ya! 😀

Selain tempat-tempat di atas, beberapa tempat menarik yang juga dilewati antara lain :

Cheong Fatt Tze Mansion : nggak sempet masuk ke sini gara-gara kesorean, hiks!

– Masjid Kapitan Keling

– Hock Teik Cheng Sin Temple

– Yap Temple

– Residence of Ku Din Ku Meh

– Berbagai Street Art dan Art Shop di jalanan Georgetown


So, 12 jam di Penang? Why not? Banyak tempat yang bisa dieksplor, belajar pengetahuan dan kultur baru, menikmati suasana mixed culture yang kental di Georgetown…dan tentunya mampir kuliner juga dong ya 😀 Saking cintanya gw sama kuliner Penang, nanti akan gw buat postingan tersendiri. Tunggu yah! ^^ Happy traveling!

Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic!

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Oase kultural di tengah modernitas Singapura

Berwisata ke Singapura tak melulu hanya melihat kemegahan arsitektur modern gedung-gedung pencakar langitnya. Bangunan-bangunan bombastis seperti Marina Bay, Esplanade, atau Helix Bridge memang mengesankan, namun entah kenapa saya tak terlalu menikmatinya. Saya memang bukan pecinta arsitektur modern. I prefer old historical building, temple, cultural museum, dan sejenisnya. Hal ini terasa saat backpackeran ke Singapura di bulan Januari yang lalu, yang membuat saya sangat antusias bukannya kemegahan gedung-gedung pencakar langit atau ikon-ikon Singapura, tetapi justru Chinatown. Why?

Well, in the middle of this super-modern city, Chinatown lah yang tampaknya memiliki aura “hidup”. Mungkin juga karena latar belakang saya yang berasal dari etnis Chinese, sehingga langsung merasa familiar dengan suasana dan hiruk pikuk Chinatown. Lagu-lagu berbahasa Cina yang diputar (meskipun saya tidak mengerti sama sekali artinya), warna-warna merah dan kuning emas yang mendominasi jalanan, bau dendeng babi yang menyeruak tajam, sampai pernak pernik hiasan Imlek yang didominasi oleh lambang Ular (tahun ini Tahun Ular dalam kalender Cina). Ah…that ”homey” feeling.

Salah satu tempat yang saya kunjungi di Chinatown ini adalah The Buddha Tooth Relic Temple & Museum. Mencarinya lumayan sulit saat itu, karena saya yang memang agak buta arah, dan jalanan-jalanan di Chinatown yang semua tampak mirip. Lokasinya di South Bridge Road, tidak begitu jauh dari pintu keluar MRT Chinatown.

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Pintu masuk kuil dengan arsitektur jaman Dinasti Tang

Saat itu saya sampai di sana sudah menjelang sore hari. Masih ada beberapa pengunjung yang sedang berkeliling di dalam kuil. Saya disambut oleh pintu kuil yang megah dan tentunya berwarna merah. Memasuki kuil sebaiknya tidak memakai baju terbuka. Tapi tenang saja, ada kain yang dipinjamkan di pintu masuk, gratis kok. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut biaya, free!  Memasuki ruangan, saya hanya bisa tercengang dengan kemegahan dekorasi kuil, yang tentunya didominasi warna emas dari patung-patung Buddha. Di dinding-dinding, terdapat ratusan patung Buddha, dengan pose yang berbeda-beda. Meskipun bukan beragama Buddha, saya selalu tertarik dengan wajah Sang Buddha, I always thought, “I wish I have that peaceful face all the time”.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Salah satu patung Buddha yang terdapat di dinding kuil.

Ada juga patung-patung Bodhisattva pelindung untuk masing-masing Shio. Misalnya, saya yang bershio Naga, pelindung saya adalah Samantabhadra Bodhisattva. Adik saya yang bershio Monyet, pelindungnya adalah Vairocana. Lalu ada juga patung-patung lainnya seperti Kulikah, Dewa Kematian, dan lain-lainnya, lengkap dengan penjelasan di papan namanya. Harus saya akui Singapura ini sangat hebat dalam wisata edukasinya. Di Garden by the Bay, di SEA Aquarium, di Fort Canning, sampai di Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini pun, rasanya saya benar-benar dijejali berbagai informasi yang mengedukasi. Andai saja otak saya bisa mengingat semuanya, hehe…

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Samantabhadra Bodhisattva, guardian mereka yang bershio Naga dan Ular

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating...

Dewa Kematian. Hmm i find this a bit scary and intimidating…

 

Saya mengelilingi Buddha Tooth Relic Temple and Museum ini hanya sekitar 45 menit. Perut yang keroncongan minta diisi makan memanggil-manggil. Sesampainya saya di foodcourt Maxwell, tiba-tiba terlintas, “Loh kok saya tadi tidak melihat relik gigi Buddha-nya ya?”. Tapi  karena otak yang sudah selow karena kelaparan, akhirnya pikiran itu terlupakan begitu saja. Sepulangnya saya dari Singapura, saat browsing-browsing iseng, barulah saya tahu kalau Buddha Tooth Relic Temple and Museum itu ada 4 lantai! Dan relik gigi Sang Buddha itu disimpan di dalam stupa yang terbuat dari 320 kg emas di lantai 4! Bodohnya saya, hanya mengunjungi lantai 1 saja. Aduh! Lagian, saya kok ya nggak mellihat tangga ya waktu itu? Selabur itu kah mata saya? Alhasil judulnya : Visiting Buddha Tooth Relic Temple and Museum Without Seeing the Buddha Tooth Relic. Gosh! Maybe next time? 😀

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

Patung dewa yang berada di pintu masuk. Jadi teringat dewa-dewa di film Kera Sakti.

It’s always nice to see a bit of cultural things in the middle of big and modern city. Kadang hal-hal yang modern itu bisa jadi sangat membosankan. Kultur, ritual agama dan kepercayaan, dewa-dewi, sejarah, peninggalan dan cerita masa lalu dapat menambah kekayaan jiwa, mengingatkan bahwa manusia, meskipun harus bergerak maju, tetapi jangan sampai melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, sejarah dan agama yang sedikit banyak membentuk dirinya sampai pada saat ini. Singapura, dengan seluruh kecanggihan kotanya, tidak lantas melupakan kekayaan kulturnya. Salah satunnya disinilah, sedikit oase jiwa dapat dicicipi. Di Buddha Tooth Relic Temple, di tengah Chinatown, di antara megahnya gedung-gedung pencakar langit…