Weekly Photo Challenge : Sea

picture taken at Gosong Seloka Island, Karimunjawa, Indonesia

Since I was a kid, sea is always been a mystery for me. What lies beneath the ocean? I always wondered back then. Sometimes my mind full of many thought of magical, weird, both colourful and dark creatures of the sea. I thought about beautiful mermaids, blue whales, Neptune’s kingdom, electric eels, baby shells, even talking-clownfishes. Since me and my parents lived downhill near the mountain, almost in every holiday they would took me to the beach, to experience another kind of world that Mother Nature has given to us. Paradise with thick black or powdery white sands, bright and hot sun, cold frothy blue water played with my feet, left a big smile at my clumsy kid-face. Sometimes left not only a smile, but also a painful red sunburn and black-browned skin. Still, what beneath the ocean remained a mystery…

then I grew up.

I forgot many things that I used to think when I was a kid, but not my curiosity for the ocean.

The mystery finally revealed half and a year ago, when I had my first snorkeling experience at PhiPhi Island, Thailand. Finally, I knew what lies beneath the mysterious thick blue water. My heart was pounding so fast that I could heard them in my ears. I gasped when I saw numerous corals that have size as big as a car. I couldn’t help myself to not smile when groups of fishes came and passed me by. I was fascinated with the variety of hard and soft corals, some looks like a brain, some like a table, and some like fingers. And the colour! I hardly believe that under this flat blue water, there are so many colourful corals and fishes. So many beautiful living creatures, so many too see, and so many things to be grateful for.

Since then, I fell in love with ocean. I feel “home”.

Home, where I should always go back to. (and I do)

Home, where my heart is.

Weekly Photo Challenge : Sea

Day 6 – PhiPhi Island Tour

Save the best for last. Ya, acara terakhir kami di Phuket adalah island hopping ke KoPhiPhi. Belum pernah dengar??? Ah masa…hehe. Tontonlah film The Beach yang dimainkan oleh Leonardo di Caprio. Sesuai dengan judulnya, Anda akan dibuat terkesima dengan pemandangan pantai yang menjadi lokasi syuting film tersebut. Judul The Beach saja sudah cukup untuk menggambarkan isi film yang membuat kepulauan di Thailand Selatan menjadi nge-hits sampai sekarang. KoPhiPhi. Merupakan gugusan kepulauan kecil di dekat Phuket, yang berada di Laut Andaman nan cantik. Dalam film, pantai di KoPhiPhi digambarkan sangat bersih, air berwarna biru muda nyaris transparan, dan pasir pantai yang putih dan empuk. Siapa saja yang menonton film ini pasti akan jatuh cinta #yakin. Kecuali Anda phobia air. Hehe. So, inilah destinasi kami hari ini. KoPhiPhi.

Untuk pergi ke KoPhiPhi kami mengikuti tour dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dengan harga 1250 THB untuk tour dengan menggunakan speed boat. Ada juga tour yang menggunakan long tail boat, tapi dari hasil browsing sebelum berangkat, ternyata disarankan untuk menggunakan speed boat saja, karena : waktu tempuh lebih singkat, sehingga lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi, kesempatan snorkeling lebih lama, dan bisa mampir ke Maya Bay (long tail boat seperti yang gw naikkin di tour James Bond sebelumnya nggak bisa berlabuh di Maya Bay). Rugi banget nggak bisa main-main di Maya Bay, karena inilah main attraction dari tour KoPhiPhi ini.

Kami dijemput di hotel jam 8 pagi, dan menempuh perjalanan singkat menuju pelabuhan. Sama seperti tour James  Bond, sebelumnya kami diberi tali pengenal yang diikatkan di pergelangan tangan. Kali itu talinya berwarna biru. Jangan sampai tali ini hilang. Seperti kata tour guide kami kali itu, “If you lost it, we’ll lose you”. Karena begitu tenarnya KoPhiPhi ini, turis-turis yang datang pun membludak, dan mereka menggunakan agen tur yang berbeda-beda sehingga penting sekali untuk menjaga tali pengenal jangan sampai hilang, terutama saat snorkeling. Selain itu, penting juga untuk mengenali wajah-wajah teman satu tur, hehe…beneran, crowded banget di sana, dan tentu saja keindahan pantainya bikin lupa waktu, salah-salah kalau keasikan dan “hilang”, bakal malu banget dan bikin kesal peserta tur lainnya (it happens!).

Yang bikin gw terkesan dari Thailand, sekali lagi, adalah keramahtamahannya. Nggak salah kalau Thaland dijuluki Land of Thousands Smile. Tour guide kami kali ini, Eddy, beserta kru-krunya sangat ramah, profesional, dan sering melemparkan joke-joke yang membuat suasana jadi hidup. Perjalanan dengan speed boat pun tidak begitu terasa boring. Meskipun begitu, sayang sekali antara peserta satu dan yang lainnya tidak begitu membaur, hehe, apa bule-bule memang bawaannya cuek yah? Hm…Kami sendiri…dengan keterbatasan bahasa…nggak berani ngajak ngobrol bule-bule itu, hikssss….sebenernya belajar teori Bahasa Inggris dari TK sampai kuliah itu percuma ya kalau jarang dipraktekkan, huhuhu…atau mungkin karena kami bertiga pemalu kali ya, hihi…malu-malu kucing. Harus disenggol dulu baru keluar taringnya, jiahahaha… XD

Pemandangan menuju KoPhiPhi sendiri sungguh amazing. Berbeda dengan pemandangan di PhaNga Bay sebelumnya, air di laut Andaman ini lebih jernih. Warnanya biru muda sampai biru toska yang sangat jernih. Sungguh hati ini berdebar rasanya…pengen langsung “plung” dan menjadi Deni si Manusia Ikan. Hehehe…Sayang sekali cuaca hari itu kurang bersahabat. Langit mendung kelabu. Tapi serunya, gara-gara itu, gw ngalamin hujan-hujanan di dalam speed boat. Seru banget! Berhubung gw duduk di ujung belakang, habis deh kena semprot hujan yang mengguyur kami cukup deras di tengah laut. Dan kapal kami pun terombang-ambing heboh di tengah ombak yang saat itu cukup besar. Seru!!! O ya sebelumnya tiap peserta sudah disodori obat anti mabok, Dimenhidrinat (kalau di Indonesia terkenal dengan nama Antimo), dan gw udah minum 1 biji, so, nggak kerasa mabok sama sekali sih. Entah deh kalo nggak makan obat itu sebelumnya, hehehe…Puas dicuci hujan selama kurang lebih 15 menit, kami pun sampai ke tujuan pertama, yaitu Viking Cave. Viking Cave ini dinamakan demikian karena di dalam gua terdapat lukisan-lukisan tangan yang dibuat oleh bangsa Viking (ini kalau gw nggak salah menerjemahkan penjelasan si Eddy ya, :P). Dan di dalamnya terdapat sarang burung walet yang ajubileh mahalnya itu…sayangnya, ternyata Viking Cave ini sudah menjadi hak milik bangsa Cina (entah Cina mana yang dimaksud). So, kita nggak boleh memasuki gua ini, hanya boleh lewat saja melihat dari depan. Di film The Beach sendiri sepertinya Viking Cave ini ikut disyuting, dan Leonardo di Caprio saat itu berada di dalamnya. Entah ya saat itu Viking Cave ini masih kepunyaan Thailand atau sudah jadi hak milik Cina…

Kami hanya mampir di depan Viking Cave sekitar 10 menit, kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah laguna yang luar biasa cantik. Subhanallah…hanya itu kata-kata yang terngiang-ngiang di kepala gw. Padahal gw bukan muslim, tapi entah kenapa kata itulah yang paling tepat menggambarkan keindahan laguna ini. Airnya berwarna biru toska, begitu tenang dan bersih. Dikelilingi tebing-tebing hijau yang cantik. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Yang lebih luar biasanya lagi, kami dipersilahkan untuk berenang sepuasnya di laguna ini, selama  sekitar 15-20 menit. Tanpa babibu, gw langsung copot tanktop gw, eits…pake baju renang kok, gak bugil, hehe, dan menyemplung ria ke dalam laguna!!! Aaaaaaa….beneran campur aduk rasanya. Berenang di air laut sejernih dan seindah itu, ditambah pemandangan langit dan hijaunya tebing-tebing yang mencuat di sekitarnya. Berenang gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, semua gw jabanin, hehe…laguna itu dalamnya sekitar 10 meter, so don’t worry…asal punya skill renang standar, gak akan tenggelam. Masih khawatir? Tenang…disediakan pelampung untuk yang takut tenggelam, hehe…gw sih cuek aja, kaga pake pelampung-pelampungan. Bodo amat, air laut sudah memanggil-manggil gw kaya Siren yang bernyanyi manggil-manggil para nelayan yang tersesat (apa sih?? Hehe…). Okay. Gw euforia. Hehe…

Phiphi lagoon

Rasanya waktu cepet banget berlalu. Gw masih belum puas berenang-renang cantik di laguna surga itu, tapi sayang si Eddy udah teriak-teriak  mengumpulkan peserta. Huhu… O ya saat kami naik ke atas boat, abang-abang kapal dengan baik hatinya memotret kami bertiga. Inilah tampang gw post-euforia first experience berenang di laut. Hehe.

Post swimming @Lagoon

Puas berenang-renang, selanjutnya kami dibawa ke Maya Bay. Ya, inilah “permata” PhiPhi Island. Lokasi syuting utama dari film The Beach pun diambil di Maya Bay ini. Ya, memang keindahan Maya Bay ini tak tertandingi. Gw belum pernah lihat pantai dan air sebagus itu seumur hidup gw. Mungkin suatu saat gw bisa menemukan pantai lain yang lebih bagus (*Amin*), tapi sampai saat ini, Maya Bay lah pantai terindah yang pernah gw kunjungi. Airnya biru muda nyaris transparan, pasirnya putih agak kasar dengan pecahan-pecahan kerang yang berukuran sedang. Pantai ini menghadap tepat ke perairan Laut Andaman dan dikelilingi bukit-bukit yang indah, sehingga seolah-olah tersembunyi di antara pulau-pulau di KoPhiPhi. Ya, jika surga itu ada, gw berharap surga seindah pantai Maya Bay ini…Sayang sekali, “surga” ini sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Begitu tersohornya Maya Bay ini, sehingga turis-turis pun berjubel mengisi pantai kecil ini. Yah, ada gula ada semut memang. Inilah yang menodai keindahan Maya Bay. Padahal di film The Beach, pantai ini diperlihatkan kosong. Hehe…Bang Leonardo dan pacarnya dalam film itu tampak berenang bebas berdua memonopoli pantai ini. Ah…andai… (mikir apa hayooooo….? Hehe.)

Blue water @Maya Bay

Pada pose cantik semua. XD

Hihi…narsis…

Lihat bapak-bapak di belakang…mau renang apa mau nanem sawah? *caping is the new trend?* Hihi…

Maya Bay dari jauh. Orang-orang berjubel kaya ikan sarden.

Maya Bay sangat indah, sayang harus berbagi dengan ratusan orang yang juga ingin menikmati keindahannya…

Dengan berat hati kami meninggalkan Maya Bay untuk menuju ke Monkey Cave. Tak jauh dari Maya Bay, terdapat pantai kecil yang dihuni oleh monyet. Di speed boat, Eddy sudah mewanti-wanti kami untuk berhati-hati menjaga barang bawaan, karena monyet-monyet ini suka sekali menjambret barang-barang pengunjung. Gw pun urung membawa kamera turun, sayang banget kalau kamera gw satu-satunya ini sampe raib, hehe. Tapi gw sempat mengambil beberapa foto kok, ini salah satunya :

PhiPhi Monkey Cave

Berhubung gw udah pernah ke Sangeh Bali, gw nggak begitu antusias dengan Monkey Cave ini. Monyetnya kecil-kecil, nggak seseram yang ada di Bali, dan jumlahnya pun sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah monyet yang saya temui di Sangeh. Ya tapi uniknya sih karena monyet-monyet ini bertengger di hutan pinggir pantai aja kali ya. Di sini turis-turis bisa memberi makan si monyet dengan roti. Menurut gw sih mereka tampak jinak. Jauh lah sama monyet-monyet seram yang ada di Sangeh. Atau mungkin yang gw temui saat di Monkey Cave ini baru “anak-anak buahnya” aja kali ya, masih culun-culun, hehehe… Kalau mau puas berbaur dengan monyet sih gw saranin ke Sangeh aja. Nampol banget tuh di sana. Monyetnya ribuan, dari yang kepala suku sampai orok monyet tumplek jadi satu…kali aja nemu saudara tua kita di sana, hihihi…

Setelah menghabiskan 15-20 menit di Monkey Cave, selanjutnya speed boat membawa kami ke spot snorkeling. This is my first time snorkeling!!! *excited*. Di tengah laut boat berhenti, dan kami diminta memakai fin masing-masing. Oya, untuk fin ini ada biaya sewanya lho, sebesar 100 THB. Penting sekali untuk menggunakan fin selama snorkeling, karena di bawah lau banyak “ranjau-ranjau” berduri berupa Sea Urchin. Alias Landak Laut. Alias Bulu Babi. Ini nih gambarnya :

Long Spined Black Sea Urchin

Nah, nggak mau kan ketusuk sama duri-durinya? Efeknya bisa luka tusuk ringan, sampai reaksi alergi yang membahayakan nyawa. Bervariasi tiap orang. Gimana cara mengatasi luka tusuk sea urchin? Udah gw bahas di postingan gw sebelumnya, saat gw ke PhaNga Bay. Traditional way : urine (?), cuka. Modern way : debridement (pembersihan luka), salep Antibiotik+Kortikosteroid, obat Anti Alergi, kalau berat bisa ditambah tablet Kortikosteroid. Hati-hati karena ada yang namanya reaksi anafilaktik, yaitu reaksi alergi terhadap suatu alergen (bisa dari makanan seperti ikan, seafood, obat, sengatan hewan seperti lebah, ubur-ubur, dan bisa juga dari tusukan sea urchin ini, so, beware!).

Okay, kembali ke snorkeling. Hehe. Ini pengalaman pertama gw. Tapi karena gw udah pernah ikut kelas Diving sebelumnya waktu mahasiswa, gw yakin everything will be fine. So, “PLUNG”, dan…lagi-lagi…gw cuma bisa berkata Puji Tuhan dalam hati. Sungguh. Akhirnya gw bisa melihat dunia bawah laut, koral-koral yang beraneka ukuran, dari yang kecil sampai raksasa. Sekelompok ikan berenang-renang menghampiri, beraneka warna, langsung di depan mata bukan di akuarium air laut seperti yang udah sering gw liat di toko-toko ikan. Kenapa ikan laut warnanya begitu amazing ya, Tuhan memang keren… Sayang sekali gw nggak menemukan coral warna-warni, pemandangan didominasi oleh hard coral, tapi tetep keren kok, at least for my first time. Saat itu cuaca mendung, air berombak cukup besar, dan pemandangan di bawah air nggak bisa dibilang jernih-jernih amat. Tapi gw enjoy banget sih, meskipun karena parno gw jadi sering banget nongol ke atas air, takut hilang, hihi… Kesan?? Gw ketagihan!!!! Gw jadi pengen snorkeling lagi di tempat-tempat lain, Lombok, Karimunjawa, Bunaken, Derawan…ah…semua tempat itu belum gw jamah, tapi semoga gw bisa, suatu saat, amin! Btw, yang melintas di kepala gw saat snorkeling adalah : Horeeee…akhirnya gw bisa ngerasain jadi Spongebob! Okay, that was a weird thought. But it was mine. Hahaha…..!

Empat puluh menit yang berharga itu pun akhirnya berakhir. Gw pun kembali ke kapal dengan perasaan campur aduk. Senang, kecewa karena belum puas, dan ketagihan…sayang sudah waktunya makan siang. Kami pun dibawa ke PhiPhiDon untuk makan siang prasmanan dengan menu standar buffet kaya di kondangan, tapi enak kok! Puas-puasin aja makannya biar nggak rugi, hehehe…Sayang menunya bukan lobster dan aneka seafood seperti yang gw harapkan.

Beres maksi, kami menuju ke destinasi terakhir, yaitu Khai Island. Di sini kami dilepas bebas (emang lu kira hewan piaraan? Hehe) untuk snorkeling, bersantai di pantai, duduk-duduk, dan minum cocktail. Kami sih jelas memilih yang pertama. Hehe…Di pantai ini, kita sudah bisa langsung snorkeling dari pinggir pantai. Mulai jarak sekitar 5 meter dari tepi pantai, sudah ditemukan koral-koral dan ikan-ikan yang cantik. Kami membawa roti tawar seharga 50 THB yang dibagikan Eddy. Begitu roti tawar disodorkan, langsung gw diserbu segerombolan ikan-ikan cantik itu. Ah…rasanya geli-geli gimanaaaaa gitu. Senangnya…gw pun berenang makin menjauh dari tepi pantai. Makin ke tengah laut coral-coralnya makin indah dan bervariasi, begitu juga dengan ikan-ikannya. Cantik sekali. Cuma itu yang bisa saya katakan karena saya nggak ngerti nama-nama ikannya apa saja, hihi…yang jelas cantik…tapi jangan salah, makin ke tengah, ranjau sea urchin pun makin banyak, tak hanya satu atau dua, melainkan bergerombol di bawah coral, hiiiiiyyy…rada takut juga. Apalagi perairan di sini sangat dangkal sehingga bisa dengan mudah tertusuk. Ah…sea urchin…kau begitu berguna bagi ekosistem laut, sayang tidak menguntungkan bagi gw yang parnoan, hehe…

Langit Phuket dari Khai Island

( Tertarik dengan foto-foto perjalanan bertema “Colour”? Buka deh di sini)

Post Snorkeling @Khai Island

Sisa waktu pun gw habiskan di Khai Island untuk snorkeling dan jalan-jalan sebentar di tepi pantai. Tak lama, kami pun dipanggil-panggil oleh Eddy…tur yang indah ini pun berakhir…Good Bye PhiPhi Island…I will never forget this beautiful memories…kecuali gw kena Alzheimer *amit2*.

Day 4 – Karon Beach

Sekitar 20 menit perjalanan, kami akhirnya diturunkan tepat di pinggir Karon beach. Ngga langsung ke pantai, nyari-nyari dulu toilet lamaaaaa…….akhirnya numpang ke toilet salah satu resor di sana, hehehe…

Main area Karon Beach ini beda banget sama Patong. Di Karon ini suasananya sangat tenang, lebih sepi, dan dipenuhi resor-resor mahal, jauh lebih elit daripada Patong. Bahkan bule-bule yang ada di sini pun penampilannya elit, mengesankan banget kalo mereka rich, hehe, beda banget sama bule-bule yang memenuhi Patong. Bukannya bilang yang di Patong miskin, tapi yang jelas sih bule-bule di Karon ini golongan “the-have” banget, fufufu…Pantainya sendiri sangat bersih, pasirnya unik, berupa hamparan butiran halus keemasan…empuk dan tebal. Enak banget buat sunbathing. Dan emang semua bule yang ada di situ (ehm, sebenernya semua orang yang ada di pantai itu bule. We’re the only Asian there!) rata-rata sunbathing semua. Ada juga beberapa yang renang dan main voli pantai. Ga mau kalah, kita juga akhirnya gelar lapak, eh, gelar kain. Hehe…Ngejogrok pewe di pasir pantai Karon…dengan suasana senja yang sangat quiet and peacefull…damn inikah kedamaian yang sebenarnya…hehehe… Rasanya indah aja gitu berbaring di pantai and doing nothing. This is the art of doing nothing. With bestfriends. Isn’t that perfect? Thanks my friends 🙂

Karon Beach menjelang Sunset

Pasir Karon beach yang empuk dan berwarna keemasan

Sunset @Karon

Kami menanti sunset datang sambil leyeh-leyeh, keceh, dan foto-foto narsis tak lupa. Setelah langit mulai agak gelap, jam 7, barulah kami beranjak. Untuk kembali ke Patong kami naik tuktuk seharga 300 THB bertiga. Mahal hiks…tapi ngga ada alternatif lain, itu aja udah nawar-nawar pake muka memelas mampus…kami turun di Jungceylon Mall, mall terbesar (eh, atau satu-satunya mall?) di Patong.

Jungceylon Mall

Kami nemu salah satu kantor agen tur yang agak bagus di main road Patong. Di dalam kami disambut seorang ibu-ibu yang sangat ramah. Dia menawarkan tur PhiPhi Island dan JamesBond masing-masing Island seharga 1500 THB. Jiah. Kami menawar 1000 THB tapi dia nggak kasih. Akhirnya harga terakhir yang kami dapat 2500 THB untuk kedua tur itu. Di sinilah kami mulai berkeringat, karena ternyata uang kami nggak cukup, hehe…dengan sangat amat malu tapi mencoba bermuka tebal, kami meminta keringanan untuk membayar setengah dahulu dan membayar sisanya malam itu juga. Kami harus ambil uang dulu di hotel. Eh nggak disangka, si ibu yang baik hati ini malah memperbolehkan kami untuk membayar separuh dulu dan membayar sisanya besok langsung sebelum berangkat ke pemandu tur. Aishhh…ngutang nih jadinya, malu-maluin ya…hihi…dan nggak cukup sampe di situ, dia juga menawarkan untuk memesankan tiket Simon Cabaret, VIP, seharga 600 THB perorang. Deal deh. Hehe…dan hebatnya lagi dia bahkan nggak minta tanda pengenal kami sama sekali. Bener-bener based on trust. Hahaha…baik-baik banget sih orang Thailand ini… 🙂 Kami pun balik ke hotel, sebelumnya sempet ngelewatin Bangla Road yang udah mulai rame, tapi masih jam 9, dancer-dancernya belum kelihatan. Gw udah semangat banget pengen nongkrong di sana, tapi badan udah remuk banget, akhirnya malem itu kita cari makan di sekitar hotel, dan nemu Thai resto yang lezat banget, TomYum nya juara! Rasanya asem tapi agak creamy, seafoodnya ada udang, cumi, baso ikan, semuanya seger ga amis sama sekali… I like this very much XD Nasi Goreng Nanas dan Nasi Babi nya juga lumayan. Eh sebelumnya juga sempet jajan Chocolate Pancake di gerobak abang-abang pinggir jalan, yummy, mirip crepes gitu, tapi sayang mahal 40 THB 1 porsi. Hehe…puas deh malam itu kita tidur dengan hati senang dan perut kekenyangan, dan excited banget untuk tur James Bond Island besok…

Vivi pose di depan Pancake stall

Yummiest TomYum @Phuket

Pineapple Fried Rice