Weekly Photo Challenge : Grand

Big Sitting Buddha Wat Khao Rang Phuket

Last year I visited Phuket with my two bestfriend. That was one of my happiest moment in life. First time went abroad, after a year of hardwork with no holiday at all, not even a day. It was all about money back there. How to get more and more money. About pretty things and security…Until I got bitten by that travelbug. Well, blame Thailand for its enormous beauty and amazing people. I fell in love at the first place with this country, this Land of Smiles.

During my travel to Phuket Town, I visited Wat Khao Rang, located on the slope of Khao Rang or Rang Hill. Even it is not as popular as Wat Chalong, but Wat Khao Rang is really worth visited, because of the Big Golden Sitting Buddha, the first big golden Buddha statue built in Phuket. After hiked several (or maybe hundred) stair steps, and I hardly could catch my breath, I saw this Buddha golden statue on the top of the temple. The size is enormous and I was charmed with the whole view, the smiling Buddha and the nature scenery behind it, high trees and clear blue sky, white clouds, clean air with some light scents of burned incense… I could feel my effort was so worth it. That moment of happiness, excitement and also peace…when I saw this grand image of Buddha himself.

Weekly Photo Challenge : DailyPost

Five Colours from South East Asia : Indonesia, Malaysia, and Thailand

Why five colours : blue, green, yellow, white, and red? Well, recently I noticed the Capture the Colour photo competition run by TravelSupermarket.com. The competition is to choose five original shots from your travel experiences, and each shot representing the colors : blue, green, yellow, white and red. Visit Capture the Colour for more information on how to participate.

Blue : Kawah Putih, Indonesia

Crater at the top of the Patuha Mountain, West Java

According to the history of 10th-century Mount Patuha had erupted, and after that formed a crater at the top of the mountain. It has such a beautiful scene of a large lake with blue warm water which spouted lava and the smell of sulfur. I love the scenery here, unfortunately we cannot stayed too long here because of the sulfur gas evaporated from the water. So, I think it was such a dangerous but also a beautiful place. Tempting, right?

Green : Ciwidey Tea Plantation, Indonesia

Tea Plantation surrounding the Situ Patengan Lake, West Java

Ever wondered, when you were sipping a cup tea, where does it come from? Maybe from England? India? Or…Indonesia? Yes, maybe your tea (yes, that you are sipping right now :D) come from Indonesia. Here in West Java, they produce enormous amount of tea. And also give us the beautiful scenery and landscape. This tea plantation is surrounding the Situ Patengan Lake, which is famous for its Batu Cinta or Love Stone. Many people came to visit Situ Patengan Lake, believed the myth that by visiting Love Stone, they will have a good love life. Well, believe it? Or not? 🙂

Yellow : Wat Khao Rang, Thailand

Amazing golden colour of Wat Khao Rang

Wat Khao Rang in Khao Rang Hill, Phuket Town, maybe not as famous as Wat Cha Long, but, this hidden temple has the oldest Sitting Buddha statue in Phuket. The temple itself is very colourful, with lots of monks and Gods statue. Maybe Thailand is one of the most colourful country in South East Asia, regarding to its massive variants of temples, food, and landscape. This Land of Smiles has totally had my heart.

White : Hat Yai Station, Thailand

Hat Yai Station : Gate to Phuket Paradise

I arrived at this Station after 13 hours slept in the train from Kuala Lumpur. Can’t describe anything but relieved. And excited. This city maybe not as famous as Phuket or Bangkok, but Hat Yai has its own role as a border within Malaysia and Thailand. And famous amongst backpackers, with its Station, which is, A Gate to Phuket Paradise.

Red : Alor Street, Malaysia

Care to eat in Chinese way? Pork is all the way…

Jalan Alor or Alor Street is my favourite place in Kuala Lumpur. Food was great. When I think about Chinese food, it always pork. And how to enjoy pork in its best way? Eating outside, near the street, sitting in circle, chatting, and laughing. Chinese Way. (also posted in Turnamen Foto Perjalanan : Kota)

And now here are my five nominees:

Dina from DuaRansel
Mac from ILikePhoto…!
Olivia from ABigLife
Ryan from ThePerpetualVagabond
Takdos from WhateverBackpacker

Good luck to all!

~happy travelling, happy life~

Day 4 – Phuket Town (OldTown-SittingBuddha-ButterflyGarden-WatChalong)

Kita semua diturunkan di pinggir jalan, kalau ngga salah inget sih di Ranong Road. Pas turun dari bus, si kenek bus ini ngajak ngobrol kita. Nanya kita berasal dari mana, dan tiba-tiba aja dia nawarin tuktuk untuk keliling kota dengan harga 100 THB saja untuk kami bertiga. Gila, murah banget! Dari hasil browsing sih katanya untuk City Tour itu tarifnya bisa 800-1500 THB untuk 6 jam. Ibarat anjing ketemu tulang, langsung aja kami sambut tawaran si abang baik hati ini. Dia bahkan sudah siap dengan peta Phuket Town di tangannya (curiga emang side job nya dia nih, hehe). Nggak sampai 5 menit, si abang datang dengan tuktuk dan supirnya yang udah engkong-engkong, hihi…jangan-jangan engkongnya sendiri nih dipekerjakan 😀

Irene di dalam tuktuk tercinta…

Destinasi pertama yaitu Phuket Old Town. Menurut si abang, di sini adalah kawasan Chinese people. Mereka tinggal di rumah-rumah tua yang disebut Sino Portuguese. Kami didrop di situ. Kalau ngga salah sih di sekitar Dibuk Road. Si abang ini bilang “take your time, i’ll wait here”. Waw…asik gini, hehe… Karena lapar, kami mampir di salah satu kedai Mie Cina di situ. Ternyata…di kedai itu ngga ada yang bisa bahasa Inggris dong, tampaknya Thai and Chinese only. Mati dah. Hahaha…sempet ditanya bisa bahasa Cina ga, kami hanya menggeleng malu, hihihi…akhirnya kita berbahasa Tarzan sama engkoh-engkoh yang jualan Mie. Wkwkwkw…. Beruntung banget mampir ke tempat ini. Mie nya sumpah super enak banggeud! Pork is always the yummiest meat! Kayanya ini mie Cina terenak yang pernah gw makan. Arghh….mengingatnya aja udah bikin ngacay (*ngiler*)…huhuhu…

Mie Babi terenak sejagad! Yummy yummy…

Gw rada lupa harga mie nya brp, saking udah teler kekenyangan dan keenakan. Hehe. Kalo nggak salah sih…50 THB. Murah kok untuk mie babi seenak itu, huhuhu. Beres makan kita foto-foto di salah satu rumah tua, si abang tuktuk bahkan dengan baik hati mau memfotokan kita bertiga 😀 Menurut gw, rumah-rumah di situ unik dan vintage banget, sayang karena udah banyak mobil lalu lalang jadi kesannya agak biasa dan susah juga cari spot foto yang ngga kehalang mobil yang parkir.

Chinese House @Phuket Old Town

Old Portugiese House @Phuket Old Town

Tujuan selanjutnya yaitu Big Buddha. Ada salah pengertian di sini. Maksud gw Big Buddha adalah Big Buddha yang ada di Promthep Cape. Yang warnanya putih itu. Ternyata si abang membawa kami ke Sitting Buddha yang ada di Wat Khao Rang, Khao Rang Hill. Saat itu sih gw nggak nyadar. Baru nyadar setelahnya kami ke Wat Chalong dan dari sana terlihatlah nun jauh di sana patung Big Buddha di Promthep Cape yang ada di atas bukit. Oh ternyata Promthep Cape begitu jauh! Batal deh ke Big Buddha, hehe, ngga apa-apa deh, Sitting Buddha di wat Khao Rang ini juga supeeerrr sekali kalo kata Mario Teguh mah. Sitting Buddha ini merupakan patung Sitting Buddha terbesar di Phuket. Wat Khao Rang nya sendiri sangat megah, tangganya banyak, capek juga naik ke atasnya, tapi setelah sampai di atas, bener-bener worth it, bagus banget dan artistik banget. Tempat ini masih sepi, pengunjung pun hanya kami bertiga dan 1 rombongan lain yang ternyata berasal dari Bandung juga (ih dunia sempit!). Kami menghabiskan banyak waktu berfoto-foto di sana dengan berbagai pose, hehe…sumpah keren banget…Sempet ketemu Bikkhu yang ada di sana, eh ramah banget, padahal asalnya rada ga enak ke dia krn gw foto-foto ala turis di Wat tempat ibadahnya. Hehe. Masuk ke Wat ini free. Buat yang mau tau kisah tentang asal muasal Wat Khao Rang, bisa baca di sini. Nice banget, thanks to abang tuktuk yang telah membawa kami ke sini… 😀

Memasuki Wat Khao Rang disambut patung-patung ini

Sitting Buddha @Wat Khao Rang

Wat Khao Rang

Ngambil foto ini sampe rebah-rebah di lantai lho…

Setelah puas menikmati Wat Khao Rang, si abang menawari kami untuk berkunjung ke Phuket Butterfy Garden. Sebetulnya gw udah pernah browsing dan katanya sih ga menarik. Tapi berhubung udah nyampe di Phuket, sayang juga sih kalo tawaran ini ditolak, mana bayar tuktuknya murah pula, ya udah deh kami nurut, hehe. Eeh, bener aja. Ternyata jelek dong. Huhu…Untuk masuk ke Phuket Butterfly Garden ini tiketnya seharga 300 THB (argh! Mahal!), kita juga dibekali cairan makanan untuk kupu-kupu, kali aja ada kupu-kupu yang mau nemplok gitu, hehe. Ternyata tmn gw Irene yang beruntung bisa berpose dengan kupu-kupu yang makan di tangannya. Girang banget dia, hehe… Overall Butterfly Garden ini biasa aja. Isinya ada berbagai serangga dari kupu-kupu, laba-laba, sampai scorpion dan tarantula, tapi di kandang kok, hehe. Tamannya sendiri nggak begitu luas tapi bersih, ada kolam ikan di tengahnya. Kupu-kupunya ada banyak tapi ngga ada yang mau hinggap di tangan saya, sebel, saya kurang manis kah? Hehe. Ada juga ruangan khusus tempat penangkaran, tempat kupu-kupu kawin, tempat kepompong, dst…saya sih ngga terlalu excited. Hehe. Kami berada di situ hanya sebentar aja. Rugi deh….huuuuu….soalnya mahal…yah tapi itung-itung pengalaman sih. Keluar dari situ, kami ngobrol dulu sama si abang tuktuk sambil nunggu supirnya makan siang. Si abang tuktuk ini sangat ramah dan pinter ngambil hati wanita (tsaaahhh…). Dia bilang kami tampak seperti berumur 18 tahun dan terkaget-kaget saat tahu umur kami sebenarnya, hihi…we had a nice conversation with him. He was the second Thai people that amazed me for the kindness and hospitality. The first is the van driver before, remember?

Inside Phuket Butterfly Garden

Irene berpose dengan kupu-kupu hasil “jeratan”nya

Perjalanan dilanjutkan menuju Wat Chalong. Ini adalah kompleks kuil terbesar di Phuket. Terdiri dari Wat Chalong sendiri yang terbesar dan beberapa kuil kecil di sekitarnyaa. Untuk masuk ke dalam Wat Chalong sebaiknya tidak memakai tank top atau celana pendek. Tapi di depan pintu masuk disediakan kain penutup kok, bisa dipakai free. Saya sendiri memakai cardigan tapi tetap bercelana pendek sih, hehe…maaf ya saya cuek 😛 Di dalam Wat Chalong sendiri ada beberapa patung Buddha dan di dindingnya terdapat lukisan-lukisan yang bercerita tentang perjalanan hidup sang Buddha. Saya naik sampai ke lantai paling atas. View-nya cukup mengesankan  dari atas Wat Chalong. Tapi sejujurnya karena tidak begitu memahami cerita Buddha sendiri dan patung-patung yang ada, saya hanya mengagumi keindahan arsitekturalnya saja…

Megahnya Wat Chalong

Puncak Wat Chalong

Patung Buddha inside Wat Chalong

Salah satu lukisan perjalanan hidup Sang Buddha

Salah satu kuil di kompleks Wat Chalong

A Bikkhu walking in front of the temple

Yang menarik saat mengunjungi Wat Chalong, yaitu adanya suara-suara keras dari rentengan mercon yang dibakar di seberang Wat Chalong, yaitu di dalam semacam bangunan dari batu bata yang berbentuk kerucut, di mana rentengan mercon dibakar dan diletakkan di dalamnya sehingga muncul suara-suara yang sangat keras dan asap yang lumayan tebal keluar dari bagian atas bangunan kerucut tersebut. Waktu itu gw ngga ngerti maksud dari ritual ini. Setelah browsing di rumah, ternyata pembakaran mercon ini dimaksudkan untuk mengucap syukur pada Sang Buddha. Semakin banyak berkat yang didapatkan, maka rentengan mercon yang dibakar sebagai tanda rasa syukur akan semakin banyak. Menarik juga 🙂

Tempat memanjatkan rasa syukur dengan membakar mercon. Bunyinya keras banget Bo!

Kunjungan ke Wat Chalong mengakhiri Phuket city tour kami. Oya, yang belum gw ceritakan, selain ke tempat-tempat tadi, kami juga “dimampirkan” di beberapa toko oleh si abang tuktuk. Ada toko souvenir khas Thailand, toko produk-produk kecantikan, toko perhiasan dan mutiara, sampai ke toko madu. Hahaha… Jadi ternyata si abang tuktuk ini punya kesepakatan dengan pihak toko-toko tersebut, yaitu apabila membawa pengunjung ke toko mereka, maka si abang ini akan diberi satu stempel tanda kunjungan. Si abang ini akan mengumpulkan stempel (entah sampai berjumlah berapa) dan kemudian akan mendapat reward sebagai balasannya, inilah yang masih menjadi misteri, entah berupa uang atau barang atau apa, hehe…yang jelas penting banget kayanya buat si abang tuktuk ini.

Awalnya sih gw seneng, karena dibawa ke toko souvenir, tapi harganya mahal-mahal, sialnya saya kepincut sama mbak-mbak pelayan di sana yang lagi-lagi memakai modus memuji-muji costumer untuk membuat hati gw seneng dan akhirnya…takluk pada bujuk rayunya. Hahaha…akhirnya saya keluar dari toko membawa satu set anting, kalung, dan gelang “mutiara-mutiaraan” yang setelah gw pikir sekarang, buat apa juga coba, hehe…eh tp bisa buat ke pesta undangan sih, gpp lah ya, hihi…dasar wanita. Sempet beli beberapa gantungan kunci gajah dengan harga murah juga di sana. Setelah toko souvenir ini, kami “dimampirkan” ke toko produk kecantikan seperti sabun, body scrub, body mist, aromatherapy, sampai balsem juga ada. Tapi (lagi-lagi) mahal Bo! Ga beli apa-apa. Yang mulai ga masuk akal, yaitu saat mampir ke toko perhiasan dan mutiara. Nadzubillah, mahalnyo!!! Jutaan kali, gw ga sempet ngitung-ngitung lagi soalnya langsung pusing liat perhiasan yang bling-bling itu. Haha…Lalu ke toko madu, di mana gw cukup terkesan karena kami ditanya berasal dari mana dan setelah tahu dari Indonesia, kami langsung “dioper” ke mbak-mbak orang Indonesia, dan kita “digiring” ke satu ruangan untuk mendengarkan ceramah mbak-mbak itu tentang madu. Hahaha…serasa kaya di MLM nih, hihi…jelas aja kami ngga belli madunya, lha wong mahal banget sampe ratusan ribu rupiah. Akhirnya kami Cuma numpang beli es krim di sana, hihi. Untungnya, semua pelayan toko-toko itu sangat profesional, kami disambut dengan baik, memang setiap tamu yang datang akan disambut,  diberi pengarahan mengenai produk mereka, membiarkan kami melihat-lihat, dan sama sekali tidak memaksa kami untuk membeli. Menyenangkan. Semua pelayan tersenyum, ramah dan profesional. Looks like they love their jobs.

Hari yang indah di Phuket Town pun berakhir meninggalkan rasa senang dan puas. Sedih juga berpisah dengan si abang tuktuk nan ramah dan baik hati. Saat kami akan membayar, kami bertanya berapa yang harus kami bayarkan, eh, dia tetap bersikeras 100 THB dong. Padahal kami muter-muter ada sekitar 6 jam. Akhirnya kami membayar si abang 600 THB. Gw rasa sih sepadan banget dengan nice trip yang udah dia berikan ke kita… 😀

Kami diturunkan tepat di belakang bus yang akan membawa kami ke Karon Beach. Tarifnya 35 THB perorang. Karena si bus ini masih ngetem dulu, kami jajan cemilan sosis babi goreng dan pangsit goreng yang enak banget…*ngiler babak 2* Gw sempet beli bakpia juga di salah satu toko Cina. Awalnya mau beli pembalut di apotek, malah jadinya beli bakpia. Ada cerita lucu tentang pembalut, berhubung gw ga tau bahasa Inggrisnya pembalut, gw tanya ke Vivi. Kata dia nahasa Inggrisnya pembalut adalah Sanitary Napkin. Wah keren gitu namanya, eke aja baru tau, hehe. Pas di apotek, dengan pedenya gw nanya ada Sanitary Napkin apa kaga, eh para ibu-ibu yang jaga apotek malah bengong semua. Putus asa gw, akhirnya gw bilang…that’s one for menstruation. Eh mereka ngerti dong, dan langsung ber-ooo ria. Ternyata ngga ada di apotek itu. Huuu…malu deh. Mana bahasanya vulgar gitu. Haha…back to bakpia. Bakpianya unik loh, ukurannya raksasa, kira-kira berdiameter 8-10 cm, dan selain kacang hijau, ada potongan timun kecil-kecil, enak, jadi “krenyes-krenyes”. Bakpia ini sukses jadi cadangan pengganjel perut selama beberapa hari ke depan. Hahaha! Harganya 100 THB isi 3 biji. FYI, tante-tante penjual bakpia pun ramah banget dan baik hati, sempet ngajak ngobrol juga dan bilang “have a nice trip”. Wiw…oya dia sempet mengklaim bakpia bikinannya is number one. Hihi. Number one di mana Tan, tingkat RT, RW, Kota, atau dunia? 😀

Delicious street food!

Bakpia raksasa number one 😀

Tak lama, bus pun berangkat. Rupanya perjalanan ke Karon lumayan jauh. Jalannya berbukit-bukit. Jadi bingung, ini mau ke pantai atau ke gunung nih? Hehe. Penasaran? Read it in the next post!